Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (3/3-Habis)

April 10, 2010 

Jadi Tamu VIP di Sacramento.
Bayar kursi paling mahal saat nonton NBA memang dapat banyak fasilitas. Tapi, juga harus mengikuti aturan paling banyak. Berikut catatan terakhir Azrul Ananda, wakil direktur Jawa Pos, yang baru kembali dari Amerika Serikat.

aza-kings-besar

Sebagai penggemar Sacramento Kings sejak pertengahan 1990-an, pengalaman nonton saya di Arco Arena seperti berkarir. Dulu waktu kuliah tidak punya banyak duit, jadi beberapa kali nonton paling murah. Bayar USD 8, dapat tiket berdiri di belakang kursi paling atas.

Sabtu pekan lalu (3/4), sebagai tamu VIP Sacramento Kings, akhirnya saya mendapatkan kesempatan duduk di kursi impian. Baris paling depan menonton Kings melawan Portland Trail Blazers.

Sewaktu tur ’’di balik layar’’ Arco Arena Sabtu siang itu, Scott Freshour, stage manager sekaligus MC pertandingan Kings, bilang bahwa pihaknya sudah menyiapkan kursi istimewa. Sewaktu berjalan di lapangan, dia menunjuk tempat di pojok lapangan, tempat saya akan duduk.

Di sana, ada pojok khusus yang diberi nama Carl’s Jr. Corner (Carl’s Jr. adalah sponsor, jaringan makanan cepat saji ala McDonald’s). Lokasi itu agak beda dengan kebanyakancourtside seat (tempat duduk di sisi lapangan). Kalau tempat lain itu tempat duduk biasa yang empuk dan berbalut ku lit, di tempat saya itu bentuknya sofa yang bisa berputar.

Sudah tempatnya di baris paling depan, duduknya di sofa lagi! Saya tidak enak mau tanya harga. Tapi, karena penasaran, sebelum pulang, saya mampir dulu ke ticket box Arco Arena. Jawabannya: USD 960 per kursi, atau hampir Rp 9 juta. Itu harga resmi. Kalau lagi heboh, bisa lebih tinggi (di kota lain yang lebih besar, bisa jauh lebih mahal).

***

Pertandingan malam itu dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.00. Saya dan keluarga diminta datang sejak pukul 17.30. Datang masuk lewat pintu VIP di salah satu sudut Arco Arena.

Sebagai pemegang tiket khusus, ada banyak fasilitas yang didapat. Ketika datang, langsung diantar menuju ruang makan VIP. Pilihan makanan tidak terlalu banyak, tapi tempatnya dikemas bak restoran mahal. Ada beberapa televisi pula untuk menonton pertandingan-pertandingan basket lain. Kebetulan, hari itu juga berlangsung Final Four NCAA, liga basket mahasiswa yang superheboh di AS.

Sekitar pukul 18.30, kami dipandu menuju sofa di pojok lapangan. Oleh Tom Vannucci, direktur kreatif departemen entertainment Kings, saya lantas diajak naik ke atas. Dia ingin menunjukkan kepada saya opening ceremony pertandingan dari atas, dari booth panitia yang mengatur segala lighting dan tampilan di layar lebar. Lumayan, bisa belajar lagi hal-hal di
balik layar pertandingan NBA!

Malam itu, Kings memang punya ceremony agak spesial. Kain putih raksasa dihamparkan menutupi lapangan. Lalu, dari atas ’’ditembakkan’’ video-video dan desain-desain atraktif Kings. Ketika nama pemain Kings dipanggil satu per satu, wajah mereka muncul bergantian di kain tersebut. Kata Vannucci, dia memakai kain sutra Tiongkok.

Setelah itu, saya diajak kembali ke sofa di pojok. Dan dipersilakan menikmati pertandingan seutuhnya.

Dasar orangnya suka penasaran, saya malah tidak menonton pertandingan. Malah asyik lihat kanan-kiri dan mengamati segala sesuatu yang terjadi di pinggir lapangan.

Dari sofa terdepan, aksi NBA memang terlihat lebih ’’besar’’. Pemain-pemain NBA terlihat ukuran aslinya. Tyreke Evans, point guard bintang Kings, selama ini hanya saya lihat lewat foto. Ternyata, dia memang besar untuk ukuran playmaker. Terlihat jelas kalau 198 cm dan tebal.

Fasilitas seru lain juga didapatkan di baris terdepan. Ada waiter yang selalu siap dipanggil, kalau kita haus atau ingin makan. Bukan hanya makanan dan minuman, pesan merchandisepun bisa dari mereka. Tidak perlu jalan ke arah stan-stan merchandise yang tersedia di sekeliling arena. Dia membawa kasir portable, jadi kita juga bisa membayar dengan kartu kredit di tempat itu juga.

Hanya, duduk di baris terdepan ternyata juga paling banyak aturannya. Selama menonton, kami sama sekali tidak boleh berdiri. Karena mengganggu yang menonton di belakang. Ketika mau keluar masuk, tidak sebebas penonton di kursi-kursi standar. Hanya bisa keluar masuk ketika ada stoppage di lapangan. Misalnya, saat time out atau hal-hal lain yang menghentikan aksi di lapangan.

Di baris paling depan itu, memang ada usher (pemandu) yang aktif dan cenderung galak. Mengingatkan kita untuk duduk, untuk tidak mengganggu penonton lain di belakang.

Mereka membawa sebuah ’’lollipop’’, ala yang dipakai petugas pit stop tim Formula 1, yang rajin mereka tunjukkan ke penonton yang sedang berlalu-lalang. Tulisannya berbunyi:’’Please wait here for a stoppage in play. THANK YOU’’ (Silakan tunggu di sini sampai ada perhentian dalam pertandingan. Terima kasih).

Lucunya, penonton courtside yang ingin kembali ke kursinya, selain diminta menunggustoppage di lapangan, juga diminta para usher itu untuk berjongkok di lorong-lorong di sela-sela kursi. Sebab, kalau berdiri, mereka akan membuat banyak orang di belakang marah.

Lucu kan? Sudah bayar paling mahal, harus mau berjongkok-jongkok ria sebelum duduk kembali di kursi mahalnya!

Sejumlah petugas keamanan juga aktif mengawal baris terdepan itu. Mereka punya kursi-kursi kecil tepat di belakang kursi courtside. Kalau sedang pertandingan, mereka duduk rapi menghadap ke lorong di sela-sela kursi tribun. Kalau sedang stoppage, mereka langsung berdiri mengamankan kursi-kursi terdepan itu.

Duduk di sofa paling depan juga mengasyikkan, karena bikin penonton lain penasaran. ’’Bagai mana kamu bisa dapat tempat duduk di sini?’’ tanya beberapa orang yang berjalan lewat di de pan saya.’’Beruntung,’’ jawab saya selalu.

***

Sebelum pertandingan, Maurice Brazelton, ’’sutradara’’ acara saat laga berlangsung, hendak memberi saya rundown acara yang harus saya ikuti. Saya sempat bengong. Buat apa saya ikut jadwal program? Belum sempat dia menunjukkan, Scott Freshour langsung menghalangi. “Biarkan itu nanti jadi kejutan,’’ ucapnya.

Wah, saya sempat bingung juga. Bakal disuruh apa ketika pertandingan nanti? Jangan-jangan disuruh jadi penonton yang ikut ’’kontes menari’’ di tengah lapangan.

Saat pertandingan berlangsung, dan Freshour melintas di depan saya, dia selalu menolehkan kepala dan menunjukkan senyum iseng. Saya pun bilang, ’’Apa pun yang akan kamu lakukan, pokoknya saya tidak mau menari,’’ kata saya. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Untung, saya tak harus menari. Rupanya, Freshour sudah menyiapkan agar saya dan keluarga nampang di layar empat sisi yang menggantung di atas lapangan.

Saat salah satu sesi MC-nya, dia berlari ke pojok lapangan tempat saya duduk, lalu mengajak semua penonton bersorak. Dia lantas mengarahkan rekannya untuk mengarahkan kamera ke arah kami, dan meminta kami untuk bersorak-sorak dan menunjukkan dukungan kepada Kings untuk ditampilkan di layar empat
sisi tersebut.

Kalau ini sih nggak apa-apa. Saya dan semua penonton di sekitar pun tinggal bertingkah gila saja dan meneriakkan kata-kata dukungan seperti ’’Go Kings!’’ Silakan bilang saya norak. Tapi, rasanya senang juga wajah bisa terpampang di layar besar. Kata Freshour, tayangan itu mungkin juga nongol di siaran langsung pertandingan.

***

Sebelum pertandingan, saya sebenarnya sempat berencana dipertemukan dengan Tyreke Evans, bintang utama Kings saat ini. Hanya, Evans sempat menetapkan kondisi. Kalau Kings menang, dia mau bertemu. Kalau kalah, dia tak ingin bertemu siapa-siapa.

Malam itu pun tidak berakhir terlalu indah. Kings kalah 87-98. Sebenarnya, malam itu Kings juga tidak dijagokan menang. Trail Blazers merupakan tim pa pan atas, bersiap menuju babak playoff. Tim itu juga calon dinasti masa depan.

Karena Kings kalah, keinginan bertemu Evans pun tertunda dulu. Karena keesokannya (Minggu pa gi, 4/4) saya sudah harus kembali ke San Francisco untuk terbang pulang ke Indonesia, akhir pekan lalu benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk bertemu Evans.

Tapi, tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Hubungan yang baik bukanlah untuk sesaat. Kapan saja saya dan teman-teman DBL Indonesia (penyelenggara Development Basketball League 2010 dan Indonesian Basketball League) datang, teman-teman di Kings selalu siap menjamu. Dan sebagai balasan, saya bilang kami di Indonesia siap menerima kapan saja tim Kings ingin berkunjung.

Kabar baik lain: Meski tidak bisa bertemu, jersey bertanda tangan Evans akan dikirimkan via pos ke Indonesia.

Terima kasih Maloof Sports & Entertainment sebagai pemilik Sacramento Kings. Sampai jumpa lagi di kesempatan yang berikutnya!

(habis)

sumber : http://www.jpnn.com

Advertisements

Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (2/3)

April 9, 2010

Masuk Ruang Ganti Dancer, Jalan di Langit-Langit Gedung

Semusim, satu tim NBA harus menggelar 41 pertandingan di kandang sendiri. Dan setiap laga itu harus dikemas bak sirkus besar. Berikut catatan lanjutan Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DBL Azrul Ananda.

nba_king-besar

Sebuah tim NBA merupakan perusahaan sports & entertainment bernilai ratusan juta dolar Amerika Serikat. Untuk gaji pemain saja (total sekitar 15 orang), semusim mencapai kisaran USD 60 juta (Rp 560 miliar).

Sacramento Kings bukanlah tim besar untuk ukuran NBA. Namun, tim itu tetap punya standar tinggi (termasuk paling tinggi) karena punya pemilik yang memang aktif di duniaentertainment. Keluarga Maloof, yang juga pemilik kasino Palms di Las Vegas, memang punya visi untuk menjadikan Kings sebagai tim elit meski berada di kota ukuran sedang.

Karena itu, salah satu departemen terpenting adalah departemen kreatif dan entertainment, di bawah komando Tom Vannucci dan Maurice Brazelton. Mereka bukan hanya menyiapkan kemasan pertandingan yang atraktif untuk penonton, juga me-manage dance team dan maskot tim. Sekaligus membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan promosi tim, termasuk yang melibatkan para pemain.

Vannucci baru dua tahun bekerja untuk Kings. Dia tidak punya background basket. Latar belakangnya benar-benar entertainment, dulu pernah bekerja untuk Universal. Karena itulah, untuk operasional departemen, dia dapat bantuan dari Maurice Brazelton, yang punyabackground basket sebagai pemain, pelatih, plus pernah menjadi wasit NCAA (liga universitas di AS).

’’Tanpa entertainment, pertandingan akan berlangsung hambar. Misi kami adalah memberikan sesuatu yang membuat para penonton sangat berkesan,’’ kata Vannucci.

Untuk itu semua, butuh lebih dari 1.000 orang guna mengelola tim dan menyelenggarakan 41 pertandingan kandang dan lain-lain. Jumlah keseluruhan, Kings memiliki sekitar 120 karyawan tetap, plus sekitar 900 pekerja part time.

***

Sabtu akhir pekan lalu (3/4), siang hari sebelum pertandingan Kings melawan Portland Trail Blazers, saya pun mendapat akses khusus ke berbagai sudut Arco Arena, kandang Kings di Sacramento. Saya diajak menengok kantor-kantor kerja Kings, ruang-ruang ganti, bahkan akses ke tempat-tempat yang tidak banyak diketahui orang. Termasuk berjalan di atas ’’catwalk’’ yang menggantung di atas lapangan, tepat di bawah atap bangunan.

Terus terang, Arco Arena bukanlah gedung mewah untuk ukuran NBA. Usianya sudah 25 tahun dan belakangan banyak menjadi omongan untuk dihancurkan agar Kings bisa berpindah ke arena yang lebih modern. Tapi, bagaimana juga, Arco Arena tetap punya standar NBA dan itu jauh dari segala standar yang ada di Indonesia.

Saya juga punya kesan mendalam dengan gedung tersebut. Pada Desember 1999, di arena itulah saya menjalani wisuda, lulus kuliah dari California State University Sacramento.

Scott Freshour menjadi pemandu saya siang itu. Orangnya sangat ramah dan energik, jelas cocok untuk pekerjaan di departemen entertainment dan menjadi MC pertandingan.

Freshour mengatakan sudah kerja di Kings hampir enam tahun. Saat kuliah di kampus yang sama dengan saya, dia sudah magang di situ. Setelah itu, dia langsung diterima bekerja dan tak pernah memikirkan untuk bekerja di tempat lain. ’’Ini pekerjaan yang cool,” katanya.

Pertama-tama, saya diajak masuk kantor-kantor kerja. Bagian paling depan, dekat pintu masuk dan keluar, adalah kantor human resource department. ’’Kalau ada yang dipecat, di sini mereka dipanggil. Ha ha ha,’’ canda Freshour.

Dari sana saya langsung diajak ke lapangan utama. Kebetulan siang itu seluruh lapangan basket selesai dipasang. Para personel tim tinggal merapikan perlengkapan-perlengkapan pertandingan, seperti perangkat komputer di meja-meja, kabel-kabel, serta mengecek segala sistem pendukung pertandingan (seperti lighting dan sound system).

Karena Arco Arena adalah gedung serbaguna (kadang dipakai balapan motocross juga), lapangan memang harus bisa dibongkar pasang. ’’Lapangan ini terdiri atas sekitar 40 panel. Seperti puzzle. Butuh enam sampai tujuh jam untuk pemasangannya,’’ jelas Freshour.

Dari sana saya diajak masuk ke ruang-ruang ganti. Yang pertama, ruang ganti para personeldance team yang seksi-seksi. ’’Halo, ada orang di dalam?’’ teriak Freshour ketika akan membuka pintu masuk.

Aman, tidak ada orang, maka kami pun ke dalam. Ruang ganti itu cukup fungsional. Ada sekitar 15 bilik, satu untuk setiap personel. Ada meja di tengah untuk ’’rapat’’, ada ruang terpisah lagi untuk menyimpan berbagai perlengkapan.

Dari sana kami ke ruang ganti tim lawan. Kebetulan, ruang ganti Kings sedang dipakai. Jadi, kami tak bisa masuk. Ruang ganti Trail Blazers itu masih kosong karena tim akan datang sorenya. Tapi, berbagai jersey dan sepatu pemain sudah tertata rapi di setiap bilik pemain. Tinggal datang, ganti baju, lalu main.

Dari situ ke ruang wasit. Ketika masuk, saya langsung tertawa. ’’Ternyata di seluruh dunia wasit memang paling dianaktirikan. Ruangannya selalu paling sederhana dan paling kecil,’’ ucap saya kepada Freshour, dibalas dengan tawa.

Saking kecilnya ruang itu, ruang ganti untuk wasit di DBL Arena Surabaya ternyata lebih besar. Sama-sama punya cermin besar, tapi yang di Surabaya sudah dilengkapi kamar mandi dan toilet.

Bedanya, di ruang wasit Arco Arena ada televisi, timer, dan komputer. ’’Gunanya untuk evaluasi pertandingan sehingga wasit bisa langsung mengirimkan laporan ke NBA setelah pertandingan,’’ jelas Freshour.

Ruang paling kocak adalah milik Slamson, sang maskot. Entah karena maskot itu berupa singa atau apa, ruang kerja/gantinya benar-benar dibuat seperti kandang. Bukan ruangan berdinding, melainkan salah satu sudut Arco Arena di bawah tribun, dibatasi dengan terali-terali yang dilapisi kain.

Di dalamnya pun berantakan seperti kandang binatang yang tertutup! Bedanya, singa yang satu ini bekerja untuk tim NBA. Jadi, ada komputer lengkap di situ. ’’Sayang, orang yang bekerja sebagai Slamson sedang keluar. Kalau ada, ingin saya kenalkan. Orangnya seru!’’ kata Freshour.

Kami pun melewati berbagai gudang penyimpanan barang-barang kebutuhan pertandingan Kings. Di salah satu jalur akses masuk gedung yang besar ada sebuah trailer besar dengan berbagai kabel. Di dalamnya ternyata ada dua ruangan serta puluhan monitor dan perlengkapan lain. Rupanya, itulah trailer tim siaran langsung. Pakai trailer karena bisa pindah-pindah tempat.

Lalu, kami mengunjungi ruang-ruang kerja tim entertainment. Vannucci punya ruangan sendiri, dihiasi gambar-gambar penonton atau personel dance team. Brazelton dan Freshour punya bilik kerja di depan ruangan itu.

Yang ruangannya paling seru adalah tim video production Kings. Besar dengan puluhan monitor dan perlengkapan. Merekalah yang memproduksi video-video seru untuk promosi tim dan untuk ditampilkan di monitor empat sisi yang menggantung di tengah arena. Sekaligus membuat berbagai keperluan grafis untuk mendukung video-video tersebut.

Saat keliling-keliling, baik dipandu Freshour maupun Vannucci, kami sering harus bolak-balik karena salah arah. Empat sisi Arco Arena memang terlihat sama, dengan empat pintu yang berdesain mirip, hanya beda nama dan nomor.

’’Meski sudah dua tahun bekerja di sini, sekarang pun saya masih harus jalan terus keliling untuk menemukan tempat yang ingin saya tuju,’’ ungkap Vannucci.

Sebuah tim NBA memang seperti tim produksi besar!

***

Dari kunjungan ’’di balik layar’’ ini, yang paling seru mungkin ketika saya diajak Freshour jalan-jalan di langit-langit Arco Arena. Di atas itu segala perlengkapan lighting dan pertunjukan terpasang. Dari atas pula, banyak hal pendukung acara seru dimulai.

Misalnya, dari atas itu panitia sering melemparkan balon-balon atau hadiah-hadiah ke bawah, ke arah tribun. Dari atas itu juga beberapa pengisi acara –seperti maskot– turun menggunakan tali dan mengundang tepuk tangan heboh penonton.

Untuk menuju ke atas, kami harus melewati lift barang khusus. Pencet lantai lima dan kita pun berada di tempat yang sangat jarang dilalui orang. Freshour bilang, dirinya sebenarnya agak enggan ke lantai atas, lalu jalan-jalan tepat di atas lapangan, tepat di bawah atap gedung. ’’Terus terang saya takut ketinggian. Tapi, demi kamu, hari ini saya naik. Ha ha ha,’’ ucapnya.

Kami berjalan pelan-pelan di jalur-jalur besi yang berlubang-lubang. Bayangkan, sambil berjalan, di bawah kaki kita kita bisa melihat tembus sampai ke dasar gedung! Lumayan serem. Tapi, kalau kita terus fokus melihat ke depan, harusnya tidak masalah.

Dari atas, pemandangan memang seru. Bisa melihat lurus ke bawah, ke arah logo Kings tepat di tengah lapangan. Kebetulan, waktu itu ada banyak anak kecil bermain basket di lapangan.

Kok boleh? Kata Scott Freshour, itu salah satu bagian dari cara mereka menjual lebih banyak tiket pada masa krisis ekonomi ini. ’’Saya tidak hafal detailnya. Tapi, kalau tidak salah, kalau ada grup yang membeli tiket dengan jumlah banyak, mereka boleh main-main di lapangan siang hari sebelum pertandingan resmi,’’ jawabnya.

Situasi ekonomi di Amerika, sudah bukan rahasia lagi, memang sedang tidak nyaman. Kawasan Sacramento termasuk yang kena dampak besar. Tim-tim NBA saat ini benar-benar harus menguras otak untuk menarik lebih banyak penonton.

Sebentar foto-foto di atas, kami pun kembali turun. Sorenya saya diminta kembali pukul 17.30, meski pertandingan sebenarnya baru dimulai pukul 19.00. Kata Freshour, kalau datang dini, ada banyak fasilitas VIP yang bisa saya dapatkan sebelum menonton.

(bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com

Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (1/3)

8 April 2010

Commissioner Development Basketball League (DBL) Indonesia Azrul Ananda baru saja kembali dari Amerika Serikat. Di sana dia menjadi tamu khusus tim NBA Sacramento Kings, melihat rumitnya di balik layar sebuah pertandingan di Arco Arena.

26458_10150146142740123_100404940122_11380190_2761371_n

Segalanya, walaupun kecil, kalau dikerjakan dengan serius, bisa membuahkan hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saya percaya betul itu.

Pada 2004 memulai sebuah liga basket sederhana di Surabaya, sekarang liga itu sudah menjadi Development Basketball League (DBL), liga pelajar terbesar dalam sejarah Indonesia. Liga itu kemudian melangkah lebih jauh: Tahun ini ikut mengelola Indonesian Basketball League (IBL), liga profesional tertinggi di tanah air.

Jauh bukan?

Dari yang kecil dulu, ketika dikerjakan secara serius, berbagai pintu peluang terbuka di berbagai penjuru dunia. Salah satu di antaranya, membuka hubungan dengan sesuatu yang 15 tahun lalu hanyalah menjadi impian saya. Malah mungkin, memimpikannya saja belum tentu berani.

Akhir pekan lalu (1–4 April) saya menjadi tamu VIP Sacramento Kings, klub NBA yang bermarkas di ibu kota Negara Bagian California. Tinggal di suite hotel yang juga menjadi ’’rumah’’ beberapa pemain, mendapat akses penuh untuk menengok segala persiapan pertandingan di Arco Arena, termasuk memasuki ruangan-ruangan yang seharusnya tidak boleh dimasuki orang luar.

Sebagai bumbu, Sabtu lalu (3/4) saya dan keluarga mendapat tiket nonton pertandingan di kursi impian penggemar NBA. Kursi baris terdepan alias courtside.

***

Seminggu di Amerika Serikat, niat sebenarnya adalah setengah liburan-setengah bekerja. Liburan, jalan-jalan sekaligus mengunjungi teman-teman lama ketika kuliah di California State University Sacramento pada akhir 1990-an. Bekerja, karena mengunjungi beberapa kota dan organisasi untuk persiapan mengirim tim DBL Indonesia All-Star 2010, tim berisikan pemain-pemain SMA terbaik di Honda DBL 2010.

Rencananya, tim putra maupun putri itu terbang pada November mendatang untuk ikut belajar di sejumlah SMA dan menjalani beberapa pertandingan melawan tim-tim muda di AS.

Karena saya dulu kuliah di Sacramento, saya akan mengaku terus terang bahwa Sacramento Kings merupakan tim NBA favorit saya. Ketika saya kuliah (1995–1999), tim itu tidaklah hebat, tapi selalu menjadi kebanggaan kota. Pada awal dekade ini, Sacramento Kings masuk tim elite. Sekarang memang masih di papan bawah, tapi sedang dalam prosesrebuilding, membangun ulang untuk masa depan.

Dulu untuk bisa nonton Kings membutuhkan perjuangan. Tiket selalu sold out dan harga disecondary market (calo dan lain-lain) berlipat-lipat. Beruntung, teman Indonesia saya ada yang tinggal bersama keluarga angkat, yang bekerja part time untuk Arco Arena. Kadang kami kebagian jatah tiket orang yang tidak terpakai. Kadang kursi lumayan, kadang kursi paling atas.

Tidak apa-apa, yang penting dapat kursi di gedung berkapasitas sekitar 15 ribu penonton tersebut.

Pernah, karena waktu itu memang tidak punya banyak duit, ketika pengin nonton hanya dapat tiket termurah. Pada 1995, kami beli tiket 8 dolaran (sekarang Rp 70 ribuan). Itu bukan untuk duduk. Kami harus naik lift ke lantai empat. Setelah itu mencari kursi nun jauh di atas. Tidak untuk duduk, melainkan berdiri di belakangnya!

Ya, di NBA, ada ’’petak-petak’’ untuk penonton yang berdiri. Di belakang kursi paling belakang ada garis-garis membentuk kotak yang bernomor, menunjukkan tempat pemegang tiket harus berdiri. Akhir pekan lalu saya lihat petak-petak itu masih ada!

Waktu itu untuk bisa nonton dengan tiket berdiri saja sudah senang bukan kepalang. Tidak pernah terbayang kalau belasan tahun kemudian kenal dengan Sacramento Kings dan dapat akses penuh di Arco Arena!

***

PT DBL Indonesia, penyelenggara Honda DBL 2010 (dan sekarang IBL), mulai bekerja sama dengan NBA pada 2008. Waktu itu mulai kenal langsung dengan Sacramento Kings. Kenalannya di Manila, Filipina, waktu dance team mereka ikut tampil di NBA Madness di sana.

Tahun 2009, kami menjadi makin kenal. Bintang Kings waktu itu, Kevin Martin, menjadi bintang tamu di final Honda DBL 2009 di Jawa Timur dan Indonesia Development Camp 2009. Waktu itu saya dan DBL Indonesia dapat perhatian di Sacramento, bahkan sempat masuk koran setempat di sana, Sacramento Bee.

Itu menyenangkan sekali buat saya karena hingga sepuluh tahun lalu Bee adalah bacaan harian saya. Mereka menganggap DBL itu unik, karena ada ’’garis hubungan’’ dengan kota Sacramento, karena saya lulusan kuliah di sana.

Sejak tahun lalu pada dasarnya Kings sangat ingin saya datang mengunjungi tim tersebut. Saya juga sangat ingin ke sana, melihat langsung segala hal di balik layar di sebuah tim NBA. Baru April ini keinginan itu bisa terwujud.

Sayang, Kevin Martin sudah tidak lagi di Kings. Dia akan menjadi bintang besar di Houston Rockets, digadang-gadang sebagai partner utama pemain asal Tiongkok, Yao Ming, pada musim 2010–2011 nanti.

Begitu tiba di AS pekan lalu, saya sudah aktif kontak-kontakan dengan Scott Freshour, MC pertandingan Kings yang satu almamater di California State University Sacramento. Dia bilang sudah menyiapkan banyak kejutan.

Sebenarnya diajak untuk melihat-lihat kegiatan di balik layar saja sudah lebih dari cukup bagi saya. Tapi, ternyata Kings menyiapkan lebih. Begitu tiba, kami dijamu dengan kamar hotel suite di Embassy Suites, salah satu hotel terbaik Sacramento di kawasan downtown. Tepat di depan Tower Bridge berwarna emas, ikon kota, dan satu jalan dengan State Capitol, tempat Gubernur Arnold Schwarzenegger bekerja.

Hotel itu memang partner utama Kings. Beberapa pemainnya, yang tidak punya rumah di Sacramento, ikut menginap di sana. Sebagai bukti kerja sama, setiap malam logo besar Kings ’’disinarkan’’ ke dinding luar hotel, terlihat jelas dari jalan tol yang melintasi tengah kota.

Jumat malam lalu (2/4), di sebuah restoran Jepang di tengah kota, Freshour mempertemukan saya dengan dua bos departemen entertainment Kings, Tom Vannucci (direktur kreatif) dan Maurice Brazelton (bos operasional entertainment saat pertandingan berlangsung).

Malam itu ikut bergabung Joe Prunty, asisten pelatih Portland Trail Blazers, lawan yang dijamu Kings Sabtu malamnya (3/4). Pada Agustus 2009, Prunty datang ke Surabaya bersama Kevin Martin, menjadi pelatih pemain-pemain terbaik Honda DBL 2009 di Indonesia Development Camp 2009.

Prunty malam itu datang pakai batik, yang dia dapat ketika di Surabaya. Ketika muncul, dia pun menyapa dengan ucapan ’’Selamat malam’’. Dia memang pelatih luar biasa, sangat disukai peserta camp saat di Surabaya.

Lebih banyak untuk saling berkenalan, malam itu saya menyadari bahwa pihak Kings dan Trail Blazers ternyata cukup kompak. Mereka boleh bersaing, tapi ternyata di balik layar banyak saling membantu.

Vannucci titip pesan untuk Trail Blazers lewat Prunty. Katanya, tim entertainment Kings sangat diterima dengan baik ketika ingin melihat dapur kerja Trail Blazers di Portland, beberapa waktu lalu. ’’Mereka sangat membuka diri, tidak ragu menunjukkan segala hal yang kami butuhkan,’’ kata Vannucci.

Keterbukaan itu pula yang ingin dilanjutkan Kings kepada saya, dalam hal ini DBL Indonesia. Saling berbagi, saling membantu. ’’Kalau DBL ingin mengirimkan staf untuk belajar, kami siap menerima dengan tangan terbuka,’’ ucap Vannucci.

Sabtu keesokan harinya (3/4), siang sebelum pertandingan, dapur Kings pun terbuka lebar untuk saya pelajari. Saat pertandingan melawan Trail Blazers pun, saya diberi tahu sudah disiapkan kursi istimewa, dengan kejutan ekstra saat pertandingan berlangsung.

(Bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com