Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (2)

Azrul Ananda Dorong Math Frank

Azrul Ananda Dorong Math Frank

19 August 2013

Oksigen Tipis, Jalan Naik Sedikit Langsung Ngos-ngosan

Wow, Aspen indah luar biasa. Sayang, badan kita butuh sedikit waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian dan udara tipis. Apalagi, kalau untuk beraktivitas cukup berat, seperti bersepeda ratusan kilometer dalam beberapa hari ke depan.

AZRUL ANANDA, Aspen

Tak sabar. Semangat. Merasa sulit memercayai mata. Mungkin begitu perasaan kami ketika akan mendarat di Aspen-Pitkin County Airport, di Rocky Mountains, Colorado, Jumat sore lalu (16/8, Sabtu WIB).
Terbang dari San Francisco, California, kami harus lebih dulu ke Denver, kota utama di Colorado. Baru kemudian naik pesawat lebih kecil, Bombardier (seperti yang dipakai Garuda Indonesia untuk rute pendek), menuju Aspen.
Sebelum mendarat, sudah terlihat betapa menakjubkannya Aspen. Tak heran kota yang berpenduduk hanya 6.000-an orang itu begitu kondang, menjadi tempat istirahat orang-orang superkaya, menjadi tujuan liburan yang luar biasa.
Dari hasil baca-baca, saking populernya, harga rumah rata-rata di Aspen ini mencapai lebih dari USD 4 juta (lebih dari Rp 40 miliar) per buah! Disebut sebagai salah satu tempat termahal, mungkin termahal, di dataran Amerika.
Hampir tidak ada lahan datar di sekeliling Aspen. Bukit naik-turun ke arah mana pun mata memandang. Dan begitu hijaunya, mengingat kita datang di tengah musim panas.
Aspen-Pitkin County Airport sendiri merupakan bandara kecil, namun sangat sibuk. Sehari bisa terjadi 103 pesawat beroperasi di sana. Kebanyakan adalah pesawat pribadi atau carteran khusus. Hanya 26 persen yang pesawat komersial.
Katanya, kami agak beruntung sore itu. Sebab, pada pagi hari cuaca kurang baik sehingga penerbangan dialihkan kota lain, kemudian penumpangnya harus naik bus beberapa jam menuju Aspen.
Begitu mendarat dan turun pesawat, pemandangan indah sudah mengelilingi kawasan runway. Tapi, di situ juga kami langsung menghadapi realita, bahwa untuk menikmati keindahannya kita harus bersabar.
Aspen terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Udara dan oksigen begitu tipis. Udara juga sangat kering, benar-benar kebalikan dengan Indonesia yang begitu lembab (humid).
Badan saya sempat mengeluarkan keringat dingin, kepala terasa ringan. Seharusnya, itu memang normal ketika beradaptasi dengan altitude (ketinggian).
Ketika masuk ke toilet bandara, ada fitur unik pula di dalamnya. Tersedia lotion (pelembab) untuk yang membutuhkan. Saking keringnya udara di Aspen! Baru kali ini saya ke toilet bandara yang menyediakan pelembab.
Di dalam bandara, kami dijemput oleh Tim Coghlan, wakil dari Rapha “partner seragam Team Sky– yang akan menemani kami selama di Colorado. Dia segera mengingatkan kami untuk banyak minum air, mengatasi keringnya udara dan mempercepat proses adaptasi dengan ketinggian.
Coghlan, yang tinggal di Portland, Oregon (kantor Rapha di Amerika), sendiri mengaku sempat struggling (kerepotan) ketika kali pertama tiba di Aspen, beberapa hari sebelumnya.
Naik sebuah Mercedes Sprinter van yang dibranding Rapha (dikendarai dari Oregon), kami diantar menuju Hotel Wildwood di Snowmass, tempat penginapan kami pada hari pertama itu. Rapha sebenarnya sudah menyiapkan sebuah rumah besar untuk 11 peserta program gowes bareng Team Sky ini. Tapi baru akan ditempati mulai Sabtu, 17 Agustus.
Meski demikian, kami tidak komplain. Hotel tempat kami menginap adalah tempat di mana hampir seluruh tim peserta USA Pro Challenge menginap. Dan salah satu kawasan parkirnya sudah disulap menjadi kawasan kerja tim. Jadi, kalau beruntung, kami bisa bertemu dengan para pembalap!

Satu Hotel dengan Tim Peserta
Begitu sampai, kami bertemu lagi dengan orang-orang Rapha yang akan terus menenami. Ada Brad Sauber, yang menjadi manager tur. Ada Ben Lieberson, pria asal Inggris yang akan menjadi pemandu saat bersepeda.
Lieberson ini cukup populer bagi penggemar Rapha. Dia merupakan salah satu tokoh penting di program Rapha Continental, program bersepeda di tempat-tempat unik dan langka di seluruh dunia. Video-videonya sangat populer di You Tube.
Berusia 40 tahun, Lieberson ini terus keliling dunia bersepeda. Sebelum ke Aspen, dia baru datang dari Eropa. Dan dia pun mengaku butuh waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian Colorado.
“Saya tiba cukup dehidrasi. Jadi butuh sampai 36 jam untuk benar-benar terbiasa dengan ketinggian di sini,” ungkapnya.
Usai makan siang di salah satu restoran di kawasan hotel (ada kawasan makan dan belanja di depan hotel), kami langsung menuju kawasan parkir tempat tim-tim bekerja.
Jalan dari bagian utama hotel ke sana menanjak sangat curam (sepertinya lebih dari 12 persen), dan kami langsung merasakan tantangan yang akan kami hadapi dalam seminggu ke depan. Rasanya mungkin seperti langsung ditempeleng”
Jalan naik ke atas, kami langsung ngos-ngosan. Terasa kalau udara sangatlah tipis.
Termasuk Sun Hin Tjendra, yang mungkin paling fit dan paling kuat di komunitas balap sepeda yang saya kenal (mungkin eksekutif paling fit se-Indonesia).
Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan, merupakan salah satu jagoan climbing. Menu latihan sehari-harinya naik turun dari Pasuruan ke Puspo atau Tosari Bromo. Dia pun ngos-ngosan. “Mati sudah. Mati sudah. Seminggu ke depan bakal mati kita,” katanya lantas tertawa.
Sekali lagi, saya bersyukur kami memutuskan untuk datang sehari lebih cepat”
Rasa semangat kembali muncul melihat kawasan kerja para tim. Tentu saja, yang pertama kami hampiri adalah trailer dan truk milik Team Sky. Karena ini di Amerika, bukan di markas tim di Eropa, maka tim-tim WorldTour kebanyakan menyewa trailer dan truk, serta mobil-mobil operasional lain. Lalu menempelinya dengan stiker identitas tim.
Tampak seorang mekanik sibuk menservis sejumlah sepeda Pinarello milik Team Sky. Yang membuat mata kami langsung terbuka lebar: Sebuah Pinarello Dogma 65.1 Think 2 hitam milik Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013!
Dan itu bukan sepeda latihannya. Itu sepeda utamanya yang akan dipakai balapan!
Froome tidak terlihat sore itu, tapi fotonya sudah cukup untuk jadi obyek foto bareng! Prajna Murdaya juga sempat berpose seolah dia akan mencuri sepeda tersebut”
Tidak lama, datang Joe Dombrowski, 22, pembalap muda Team Sky asal Amerika Serikat. Tinggi dan kurus, 186 cm tapi hanya 61 kilogram, Dombrowski ini disebut-sebut sebagai superstar masa depan cycling dunia. Tentu saja, kami foto-foto lagi.
Di sekeliling, tampak trailer milik Cannondale, Garmin-Sharp, BMC, dan beberapa tim lain.
Tidak lama, sejumlah pembalap BMC berdatangan, mengakhiri sesi latihan hari itu. Tanjakan menuju kawasan parkir begitu curam, mereka harus berdiri mengayuh dari dasar sampai atas.
Tampak sang juara nasional Swiss, Michael Schar. Di belakang, ada pula salah satu bintang tim, Mathias Frank. Ketika akan saya foto, Frank langsung minta tolong: “Please, push” (tolong bantu dorong).
Ya saya langsung dorong dia naik ke atas. Lumayan, setelah itu dia memberikan botol minumnya, yang tidak lama kemudian dia tanda tangani pula. Biasanya, botol minum pembalap merupakan salah satu “suvenir” paling diburu oleh penonton saat menyaksikan lomba di pinggir jalan.
Personel BMC sendiri kemudian memberi kami lebih banyak lagi botol minum. Kami masing-masing dapat dua bidon (botol minum sepeda) bekas pembalap.
Merasa lelah, dan kepala kembali pusing, kami kembali untuk istirahat dulu sebelum makan malam. Tidak terasa, saya tertidur dua jam.
Bangun, kami pun makan malam. Bagi para personel Rapha, hari itu hari supersibuk. Mereka terus menyiapkan segala kebutuhan program untuk seminggu ke depan.
Malam itu, sepeda-sepeda kami pun dirakit. Tim Coghlan, Brad Sauber, dan yang lain memilih kawasan dekat pepohonan yang berhiaskan lilitan lampu-lampu kecil untuk merakit sepeda kami. Coghlan mengenakan lampu sorot kecil di kepala.
Hanya sekitar satu jam, empat sepeda kami beres. Kami disarankan segera kembali ke kamar, tidur sebanyak mungkin dan terus minum air. Besok pagi (Sabtu, Red) tidak perlu bangun pagi, tidak perlu banyak beraktivitas. Sore hari baru akan bersepeda untuk menyesuaikan diri.
Lieberson menyarankan, kalau mampu, untuk jalan kaki keliling hotel untuk membiasakan diri lagi dengan udara tipis. Kalau tidak, tidur sebanyak mungkin.
Kami menuruti saran tersebut. Sebelum tidur, saya mempelajari lagi buku program dan rute yang mereka siapkan. Pada dasarnya, mereka telah menyiapkan program bersepeda total sejuah 398 km dalam lima hari ke depan. Termasuk mendaki tanjakan-tanjakan paling kondang, seperti Independence Pass, yang tingginya lebih dari 3.650 meter!
Sebelum tidur, saya mengulangi lagi ucapan Wawan sebelumnya: “Mati sudah” (bersambung)

Advertisements

Bersepeda Bareng Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (1)

Minggu, 18 Agustus 2013

Pemanasan di California, Menuju Aspen Sehari Lebih Dini

Dari seluruh dunia, hanya sebelas orang yang dapat kesempatan bersepeda bersama Team Sky, di USA Pro Challenge di Colorado. Empat di antaranya dari Indonesia. Termasuk AZRUL ANANDA dari Jawa Pos.

Penggemar sepeda, khususnya ajang balap sepeda, mungkin sudah sangat familier dengan nama Sky Pro Cycling alias Team Sky. Tim asal Inggris itu kini berada di urutan pertama dunia, dan telah dua tahun berturut-turut menjadi jawara Tour de France.

Termasuk Juli lalu, saat Christopher Froome merebut yellow jersey di edisi ke-100 ajang paling bergengsi di dunia tersebut.

Hebatnya lagi, walau baru eksis sejak 2010, tim ini telah mengubah standar bagaimana sebuah tim profesional dikelola dan di-marketing-kan. Tim ini dikenal selalu memakai peralatan termewah atau yang dianggap sangat mewah.

Misalnya, bus pendamping tim paling megah. Mobil pendukung merek Jaguar (yang juga asal Inggris). Sepeda yang dipakai merek Pinarello asal Italia, yang terkenal masuk barisan paling mewah. Pilihan kerja sama jersey dan seragam lain pun merek Rapha. Juga asal inggris, Rapha dianggap sebagai “Louis Vuitton”-nya baju sepeda.

Saat ini, untuk bisa mendekat saja dengan Team Sky merupakan sebuah tantangan. Baik mendekat di arena balap maupun di luar arena.

Karena itu, ketika ada kesempatan untuk bersepeda bareng mereka, harus diambil dengan sangat segera. “Kereta” yang sama belum tentu lewat lagi walau kita tunggu seumur hidup di stasiun.

Kesempatan tersebut datang dari Rapha. Kesempatan itu diberikan di ajang USA Pro Challenge, ajang lomba sepekan yang sejak 2011 diselenggarakan di pegunungan Colorado, Amerika Serikat.

Hanya ada jatah yang sangat terbatas untuk mengikuti kiprah Team Sky saat berlaga di Colorado. Tinggal di satu kawasan, makan bareng, bahkan bersepeda bareng saat sesi latihan. Lomba berlangsung pada 19–25 Agustus, sedangkan kesempatan “mendampingi” tim diberikan pada 17–21 Agustus.

Ketika e-mail “peluang” itu sampai kepada kami (customer Rapha) beberapa bulan lalu, seperti biasa e-mail dari Eropa sampai pada dini hari WIB. Prajna Murdaya, rekan bersepeda saya saat mengikuti Tour de France 2012 dan Tour of California 2013 lalu, merupakan yang pertama yang membukanya. Secara instan, dia langsung mendaftar detik itu juga.

Pagi itu, dia berusaha menelepon saya. Tapi, kala itu saya sedang latihan sepeda, baru membukanya saat makan pagi. Saat saya angkat, dia langsung bilang: “Kamu punya sepuluh menit untuk membuat keputusan, ikut atau tidak.”

Walau belum buka e-mail, saya tahu kesempatan seperti ini sangat langka. Tentu saya bilang iya. Dalam hitungan jam, saya juga mengajak dua rekan lain. Sun Hin Tjendra, rekan lain sesama founder di Surabaya Road Bike Community (SRBC), menyatakan ikut. Cipto S. Kurniawan alias Wawan, rekan bersepeda dari Pasuruan, juga bilang iya. Padahal, ketika saya hubungi pagi itu, Wawan sedang dalam perjalanan bisnis di Tiongkok.

Empat orang pun terdaftar hari itu juga. Semula, Rapha menyebut peserta bakal 14 orang. Angka tersebut kemudian dikecilkan lagi menjadi hanya 11 orang, untuk memudahkan servis dan pelayanan selama program. Hebat, dari total 11 jatah sedunia, empat peserta dari Indonesia!

Prajna mengaku ditelepon Rapha, yang tampaknya sempat ragu dan bingung melihat ada empat orang Indonesia mengikuti program unik mereka!

Saat kami mendaftar itu, Tour de France 2013 belum berlangsung. Dan belum dipastikan siapa saja pembalap Team Sky yang turun di Colorado.

Alangkah senangnya kami ketika menonton Team Sky (Christopher Froome) menang di Tour de France. Senang itu jadi bahagia bukan kepalang ketika tahu Christopher Froome, beserta rekan setim terbaiknya, Richie Porte, bakal turun di Colorado!

Oh ya, ketika mendaftar, tidak semua di antara kami langsung memberi tahu keluarga (istri) masing-masing. Tapi, kami sepakat dengan prinsip: “Meminta maaf lebih mudah daripada meminta izin…”

Tantangan Udara Tipis
Rocky Mountains, alias pegunungan Colorado, merupakan dataran yang sangat tinggi. Denver, kota terbesar di negara bagian tersebut, punya julukan “Mile High”, terletak satu mil (1,6 km) di atas permukaan laut.

USA Pro Challenge akan finis di Denver, tapi bakal dimulai di Aspen. Nah, di Aspen ini pula kami akan “bergabung” dengan Team Sky. Ketinggiannya” 2.400 meter…
Sebagai perbandingan, titik tertinggi Tour de France 2013 adalah Col de Pailheres, “hanya” 2.001 meter. Jadi, titik start USA Pro Challenge sudah lebih tinggi daripada titik tertinggi Tour de France!

Dalam lomba, para pembalap akan menghadapi tanjakan-tanjakan yang lebih tinggi. Puncaknya adalah Independence Pass, yang mencapai lebih dari 3.650 meter. Itu merupakan titik tertinggi ajang balap sepeda di seluruh dunia.

Dan kami, sebagai peserta program, juga akan diajak mendakinya…

Untuk bisa menjalani program, kami harus berlatih ekstra. Walau semua sibuk, kami berusaha meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk berlatih. Khususnya untuk menanjak.

Tapi, itu saja pasti tidak cukup. Karena ketinggian Colorado juga akan dibarengi udara tipis, kami jadi semakin kerepotan.

Bahkan, para pembalap akan merasa tersiksa dengan tipisnya udara. Christopher Froome, begitu tiba dan berlatih di Aspen, langsung berkomentar via Twitter: “Bersepeda keliling Aspen bikin shock badan. Indah, tapi tak banyak oksigen! Balapan seminggu ke depan bakal kejam.”

Dalam program yang disiapkan, tanggal 17 Agustus adalah hari santai untuk membiasakan diri dengan udara di ketinggian Aspen. Tapi, kami memutuskan untuk terbang lebih dini, tiba lebih cepat.

Tanggal 14 Agustus meninggalkan Indonesia, menyempatkan bersepeda sehari di kawasan berbukit di sekitar San Francisco, lalu tiba di Aspen pada 16 Agustus.

Menanjak Mount Tamalpais
Tiba di San Francisco, California, Rabu, 14 Agustus malam, kami langsung cari makan malam di Yuet Lee di China Town, salah satu restoran favorit orang Indonesia yang kondang lewat cumi goreng keringnya.

Kemudian, langsung membongkar koper dan merakit sepeda yang kami bawa (semua Pinarello). Kami merakit sepeda sampai Kamis dini hari pukul 01.00.
Kamis pagi, kami sudah ingin bersepeda dulu. Selain “pemanasan” menanjak di udara kering (walau tidak tipis), juga mengecek untuk memastikan tidak ada masalah pada komponen-komponen sepeda yang kami bawa.

Pagi itu, pukul 07.00, kami mampir dulu ke Rapha Cycle Club, butik/kafe untuk ngopi. Baru kemudian menuju kawasan jembatan Golden Gate, menunggu Franklyn Wu, teman Prajna asal Taiwan yang akan menjadi pemandu.

Dari sana, kami menyeberangi Golden Gate, memasuki Marin County, dan menuju Mount Tamalpais.

Bagi Wawan, ini kesempatan yang sudah lama diimpikan. Ketika liburan keluarga ke San Francisco empat tahun lalu, dia sangat ingin menyewa sepeda dan menyeberangi Golden Gate. Tapi, tidak ada waktu. Sekarang dia benar-benar puas, walau kabut tebal menyelimuti jembatan tersebut.

Mount Tamalpais sendiri merupakan salah satu tujuan bersepeda favorit warga San Francisco dan sekitar. Tidak hanya untuk bersepeda, tapi juga untuk running (lari). Di situ juga ada jalur mountain bike yang sangat populer, tempat nama-nama besar sepeda, seperti Gary Fisher dan Tom Ritchey, “bermain”.

Puncak Mount Tamalpais tidaklah terlalu tinggi, 785 meter. Tapi, tanjakannya lumayan menantang, dan punya bagian seru berupa tujuh bukit berseri. Orang-orang di sana menyebutnya “seven sisters” (tujuh cewek bersaudara).

Di atas, kita seharusnya bisa melihat seluruh kawasan Bay Area. Sayang, kabut tebal membuat pemandangan hari itu sangat terbatas.

Tidak terasa, hari itu kami bersepeda sekitar 85 kilometer. Lebih dari sekadar “pemanasan”. Setelah makan siang, kami mengunjungi beberapa toko sepeda, sebelum kembali untuk membongkar dan mengepak lagi sepeda. Sebab, Jumat pagi (16/8) kami sudah harus terbang ke Colorado.

California terletak di pantai barat, sedangkan Colorado ada di kawasan tengah Amerika. Menuju Aspen, kami harus transit dulu di Denver. Baru Jumat menjelang sore kami mendarat di Aspen, menghadapi langsung sulitnya beradaptasi di dataran tinggi. (bersambung)

Superman untuk Generasi yang Lebih Sulit Percaya

Jum’at, 14 Juni 2013

Man of Steel. FOTO: Getty Images

Man of Steel. FOTO: Getty Images

Catatan Azrul Ananda

SUPERMAN itu Amerika banget. Tapi, beruntunglah penggemarnya yang tinggal di Indonesia. Sejak Kamis kemarin (13/6), ribuan penggemar sang superhero sudah bisa menonton penampilan barunya di bioskop. Man of Steel, yang menampilkan Henry Cavill sebagai sang jagoan, memang baru akan diputar untuk umum di negeri asalnya Jumat hari ini (14/6).

Dan kalau mengikuti perbedaan waktu di Amerika, Jumat hari ini itu adalah Sabtu WIB. Penggemar di Indonesia menang dua hari!

Jangan heran kalau melihat banyak orang pakai kaus biru berlambang “S” berkeliaran di mal-mal Kamis kemarin, keluar masuk bioskop”

Bagi para penggemar berat, Superman versi terbaru ini sudah sangat lama dinanti. Praktis, versi ini sudah ditunggu sejak versi paling “abadi”, diperankan mendiang Christopher Reeve dan disutradarai Richard Donner, kali pertama diputar pada 1978.

Ya, ada versi Brandon Routh pada 2006, visi dari sutradara Bryan Singer. Tapi, versi berjudul Superman Returns itu bisa dibilang mendapat reaksi hangat-hangat kuku. Penggemar senang ada Superman lagi, sekaligus kecewa karena Superman-nya “tanggung”.

Tanggung” Satu, sebagai manusia super, tidak banyak aksi super yang ditampilkan. Sangat minim action. Dua, Superman-nya tidak jelas. Ini Superman baru, atau Superman lanjutan dari film-film Christopher Reeve. Ceritanya memang cenderung melanjutkan Superman lama, sang jagoan kembali setelah lama menghilang.

Dan, versi Brandon Routh itu dandannya masih sama: Masih pakai underwear (atau lebih tepatnya overwear?).

Walau dapat penghasilan lumayan, meraup hampir USD 400 juta di seluruh dunia, Superman Returns tidak berlanjut”

Lalu, muncullah kabar adanya Superman baru. Menjanjikan Superman yang benar-benar baru. Lakon milik DC Comics ini pun dipercayakan pada tangan-tangan dingin yang punya reputasi dahsyat.

Christopher Nolan, yang sukses me-reinventing Batman, jadi produser dan mengawal konsepnya. David S. Goyer, penulis andalan Nolan, membuat naskahnya. Zack Snyder, sutradara dengan gaya visual “garang” (karya sebelumnya termasuk 300 dan Watchmen) memegang kendali.

Muncullah Man of Steel.

Dalam beberapa tahun terakhir, sedikit demi sedikit “isi” Man of Steel dibocorkan ke publik. Henry Cavill dipilih jadi Superman, menjadi orang non-Amerika pertama (dia warga Inggris) yang memerankan sang superhero.

Kostumnya jadi yang pertama menghebohkan. Sebab, dia tidak lagi pakai overwear! Dalam film, ditunjukkan bahwa kostum itu bukan sekadar kostum biasa. Melainkan semacam baju perang bangsa Krypton.

Tetap saja, para penggemar mungkin merasa skeptis. Bagaimanapun, Superman itu superhero paling sulit untuk ditampilkan di film zaman modern. Dia terlalu sempurna.

Pada zaman dulu, orang mungkin lebih gampang diajak berfantasi. Pada zaman sekarang ini, Superman apa yang paling cocok ditampilkan?

Goyer sebagai penulis sangat sadar soal itu. “Batman itu sangat istimewa. Tapi, yang ini (Superman, Red) lebih sulit. Batman itu manusia biasa. Kita semua bisa jadi dia kalau punya uang dan mau berlatih. Di sisi lain, sangat sulit menjadikan Superman terasa seperti manusia biasa,” tuturnya saat diwawancarai Movie Talk, saat premiere Man of Steel di New York, beberapa hari lalu.

Begitu deretan review film ini ditulis para pengamat, mulailah harapan itu terbang lebih tinggi. Man of Steel disebut mampu mengajak kita “melepaskan diri” dari belenggu Superman versi Christopher Reeve.

Superman seharusnya ya begini ini.

Kalau terbang ya terbang gila. Bukan seperti berdansa di udara.Kalau berantem ya seperti manusia super. Bukan seperti manusia biasa. Sekali bogem, beberapa gedung hancur.

Kalau Superman benar-benar ada, ya dunia harusnya benar-benar heboh. Sebab, dia adalah bukti bahwa manusia tidak sendiri (Superman adalah alien dari Krypton). Baik atau buruk, dia bisa mengubah dunia.

Beruntung bagi bumi, Superman mendarat di kota kecil di negara bagian Kansas (tengah-tengah banget di daratan Amerika), mendapat didikan luar biasa dari bapak-ibu angkatnya yang bekerja sebagai petani di sana.

Secara konsep, Superman baru sudah berani terbang. Kesan pertama, Superman baru ini sudah bisa tersenyum. Kini kita tinggal menunggu apakah Superman baru ini benar-benar terbang tinggi dan cepat. Maksudnya, mendapatkan sukses komersial dan menjadi film “klasik” seperti yang didambakan para pembuatnya (dan para penggemarnya).

“Rasanya luar biasa, tapi juga mendebarkan. Saya begitu excited. Hampir tiga tahun telah berlalu (membuat film ini, Red). Senang bisa menjalani premiere, karena kita bisa benar-benar menampilkannya di hadapan publik. Akhirnya, kita sekarang bisa melepas film ini dan membiarkannya menemukan jalan sendiri,” tutur Snyder.

Ya, sekarang semua hanya bisa menunggu. Apakah film ini bakal sukses, atau justru melempem seperti Superman Returns.

Prediksi awal, film ini akan meraup lebih dari USD 100 juta pada akhir pekan perdananya di Amerika. Bukan angka tertinggi, tapi solid dan masih tergolong blockbuster. Lebih penting lagi, angka itu bisa meyakinkan para produsennya, bahwa Man of Steel seri selanjutnya masih bisa dibuat dan kembali memuaskan penggemar.

Kabarnya, para produsen sudah sangat percaya diri, dan sudah mempercepat proses persiapan pembuatan sekuelnya.

Bagi penggemar komik, ini juga memberikan peluang (atau janji?) bahwa akan ada film superbesar lagi pada masa mendatang, menggabungkan Superman dengan karakter-karakter DC lain seperti Batman, Wonder Woman, dan lain sebagainya, dalam kesatuan bernama Justice League.

Ala Marvel Studios dengan Iron Man, Thor, dan Captain Amerika. Penggemar yang bermata jeli tentu melihat petunjuknya di Man of Steel. Ada tulisan Wayne Enterprise (milik Bruce Wayne alias Batman) di salah satu barang di layar” (azrul ananda)

sumber : http://www.jpnn.com

Untuk Menggapai Sukses Diperlukan Proses

Untuk Menggapai Sukses Diperlukan Proses
Dua tahun berturut-turut saya asyik belajar aplikasi pendidikan progresif dari kompetisi bola basket pelajar SMA bernama Honda DBL. Bukan karena pembuat liga ini seorang Azrul Ananda, seorang teman lama yang penggila bola basket, balap Formula 1, dan sekarang lagi keranjingan bersepeda. Namun, saya melihat beberapa konsep pendidikan diaplikasikan dengan nyata, konsisten, dan disiplin di DBL Jakarta khususnya.

Peraturan DBL 2013 tegas mengatakan, pemain pindahan tidak boleh bermain. Yang pernah tinggal kelas, jangan coba-coba mendaftarkan diri. Sebab, dilarang keras siswa tak naik kelas bermain di DBL. Pelajar yang mendapatkan benefit dari kemampuan bermain basket dilarang keras. Beasiswa pendidikan dengan nilai maksimum Rp 5 juta/tahun, masih diizinkan.

Dalam koridor pendidikan, apa yang dilakukan DBL dengan menerapkan disiplin ketat akan memberikan pengalaman sangat dalam kepada para peserta. Para peserta juga diajari mendapatkan privilese sekaligus konsekuensi. Tim putra favorit, SMA 36, harus merasakan konsekuensi setelah mereka harus kalah WO karena jumlah pelatih mereka tidak memenuhi persyaratan panitia, meski pemain sudah hadir di lapangan!

John Dewey, seorang pakar pendidikan progresif, berpendapat bahwa pendidikan itu sebisa mungkin memberi kesempatan untuk belajar secara perorangan. Dewey juga mengatakan bahwa pendidikan progresif itu juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar lewat pengalaman (learning from experience). Pengalaman itu bisa yang menyenangkan, atau yang pahit sekalipun.

Bicara masalah pengalaman, saya teringat pada sebuah buku yang ditulis seorang Doktor pendidikan dari Thailand, Dr. Rung Kaewdang. Rung menulis buku “Belajar dari Monyet”/Learning from Monkeys (Khruu Somporn Kon Son Ling). Dr. Rung menawarkan merevolusi pendidikan di Thailand dengan belajar dari Khruu (guru) Somporn, anak petani yang hanya mengenyam pendidikan rendah, dan mengajar di Akademi Pelatihan Monyet. Meskipun Khruu Somporn berpendidikan rendah, oleh Dr. Rung prestasinya bisa disejajarkan dengan salah satu tokoh pendidikan di Thailand yang memiliki sederet gelar.

Dr Rung dalam pendahuluan buku itu menulis “Saya sangat terkesan dengan metodologi dan prinsip-prinsip psikologi yang digunakan Khruu Somporn. Meskipun saya pribadi sudah meraih gelar doktor dalam bidang pendidikan dan mempunyai pengalaman mengajar yang luas, saya merasa tidak dapat
dibandingkan dengan dia dalam cara mengajar siswa-siswanya.”

Khruu Somporn mendidik monyet-monyet liar agar bisa menjadi mitra yang andal para petani di Thailand Selatan dalam memetik kelapa. Kelapa adalah salah satu komoditas pertanian andalan Thailand. Perlu kecepatan dan kemampuan sortasi yang tepat saat di atas pohon untuk menentukan sebuah kelapa sudah tua dan siap dimanfaatkan.

Manusia memang memiliki kemampuan memilih kelapa yang sudah matang. Namun, untuk memanjat ribuan pohon di areal yang sangat luas, hampir mustahil mengandalkan tenaga manusia. Beberapa hal yang mengesankan bagi Dr. Rung pada Khruu Somporn antara lain:

1. Khruu Somporn tak pernah menolak calon siswa. Ia pun tidak pernah mengeluarkan siswa dari sekolah. Somporn menerima murid tanpa test, dan tidak ada ujian.

2. Karena Khruu Somporn pengikut Buddha yang taat, pengajarannya didasarkan pada rasa kasih sayang. Teknik-teknik mengajarnya sangat dipengaruhi oleh pemikiran pengikut Buddha.

3. Khruu Somporn mengajar sambil bermain dan belajar dalam suasana yang menyenangkan. Dia mengajar menggunakan hati dalam menjalin komunikasi dan menjalin kepercayaan dengan para murid.

4. Khruu Somporn membangun kurikulum berdasarkan kebutuhan hidup dan kerja para siswa. Hakikat dari kurikulumnya adalah mampu menjawab hal-hal yang berkaitan dengan perilaku maupun moral.

Kalimat yang sering disampaikan oleh Dr. Rung adalah “Kalau monyet saja bisa, kenapa anak-anak kita tidak?” Ya, monyet liar ternyata bisa dididik menjadi pemetik kelapa, memilih yang layak dipetik, dan bukan sekadar mengumpulkan dan mengangkut kelapa.

Dipaksa Disiplin
Lewat aturan yang keras, DBL sukses memberikan pendidikan progresif kepada setiap peserta. Reward yang diberikan memang luar biasa. Harkat dan kebanggaan pebasket SMA diangkat sedemikian tinggi lewat kemasan pertandingan yang wah dan impian ke Amerika Serikat maupun Australia jika bisa melewati tahapan yang panjang nan terjal.

Kompetitor event DBL memang banyak. Selain kompetisi antarklub dan antar SMA, turnamen-turnamen yang melibatkan para pelajar itu banyak, khususnya di DKI. Namun, jika ditanya yang manakah paling prestis, mereka sepakat bersuara: DBL.

Bagaimanakah anak-anak itu belajar sehingga di mindset mereka hanya ada satu kata “DBL mindset”? Stella Vosniadou, ahli kognitif, psikologi perkembangan, dan pendidikan, menulis dalam buku “How Children Learn”, beberapa hal cara belajar anak. Ada 12 poin yang ia sebutkan seperti keterlibatan aktif, peranserta/partisipasi sosial, kegiatan yang berarti, hingga ke menciptakan
pelajar yang termotivasi.

Pelajar-pelajar yang termotivasi mudah dikenali karena mereka itu mempunyai keinginan besar untuk meraih tujuan-tujuannya. Mereka pun siap mencurahkan seluruh upaya. Para pelajar itu juga menunjukkan kebulatan tekad dan ketekunan yang sungguh-sungguh. Hal itu akan mempengaruhi jumlah dan kualitas hal-hal yang dipelajari.

Kebetulan, dua tahun berturutan anak saya ikut berkompetisi di DBL Jakarta. Saya merasakan, betapa ia termotivasi untuk bisa berkontribusi tertinggi bagi timnya SMA 3 Teladan. Di final tahun lalu, cedera engkel kiri tak menghalanginya tampil lugas di final melawan SMA 116, dengan hasil juara. Ia meringis kesakitan, saat kakinya saya kompres es di rumah, sambil terus memegangi medali juara, dan dibawa sampai tidur.

Di tahun 2013, kali ini ia cedera engkel kanan. Ia tak bisa tidur sampai subuh karena gagal membawa SMA 3 ke babak berikutnya. Bekas air mata masih nampak, selain bengkak di engkel kanan, saat saya mengelus keningnya untuk pamit berangkat kerja subuh-subuh. Lima hari kemudian, saat ia diberi kaos sebagai anggota DBL Jakarta First Team 2013, saat saya elus keningnya lagi, ia tidur dengan wajah bahagia dengan kaos itu dilipat rapi di samping kasurnya. Mungkin saja, ia lagi asyik bermimpi pergi Seatle atau Aussie!

Herbert J. Walberg dan Susan J. Paik, dua pakar pendidikan dari UNESCO, mengatakan bahwa memberikan pengalaman hidup adalah praktik-praktik dalam pendidikan yang efektif. Lewat pengajaran langsung, belajar bekerjasama, pendidikan yang adaptif, dan keterlibatan orangtua, anak-anak akan menemukan cara belajar yang mangkus (efektif).
Senin, 15/04/2013 13:25:48

Belajar menjadikan dirinya berguna dan berkontribusi, adalah sisi positif yang diperoleh anak saya dari kompetisi Honda DBL. Pembelajaran seperti itu tidak bisa diperoleh dari kelas reguler manapun. Tanpa ragu-ragu, saya berterima kasih kepada bung Azrul Ananda, Yondang Tubangkit, dan para kru DBL Indonesia, yang begitu konsisten memberikan pelajaran bahwa sukses itu adalah sebuah proses.

Di saat budaya instan, akibat gelontoran era digital yang dahsyat menggulung para pelajar Indonesia, masih ada para pembelajar olahraga berdiri tegak menjaga disiplin dan komitmen. Untuk sukses memang diperlukan proses.

Story provided by DR. Eko Widodo, S.TP., M.M.
*penulis adalah penikmat bola basket; doktor olahraga dari Universitas Negeri Jakarta
sumber : http://www.bolanews.com

Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Letters to Commissioner Edisi Juli 2012
Dari: Stella N.
Email: space4_stella@yahoo.com

Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Dear Commissioner,

Saya ingin bertanya. Musim lalu adalah musim perdana WNBL Indonesia. Nah, apa sih syarat bagi sebuah klub untuk mengikuti WNBL? Saya ingin sekali membentuk klub basket wanita yang bisa berkompetisi di level WNBL. Terima kasih banyak, Mas Azrul. Semoga basket Indonesia makin jaya!

Dear Stella,

Sebelum kami menjalankan WNBL, ketika berembug dengan Pak Anggito Abimanyu, ketua umum PP Perbasi, kami sepakat bahwa barrier (halangan) untuk membentuk tim harus dibuat seminimal mungkin. Dalam artian, syarat dipermudah, biaya dipermurah, dan lain sebagainya. Karena misinya adalah menghidupkan lagi liga perempuan yang ketika itu sudah empat tahun hilang.

Dan itulah yang kami lakukan pada 2012, sehingga terjadilah musim perdana WNBL.

Namun, walau sudah dipermudah, tetap saja sulit bagi tim untuk berpartisipasi. Satu, biaya. Dua, jumlah pemain yang minimal. Sulit melengkapi lima tim, apalagi sepuluh tim, yang kualitasnya layak disebut sebagai liga perempuan tertinggi di Indonesia.

Untuk ke depan, kami harus lebih hati-hati dalam menerima tim baru. Apalagi, sekarang sudah terbentuk Dewan Komisaris WNBL Indonesia yang beranggotakan tim-tim yang ada, plus saya sebagai commissioner dan wakil dari PP Perbasi.

Semoga WNBL bisa menggairahkan lagi minat di liga perempuan, sehingga kelak makin banyak tim bisa terbentuk secara sehat dan punya masa depan yang sustainable.

——————-

Dari: Andreas Bordes
Email: andreasbordes@gmail.com

Akun Twitter Commissioner

Dear Commissioner,

Apa kabar Mas Azrul? Surat saya ini sangat singkat, tapi saya yakin mampu mewakili pertanyaan banyak fans basket di luar sana. Kenapa sih Mas Azrul tidak membuat account Twitter? Pasti akan lebih mudah dan menyenangkan bagi kami untuk memberi masukan atau ide untuk kemajuan basket tanah air. 🙂 Salam basket Indonesia!

Dear semua yang penasaran sama akun twitter saya:

Mohon maaf, saya tidak punya akun twitter, dan tidak punya rencana punya akun twitter. Facebook pun sudah tidak lagi aktif selama bertahun-tahun. Mohon semua memahami, bahwa menjadi commissioner, sesibuk apa pun, bukanlah satu-satunya pekerjaan saya. Punya handphone satu saja rasanya sudah kebanyakan untuk membalas telepon dan pesan yang masuk. Tapi ini bukan berarti saya tidak mau mendengar masukan. Saya terus aktif meraba-raba apa kira-kira yang dibutuhkan agar basket kita terus maju. Dan harus maju dengan cara yang benar. Saya terus mendengar (dengan cara saya sendiri), membaca (di mana pun), dan terus berusaha belajar dari pengalaman di negara-negara lain.

Dan dengan demikian, waktu saya bisa dipakai untuk melakukan action. Kan doing lebih baik daripada talking…

——————-

Dari: @doniikurniawan

Setiap tahun, Championship Series-nya di kota berbeda dong, biar semua bisa ngerasain atmosfer Championship. #DearCommissioner

Dear Doni,

Tentu kami ingin menyelenggarakan NBL di sebanyak mungkin kota, menyapa sebanyak mungkin tim dan fans. Tapi harus dipahami, khusus untuk Championship Series, ada syarat-syarat tertentu yang tidak bisa dipenuhi banyak kota. Pertama, harus ada basis fans yang kuat. Tidak harus untuk satu tim. Minimal, kota itu harus punya gairah yang bagus dalam menyambut sebuah even akbar. Kedua, harus ada gedung yang memadai. Nah, ini syarat yang paling berat. Kita lihat saja, di Surabaya tahun 2011 benar-benar penuh sesak. Di Jogjakarta pun, dengan gedung yang berkapasitas lebih besar, tetap penuh sesak. Semoga ini membuat kota-kota lain bergairah dan membangun fasilitas yang benar-benar mampu menjadi tuan rumah sebuah Championship Series NBL Indonesia.

——————-

Dari: @gerrykrisnata11

Bikin sistem supaya pemain bintang menyebar di setiap klub, jadi calon juara sulit diprediksi. #DearCommissioner

Dear Gerry,

Ini bukan hanya impian Anda. Ini juga impian kami sebagai penyelenggara. Dan ini juga –percaya atau tidak– impian tim-tim peserta. Saat ini, walau popularitas NBL terus meroket, kami tetap harus menyentuh bumi. Liga ini masih bayi. Baru dua musim. Jadi harus tertata baik dulu fondasinya sebelum bisa mengembangkan yang lainnya. Sabar, itu akan terjadi!

Bikin Akademi Basket Indonesia

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Most Valuable Letter Edisi Juli 2012
Bikin Akademi Basket Indonesia
Dari: Adjie Nugroho
Email: adjiengrh98@gmail.com

Bikin Akademi Basket Indonesia

Dear Commissioner,

Saya punya saran nih untuk memajukan basket indonesia di level dunia. Bagaimana kalau dibikin semacam akademi basket Indonesia (bukan klub basket). Akademi itu diberi nama: Indonesian Basketball Academic League. Pelatih-pelatih muda dipilih untuk menggembleng training harian peserta, sementara pelatih asing kita manfaatkan untuk men-drill peserta menjelang kompetisi (bila ada). Sekian dulu masukan dari saya. Maju basket Indonesia!

Dear Adjie,

Terima kasih usulannya. Setiap kali saya ke luar negeri melihat sistem pengembangan basket, rasanya selalu jadi iri. Kenapa di Indonesia tidak ada yang bikin seperti itu. Kami dari DBL Indonesia tentu sangat ingin punya fasilitas gedung latihan berisi delapan lapangan, plus fasilitas gym lengkap, dan lain sebagainya. Tapi kami bukan pemerintah!

Dari dulu, kami juga ingin punya akademi yang bukan sekolah basket maupun klub. Saya tegaskan: Saya tidak pernah punya klub basket dan tidak akan pernah punya klub basket. Bakat dan expertise kami adalah di management liga. Semoga bisa terwujud ya!