SBY Diminta Tunjuk Menpora dari Kalangan Profesional

Rabu, 12 Desember 2012 01:32 wib

K. Yudha Wirakusuma –

JAKARTA – Hingga saat ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) belum kunjung menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), setelah Andi Mallarangeng mengundurkan diri beberapa waktu lalu akibat tersangkut kasus dugaan korupsi Hambalang.

Kalangan organisasi kemasyarakatan (Ormas) meminta Presiden SBY segera menetapkan Menpora yang bebas dari kepentingan politik.

“Selayaknya berasal dari kalangan profesional agar semua masalah Pemuda dan Olahraga diselesaikan tanpa muatan politis,” ujar  Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar, KH Ahmad Syadeli Karim, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Hal senada diungkapkan oleh aktivis Pemuda Al-Irsyad dan Mercy, Geis Chalifah. Menurutnya, menteri dari kalangan profesional, urusan pemuda dan olahraga tidak direcoki oleh para aktor di panggung politik.

“Kalangan pemuda perlu menteri yang amanah dan profesional,” tegasnya saat dihubungi terpisah

Beberapa nama yang muncul dari kalangan profesional antara lain pengusaha muda Sandiaga Uno, mantan Direktur Utama LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf, dan tokoh basket Azrul Ananda.

Sandiaga dikenal sebagai pengusaha muda pemegang saham mayoritas grup Recapital. Pemilik saham di beberapa perusahaan tambang, perkebunan dan media itu dikenal sebagai sosok yang disegani oleh beberapa kalangan.

Sandiaga juga dikenal sebagai penggemar basket dan olahragawan. Ia sering mengikuti lomba marathon di sejumlah kota di dunia, dan tercatat sebagai salah satu pelari yang membawa obor pada Olimpiade London 2012.

Sedangkan Azrul Ananda adalah penerus estafet grup perusahaan milik Menteri BUMN Dahlan Iskan, baik di bidang media maupun sektor energi. Ananda adalah pencetus kompetisi liga basket untuk kalangan mahasiswa dan pelajar. Azrul Ananda adalah salah satu tokoh penting yang mempopulerkan olahraga basket di Indonesia.

Azrul Ananda yang lahir di Samarinda pada 4 Juli 1977, kini adalah tokoh penting bagi kemajuan olah raga basket sejak dia sekolah di Sacramento. Lewat kecintaannya pada olah raga dan kemajuan generasi muda, dia membangun sebuah liga pelajar dari Surabaya, tempat dia berdomisili setelah pulang dari Sacramento, AS.

Kemudian Liga Basket pelajar SMA itu berkembang ke Malang, Semarang, Jogja, Mataram, Bali, sebagian Kalimantan, Bandung, bahkan sampai Ke Jambi, dengan grand final tetap di Surabaya.

Sementara Mukhlis Yusuf adalah profesional muda yang berhasil mengembangkan LKBN Antara menjadi kantor berita yang independen dan mandiri, baik dari sisi pemberitaan maupun manajemen bisnis. Menurut KH Syadeli Karim, Mukhlis cukup layak menduduki jabatan Menpora lantaran terbukti selama memimpin LKBN Antara, Mukhlis dipandang sebagai orang yang independen dan kredibel.

Menurut Geis Chalifah, Mukhlis adalah sosok yang konsisten, profesional dan amanah. “Beliau juga mengerti aspirasi kalangan muda dan diterima oleh semua kalangan. Jadi kalau beliau jadi Menpora, saya yakin kasus PSSI langsung selesai,” ungkapnya.

Nama Mukhlis, menurut Geis, tidak saja diakui oleh berbagai kalangan di Indonesia, tapi juga sudah mendunia. Ia mencontohkan, Mukhlis pernah menjadi Presiden Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA) sejak 2007. Di bawah kepemimpinan Muchlis, Organisasi kantor berita dari 33 negara di kawasan Asia Pasifik itu sangat peduli dengan tragedi kemanusiaan. Di bidang olahraga, Mukhlis pernah menjadi pengurus Perbasi Pusat. (put)

Sumber : http://news.okezone.com

Advertisements

TAK MULUK-MULUK TETAPKAN TARGET

National Basketball League 2012-2013

Gugum Rachmat Gumilar

Minggu,  25 November 2012  −  00:33 WIB

Tak muluk-muluk tetapkan target

Sindonews.com – Kejuaraan bola basket tertinggi di tanah air, Speedy National Basketball League (NBL) Indonesia kembai digelar untuk musim kompetisi 2012-2013. Penyelenggara kejuaraan mengklaim hal ini sebagai keberhasilan ditengah terpuruknya prestasi olahraga dalam negeri.

Comissioner NBL sekaligus Direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia Azrul Ananda mengatakan, di awal penyelenggaraan, pihaknya tidak menyangka kompetisi ini bisa bertahan hingga tahun ketiga. Bahkan di setiap musim, NBL selalu menunjukkan peningkatan kualitas kejuaraan.

“Saya tidak menyangka kejuaraan ini bisa survive sampai sejauh ini, bertahan hingga musim ke tiga. Bahkan selama penyelenggaraannya, saya melihat banyak hal yang diluar dugaan. Termasuk kesimpulan bahwa tidak ada liga lain, selain tentunya sepak bola, yang penontonnya bisa seheboh ini. Apa lagi jika melihat penonton di Bandung dan Surabaya, luar biasa. Itu pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang tentu harus kami tingkatkan di penyelenggaraan selanjutnya,” ujarnya.

Meski terus menunjukkan kemajuan di setiap tahun penyelenggaraannya, ujar Azrul, pihaknya tidak menetapkan target tinggi di perhelatan tahun ini. Termasuk dengan pencapaian yang ingin dihasilkan dalam NBL tahun ini. Sebagai langkah awal meningkatkan prestasi bola basket nasional, ajang ini hanya menargetkan tingginya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap olahraga basket. Jika keikutsertaan khalayak sudah membludak, ujar Azrul, maka prestasi basket dalam negeri secara otomatis akan meningkat.

“Memang menjadi cita-cita kami agar basket Indonesia bisa menjadi raja di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Tapi itu butuh proses. Untuk saat ini, cukup menargetkan bagaimana caranya agar banyak yang nonton basket, termasuk NBL. Sehingga nantinya banyak juga yang bermain baskt. Jika sudah seperti itu, dengan melimpahnya jumlah masyarakat Indonesia, masa tidak ada satu orang saja yang bisa seperti Michael Jordan,” tuturnya.

Azrul mengaku optimistis pamor basket di Indonesia terus meningkat. Terlebih, berbagai kejuaraan olahraga ini selalu mengedepankan profesionalisme. Hal itu merupakan imbas dari minimnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk berbagai kegiatan bola basket.

“Basket itu semuanya swasta. Mulai dari kejuaraan hingga timnasnya pun dibiayai sendiri, karena tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Tapi justru dengan anggaran dari pihak swasta melalui sistem sponsor, semua harus dilakukan dengan profesional. Ini yang membuat bola basket terus meningkat perkembangannya. Bahkan beberapa survey mengatakan, bahwa basket saat ini menjadi olahraga kedua di Indonesia setelah sepakbola. Di tahun-tahun mendatang, bukan tidak mungkin kami menjadi nomor satu di negeri ini,” kata Azrul.

sumber : http://sports.sindonews.com

KENAPA DAHLAN ISKAN PILIH ORANG MUDA?

20.55    

DAHLAN ISKAN, Menteri BUMN,  adalah sosok yang paham betul dengan  regenerasi. Karena itu ia kemudian ia menunjuk Nur Pamudji (50) sebagai direktur baru PLN untuk menggantikannya. 

 

Dahlan Iskan mengaku sulit membedakan antara satu dan lainnya. Pasalnya, antara direksi dan sembilan ini, semuanya penuhi syarat, tapi yang muda, kata Dahlan, yang harus beri kesempatan karena komitmennya yang muda harus tampil.

“Pak Nasri ini kamus PLN, Pak Murtaqi itu Tan Malaka PLN, Pak Hary Jaya, Pak Vickner, Pak Adnyana itu Panglima Cheng Ho, Pak Bagyo, Pak Edi saya kira direktur SDM terbaik di Indonesia, dan Direktur Keuangan tetap pak Dewo, karena dia ahli uang dan dia ahli sikap keuangan” kata Dahlan Iskan, seperti dikutip sejumlah media.

Saking sadar dengan regenerasi. Pada usia 37 tahun Dahlan Iskan sudah berhenti menjadi pemimpin redaksi Jawa Pos. Dan kini Jawa Pos dipimpin Azrul Ananda yang berumur 34 tahun. Ini, kata Dahlan Iskan, agar berganti kepada generasi yang lebih muda.

“Umur 39 tahun saya sudah berhenti menjadi pemimpin umum Jawa Pos. Pak Jakob Oetama terus menjadi pemimpin redaksi dan pemimpin umum Kompas, sampai usia hampir 70 tahun” tulis Dahlan Iskan pada catatannya yang berjudul ‘Hidup Bahagia Jakob Oetama’.

Apa yang dilakukan oleh Dahlan Iskan ini, saya kira patut ditiru. Ini terutama bagi elite-elite parpol besar yang ada saat ini. Berilah kesempatan bagi generasi muda untuk tampil di depan, dan biarlah yang tua-tua tampil di belakang sambil memberikan dorongan: ‘Tut Wuri Handayani’.

Kalau ini dilakukan tentu regenerasi kepemimpinan tidak akan mandek. Sehingga stok calon pemimpin kian melimpah ruah. (*)

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 17:28 WIB

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seluruh tim peserta liga basket tertinggi di tanah air telah menyerahkan susunan ofisial dan pemainnya untuk kompetisi National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012 yang akan mulai bergulir 10 Desember.

Tercatat ada puluhan rookie yang akan mengawali kariernya di musim reguler liga basket tertinggi Indonesia ini. Seitar 31 wajah baru akan berebut gelar pendatang baru terbaik. Itu belum termasuk barisan pemain yang memperkuat dua tim baru, Pacific Caesar Surabaya dan NSH GMC Riau.

Kebanyakan pemain muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka saat Preseason Tournament di Malang, 23 September hingga 2 Oktober lalu. Dua yang paling menonjol adalah Arki Dikania Wisnu dari Satria Muda Britama Jakarta dan Herman “Wewe” Lo dari Nuvo CLS Knights Surabaya.

Banyaknya bintang muda ini dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan basket Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum era NBL Indonesia, gairah di arena basket bisa dibilang redup. Tidak banyak tim berinvestasi untuk membina bintang-bintang masa depan basket Indonesia. Sekarang, setelah sukses musim perdana, gairah itu sangat terasa di NBL Indonesia 2011-2012,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.

“Fondasi yang baik ini bukan hanya untuk setahun ke depan. Ini baik untuk bertahun-tahun ke depan,” tambahnya.

Bella Erwin Harahap, ketua Dewan Komisaris NBL Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perbasi, merasa yakin hadirnya para pemain muda itu akan membuat basket Indonesia semakin mantap melangkah.

“Banyaknya wajah baru ini bukti bahwa regenerasi telah berjalan. Kompetisi menjadi lebih enak dinikmati dengan tenaga-tenaga muda tersebut. Kita semua jadi punya lebih banyak pilihan untuk mencari pemain-pemain masa depan tim nasional Indonesia,” ujar Ade Bella, sapaan akrabnya.

Musim reguler NBL Indonesia 2011-2012 terdiri atas enam seri. Pembukanya di Bandung, 10-18 Desember, berlanjut ke Solo, Denpasar, Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Delapan dari 12 tim terbaik lantas lolos ke Championship Series, yang dijadwalkan berlangsung di Jogjakarta pada April 2012.

sumber : http://www.tribunnews.com

Komisioner NBL berharap olahraga Indonesia lekas privatisasi

Sabtu, 12 Januari 2013 05:20 WIB

NBL (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

“Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta,” kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

“NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja,” ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

“Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja,” ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

“Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial,” kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

“Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya,” tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

“Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?” kata dia.

“Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak,” ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

“Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya,” ujar dia menutup perbincangan. (G006)
Editor: B Kunto Wibisono

sumber : http://www.antaranews.com

MUNAS, ISSI JATIM JAGOKAN AZRUL ANANDA

Senin, 16 Januari 2012 | 07:28


Pengprov Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI)  Jawa Timur secara resmi menjagokan Azrul Ananda sebagai kandidat Ketua Umum PB ISSI dalam Musyawarah Nasional (munas).

Sekretaris Umum ISSI Jatim, Harijanto Tjondrokusumo, Minggu (15/1), mengatakan, ISSI Jatim mengajukan penawaran kepada Azrul sebagai pengganti Phanny Tandjung yang habis masa jabatannya berakhir tahun ini. Bahkan ISSI Jatim sudah mengajukan lamarannya secara lisan dan telepon.

“Secara resmi, kami mengajukan penawaran kepada mas Azrul (Azrul Ananda) sebagai figur pemimpin ISSI empat tahun ke depan,” kata Harijanto.

Harijanto mengungkapkan sudah berulangkali berjumpa dengan Azrul Ananda untuk membicarakan masa depan olahraga balap sepeda. Terutama untuk memajukan olahraga balap sepeda yang kini dianggap masih jalan ditempat.

ISSI Jatim memiliki dua alasan utama, menjagokan Azrul Ananda sebagai kandidat Ketua Umum PB ISSI. Pertama, Azrul dianggap mampu mengembangkan olahraga basket yang selama ini kurang dikenal menjadi populer. Kedua, basket yang dikelolanya tidak hanya mengurusi prestasi, tetapi juga menyentuh sektor pembibitan.

Dua alasan ini yang dinilai ISSI Jatim bisa membangkitkan olahraga balap sepeda pada masa yang akan datang. “Tidak bisa dibantah, basket berhasil dikembangkan menjadi slaah satu olahraga paling menarik. Kedepan, kita berharap balap sepeda bisa mengikuti jejak basket,” ungkap Harijanto.

Sejalan dengan itu, figur sebagai pengusaha muda yang dimilikinya bisa membawa perubahan. Bukan lagi rahasia bila pengurus PB ISSI, tidak banyak berubah. Dimana pengurusnya masih mempertahankan muka-muka lama. ISSI Jatim memandang banyak pengurus yang mestinya sudah mengakhiri masa jabatannya dan berganti dengan pengurus muda.

“Sudah saatnya ISSI diisi oleh pengurus muda dan dinamis. Kalau mempertahankan yang itu-itu saja, kita makin tertinggal dengan Malaysia dan Singapura,” tandasnya.

Malaysia telah berhasil menciptakan juara dunia, setelah melakukan perubahan ditubuh federasi balap sepedanya.

Sementara kandidat lain yang maju menjadi calon ketua
umum adalah Pahnny Tandjung. Saat ini Phanny masih menjabat ketua umum, setelah terpilih dalam munas tahun 2008 di Bali . Sementara agenda munas dijadwalkan 17-18 Maret di Jakarta. (her)

sumber : http://kominfo.jatimprov.go.id

Seminar “ Entrepreneur and Branding ”

5 Juni 2012

Selasa ( 5/6 ) bertempat di Aula Lantai 7 Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB)  diadakan sebuah seminar  dengan tema “Entrepreneur and Branding”. Bertindak sebagai pemateri yaitu  representative dari The Marketeers Club dan Azrul Ananda (Presiden Direktur Jawa Pos Grup). Acara ini mampu menarik antusias mahasiswa dengan turut berpartisipasinya mahasiswa S1 dan Pasca Sarjana tidak hanya dari FEB UB melainkan dari fakultas-fakutlas  lain di UB.

Mengawali acara seminar, peserta dimanjakan dengan penanyangan video klip dari LMFAO (Duo Elektro Pop asal Amerika)  dan satu lagu dari Taio Crus. Hadir ditengah-tengah peserta seminar yaitu Dekan FEB UB Gugus Irianto, MSA., Ph.D., Ak; Pembantu Dekan I Dr. Khusnul Ashar, SE., MA;  Ketua Jurusan Manajemen Dr. Fatchur Rohman, SE., M.Si. dan juga dosen FEB UB. Dalam sambutannya, Dekan FEB UB mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kedatangan pemateri dari Jawa Pos Group dan kesediaannya untuk memberikan materi pada mahasiswa FEB UB.

Pada paparan materi yang disampaikan oleh The Marketers Team, dijelaskan mengenai profil dari TheMarketeer Club, sebuah komunitas untuk profesional marketing pertama di Indonesia yang memiliki basis di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Selain menjelaskan tentang The Marketeer Club, dijelaskan pula tentang bagaimana cara mendaftar dan keuntungan apa saja yang akan didapatkan apabila bergabung dengan The Marketeer Club. Tercatat nama-nama seperti  Ciputra, Alm. Sosrodjoyo, Johnny Andrean pernah bergabung dalam komunitas yang diikuti oleh lebih dari 2000 profesional marketer.

Memasuki materi kedua, Presiden Direktur Jawa Pos Grup, Azrul Ananda memberikan pengantar mengenai sejarah berdirinya Jawa Pos dan seluk beluknya. Sejak tahun 2006, Jawa Pos telah menjadi Koran Nomer 1 yang paling sering dibaca di Indonesia menurut survey Nielsen. Sebagai The Biggest Newspaper Network di Indonesia, Jawa Pos Group memiliki industrial komplek di Gresik yang didalamnya terdiri dari pabrik kertas dan pembangkit listrik. Dengan adanya pabrik kertas yang memproduksi lebih dari 600 ribu kertas koran perhari dan juga pembangkit listrik,  Jawa Pos Group menjadi perusahaan koran yang mandiri secara operasional.

Azrul Ananda juga membeberkan rahasia “Kenapa Jawa Pos Group menjadi besar seperti sekarang ini”. Dituturkan olehnya, bahwa penyebabnya adalah inovasi di dalam Jawa Pos Group. Dalam penjelasannya,  Azrul menjelaskan mengenai beberapa inovasi yang dilakukan Jawa Pos Group yaituNo Holiday. ” No Holiday diterapkan sejak tahun 1998 yang berefek Jawa Pos Group tidak pernah libur kecuali pada saat hari raya Idul Fitri”, jelas Azrul. Inovasi lain yaitu  mengecilkan kolom yang dulunya 9 kolom menjadi 7 kolom, menjadi yang pertama dalam membagi kolom kolom menurut tema seperti politik ekonomi dan olah”raga, menjadi yang pertama membagi artikel berdasarkan regional seperti Radar Malang dan Radar Bromo, menyuguhkan Deteksi Revolution (sebuah tim yang dibuat untuk menarik pembaca muda untuk kembali membaca Jawa Pos), kreative dalam design front page lebihcolourfull dan lebih menarik daripada koran lain. Jawa Pos pada tiap tahunnya membuat halaman khusus bagi pembacanya seperti Nouvelle yang dikhususkan pada keluarga muda dan artikel Better Generation tentang pebisnis muda dan wanita. Berkat inovasi-inovasi tersebut Jawa Pos mendapat penghargaan sebagai Young Reader Newspaper Of The Year 2011 dan Design Terbaik Se-Asia Pasifik oleh WAN IFRA, sebuah Asosiasi Surat Kabar Internasional.

Selain menceritakan prestasi yang diperoleh jawa pos, Azrul Ananda juga berbagi tips menarik dalam menjaga Culture Jawa Pos Group supaya tetap luwes. Beberapa diantaranya adalah selalu konsisten pada kebijakan manajemen anak muda, dimana segmen pasar yang dituju oleh jawa pos adalah anak muda. “Semua orang bisa menjadi pimpinan redaksi seperti pemimpin deteksi yang merupakan mahasiswa dan masih berumur 22 tahun,  namun memiliki kreativitas yang tinggi. Jawa Pos juga menerapkan Creating Unique Environment yang mana tiap hari Kamis setiap pegawai  Jawa Pos memakai baju warna pink, tujuannya adalah untuk menghargai wanita.

Dibalik inovasi dan budaya Jawa Pos yang membawanya hingga saat ini, ada sosok John Mohn (The Right Teacher John Mohn Story, kisah tentang seorang pemilik Koran lokal yang juga orang tua asuh Azrul Ananda selama di Amerika). “ Kisah tentang John Mohn seorang pemilik Koran lokal yang tinggal di kota kecil dengan penduduk sekitar 800 ribu orang namun mampu mengubah wajah dunia surat kabar.  Hal ini menunjukkan bahwa di tempat yang kecil pun kita bisa menjadi besar, “ ucap Azrul Ananda tentang John Mohn. Ia juga memaparkan fakta mengenai dampak dari era internet terhadap industri koran.  “Koran dan internet bukan saling mematikan tapi saling melengkapi. Tidak seperti di Amerika dan Eropa yang justru dengan adanya internet malah mematikan industri surat kabar. Di wilayah Asia justru sebaliknya, baik internet dan surat kabar semakin tumbuh. Industri surat kabar akan tetap beberapa tahun ke depan dan selalu beradaptasi mengikuti perkembangan zaman, ” ucapnya yakin.

Pada sesi akhir atau sesi tanya jawab, muncul satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh salah satu peserta yaitu tentang bagaimanakah hubungan Jawa Pos Group dengan loper koran. Azrul pun menjelaskan bentuk kepedulian Jawa Pos terhadap loper koran, salah satunya yaitu dengan menjaga kestabilan harga koran Jawa Pos. Harga koran Jawa Pos dipasaran adalah Rp. 4500, sedangkan harga yang dikenakan kepada loper koran adalah Rp. 2500. “Jika koran dibeli dengan harga Rp. 3000 maka penjual akan untung Rp. 500  apabila dijual dengan harga Rp. 3500 mereka akan untung Rp. 1000 jika koran dijual dengan harga jual yang terpaut sedikit dengan biaya produksi maka loper koran akan kesulitan mendapatkan laba. Sselain itu pihak  Jawa Pos juga memberikan sumbangan dan hadiah kepada para loper koran yang ikut membantu dalam penjualan koran Jawa Pos, “ jelas Azrul Ananda sekaligus mengakhiri seminar. ( Dinar/ris )

sumber : http://www.feb.ub.ac.id