Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (3)

Menikmati Gaya dan Orang Belanja di Kota Mode Dunia Milan

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2012
boks
JUJUKAN FASHIONISTA: Jalan Montenapoleone yang menjadi tempat berlangsungnya Milan Fashion Week pekan depan. FOTO ARIYANTI K.R./JPNN

Susuri Jalan Milan Fashion Week, Lupa Putari Bull’s Ball
Selain sepak bola, Milan dikenal karena fashion-nya. Bahkan, Milan sering disebut sebagai salah satu ibu kota fashion dunia. Berada di sana selama dua hari, kami menjadi tahu bagaimana sebutan itu bisa tersemat di kota yang masuk wilayah Lambordy, Italia, tersebut.
Laporan Ariyanti K.R., MILAN

Begitu menjejakkan kaki keluar terminal subway Metro kuning di Duomo siang itu (8/9), saya bersama Ivo Ananda, fashion police rubrik Jawa Pos For Her, langsung disuguhi pemandangan bak keramaian pasar. Banyak orang berlalu lalang dengan tentengan tas belanja berbagai ukuran. Berjalan ke kiri, ada gerai label United Colors of Benetton. Empat lantai gerai itu menyajikan kebutuhan berbeda. Bawah tanah untuk anak-anak, satu perempuan, dua laki-laki, dan tiga aksesori.

Melangkah ke seberang, ada butik Zara. Pengunjungnya juga ramai. Di kasir minimal selalu ada sepuluh orang yang mengantre hingga toko tutup pukul 20.00. Tren baju-baju bertema army dan celana panjang dengan ritsleting di samping bawah memang menarik minat.

Keluar dari situ, teruslah melintasi Corso Vittorio Emanuele tersebut. Ratusan outlet dengan brand populer berjajar. Levi’s, Guess, H&M, hingga merek lokal mengisi deretan toko yang sebagian besar merupakan bangunan klasik Italia itu.

Masih belum puas berbelanja baju, sepatu, tas, dan pernik-pernik fashion di situ, segeralah bergegas ke Galleria Vittorio Emanuele II yang letaknya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki. Bangunan yang menjadi tempat shopping model arcade (gedung berlorong tertutup atap) itu sangat ikonis, elegan, dan berkelas.     Selesai didirikan pada 1877, Galleria yang menjadi jalan penghubung dua landmark Kota Milan, Piazza Duomo dan gedung opera Teatro Alla Scala, itu ditutup atap kaca berkombinasi dengan besi. Lantainya marmer bermozaik. Brand luxury seperti Prada, Gucci, dan Louis Vuitton berada di Galleria.

Di tempat itu juga tersebar kafe-kafe ternama dengan menu khas Italia. Sekali makan di situ, satu orang dengan porsi biasa appetizer oven baked dan  main course steak serta air mineral, harga yang dibayar sekitar Rp600 ribu. Wow! Harga makan di situ memang lebih mahal daripada tempat lain di Milan. Tetapi, itu pantas dengan kebanggaan bisa nongkrong di tempat prestisius tersebut.

Milan Fashion Week merupakan even mode yang sangat bergengsi. Di seluruh dunia hanya ada empat fashion week besar yang menjadi acuan tren mode. Skedulnya dimulai dari New York Fashion Week, kemudian London, selanjutnya Milan, serta berakhir di Paris. Dan, peragaan koleksi Prada sebagai brand ternama Italia selalu menjadi bagian pertunjukan yang paling dinanti.

Banyaknya turis yang datang membuat kami kesulitan menilai style warga setempat. Namanya turis sedang berbelanja di musim panas, gayanya nyaris seragam. Kasual dengan sepatu flat, celana pendek atau jins panjang, dengan atasan kaus. Yang penting nyaman. Camilla Stech, seorang SPG (sales promotion girl), juga mengatakan sebagai perempuan Milan, dia merasa kondisi yang tercipta di sekeliling membuatnya harus selalu gaya.

’’Di sini kami bisa melihat perkembangan fashion terkini. Seminggu sekali saya pasti jalan ke shopping mall untuk melihat apa yang menjadi tren. Tentu tidak semua bisa terbeli. Tetapi, saya menjadi pintar mix and match. Kalau mau aman, ya pakai saja dress warna hitam yang timeless,” kata perempuan 27 tahun itu.

Ucapan perempuan tersebut ada benarnya. Berada di subway Metro, baik pagi maupun malam, kami bisa dengan mudah menemukan perempuan dengan dandanan chic menenteng tas bermerek. Beberapa di antara mereka menambahkan syal untuk atribut gaya. Ankle boot, stiletto, hingga flat shoes modis menjadi pelengkap penampilan.

Perjumpaan Milan dengan fashion, baju, dan industri tekstil dimulai sejak akhir abad ke-19. Awalnya, industri fashion di sana menjiplak desain fashion papan atas Paris. Namun, tak lama kemudian, Milan mengembangkan gaya sendiri. Kota yang menjadi markas tim sepak bola AC Milan itu mulai memunculkan namanya pada dekade 1970 dan 1980-an, membuatnya makin prestisius pada 1990-an, dan pada 2000-an resmi menjadi salah satu di antara big four kota fashion dunia.

Tak semua jalan terkenal di Milan bisa kami singgahi dalam waktu sesingkat itu. Misalnya, kami tak sempat melakukan ’’ritual” memutari gambar Bull’s Ball di Galleria Vittorio Emanuele. Menurut kepercayaan warga di sana, jika ’’ritual’’ itu dilakukan, dipercaya membuat kita bisa kembali ke Milan dan bernasib baik. Bull’s Ball adalah sebuah mozaik batu bergambar kerbau dengan sebuah lubang tepat berada di testikelnya.

Meski tak menjalani ’’ritual” itu, kami tetap berharap bisa datang ke sana lagi. Sebab, aktivitas dunia fashion di Milan memang nikmat untuk dijelajahi. Dengan segala yang terjadi di dalamnya, Milan layak menjadi pusat mode dunia.

Apalagi, pemerintah Italia punya kebijakan goods and services tax (GST) refund. Pajak barang yang dibeli bisa dikembalikan saat kita akan meninggalkan bandara negeri pemilik Menara Pisa itu. Ow, siapa yang tak mau. Pemerintah Italia biasanya menetapkan pajak 20 persen untuk banyak hal. Bagi penduduk non-Uni Eropa, pajak itu akan dikembalikan lagi.

Syarat utama pembelian minimal harus sebesar 154,94 euro (Rp1,9 juta) dalam satu waktu di satu toko. Selain itu, barang yang dibeli untuk keperluan pribadi, diangkut dalam bagasi sendiri, harus diperiksa oleh petugas pabean, dan maksimal tiga bulan sesudah pembelian sudah harus dibawa keluar Uni Eropa. (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Advertisements

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (2)

SELASA, 11 SEPTEMBER 2012
 

 

 

 

TOKO 100 TAHUN PLUS: Azrul Ananda (kiri) dan Agung Kurniawan di depan Rossignoli, toko sepeda di Milan yang berdiri sejak tahun 1900. FOTO JPNN

Usia Sudah 70 Tahun, Seminggu Hanya Bikin Dua Frame
Di Milan, ada toko sepeda yang sudah berdiri sejak 1900. Banyak pula artisan (seniman) sepeda yang namanya superkondang di seluruh penjuru dunia.
Laporan Azrul Ananda, MILAN

Kalau suka sepeda, sama dengan otomotif, nama-nama paling eksotis datang dari Italia. Kalau di dunia mobil ada Ferrari dan Lamborghini, di dunia sepeda ada Colnago, Pinarello, Cinelli, dan lain sebagainya.

Nah, kalau berkunjung ke Milan, ada kesempatan untuk mengunjungi langsung bengkel, pabrik, atau markas merek-merek ternama itu. Banyak di antara mereka yang letaknya di Milan atau di sekitar Milan.

Sebut saja Colnago, yang berpusat di Cambiano, di utara Milan, di dekat sirkuit Formula 1 Monza. Lalu ada De Rosa, Cinelli, dan lain-lain. Kalau seniman sepeda, nama yang kondang, antara lain, Masi. Kalau kita perhatian, merek-merek itu sudah tidak asing lagi di Indonesia. Banyak produk tersebut yang berseliweran di jalanan kita. Jika di Milan, tempat mereka berasal bisa dikunjungi secara langsung dengan relatif mudah.

Ketika tiba di Milan, sebagai penggemar sepeda, salah satu yang dicari pertama adalah toko sepeda. Searching di berbagai sumber, ada satu nama yang selalu muncul duluan. Yaitu, Rossignoli.

Usut punya usut, itu toko sepeda tua luar biasa. Berdiri sejak 1900. Jadi, sudah seratus tahun lebih eksis! Letaknya juga tidak berubah, selalu di kawasan Garibaldi. Itu masih di tengah Kota Milan. Kalau mau ke sana, tinggal naik subway jalur hijau, turun di Garibaldi atau lebih dekat lagi di Moscova.

Menemukan toko itu memang mudah. Tanya orang di sekitar stasiun, banyak yang tahu letaknya. Begitu tiba, toko tersebut langsung terlihat  ’’uzurnya”. Papan tulisan ’’Rossignoli” di depan dibiarkan memudar.

Apa isinya? Jangan mengharapkan sepeda-sepeda high-end yang harganya ajaib. Itu sebenarnya toko sepeda biasa untuk semua kalangan. Mau sepeda harga ribuan euro? Ada. Mau sepeda merek Rossignoli harga 200 euro (sekitar Rp2,4 juta)? Juga ada. Mau pesan sepeda custom sesuai bentuk dan ukuran badan kita? Juga bisa.

Dari begitu banyak sepeda (kebanyakan tipe urban) yang berkeliaran di jalanan Milan, sangat besar kemungkinan kita melihat yang bermerek Rossignoli.

Serunya, sepeda bekas juga banyak digantung di langit-langit toko. Sebuah sepeda balap Rossignoli edisi 1970-an, misalnya, dilego “hanya” 800 euro. Sebuah Pinarello KOBH (Dogma K) bekas edisi Team Sky, yang di Indonesia populer luar biasa, dijual  ’’hanya’’ 3.000-an euro.

Tokonya memang tidak besar. Seperti kebanyakan toko sepeda standar di Indonesia. Tapi, kalau jalan ke belakang, ada workshop, gudang, dan kantornya. Selama di Rossignoli, kami ditemani Matias Rossignoli, salah satu keturunan pendiri toko. Ya, toko itu masih terus dikelola keluarga secara turun-temurun. Sampai generasi keempat!

”Itu paman saya, itu juga cucu, itu keluarga yang lain,” kata Matias Rossignoli dengan menunjuk orang-orang yang bekerja di sekeliling toko. Iseng, saya tanya apakah bisa dibantu dibuatkan sepeda balap custom. Matias langsung mengajak saya ke workshop di belakang bersama seorang stafnya, Giovanni. Mereka pun langsung mengukur tinggi badan, panjang kaki, tangan, dan lain-lain.

Sebagai bahan informasi, tinggi saya 176 cm. Dengan inseam (jarak dari dasar lantai ke selangkangan) 82 cm. “Kamu ukuran 54. Kamu pakai stem 11 cm,” katanya. Kayaknya itu sangat akurat, sepeda saya di Indonesia kebanyakan memang berukuran 54, dan saya paling nyaman pakai stem 11 cm!

Matias lantas berjanji mengirim e-mail pilihan-pilihan spesifikasi sepeda. Bayangan saya, kalau tidak ketemu barang asyik di Milan, saya pesan saja sepeda balap klasik dari bahan steel (baja) di Rossignoli.

Dari toko utama itu, di sebelahnya ada lagi toko bernama “Rossignoli”. Isinya jualan pakaian dan aksesori bersepeda. Juga pakaian dan aksesori motor. “Ini pasti saudara yang lain,” kata saya dalam hati.

Rossignoli termasuk berkesan. Tapi, lebih berkesan lagi saat menuju Vigorelli Velodrome. Di sanalah tempat Alberto Masi bekerja membuat sepeda.

Untuk penggemar sepeda, nama Masi sangatlah familier. Khususnya di kalangan penggemar sepeda fixed gear (fixie) dan classic. Banyak sekali sepeda merek itu yang dijual di Indonesia. Harganya tidak supermahal, walau juga tidak murah.

Meski demikian, tidak banyak yang tahu bahwa merek Masi itu sudah pecah dua. Masi yang kebanyakan beredar bukanlah Masi yang ’’sebenarnya”. Bukan, bukan berarti palsu. Sama-sama asli. Tetapi, Masi yang satu sudah jadi ’’Masi industri”, sedangkan yang orisinal masih dibuat satu per satu sendiri oleh orang yang bernama Alberto Masi di Milan.

Ceritanya cukup panjang dan rumit. Pada 1950-an dan 1960-an Faliero Masi menjadi kondang berkat sepeda yang dia buat untuk para legenda balap. Seperti Eddy Merckx, Jacques Anquetil, Fiorenzo Magni, dan lain sebagainya.

Pada 1972 Faliero pindah ke Amerika Serikat sekaligus menjual hak nama Masi kepada investor di sana. Harapannya, mereka bisa mengembangkan perusahaan. Kenyataannya, Faliero tidak betah di California. Ingin pulang ke Italia.

Lanjut cerita, entah bagaimana detailnya, terjadi perselisihan yang tak bisa diselesaikan. Faliero, yang menurunkan kemampuan istimewanya kepada sang anak, Alberto, kemudian terus membuat sepeda-sepeda secara eksklusif untuk para klien. Toh, para klien itu tetap ingin sepeda yang dibuat oleh orang bernama Masi. Bukan sekadar merek Masi.

Alhasil, kini ada dua merek Masi. Yakni, yang produksi masal dari Amerika (dan diklaim oleh Alberto Masi berkualitas lebih buruk karena dibuat murni untuk bisnis) serta yang dibuat satu per satu oleh keluarga Masi di laboratoria (bengkel) mereka di Vigorelli.

Faliero sendiri meninggal di usia 93 tahun pada Desember 2000. Alberto, kini 70 tahun, masih bekerja di Vigorelli bersama beberapa asisten.

Konsekuensi hukum dari perselisihan itu: Dua-duanya boleh bikin sepeda merek Masi. Hanya, bengkel di Vigorelli tidak boleh menjual buatan mereka di Amerika dengan menggunakan nama tersebut. Kalau mau berjualan ke Negeri Paman Sam, mereka pakai merek Milano V3.

Beberapa klien kondang yang sekarang masih pesan sepeda di situ adalah Miguel Indurain, Greg LeMond, serta beberapa legenda balap lain dari era 1980-an dan awal 1990-an.

Nah, kalau ingin mengunjungi langsung Alberto Masi, saat ini masih sangat mungkin dilakukan. Vigorelli Velodrome sudah tidak lagi dipakai, tapi lokasinya mungkin menarik untuk dihampiri karena kedekatannya dengan tempat kondang lain: San Siro.

Kalau naik subway, turunnya di kawasan San Siro. Jalan kaki kira-kira 2 kilometer, sampailah kita di Vigorelli. Bengkel Masi, yang ada di situ sejak 1950-an, juga gampang didapati. Di ujung jalan, ada jersey warna pink (simbol juara sepeda di Italia) yang ditempel ke papan dengan tulisan “Masi” serta bendera Italia. Lalu, ada panah yang menunjukkan arah kita harus berjalan.  Tidak jauh dari situ, terlihatlah bengkel yang menempel di sisi velodrom tersebut. Tidak ada penanda mewah.

Saya dan rekan Agung Kurniawan mengunjungi Masi Kamis pagi (6/9), sekitar pukul 09.00. Rencananya, dari Masi, baru akan ke Sirkuit Monza untuk meliput hari persiapan Grand Prix Italia.

Pagi itu, ketika tiba di bengkel Masi, alangkah terkejutnya kami. Hanya ada satu orang yang sedang bersiap bekerja, memasangkan celemek. Dia adalah Alberto Masi sendiri!

Melihat kami dan setelah kami jelaskan (pakai bahasa Inggris) bahwa kami berasal dari Indonesia, dia memberi tanda pakai tangan untuk menunggu sesaat. Rupanya, dia tidak bisa bahasa Inggris dan meminta kami untuk menunggu beberapa menit. Rekannya akan datang untuk membantu menerjemahkan.

Sambil menunggu, dia bekerja membuat sepeda dan kami dipersilakan menikmati isi bengkel. Foto-foto dan melihat-lihat. Tempat yang kami kunjungi itu benar-benar “bengkel”. Tidak ada sepeda yang dijual, tidak ada aksesori yang dijual. Beberapa sepeda dipajang bukan untuk dijual, melainkan sebagai contoh atau penanda sejarah.

Sebuah sepeda bertulisan “Faema” merupakan yang dibanggakan. Itulah sepeda yang dipakai Eddy Merckx meraih kesuksesan pada 1968. Dan sepeda itu bukan untuk dijual!

Tidak lama, datanglah Romano Raptetti, salah satu asisten Alberto. Kami lantas berbincang dengan Alberto via Raptetti sebagai penerjemah. Percakapan sangat santai dan penuh canda. Alberto orangnya agak diam, tapi celetukannya lucu, sementara Raptetti dasarnya suka bercanda.

Alberto rupanya meneruskan passion ayahnya soal sepeda dari bahan baja. Sang ayah dulu ekstrem, bilang steel or nothing. “Bahan-bahan lain itu tak ada gunanya. Tujuan mereka hanya untuk cari uang.” Begitu komentar Faliero Masi dulu.

Alberto Masi agak beda. Baginya, steel tetap yang terbaik. Dengan kualitas bahan dan penggarapan, ia akan lebih abadi. Ada beberapa contoh frame rusak di bengkelnya, semua terbuat dari kombinasi karbon dan aluminium.

Kata mereka, dua bahan itu sebenarnya tak boleh dipadukan. Mereka seperti air dan minyak. “Seperti Mike Tyson melawan George Foreman,” tandas mereka.

Ditambahkan pula, bahan aluminium juga kurang oke. ’’Buat balapan, aluminium tidak bagus,” komentar mereka. Kami bertanya, berapa sepeda bisa dibuat Pak Masi dalam seminggu. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pesan dari dia?

’’Biasanya pesanan bisa dipenuhi dalam 50 hari. Seminggu bisa bikin sekitar dua frame. Tetapi, bergantung situasi. Kalau lagi banyak pesanan, bisa lebih lama. Bulan Juli lalu, misalnya, ada orang Jepang yang pesan sepuluh frame,” jelas Alberto.

Alberto Masi menegaskan, barang garapannya orisinal. Bukan Masi yang dimassalkan. Dan kalau dipikir, memang tidak mungkin ada banyak barang yang beredar. Dijelaskan, dia tidak mungkin membuat lebih dari 800 frame per tahun.

Jadi, kalau ada yang menawari sepeda merek Masi di Indonesia, tanyakan kepastiannya. Itu berasal dari perusahaan Masi di Amerika atau buatan Masi di Vigorelli. Kalau buatan tangan Alberto Masi, ada tanda tangannya di top tube, di dekat sadel.

Harga buatan Alberto Masi juga tidak gila-gilaan. Di kisaran Rp25 juta-Rp40 juta untuk frame (bisa lebih kalau speknya lebih rumit dan kualitas bahan lebih tinggi).

Nah, itu bikin saya benar-benar tertarik. Buatan tangan Alberto Masi punya nilai masa depan. Alberto pun mengukur badan saya untuk membuatkan frame ukuran custom. Dia mengukur sendiri (dengan dibantu Raptetti) dan mencatat sendiri spek yang kami sepakati dengan tulisan tangan. Tidak ada komputer di bengkelnya di Vigorelli.

Ukuran saya? Kata Alberto, saya panjang di badan, relatif pendek di kaki, tapi dengan tapak kaki yang panjang (ukuran 46). “Kaki kamu semua panjangnya di telapak,” kelakarnya.

Jadi, saran dia adalah ukuran 54 cm dengan panjang top tube 545-550 cm. Plus stem 11,5 cm. Alberto ingin pemesan benar-benar puas. Semua detail dia tanyakan. Lekukan di bagian atas fork (garpu depan), warna yang benar-benar pas, warna tulisan, bentuk tulisan, dan lain sebagainya.

Ketika ada tambahan detail lagi, keesokannya Alberto sendiri yang menghubungi ponsel saya. Lewat Raptetti lagi, dia ingin memastikan sebuah spek yang saya inginkan. Dan memang, meski punya e-mail, Alberto lebih suka komunikasi via old school. Ya lewat telepon.

Sepeda buatan tangan Alberto Masi itu –kalau nanti selesai dan dikirim ke Indonesia– akan jadi kenang-kenangan paling orisinal dari Milan!  (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012

STASIUN KECIL: Suasana Stasiun Lesmo di dekat Sirkuit Monza. Dari tribun utama, orang harus berjalan lebih dari 3 km untuk mencapai stasiun ini. FOTO AGUNG KURNIAWAN/JPNN

Kalau Tak Ada Kereta, Jangan-Jangan Harus Menginap di Toilet

Milan bukan sekadar pusat fashion Italia. Kota itu juga jadi tujuan untuk nonton Formula 1 plus tempat bernaungnya para seniman sepeda legendaris dunia. Berikut catatan Azrul Ananda dari kota tersebut.
Bulan September ini merupakan bulan istimewa untuk mengunjungi Milano alias Milan. Di awal bulan, penggemar balap dapat suguhan super, salah satu lomba Formula 1 paling bergengsi: Grand Prix Italia. Di akhir bulan nanti, ada salah satu ajang fashion paling top, Milan Fashion Week.Tentu saja sambil menonton Formula 1, ada banyak hal lain yang bisa dinikmati di Milan. Penggemar sepak bola pasti ingin melihat San Siro. Penggemar sepeda, seperti saya, punya tujuan lain lagi: mengunjungi nama-nama besar sepeda dunia. Misalnya Masi dan Colnago yang bermarkas di kawasan Milan.Jadi, selama akhir pekan lalu (6-9 September), saya dan rekan Agung Kurniawan menyempatkan diri keliling mengunjungi para seniman sepeda sebelum pergi ke Sirkuit Monza untuk meliput Formula 1. Bisa pagi hari, bisa sore hari. Sambil jalan-jalan untuk melihat Milan yang sebenarnya. Bukan lewat jalur-jalur turis yang ’’normal”. Hal paling penting yang harus dibawa/dipakai untuk melakukannya: sepatu yang supernyaman untuk banyak jalan.

Bagi penggemar balap, apalagi F1, Autodromo Nazionale Monza (Sirkuit Monza) merupakan salah satu venue impian yang ingin dikunjungi. Sudah eksis sejak 1922, sudah menjadi bagian dari F1 sejak seri paling bergengsi itu dimulai pada 1950.

Plus, itu adalah kandang Ferrari, tim paling legendaris yang punya jutaan penggemar di seluruh dunia. Tim berlogo Kuda Jingkrak itu bermarkas tak jauh dari Milan, di Maranello. Jadi, para penggemar juga bisa menyempatkan diri ke sana.

Juga memang meliput  dan menonton  F1 di Monza sangat seru. Para penonton, mayoritas tifosi (pendukung Ferrari), selalu memadati sirkuit berkapasitas tribun sekitar 115 ribu orang itu. Total diperkirakan lebih dari 300 ribu orang mengunjungi Monza selama akhir pekan F1.

Kamis saja, saat persiapan dan belum ada mobil turun ke lintasan, lebih dari 10 ribu orang sudah berkumpul di Monza. Padahal, bukan hal mudah untuk mencapai sirkuit tersebut. Letaknya agak jauh di utara Milan (sekitar 30 km) dan tidak ada jalur transportasi yang ideal. Semua tetap akan melibatkan banyak jalan kaki. Tinggal memilih, mau jalan 1 kilometer, 3 kilometer, atau lebih.

Bagi penggemar yang datang dari luar negeri, idealnya memang menginap di sekitar Monza. Atau di kota-kota kecil yang mengitarinya. Tapi, tempat menginap paling enak memang di Milan. Kalau tidak ke sirkuit, bisa jalan-jalan di kota yang keren tersebut.

Dari Milan itu, pilihan transportasinya harus jitu untuk bisa ke Monza. Kalau tidak, bisa kena jebakan Batman, jalan kaki superjauh. Jujur, karena saya dan Agung punya akreditasi media untuk meliput, jalur kami tidak seberat penonton biasa. Ada fasilitas mobil shuttle dan kawasan parkir khusus, bisa langsung masuk dekat paddock tempat tim dan media bekerja. Tapi, di tulisan ini saya ingin menyampaikan trik-trik kalau jadi penonton/penggemar.

So, mau ke Monza dari Milan?Berikut alternatif-alternatifnya: Naik taksi? Tentu saja oke. Bersiaplah membayar lebih dari 100 euro (lebih dari Rp 1,2 juta) untuk sekali jalan. Itu pun belum tentu bisa masuk ke kawasan sirkuit. Turun agak jauh, tetap jalan kaki lebih dari 2 kilometer untuk mencapai pintu sirkuit. Belum ke tribun atau jalan-jalan di dalamnya.

Sewa mobil, ini juga opsi. Namun, tetap saja kawasan parkirnya jauh. Kata seorang penonton yang temannya sewa mobil, makin hari area parkirnya juga makin jauh. Sebab, Sabtu lebih ramai daripada Jumat dan Minggu lebih ramai daripada Sabtu. Jadi, itu bukan opsi menarik kalau jadi penonton  ’’biasa’’.

Karena itu, ada beberapa alternatif lebih baik yang bisa dijalani, melibatkan kereta. Tetapi, kalau tidak tahu triknya, bisa jalan kaki jauh sekali. Ada teman-teman F1 Mania dari Indonesia yang merasakan jauhnya itu serta sempat membuat saya dan Agung ikut merasakannya.

***

Memang, kalau ikut panduan resmi, ada kereta yang nyambung langsung dari Milan ke Monza. Dengan sistem subway yang komplet dan cepat, dari mana saja kita tinggal menuju Stasiun Garibaldi di kawasan pusat kota. Di sana naik kereta  yang hampir setiap jam tersedia menuju Monza.

Tiketnya murah, hanya 1,5 euro untuk subway sekali jalan plus sekitar 2 euro untuk kereta menuju Monza. Tapi, hati-hati. Sebab, ada dua stasiun yang bisa dituju di kawasan Monza. Yang satu Stasiun Monza, dan itu letaknya bukan di sirkuit, melainkan di kotanya. Silakan turun di situ dan Anda tetap harus naik bus lagi atau jalan kaki 12 kilometer!

“Kami (Kamis, 6/9) naik kereta ke sana. Ternyata bus ke sirkuit belum ada. Jadi deh jalan kaki 12 kilometer ke sirkuit,” ucap Ihsan Raharjo, mahasiswa Indonesia di Jerman yang mengisi liburan dengan nonton F1 di Italia bersama temannya, Jefri Christian.

Stasiun kereta yang paling dekat dengan sirkuit adalah Stasiun Lesmo. Namanya sama dengan salah satu tikungan Sirkuit Monza dan memang letaknya berdekatan.

Rombongan lain dari Indonesia sempat diinstruksikan untuk turun di sana. Sebab, tiket nonton juga diminta diambil di sana. Katanya hanya 200 meter dari pintu sirkuit.

Benar memang, stasiun itu hanya 200 meter dari pintu sirkuit. Tapi, pintu yang jauuuuuuuuuuh dari tribun utama dan paddock. Dari ujung ke ujung. Total harus jalan kaki sekitar 3 kilometer dari pintu Lesmo menuju kawasan paddock. Bukan lewat jalan aspal atau jalan resmi, melainkan jalan setapak yang rasanya seperti menembus hutan.

Sirkuit Monza memang berada di dalam kompleks Parco di Monza, taman/hutan terbesar di belahan utara Italia. Luasnya mencapai 150 hektare. Saya dan Agung mencoba naik kereta di Stasiun Lesmo itu saat pulang dari lintasan, Jumat sore setelah babak latihan (7/9). Untung masih sore. Kalau kemalaman, bisa gelap gulita. Dan untung tepat waktu. Sebab, kereta terakhir lewat pukul 20.09.

Petang itu, sekitar pukul 19.00, saat matahari mulai terbenam, saya dan Agung di Stasiun Lesmo bersama dua orang penggemar dari Bulgaria, hanya berempat.

Kami sama-sama bengong khawatir. Sebab, pintu bangunan stasiun dikunci dan tidak ada orang sama sekali. Di dalam gedung hanya ada screen yang menyala, menyebut masih ada kereta terakhir pukul 20.09. Kami berempat benar-benar ragu. Sebab, dari ribuan orang penonton di Monza, mengapa hanya kami berempat di situ?

’’Ini kali pertama kami nonton F1, kali pertama kami ke Monza,’’ aku Adrian Tsvetkov, pemuda dari Bulgaria itu. “Kami diberi tahu bahwa ini jalan yang lebih baik untuk kembali ke Milan,” lanjutnya.

Kami pun bercanda, seandainya tidak ada kereta, kami akan berjalan ke kawasan parkir para camper. Tempat orang-orang yang naik karavan parkir dan menginap selama akhir pekan. ’’Kita ketuk saja pintu mereka, minta menumpang tidur,’’ canda Adrian.

Kalau tidak boleh? Rekannya, Dobrin Dimitrov, punya ide lebih lucu. Dia menunjuk bilik-bilik toilet di depan stasiun. ’’Di situ saja, satu orang satu,” ucapnya, lantas tertawa.

Untunglah, benar-benar ada kereta di stasiun itu. Dan kami tidak berempat. Teman-teman F1 Mania Indonesia tiba di situ sekitar lima menit sebelum kereta berangkat (kalau tidak, gawat itu!). Penonton-penonton lain juga datang tepat waktu. Amanlah kami balik ke Milan, tidak perlu menginap di toilet.

Setelah beberapa hari, kami sekarang tahu jalur paling enak dari Milan ke Monza. Manfaatkan sistem subway yang lengkap dan cepat itu. Cukup 1,5 euro, terus naik subway jalur merah sampai pemberhentian terakhir di utara Milan. Total perjalanan dari Duomo (tempat turis dan belanja di pusat kota) hanya sekitar 15 menit.

Dari Sesto 1 Maggio, nama stasiun terakhir itu, ada dua opsi yang bisa diambil. Pertama, naik bus. Hanya bayar lagi 2 euro, ada bus nomor 221 yang turun di jalanan sekitar sirkuit. Tapi, cukup lama karena berhenti-berhenti, total bisa 45 menitan. Dan kalau bus penuh, bisa berdiri sepanjang jalan.

Alternatif lain, dari stasiun itu, naik taksi. Asal tahu saja, sepanjang akhir pekan grand prix, ada banyak jalan menuju sirkuit yang ditutup. Hanya taksi dan kendaraan dengan tanda khusus yang boleh masuk. Jadi, itu alasan lain naik mobil sendiri bukanlah alternatif.

Naik taksi dari situ relatif lebih fair harganya. Sekitar 30 sampai 40 euro, bergantung jalur dan kemacetan. Kalau berempat, bisa bagi ongkos maksimal.

Kalau naik taksi, minta turun di Via 4 Novembre 1918. Jalan itu lurus menuju pintu utama sirkuit. Dan jalan itu menarik karena ada pasarnya. Bayangkan, ada dua stan berseberangan. Satu berjualan buah, satu lagi berjualan merchandise Ferrari. Di sebelahnya, jualan ikan dan hasil laut!

Kalau naik taksi itu, pulangnya memang ribet. Apalagi pas rush hour, semua penonton mau pulang berbarengan. Kalau pulang, enaknya ya naik bus 221 itu lagi untuk kembali ke stasiun subway. Agak lama, tapi toh sudah tidak tergesa-gesa ke lintasan.

Walau banyak jalan kaki, bagi penggemar F1 Monza tetap berasa “ajaib”. Bagaimanapun, “budaya” F1 begitu kuat sehingga atmosfernya begitu hidup. Tidak seperti ke sirkuit-sirkuit “modern” di negara-negara yang tidak punya sejarah F1 (seperti kebanyakan di Asia atau Timur Tengah).

“Asyik lah sirkuitnya. Asyik banget suasananya,” kata Robianto Haripurnomo, 45, yang sering mengelola tur nonton bersama istrinya, Yenny “Ekies” Erika, lewat Lily Tour.

Bagi Sugeng Haryadi, 45, dan istrinya, Eka Dewi Vegajanti, 44, jalan jauh nonton F1 sudah jadi makanan selama belasan tahun. Pasangan Ferrari Mania dari Surabaya itu sejak 2000 rajin nonton F1 ke mana-mana. Mulai Malaysia, Tiongkok, Australia, hingga beberapa negara lain.

Karena penggemar berat Ferrari, mereka sekarang seperti ada di alam yang benar. Sabtu lalu (8/9) mereka sempat ikut tur ke Maranello, markas Ferrari. “(Jalan jauh) ini sudah biasa. Saya dulu hamil tujuh bulan juga tetap niat jalan kaki terus nonton F1 di Sepang (Malaysia, Red),” tutur Eka Dewi Vegajanti.

Saking gilanya pasangan itu terhadap Ferrari, putri terakhir mereka diberi nama Fiorano. Sama dengan nama sirkuit uji coba yang dimiliki pasukan Kuda Jingkrak!

Bagi saya pribadi, yang paling ingin saya lihat di Monza adalah bagian dari sirkuit lamanya. Khususnya bagian banking (lintasan miring) yang dulu merupakan bagian penting lintasan oval Monza. Ya, sirkuit itu dulu punya bagian oval.

Karena terlalu cepat dan berbahaya, bagian oval tersebut sudah puluhan tahun tidak dipakai. Tapi, dulu itu merupakan bagian dari magic Monza, banyak korbannya. Sampai sekarang, logo sirkuit masih menampilkan bentuk Monza sekarang plus lintasan oval tersebut.

Salah satu film balap favorit saya berjudul Grand Prix keluaran 1970. Film yang memenangi Piala Oscar itu bercerita tentang F1 zaman bahaya dulu. Dan salah satu tokoh utamanya tewas di oval Monza.

Kalau melihat di televisi, agak sulit mencari di mana bagian oval itu. Beberapa disembunyikan sebagai bando reklame. Di sirkuit, juga harus jalan “masuk ke hutan” untuk menemukannya. Sekarang lintasan oval itu sudah tidak dirawat, rerumputan tumbuh di sela-sela aspalnya.

Senang rasanya bisa melihat banking itu. Ketika mencoba mendakinya, alamak, ternyata miring sekali. Harus merangkak untuk mencapai ujung atasnya. Alangkah mengerikannya balapan di sana! (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Jelang Grand Prix Belgia di Sirkuit Spa-Francorchamps (2-Habis)

Saling Kejar 6-7-8, Adu Gengsi 5-4
25 Agustus 2011 – 08.50 WIB
Laporan AZRUL ANANDA, SurabayaHanya delapan lomba tersisa di musim Formula 1 2011. Tim-tim harus memutuskan, apakah fokus ke perbaikan klasemen atau langsung menatap tahun depan. Khususnya peringkat empat sampai delapanSilakan perhatikan klasemen konstruktor Formula 1. Setelah berlangsungnya 11 dari 19 lomba. Persaingan papan atas sudah hampir berakhir.

Red Bull-Renault sudah sangat sulit ditaklukkan, karena sudah unggul 103 poin di atas pesaing terdekat, McLaren-Mercedes.

Memang, setiap lomba menyediakan poin 43 maksimal untuk setiap tim, andai dia finis 1-2 (25 + 18).

Jadi, secara matematis McLaren masih sangat bisa mengejar. Namun, jaraknya sudah begitu jauh, sehingga persaingan ini mungkin baru layak disorot bila jarak sudah mendekat di akhir musim.

Di urutan tiga, Ferrari sepertinya sudah “menggantung.” Naik ke atas nyaris mustahil. Melorot ke belakang juga sepertinya mustahil. Tak heran, menjelang Grand Prix Belgia akhir pekan ini, Ferrari bilang kalau mereka sudah fokus ke desain mobil 2012.

Nah, di belakang tiga besar, persaingan lebih interesting. Mercedes GP ada di urutan empat, tapi hanya unggul 14 poin dari Lotus Renault GP (80-66). Kedua tim ini tampaknya bakal habis-habisan berebut posisi sampai akhir musim.

Bagi Mercedes GP, finis di urutan empat seperti sebuah kewajiban. Dengan barisan pembalap Michael Schumacher dan Nico Rosberg, tentu akan malu kalau sampai kalah dari Renault. Bagi Renault, posisi keempat benar-benar harus diburu. Di Belgia akhir pekan ini, mereka akan menurunkan upgrade mobil terakhir untuk musim 2011. Mereka yakin, komponen-komponen baru itu akan memberi hasil positif.

“Upgrade yang kami turunkan adalah paket komplet. Ada dasar mobil baru, knalpot baru, dan perubahan pada suspensi belakang. Bakal cukup komprehensif, dan saya berharap perbaikan ini akan memberikan hasil positif,” kata Eric Boullier, bos Lotus Renault GP.

“Kami punya ekspektasi kedua mobil kami finis di urutan sepuluh besar. Kami butuh mengejar Mercedes GP. Di Spa, kita akan melihat apakah upgrade kami cukup untuk melakukan itu. Semoga saja begitu,” tambahnya.

Bukan sekadar upgrade mobil, untuk memburu peringkat empat, Renault harus membuat keputusan besar. Di atas kertas, mereka seharusnya butuh pembalap berpengalaman seperti Nick Heidfeld untuk memastikan posisi baik di akhir musim. Mengandalkan Vitaly Petrov, sepertinya kurang.

Namun, menjelang GP Belgia, muncul gosip Renault akan menggeser Heidfeld, menggantinya dengan pembalap muda Bruno Senna. Alasannya, performa Heidfeld kurang memenuhi harapan. Kalau menurunkan Senna, mereka bisa sekalian melakukan evaluasi untuk jangka panjang. Risikonya, kalau menurunkan Senna yang minim pengalaman, peringkat empat bisa hilang di akhir musim.

Hingga kemarin, Boullier dan barisan Renault belum mau bicara soal ini. Keputusan mereka akan menjadi bumbu khusus GP Belgia.

Di belakang duel Mercedes dan Renault, persaingan lebih sengit terjadi dari urutan enam sampai delapan. Hanya 13 poin memisahkan Sauber-Ferrari (35 poin), Force India-Mercedes (26), dan Toro Rosso-Ferrari (22).

Overall, Sauber tampak paling konsisten. Hanya saja, belakangan Force India paling menggila. Dalam dua lomba terakhir, pasangan Adrian Sutil dan Paul di Resta mampu meraup total 14 poin. Lebih dari separo total poin yang mereka dapatkan tahun ini!

Dan beberapa tahun terakhir, Force India selalu garang di akhir musim. Khususnya di sirkuit-sirkuit cepat, seperti Spa dan Monza (Italia).

Pada 2009, Giancarlo Fisichella meraih pole untuk Force India di Spa, lalu finis kedua. Sampai hari ini, itulah lomba terakhir tim milik Vijay Mallya tersebut.

Tahun ini, Mallya merasa timnya masih bisa meraih hasil memuaskan di Spa. Mungkin bukan podium, tapi kedua pembalapnya bisa memborong banyak poin.

“Tahun ini, kami datang ke Belgia dengan mobil yang jauh lebih komplet. Dulu, mobil kami garang di trek lurus. Sekarang kuat di semua area,” sesumbarnya.

Kalau Toro Rosso, soal mobil mungkin tak banyak berubah. Hanya saja, mereka punya dua pembalap yang akan berjuang habis-habisan. Kalau tidak perform baik, Jaime Alguersuari dan Sebastien Buemi terancam terdepak dari F1 di penghujung 2011. Dan mungkin, tidak ada dorongan lebih barik daripada ancaman dipecat!

Bagi penggemar awam, persaingan peringkat tengah ke bawah mungkin tak terlalu menarik. Namun, ada perbedaan nilai hadiah uang cukup signifikan antara peringkat enam dan delapan (berdasarkan persentase pemasukan F1).

Jadi, di sisa musim ini, perhatikan peringkat-peringkat minor itu. Satu perubahan posisi di satu lomba yang tersisa bisa menjadi penentu peringkat yang luar biasa!***

Jelang Grand Prix Belgia di Sirkuit Spa-Francorchamps (1)

Menunggu Miracle Michael Schumacher
24 Agustus 2011 – 08.40 WIB
Laporan AZRUL ANANDA, SurabayaMichael “Schumi” Schumacher mengawali karir di Formula 1 di Sirkuit Spa, pada 1991. Dia meraih victory perdana di tempat yang sama, pada 1992. Akhir pekan ini, 20 tahun kemudian, masih adakah “Schumi Miracle”Spa-Francorchamps (baca: Frankorsha), 25 Agustus 1991. Sebagai pembalap binaan Mercedes-Benz, Michael “Schumi” Schumacher dapat hadiah besar.

Ada lowongan membalap untuk Jordan-Ford, setelah pembalap utama tim itu, Bertrand Gachot, kena masalah hukum.

Kabarnya, Mercedes membayar Jordan, dan debut bersejarah pun dimulai. Secara mengejutkan, Schumi mampu meraih posisi start ketujuh, lebih baik dari rekannya yang sangat berpengalaman, Andrea de Cesaris.

Sayang, kopling mobilnya jebol saat start, sehingga Schumi tak pernah menyelesaikan putaran pertama lomba. Tapi itu tidak masalah, di lomba berikutnya, dia sudah dicaplok Benetton-Ford. Dan bersama tim itu, pada 1992 Schumi meraih kemenangan pertamanya. Juga di Spa-Francorchamps.

Ingat, di saat semua kejadian bersejarah itu terjadi, Sebastian Vettel (lahir 1987) yang kini memimpin klasemen masih balita! Umur empat tahun saat Schumi menjalani debut, umur lima tahun saat Schumi meraih kemenangan perdana!

Akhir pekan ini, Schumi merayakan 20 tahun debutnya di F1. Bersama Mercedes GP, bersama pabrikan yang dulu ?membiayai? debutnya bersama Jordan.

Katanya, Schumi bakal bikin pesta besar. “Ini bakal jadi momen spesial. Saya akan mengundang seluruh isi paddock untuk berpesta Sabtu malam nanti,” ucap pembalap Jerman berusia 42 tahun itu, seperti dikutip koran Cologne, Jerman, Express.

Ya, Schumi bakal mengajak berpesta. Tapi, pertanyaan yang lebih besar: Apakah dia bisa mengajak jutaan penggemarnya di seluruh dunia berpesta juga di hari Ahad, ketika Grand Prix Belgia berakhir?

Masih adakah “Schumi Miracle” (keajaiban Schumi) di Spa-Francorchamps? Sebab kalau masih ada, mungkin itu bisa menghapus segala kekecewaan sejak dia mulai comeback bersama Mercedes GP, musim 2010 lalu. Hingga sekarang, 30 lomba sudah dia jalani bersama Mercedes GP, tanpa sekalipun naik podium.

Sampai bikin orang hampir lupa, kalau dia itu juara dunia tujuh kali dan pernah juara lomba sebanyak 91 kali! Schumi mengaku akan berusaha memberikan hasil maksimal. “Bagi saya, Spa masih seperti ?ruang keluarga.? Inilah panggung tempat terjadinya banyak hal luar biasa dalam karir saya,” ucapnya lewat rilis resmi Mercedes GP.

“Mengenai persaingan di Spa, kami baru saja kembali dari libur musim panas dengan motivasi dan energi baru. Kami akan mencoba mengakhiri GP Belgia dengan tanda seru!” tambahnya.

Bicara soal peluang, Spa mungkin bakal memberi peluang terbaik bagi Mercedes GP untuk meraih hasil terbaik musim ini. Mobil mereka, W02, sejauh ini lebih happy melaju di trek yang cepat dan panjang. Belum lagi seringnya gangguan cuaca di Spa, yang membuat balapan menjadi semacam lotere.

“Layout sirkuit seharusnya lebih cocok untuk paket mobil kami, bila dibandingkan dengan dua lomba sebelum ini (Jerman dan Hungaria, Red),” kata Norbert Haug, bos Mercedes-Benz Motorsport.

Haug menegaskan, Schumi masih sangat mampu meraih hasil terbaik. Bukan hanya di Spa akhir pekan ini, tapi juga sampai tahun depan, tahun terakhir kontranya bersama Mercedes GP. “Dia (Schumi, Red) sangat ambisius, tapi tidak berlebihan. Apinya masih membara. Lihat saja matanya, Anda semua akan bisa melihatnya,? ujar Haug.(bersambung)

Ferrari Mulai Keringatan

Mengamati Peta Kekuatan di Uji Coba Perdana Formula 1 di Jerez

JUM’AT, 10 FEBRUARI 2012 , 18:08:00

Masa uji coba Formula 1 sudah dimulai. Di tengah kebisingan Jerez, banyak yang bingung melihat Ferrari, yang tak kunjung mencatat waktu memuaskan. Pertanda buruk?

Ulasan AZRUL ANANDA

Hasil uji coba tidak selalu akurat. Apalagi uji coba perdana seperti yang tengah berlangsung di Jerez, Spanyol, pekan ini. Lihat saja tahun lalu. Rubens Barrichello sempat menjadi yang tercepat bersama Williams-Cosworth. Tapi di akhir musim, tim itu justru terpuruk di urutan sembilan, terburuk dalam sejarah.

Tahun lalu pula, McLaren-Mercedes mengawali uji coba dengan penuh kekhawatiran. Mobil mereka lamban sekaligus gampang rusak. Untung, berkat kerja keras, tim itu mampu membalik situasi dan menjadi penantang utama di tahun dominasi Red Bull-Renault.

Meski demikian, masa uji coba juga bisa menjadi alat ukur yang akurat. Ingat 2009? Waktu itu, Jenson Button dan Barrichello langsung bikin orang kagum naik mobil Brawn-Mercedes. Hasilnya? Tim itu jadi juara dunia!

Nah, di uji coba perdana 2012 di Jerez, perhatian utama sekarang tertuju pada Ferrari. Barisan Kuda Jingkrak sudah membuat banyak penggemar kecewa lewat desain mobil F2012. Tidak sedikit yang bilang, itu salah satu mobil dengan tampilan terburuk 2012 (bersama Sauber).

Buruk rupa mungkin tidak apa-apa kalau dibarengi dengan kecepatan yang luar biasa. Masalahnya, setelah tiga hari uji coba (7-9 Februari), F2012 tak kunjung mengundang decak kagum.

Di hari pertama Selasa lalu (7/2), Felipe Massa mengelilingi sirkuit 69 kali, tapi hanya mampu mencatat waktu terbaik kesembilan (dari total 12 pembalap yang turun). Catatan waktunya tiga detik lebih lambat dari yang terbaik hari itu, Kimi Raikkonen (Lotus-Renault).

Di hari pertama itu, Ferrari masih bisa mengelak saat ditanya kenapa lamban. Nicolas Tombazis, bos teknis tim, menyebut pihaknya puas dengan kiprah hari pertama F2012.

?Kami masih butuh banyak bekerja. Tapi di hari pertama ini, kami pikir kami berada di titik yang lebih baik dari ekspektasi,? ucapnya seperti dilansir Autosport.

Di hari kedua, Ferrari semakin sulit mengelak. Massa mampu keliling lebih banyak, hingga 95 putaran. Catatan waktunya masih belum memuaskan, hanya di urutan tujuh.

Di hari kedua itu, Massa mulai mengungkapkan tanda-tanda kekhawatiran di kubu Ferrari. Menegaskan ucapan Tombazis sehari sebelumnya, dia bilang Ferrari masih butuh banyak bekerja.

?Ini mobil yang benar-benar baru, dan bukan mobil (hasil pengembangan) dari tahun lalu. Ini mobil yang menuntut kami untuk lebih banyak bekerja dan mencoba banyak hal,? ungkapnya kepada barisan peliput di Jerez.

Lebih lanjut, Massa menyebut Ferrari masih harus mengumpulkan banyak data dan menjajal banyak hal pada hari-hari berikutnya. Bahkan pada uji coba selanjutnya!

Kamis kemarin (9/2), giliran sang juara dunia dua kali, Fernando Alonso, menjajal F2012. Sebagai tim yang butuh banyak bekerja, Ferrari menghadapi kendala yang berbeda.

Baru keliling 14 kali, Alonso langsung masuk garasi dan mobilnya harus dibenahi. Menurut pesan twitter Ferrari, F2012 mengalami masalah hiraulik yang harus dibereskan. Waktu itu Alonso masih berada di urutan delapan catatan waktu.

Dua jam kemudian, Alonso kembali keluar, memuaskan para penggemar Spanyol yang menonton. Tapi ternyata, dia hanya keliling satu kali. Setelah itu kembali masuk garasi. Ferrari memeriksa girboks.

Tidak lama, Alonso memang keluar lagi, dan mampu mencatat waktu terbaiknya. Sayang, catatan itu masih terpuruk di urutan tujuh. Dan mobilnya disebut belepotan di beberapa tikungan.

Di akhir uji coba kemarin (pukul 23.00 WIB), Alonso akhirnya berada di urutan XX. Masih belum cukup untuk memukau.

Hari ini (10/2) adalah hari terakhir uji coba Jerez. Siapa tahu Ferrari mampu menemukan kunci kecepatan, menghapus kekhawatiran jutaan penggemarnya di seluruh penjuru dunia. Kalau tidak, seluruh barisan Ferrari, dan seluruh penggemarnya, akan semakin keringatan? (*)

Jelang Grand Prix Jepang, Pesaing Red Bull Sudah Bicara 2012

Ferrari-McLaren Ingin Kembali Menakutkan
6 Oktober 2011 – 07.29 WIB 
Ulasan AZRUL ANANDA

Sirkus Formula 1 sudah berada di Suzuka untuk Grand Prix Jepang akhir pekan ini. Namun “hati” mereka mungkin sudah tak sabar untuk 2012. Khususnya pesaing utama Red Bull-Renault.

Grand Prix Jepang akhir pekan ini bisa menjadi “penutup tak resmi” musim Formula 1 2012. Cukup finis di urutan sepuluh, Sebastian Vettel sudah mengunci gelar juara dunia. 

Andai bintang Red Bull-Renault itu gagal finis pun, praktis yang terjadi hanyalah penundaan pesta perayaan.

Realitanya begini: Jenson Button (McLaren-Mercedes) adalah satu-satunya pesaing yang punya peluang matematis mencuri gelar dari genggaman Vettel. Tapi untuk melakukan itu, Button harus menang di lima lomba yang tersisa, dan Vettel harus gagal finis di semua lomba yang tersisa!

Jadi, pada dasarnya Red Bull sudah bisa menyiapkan perlengkapan pesta di Jepang. Kalau Vettel belum mengunci gelar, perlengkapan pesta itu masih bisa dibawa ke lomba-lomba selanjutnya.

Tak heran, bagi para pesaing, prospek 2012 mungkin lebih menarik untuk dibicarakan. Ferrari dan McLaren (plus Mercedes GP) sekarang sudah lebih banyak bicara tahun depan, dan cara-cara yang mereka lakukan supaya Red Bull tidak lagi “menang start” dan mempertahankan gelar.

Ferrari dan McLaren, dua pesaing utama Red Bull, punya pendekatan berbeda untuk 2012. Ferrari mengutamakan desain dan persiapan mobil, sementara McLaren lebih memperkuat kemampuan operasional tim saat berlomba.

Ini wajar. Karena tahun ini Ferrari “hanya” menurunkan mobil hasil evolusi dari 2010. Hasilnya, mobil mereka lebih lamban dari Red Bull dan McLaren. Sedangkan McLaren tahun ini sudah menurunkan mobil yang radikal, tapi masih sering terganjal oleh masalah-masalah operasional saat berlomba.

Bagi penggemar Ferrari, mobil Kuda Jingkrak 2012 sekarang sangat layak dinanti-nantikan. Tim yang dipimpin Stefano Domenicali itu sudah merestrukturisasi tim desain, mendepak Aldo Costa dan mempromosikan Nikolas Tombazis. Saat ini, mereka sudah dalam tahap finalisasi komponen-komponen besar mobil 2012. Dan Tombazis bilang, mobil itu sangatlah “agresif.” Siap mengejutkan banyak orang dalam hal tampilan.

Stefano Domenicali disebut sangat terkesan ketika melihat model mobil baru itu di markas tim, di Maranello, Italia.

“Secara visual, saya pikir mobil ini cukup beda dengan (2011). Menurut pimpinan kami, Stefano Domenicali, mobil itu punya wow factor. Semoga wow factor itu juga bisa terwujud di hasilnya nanti,” tutur Tombazis.

Seperti sudah disebut, jalur agresif ini sudah dilakukan oleh McLaren pada mobil MP4-26 yang digeber Lewis Hamilton dan Jenson Button musim ini. Dan mobil itu tergolong sukses, satu-satunya yang konsisten bisa menantang Red Bull.

Berkali-kali pula mobil itu menunjukkan performa istimewa, lebih cepat dari Red Bull RB7. Sayang, di saat mobil cepat, McLaren juga tersandung masalah-masalah operasional. Misalnya salah strategi atau yang kecil-kecil lain. Belum lagi kesalahan yang dibuat para pembalap, khususnya Hamilton yang berkali-kali tabrakan.

“Kami membuat terlalu banyak kesalahan tahun ini, tak pernah benar-benar pas ketika akhir pekan lomba. Ini yang harus kami perhatikan. Dan kami sangat memperhatikannya,” ujar Button.

Beberapa pekan lalu, rekrutmen penting dilakukan McLaren untuk mengatasi masalah ini. Mereka mencomot Sam Michael, yang hingga GP Singapura lalu masih berstatus sebagai direktur teknik di Williams. Di McLaren, Michael akan bekerja sebagai sporting director, memimpin tim saat berlomba.

“Kami senang sekali dia (Michael, red) datang ke sini. Dia datang sebagai sporting director, jadi itu adalah perubahan karir baginya. Dia pernah berada di sisi teknis. Jadi race engineer untuk (tim) Jordan, direktur teknik di Williams, tapi kami merasa kekuatan dia ada pada kemampuan operasional dalam memimpin tim balap. Jadi, tugas dia sederhana, jadi sporting director dan memastikan McLaren adalah tim terbaik dan paling ditakuti di dunia!” papar Martin Whitmarsh, bos McLaren.

Secara keseluruhan, para penggemar persaingan seru tentu berharap mobil radikal Ferrari nanti benar-benar istimewa sejak awal. Juga McLaren bisa lebih mantap, tidak lagi membuat kesalahan-kesalahan konyol. Karena hanya dengan itu kompetisi bisa seru. Tidak lagi dominasi seperti tahun ini.

Dan kalau bisa, tim lain seperti Mercedes GP juga segera improve. Tim itu belakangan “menumpuk” jagoan-jagoan teknis agar tahun depan Michael Schumacher dan Nico Rosberg bisa meraih kemenangan.

Aldo Costa, mantan desainer Ferrari, dan Geoff Willis, mantan bos teknis di sejumlah tim papan atas, akan bergabung di bawah komando Ross Brawn di Mercedes GP. Semoga saja hasilnya adalah musim 2012 yang istimewa.***