Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com

Advertisements

Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola

MAY 9, 2012 | BY 

azrul ananda Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas SepakbolaAzrul mengungkapkan rasa syukurnya karena liga basket yang ia bentuk sejak di Surabaya sudah besar seperti sekarang. DBL sekarang menjangkau lebih dari 27.000 peserta dengan 1.500 tim dari Aceh sampai Papua. “Saat itu, hal ini dimaksudkan untuk mendukung penjualan koran Jawa Pos. Tapi, ternyata cukup booming dan mendapat dukungan besar dari berbagai kalangan, khususnya anak muda. Dari Jawa Timur, DBL berhasil mengekspansi seluruh Indonesia. Tahun 2012,” kata Azrul di tengah-tengah pertandingan liga antarsekolah yang digelar di Gelora Pemuda, Bulungan, Jakarta, Rabu (09/05/2012).

Presiden Direktur Grup Jawa Pos ini berani mengklaim DBL merupakan liga terbesar nomer dua di Indonesia setelah sepakbola. Azrul optimistis pada tahun ini, liga ini berhasil menjangkau 700.000 penonton. “Ini akan menjadi liga pertama selain sepakbola yang menghadirkan sejuta penonton dalam waktu dekat,” kata Azrul.

Boleh dibilang DBL ini cukup fenomenal. DBL memiliki cikal bakal dari rubrik DeTeksi, kolom khusus anak muda besutan Jawa Pos. DBL dulunya merupakan singkatan dari DetEksi Basketball Leaque dan dimulai pada tahun 2004. Dari Surabaya, DBL berekspansi ke kota-kota lain. Pada tahun 2009, DBL berekspansi sampai Australia yang mana Tim pura DBL Indonesia All-Star 2009 memenangi pertandingan dengan menaklukkan tim Western Australia. Pada tahun 2010, singkatan DBL berganti menjadi Development Basketball League. Perubahan nama ini sebagai langkah penting untuk mencapai misi DBL, yakni mengembangkan konsep atlit pelajar yang tidak hanya mengembangkan sisi olahraganya, tapi juga kepribadian dan profesionalitas.

DBL Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola“Ini kami buat karena waktu itu tidak ada event untuk anak muda yang digelar secara konsisten. Mereka hanya berhantung pada satu sponsor. Kalau hanya satu sponsor, mereka tergantung pada kebutuhan pemasaran merek tersebut. Nah, kami lain, pada tahun 2008, kami membentuk PT DBL Indonesia yang mengelola event ini secara penuh fulltime. Event ini jalan terus walaupun mungkin tanpa sponsor,” tandas Azrul.

Dengan PT sendiri, DBL bisa fokus menggarap tim dan penontonnya, termasuk sistem merchandising. Tak heran bila di pertandingan ada suvenir-suvenir khas DBL, seperti sepatu Azrul Ananda. “Kami juga berhasil mengambil liga profesional seperti NBL Indonesia. Kami juga membentuk liga khusus perempuan dengan nama WNBL Indonesia. Ini produk-produk kami yang kami kelola secara perusahaan,” imbuh Azrul.

Azrul menambahkan DBL berhasil memasarkan olahraga yang selama ini digerakkan kalangan ekonomi sosial AB menjadi yang disukai masyarakat, khususnya anak muda. “Menurut survei yang kami lakukan bersama Astra Honda Motor, untuk remaja usia 13-17 tahun, basket merupakan olahraga nomer satu di atas sepak bola. Masa depan basket sangat cemerlang dan bisa jadi nantinya mengalahkan sepakbola,” tandas Azrul.\

sumber : http://the-marketeers.com

Satu Dekade Penuh Kebanggaan

_IPT1313

dblindonesia.com | 29-Apr-2013

10 Years DBL (2004-2013)
Satu dekade DBL diselenggarakan di Surabaya, tak ada satu pun musim yang dilalui tanpa riuhnya sorak penonton dan kebanggaan para pebasket pelajar yang berlaga. Liga itu tumbuh dan mengakar di Surabaya secara emosional. DBL telah memberikan sejuta kebanggaan (pride) dan kenangan (story) bagi siapa pun yang pernah berpartisipasi di dalamnya, terutama para pemain yang berlaga.

Sejuta asa dan cerita tentang DBL juga tak bisa lepas dari benak Sumiati Sutrisno. Marilah tengok sejenak perhelatan DBL 2007 yang melahirkan seorang bintang lapangan yang mendominasi di musim itu.

Di musim itu dia memimpin tim putri SMA YPPI 2 Surabaya meraih gelar champion ketiga. Dia bahkan berhasil menyabet gelar most valuable player (MVP) sekaligus top scorer. Permainannya memukau dan menginspirasi banyak orang.

“Saya masih ingat betul suara suporter yang meneriakkan nama saya di malam final. Bahkan, kartu tanda peserta, kaus champion, termasuk hadiah motornya masih saya simpan sampai sekarang,” ujarnya. Kini Sumiati tercatat sebagai pemain Women’s National Basketball League (WNBL) Indonesia, membela Surabaya Emdee Fever.

Kisah serupa disampaikan Yerikho Christopher Tuasela, MVP Honda DBL 2011 dari SMA Santa Agnes Surabaya. Bagi dia, DBL memotivasi dirinya untuk pantang menyerah. Seperti yang tertulis di dinding ruang pemain DBL Arena, hard work beats talent when talents doesn’t work hard, Yerikho terus berusaha. Dari seorang pemain cadangan mati, dia menjadi MVP yang mengantarkan sekolahnya ke final DBL 2011.

“Kalau ingat saat host manggil namaku sebagai starting line-up,rasanya betul-betul bangga. Apalagi waktu pemutaran video sequence menjelang pertandingan final, aku nggak nyangka bahwa aku ternyata bisa sampai ke tahap itu,” papar pebasket yang pernah masuk timnas U-18 itu.

Memang bintang-bintang lapangan yang lahir di DBL tak hanya menjadi inspirasi bagi pebasket selanjutnya, tapi juga menjadi tunas-tunas baru dalam dunia basket profesional Indonesia.

Selain Sumiati dan Henny, ada Oei Abraham Yoel yang kini menjadi guard Stadium Jakarta. Yoel, sapaannya, pernah membawa SMA Petra 4 Sidoarjo menjuarai DBL 2008.

Dia mengakui bahwa apa yang sudah dilatih selama bermain di DBL sangat berpengaruh pada karir basketnya kini. “Saya jadi lebih terbiasa menghadapi sebuah game besar. Yang paling melatih mental saya adalah semangat para suporternya yang memang cuma bisa dirasakan saat bermain di DBL,” ujar Yoel.

Tak ada yang membantah memang bahwa spirit para pelajar dalam mendukung tim kesayangannya di liga basket itu sangat luar biasa. Spirit suporter yang sangat fanatik itu begitu memengaruhi kondisi mental para pemain yang bertanding.

Sepuluh tahun sudah liga ini mengisi buku catatan kosong para pelajar di Indonesia, khususnya Surabaya, dengan berbagai cerita dan kebanggaan. Pahit dan manisnya hasil pertandingan selalu menjadi acuan untuk terus bekerja lebih keras lagi menggapai harapan. Semoga semua cerita selama satu dekade ini terus berlanjut hingga dekade-dekade berikutnya. (roi/c11/ash)

2004

The History Begin

Minggu, 4 Juli 2004, menjadi hari yang bersejarah untuk basket pelajar Surabaya, bahkan Indonesia. Hari itu technical meeting pertama DetEksi Basketball League (DBL) diadakan di DetEksi Room. Opening party musim perdana itu ditonton lebih dari 1.000 orang. Pada final party, pertandingan berlangsung dramatis dan ditonton oleh 5.000 penonton.

2005-2007

New Standard

Memulai musim kedua, DBL melangkah pasti, tumbuh menjadi liga basket pelajar terbesar dan terheboh yang pernah ada di Surabaya. Pada musim kedua, DBL mengemas liga dengan aturan yang lebih profesional. Misalnya, mengenai standar kerapian kostum, baik untuk pemain maupun ofisial. Tak sekadar profesional, DBL berusaha menyuguhkan kemasan liga yang memanjakan penonton dengan sajian entertainment.

2008

Go International

Musim ini, DBL berkembang ke sepuluh kota lain di sepuluh provinsi Indonesia. DBL juga berhasil menjalin kerja sama internasional, antara lain, NBA dengan memboyong Danny Granger (top scorer Indiana Pacers). Ini adalah event resmi NBA pertama di Indonesia. Kolaborasi juga dilakukan dengan pemerintah Australia untuk memberangkatkan tim DBL Indonesia-All Star 2008 ke Australia. Di-launching-nya DBL Arena semakin mengukuhkan eksistensi DBL.

2009

First Winning

Tekad DBL untuk kemajuan basket Indonesia semakin besar. Tahun ini kemenangan tim DBL Indonesia-All Star 2009 saat melawan tim Western Australia di Perth merupakan sebuah prestasi gemilang. Itu menjadi sejarah pertama kemenangan basket Indonesia di Australia. Kemenangan tersebut tak lepas dari keseriusan DBL menyelenggarakan Indonesia Development Camp, perkembangan lebih lanjut dari NBA Basketball Clinic pada 2008.

2010-2012

Amazing Spectators

Liga yang semula bernama DetEksi Basketball League resmi berevolusi menjadi Development Basketball League. Total penonton semakin menggila. Pada 2010 saja, jumlahnya menembus angka 500 ribu penonton. Rekor penonton terus terpecahkan setiap tahun. Pada 2012 jumlah penonton hampir menembus angka 700 ribu di seluruh Indonesia. Tahun 2012 merupakan salah satu momen termanis DBL Surabaya yang pernah ada, kala SMAN 9 Surabaya menjadi champion di tanggal 9 Juni tepat pada pukul 9 malam.

2013

Now and Then…

Memasuki satu dekade penyelenggaraan DBL di Surabaya, kota ini semakin eksis menjadi ibu kota basket di Indonesia. Untuk selanjutnya, DBL terus beradaptasi dengan perkembangan situasi dan kondisi yang selalu berubah. Yang pasti, DBL akan terus memperbaiki perkembangan liganya hingga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya. (ima/c10/ash)

DBL in Facts

Di tahun 2004, kompetisi DBL hanya diikuti oleh sekolah-sekolah yang berasal dari 7 kota di Jawa Timur. Hingga tahun 2012 yang lalu, kompetisi DBL sudah diikuti oleh ribuan tim yang berasal dari 134 kota di 20 provinsi di Indonesia.

Jumlah penonton di awal penyelenggaraan DBL sebanyak 17.000 penonton. Tahun 2012 lalu, jumlah penonton dari keseluruhan kota penyelenggara mencapai angka 616.052.

Show sequence pada opening party Honda DBL 2012 lalu melibatkan 60 dancer utama dan lebih dari 1000 dancer pendukung yang berasal dari suporter sekolah untuk menampilkan flashmob dance.

6 pemain NBA telah didatangkan oleh DBL Indonesia, yakni Danny Granger (2008), Kevin Martin dan David Lee (2009), Trevor Ariza (2010), Nate Robinson (2011), dan Jason Williams (2012).

sumber :www.nblindonesia.com

Di Kampung Basket, Babi Lewat Paksa Time Out

Minggu, 25 Januari 2009 , 07:59:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (3-Habis)

Sebelum datangnya DetEksi Basketball League (DBL), tanda-tanda heboh basket sudah ada di Papua. Kampung-kampung basket bertebaran di sekeliling Danau Sentani yang indah itu.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan commissioner DBL.

KOMPETISI basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League 2009 (DBL), diselenggarakan di 16 kota di 15 provinsi di Indonesia. Seri pertama di Papua, yang berakhir Jumat lalu (23/1) di Jayapura, tampaknya bakal menjadi salah satu yang terheboh.

Hingga penutupan, total berlangsung enam hari pertandingan. Sehari maksimal empat pertandingan. Hanya dalam waktu pendek itu, lebih dari 17 ribu penonton mengunjungi GOR Cenderawasih. Karena kapasitas gedung tak sampai 2.000 orang, pada saat semifinal dan final mereka harus rollingalias bergantian menonton.

Padahal, harga tiket tergolong tinggi. Harga tiket final bahkan lebih mahal daripada pertandingan profesional yang sedang berlangsung di Jakarta.

Usai final itu, Ketua Perbasi Papua Jhon Ibo berbicara kepada saya, berterima kasih telah menyelenggarakan Honda DBL 2009 di provinsinya. “Ini kebangkitan basket Papua,” ucapnya.

Terus terang, saya agak malu juga mendengar itu. Sebab, justru kamilah yang seharusnya berterima kasih kepada seluruh warga Papua. Sebab, mereka membantu kami membuktikan bahwa konsep student athlete dan penyelenggaraan standar tinggi bisa dilakukan di mana saja. Yang penting ada kemauan dan dukungan dari semua yang berkaitan.

Apalagi, sebelum Honda DBL 2009 datang, basket sepertinya memang sudah dahsyat di Papua. Minat masyarakatnya bahkan bisa dibilang menyetarai minat terhadap sepak bola.

Kamis lalu (22/1), saat libur pertandingan sebelum final, saya, Lucky Ireeuw (redaktur pelaksana Cenderawasih Pos dan ketua panitia Honda DBL 2009 di Papua), plus beberapa personel DBL Indonesia melihat betapa kuatnya grass root basket di Papua.

Kami diajak Jhon Ibo serta Jan R. Aragay dan beberapa teman lain dari Perbasi Papua, mengelilingi Danau Sentani naik speed boat. Bukan sekadar untuk menikmati keindahan, melainkan untuk mengunjungi “kampung-kampung basket” yang bertebaran di sekeliling dan di pulau-pulau yang terdapat di danau tersebut. Ikut pula Jecklin Ibo, 18, cucu Jhon Ibo yang sekarang telah menjadi atlet basket nasional.

***

Kampung pertama yang kami kunjungi adalah Ayapo. Kampung ini penduduknya 1.148 orang, dan punya sejarah menyumbangkan banyak atlet. Bukan hanya untuk Papua, juga nasional. Pada era 1970-an hingga 1980-an, banyak nama tenar muncul dari Ayapo.

Fredrik Deda, 46, kepala kampung tersebut, menyebutkan nama-nama seperti Hanock Deda, Adrianus Yomo, Lewi Puhili, Isack Deda, Moses Pulalo, Lukas Lali, dan beberapa lainnya.

Di Ayapo ini, memang ada lapangan basket. Letaknya di pinggir danau, di sisi satunya ada bukit kecil dan pemakaman. Kalau difoto dari bukit itu cukup menarik. Karena pemandangan di sisi lain adalah Danau Sentani yang indah.

Dulu, dasar lapangan itu tanah biasa. Sekitar lima tahun lalu, tutur Jhon Ibo, kampung ini diberi material untuk membangun lapangan dari beton. Warga yang mengerjakannya sendiri.

Fredrik Deda bercerita, kalau sore orang bisa berebut menggunakan lapangan itu. “Karena itu kami mengaturnya. Hari ini putra, besoknya putri. Kalau tidak, bisa marah-marah,” ungkapnya. “Kalau di sini ada empat lapangan, semua pasti terisi,” tambahnya.

Kampung itu total punya sekitar 100 pemain basket, putra maupun putri dari segala umur. Mereka punya klub. Yang putra bernama Putravo, yang putri bernama Putrivo.

Dengan bangga Fredrik bilang bahwa kedua tim itu baru saja meraih sukses di sebuah kejuaraan antarkampung terbuka di Pulau Putali, yang juga terletak di Danau Sentani. “Kami mengirimkan tim usia di bawah 20 tahun. Semua biaya transportasi dan pendaftaran didanai dari kampung ini. Tim putra dan putri kami sama-sama masuk final,” ucapnya.

***

Kampung di Pulau Putali itu merupakan kampung basket kedua yang kami kunjungi. Penduduknya juga sekitar 1.000 orang. Di sana lapangan basketnya juga terletak tepat di sisi danau. Tapi, fasilitasnya lebih “komplet.” Tak heran, lapangan inilah yang dipakai untuk turnamen terbuka antarkampung, yang diikuti puluhan tim pada Maret 2008 lalu.

Tentu saja, yang dimaksud “komplet” itu masih tergolong sederhana. Di satu sisi lapangan, ada “tribun” yang terbuat dari beton. Di sanalah penonton menikmati pertandingan.

Di sisi lain, ada sederet rumah penduduk, rumah panggung di atas air danau. Salah satu rumah itu punya dinding agak lebar, dan dinding itulah yang dijadikan papan scoreboard. Petugas pertandingan menggunakan kapur untuk menuliskan perolehan poin di lapangan.

Yang seru lagi, sama seperti di Ayapo dan kampung-kampung basket lain, binatang peliharaan dengan bebas berkeliaran. Baik anjing maupun babi. Besar maupun kecil. Tak jarang, binatang-binatang itu dengan cuek masuk lapangan, termasuk saat dilangsungkannya pertandingan resmi.

“Di sini kendala nonteknisnya adalah binatang lewat. Kalau ada anjing atau babi lewat, mau tak mau harus time out dulu,” papar Nico Malimongan, 32, seorang wasit dari Perbasi Papua.

Dari Putali, kami diajak ke tempat yang sangat spesial bagi Jhon Ibo. Yaitu, Pulau Ajau, tempatnya berasal dulu. Kampung pertama yang kami kunjungi adalah Kampung Ifale. Lagi-lagi, di sana ada lapangan basket beton. Sayang, sisi lapangan yang bersebelahan langsung dengan danau sudah amblas. Fondasinya tampak kurang kuat.

Dengan kondisi seperti itu, kalau pemain basketnya rewel, yang dipakai mungkin hanyalah satu sisi ring (yang tidak amblas). Tapi dasar gila basket, lapangan yang amblas sebelah bukanlah kendala untuk bermain dan berlatih. “Semua bagian lapangan tetap kami pakai,” ungkap Videl Suebu, 24, seorang pengurus basket di Ifale.

Melihat kondisi lapangan yang mulai rusak itu, Jhon Ibo punya kesimpulan. “Biasanya kami hanya mendatangkan material ke kampung-kampung basket ini. Lalu warga membangun lapangan sendiri. Campuran semen mereka mungkin tidak pas. Mungkin lain kali, biar tukang saja yang membangun lapangan-lapangan ini,” tuturnya.

***

Berjalan sedikit dari Ifale, tibalah kami di Kampung Hobong, kampung asal Jhon Ibo. Dia mengaku di Hobong-lah lapangan basket pertama dia bangun di sekitar Sentani.

Waktu itu pada 1966, saat dia masih berusia sekitar 19 tahun. Jhon Ibo mengaku jatuh cinta pada basket ketika masih SMA, di sebuah sekolah asrama di Jayapura. Di sana dia berteman dengan beberapa anak asal Filipina. Dari merekalah dia belajar bermain basket dan terinspirasi untuk mengembangkannya di kampung halaman.

“Lapangan pertamanya masih tanah. Tiang ring-nya dari pohon palem yang dipotong. Lingkar ring masih dari kawat,” kenang Jhon Ibo.

Sekarang, seperti lapangan-lapangan lain di kampung-kampung basket Sentani, lapangan itu sudah terbuat dari beton. Waktu kami berkunjung, ada beberapa anak sedang asyik main basket di situ. Ada pula Ignatius Suebu, 34. Dia dulu murid basket Jhon Ibo, dan sekarang dialah pelatih basket di Hobong.

Di lapangan ini pula Jecklin Ibo kali pertama bermain basket. Dia dulu sekolah di SD yang terletak tepat di sebelah lapangan tersebut.

Ketika di Hobong itu, senja sudah tiba. Tepat sebelum matahari terbenam, kami kembali ke “daratan” untuk kembali ke Jayapura.

Keesokan harinya, final Honda DBL 2009 diselenggarakan di Jayapura. Tim putri SMA Teruna Bakti Jayapura dan tim putra SMAN 1 Merauke tampil sebagai juara. Disaksikan sekitar 3.000 orang yang bergantian memenuhi gedung pertandingan.

Di Jayapura pula, pemecahan rekor terjadi. Yohana Magdalena “Super” Momot, bintang SMA Teruna Bakti, mencetak 71 poin dalam laga final melawan SMAN 1 Jayapura. Itu perolehan individual tertinggi sejak DBL kali pertama diselenggarakan di Surabaya pada 2004 lalu.

Dalam perjalanan pulang ke Surabaya Sabtu kemarin (24/1), setelah sepuluh hari di Jayapura dan “belajar” basket di Papua, saya merasa lega dan bangga. Pilihan kami untuk membuka Honda DBL 2009 di Jayapura tidaklah salah. Semua berlangsung melebihi ekspektasi.

Bagi semua anggota panitia, penyelenggaraan ini memang melelahkan. Tapi, seperti yang disampaikan Direktur Utama Cenderawasih Pos Suyoto, semua kerja keras dan kendala yang dihadapi itu terbayarkan dengan kehebohan yang dihasilkan.

Saya juga berpikir, mengapa sebelum ini tidak ada pihak lain dari luar Papua yang mau menyelenggarakan kompetisi di provinsi tersebut. Infrastrukturnya memang pas-pasan, tapi antusiasmenya lebih dari dahsyat dan pemandangan di sekitar kotanya sangat istimewa.

Soal gedung pertandingan yang kurang besar, sekarang juga sudah ada harapan. Katanya, gedung baru di Universitas Cenderawasih bakal selesai dibangun pada akhir 2009 ini. Kalau terwujud, itu peluang untuk tumbuh bagi even basket di Papua.

Sebelum pulang, banyak yang minta agar DBL kembali ke Papua tahun depan. Mulai pemain, pelatih, sampai warga kota Jayapura yang kami temui saat makan atau jalan-jalan.

Selama berlangsungnya Honda DBL 2009, di mana-mana di Jayapura orang memang membicarakan kompetisi ini. Di Bandara Sentani sebelum pulang kemarin (Sabtu, 24/1), di mana-mana kami melihat banyak orang menikmati liputan Honda DBL 2009 yang berhalaman-halaman di Cenderawasih Pos.

Saat di pesawat menuju Surabaya pun saya masih diajak diskusi soal kompetisi itu. Misalnya dengan Saul Salamuk, yang duduk dekat saya. Dia mengaku masih saudara dengan Yohana M. Momot, sang pemecah rekor. Juga dengan Elias Henche Thesia, pemain SMAN 1 Jayapura yang terpilih masuk League DBL First Team dan akan ikut terbang ke Surabaya bertemu bintang NBA.

“Di kantor orang semua meributkan (membicarakan, Red). Kenapa tidak dari dulu-dulu ada (DBL). Ini harus rutin diselenggarakan,” kata Saul.

Dengan antusiasme seperti itu, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak kembali tahun depan. (habis)

sumber : http://www.jpnn.com

Main dengan Satu Mata, Elias akan Bertemu Pemain NBA

Sabtu, 24 Januari 2009 , 07:12:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (2)

Bikin kompetisi basket di Papua memberi banyak inspirasi. Baik dari para pemain mudanya maupun dari kampung-kampung basket yang tersebar di sekitar Danau Sentani.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos yang juga commissioner DBL.
INFRASTRUKTUR adalah kendala besar penyelenggaraan kompetisi basket di berbagai penjuru Indonesia. Perbedaan gedung dari satu kota ke kota yang lain bisa sangat ekstrem. Ada kota yang gila basket, gedungnya kecil dan kumuh. Ada kota yang biasa-biasa saja terhadap basket, tapi gedungnya berlebih. Baik itu ukuran tribun maupun jauhnya jarak dari keramaian.
November tahun lalu, saya bersama Masany Audri dan Puji Agus Santoso dari DBL Indonesia lebih dulu mengunjungi Jayapura untuk bertemu panitia dari Cenderawasih Pos serta perwakilan Honda sebagai partner utama. Ketika kali pertama mengunjungi GOR Cenderawasih, tempat diselenggarakannya Honda DBL 2009 seri Papua, perasaan kami antara kaget dan tidak.
Kami memang tidak punya ekspektasi tinggi, dan sudah punya pengalaman memermak gedung-gedung basket yang sebenarnya mungkin sudah tidak layak.Saya tidak akan menjelaskan secara detail seperti apa. Yang pasti, kami harus menambahkan satu aturan lagi dalam fan code of conduct (aturan penonton yang selama ini kami terapkan). Bila biasanya dilarang membawa rokok, botol minuman, dan makanan, sekarang ditambah larangan membawa masuk buah pinang.Juga, sempat tercetus ide untuk kerja bakti beberapa hari sebelum kompetisi dimulai 16 Januari lalu. Dasar nasib baik, kerja bakti tak perlu dilakukan. Ketika Puji kembali ke Jayapura untuk persiapan penyelenggaraan awal Januari lalu, dia bilang, ’’Kita dapat berkah Natal.’’ Karena GOR Cenderawasih dipakai Natalan, gedung itu pun dicat total. Dan karena Honda DBL 2009 adalah even besar pertama di awal tahun, kami kelimpahan kebersihannya…

***

Gara-gara dipakai acara partai di luar kesepakatan pemakaian gedung (dengan karaoke-karaokean segala), panitia hanya punya waktu 18 jam untuk menyiapkan GOR Cenderawasih untuk pembukaan Honda DBL 2009. Pada akhirnya, semua siap pukul 12.00 WIT hari Jumat, 16 Januari lalu. Hanya dua jam sebelum pembukaan kompetisi. Tidak seideal yang diharapkan, karena penataan branding dan peralatan semua serba cepat-cepat, tapi sudah terlihat bakal ada even berstandar tinggi.

Salah satu bagian yang paling dikhawatirkan adalah lapangan. Pertama, butuh waktu beberapa jam untuk menata sports tile (lapangan panel-panel plastik). Kedua, merapikan lapangan itu sendiri dan kemudian menempelinya dengan stiker sponsor. Apalagi, di Jayapura ternyata tidak ada orang yang punya pengalaman memasang stiker lapangan basket. Dulu katanya pernah ada kompetisi yang disponsori sebuah merek rokok dan memakai stiker lapangan. Tapi, penempel stikernya didatangkan dari Jakarta.

Hal itu membuat kami bangga. Ada pemasang kaca film mobil yang bersedia menempeli stiker lapangan Honda, Relaxa, dan BNI. Karena pemasang kaca film, dia pun menempeli stiker besar-besar itu pelan-pelan, mengencangkannya pakai windshield wiper (penyapu kaca mobil).

Lebih lambat memang, tapi minimal Honda DBL 2009 telah meninggalkan satu pakar pasang stiker di Jayapura. Kalau mau menerbangkan ahli dari Jakarta atau Surabaya, mungkin bisa. Tapi, selain buang-buang biaya, juga tidak ’’meninggalkan’’ sesuatu untuk Papua.

***

Jhon Ibo, ketua Perbasi Papua, bilang kepada saya bahwa even kami telah menggairahkan basket di provinsi paling timur tersebut. Terus terang, justru kami yang merasa terinspirasi oleh gairah basket di Papua. Dan itu memberi beban kepada penyelenggaraan Honda DBL 2009 di 15 kota lain di Indonesia.

Bayangkan, mulai penyisihan hingga final kemarin, jumlah penonton per hari minimal di angka 2.000. Itu pun terjadi Minggu lalu (18/1), karena pada hari tersebut biasanya orang di Jayapura enggan melakukan kegiatan, fokus beribadah.
Puncaknya terjadi saat Fantastic Four (semifinal) Rabu lalu (21/1). Sekitar 5.000 orang datang ke GOR Cenderawasih, sehingga panitia sempat harus mengosongkan gedung dua kali di sela-sela pertandingan supaya penonton bisa duduk bergantian.

Kata teman-teman Cenderawasih Pos dan Perbasi Papua, ini kali pertama di Jayapura penonton diminta untuk rolling. Kata mereka, ini adalah even olahraga terbesar yang pernah ada di Papua. Dari segi penonton, hanya pertandingan sepak bola Persipura yang lebih banyak. Padahal, harga tiket termasuk tertinggi. Bahkan, harga tiket final kemarin (Jumat, 23/1) lebih mahal dari pertandingan profesional di Jawa.

Dari semua kota yang pernah dikunjungi DBL, penonton per pertandingan di Jayapura ini mampu menyaingi jumlah penonton di kota tempat DBL Indonesia berpusat, Surabaya. Jauh lebih tinggi dari kota-kota yang lain.

***

Semangat peserta di Papua luar biasa. Jumlah peserta memang kami tahan di bawah angka 30, karena ini kali pertama penyelenggaraan di sini. Tapi, dari angka 25 tim yang ikut (16 putra dan sembilan putri), semua punya cerita yang mampu memacu semangat tim-tim sekolah di kota-kota lain di Indonesia.

Bukan hanya dari Kota dan Kabupaten Jayapura, peserta Honda DBL 2009 juga datang dari kota-kota lain seperti Wamena dan Merauke. Bagi yang kurang familier dengan Papua, silakan lihat peta. Kedua kota itu jauh dari Jayapura. Dan tidak ada jalan darat yang menghubungkan kedua kota tersebut dengan Jayapura. Seluruh tim Wamena dan Merauke (termasuk ofisial dan tim yel-yel) harus terbang naik pesawat ke Jayapura!

Tim SMAN 1 Wamena sempat bermain hanya dengan tujuh anggota yel-yel. Menurut aturan DBL di Papua, kalau yel-yel kurang dari delapan, setiap kekurangan harus digantikan oleh pemain (yang ditunjuk oleh lawan). Pemain itu harus ikut menyoraki tim dan ikut tampil menari di tengah lapangan saat half-time.

Pada pertandingan kedua, tim Wamena tak mau masalah itu terulang. Satu yel-yel yang berhalangan hadir di laga pertama itu pun diterbangkan ke Jayapura untuk melengkapi tim.

Tim SMAN 1 Merauke, meski datang paling jauh, merupakan tim yang layak disebut sebagai tim paling rapi dan disiplin. Bukan hanya di Papua, tapi di seluruh Indonesia. Bukan hanya tim pelajar, tapi mungkin juga tim profesional. Saat pendaftaran, tim itu sangat tertib. Semua kelengkapan dikumpulkan rapi. Ketika menonton pembukaan, semua pemainnya datang menggunakan kemeja rapi dan berdasi. Ketika bertanding, mereka juga terlihat paling rapi dan benar-benar terlihat seperti ’’tim’’.

Padahal, tim tersebut sempat hampir tak bisa ikut Honda DBL 2009 di Papua. ’’Ketika mendengar dan mengetahui DBL di Cenderawasih Pos, gaungnya luar biasa. Tapi, waktu hendak mendaftar, informasi pertama yang kami dapat adalah pesertanya hanya untuk wilayah Jayapura dan sekitarnya,’’ tutur Frans Lucky Liptiay, guru dan pelatih SMAN 1 Merauke. Lucky, panggilan akrabnya, tidak menyerah. ’’Kami sempat menyampaikan, kalau tidak ada wakil dari Merauke, lagu Dari Sabang sampai Merauke dihapuskan saja,’’ ungkapnya.

Begitu ikut, Lucky mengaku senang dan bangga. ’’Pertandingannya memang (tingkat) SMA, tapi kemasannya VIP. Kami biasanya kalau bertanding di tribun penonton banyak makan buah pinang. Jadi hijau merah di mana-mana. Ini benar-benar istimewa,’’ tuturnya.

Dari semua tim itu, Honda DBL 2009 akan memilih lima pemain putra, lima pemain putri, dan dua pelatih untuk terbang ke Surabaya, Agustus mendatang. Mereka akan mengikuti Indonesia Development Camp 2009, yang diselenggarakan DBL bersama liga paling bergengsi di dunia, NBA. Para pemain tersebut akan bertemu dan berlatih bersama pemain serta dua asisten pelatih NBA.

Dari para pemain terpilih itu, yang bakal memberi banyak inspirasi adalah Elias Henche Thesia, bintang SMAN 1 Jayapura. Ketika masih berusia empat tahun, dia dan kakaknya bercanda pakai pisau. Tragis, pisau itu melukai mata kanan Elias. Sejak saat itu, dia hanya bisa melihat pakai mata kanan.

Kendala penglihatan tidak menghalangi niat Elias untuk berprestasi di lapangan. Dialah salah satu mesin poin utama SMAN 1 Jayapura. Larinya sangat cepat, gerakannya cukup akrobatik. Bola masuknya sering tipe-tipe tembakan ’’ajaib’’ (terhalang lawan atau saat posisi sulit). Untuk mengompensasi penglihatan, saat free throw (tembakan bebas), Elias harus menoleh ke kanan supaya mata kirinya bisa melihat ring dengan jelas.

Anak 17 tahun yang sudah kehilangan ayah itu juga motor pertahanan dahsyat. Saat semifinal melawan SMA Teruna Bakti Jayapura, dia tak pernah menyerah mengejar bola, mencoba mencuri dari tangan lawan. Sayang, upaya itu terhenti di semifinal, SMAN 1 kalah tiga angka, 41-44. Andai SMAN 1 lolos ke final, saya dan teman-teman sudah berbicara, Elias-lah peraih Most Valuable Player (MVP) di Honda DBL 2009 seri Papua.

Meski demikian, Elias tetap terpilih masuk League First Team, bakal terbang ke Surabaya untuk bertemu pemain NBA. Ketika saya tanya apa yang akan dia lakukan bila bertemu bintang NBA, Elias menjawab dengan polos, ’’Saya akan jabat tangannya.’’ (bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com

Coba Buktikan Kompetisi Terbesar Tak Harus di Jakarta

Jum’at, 23 Januari 2009 , 01:47:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (1)

SUASANA GOR Cenderawasih, Jayapura, Rabu (21/1). Sekitar4000 orang secara bergantian memadati GOR tersebut.Foto: Hendra Eka/JAWA POS
SUASANA GOR Cenderawasih, Jayapura, Rabu (21/1). Sekitar4000 orang secara bergantian memadati GOR tersebut. Foto: Hendra Eka/JAWA POS
Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009, baru saja dimulai. Pilihan Jayapura sebagai kota pembuka sempat bikin banyak orang mengernyitkan dahi.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan commissioner DBL.
SEJAK 2004, DetEksi Basketball League (DBL) sudah diselenggarakan. Liga basket pelajar pertama yang menerapkan konsep student athlete. Pemain tak hanya dituntut jago di lapangan basket, dia juga harus menunjukkan kemampuan di sekolah. Kalau pernah tidak naik kelas, dia tidak boleh tampil di DBL. Hingga 2007, meski hanya diselenggarakan di Jawa Timur, DBL berkembang menjadi liga terbesar. Pada 2007 saja, pesertanya sudah mencapai 220 tim, melibatkan lebih dari 4.000 pemain, ofisial, dan yel-yel.
Pada 2008 lalu, setelah mematangkan konsep dan sistem, sudah waktunya menyebar ke provinsi lain di Indonesia. Sebelas kota dan sepuluh provinsi pun merasakan Honda DBL 2008.Tahun 2008, bagi kami, merupakan tahun belajar. Harus mengulangi lagi masalah-masalah yang dulu dihadapi waktu kali pertama menyelenggarakan DBL pada 2004.
Kali ini di kota-kota yang berbeda. Tahun 2008, bagi kami juga tahun keberuntungan. Siapa sangka, DBL menjadi liga pertama di Indonesia yang bekerja sama resmi dengan liga paling bergengsi di dunia, NBA.Bukan hanya itu, untuk kali pertama DBL mengirimkan pemain-pemain pilihannya ke luar negeri. Terima kasih kepada pemerintah Australia, pemain kami bukan hanya bertanding di Perth. Mereka juga belajar dan bertemu banyak teman.
Bila 2008 adalah tahun belajar, 2009 ini adalah tahun pengembangan. Total, Honda DBL 2009 akan diselenggarakan di 16 kota, di 15 provinsi di Indonesia. Total, diperkirakan bakal diikuti oleh lebih dari 750 tim dan 15 ribu peserta. Belum pernah ada kompetisi basket yang memiliki jumlah partisipan sebesar ini. Dan pembukaannya diselenggarakan di Jayapura…
***

Mengapa Jayapura? Setiap kali ditanya begitu –dan saya bersama teman-teman di DBL Indonesia sering ditanya begitu–, saya akan langsung menjawabnya lagi dengan pertanyaan: Mengapa tidak? Tahun lalu, kami sudah mendapatkan pertanyaan yang sama saat membuka Honda DBL 2008 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Hanya, waktu itu kami memilih Pulau Lombok dengan alasan khusus. Peserta tidak akan terlalu banyak, namun infrastruktur (stadion) memadai. Sebab, Mataram bagi kami adalah tempat training camp untuk panitia. Semua kumpul dulu di sana, belajar segala masalah, baru kemudian terbagi dan menyebar ke kota-kota lain.

Keinginan ke Jayapura ini sebenarnya sudah tercetus sebelum movement ini dimulai tahun lalu. Lalu makin getol dibicarakan saat menyelenggarakan kompetisi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Februari tahun lalu.  Kami makin sadar betapa besarnya tantangan menyelenggarakan kompetisi berstandar tinggi di kota-kota ”non-tradisional” basket. Dan, kami sudah berkali-kali bilang bahwa DBL tidak mengenal batasan wilayah. Kalau tidak ada batasan, kenapa tidak ambil yang ujung? Dalam hal ini, ujung sebelah timur: Jayapura. Apalagi, belakangan nama Papua begitu heboh dalam hal basket. Banyak atlet hebat datang dari sana.

Di Banjarmasin itu pula kami bertemu seorang anak muda asal Papua, Andi Suebu. Dia juga gila basket, dan setiap hari datang menonton Honda DBL 2008 di Banjarmasin (dia bekerja di sebuah bank di sana). ”Kamu harus menyelenggarakan ini di Papua,” katanya kepada saya dan rekan-rekan DBL.

Beberapa bulan kemudian, di kediaman Duta Besar Australia Bill Farmer di Jakarta, saya bertemu tim PON putri Papua yang akan berangkat untuk latihan di Melbourne. Saya dan beberapa teman DBL sendiri datang di sana juga untuk basket, karena akan mengirimkan tim All-Star DBL untuk belajar dan bertanding di Perth, Australia (terwujud Oktober 2008 lalu).

Di sana saya bertemu Ketua Perbasi Papua, Jhon Ibo, dan sekretaris umumnya, Jan R. Aragay. Saya sampaikan saja keinginan menyelenggarakan di Papua. Pak Jhon tidak bicara banyak. Tapi, dari tatapan matanya saya menangkap ada kebahagiaan. Perasaan ini pun makin mantap. Meski mungkin waktu itu Pak Jhon punya rasa tak percaya (jangan-jangan saya dianggap asal bicara dan obral janji saja, he he he).

***

Tentu saja, bicara dan pelaksanaan tidaklah sama. Sebelum berlanjut ke kendala, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua partner. Khususnya Astra Honda Motor, yang percaya sepenuhnya terhadap misi basket kami yang unik. Juga kepada Relaxa, BNI, League, PT Sinar Sosro, dan Proteam.

Terus terang, saya sering sakit hati kalau bicara dengan calon partner di Jakarta. Tidak banyak yang bisa melihat sebuah rancangan kompetisi secara menyeluruh. Bukan hanya sisi komersialnya, tapi juga misi dan idealismenya. Beberapa selalu bilang, percuma kalau menyelenggarakan di banyak kota, tapi Jakarta tidak dikunjungi. Misalnya kalau menggunakan dasar survei rating televisi. Sebanyak 50 persen lebih dihitung di Jakarta. Surabaya hanya dihitung sekitar 20 persen. Lalu beberapa kota lain.

Kebanyakan kota di luar Jawa sama sekali tidak dihitung. Karena dasar surveinya tidak meluas, beberapa potensial partner di Jakarta pun seolah menggunakan kaca mata kuda. Di mata mereka, kota seperti Jayapura tidak ada nilai angkanya.

Anggapan itu membuat kami (khususnya saya) makin bersemangat menyelenggarakan DBL di luar Jakarta. Harus ada yang bisa membuktikan bahwa liga terbesar tak harus diselenggarakan di Jakarta. Sekali lagi, terima kasih kepada para partner DBL tahun ini. Proses pembuktian itu sekarang bisa berjalan…

***

Kalau tidak ada kendala, tidak ada cerita. Kalau tidak menjalani proses, tidak ada hasil. Menyelenggarakan Honda DBL 2009 di Jayapura merupakan tantangan tersendiri. Saking serunya, tim DBL Indonesia yang dapat jatah ke Papua menyebut diri sendiri sebagai ”Tim Tempur” (juga karena dari sini langsung ke Makassar).

Dari segi logistik, ada banyak kendala. Entah mengapa, kargo pesawat ke Jayapura sering terkendala. Ada kru kami yang mendarat dengan selamat di Jayapura, tapi bagasi (dan baju-bajunya) baru datang tiga hari kemudian. Bola pertandingan dari Proteam yang dijatah untuk Jayapura pun tak kunjung datang pada hari pembukaan, Jumat, 16 Januari lalu. Bahkan, bola-bola itu baru Selasa lalu (20/1), lebih dari dua minggu setelah pengiriman!

Beruntung, kami punya beberapa bola untuk display yang saya bawa di bagasi pesawat. Jadi, pertandingan pertama masih bisa dilangsungkan meski jumlahnya kurang (khususnya untuk pemanasan). Pada hari pembukaan itu pula, markas DBL Indonesia di Surabaya langsung mengirimkan bola-bola baru untuk dikirim overnight. Pada hari kedua (17/1), kami sudah punya bola cukup.

Asal tahu saja, jersey untuk para finalis juga datang sangat mepet. Padahal, sudah dikirim lama. Final diselenggarakan Jumat hari ini (23/1), tapi jersey final itu baru datang Kamis kemarin (22/1). Terima kasih kepada League, yang cepat-cepat membuatkan jersey ekstra dan menerbangkan jersey itu di bagasi seorang personel Rabu malam lalu (21/1) dari Jakarta (tiba Kamis kemarin).

Totalitas juga ditunjukkan sehari sebelum pembukaan, Kamis, 15 Januari lalu. Hari itu, semestinya semua pihak, baik DBL Indonesia, panitia dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group), Perbasi Papua, Astra Honda Papua, dan sponsor lain mulai loading barang ke GOR Cenderawasih di Jayapura.

Dasar edan, di luar segala kesepakatan, ada sebuah partai menyelenggarakan pertemuan di GOR tersebut hari itu. Namanya juga partai politik, tidak mau tahu kami butuh waktu untuk menyiapkan gedung. Bahkan, mereka tak kunjung selesai sampai sekitar pukul 19.00 WIT. Pakai karaoke-karaokean segala lagi!

Berarti, kami hanya punya waktu kurang dari 18 jam untuk menunggu partai itu membongkar panggung, lalu menyiapkan gedung sesuai standar DBL yang cukup tinggi. Saya tak mau sebut itu partai apa, tapi kami semua sudah sepakat tidak akan mencoblosnya saat pemilu nanti. Bahkan, ada kru kami yang bilang bahwa sampai anak cucunya nanti tidak akan pernah boleh mencoblos partai itu.

Saat itulah totalitas semua pihak terbukti. Pihak sponsor (Astra Honda di bawah Jefri Rimeldo) mengerahkan banyak pasukan untuk menghiasi gedung. Tim DBL Indonesia dan Cenderawasih Pos (dengan ketua Lucky Ireeuw) menyiapkan perangkat penyelenggaraan. Dan yang patut diacungi semua jempol: Perbasi Papua.

Mereka turun penuh semalaman menyiapkan lapangan pertandingan. Tidak seperti kebanyakan gedung basket, GOR Cenderawasih tidak punya lapangan yang layak. Perbasi Papua memasangkan sports tile, lapangan plastik yang ditata seperti mainan Lego. Kotak-kotak kecil dirangkai menjadi lapangan luas.

Di Jawa dan beberapa daerah lain, berdasarkan pengalaman kami, sangat mudah mendapati pekerja-pekerja ”lamban.” Tidak di sini. Semua total supaya pertandingan besoknya bisa berlangsung… (bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com

Dibutuhkan Sejuta Azrul Ananda Baru

Refleksi Hari Olah Raga Nasional (9 September 2010)

Oleh: Ratmaya Urip*)

Azrul Ananda, anak muda ganteng dengan tinggi badan 176 cm dan berat badan 74 kg yang lahir pada 4 Juli 1977, alumnus Ellinwood High School,  Kansas, USA dan  California State University Sacramento, 1999 itu benar-benar telah mengalihkan perhatian saya. Betapa tidak, dalam usianya yang masih sangat muda (33 tahun), telah mengukir prestasi di bidang pembinaan olah raga yang tidak ada duanya, khususnya di cabang olah raga bola basket. Tidak banyak anak muda seusianya yang dapat menyamai prestasinya.

Setiap anak muda, khususnya para pelajar di seluruh Indonesia, pasti tidak asing lagi dengan kiprahnya dalam membina olah raga basket.  Development Basketball League (DBL) Youth Events telah bermetamorfosa menjadi Indonesia’s Biggest Student Basketball Competition, secara cepat dan mencengangkan, di tengah dahaganya talenting atau pembinaan atlit muda di Indonesia. Bayangkan, kompetisi yang dimulai dari tahun 2004, atau tahun yang sama dengan tahun ketika Mark Zuckerberg memperkenalkan Facebook pertama kali, kompetisi bola basket anak muda itu kini telah menjadi events olah raga yang paling ditunggu-tunggu oleh anak muda Indonesia.

 

Seperti halnya Facebook, DBL Youth Events dibidani dan diorganisir oleh anak-anak muda, dimulai dari waktu yang bersamaan, dan sama-sama meraih prestasi di bidangnya masing-masing dalam waktu yang singkat dan spektakuler. Hanya kalau Facebook merajai dunia informasi dan komunikasi global,DBL Youth Events merajai dunia olah raga basket tanah air. Keduanya memperoleh apresiasi dan penghargaan, meskipun berbeda level. Facebook di tingkat dunia, sementara DBL di tingkat nasional.

Meskipun DBL kini juga mulai berani merambah dunia dengan kerja sama yang dijalin dengan NBA. Saya tidak tahu, apakah kesuksesan DBL diilhami oleh keberhasilan Facebook. Semoga saja tidak. Dengan cakupan penyelenggaraan DBL yang menjangkau 21 kota di 18 provinsi, yang melibatkan lebih dari 1000 tim dan 25.000 partisipan adalah buktinya. Apalagi setelah keberhasilan-keberhasilannya tersebut kemudian mulai tahun 2010 DBL dipercaya untuk melakukan take over atas pelaksanaan kompetisi bola basket profesional Indonesia, Indonesian Basketball League (IBL).

 

Terlepas dari tangan dingin yang dilakukan oleh  Azrul Ananda, nampaknya peran publikasi atau media adalah kontributor utama kesuksesan acara ini. Tentu saja tanpa mengabaikan profesionalisme individu maupun profesionalisme institusi penyelenggara, serta peran sponsor maupun para partisipan. Gegap gempita pemberitaan media, dalam hal ini Jawa Pos Group yang tersebar di seluruh Indonesia membuat kompetisi ini menjadi semarak, menggairahkan, membanggakan, menjulat keinginan untuk berprestasi dan sexy. Benar-benar exciting and fascinating competition.

 

Besarnya peran media inilah yang mengusik perhatian saya, mengapa ya, sampai saat ini tidak ada lagi anak-anak muda seperti Azrul Ananda yang kebetulan memiliki modal media Jawa Pos Group untuk mengikuti jejaknya? Seandainya ada sepuluh orang saja anak muda yang memiliki visi yang sama dan yang kebetulan memiliki media yang berpengaruh, apakah itu media cetak atau elektronik mengikuti jejaknya, pastilah ada sepuluh cabang olah raga yang dapat dikembangkan.

Apalagi kalau ada sejuta Azrul Ananda baru. Mungkin saja prestasi olah raga kita tidak seburuk saat ini.  Mengapa media nasional lebih disibukkan dengan berita-berita konsumtif di bidang olah raga, sementara yang produktif diabaikan. Banyaknya media yang hanya memberitakan atau melakukan publikasi berita atau tayangan olah raga asing, tanpa diimbangi dengan upaya-upaya yang lebih produktif seperti memfasilitasi bergulirnya kompetisi olah raga nasional, itulah salah satu biang keterpurukan olah raga Indonesia. Jawa Pos Group sudah on the right track, dengan memberikan porsi yang seimbang antara pembinaan olah raga yang bersifat konsumtif dengan yang bersifat produktif, meskipun baru sebatas olah raga bola basket.

 

Ketika di suatu kesempatan coba saya tanyakan kepada Azrul Ananda, mengapa tidak memperluas cakupan pembinaan ke cabang olah raga lain? Selalu dijawab, hanya ingin membina bola basket saja, supaya fokus. Tokh, cabang olah raga lain sudah ada pembinanya masing-masing. Namun menurut saya, pola pembinaan seperti yang dilakukan Azrul Ananda, akan sangat tepat jika juga diaplikasikan ke cabang olah raga lain. Menurut saya, paling tidak ada 1 (satu) lagi cabang olah raga individual, bukan olah raga beregu yang masih dapat dibinanya tanpa kehilangan fokus. Apakah itu cabang olah raga renang, atletik, tinju atau lainnya.

Cabang olah raga yang disebut terakhir ini memiliki kemungkinan berprestasi yang lebih baik di level regional maupun global. Alasan supaya fokus menurut saya kurang relevan jika dikaitkan dengan rendahnya prestasi olah raga kita saat ini. Tambahan satu cabang olah raga untuk dibina oleh Azrul Ananda, khususnya cabang olah raga yang lebih berpotensi untuk mendulang medali emas di tingkat regional dan global, saya kira masih dapat dilakukan oleh seorang Azrul Ananda. Apalagi jika lebih dari satu cabang olah raga. Karena sampai saat ini saya belum melihat adanya Azrul Ananda baru. Padahal untuk mendongkrak prestasi olah raga nasional masih diperlukan sejuta Azrul Ananda baru. Ini adalah langkah terobosan (bukan jalan pintas) bagi Azrul Ananda untuk mendunia seperti Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya.

 

Tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini pembinaan olah raga nasional selalu melibatkan pemerintah secara langsung maupun tidak langsung, dengan berjubelnya para birokrat, baik yang masih aktif apalagi yang sudah pensiun dalam pembinaan olah raga nasional. Peran birokrat yang berlebihan akan kontra produktif, karena mereka sulit untuk fokus, ditengah upayanya untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat di bidang lainnya. Karena tugas dan kewajiban mereka sudah sangat banyak. Namun di sisi yang lain, penguasaan dana yang masih bersumber dari anggaran belanja negara dan anggaran belanja daerah tentu saja tidak dapat mengabaikan peran birokrat, khususnya dalam kelancaran pendanaan.

 

Maka saya menjadi lebih terkagum-kagum lagi, setelah mengamati bahwa DBL diorganisir secara profesional oleh pihak swasta, dengan meminimumkan peran birokrat (baca: pemerintah) dalam pelaksanaannya. Apalagi pola pembinaan yang selama ini melibatkan sponsor dari produsen rokok atau minuman beralkohol amat sangat ditentang oleh Azrul Ananda. Menurutnya, ke depan peran sponsor dari industri rokok atau minuman beralkohol pasti akan berkurang karena ketatnya regulasi dan isu lingkungan. Hal tersebut sudah dirasakan di tingkat global, sementara di level nasional belum banyak yang menyadarinya. Apalagi olah raga seharusnya tidak boleh dikonotasikan dengan produk-produk yang bertentangan dengan kesehatan, karena kesehatan adalah modal dalam pencapaian prestasi tinggi di bidang olah raga.

 

Saya punya mimpi, seorang Azrul Ananda suatu saat nanti akan dinobatkan sebagai pembina olah raga terbaik tingkat nasional atau bahkan tingkat global, asal berani melakukan gebrakan-gebrakan pembinaan olah raga tidak hanya bola basket, dan berani meninggalkan alasan “supaya fokus”. Infrastruktur dan modal untuk itu sudah ada, tinggal keberaniannya saja.

 

Mengurai benang kusut keterpurukan prestasi olah raga nasional memang tidak mudah. Memerlukan waktu, dana, profesionalisme, dan tingkat fokus yang lebih tinggi, yang lebih besar daripada yang ada sekarang. Namun satu contoh pola pembinaan sudah nyata diaplikasikan dalam DBL dan cukup berhasil. Salah satu benih prestasi sedang ditebar, marilah kita tunggu panennya.

sumber : http://themanagers.org