Di Balik Kemenangan DBL Indonesia All-Star 2009 di Australia oleh Azrul Ananda

26 Oktober  2009

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 punya satu keinginan untuk mengakhiri tur di Perth: Membawa cerita yang manis untuk dibawa pulang. Mereka berhasil dengan gemilang.

Catatan AZRUL ANANDA

DBL Indonesia All-Star PERTH

Di dinding ruang ganti DetEksi Basketball League (DBL) Arena di Surabaya, ada tulisan penyemangat. Bunyinya: Every man suffers pain. Either the pain of hard work, or the pain of regret.

Artinya, setiap orang merasakan sakit. Apakah itu sakit karena kerja keras, atau sakit karena penyesalan.
Saya percaya, semua sukses harus diraih lewat sebuah proses. Di dalam proses itu, ada pula yang namanya growing pain. Masa-masa “sakit” sebelum akhirnya merasakan kepuasan atau kesenangan luar biasa.

Dan untuk sukses yang sesungguhnya, masa sakit itu hukumnya wajib untuk dijalani. Di dunia ini tidak ada yang gampang, dan yang sulit tidak bisa begitu saja dihindari.

Tim DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2009 kembali membuktikan pentingnya proses itu. Tim ini dibangun lewat proses panjang. Dimulai dengan kompetisi Honda DBL 2009 di 15 provinsi di Indonesia, yang berjalan sejak 15 Januari di Papua hingga 15 Agustus lalu di Jawa Timur.

Sebanyak 160 pemain (80 putra, 80 putri) lantas ikut Indonesia Development Camp 2009, selama tiga hari berlatih bersama bintang NBA, Kevin Martin, serta pelatih-pelatih dari liga basket paling bergengsi tersebut.

Di penghujung IDC, dipilihlah 12 pemain putra dan 12 pemain putri. Plus lima pelatih. Mereka inilah anggota DBL Indonesia All-Star 2009. Mereka mungkin bukanlah yang benar-benar terbaik di Indonesia. Tapi, mereka merupakan student athlete terbaik yang dipilih lewat sebuah proses yang sehat. Bukan sekadar main comot dari sana atau dari sini.

Memilih adalah satu proses melelahkan tersendiri. Menyatukan mereka jadi satu tim, adalah proses melelahkan selanjutnya.

***

Meski sudah saling mengenal di IDC 2009, Tim DBL Indonesia All-Star 2009 pada dasarnya hanya bersama selama dua minggu. Kumpul di Surabaya pada 12 Oktober, berpisah lagi pada 26 Oktober.

Ingat, mereka ini merupakan kumpulan pemain-pemain SMA terbaik. Di sekolah atau daerah masing-masing, mereka ini superstar yang biasanya diberi keleluasaan oleh sekolah atau pelatih masing-masing. Sekarang, mereka harus punya peran yang berbeda-beda. Ada bintang di atas bintang, ada bintang yang harus rela mengalah.

Bukan proses yang mudah. “Kita ini mungkin mengalami masalah yang dialami (tim sepak bola) Real Madrid,” kata Puji Agus Santoso, Manager Basketball Operations and Events DBL Indonesia.

Dalam hati, saya berpikir ini lebih sulit. Paling tidak Real Madrid penuh pemain profesional yang benar-benar profesional. Lha tim kami ini penuh anak-anak SMA yang masih mudah ngambek satu sama lain! Selain itu, tim ini harus kompak dengan cepat. Hanya dalam hitungan hari.

Untuk mempercepat proses, hampir setiap hari ada pertandingan pemanasan di Surabaya. Hasilnya lumayan, tim putra benar-benar tak terkalahkan. Tim putri juga relatif mantap ketika harus berhadapan dengan tim-tim uji coba.

DBL Indonesia All-Star PERTH

Saya selalu percaya: If it’s too good to be true, then it is not true. Kalau sesuatu berjalan terlalu indah, maka itu bukanlah hal yang nyata. Sekali lagi, tidak ada yang segampang itu di dunia ini.

Benar, hari-hari awal itu adalah “bulan madu.” Masa growing pain segera menyusul…

***

Dari awal, kami sudah sadar. Tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 merupakan “tim inspirasi.” Tugas mereka bukanlah untuk menang. Tugas mereka adalah untuk membuat pemain-pemain putri lain tertarik ikut berpartisipasi. Kelak, baru kita mengejar kemenangan. Sekarang, kita bermodal semangat.

Pada Sabtu, 17 Oktober 2009, di DBL Arena Surabaya, tim putra DBL Indonesia All-Star 2009 tampil luar biasa. Melawan Darwin Basketball Association dari kawasan Northern Territory, Australia, Randika Aprilian dkk bukan hanya sempat membuat lawan getar. Mereka juga menghibur ribuan penonton.

Sempat memimpin delapan angka di kuarter ketiga, tim ini kemudian tunduk di tangan Darwin. Mirip sekali dengan pertandingan DBL Indonesia All-Star tahun lalu saat melawan tim muda Western Australia di Perth pada Oktober 2008. Waktu itu juga sempat memimpin di kuarter ketiga, sebelum tunduk di kuarter keempat.

Bedanya, tahun lalu tim tidak punya kesempatan melakukan pembalasan. Tahun ini, tim masih punya kesempatan lagi di Perth. Hanya saja, sebelum meraih sukses itu, tim harus terpuruk lagi ke satu jurang. Tahap kedua (dan terakhir) dari proses growing pain.

Bermodalkan penampilan baik (meski tidak menang) di Surabaya, tim DBL Indonesia All-Star 2009 penuh semangat terbang ke Perth (via Bali) pada 19 Oktober lalu. Pada laga pemanasan pertama, lawan tim junior sekolah Woodvale, tim juga menang sangat mudah.

Pada laga pemanasan serius di Bunbury, melawan anak-anak pilihan di South West Academy of Sports, barulah tim Indonesia seperti kena setruman hebat. Halusnya kena “siraman yang membangunkan.” Kasarnya kena “tempelengan.”

Tim putra dan putri sama-sama kalah telak. Masalahnya, kalah telak bukan karena murni kalah “kelas.” Dalam semangat dan upaya, tim juga tampak sangat kendur. “Sebanyak 40 persen poin lawan karena kesalahan kita sendiri,” kata Njoo Soen Eng, pelatih tim putri dari SMA Frateran Surabaya.

Ketika nonton pertandingan itu, saya sendiri sangat kecewa. Tapi dalam hati saya bersyukur. Sebab, anak-anak sendiri sadar mereka tampil mengecewakan. Bisa dilihat dari gerak tubuh dan perilaku usai pertandingan itu. Biasanya ceria, kali ini muram.

Kalau benar mereka sadar sendiri, maka itu pertanda baik. Kalau benar mereka sadar sendiri, maka saya yakin mereka akan bangkit dan membuat semua bangga.

***

Rabu malam itu (21/10) di Bunbury (sekitar tiga jam dari Perth), tim putra dan putri bergantian mengajak bicara di chalet (rumah kecil penginapan) saya dan panitia dari DBL Indonesia.

Saya terenyuh juga, karena mereka bergantian bilang minta maaf. Ketika saya minta memberi penilaian kepada diri masing-masing, semua memberi nilai buruk. Bahkan, tim putri merasa mereka hanya layak dapat nilai 1 dari 10.

Waktu itu, terus terang saya bingung juga mau bilang apa. Tapi kemudian saya ingat SMS yang saya dapat setelah tim kami kalah dari Darwin di Surabaya. Datang dari Putu Gde Kamajaya, fans DBL di Surabaya. Bunyinya: “Our greatest glory is not in never failing. But in rising everytime we fail. And winners are not those who never fail. But those who never quit. Go DBL Indonesia All-Star!

Kepada dua pemain yang tahun lalu juga ikut ke Perth, Arif Hidayat (SMAN 2 Jember) dan Amelia Herawati (SMA Karangturi Semarang), saya bertanya perjalanan 2008. Waktu itu, kami juga sempat “ditempeleng” pada laga pemanasan melawan Woodvale. Namun setelah itu, tim bangkit dan selalu tampil habis-habisan. Meski tak pernah menang, tapi selalu fight. Kalahnya selalu puas.

Tim 2008 punya karakter kuat. Mereka tak mau menyerah. Sekarang, karakter tim 2009 sedang diuji. Dan tim 2009 hanya punya satu kesempatan untuk menunjukkan itu, yaitu pada pertandingan puncak melawan tim muda Western Australia.

Kalau harus kalah, maka kami akan kalah berjuang. Malam itu, semua pemain dan pelatih sepakat, bahwa kami akan pulang membawa cerita indah. Cerita yang bisa dibagi ke teman-teman di daerah masing-masing, cerita yang bisa disampaikan ke adik-adik dan generasi selanjutnya.

Malam itu, semua anggota tim sudah bicara semangat. Tapi itu masih sebatas talk. Untuk benar-benar membuat cerita yang indah, mereka masih harus “walk the talk.” Menjalani, bukan sekadar bicara.

***

Sebelum laga internasional melawan tim Western Australia, anak-anak DBL Indonesia All-Star 2009 terlihat “beda.” Kamis malam (22/10), Randika Aprilian dkk rapat sendiri di ruang seminar penginapan. Pelatih tak boleh ikut, yang lain tak boleh ikut.

Jumat malamnya (23/10), meski seharian sudah menjalani program, mereka menjalani latihan ekstra di Perry Lakes Stadium. Latihan malam itu benar-benar menjadi pertanda baik. Semangat semua sangat terasa.

Sabtu pagi (24/10) sebelum pertandingan, tim juga jogging dan latihan ringan bersama di sisi Danau Monger, dekat penginapan. Sekali lagi, semua tampak semangat.

Pagi itu, kami juga melakukan prosesi “tumbal.” Melempar Puji Agus Santoso dan Arizal Perdana Putra dari DBL Indonesia ke pinggir danau. Saya tidak dilempar, tapi saya janji akan terjun sendiri kalau malamnya tim menang.

Siangnya, seluruh tim istirahat total. Tidur nyenyak, menunggu sore tiba untuk berangkat ke stadion.

Sore itu, hujan turun. Padahal di Perth sedang transisi menuju musim panas, bukan masanya untuk hujan. Diam-diam, kami berharap ini adalah pertanda baik.

Sore itu pula, sebelum berangkat ke Perry Lakes, seluruh tim meeting dulu. Saling menyemangati, saling menjaga fokus. Mereka semua berniat pulang membawa cerita indah. Malam itu adalah momen untuk melakukannya. Kalau memang harus kalah, maka harus kalah dengan indah.

Game time. Tim putri benar-benar berupaya keras. Marisya Rizkia dari SMAN 1 Bandung benar-benar ngotot meski hanya bertinggi badan 158 cm. Veti Vera dari SMA Stella Duce 1 Jogjakarta tak takut menabrak lawan-lawan yang lebih tinggi dan lebih besar.

Pada akhirnya, tim putri masih kalah 32-72. Tapi mereka telah membuat kami puas. Karena mereka telah berjuang habis-habisan. Tim lawan sangat kuat. Apalagi, salah satu pemain lawan baru saja dipilih sebagai pemain terbaik di Australia Barat.

Usai bertanding, tim putri pun mengambil peran beda. Mereka naik ke tribun, bersama puluhan suporter Indonesia menyoraki tim putra.

Hebat. Sejak menit pertama, tim putra sudah menunjukkan niatan menang. Okky Arista, power forward dari SMA Theresiana 1 Semarang tidak takut berhantaman badan dengan lawan yang jauh lebih tinggi. Arif Hidayat dan Alvin (SMA Trinitas Bandung) mampu bergantian menjadi jenderal lapangan. Sang kapten, Randika Aprilian dari SMAN 9 Bandung terus berjuang meski dahi harus dibalut perban karena berdarah kena sikut lawan.

Semua pemain bergantian masuk lapangan, memainkan peran masing-masing dengan baik. Momen komedi juga sempat muncul. Di tengah permainan yang mendebarkan, Arif Hidayat sempat berjalan kembali ke bench, bertanya kepada pelatih soal pola “High” yang ingin diterapkan.

High iku opo? Aku lali (High itu apa? Saya lupa),” ucapnya.

Waktu mendengar itu, saya tak tahu harus khawatir atau tertawa. Pola High itu sangat penting untuk mengalahkan tim lawan yang lebih besar. Fungsinya menarik pemain besar lawan keluar, membuka ruang tembak di bagian samping lapangan.
Dijelaskan sebentar, Arif kembali menjalankan tugas di lapangan.

Kurang 1 menit dan 46 detik, tim putra masih unggul enam angka. Namun lawan tak pernah menyerah. Kurang empat detik, tim putra hanya unggul dua angka. Dan bola di tangan Western Australia.

Terus terang, saya tak tahu apa yang terjadi pada empat detik terakhir itu. Saya tak berani melihat. Khawatir kekecewaan tahun lalu kembali terulang. Kata teman-teman, lawan mencoba menembak tiga angka, tapi gagal. Lawan lalu dapat bola lagi, tapi tetap gagal memasukkan bola.

Indonesia menang! Sejarah! Cerita indah untuk dibawa pulang!

Semua pun berhamburan ke lapangan.

Di saat tim putra berpesta, beberapa pemain putri tampak menangis. Khususnya Marisya Rizkia, yang biasa dipanggil Echa, yang biasa saya panggil Chipmunk.

Dia mengaku sedih tidak bisa menang seperti yang putra. Saya pun ingatkan lagi, tugas mereka hari itu bukan menang. Tugas mereka hari itu untuk memberi inspirasi kembali di Indonesia. Tugas mereka adalah pulang, lalu mengajak adik-adiknya untuk berlatih lebih bersemangat. Bantu basket Indonesia, bantu DBL.

Kalau kelak tim Indonesia menang, mereka bakal punya peran besar.

***

What’s next?

Jalan masih jauh. Kemenangan ini belum tentu terulang tahun depan. Lawan –siapa pun– tidak akan diam. Growing pain pertama mengembangkan DBL dan membentuk tim All-Star yang mampu menang sudah dilalui. Sekarang waktunya menjalani growing pain selanjutnya, dan selanjutnya, dan selanjutnya, sampai mencapai target tertinggi.

Satu bukit dilalui, masih banyak gunung lain.

Mohon dukungannya…

Catatan tambahan: Kemenangan di Perth ini jatuh sehari setelah ulang tahun ke-56 PB Perbasi. Jadi ini hadiah dari kami untuk Ibu Noviantika Nasution sebagai ketua umum dan teman-teman basket yang lain. Usai pertandingan, saya juga menepati janji. Bedanya, karena tidak mungkin di danau, malam setelah menang saya dicemplungkan ke kolam renang di penginapan. Tapi saya happy, karena saya tidak nyemplung sendirian! (*)

Advertisements

Azrul’s Insights: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

17 September 2009

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke empat) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda bersama Patrick Mills, pemain muda Australia yang tahun ini masuk NBA bersama Portland Trail Blazers. Dia sedang cedera kaki, menjalani proses pemulihan di Australia Institute of Sports di Canberra. Foto oleh Broughton Robertson)

Pemulihan Cedera Lebih Baik daripada di Amerika

Tujuan utama kunjungan seminggu di Australia ini adalah mempromosikan hubungan people to people. Khususnya lewat jalur olahraga. Sebagai bonus: Bertemu bintang basket Aborigin yang sukses menembus NBA.

Azrul Ananda, Canberra

Australia negara gila olahraga. Selama di Australia, kebanyakan pertemuan saya adalah dengan orang-orang olahraga. Ketika di Darwin, pada dasarnya saya melihat semua tim profesional Negeri Kanguru yang tergabung di National Basketball League (NBL), bertemu pemain-pemain bintang, dan melakukan pertemuan dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (semacam Ketua Perbasi).

Saya juga bertemu menteri olahraga di beberapa kawasan. Selain di Northern Territory, juga Kevin Greene, menteri olahraga dan rekreasi New South Wales (negara bagian dengan penduduk terbanyak) di Sydney.

Kemudian, di Canberra Selasa lalu (8/9), saya diajak ke tempat yang sangat mengagumkan: Australian Institute of Sports (AIS).

Pada dasarnya, AIS merupakan tempat pemusatan latihan untuk atlet-atlet Australia. Mulai dari tingkat junior sampai elit. Di sana, berbagai fasilitas kelas dunia tersedia untuk puluhan macam olahraga. Di sana, sejak berdiri pada 1981, tak terhitung jumlah atlet-atlet elite kelas dunia yang “lulus”.

Dari basket saja ada berapa nama kondang. Yang utama adalah Luc Longley, pemain basket yang pada pertengahan 1990-an meraih popularitas luar biasa di NBA. Waktu itu, dia bermain di Chicago Bulls, menjadi salah satu rekan setim Michael Jordan.

Selain Longley, ada pula Andrew Bogut, yang sekarang menjadi pilar klub Milwaukee Bucks di NBA. Ada juga Lauren Jackson, salah satu pemain wanita terbaik di dunia.

Menurut Marty Clarke, pelatih kepala basket pria di AIS, mungkin 40-50 persen pemain di NBL Australia merupakan lulusan AIS.

Clarke –yang juga pelatih tim nasional junior Australia– menjelaskan, dia konstan berkomunikasi dengan asosiasi-asosiasi di berbagai penjuru Australia. Pihaknya terus mencari pemain-pemain muda berbakat, maksimal kelas XI SMA (kalau kelas XII sudah harus siap ujian).

Kadang tidak harus pemain paling berbakat, tapi pemain yang dianggap punya potensi besar bila dikembangkan dengan tepat. “Untuk putra lebih sulit daripada putri. Karena pertumbuhan postur putri lebih cepat dari putra. Kadang, kemampuan pemain putra berkembang pesat di akhir masa remaja,” ungkapnya.

Setiap dua tahun, AIS “merekrut” sekitar 12 pemain putra dan putri untuk pindah ke Canberra. Sekolah di ibu kota Australia itu, dan menjalani latihan khusus pada pagi dan sore di luar jam sekolah.

Ada pula camp-camp basket khusus selama empat hari untuk calon-calon pemain lain. Serta program bagi pihak-pihak asing yang ingin mendapatkan bantuan pengembangan dari AIS. Baru-baru ini, katanya, ada tim junior Filipina datang untuk menjalani camp di Canberra.

Fasilitas di AIS memang super-komplet. Selain gedung khusus basket berisikan empat lapangan, ada pula pusat rehabilitasi dan fitnes yang besar dan komplet. Juga ada tempat khusus di mana atlet bisa berlatih dalam cuaca di negara tempat mereka kelak bertanding (misalnya simulasi tropis dan panas).

Dasar nasib baik, di AIS kami bertemu dengan Patrick “Patty” Mills. Bagi kebanyakan orang, nama itu mungkin belum terlalu dikenal. Tapi lihatlah dalam lima tahun ke depan, ada peluang nama itu bakal dikenal di berbagai penjuru dunia.

Mills, 20, merupakan salah satu produk sukses AIS. Dia salah satu pemain basket Aborigin pertama yang sukses menembus level tertinggi. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Point guard ini termasuk pemain termuda yang pernah bergabung di Boomers, julukan tim nasional Australia.

Dia sudah berkiprah dan meraih banyak pujian di Olimpiade Beijing tahun lalu. Pada Juni lalu, Mills berhasil menembus ranking NBA. Dia dicomot oleh salah satu tim kuat di liga paling bergengsi itu: Portland Trail Blazers. Salah satu pelatihnya di Blazers adalah Joe Prunty, yang pada Agustus lalu hadir di Surabaya, melatih pemain-pemain SMA terbaik dari 15 provinsi di Indonesia, dalam even Indonesia Development Camp 2009 (hasil kerja sama NBA dan DetEksi Basketball League).

Sayang, tidak lama setelah bergabung di Blazers, Mills patah kaki. Sudah sepuluh pekan terakhir ini dia harus berjalan memakai kruk (setelah operasi). Mungkin baru pulih satu sampai dua bulan lagi.

“Nasib buruk,” katanya singkat. Saya pun bertanya, ngapain rehabilitasi di Canberra? Bukankah di Amerika lebih lengkap? Ternyata, Mills bilang tidak ada yang lebih lengkap dari AIS di Canberra. “Kalau ada yang lengkap di Amerika, saya lebih baik rehabilitasi di sana. Karena pada prinsipnya saya sudah pindah, dan segala milik saya sudah ada di sana. Karena tidak ada, maka saya balik ke sini. Bahkan, begitu cedera, Marty Clarke merupakan salah satu orang pertama yang saya hubungi,” tuturnya.

Tidak ada pujian lebih tinggi dari pengakuan seorang atlet elit.

***

Mills merupakan atlet Aborigin yang sukses. Selama di Australia, beberapa kali pula saya bertemu dengan perwakilan organisasi yang bekerja membantu anak-anak aborigin lewat jalur olahraga.

Ada pertemuan dengan Clontarf Foundation di Darwin, yang banyak bekerja di kawasan utara atau barat Australia. Mereka mencoba membantu anak-anak Aborigin yang punya latar belakang sulit atau kekerasan lewat permainan Australian Football. Syarat untuk ikut: Harus masuk sekolah.

Di Marrickville High School di Sydney, saya bertemu dengan National Aboriginal Sporting Chance Academy (NASCA), yang juga melakukan kegiatan lewat Australian Football.

Sebagai informasi balasan, saya pun banyak mempresentasikan DetEksi Basketball League (DBL), selain bicara soal media di Indonesia. Apalagi misinya agak mirip. Lewat DBL, kami pun ingin mempromosikan konsep student athlete. Kalau mau main basket di liga pelajar terbesar di Indonesia itu, harus selalu naik kelas.

AZA AUSTRALIA 09

( Azrul Ananda (berdasi) di tengah-tengah pelajar Indonesian Studies University of Sydney, setelah memberi materi tentang perkembangan DetEksi Basketball League (DBL) di Indonesia. Ada mahasiswa yang ternyata pernah menonton langsung pertandingan DBL di Mataram. Foto oleh Broughton Robertson)

Ketika menyampaikan DBL di University of Sydney, ternyata ada sambutan menarik. Anthony Fine, 21, salah satu mahasiswa Indonesian Studies di situ, ternyata sudah pernah nonton langsung pertandingan DBL. Dia menyaksikan final Honda DBL 2009 seri Nusa Tenggara Barat, di Mataram.

Dengan antusias, Fine mengaku geleng-geleng kepala melihat hebohnya DBL. “Penonton sampai harus gantian memenuhi gedung. Saya tidak menyangka ada even olahraga sehebat itu di Indonesia. Di Australia saja tidak seperti itu,” katanya kepada rekan-rekan lain di kelas.

Di Australia, basket memang maju pesat, tapi sekarang lebih bersifat olahraga partisipasi di tingkat grass root. Di tingkat profesional, harus diakui kalau National Basketball League (NBL) memang sedang menjalani masa sulit. Tim-timnya kesulitan keuangan, duit sponsor makin mengering.

Pertandingan-pertandingan basket di Australia berkualitas sangat tinggi, namun penontonnya sepi. Ada banyak teori mengapa itu terjadi, tapi pada dasarnya kalah bersaing dengan berbagai olahraga di negara yang gila olahraga ini.

Olahraga nomor satu, sudah bukan rahasia lagi adalah Australian Football. Dan itu nomor satu jauh di atas nomor dua yang lain. Australian Football League (AFL), liga tertinggi olahraga itu, kini memiliki 16 tim, dan memiliki perputaran uang fantastis.

Saat hari terakhir kunjungan di Melbourne, Rabu kemarin (9/9), saya diberi tur fasilitas Essendon Football Club (Bombers), salah satu dari sepuluh (!) tim AFL yang bermarkas di kawasan Melbourne. Tim ini merupakan salah satu yang memiliki member terbesar dan perputaran uang tertinggi.

Simon Matthews, General Manager Media and Community Essendon Bombers, menjelaskan bahwa timnya memiliki sekitar 60 karyawan. Perputaran uang mencapai 40 juta dollar Australia semusim. Dari jumlah itu, sekitar 7 juta dollar untuk gaji pemain.

Pemasukannya? Sebagian dari member, yang menyumbang sampai 5 juta dollar semusim. Lalu 7 juta dollar dari pembagian hasil penjualan hak siar televisi. Setelah itu pemasukan lain-lain.

Pemasukan televisi AFL sangatlah fantastis. Kontrak lima tahun mencapai hampir 800 juta dollar Australia! “Kontrak itu habis dua tahun lagi. Kemungkinan, ketika perpanjangan, nilainya bisa mencapai 1 miliar dollar untuk lima tahun selanjutnya,” jelas Matthews.

Angka itu jauuuuuuh lebih tinggi dari yang lain. A-League, liga sepak bola Australia yang sedang melangkah maju, hanya punya kontrak televisi sekitar 1 sampai 2 juta dollar Australia semusim! Ya, AFL ratusan kali lebih raksasa! Bahkan rugby, yang juga populer, tidaklah sekaya AFL.

“Tim termiskin AFL punya perputaran uang sekitar 20 juta dollar semusim. Tim terkaya rugby mungkin hanya 15 atau 16 juta dollar semusim,” jelas Greg Baum, sports editor The Age, koran di Melbourne.

Saking jauhnya, AFL pun menyedot perhatian media terbesar. Menurut Baum, saat musim AFL (sekitar tujuh bulan, berakhir September ini), 80 persen porsi halaman olahraganya tercurahkan untuk AFL.

sumber :  mainbasket , http://www.jpnn.com

DBL TAMU SPESIAL LAGA NBL

16-Oct-2008

bertemumenteri

Hadiah Bola Indonesia untuk Menteri Olahraga Western Australia

PERTH – Tim All-Star DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia menjalani hari tak terlupakan di Perth, Australia, kemarin.

 

Pada siang hari, perwakilan liga basket pelajar terbesar di Indonesia itu menjadi tamu Menteri Olahraga dan Rekreasi Australia Hon Terry Waldron.

WBloglogo

Malamnya, seluruh tim menjadi tamu spesial pertandingan profesional National Basketball League (NBL), antara Perth Wildcats melawan Woolongong Hawks, di Challenge Stadium. Dua puluh empat pemain, empat pelatih, dan kru DBL yang mendampingi dipanggil masuk lapangan saat half-time, disambut dengan sorakan meriah dari ribuan penonton liga paling bergengsi di Australia tersebut.

Seluruh anggota tim lantas berjalan mengitari lapangan, bermain-main dengan maskot Wildcats dan menyalami para pemain yang bertanding.

“Selamat datang kepada para bintang DetEksi Basketball League, liga pelajar terbesar Indonesia yang diselenggarakan oleh Jawa Pos,” kata pembawa acara di lapangan.

Dia lantas mengajak sekitar 4.000 penonton Wildcats untuk datang ke Perry Lakes Basketball Stadium pada Sabtu, 18 Oktober nanti. Sebab, hari itu tim pelajar Indonesia ini bakal menjalani pertandingan internasional resmi melawan tim U-16 Western Australia.

Tentu saja, pengalaman ini membuat seluruh anggota tim bangga. “Ini pengalaman yang mungkin hanya sekali seumur hidup, mungkin tidak akan terulang lagi. Sambutan penonton meriah sekali,” kata Jamin Mattotoran, salah satu pelatih tim putri All-Star DBL Indonesia dari SMA Rajawali Makassar.

“Saya kaget. Waktu mau masuk lapangan deg-degan, takut dicuekin sama penonton. Ternyata semua malah tepuk tangan,” tambah Trisna Gama Putri, guard tim putri All-Star DBL Indonesia dari SMAN 7 Banjarmasin.

Siang sebelumnya, saat anak-anak DBL Indonesia mengunjungi kampus-kampus ternama di Perth, beberapa anggota tim diajak berpisah oleh Hallam Pereira, international project director Departemen Olahraga dan Rekreasi Western Australia. Sebab, mereka sudah ditunggu oleh Hon Terry Waldron, menteri departemen tersebut di kantornya.

Commissioner DBL Azrul Ananda pun berangkat bersama Pereira, ditemani dua pemain: Ryan Christyanto dari SMA BOPKRI 1 Jogjakarta dan Yoanna Gustia Rahayu dari SMAN 11 Pekanbaru.

Ketika bertemu, Waldron bertanya-tanya tentang kesan para pemain di Australia. Mulai perasaan pertama ketika datang, cara orang Australia berpakaian, dan –yang mendapat jawaban paling seru– makanan di Australia.

Soal makanan itu, Ryan dan Yoanna sama-sama malu menjawab. Azrul menjelaskan bahwa pada dua hari pertama anak-anak All-Star DBL Indonesia memang agak sulit beradaptasi, khususnya tentang makan siang. Banyak yang kesulitan makan sandwich!

“Setiap pagi, kami selalu menyiapkan mental mereka untuk makan siang. Bahwa kita pasti akan makan sandwich. Lalu, semua harus bicara lantang, ‘We love sandwich!’ agar bisa beradaptasi,” jelas Azrul, disambut tawa oleh Waldron.

Mengenai tantangan pertandingan yang sangat berat, karena kualitas pemain muda Western Australia yang sudah begitu maju, sang menteri lantas memberi pesan semangat kepada seluruh pemain All-Star DBL Indonesia. “Kalau mau maju, harus berani menghadapi lawan yang jauh lebih berat. Hanya dengan cara itu kita bisa maju,” ujarnya.

Waldron mengaku punya minat ekstra pada DBL Western Australia Games 2008 ini. Sebab, putrinya bersekolah di Willetton Senior High School, SMA juara basket Perth yang bakal dihadapi All-Star DBL Indonesia pada Jumat, 17 Oktober besok.

Sebagai suvenir, anak-anak All-Star DBL Indonesia menghadiahkan bola resmi pertandingan DBL. Bola merek Proteam itu sudah ditandatangani oleh semua pemain. Azrul lantas menjelaskan, DBL bangga bisa menggunakan berbagai produk buatan Indonesia.

Bukan hanya bola. Seluruh tim All-Star DBL Indonesia memakai jersey dan sepatu basket merek Indonesia, League. Dan warna merah-putih pada sepatu yang dipakai sekarang disediakan secara khusus, karena belum dijual di toko-toko.

Dalam pertemuan itu, juga dibicarakan kemungkinan kelanjutan program ini tahun depan. Bukan hanya tim DBL Indonesia yang ke Perth. Western Australia juga akan berusaha mengirimkan tim mudanya untuk belajar dan bertanding ke Surabaya, tempat DBL berpusat. (azz)