Formula 1 dan Austin, Ibu Kota Texas yang Bangga Disebut Aneh (4-Habis)

RABU, 21 NOVEMBER 2012

BIKIN FILM FORMULA 1: (Dari kiri) Anton Hadiyanto, Agus Wahyudi, Ron Howard, dan Azrul Ananda di Media Center Circuit of the Americas, Austin. Howard, sutradara The Da Vinci Code, kini sedang menyelesaikan film bertema Formula 1 untuk dirilis pada September 2013. FOTO JPNN

Tahun Depan, Coba Gebrak Amerika via Hollywood
Sukses di Texas, Formula 1 masih butuh banyak upaya mendapatkan hati di mainstream Amerika. Pada 2013, upaya meraih popularitas itu dijalani lewat layar lebar. Sukses. Sukses. Sukses. Ucapan itu terus dilontarkan untuk penyelenggaraan perdana Grand Prix Amerika Serikat di lintasan ultramodern Circuit of the Americas (COTA), Austin, Texas, akhir pekan lalu (16–18 November).
Bagi penyelenggara di Texas, tantangannya adalah bagaimana membuat lomba ini terus sukses hingga sepuluh tahun ke depan.

Bagi Formula 1, tantangannya lebih besar lagi: Bagaimana membuat seri balap ini benar-benar berpijak kukuh di Negeri Paman Sam. Itu tidak bisa dilakukan hanya dalam setahun atau dua tahun. Ross Brawn, bos Mercedes, merangkumnya secara pas.

“Saya kira akan butuh waktu cukup lama untuk membangun (popularitas F1 di Amerika). Ini bukan tempat di mana kita bisa datang, lalu berharap pemirsa Amerika langsung memperhatikan dan memahami segalanya,” tuturnya.

“Kita ingin meluangkan banyak waktu mengembangkan penggemar. Bahwa lomba (pertama) ini sold out, itu menunjukkan ada basis antusiasme terhadap F1 di Amerika. Kita harus mengembangkan antusiasme itu,” lanjut Brawn.

Melihat langkah dan keputusan yang dibuat Bernie Ecclestone, bos komersial F1, dalam beberapa tahun terakhir, tampaknya, memang ada rencana bertahap jangka panjang itu.

Balapan di COTA rencananya bukanlah satu-satunya Grand Prix F1 di Amerika. Lomba kedua sudah diluncurkan di New Jersey. Sebuah lomba jalanan (street race) dengan latar belakang skyline Kota New York yang spektakuler.

Semula, lomba itu sudah akan digelar pada 2013. Tapi, karena beberapa kendala, akhirnya ditunda mulai 2014.

Kalau balapan di New Jersey itu jadi, F1 akan punya pijakan di dua tempat dengan karakter yang sangat berbeda. Balapan di Austin menyentuh “Amerika kebanyakan.” Sementara itu, balapan di New Jersey akan menjadi show di kawasan pusat perputaran uang utama.

Tentu saja, sekadar menyelenggarakan lomba tidak cukup.

Untuk tayangan televisi, F1 juga sudah melakukan langkah. Selama ini, F1 ditayangkan oleh Speed TV, sebuah saluran kabel. Bagi penggemar fanatik F1, itu bukan masalah. Untuk memperluas “sentuhan” tentu tidak cukup.

Balapan di Texas pada Minggu (18/11) ditayangkan secara terrestrial oleh NBC. Pada dasarnya bisa ditonton di seluruh kawasan Amerika.

Sayangnya, jadwal tidak 100 persen menolong. Pada Minggu yang sama, lomba penutup seri balap NASCAR juga diselenggarakan di Homestead, Florida. Lomba itu menjadi ajang penentuan juara, ditayangkan dalam jam yang hampir sama.

Di Amerika, NASCAR adalah raja balap mobil. Bahkan popularitas NASCAR mampu bersaing dengan olahraga lain seperti NBA dan bisbol.

Di luar masalah tabrakan jadwal itu, seharusnya F1 tetap mencapai lebih banyak pemirsa daripada tahun-tahun sebelumnya.

Langkah F1 tidak berhenti sampai di tayangan televisi. Untuk benar-benar “masuk” ke mainstream Amerika, upaya lanjutan juga dilakukan lewat jalur Hollywood.

Sebuah film layar lebar berjudul Rush akan diputar luas pada September 2013. Studio pembuatnya adalah Universal dengan sutradara superkondang, Ron Howard.

Ya, Ron Howard yang sama dengan yang menang Oscar lewat film Beautiful Mind. Ya, Ron Howard yang sama dengan yang menyutradarai Apollo 13 dan The Da Vinci Code.

Pilihan bintang filmnya pun tidak main-main. Pemeran utamanya adalah Chris Hemsworth, aktor asal Australia yang melejit lewat film superhero Thor dan The Avengers. Plus Olivia Wilde, aktris yang sedang laris membintangi banyak film blockbuster.

Rush bukanlah dokumenter. Rush adalah film action yang berdasar kisah nyata, persaingan sengit perebutan gelar juara dunia Formula 1 1976.

Hemsworth akan memerankan mendiang James Hunt, pembalap Inggris yang dikenal memiliki gaya hidup playboy. Pada 1976, Hunt merebut gelar setelah bersaing supersengit, mati-matian, melawan Niki Lauda (diperankan Daniel Bruhl).

Pada GP AS di COTA, Howard tampak aktif di paddock. Melayani pula serangkaian wawancara untuk mempromosikan Rush. Syuting film itu sendiri sudah selesai. “Sekarang, kami sedang proses pascaproduksi, menyelesaikan segala special effect, dan Hans Zimmer sedang menyiapkan musiknya,” kata Howard.

Ketika di Austin, Howard mengaku senang dengan respons terhadap Rush. “Sirkuit ini begitu penuh sesak. Saya lega ada begitu banyak orang menanyai saya kapan Rush mulai diputar,” ujarnya.

Niki Lauda, salah satu tokoh yang diperankan di film itu, juga ikut hadir di paddock COTA selama GP AS berlangsung.

Cerita Lauda pada 1976 itu sangatlah mengerikan dan heroik. Mobilnya sempat kecelakaan dan dia terbakar hidup-hidup. Belum pulih 100 persen luka bakarnya, Lauda sudah turun lagi pada akhir musim untuk mencoba merebut gelar.

Selama akhir pekan GP AS, Howard bukan satu-satunya sosok “Hollywood” yang hadir di sirkuit.

Dari kalangan aktor, ada dua wajah superkondang berkeliaran. Ada Patrick Dempsey “McDreamy” yang kondang lewat serial televisi Grey’s Anatomy serta berkiprah di layar lebar via Valentine’s Day dan Transformers: Dark of the Moon.

Dempsey sendiri punya hobi balapan, punya kesibukan sampingan sebagai pembalap amatir. Jadi, dia datang bukan sekadar sebagai bintang tamu.

Dari jalur komedi, hadir pula Matt LeBlanc yang superkondang di seluruh dunia lewat peran Joey Tribbiani di serial komedi Friends.

Selama di paddock, LeBlanc, kini 45 tahun, tak bisa bergerak bebas. Ke mana pun dia pergi, banyak personel F1 yang memburunya untuk diajak foto bersama.

Namun, nama-nama di atas itu bukanlah yang paling diburu di paddock COTA. Ada satu orang lagi yang jauh lebih diserbu dan dia punya kekuatan jauh lebih besar lagi di industri film Amerika.

Dia adalah George Lucas (68), pencipta Star Wars.

Lucas datang sebagai tamu Lotus-Renault yang disponsori Rovio Entertainment, produsen Angry Birds. Apa kaitannya? Sebab, mobil hitam-emas Lotus di Austin dihiasi dengan stiker Angry Birds-Star Wars.

Lucas baru-baru ini memang menjadi sorotan dunia ketika memutuskan untuk menjual studio filmnya dan seluruh hak atas Star Wars kepada Disney dengan harga hingga USD4 miliar atau Rp40 triliun!

Ini bukanlah kehadiran pertama Lucas di sirkuit F1. Penggemar berat otomotif, Lucas juga hadir di GP Monaco awal musim ini. Tahun-tahun sebelumnya, dia juga beberapa kali datang nonton balapan F1.

Kehadiran tokoh-tokoh Hollywood ini memang membantu menjadikan GP AS di COTA jadi lebih glamor. Tapi, pada akhirnya sirkuit itu sendiri, ratusan ribu penontonnya, dan lombanya yang membuat akhir pekan berakhir dengan istimewa.

Sebastian Vettel memang tidak berhasil mengunci gelar juara dunia di Austin. Dia disalip Lewis Hamilton yang menjadi orang pertama meraih juara lomba di COTA (sekaligus orang terakhir yang menang GP AS di Indianapolis pada 2007).

Fernando Alonso berada di urutan ketiga, memastikan perebutan gelar berlanjut sampai seri penutup di Brazil, 25 November 2012.

Terima kasih, Austin. Terima kasih, Texas. Semoga tahun depan jauh lebih heboh lagi! Semoga tahun depan segala problem sudah teratasi! (ary)

Advertisements

Formula 1 dan Austin, Ibu Kota Texas yang Bangga Disebut Aneh (3)

SELASA, 20 NOVEMBER 2012

PEDICAB CEWEK GAUL: Ada banyak becak berseliweran siap mengantar turis di Austin. Kebanyakan sopirnya anak muda gaul, tidak sedikit yang perempuan. Tarifnya minimal USD10 per penumpang. FOTO DEWO PRATOMO FOR JAWA POS

Sopir Becak Cewek Gaul, Tarif Minimal USD10 per Orang
Ajang perdana Grand Prix Amerika Serikat di Austin sangat layak dibilang sukses. Sekarang semua pihak berharap, semoga Formula 1 terus berlangsung hingga minimal sepuluh tahun ke depan.

Berikut catatan AZRUL ANANDA yang meliput langsung Grand Prix Amerika Serikat bersama AGUS WAHYUDI dan ANTON HADIYANTO dari Austin, AS
Penyelenggaraan perdana Grand Prix Amerika Serikat (GP AS) di Austin berakhir Minggu kemarin (18/11, Senin dini hari tadi WIB). Apa pun hasil lomba, secara keseluruhan even itu sudah layak disebut sukses besar.

Circuit of the Americas (COTA) langsung menjadi salah satu favorit tim dan pembalap. Fasilitas dan standarnya ultramodern, walau belum 100 persen jadi. Layout lintasannya spektakuler, terus mengundang acungan jempol para bintang.

’’Sangat mudah untuk datang ke sebuah fasilitas grand prix baru, lalu memandangnya dengan sebelah mata. Tapi, saya rasa tidak ada yang seperti itu di sini (COTA, Red). Tak perlu dimungkiri lagi, ini fasilitas kelas dunia. Dibangun mulai nol, saya yakin tempat ini segera mendapat reputasi sebagai salah satu sirkuit terbaik di dunia,’’ puji Martin Whitmarsh, bos tim papan atas McLaren-Mercedes.

Keunggulan COTA, lanjut Whitmarsh, adalah suasananya yang terasa  ’’manusiawi’’, menjadikannya tempat yang nyaman untuk didatangi. Memang, banyak yang merasa fasilitas modern lain di F1 terasa  ’’dingin’’. Terlalu modern dan canggih, tapi jadi tak terasa  ’’ramah’’.

Segala pujian tersebut dibarengi sambutan penonton yang mengagumkan. Dari segi jumlah, GP AS mampu mempermalukan balap F1 lain di mana pun di belahan bumi ini.

Total lebih dari 65 ribu penonton sudah memadati tribun saat latihan hari Jumat (16/11). Lebih dari 80 ribu penonton membanjiri sirkuit saat kualifikasi Sabtu (17/11). Dan sekitar 120 ribu diperkirakan menyesaki lintasan ketika lomba.

Mungkin, hanya balapan-balapan  ’’tradisional’’ F1 paling bersejarah yang bisa mengalahkan. Misalnya, Monaco atau GP Italia di Monza atau GP Inggris di Silverstone.

Saat babak kualifikasi Sabtu, beberapa rombongan fans F1 asal Indonesia yang hadir ikut menyampaikan kekaguman.  ’’Suasananya luar biasa. Orangnya ramah-ramah, gayanya asyik-asyik,’’ puji Sugeng Hariyadi, F1 Mania asal Surabaya yang pernah menonton F1 di sembilan negara.

Dengan sukses menuai pujian dan menyedot penonton itu, sekarang semua pihak pun menatap ke depan. Bahkan jauh ke depan. Semua berharap, GP AS di ibu kota Texas itu bisa bertahan untuk jangka panjang.

Jangan sampai seperti rumah terakhir F1, di Indianapolis Motor Speedway, Indiana. Lomba di ibu kota balap Amerika tersebut menuai sukses luar biasa ketika kali pertama digelar pada 2000. Bahkan, menyedot penonton sampai 150 ribu orang.

Semua penasaran, bagaimana mobil-mobil F1 bisa melaju di lintasan hybrid, kombinasi antara lintasan oval asli dan bagian road racing baru yang dibangun di tengah-tengahnya.

Namun, perlahan tapi pasti, jumlah penonton terus menurun. Ditambah skandal ban pada 2005, yakni hanya enam mobil mengikuti start lomba, masa depan F1 di Indianapolis pun langsung suram.

Benar saja, lomba 2007 menjadi yang terakhir di Indianapolis. Secara komersial, sama sekali tidak ada prospek yang baik untuk F1 maupun sirkuit sebagai penyelenggara.

COTA sendiri memegang kontrak untuk menyelenggarakan F1 selama sepuluh tahun. Mereka sekarang akan berjuang keras supaya itu terwujud. Kalau bisa, COTA bisa menyamai rekor Sirkuit Watkins Glen di New York, yang pernah jadi tuan rumah F1 selama 20 tahun, pada 1961″1980.

Mario Andretti, legenda balap dunia yang jadi duta alias official host selama akhir pekan F1, menyebutkan satu alasan mengapa GP AS akan bertahan lama di Texas: Karena COTA adalah sirkuit yang dibangun khusus untuk F1. Dibuat khusus untuk menunjukkan kehebatan mobil F1.

’’Beda dari sirkuit lain yang berupa sirkuit jalanan atau sirkuit lama yang dimodifikasi,’’ tegas Andretti, 72, yang pernah jadi juara dunia F1 (1978), juara Indy Car, serta juara lomba NASCAR.

Perbandingan terbaik COTA, lanjut Andretti, adalah dengan Watkins Glen.  ’’Andai dulu Watkins Glen terus dikembangkan, mungkin F1 akan terus bertahan di sana,’’ ungkapnya.

Selain itu,  ’’keanehan’’ kota Austin juga bisa menjadi senjata agar penggemar F1 terus berdatangan setiap tahun.

Kota tersebut memang nyentrik. Semakin lama merasakan kotanya, semakin terasa nyentriknya. Warganya punya gaya asyik, meski tetap terasa ramah. Suasana downtown-nya pun seru. Apalagi kalau malam. Restoran-restoran seru, kafe-kafe seru, menghiasi pusat kotanya.

Untuk mengelilinginya, juga tidak harus jalan atau naik mobil. Ada banyak sekali pedicab (becak berkeliaran). Sopir becaknya muda-muda dan gaul-gaul. Tidak sedikit yang perempuan (dan berdandan keren).

Biaya naiknya pun relatif murah untuk ukuran Amerika. Jauh atau dekat bisa dinego, karena biaya lebih bersifat seperti tip. Penumpang yang duduk di belakang maksimal tiga orang. Tarifnya: Minimal USD10 (Rp100 ribu) per orang.

Ketika terus dicermati, ternyata kota itu juga punya banyak tujuan wisata nyentrik. Misalnya, ada Museum of the Weird, berisi barang-barang yang dipandang aneh. Museum itu juga punya tur khusus, Haunted House Tour. Peminat diajak naik mobil jenazah yang sudah dimodifikasi jadi limusin. Lalu, diajak keliling kota, mengunjungi situs-situs “berhantu” di Austin.

Weird (aneh) bukan? Jangan lupa, Austin punya slogan tak resmi:  ’’Keep Austin Weird’’ alias  ’’Jagalah Keanehan Austin’’.

Dukungan pemerintah Austin (serta Texas) juga, tampaknya, lebih dari Indianapolis. Event F1 merupakan hasil kolaborasi swasta dengan pemerintah. Dan pemerintah setempat punya insentif khusus yang bisa memacu semangat penyelenggaraan: Adanya dukungan dana tambahan pemerintah, bila even itu terus sukses mendatangkan pengunjung dari luar negeri atau luar negara bagian Texas.

Totalnya penyelenggaraan tersebut tidak hanya terlihat di COTA. Selama akhir pekan F1, downtown Austin juga ditutup sebagian untuk dinikmati warga serta pengunjung. Khususnya di pusat kawasan gaul, di kawasan 6th  Street dan Congress Avenue.

Event Austin Fan Fest benar-benar terasa meriah. Beberapa sponsor besar  khususnya yang terlibat di F1  membuka tenda atau kawasan raksasa tempat pengunjung bisa menikmati berbagai atraksi serta permainan.

Ada pula toko-toko suvenir, pameran mobil antik, booth-booth makanan, dan lain sebagainya.

Untuk menambah kehebohan, sejumlah konser digelar di berbagai penjuru kota. Menampilkan bintang-bintang kelas dunia seperti Aerosmith, Flo Rida, dan Enrique Iglesias. Intinya, turis datang tidak hanya untuk F1, melainkan untuk menikmati seluruh kota.

Sementara dari sisi F1, upaya lain juga telah dilakukan agar ajang balap itu makin mendapat tempat di hati publik Amerika. Yaitu, jalur Hollywood. Di Austin, jalan ke arah sana sudah terlihat. (ary)

Formula 1 dan Austin, Ibu Kota Texas yang Bangga Disebut Aneh (2)

 SENIN, 19 NOVEMBER 2012

ANTRE 2 KM: Penonton harus antre hingga lebih dari dua kilometer untuk naik shuttle bus kembali ke arah Kota Austin usai babak latihan Grand Prix Amerika Serikat di Circuit of the Americas. FOTO AGUS WAHYUDI/JPNN

Biaya Hotel Melangit, Pilih Menginap di Luar Kota
Circuit of the Americas adalah lintasan yang menawan. Kota Austin sebenarnya juga nyentrik-asyik. Namun, kota itu mungkin belum siap menerima kedatangan ratusan ribu turis berduit penggemar F1.

Berikut catatan AZRUL ANANDA yang meliput langsung Grand Prix Amerika Serikat bersama AGUS WAHYUDI dan ANTON HADIYANTO dari Austin, AS
Mengapa Austin untuk Formula 1? Pertanyaan itu terus disampaikan banyak orang. Malah mungkin oleh orang di Amerika, bukan oleh penggemar F1 yang datang dari berbagai penjuru dunia.Bukankah ada kota-kota yang lebih hebat di Amerika? Di negara bagian Texas saja, ada tiga kota lain yang lebih besar: Dallas, San Antonio, dan Houston.Tapi, bukan berarti ini meremehkan Austin. Bagaimanapun, mereka sudah keluar banyak uang (swasta maupun pemerintah), sudah banyak berantem (soal investasi dan lain-lain), untuk mendatangkan F1.

 Kurang lebih, pemerintah setempat membayar biaya hak penyelenggaraan F1 sepuluh tahun ke depan (kabarnya USD30 juta atau Rp300 miliar per tahun). Sedangkan pihak swasta membangun lintasan dan menyelenggarakan lomba.

Austin mungkin cocok untuk turis/penonton F1. Kota itu dikenal unik dan  ’’berkarakter’’.

Di tengah-tengah negara bagian Texas yang banyak dipandang ’’katrok’’, kota itu justru sangat gaul dan liberal. Ketika Partai Republik (dikenal konservatif) meraih kemenangan secara umum di Texas, Partai Demokrat (condong liberal) justru sangat kuat di Austin. Ironis, mengingat Austin adalah ibu kota pemerintahan Texas!

Mungkin karena komposisi masyarakatnya (Austinites) yang sangat heterogen. Ada banyak pekerja pemerintahan. Ada banyak warga perguruan tinggi yang datang dari luar negeri atau berbagai penjuru Amerika (University of Texas terletak di downtown Austin). Ada banyak musisi. Ada banyak karyawan perusahaan modern (teknologi serta pharmaceutical).

Austin sendiri mempromosikan diri sebagai Ibu Kota Live Music Dunia. Setiap tahun ada dua even musik raksasa di sana, Austin City Limits dan South by Southwest, mendatangkan bintang-bintang terbesar dari berbagai penjuru dunia.

Secara tidak resmi, Austin punya slogan Keep Austin Weird. Tulisan tersebut dan suvenir-suvenir bertulisan itu bisa dengan mudah didapat sejak kita mendarat di Austin-Bergstrom International Airport.

”Ayo Jaga Keanehan Austin” itu memang bikin geleng-geleng kepala. Ada situs resminya. Isinya menyampaikan bahwa ”keanehan” bukan sekadar lewat sikap dan gaya hidup. Melainkan juga lewat hal-hal unik yang bisa didapati kalau kita rajin keliling kota berwarga sekitar 800 ribu orang itu.

Oh, ada satu lagi yang menarik: Austin dikenal punya udara bersih karena termasuk paling ketat dalam menerapkan aturan no smoking! Bukan hanya dilarang merokok di dalam gedung. Di sekitar pun ada aturannya. Sebuah toko sepeda di downtown, misalnya, memasang tulisan larangan merokok hingga jarak 15 kaki (hampir 5 meter) dari batas gedung!

Bila Austin adalah kota yang menarik untuk dikunjungi, infrastrukturnya mungkin masih terkaget-kaget dengan sambutan untuk Grand Prix Amerika Serikat akhir pekan ini.

Diperkirakan ada 300 ribu orang keluar-masuk Circuit of the Americas (COTA) selama akhir pekan lomba (termasuk pengulangan). Sebanyak 100 ribu sampai 120 ribu di antaranya tumplek bleg pada hari Minggu, saat lomba diselenggarakan.

Ketika babak latihan hari Jumat saja (16/11), puluhan ribu orang sudah terlihat memadati tribun-tribun COTA. Jumlah yang membuat banyak pihak terkagum-kagum. Termasuk Mario Andretti, legenda balap dunia yang jadi ambassador COTA. ”Luar biasa, luar biasa, luar biasa,” komentar Andretti, yang kini 72 tahun, Jumat itu.

Pria yang pernah jadi juara dunia F1, juara NASCAR, juara Indy 500, dan lain-lain itu sampai kehabisan kata-kata.

Magnet penonton jadi semakin kuat, mengingat GP AS tahun ini bisa menjadi ajang kunci gelar. Yaitu bila Sebastian Vettel (Red Bull-Renault) mengakhiri lomba dengan total poin 25 lebih banyak atas Fernando Alonso (Ferrari).

Apa saja yang terkaget-kaget? Pertama, hotel. Total, disebut ada 32 ribu kamar hotel di seluruh kawasan Austin. Rupanya, jumlah itu tidak cukup atau kurang menarik karena harganya yang gila-gilaan.

Akhir pekan ini, sangat sulit menemukan kamar hotel dengan harga di bawah USD400 (Rp4 juta) semalam. Termasuk yang bintang 2 atau bintang 3. Mau hotel terbaik di downtown” Tarifnya sampai lebih dari USD1.500 (Rp15 juta semalam). Harga itu kira-kira tiga kali lebih besar daripada harga normal.

Karena hotel di Austin penuh atau kemahalan, banyak orang yang memilih menginap di kota-kota sekitar. Termasuk rombongan media. Agnes Carlier, wartawan Prancis yang sudah puluhan tahun keliling dunia meliput F1 (dan sempat bekerja untuk tim F1), termasuk salah satu yang memilih menginap di San Antonio. ”Karena harga hotel di sana lebih masuk akal,” ucap dia.

Setiap pagi, Carlier naik mobil dari San Antonio ke COTA, yang jaraknya sekitar 120 km. Sore atau malam, balik lagi dari COTA ke San Antonio.

Jarak 120 km masih lumayan. Tidak sedikit yang harus menginap di Houston, yang jaraknya lebih dari 250 km dari Austin! Kalau naik mobil, butuh tiga jam dari Houston menuju Austin (dan sebaliknya).

Yang terkaget lain: bisnis sewa mobil. Di Amerika, punya mobil seperti kewajiban. Ke mana-mana ada highway. Akhir pekan ini, tidak ada satu pun mobil sewaan tersedia di Austin. Bahkan, sudah tidak ada satu pun mobil sewaan tersedia hingga San Antonio!

Tanpa mobil, para penonton (khususnya dari luar Amerika) harus siap-siap repot. Harus siap-siap juga banyak jalan kaki. Kalau mau taksi, Austin punya banyak. Tarifnya pun relatif wajar untuk ukuran Amerika. Pada hari normal, dari bandara ke downtown hanya sekitar USD25 atau Rp250 ribu. Kurang lebih sama dengan dari Bandara Soekarno-Hatta ke arah tengah kota Jakarta.

COTA terletak di sebelah bandara Austin, jadi seharusnya tarif tidak terlalu beda. Itu seharusnya. Kenyataannya, taksi bukanlah kendaraan ideal ke sirkuit. Pertama, jumlahnya mungkin terlalu sedikit. Jumlahnya mungkin tak sampai 1.000 unit untuk seluruh kota. Perusahaan taksi terbesar, Yellow Cab, hanya punya 450-an unit.

Untuk memenuhi kebutuhan ratusan ribu penggemar F1, khususnya saat lomba hari Minggu, jelas jumlah itu ”mengerikan” kurangnya. Andai naik taksi pun, penonton tidak akan dapat kenyamanan ekstra. Khususnya saat tiba di lintasan. Untuk lomba pertama itu, penyelenggara –dan sepertinya pemerintah setempat– benar-benar ketat dalam menerapkan banyak aturan. Bahkan bisa dibilang overprotective.

Di jalan menuju sirkuit, mobil polisi terlihat standby di mana-mana. Juga ada mobil sheriff, park rangers, bahkan kendaraan militer. Tidak semua mobil boleh masuk ke kawasan COTA. Mobil tidak boleh sembarangan menurunkan penumpang di kawasan COTA. Kalau naik taksi, ada tempat khusus yang disiapkan untuk menurunkan penumpang. Hebatnya, tempat khusus itu merupakan tanah berkerikil. Belum diaspal sama sekali.

Hebatnya lagi, letaknya bukan di dekat pintu masuk. Dari tempat taksi berhenti, orang harus berjalan sekitar 1 mil (setara 1,6 km) untuk menuju pintu masuk COTA. Plus berjalan jauh lagi menuju tribun masing-masing yang mengelilingi sirkuit sepanjang 5,5 km tersebut.

Kalau tidak mau naik taksi, sebenarnya sudah disiapkan jalur khusus. Dengan membayar flat fee USD40 (Rp400 ribu) sepanjang akhir pekan, penonton bisa pulang pergi dari hotel masing-masing dengan naik shuttle van.

Setiap pagi, mulai pukul 07.00, ada shuttle van yang menjemput penumpang di hotelnya. Kendaraan itu lantas menuju ke dua tempat pengumpulan penonton yang sudah ditetapkan. Lantas, semua penonton diangkut dengan bus ke COTA.

Puluhan, mungkin ratusan, bus dikerahkan akhir pekan ini. Dari dua lokasi (satu di downtown, satu di pinggir kota), orang boleh naik secara gratis ke sirkuit. Syaratnya hanya satu: punya tiket menonton.

Tapi, letak turunnya penumpang bus-bus itu juga tak jauh dengan tempat taksi berhenti. Jadi, tetap harus jalan kaki sekitar 1,6 km menuju pintu masuk sirkuit.

Jumat pagi lalu (16/11), menjelang babak latihan GP AS, seorang penonton sempat nyeletuk ke petugas bahwa sistem itu sangat rawan komplain. ”Bagaimana kalau yang naik taksi itu orang cacat?”

Sang petugas tak bisa menjawab. Itu sama dengan reaksi hampir semua petugas yang akhir pekan ini bekerja di COTA. Mereka pun bingung harus berbuat apa dan bingung apa saja yang sebenarnya ada di COTA.

Jumat sore, ketika puluhan ribu penonton ingin pulang, situasi lebih menyeramkan lagi. Antrean bus memanjang sampai lebih dari 3 km. Ya, sampai 3 kilometer! Untung tertib, untung lancar. Untung ada banyak sekali bus. Walau panjang, penonton ”hanya” butuh 45 menit antre sebelum naik bus.

Sama dengan berangkat, ada dua antrean bus. Menuju dua tempat pemberhentian yang berbeda. Satu di downtown, satu di pinggiran. Dari tempat turun itu, penonton yang menginap di hotel kembali naik shuttle van atau naik kendaraan lain. Banyak orang yang membawa mobil memang disarankan parkir di sekitar tempat pemberhentian bus. Sebab, jumlah mobil yang boleh ke arah sirkuit memang sangat dibatasi.

Untungnya lagi, Austinites dikenal ramah. Semua pertanyaan dan komplain dijawab dengan sangat ramah. Semua kendala mereka coba atasi walau kadang tak tahu harus berbuat apa.

Warga Austin sendiri, mulai sopir taksi, pemilik restoran, sampai pengelola hotel, sudah sadar bahwa akhir pekan ini bakal chaos. Harapannya, untuk semua masalah itu, bisa ditemukan solusi sehingga tahun depan segalanya jauh lebih mulus. Bagaimanapun, warga Austin dan sekitar tentu ingin para turis itu kembali tahun depan, juga seterusnya. Kalau bisa, sampai akhir kontrak GP AS di COTA, yang panjangnya sepuluh tahun.

Diperkirakan para penonton F1 itu datang dan menghabiskan duit total USD300 juta (Rp3 triliun) selama di Austin. Dampak ekonomi yang tidak boleh dianggap enteng. (ary)

Formula 1 dan Austin, Ibu Kota Texas yang Bangga Disebut Aneh (1)

Senin, 19 November 2012 , 00:01:00

Wow, Tikungan Pertama Benar-Benar Mendaki Bukit

TIKUNGAN TINGGI: Wartawan Jawa Pos, Azrul Ananda, di puncak tikungan pertama Circuit of the Americas di Austin, Texas, 15 Nov 2012. Foto: Agus Wahyudi/Jawa Pos
TIKUNGAN TINGGI: Wartawan Jawa Pos, Azrul Ananda, di puncak tikungan pertama Circuit of the Americas di Austin, Texas, 15 Nov 2012. Foto: Agus Wahyudi/Jawa Pos
Austin adalah kota yang bangga disebut “weird” (aneh). Sekarang, ibu kota Texas itu juga punya sirkuit Formula 1 yang penuh karakter. Berikut catatan AZRUL ANANDA yang meliput langsung Grand Prix Amerika Serikat bersama AGUS WAHYUDI dan ANTON HADIYANTO.= = = = = = = = = = = TAK ada yang menyangkal, Formula 1 merupakan ajang balap paling bergengsi di dunia. Secara keseluruhan, hanya Piala Dunia sepak bola dan Olimpiade yang punya daya tarik lebih besar.

Meski demikian, F1 tak pernah mendapatkan tempat yang nyaman di hati para penggemar balap di Amerika Serikat. Puluhan tahun lamanya sirkus balap itu mencoba menancapkan bendera secara permanen di Negeri Paman Sam, puluhan tahun pula kaki mereka kepanasan setelah hanya beberapa tahun berdiri.

Padahal, aneka ragam lintasan sudah dipakai untuk mencoba memikat hati fans balap Amerika. Pada 1908-1917, saat F1 belum eksis, GP AS sudah digelar di sejumlah kota, termasuk Santa Monica, San Francisco (negara bagian California), dan Savannah (Georgia).

Ketika era F1 dimulai pada 1950, Riverside (California) dan Sebring (Florida) sempat jadi tuan rumah. Sirkuit permanen Watkins Glen di New York termasuk yang bertahan paling lama pada 1960 dan 1970-an. Tapi, sirkuit itu tak pernah di-upgrade sehingga tak lagi sesuai dengan standar tinggi F1.

Pada 1980 dan 1990-an, berbagai lintasan jalanan dijajal sebagai tuan rumah. Logikanya, mendekatkan diri ke penonton, kebut-kebutan langsung di tengah kota.

Sejumlah kota yang pernah mencoba jadi tuan rumah adalah Detroit (ibu kota otomotif di Michigan), Long Beach (California), bahkan kota turis superkondang Las Vegas (Nevada). Dallas di Texas juga pernah mencoba. Tak tertinggal Phoenix (Arizona) pada awal 1990-an, yang ternyata paling memalukan. Begitu parahnya minat terhadap lomba di Phoenix, GP AS di sana kalah pamor oleh lomba balap burung unta (ostrich) di pinggiran kota!

Penggemar F1 modern tentu juga ingat Indianapolis Motor Speedway (IMS). Lintasan oval di Indiana itu bisa dibilang merupakan Vatikan-nya balap mobil.

Seratus tahun menggelar lomba terbesar di dunia, Indy 500, yang setiap tahun menyedot hampir 500 ribu (setengah juta!) penonton. Pengelolanya membangun lintasan road race di tengah-tengah trek oval khusus untuk F1 dan MotoGP.

Hasilnya? Juga tidak jodoh. Penonton praktis hanya ramai (lebih dari 100 ribu) pada tahun perdana (2000). Setelah itu terus menurun, sebelum menjalani lomba terakhir pada 2007. Secara finansial, lomba itu tidak masuk akal, dan IMS pun bilang “No” pada biaya mahal F1.

Lima tahun absen, kini hadirlah Circuit of the Americas (COTA) di Austin, Texas. Venue nomor sepuluh dalam sejarah GP AS.

 ***

Mengapa Austin, Texas? Pilihan dan keputusan ini pada 2010 sempat mencengangkan banyak orang. Di negara bagian Texas, negara bagian terbesar di Amerika, Austin memang berstatus ibu kota. Tapi, Austin “hanyalah” kota terbesar keempat di sana. Masih ada Dallas, Houston, dan San Antonio yang lebih besar.

Bahkan, pembuatan dan penyelesaian sirkuit sempat kaya kontroversi. Pemakaian uang pemerintah (uang pajak) untuk mendorong terjadinya lomba sempat menjadi perdebatan, bahkan sempat menghentikan sesaat pembangunan COTA.

Masalah teratasi, walau tidak semuanya, dan COTA lolos inspeksi terakhir hanya 60 hari sebelum lomba diselenggarakan akhir pekan ini (16-18 November).

Kini GP AS di Austin benar-benar terwujud. Dan kini, kalangan F1 benar-benar berharap sirkus balap itu punya rumah permanen untuk jangka panjang.

Sirkuitnya pun sejauh ini sangat memikat. Kotanya, dengan salah satu slogan “Keep Austin Weird” (Jagalah Keanehan Austin), mungkin juga bisa menjadi tuan rumah yang ideal.

Kenapa aneh? Soal itu bisa dibaca di sambungan tulisan ini, di edisi koran ini berikutnya. Sekarang, mari bicara dulu tentang COTA, sirkuit permanen pertama di Amerika yang dirancang mulai nol khusus untuk kebutuhan F1.

Circuit of the Americas merupakan satu lagi lintasan karya Hermann Tilke, desainer sirkuit andalan bos komersial F1, Bernie Ecclestone. Dan tampaknya, Tilke sudah belajar banyak dari “kesalahan-kesalahan” sirkuit-sirkuit sebelumnya. Misalnya, Sepang (Malaysia), Bahrain, Istanbul (Turki), dan Fuji (Jepang).

Lokasi COTA bertetangga dengan Austin-Bergstrom International Airport, tak sampai 15 kilometer memisahkan kedua lokasi. Itu mirip Sepang di Malaysia, yang bertetangga dengan Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Bedanya, bila Sepang terletak sekitar 70 km dari KL, COTA hanya butuh sekitar 30 menit naik mobil dari pusat kota Austin. Agar pembalap senang dan penonton lebih senang, COTA didesain seperti “Sirkuit Frankenstein”, mencomot bagian-bagian terbaik dari sirkuit kondang lain dunia, menjadikannya dalam satu rangkaian 5,5 kilometer yang (diharapkan) mengagumkan.

Tikungan pertamanya menanjak curam. Lalu, setelah itu menurun drastis menuju tikungan kedua dan selanjutnya yang berkelok-kelok bak kompleks Becketts di Silverstone, Inggris.

Ada tikungan lebar dan cepat bak tikungan 8 yang populer di Turki. Ada pula bagian lintasan yang dikelilingi “stadion” (rangkaian tribun) ala Hockenheim, Jerman. Tak ketinggalan, trek lurus panjang diikuti tikungan tajam, khas Tilke, untuk memudahkan terjadinya salip-menyalip.

Di antara semua fitur itu, tikungan pertama merupakan yang paling bikin kita bilang “Wow”. Karena langsung terlihat dari tribun utama dan paddock. Langsung terlihat seperti jalan menuju puncak sebuah bukit.

Menurut data, jalan menuju tikungan pertama itu memang naik ekstrem. Mungkin tak sampai 300 meter, menanjak curam hingga setinggi 41 meter.

Kamis lalu (15/11), saat lintasan belum dipakai, saya dan fotografer Jawa Pos Agus Wahyudi sempat berjalan mendakinya. Dan itu benar-benar mendaki! Kalau mau jalan cepat, kadang kita harus memegangi lutut untuk mencapai puncaknya. Kalau tidak fit, mungkin napas kita akan tersengal-sengal ketika mendakinya.

Para pembalap dan kru F1 dengan rajin juga “menantang” tanjakan itu saat mempelajari lintasan pada Rabu dan Kamis. Beberapa naik sepeda balap, kebiasaan yang sedang ngetren di kalangan pembalap F1.

Tapi, tidak semua mau “mendakinya” dengan tenaga sendiri. Kimi Raikkonen, bintang Lotus-Renault, misalnya. Saat ditanya apakah dia ingin mengelilingi sirkuit, jawabannya singkat: “Mungkin nanti kalau saya menemukan mobil golf.”

Kamis itu, ketika saya dan Agus Wahyudi naik ke atas, ada pula Jenson Button (McLaren-Mercedes) sedang menjajal lintasan naik sepeda balapnya. Dua kali dia mengitari lintasan untuk kebutuhan syuting salah satu televisi Inggris. Dan dia tidak sendirian, dia “menantang” Johnny Herbert, mantan pembalap F1 era 1990-an.

Naik sepeda Specialized McLaren Venge (salah satu sepeda termahal di dunia, di kisaran Rp 160 juta, yang melibatkan masukan desain dan produksi dari McLaren), Button tampak agak mudah menaklukkan tanjakan menuju tikungan pertama.

Tapi, itu wajar. Penggemar Button mungkin sudah tahu, pembalap 32 tahun tersebut tergolong getol ikut triathlon. Jadi, bersepeda menanjak seperti itu adalah hal mudah.

Tidak demikian halnya Herbert. Usia sudah hampir 50 (tepatnya 48), dan tidak lagi dalam kondisi badan prima, dia tampak sangat kesulitan mendaki menuju tikungan pertama. Herbert tampak tersengal-sengal, harus terus berdiri untuk mengayuh sepedanya ke atas.

Di puncak tanjakan, saat kali kedua mendakinya, Button lantas berhenti dan menertawai Herbert. Tidak lama kemudian, saat menjumpai media, Button mengaku tak sabar segera ngebut naik mobil F1 di COTA. Dia bilang sirkuit itu punya potensi untuk menjadi lokasi jangka panjang yang populer untuk F1.

Meski demikian, tanjakan menuju tikungan pertama bukanlah bagian yang paling dinanti. Justru bagian “mengalir” supercepat dari tikungan 2 sampai 8 yang paling menggoda. Hermann Tilke menyebut bagian panjang itu dengan julukan “Snake” (ular).

“Bagi kami sebagai pembalap, kami butuh sirkuit yang punya banyak tikungan cepat untuk menunjukkan kemampuan mobil F1 yang sebenarnya,” kata Button, juara dunia 2009.

“Tikungan 2 sampai 8 sangat spektakuler. Mobil terus berganti arah. Kalau Anda menonton di sana, Anda akan melihat mobil-mobil F1 di ambang batas kemampuan. Itu sangat spesial, karena tidak banyak tempat yang seperti itu,” jelasnya.

Rekan Button di McLaren, Lewis Hamilton, juga tak sabar ngebut di atasnya. Semua pembalap sudah menjajal sirkuit itu di simulator tim masing-masing. Tapi, tidak ada yang sama dengan benar-benar ngebut di atasnya. Saat jumpa pers resmi jelang lomba, Hamilton mencoba menjelaskan “rasa” keliling COTA di simulator.

“Awalnya sirkuit ini agak sulit untuk dihafalkan, tapi tampilannya sangat fantastis untuk dikendarai. Saya semakin menikmatinya begitu mulai terbiasa mengelilinginya. Tapi, saya butuh waktu sedikit lebih lama dari sirkuit-sirkuit lain untuk menghafalkan. Akhir pekan ini, segalanya akan sangat menarik untuk diikuti,” tutur Hamilton, yang tahun depan bakal pindah ke Tim Mercedes.

 ***

Akhir pekan ini, ratusan ribu penonton diperkirakan membanjiri sirkuit, yang berkapasitas 120 ribu penonton. Tiket sudah sold out, walau berbagai infrastruktur belum seratus persen komplet.

Semoga saja F1 di Austin benar-benar punya napas panjang. Tidak hanya heboh pada tahun pertama seperti Indianapolis.

Kalaupun penonton “yang datang dari berbagai penjuru dunia” kecewa akhir pekan ini, itu bukanlah karena Circuit of the Americas. Melainkan karena hal-hal lain di luar lintasan yang berpotensi menimbulkan chaos. (bersambung)