Indonesia di Tangan Pemuda, Berpikir Jauh setelah 2014

Indonesia di Tangan Pemuda– Pengantar Redaksi
Hari ini, koran Jawa Pos (JPNN) menerbitkan edisi khusus setebal 116 halaman. Koran edisi cetak bisa diperoleh pembaca di kawasan Jawa-Bali. Sementara di luar itu, bisa membeli edisi digital di http://www.jawapos.com. Berikut catatan pengantar Azrul Ananda, Direktur Utama Jawa Pos Koran. –

Hampir semua media, cetak maupun elektronik, sekarang perhatian luar biasa pada 2014. Persaingan tahun itu, dalam memimpin negara ini, memang sepertinya bakal berlangsung seru luar biasa.

Yang membuat kami di Jawa Pos agak khawatir, banyak pihak saat ini berbuat seolah-olah 2014 adalah tahun terakhir dari perjalanan. Seolah-olah tidak ada tahun lagi setelah 2014.

Ya, masa depan Indonesia memang bisa ditentukan oleh siapa pun yang meraih kemenangan pada 2014. Masa depan yang baik, atau masa depan yang lebih buruk.

Kalau 2014 dapat pemimpin yang baik, siapa pun dia, mungkin lima tahun Indonesia akan lebih baik. Dan siapa tahu, pemimpin yang baik itu juga meletakkan fondasi-fondasi yang membuat Indonesia lebih baik setelah lima tahun itu berlalu.

Kalau 2014 dapat pemimpin yang kurang baik, ya nasib. Mungkin harus menunggu 2019 untuk memilih lagi pemimpin yang lebih baik. Dan kemajuan negara ini harus tertunda.

Tapi, daripada memasrahkan diri pada proses yang terjadi setiap lima tahun sekali, bukankah lebih baik memikirkan hal-hal lain yang lebih konkret? Yang dampaknya bukan hanya untuk 2014. Bukan hanya untuk lima tahun setelah 2014. Dan mungkin untuk selamanya?

***

Dengan edisi khusus hari ini, Jawa pos ingin memberikan lagi apresiasi dan perhatian kepada generasi muda, yang sekarang mulai menunjukkan taring, dan kelak akan memegang kendali negara ini. Yaitu mereka yang berusia 40 tahun atau lebih muda, yang sekarang sudah memegang tanggung jawab besar, dan kelak punya potensi untuk menjadi jauh lebih besar lagi.

Yang lain silakan pikirkan 2014, hanya berpikir satu tahun ke depan, atau maksimal lima tahun ke depan. Dengan edisi khusus ini, kami ingin mengajak semua untuk berpikir lebih jauh lagi ke depan. Sekali lagi, siapa pun yang menang 2014, dia mungkin hanya akan berperan sebagai ‘’pengantar.’’

Generasi itu sedang berada dalam zaman yang gamang. Zaman yang penuh dengan masalah, dan zaman yang lebih sibuk dengan permasalahan-permasalahan atau kepentingan-kepentingannya sendiri daripada memikirkan yang jauh ke depan.

Generasi yang diwakili oleh puluhan orang di edisi khusus ini, menurut saya berada dalam posisi yang lumayan unik. Mereka ini kami anggap sangat memikirkan masa depan, punya visi untuk masa depan, dan ‘’kalau everything goes well— akan punya peranan yang sangat besar di masa mendatang.

Mereka ini juga termasuk repot menghadapi tantangan masa kini. Berjuang atau berkarya di tengah situasi yang seringkali tidak menyenangkan, ikut memikirkan atau mengatasi masalah-masalah yang seharusnya bukan masalah di tempat/negara yang lebih maju/modern.

Bisa dibilang pula, mereka ini ikut dipusingkan oleh masalah-masalah yang disebabkan oleh generasi yang sekarang lebih pusing memikirkan 2014.

Memang, bukan hal mudah untuk menentukan siapa yang layak ditampilkan di edisi khusus ini. Ada ratusan, mungkin ribuan, orang muda yang layak ditampilkan.

Tentu, akan interesting juga kalau kita membulatkan jumlahnya dengan angka-angka yang ‘’marketable.’’ Misalnya, ‘’100 Masa Depan.’’ Atau yang sekarang ditampilkan beberapa majalah: ‘’40 under 40’’ (kebetulan saya pribadi terpilih di salah satunya).

Tapi, kami memutuskan untuk tidak terpaku dalam angka-angka bulat atau khusus. Siapa yang kami rasa perlu dan bisa ditampilkan, akan kami tampilkan.

Mereka mewakili berbagai bidang, bukan hanya politik dan pemerintahan. Ada ekonomi, entertainment, budaya, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

Dan di edisi khusus ini, mereka tidak sekadar ditampilkan atau diperkenalkan. Mereka juga memaparkan visi, gambaran masa depan menurut pandangan mereka. Siapa tahu, dalam tahun-tahun ke depan ‘’termasuk jauh setelah 2019— visi mereka itu menjadi kenyataan atau bisa dipertanggungjawabkan. Bisa dibilang, edisi khusus ini adalah kumpulan visi dan harapan masa depan orang-orang muda. Masa depan di mana mungkin pemimpin-pemimpin generasi sekarang sudah tidak ada lagi (tidak lagi merepotkan?).

***
Kami berharap, terbitan hari ini yang begitu tebal (minimal 100 halaman, tergantung di mana Anda mendapatkan Jawa Pos) bakal menjadi edisi yang bisa disimpan, at least dikenang.

Kami tidak menerbitkan edisi ini hanya sekadar untuk menembus angka 100 halaman. Percuma kalau jumlah halamannya begitu banyak, namun isinya hanya pengganjal halaman. Lebih parah lagi, hanya untuk mengakomodasikan tuntutan iklan.

Kami juga tidak ingin edisi khusus seperti ini menjadi edisi yang preachy (sok menggurui). Kami berharap pembaca tidak merasa seperti ‘’digurui’’ oleh orang-orang yang ditampilkan (yang seperti itu biasanya yang tua he he he). Tapi merasa seperti diajak sharing, diajak sama-sama memikirkan masa depan.

Sebab, sosok-sosok yang ditampilkan ini —meskipun banyak yang sudah melakukan pencapaian hebat dalam hidupnya— masihlah sibuk dan fokus memikirkan potensi-potensi masa depan. Dengan menampilkan mereka, kami ingin lebih menyemangati lagi sosok-sosok yang ditampilkan ini.

Dan itu berarti juga menyemangati pula para pembaca ‘’khususnya yang masuk kategori generasi masa depan— supaya bisa seperti sosok-sosok ini. Bahkan kalau bisa lebih hebat lagi. Terus terang, pilihan-pilihan sosok yang ditampilkan mungkin tidak bisa memuaskan semua pembaca. Tentu masih banyak orang lain yang visi dan harapannya layak ditampilkan.

Kami pun mohon maaf kepada mereka, dan kepada pembaca yang mengharapkan penampilan mereka itu.

Namun, dengan hadirnya edisi ini, semoga pembaca paham bahwa kami sangat ingin menampilkan mereka semua.

Edisi ini bukanlah yang terakhir. Kelak, tokoh-tokoh yang belum tampil itu tentu akan kami suguhkan.

Selamat menikmati edisi khusus Jawa Pos hari ini. Selamat menikmati visi dan harapan para tokoh muda yang tampil hari ini.

Biarlah generasi yang sekarang sibuk dengan masalah-masalah yang sekarang. Mari kita semua berpikir lebih jauh ke depan, bekerja untuk masa depan yang jauh lebih gemilang.

Karena hidup kita tidak berakhir pada 2014!.***

https://thedahlaniskanway.wordpress.com/category/azrul-ananda/

Liburan di Antara Kesibukan Eyang

14 Januari 2015

Tahun baru, semangat baru. Biasanya sih begitu.

Banyak orang baru kembali dari liburan, baru selesai tekan tombol reset dan memulai lagi ”mesin kehidupan”.

Terus terang, bagi saya dan keluarga besar, 2015 ini bermula dengan sesuatu yang belum pernah kami lakukan bersama: Benar-benar liburan keluarga bersama.

Terus terang, keluarga kami termasuk keluarga ”tidak normal”. Dan ini cerita tentang liburan keluarga ”tidak normal” itu…

***

Sejak saya kecil, kami nyaris tidak pernah berlibur bersama. Saya dan adik saya, Isna, kebetulan punya ayah bernama Dahlan Iskan. Seorang ”Superman” yang gila kerja dan kebetulan bekerja di dunia koran yang membuatnya bekerja nyaris 24 jam.

Ketika kecil, kami berangkat sekolah di pagi hari, abah –panggilan kami untuk beliau– masih tidur karena baru pulang dini hari. Ketika kami pulang di siang hari, beliau sudah berangkat kerja. Ketika dia sempat pulang sore hari, kami tidak di rumah karena bermain di luar atau les.

Ketika kami kembali menjelang gelap, beliau sudah berangkat lagi, kerja sampai dini hari.

Yada yada yada, waktu berlalu…

Lulus SMP, saya berangkat ke Amerika untuk mulai SMA di sana. Adik saya menyusul tiga tahun kemudian, juga setelah lulus SMP. ”Mumpung mampu,” kata abah.

Sesekali beliau atau ibu mampir ke Amerika. Dan kami pun diminta pulang ke Indonesia minimal setahun sekali (supaya terus ”menginjak bumi,” kata abah).

Yada yada yada, waktu berlalu…

Setelah lulus kuliah dan saya mulai melangkah di Jawa Pos, hubungannya tidak seperti abah-anak. Sering berantem karena pekerjaan. Saya sering ngamuk-ngamuk karena menganggap abah membuat keputusan yang salah (kadang saya benar) dan dia sering memarahi karena menganggap saya berbuat salah (kadang dia benar).

Sama-sama sibuk. Tidak ada waktu untuk liburan sendiri-sendiri. Apalagi liburan bersama.

Yada yada yada, waktu berlalu…

Pada 2007, ketika abah berkutat dengan proses ”Ganti Hati”-nya, kami sekeluarga diminta bersama di Tiongkok. Berbulan-bulan bersama di Tianjin, pada suatu hari kami benar-benar berada di ruang (rumah sakit) yang sama selama beberapa jam.

Rasanya aneh.

Saking anehnya, saya nyeletuk, ”Kayaknya ini kali pertama kita benar-benar satu ruangan selama berjam-jam…”

Abah kemudian berhasil menaklukkan cobaan hidupnya yang terberat itu…

Yada yada yada, waktu kembali berlalu…

Abah memulai hidupnya di pemerintahan, mendedikasikan hidupnya untuk memajukan bangsa ini. Pindah ke Jakarta bersama ibu, orang paling tabah sedunia.

Kalau weekend, abah dan ibu beberapa kali pulang. Tapi, bukannya bersama keluarga. Yang namanya pejabat, lebih banyak tamu yang datang. Bahkan, acara santai keluarga pun kadang ”terganggu” oleh tamu-tamu, yang kadang-kadang tidak diundang.

Jujur, saya benar-benar merasakan kalau enak jadi anak pengusaha daripada jadi anak pejabat…

Hebatnya, abah dan ibu selalu sempat menengok cucu-cucu.

Lucu juga sudut pandang kakek dan nenek.

Dulu, waktu kecil, ketika minta dibelikan mainan kereta api, saya malah diberi sapu lidi dan segenggam karet gelang. ”Bikin relnya dulu,” kata abah.

Ketika kepada ibu minta dibelikan mobil-mobilan seharga Rp 3.500, malah dibelikan sepeda motor plastik seharga Rp 1.850…

Sekarang cucu-cucu punya mainan terbanyak di dunia.

Tidak apa-apa, ha ha ha. Wong dulu, waktu saya masih kecil, kami memang tidak punya uang. Lagi pula, sekarang kami –anak-anak– sudah punya cukup uang untuk beli mainan-mainan mahal sendiri…

Yada yada yada, waktu berlalu…

Abah tidak lagi jadi pejabat. Ibu tampaknya yang paling bahagia. ”Abah sudah merdeka, Lik,” katanya dengan wajah berbinar-binar.

Ulik adalah panggilan mereka untuk saya.

Karena ibu adalah orang yang paling harus tabah, saya bisa membayangkan betapa bahagianya ibu ketika momen itu benar-benar tiba.

Tidak lagi jadi pejabat bukan berarti abah tidak lagi sibuk. Percaya deh, abah ini orang paling sibuk sedunia. Kalau tidak ada kesibukan, dia akan mencari kesibukan sendiri.

Satu yang saya ucapkan terima kasih terbesar: Dia memutuskan tidak mau kembali tinggal di Surabaya. Salah satu alasannya, dia tidak mau mengganggu saya di Jawa Pos.

Bagi seseorang yang mengorbankan begitu banyak untuk mengembangkan sesuatu, adalah sesuatu yang luar biasa bagi abah untuk bisa melakukan itu.

Pernah dia berpesan bahwa kita harus mampu untuk let go. Benar-benar melepas sesuatu ketika benar-benar harus melepasnya. Jangan menggandoli, jangan mengganggu. Malah bikin tersiksa, katanya.

Saya rasa, kita semua tahu, tidak banyak orang yang bisa seperti itu. Bisa mengantisipasi dan menaklukkan post-power syndrome sebelum menghadapinya.

Ada banyak teman saya yang second generation sampai sekarang kesulitan berkembang karena masih ”digandoli” orang tuanya. Saya bersyukur tidak seperti itu…

Yang saya dan adik saya juga merasa bersyukur, abah sekarang bisa merasakan hidup yang lebih ”normal”. Pernah sekali dia menjemput cucu dan mengantarkan mereka ke sekolah. Pernah dia ikut masuk kelas dan mengajar.

Seingat saya, dulu saya hanya sekali diantar abah ke sekolah. Waktu itu masih SD dan dia membawa sabuk. Wkwkwkwkwkwk, dia memaksa saya sekolah gara-gara saat itu saya sedang menjalani fase tidak mau sekolah…

Yada yada yada, liburan pun tiba…

Penghujung 2014 adalah kesempatan bagi keluarga kami untuk benar-benar berlibur bersama. Abah, ibu, anak, dan cucu.

Saya sendiri biasanya hanya mendengar atau melihat teman berlibur bersama keluarga di akhir tahun. Sebab, biasanya pas akhir tahun saya di kantor.

Pernah sebelumnya abah pergi bersama adik saya dan keluarga. Tapi, rasanya kok tidak seperti liburan. Karena masih dibumbui pekerjaan (dan tamu-tamu).

Dan abah ini benar-benar orang yang tidak bisa santai. Ketika di Tiongkok dan punya waktu luang, dia pernah mengajak saya pergi ke kota lain. Ke mana? Caranya gampang. Pergi ke bandara. Lihat papan jadwal penerbangan, lalu pergi ke kota yang penerbangannya paling segera berangkat.

”Ke Dalian yuk,” kata abah.

Dari Dalian begitu lagi. Ke bandara seenaknya, lihat papan jadwal, lalu memutuskan, ”Ke Qingdao yuk.”

Tapi, kali ini kami benar-benar berusaha menjadikan acara itu benar-benar liburan sekeluarga.

Tujuan? Penentuannya juga seru. Abah mengusulkan ”tempat-tempat ajaib” yang butuh ”setengah perjuangan” untuk menuju ke sana.

Untung, dia bisa ”disadarkan” bahwa cucu-cucunya beberapa masih berumur 5 tahun. Pilihan pun ke Portugal dan Spanyol. Bukan pilihan yang utama pula sebenarnya. Lha ngapain ngajak anak-anak kecil ke Eropa lihat gedung-gedung tua?

Tapi, akhirnya itu ”kompromi” terbaik.

Dasar abah, disuruh benar-benar santai memang tidak tahan.

Di Portugal, ketika bosan dengan Lisbon, menyempatkan diri naik kereta ke Porto. Bukan menginap atau jalan-jalan. Pokoknya naik kereta pagi selama tiga jam ke Porto. Lihat kotanya. Lalu, naik kereta lagi selama tiga jam, balik ke Lisbon di siang hari.

Di Cordoba, Spanyol, lagi-lagi dia bosan. Pagi-pagi dia sewa mobil dan sopir sendiri, lalu menyempatkan diri mengunjungi sebuah pembangkit listrik bertenaga matahari yang tak jauh dari sana.

Siang sudah balik. Jadi, sudah kembali makan dan jalan-jalan bersama anak dan cucu. Malam-malam atau pagi-pagi lain pun begitu. Kalau bosan, bisa jalan kaki sendiri keliling kota.

Beberapa kali pula dia berusaha mengubah jam kereta atau pesawat dari jadwal yang sudah direncanakan. Untung, dia bisa terus disadarkan bahwa ”sirkus” kami adalah bus berisi anak-anak kecil. Bukan mobil reli yang bisa ngepot pindah haluan dengan cepat.

Ha ha ha ha… Memang orang yang tidak bisa diam.

Yada yada yada, liburan berakhir…

Mendarat di Jakarta di sore hari, rombongan utama melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya. Abah? Langsung ada jadwal rapat malam itu juga.

Banyak orang pulang liburan yang santai sebentar, baru Senin kembali tancap gas. Kalau disuruh seperti itu, abah mungkin bisa gila, ha ha ha ha

Well, liburan sudah berakhir. Waktunya menjalani 2015. Ini bukan tahun politik. Jadi, ini tahun business as usual. Segala perencanaan, segala program, bisa lebih tenang dijalankan.

Bagi banyak orang, hidup kembali normal. Bagi keluarga kami, waktunya kembali ke jalur yang ”tidak normal”… (*)

https://thedahlaniskanway.wordpress.com/2015/01/14/liburan-di-antara-kesibukan-eyang/

 

Barcelona Punya Kandidat Toko Sepeda Terbaik di Dunia

Minggu, 11 Januari 2015 , 07:13:00

Hanya 15 Menit dari Kota, 20 Menit Menuju Pegunungan

<!– –> VISI CYCLIST SEJATI: Jawa Pos bersama Javier Maya (kiri), pemilik Pave. 

Foto: Tatang Marthadinata for Jawa Pos
VISI CYCLIST SEJATI: Jawa Pos bersama Javier Maya (kiri), pemilik Pave. Foto: Tatang Marthadinata for Jawa Pos

 

Booming-nya cycling melahirkan konsep-konsep baru toko sepeda di berbagai negara. Salah satu kandidat terbaik di dunia ada di Barcelona, Spanyol. Namanya Pave Culture Cycliste. Suasananya bisa bikin penggemar sepeda merinding…

Laporan AZRUL ANANDA, Barcelona

BEBERAPA tahun serius jadi cyclist dan mengunjungi toko-toko sepeda di berbagai negara, ada beberapa tempat yang benar-benar bikin saya kagum.

Mellow Johnny’s, toko milik Lance Armstrong di Austin, Texas, adalah salah satunya. Velo Cult, toko sepeda/bar/venue pesta/bioskop sepeda di Portland, Oregon, juga bikin geleng-geleng kepala.

Sekarang giliran Pave Culture Cycliste, alias Pave, yang membuat saya terus senyum tanpa henti. Toko sepeda di kawasan Barcelona, Spanyol, itu benar-benar dibuat berkesan dari pintu masuk sampai toiletnya!

Dahsyat bukan hanya dari ukurannya yang 700 meter persegi. Hebat bukan hanya dari kelengkapan fasilitas. Pave punya kafe yang menyuguhkan kopi terbaik, bengkel dan fasilitas cuci sepeda yang mewah, ruang fitting sepeda berteknologi termutakhir, dan beberapa ruang shower untuk cyclist yang mampir seusai latihan.

Maut bukan hanya dari pilihan barang dan servis yang ditawarkan. Hanya merek-merek terbaik yang ditawarkan di Pave. Apakah itu sepeda, komponen, maupun pakaian dan aksesorinya. Semua harus top level.

Lebih dari semua itu, Pave benar-benar punya ”nyawa”, curahan hati pendiri dan pemiliknya: Javier Maya.

Pria kelahiran 1978 tersebut dahulu bekerja di bidang logistik. ”Tapi, saya tidak happy. Saya merasa hidup saya harus berubah,” tuturnya.

Sekitar empat tahun lalu dia pun mendirikan Pave. Segala passion-nya tentang cycling dicurahkan di toko tersebut. Perasaannya itu pun tergambarkan di tas belanja Pave yang bertulisan: ”Love what you do and do what you love” (Cintailah pekerjaanmu dan lakukan apa yang kamu cintai).

Tapi, toko sepeda itu tidak boleh seperti toko sepeda kebanyakan. Yang biasanya agak sempit dan penuh dengan barang-barang. Maya –dibantu arsitek Joan Sandoval– membuat toko yang benar-benar memberikan pengalaman yang istimewa bagi pengunjung.

***

Javier (baca: Havier) Maya kini mengoperasikan Pave bersama partnernya, Gala Balsells, lalu seorang mekanik plus anjing bulldog-nya, Noab. Maya mungkin yang punya visi, tapi Balsells sambil bercanda mengatakan bahwa dialah bos Pave. ”Javier orangnya berantakan, ha ha ha…” celetuk Balsells.

”Dan, bos yang sebenarnya adalah Noab,” tambah Balsells, lantas tertawa.

Mencapai Pave sebenarnya gampang-gampang susah. Letaknya tidaklah di Kota Barcelona. Melainkan ke pinggir, di kawasan El Prat de Llobregat dekat airport. Walau tidak di kota, Pave relatif mudah dicapai. Naik mobil hanya sekitar 10–15 menit dari kota. Kalau dari bandara hanya sekitar 5–10 menit.

Mengapa namanya ”Pave”? Di pintu masuk, langsung ada jawabannya. Lantai terdepan toko terbuat dari tatanan batu ala jalan Eropa lama (pave, baca; Pa-ve). Di arena cycling, jalanan pave mewarnai salah satu lomba paling legendaris, yang juga disebut-sebut sebagai lomba terberat di dunia: Paris–Roubaix.

Walau luasnya 700 meter persegi, Pave tidaklah dipenuhi dengan barang-barang seperti kebanyakan toko sepeda. Malah berlawanan. Barang-barangnya terkesan sedikit, memberikan banyak ”ruang bernapas”.

Merek-merek paling top dunia ditata di bagian/dinding terpisah. POC asal Swedia di satu sisi, Le Coq Sportif asal Prancis di sebelahnya. Oakley punya dinding sendiri. Assos (Swiss) punya bagian sendiri. Rapha (Inggris) punya ruang sendiri pula bersebelahan dengan meja-meja kafe.

Bagian favorit Javier Maya adalah dinding yang men-display baju-baju retro berbahan wol merek De Marchi. Di depannya ada tong, dengan botol-botol wine tertata rapi di atasnya. Di depannya juga ada meja barbershop, lengkap dengan cermin yang menempel di sebuah pilar.

Buat cukur beneran? ”Tidak juga,” ujar Balsells. ”Kami hanya menggunakannya sekali, untuk sebuah event yang mewajibkan peserta harus berkumis. Setelah event berakhir, semua mencukur kumisnya di situ,” ceritanya.

Selain merek-merek top itu, tentu saja ada barang berlogo ”Pave” sendiri. Tapi, masih buatan merek papan atas, Sportful.

Di bagian utama, sepeda-sepeda balap terpajang ala galeri seni. Setiap sepeda di ”kotak” sendiri yang backlit. Merek-merek yang terpajang, antara lain, Passoni, Focus, Bianchi, Ritte, BMC, Parlee, dan Time. Semua merek papan atas.

Beberapa merek lain disebut akan ditampilkan dalam waktu dekat. ”Tommasini dan Cervelo,” sebut Maya, yang secara pribadi mengaku Time adalah merek sepeda favoritnya.

Helm-helm dipajang rapi, ditemani sederetan maneki-neko (lucky cat, kucing pembawa keberuntungan). Deretan itu berwarna ungu, warna corporate Pave.

Sepatu-sepatu sepeda juga ditata dengan cara yang sama.

Di area tengah, di sekitar kasir, ada pula kawasan ”nonton bareng”. Sebuah televisi layar lebar menempel dikelilingi tempat duduk. Di situlah penggemar bisa nobar Tour de France, Giro d’Italia, Vuelta a Espana, atau lomba-lomba kelas dunia yang lain.

Agak ke belakang, ada kawasan bengkel. Di depannya ada ruang cuci sepeda yang sangat rapi dan bersih. Di sebelahnya, toilet. Ya, di Pave, sepeda dan orang bisa bersih-bersih bersebalahan.

Ruang paling belakang adalah kawasan MTB alias sepeda gunung. Serta, rak-rak ban serta aksesori lain.

Agak tersembunyi, dan terletak di depan, adalah kawasan shower. Benar-benar bersih dan rapi. Ada kotak-kotak loker tempat menaruh barang, lalu ada beberapa ruang mandi yang mewah.

Nah, di atasnya adalah ruang bike fitting. Bagi cyclist yang ingin mendapatkan posisi duduk bersepeda paling optimal, Pave memakai teknologi motion capture asal Amerika, Retul. Ada pula sepeda simulasi ukuran buatan Calfee.

Lebih dari sekadar toko sepeda, Maya mengaku ruang-ruang terbuka yang luas itu bisa digunakan untuk fungsi lain. Misalnya, makan malam bersama klub sepedanya yang eksklusif (saat ini beranggota 47 orang).

***

Toko sepeda begini mewah tentu mendatangkan tamu atau klien yang istimewa pula. Secara lokasi, Pave termasuk menguntungkan. Menurut Gala Balsells, kalau di tengah Barcelona, tokonya justru kurang pas.

Pertama, tentu alasan ekonomi. Keunggulan pertama Pave: Bangunan luas itu adalah milik sendiri. ”Kalau di tengah Barcelona, menyewa ruang seluas ini sangatlah mahal. Bisa sampai 100 ribu euro (sekitar Rp 1,6 miliar) per bulan!” ungkapnya.

Walau di pinggir, lokasinya bisa dicapai dengan mudah dari Barcelona dan sangat dekat dengan airport. Lebih penting lagi, lokasinya dekat dengan kawasan-kawasan bersepeda utama di sekitar Barcelona. ”Dari sini, bersepeda sekitar 20 menit sudah naik pegunungan,” jelas Javier Maya.

Karena itulah, Pave punya fasilitas servis dan shower karena banyak orang bersepeda di sekitar sana. Yang juga menguntungkan, Barcelona tidak jauh dari Girona, kota tempat tinggal banyak sekali bintang-bintang balap sepeda dunia.

Hanya sekitar 100 km dari Barcelona, Girona sudah kondang sejak lama. Para pembalap kelas WorldTour (tertinggi dunia), khususnya yang asal Amerika atau negara Eropa lain lebih ke utara, memilih tinggal di Girona.

Cuacanya bagus, bisa untuk latihan sepanjang tahun. Beda dengan di Inggris atau negara lain di utara, yang menyulitkan untuk latihan ketika musim dingin.

Tak heran, banyak pembalap kelas WorldTour (level tertinggi dunia) mampir ke Pave.

Ketika penulis berkunjung ke sana, Javier Maya tampak sedang sibuk berdiskusi dengan seseorang. Ternyata, seseorang itu adalah Christian Meier, pembalap WorldTour asal Kanada, yang tergabung di tim Orica-GreenEDGE asal Australia.

Meier termasuk yang tinggal di Girona. ”Dia ke sini minta masukan soal mendirikan kafe sepeda di Girona,” kata Maya.

Barisan pembalap WorldTour lain yang pernah mampir? Maya menyebut, antara lain, Joaquim ”Purito” Rodriguez, salah seorang pembalap terbaik dunia asal Spanyol. Juga, mantan pembalap Team Sky, Juan Antonio Flecha. ”Dia (Flecha, Red) sekarang sudah tidak di WorldTour. Tapi, dia sebenarnya teman dekat saya,” ucapnya.

Tentu saja, seiring dengan semakin terkenalnya Pave, tamu-tamu tidak harus datang dari kawasan terdekat. Banyak sekali pengunjung yang datang dari penjuru lain dunia. Semua mendengar atau membaca soal Pave, penasaran, dan menyempatkan diri mampir saat berkunjung di Barcelona.

Kalau mereka benar-benar penggemar cycling, Pave tidak akan mengecewakan. Foto-foto toko ini sudah membuat kagum. Tapi, ketika mereka datang sendiri, foto-foto itu masih kalah jauh dengan kondisi aslinya.

Foto boleh berbicara seribu bahasa. Tapi, foto tidak akan bisa membuat badan merinding…. (*)

Gowes sambil Bicara Bisnis

JawaPos [Minggu, 1 April 2012]: jawaposgowes

Polygon Gowes CEO 2012 Dekati Sensasi Bermain Golf. SUASANA Ancol Ecopark pada Jumat (30/3) petang tampak berbeda. Puluhan figur dengan wajah yang kerap menjadi sampul majalah-majalah bisnis ”melepaskan jas” kemudian berganti jersey warna hijau lengkap dengan helm dan sarung tangan. Mereka adalah para pemimpin perusahaan (Chief Executive Officer) yang tengah mengikuti Polygon Gowes CEO 2012. 

Tak kurang dari 29 pemimpin perusahaan terkemuka berkumpul di club house yang bernuansa lapangan golf tersebut. Sejumlah nama tenar tampak tak canggung mengendarai Polygon Cozmic CX 2.0. Di antaranya, Deputy Chairman Lippo Group James T. Riady, Direktur Utama Jawa Pos Koran Azrul Ananda, CEO Super brands International Eamonn Sadler, Ketum Kadin Suryo Bambang Sulisto, CEO Ancol Budi Karya Sumadi, CEO Berita Satu Holding Sachin Gopalan, dan Deputi CEO Commercial Smartfriend Djoko Tata Ibrahim.”Kita butuh 2-3 bulan untuk mempersiapkan acara ini. Namanama yang hadir ini cukup sulit untuk diketuk pintunya di kantor. Namun, sekarang justru bisa bertemu di sini dalam suasana yang berbeda,” tutur Direktur Polygon Ronny Liyanto. Setelah dilepas Putri Olahraga Indonesia Offie Dwi Natalia, para CEO langsung mengayuh sepedanya menuju dermaga Ancol. Sambil bersenda-gurau, para petinggi perusahaan tersebut meluncur di jalur pemanasan berupa track paving block sekitar dua kilometer. Setelah dirasa cukup, sejumlah pemandu lantas mengarahkan rombongan masuk ke jalur sepeda yang melingkari-lingkar mengelilingi Ecopark. Jalurnya cukup beragam, mulai jalan rata hingga tanjakan ringan. Sekitar sejam berkeliling dengan bersepeda, perasaan gembira tapak di wajah-wajah segar mereka. ”Saya sudah lama tidak bersepeda. Karena waktu untuk olahraga sangat terbatas, akhirnya pilih berenang. Tapi senang sekarang bisa gowes lagi. Tadi kita berkeliling 5-6 kilometer, tapi tidak terasa karena sambil ngobrol ringan,” ujar James Riady.

Sementara itu, Azrul Ananda menilai ide mengumpulkan para pebisnis untuk bersepeda tergolong unik. Biasanya, sesama pengusaha harus bertemu dalam suasana formal, minimal harus main golf kalau menginginkan suasana yang lebih santai. Kali ini, para pengusaha justru dipertemukan dalam suasana yang lebih santai, berolahraga sepeda, namun dalam lingkungan yang mendekati sensasi bermain golf. ”Ini acara unik. Biasanya kita ketemu harus formal pakai jas, tapi di sini kita bisa ketemu pakai baju santai,” terang Azrul.

Usai bersepeda, para pemimpin perusahaan dari berbagai industri tersebut berkumpul dalam forum business sharing. Mereka membahas prospek ekonomi Indonesia sepuluh tahun ke depan. Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat masa depan ekonomi Indonesia menjanjikan untuk pengembangan bisnis. Selain faktor jumlah penduduk yang semakin besar, rasio produktivitas pekerja yang meningkat, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga diprediksi stabil di kisaran 6-7 persen.(bay/fat)

Logo Nomor 1 Baru untuk 2011

 Monday, 17 January 2011 07:17 WIB

                   EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1). 

EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1).

Jorge Lorenzo sudah empat kali ini datang di Indonesia. Namun, kali ini dia jadi ‘atraksi utama,’ sebagai seorang juara dunia. Bagaimana rasanya? Seperti apa MotoGP 2011 dan 2012 nanti?

Berikut petikan wawancara khusus Azrul Ananda dengan pembalap Spanyol tersebut di Surabaya kemarin (16/1).

Kesempatan eksklusif ini terwujud berkat Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) dan Surya Timur Sakti Jatim (STSJ), yang mendatangkan sang world champion ke Indonesia.

Selamat datang lagi di Indonesia. Sudah empat kali Anda datang ke sini, jadi Anda tentu sudah familiar dengan segalanya. Seperti apa rasanya kunjungan ini sejauh ini?
Ini memang sudah kali keempat saya ke Indonesia. Saya selalu merasa nyaman, merasa senang berada di sini. Karena ini negara yang sangat indah, banyak hijaunya, dan orang-orangnya selalu tersenyum. Memberi kita feeling yang sangat baik.
Rasanya saya seperti lebih terkenal di sini daripada di Spanyol. Itu sulit dipercaya!
Benar lebih terkenal? Apakah ada negara lain di mana Anda merasa sama terkenalnya dengan di Spanyol? Selain Indonesia?

Mungkin Spanyol tetap negara tempat saya paling terkenal. Di sini (Indonesia) yang kedua. Lalu negara seperti Italia dan Inggris setelah itu. Yang jelas, sulit dipercaya betapa besar passion orang di sini untuk MotoGP.

Anda sudah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia, tapi ini kali pertama di Surabaya. Apa pendapat Anda sejauh ini?

Well, saya mendarat langsung datang ke hotel ini (tempat wawancara kemarin, red), jadi saya belum sempat lihat-lihat kota. Tapi saya sudah diberi informasi, dan saya belajar sedikit tentang kota ini. Saya diberi tahu ini kota terbesar kedua. Enam juta penduduknya?
Surabaya dan sekitarnya hampir sembilan juta.
Sembilan juta? Jadi ini hampir empat kali lipat Barcelona (Spanyol, red) tempat saya tinggal.
Kalau begitu Anda bisa lebih punya banyak penggemar di sini daripada di Barcelona.
Ya, saya rasa begitu!

Ini kali pertama Anda datang ke sini sebagai juara dunia. Sebelumnya, Valentino Rossi biasanya juga ke sini. Jadi, baru tahun ini Anda datang sebagai atraksi utama. Bagaimana rasanya datang sebagai atraksi utama?

Well, selalu senangnya datang sebagai bintang untuk merek legendaris seperti Yamaha. Valentino (Rossi) bagi saya selalu seperti cerita besar. Karena ketika masuk MotoGP, saya hampir tidak tahu apa-apa. Jadi bersaing dengan dia, dan ketika sebelum masuk MotoGP banyak menonton balapannya, saya banyak belajar dari dia. Dan saya terus belajar, karena dia tahu begitu banyak hal.
Saya selalu ingin belajar dari pembalap lain, karena pembalap lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.

You know, datang ke sini sebagai atraksi utama untuk number one brand seperti Yamaha memberi kepuasan tersendiri. Saya bangga bisa merasakannya.
Sekarang mari bicara MotoGP. Tahun lalu Anda juara dunia, meraup begitu banyak poin (387 poin, red). Tapi, sejumlah orang bilang Anda mendapat sedikit bantuan, karena Valentino cedera, lalu Dani Pedrosa cedera, dan Casey Stoner tidak maksimal. Bagaimana pendapat Anda tentang itu, dan apa menurut Anda yang akan berubah di 2011?

Normal kalau ada orang yang masih bicara seperti itu. Normalnya, orang-orang yang bicara seperti itu adalah penggemar Valentino atau penggemar Pedrosa. Normal bila orang-orang itu selalu mencari-cari alasan supaya bisa bilang kalau saya tidak layak mendapatkan gelar.

Tapi ingat, 2009 adalah tahun kedua saya di MotoGP, tahun pertama memakai ban Bridgestone, dan saya mampu bersaing dengan Valentino untuk memperebutkan gelar.
Pada 2010 saya pikir kami lebih siap. Kami lebih punya keunggulan. Jadi ketika Valentino mengalami kecelakaannya, kami sudah memimpin cukup jauh di klasemen. Dan ketika Dani (Pedrosa) mengalami kecelakaan karena masalah motor, saya sudah memimpin klasemen sebanyak 50 poin.

Jadi, kecelakaan-kecelakaan (pesaing) itu mungkin membantu kami merebut gelar juara dunia. Tapi tanpa kecelakaan-kecelakaan itu pun saya yakin masih akan menjadi juara dunia.

Anda sangat percaya diri?
Bukan, ini bukan sekadar percaya diri. Saya pikir memang begitu. Mungkin saja berbeda, karena kita tidak akan bisa memprediksi masa depan. Tapi saya rasa begitu.
Bagaimana menurut Anda tentang 2011. Siapa yang menurut Anda bakal menjadi ancaman utama. Casey Stoner dengan motor barunya (Honda, red) atau Valentino Rossi dengan motor barunya (Ducati, red)?

Saya pikir kami layak menjadi juara dunia 2010. Tapi 2011 adalah dunia yang berbeda. Akan ada kejuaraan baru dan semua orang akan mengawalinya dengan poin nol. Jadi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Karena masa depan adalah masa depan. Tidak ada yang tahu akan seperti apa.
Kita akan mencoba memberikan yang terbaik. Yamaha akan mencoba untuk membuat motor lebih baik, saya akan mencoba untuk meng-improve cara membalap saya, bersama kami akan mencoba memberikan yang maksimal.

Brand dan pembalap lain akan melakukan hal yang sama, jadi (2011) akan menyuguhkan persaingan yang sangat kompetitif. Banyak pembalap bisa bersaing berebut kemenangan.
Mari melihat lebih jauh lagi ke depan, ke 2012. Karena MotoGP akan menggunakan motor 1.000 cc. Anda belum pernah merasakan 1.000 cc, karena ketika Anda masuk MotoGP (pada 2008) regulasinya sudah 800 cc.

Apakah Anda akan mendapatkan disadvantage pada 2012? Karena pada 2012 Anda masih akan membalap untuk Yamaha.
Ya, beberapa orang bilang bahwa pembalap yang datang dari kelas 250 cc ke MotoGP 800 cc mendapat sedikit keuntungan. Karena motor 800 cc butuh dikendarai dengan gaya seperti 250 cc.

Tapi saya pikir, pembalap yang bisa cepat naik 125 cc dan 250 cc juga bisa cepat naik MotoGP. Memang ada bedanya. Motor 125 cc punya tenaga kurang, 250 cc sedikit lebih bertenaga, dan MotoGP jauh lebih bertenaga. Tapi semuanya tetap memakai dua roda dan satu mesin!

Jadi kalau kita bisa cepat naik satu motor, kita bisa cepat naik semua motor.
Apa yang Anda butuhkan lebih baik dari motor Yamaha (YZR M1) untuk bisa kembali menjadi juara pada 2011 dan 2012?

Well, I love my bike. Dan Yamaha adalah motor yang lebih kompetitif dalam tiga tahun terakhir, dan kami mampu merebut triple crown. Bukan hanya gelar juara pembalap, tapi juga konstruktor dan tim.

Tapi brand yang lain bekerja sangat keras, mereka mampu mendekat di setiap lomba, di setiap tahun. Jadi untuk terus mempertahankan posisi sebagai nomor satu kita harus terus bekerja. Lebih keras dan lebih keras.
Saya pikir, satu hal yang harus kami perbaiki adalah power yang dihasilkan mesin. Kami butuh sedikit lebih banyak lagi tenaga.

Sekarang mari bicara soal kelakuan-kelakuan antik Anda di setiap akhir lomba. Anda punya begitu banyak show untuk penggemar. Siapa yang muncul dengan ide-ide itu. Apakah Anda, atau Anda punya tim yang bertemu untuk melakukan sesuatu bila menang?
Ha ha ha. Bagi saya, sangatlah penting untuk melakukan sesuatu yang berbeda setelah setiap kemenangan atau setelah setiap lomba. Kalau kita memenangi sebuah lomba, kita harus merayakannya seperti telah meraih sesuatu yang sangat penting.

Sangatlah sulit untuk memenangi sebuah lomba. Jadi kita harus melakukan sesuatu untuk mengenang lomba tersebut dan mencoba menikmatinya bersama penonton.
Saya mulai melakukan selebrasi (unik) mulai 2007. Berlanjut sampai sekarang. Bagi saya, yang paling saya nikmati adalah balapan di Jerez (Spanyol) pada 2010, saat saya melompat ke dalam danau.

Kadang, idenya muncul begitu saja di kepala saya. Saya harus punya selebrasi, jadi saya harus terus memikirkannya. Kadang orang-orang di sekeliling saya, teman-teman saya, turut bekerja untuk mengembangkan lagi ide-ide itu. Yang paling sulit adalah untuk benar-benar mewujudkannya.

Anda punya ciri khas bendera Lorenzo’s Land (ditancapkan setelah meraih kemenangan di satu tempat, menandai penaklukkan suatu wilayah, red). Apa yang terjadi kalau Anda sudah meraih kemenangan di semua sirkuit yang ada di dunia. Setelah itu apa? Apakah Anda akan punya filosofi baru atau ide baru? Bendera yang berbeda?
Anda tahu kan, ketika kita berhasil menaklukkan sebuah negara (dalam sebuah lomba), kita hanya menikmatinya untuk dua pekan. Setelah itu kita tidak memilikinya lagi, dan harus menaklukkannya lagi di tahun berikutnya.

Baik, ini pertanyaan terakhir saya, setelah itu ada dua lagi pertanyaan dari penggemar (yang menitipkan pertanyaan via JTV, red). Pertanyaan terakhir saya: Apakah Anda akan membalap di tahun 2011 memakai nomor 1 (tanda juara dunia, red), atau tetap memakai nomor 99?
Seratus persen akan membalap pakai nomor 1.
(Lanjutan). Seperti apa nomor satunya? Desainnya? Karena nomor 99 Anda didesain merah dan putih (satu setan, satu malaikat).

Saya tidak bisa menjelaskannya. Karena dalam satu pekan atau lebih sedikit, kami akan meluncurkan (desain) nomor 1 itu. Dalam satu pekan atau lebih itu kita akan melihatnya.
(Desain) itu sangat spesial, sangat beda. Ada kaitannya dengan nama saya. Dengan “Jorge Lorenzo.” Jadi Anda akan lihat nanti.

OK, sekarang dua titipan pertanyaan dari pemirsa JTV. Yang pertama dari Sigit di Madiun. Pertanyaannya, kalau Anda menghadapi lomba di lintasan basah (hujan). Apa tantangan utama yang harus Anda atasi sebelum start?

Yang paling utama adalah rasa takut. Karena kita tahu kondisi permukaan sangatlah berbahaya. Kita harus sangat smooth. Karena kalau kita agresif maka motor akan banyak bergerak dan kita akan celaka dengan mudah.

Jadi, pertama-tama kita harus melepaskan rasa takut. Hanya berpikir untuk menikmati mengendarai motor. Harus sangat hati-hati, harus sangat konsentrasi. Lalu mencoba mengambil line (jalur, red) yang sama di setiap tikungan. Karena kalau kita membuat kesalahan di satu jalur atau satu tikungan, kita akan celaka dengan mudah.
Balapan di sirkuit basah itu seperti art (seni, red).

Pertanyaan terakhir ini dari Hadi di Kediri. Kalau Anda di Indonesia untuk balapan. Kalau Anda ikut road race di Indonesia menggunakan motor-motor jalanan yang ada di Indonesia. Apakah Anda merasa bisa akan menang seperti di MotoGP?
Saya yakin pasti akan finis paling belakang! Karena mereka di sini crazy!

(Kalau balapan) mereka pasti punya lebih banyak pengalaman dari saya. Kalau saya hanya punya dua atau tiga hari persiapan, saya pasti tidak kompetitif.
Mereka pasti akan crazy dan selalu membalap seratus persen! Mungkin mereka semua akan mengalahkan saya, atau mereka semua kecelakaan dan memberi saya kemenangan! (*)

sumber : http://radarcirebon.com

Lahap Rute Surabaya-Malang Lebih Cepat

 February 19, 2013

NIKMATI KOTA MALANG: Anggota SRBC foto bersama di Kota Araya dengan latar belakang jembatan.

NIKMATI KOTA MALANG: Anggota SRBC foto bersama di Kota Araya dengan latar belakang jembatan.

Azrul Ananda Pimpin Nggowes SRBC

KABUPATEN – Puluhan anggota Surabaya Road Bike Community (SRBC) kemarin melajukan sepedanya (gowes) ke Malang. Mengambil start dari RSAL Wonokromo, Surabaya, pada pukul 05.30, mereka melahap jarak sekitar 80 kilometer. Sejumlah anggota SRBC sempat merasakan medan agak menanjak saat melintasi pintu masuk Lawang.

Secara geografis, jelang masuk ke fly over Lawang, anggota SRBC harus melalui tanjakan perbatasan Pasuruan dan Malang. ”Lumayan juga tadi se- belum fly over,” ujar anggota SRBC Ari Sutandyo. Pengusaha ekspedisi tersebut mengatakan, tidak semua peserta berangkat dari Surabaya finish di Malang.

Ada beberapa yang memilih berhenti di Pandaan dan kembali ke Surabaya. Sesampai di Lawang rombongan berhenti di RM Sari Rasa Lawang. Di sana mereka menikmati sajian khas tahu petis dan teh hangat. Mereka di sambut rombongan dari Jawa Pos Radar Malang yang dipimpin Direktur Kurniawan Muhammad.

”Wah, kita masuk Malang lebih cepat ini dari schedulenya,” kata Direktur Utama PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda yang juga ikut gowes. Tak lama singgah di RM Sari Rasa Lawang mereka melanjutkan destinasinya ke Malang. Yakni ke kawasan Kota Araya. Dikawal anggota Satlantas Polrestabes Surabaya Azrul dan Ketua SRBC Teddy Moelyono memimpin rombongan.

Di Araya mereka sempat meninjau even bursa mobil second gelaran Jawa Pos Radar Malang. Azrul memuji konsep bursa mobil yang digelar di ruang terbuka itu. ”Bagus di sini. Enak tempatnya. Adem. Yang datang jadi enjoy,” ujar dia. Usai meninjau bursa mobil second, rombongan kemudian bergerak ke dalam Kota Araya. Mereka menyempatkan diri berfoto bersama.

Setelah itu rombongan masuk ke resto Taman Indie Kota Araya untuk menikmati hidangan yang sudah disiapkan. Ketua SRBC Teddy Moelyono menyebutkan, gowes ke luar kota memang menjadi agenda wajib komunitasnya. Untuk gowes ke Malang, dia menyebutkan sudah kali kedua diikuti SRBC. Tahun lalu mereka juga sempat gowes tujuan Malang menemani kunjungan Azrul ke Malang.

Sementara itu, usai mengikuti gowes Surabaya–Malang Azrul menuju ke GOR Bimasakti di Sukun untuk me- nyak sikan kompetisi basket National Basketball League (NBL). Sore harinya dia mampir ke kantor Jawa Pos Radar Malang di Jalan Arjuno 23 Malang untuk memberikan motivasi kepada staf redaksi Radar Malang.

Azrul menilai, Jawa Pos Radar Malang adalah salah satu penyangga utama Jawa Pos selain Surabaya. Oleh karenanya, dia meminta seluruh karyawan Jawa Pos Radar Malang untuk selalu fokus dan selalu kreatif dalam pekerjaannya. ”Fokuslah. Kalau Anda fotografer hasilkan foto- foto yang bagus. Kalau wartawan, hasilkan tulisan-tulisan yang menarik,” katanya.

Teddy mengatakan, di SRBC, anggotanya dari bermacam golongan. Se perti pengusaha, karyawan, sampai bos media seperti Azrul. Mereka antara lain Siswo Wardoyo yang berlatar be lakang pengusaha garmen, Paulus Setyabudi yang seorang arsitek dan Sun Hin yang sehari-hari bekerja di bidang ekspor impor.

Kunjungan SRBC kemarin juga diapresiasi oleh pihak Kota Araya. ”Pasti impact positifnya besar sekali. Mereka ini memiliki latar belakang berbeda. Sedikit banyak mereka pasti akan bercerita ke teman-temannya jika di Malang ini ada Kota Araya,” kata Marketing Manager Kota Araya Teguh Wijiyanto. (radar)

Sumber : http://malangbatu.info