Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 17:28 WIB

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seluruh tim peserta liga basket tertinggi di tanah air telah menyerahkan susunan ofisial dan pemainnya untuk kompetisi National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012 yang akan mulai bergulir 10 Desember.

Tercatat ada puluhan rookie yang akan mengawali kariernya di musim reguler liga basket tertinggi Indonesia ini. Seitar 31 wajah baru akan berebut gelar pendatang baru terbaik. Itu belum termasuk barisan pemain yang memperkuat dua tim baru, Pacific Caesar Surabaya dan NSH GMC Riau.

Kebanyakan pemain muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka saat Preseason Tournament di Malang, 23 September hingga 2 Oktober lalu. Dua yang paling menonjol adalah Arki Dikania Wisnu dari Satria Muda Britama Jakarta dan Herman “Wewe” Lo dari Nuvo CLS Knights Surabaya.

Banyaknya bintang muda ini dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan basket Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum era NBL Indonesia, gairah di arena basket bisa dibilang redup. Tidak banyak tim berinvestasi untuk membina bintang-bintang masa depan basket Indonesia. Sekarang, setelah sukses musim perdana, gairah itu sangat terasa di NBL Indonesia 2011-2012,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.

“Fondasi yang baik ini bukan hanya untuk setahun ke depan. Ini baik untuk bertahun-tahun ke depan,” tambahnya.

Bella Erwin Harahap, ketua Dewan Komisaris NBL Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perbasi, merasa yakin hadirnya para pemain muda itu akan membuat basket Indonesia semakin mantap melangkah.

“Banyaknya wajah baru ini bukti bahwa regenerasi telah berjalan. Kompetisi menjadi lebih enak dinikmati dengan tenaga-tenaga muda tersebut. Kita semua jadi punya lebih banyak pilihan untuk mencari pemain-pemain masa depan tim nasional Indonesia,” ujar Ade Bella, sapaan akrabnya.

Musim reguler NBL Indonesia 2011-2012 terdiri atas enam seri. Pembukanya di Bandung, 10-18 Desember, berlanjut ke Solo, Denpasar, Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Delapan dari 12 tim terbaik lantas lolos ke Championship Series, yang dijadwalkan berlangsung di Jogjakarta pada April 2012.

sumber : http://www.tribunnews.com

Komisioner NBL berharap olahraga Indonesia lekas privatisasi

Sabtu, 12 Januari 2013 05:20 WIB

NBL (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

“Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta,” kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

“NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja,” ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

“Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja,” ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

“Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial,” kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

“Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya,” tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

“Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?” kata dia.

“Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak,” ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

“Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya,” ujar dia menutup perbincangan. (G006)
Editor: B Kunto Wibisono

sumber : http://www.antaranews.com

MUNAS, ISSI JATIM JAGOKAN AZRUL ANANDA

Senin, 16 Januari 2012 | 07:28


Pengprov Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI)  Jawa Timur secara resmi menjagokan Azrul Ananda sebagai kandidat Ketua Umum PB ISSI dalam Musyawarah Nasional (munas).

Sekretaris Umum ISSI Jatim, Harijanto Tjondrokusumo, Minggu (15/1), mengatakan, ISSI Jatim mengajukan penawaran kepada Azrul sebagai pengganti Phanny Tandjung yang habis masa jabatannya berakhir tahun ini. Bahkan ISSI Jatim sudah mengajukan lamarannya secara lisan dan telepon.

“Secara resmi, kami mengajukan penawaran kepada mas Azrul (Azrul Ananda) sebagai figur pemimpin ISSI empat tahun ke depan,” kata Harijanto.

Harijanto mengungkapkan sudah berulangkali berjumpa dengan Azrul Ananda untuk membicarakan masa depan olahraga balap sepeda. Terutama untuk memajukan olahraga balap sepeda yang kini dianggap masih jalan ditempat.

ISSI Jatim memiliki dua alasan utama, menjagokan Azrul Ananda sebagai kandidat Ketua Umum PB ISSI. Pertama, Azrul dianggap mampu mengembangkan olahraga basket yang selama ini kurang dikenal menjadi populer. Kedua, basket yang dikelolanya tidak hanya mengurusi prestasi, tetapi juga menyentuh sektor pembibitan.

Dua alasan ini yang dinilai ISSI Jatim bisa membangkitkan olahraga balap sepeda pada masa yang akan datang. “Tidak bisa dibantah, basket berhasil dikembangkan menjadi slaah satu olahraga paling menarik. Kedepan, kita berharap balap sepeda bisa mengikuti jejak basket,” ungkap Harijanto.

Sejalan dengan itu, figur sebagai pengusaha muda yang dimilikinya bisa membawa perubahan. Bukan lagi rahasia bila pengurus PB ISSI, tidak banyak berubah. Dimana pengurusnya masih mempertahankan muka-muka lama. ISSI Jatim memandang banyak pengurus yang mestinya sudah mengakhiri masa jabatannya dan berganti dengan pengurus muda.

“Sudah saatnya ISSI diisi oleh pengurus muda dan dinamis. Kalau mempertahankan yang itu-itu saja, kita makin tertinggal dengan Malaysia dan Singapura,” tandasnya.

Malaysia telah berhasil menciptakan juara dunia, setelah melakukan perubahan ditubuh federasi balap sepedanya.

Sementara kandidat lain yang maju menjadi calon ketua
umum adalah Pahnny Tandjung. Saat ini Phanny masih menjabat ketua umum, setelah terpilih dalam munas tahun 2008 di Bali . Sementara agenda munas dijadwalkan 17-18 Maret di Jakarta. (her)

sumber : http://kominfo.jatimprov.go.id

Seminar “ Entrepreneur and Branding ”

5 Juni 2012

Selasa ( 5/6 ) bertempat di Aula Lantai 7 Gedung F Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB)  diadakan sebuah seminar  dengan tema “Entrepreneur and Branding”. Bertindak sebagai pemateri yaitu  representative dari The Marketeers Club dan Azrul Ananda (Presiden Direktur Jawa Pos Grup). Acara ini mampu menarik antusias mahasiswa dengan turut berpartisipasinya mahasiswa S1 dan Pasca Sarjana tidak hanya dari FEB UB melainkan dari fakultas-fakutlas  lain di UB.

Mengawali acara seminar, peserta dimanjakan dengan penanyangan video klip dari LMFAO (Duo Elektro Pop asal Amerika)  dan satu lagu dari Taio Crus. Hadir ditengah-tengah peserta seminar yaitu Dekan FEB UB Gugus Irianto, MSA., Ph.D., Ak; Pembantu Dekan I Dr. Khusnul Ashar, SE., MA;  Ketua Jurusan Manajemen Dr. Fatchur Rohman, SE., M.Si. dan juga dosen FEB UB. Dalam sambutannya, Dekan FEB UB mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kedatangan pemateri dari Jawa Pos Group dan kesediaannya untuk memberikan materi pada mahasiswa FEB UB.

Pada paparan materi yang disampaikan oleh The Marketers Team, dijelaskan mengenai profil dari TheMarketeer Club, sebuah komunitas untuk profesional marketing pertama di Indonesia yang memiliki basis di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Selain menjelaskan tentang The Marketeer Club, dijelaskan pula tentang bagaimana cara mendaftar dan keuntungan apa saja yang akan didapatkan apabila bergabung dengan The Marketeer Club. Tercatat nama-nama seperti  Ciputra, Alm. Sosrodjoyo, Johnny Andrean pernah bergabung dalam komunitas yang diikuti oleh lebih dari 2000 profesional marketer.

Memasuki materi kedua, Presiden Direktur Jawa Pos Grup, Azrul Ananda memberikan pengantar mengenai sejarah berdirinya Jawa Pos dan seluk beluknya. Sejak tahun 2006, Jawa Pos telah menjadi Koran Nomer 1 yang paling sering dibaca di Indonesia menurut survey Nielsen. Sebagai The Biggest Newspaper Network di Indonesia, Jawa Pos Group memiliki industrial komplek di Gresik yang didalamnya terdiri dari pabrik kertas dan pembangkit listrik. Dengan adanya pabrik kertas yang memproduksi lebih dari 600 ribu kertas koran perhari dan juga pembangkit listrik,  Jawa Pos Group menjadi perusahaan koran yang mandiri secara operasional.

Azrul Ananda juga membeberkan rahasia “Kenapa Jawa Pos Group menjadi besar seperti sekarang ini”. Dituturkan olehnya, bahwa penyebabnya adalah inovasi di dalam Jawa Pos Group. Dalam penjelasannya,  Azrul menjelaskan mengenai beberapa inovasi yang dilakukan Jawa Pos Group yaituNo Holiday. ” No Holiday diterapkan sejak tahun 1998 yang berefek Jawa Pos Group tidak pernah libur kecuali pada saat hari raya Idul Fitri”, jelas Azrul. Inovasi lain yaitu  mengecilkan kolom yang dulunya 9 kolom menjadi 7 kolom, menjadi yang pertama dalam membagi kolom kolom menurut tema seperti politik ekonomi dan olah”raga, menjadi yang pertama membagi artikel berdasarkan regional seperti Radar Malang dan Radar Bromo, menyuguhkan Deteksi Revolution (sebuah tim yang dibuat untuk menarik pembaca muda untuk kembali membaca Jawa Pos), kreative dalam design front page lebihcolourfull dan lebih menarik daripada koran lain. Jawa Pos pada tiap tahunnya membuat halaman khusus bagi pembacanya seperti Nouvelle yang dikhususkan pada keluarga muda dan artikel Better Generation tentang pebisnis muda dan wanita. Berkat inovasi-inovasi tersebut Jawa Pos mendapat penghargaan sebagai Young Reader Newspaper Of The Year 2011 dan Design Terbaik Se-Asia Pasifik oleh WAN IFRA, sebuah Asosiasi Surat Kabar Internasional.

Selain menceritakan prestasi yang diperoleh jawa pos, Azrul Ananda juga berbagi tips menarik dalam menjaga Culture Jawa Pos Group supaya tetap luwes. Beberapa diantaranya adalah selalu konsisten pada kebijakan manajemen anak muda, dimana segmen pasar yang dituju oleh jawa pos adalah anak muda. “Semua orang bisa menjadi pimpinan redaksi seperti pemimpin deteksi yang merupakan mahasiswa dan masih berumur 22 tahun,  namun memiliki kreativitas yang tinggi. Jawa Pos juga menerapkan Creating Unique Environment yang mana tiap hari Kamis setiap pegawai  Jawa Pos memakai baju warna pink, tujuannya adalah untuk menghargai wanita.

Dibalik inovasi dan budaya Jawa Pos yang membawanya hingga saat ini, ada sosok John Mohn (The Right Teacher John Mohn Story, kisah tentang seorang pemilik Koran lokal yang juga orang tua asuh Azrul Ananda selama di Amerika). “ Kisah tentang John Mohn seorang pemilik Koran lokal yang tinggal di kota kecil dengan penduduk sekitar 800 ribu orang namun mampu mengubah wajah dunia surat kabar.  Hal ini menunjukkan bahwa di tempat yang kecil pun kita bisa menjadi besar, “ ucap Azrul Ananda tentang John Mohn. Ia juga memaparkan fakta mengenai dampak dari era internet terhadap industri koran.  “Koran dan internet bukan saling mematikan tapi saling melengkapi. Tidak seperti di Amerika dan Eropa yang justru dengan adanya internet malah mematikan industri surat kabar. Di wilayah Asia justru sebaliknya, baik internet dan surat kabar semakin tumbuh. Industri surat kabar akan tetap beberapa tahun ke depan dan selalu beradaptasi mengikuti perkembangan zaman, ” ucapnya yakin.

Pada sesi akhir atau sesi tanya jawab, muncul satu pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh salah satu peserta yaitu tentang bagaimanakah hubungan Jawa Pos Group dengan loper koran. Azrul pun menjelaskan bentuk kepedulian Jawa Pos terhadap loper koran, salah satunya yaitu dengan menjaga kestabilan harga koran Jawa Pos. Harga koran Jawa Pos dipasaran adalah Rp. 4500, sedangkan harga yang dikenakan kepada loper koran adalah Rp. 2500. “Jika koran dibeli dengan harga Rp. 3000 maka penjual akan untung Rp. 500  apabila dijual dengan harga Rp. 3500 mereka akan untung Rp. 1000 jika koran dijual dengan harga jual yang terpaut sedikit dengan biaya produksi maka loper koran akan kesulitan mendapatkan laba. Sselain itu pihak  Jawa Pos juga memberikan sumbangan dan hadiah kepada para loper koran yang ikut membantu dalam penjualan koran Jawa Pos, “ jelas Azrul Ananda sekaligus mengakhiri seminar. ( Dinar/ris )

sumber : http://www.feb.ub.ac.id

League Launching Sepatu Edisi Azrul Ananda Generasi Keempat

Rabu, 16 Mei 2012

Sepatu
 
 League Launching Sepatu Edisi Azrul Ananda Generasi Keempat
Sepatu Basket Pertama Berteknologi Tinggi dari League
JAKARTA, 16 MEI 2012 – Produsen apparel olahraga League konsisten meningkatkan dukungannya sebagai offical sportswear liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda Development Basketball League (DBL). Setelah sukses dengan tiga sepatu edisi Azrul Ananda, League kembali merilis generasi terbaru dari sepatu edisi sang commissioner liga.
Sepatu yang diberi nama Hyper Drive 2 Low AZA 2012 tersebut di-launching  resmi pada Final Party Honda DBL 2012 DKI Jakarta Series, di GOR Bulungan, hari ini.
Hyper Drive 2 Low AZA 2012 memiliki tampilan yang jauh berbeda dengan tiga sepatu edisi sebelumya. Tampilan sepatu generasi keempat Azrul Edition berwarna ungu gradasi hitam. Tanda tangan Azrul terpampang di bagian samping, dengan logo DBL di bagian atas lidah. Sepatu tersebut menjadi penerus dari tiga edisi sebelumnya, yaitu Gravity 2k8 DBL (2009), Pure Player Ltd Aza (2010), dan Yin Yang Ltd Azrul Edition (2011).
“Siapa tidak bangga punya sepatu edisi sendiri. Apalagi, ini sudah sampai edisi keempat, dan sebelum ini selalu sold out. Pemain basket Indonesia saja belum ada yang konsisten selama ini punya sepatu sendiri,” kata Azrul Ananda, yang juga commissioner liga basket profesional, National Basketball League (NBL) Indonesia.
Mengenai desain, Azrul mengaku selalu mengikuti perjalanan pribadinya. “Edisi pertama dulu putih dan hitam polos, menandai awal yang baru. Edisi kedua biru dan oranye, warna asli DBL ketika kali pertama didirikan. Edisi ketiga hijau, sesuai warna kampus almamater saya, California State University Sacramento. Dan yang keempat ini ungu hitam, sesuai warna tim NBA favorit saya, Sacramento Kings,” tuturnya.
Prajna Murdaya, direktur PT Berca Sportindo selaku produsen League, optimistis sepatu Hyper Drive 2 Low AZA 2012 akan kembali mendulang sambutan positif dari pecinta basket di tanah air. Penjualan tiga edisi sebelumnya konsisten menunjukkan tren luar biasa. Selalu sold out! Bahkan, edisi ketiga sampai harus diproduksi beberapa kali untuk memenuhi permintaan pasar.
Apalagi, generasi keempat ini dibuat dengan teknologi terbaru yang dikembangkan oleh League, yaitu Combop Pad dan Launch Pad. Kombinasi kedua teknologi ini bakal membuat sepatu Hyper Drive 2 Low AZA 2012 semakin nyaman dikenakan.
”Tahun ini, kami kembali merilis sepatu edisi Azrul Ananda. Edisi ini merupakan produk League dengan fitur terlengkap untuk kategori basketball,” ungkapnya. “Sepatu edisi Azrul Ananda selalu menjadi produk yang ditunggu-tunggu. Lewat penggunaan teknologi yang baru, saya yakin Hyper Drive 2 Low AZA 2012 akan menyusul sukses tiga edisi sepatu sebelumnya. Kami bahkan yakin lebih sukses,” pungkasnya.
Rilisan sepatu Hyper Drive 2 Low AZA 2012 juga akan melengkapi DBL Collection 2012. Saat ini, sepatu yang diproduksi secara terbatas itu sudah bisa didapatkan di gerai resmi League di seluruh Indonesia. (*)
Official Press Release by PT DBL Indonesia
Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Putri Rizky  P.             putri@dblindonesia.com                                 +62 853 3431 8031
Ria Utami Silaban       ria@dblindonesia.com                                    +62 856 301 9443

SEKILAS TENTANG LEAGUE SEBAGAI OFFICIAL SPORTSWEAR

League merupakan produsen apparel olahraga yang berada di bawah manajemen Berca Retail Group. Sepatu League pertama kali diproduksi pada tahun 2004, dengan fasilitas dari PT Nagasakti Paramashoes yang berpengalaman mengembangkan merek-merek internasional selama lebih dari dua puluh tahun. Produk-produk premium League menggunakan teknologi dari Portland, Amerika Serikat.
Kerja sama League dan PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia selaku penyelenggara Honda DBL dimulai pada tahun 2009. League tampil sebagai official sportswear Honda DBL hingga saat ini. Melalui dukungan tersebut, League menyediakanapparel resmi serta sepatu untuk kru dan champion basket Honda DBL di seluruh provinsi penyelenggaraan.
Dukungan League juga terwujud dalam League DBL First Team, tim berisikan pemain-pemain dan pelatih terbaik di masing-masing provinsi Honda DBL. Selain itu, League turut menyediakan seluruh apparel bagi tim DBL All-Star, tim terbaik bentukan DBL Indonesia yang diterbangkan ke luar negeri untuk belajar dan bertanding di sana.
Sejak tahun pertama mendukung, League konsisten meluncurkan sepatu edisi khusus DBL dalam DBL Collection dan edisi spesial Azrul Ananda.


DBL Arena – Jl. A. Yani 88 Surabaya, East Java, Indonesia
Phone : +62 31 820 2195 | Fax : +62 31 825 0019

sumber : http://liputansatu.blogspot.com

Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com

Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013

Jatim tuan rumah balap sepeda taraf Internasional

Editor:  |

Rabu, 08 Mei 2013 19:28 WIB,

Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013 - Jatim tuan rumah balap sepeda taraf Internasional - Gelaran Tour East Java di JatimGelaran Tour East Java di Jatim(Foto: Angga)

LENSAINDONESIA.COM: Layaknya Tour the East Java, namun kali ini event long distance cycling diadakan di Jawa Timur (Jatim). Acara yang rencananya akan dilaksanakan pada 30 Juni ini bertajuk Jawa Pos Cycling Audax East Jawa 2013.

Seperti yang dipaparkan oleh Direktur Utama (Dirut) PT Jawa Pos Koran, Azrul Ananda, Rabu (8/5) siang, event on day cycling ini akan menempuh total jarak 232 Km dengan mengambil start dan finish di Surabaya.

Rute yang akan ditempuh oleh kurang lebih 300 peserta ini akan dibagi dalam enam etape, yakni Surabaya-Pandaan, Pandaan – Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang, Unbraw-Batu, Batu-Kandangan, Kandangan-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya.

“Tantangan terberat di tiga etape awal dan puncaknya saat peserta bergerak dari Malang menuju Pujon. Setelah itu, peserta akan meewati rutu turunan dan flat,” jelas Azrul.

Menurut putra Menteri BUMN, Dahlan Iskan ini animo peserta Audax Jatim sangat luar biasa. Ketika pendaftaran baru dibuka awal Mei lalu, dalam kurun waktu 36 jam kuota awal, yakni 250 peserta sudah habis. Akibatnya, panitia menetapkan kebijakan pembatasan jumlah peserta menjadi 300.

“Pesertanya berasal dari Jawa Timur, luar Jatim dan beberapa negara di luar negeri, seperti Amerika Serikat, Singapura dan beberapa negara Eropa,” ucap Azrul.

Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf mengaku antusias dan memberikan dukungan penuh pada Audax East Java 2013. “Kami memberikan dukungan penuh. Kita merasa berkepentingan untuk membantu. Sebab melalui event ini Jatim lebih dikenal di dunia luar,” kata Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Saifullah hanya berharap, kejadian di Tour de East Java (TdEJ) 2012 berupa banyaknya jalan berlubang, bisa segera teratasi.

“Jangan sampai itu terjadi lagi. Sebab ini diikuti peserta luar Jatim dan luar negeri,” pungkas orang nomor dua di pemerintahan Provinsi Jatim ini. @angga_perkasa

sumber : http://www.lensaindonesia.com

Dahlan Iskan dan Azrul Ananda: Keteladanan yang Mengalir Sampai Jauh

by Android Indonesia

Tuesday, 24 April 2012 at 10:20

Dahlan Iskan dan Azrul Ananda: Keteladanan yang Mengalir Sampai Jauh
download

_____________________________________________________________________

Dahlan Iskan membangun kerajaan bisnis Jawa Pos dengan kerja keras luar biasa. Bahkan, beberapa kalangan menilai Grup Jawa Pos menggurita karena sikap one man show Dahlan. Toh, kalangan dekatnya justru mengaku banyak melihat keteladanan yang begitu nyata diperlihatkan Dahlan dalam keseharian. Apa saja itu?

Dahlan Iskan sudah lama tak berkantor di Graha Pena, Surabaya. Namun, semangat, disiplin, kerja keras, kesederhanaan yang dimiliki Dahlan tertancap kuat di seantero kantor Jawa Pos yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Jejak keberhasilan Dahlan bukan saja terukir dari pencapaian Jawa Pos yang menjelma menjadi konglomerasi bisnis media dengan sekitar 120 media cetak dan 20-an stasiun televisi lokal yang terserak di berbagai wilayah Nusantara, 40 jaringan percetakan, pabrik kertas, power plant, perminyakan, agrisbisnis, dan properti. Dahlan juga mewariskan sebuah keteladanan.

Teladan tentang kesederhanaan, kerja keras, dan logika akal sehat sehingga melahirkan budaya bersikap, budaya berpikir, budaya bekerja pada segenap awak Grup Jawa Pos (GJP) sehingga grup usaha ini terbang sangat tinggi.Di bawah kendali peraih penghargaan Enterpreneur of the Year 2001 dari Ernst & Young yang dilahirkan di Magetan 17 Juli 1951 ini, gurita bisnis GJP merentang seantero Nusantara. Aset GJP ditaksir mencapai triliunan rupiah dengan omset sekitar Rp 2 triliun.

Keberhasilan Dahlan dinilai banyak kalangan karena memiliki keberanian mengambil risiko yang terukur dan kerja keras, serta kepiawaian membaca peluang. Dan, Dahlan konsisten dengan sikapnya. Kini, sebagai komandan PLN, di minggu pertama berkantor di Trunojoyo, ia sudah langsung memperlihatkan taringnya dengan mengganti sumber energi primer dan menyediakan trafo cadangan untuk keperluan distribusi listrik sebagai upaya menghemat beban subsidi sebesar Rp 5 triliun tiap tahun. Ia juga memangkas jalur birokrasi dan membenahi struktur organisasi. Dan, seperti juga di Jawa Pos, ia selalu memberi teladan disiplin waktu dan kesederhanaan. Pukul 6.45 ia sudah tiba di kantor.

Rapat direksi pun diubah menjadi pukul 7.00. Ia juga biasa makan di kantin karyawan dan seminggu sekali suntik imunisasi hepatitis B di Poliklinik PLN.Tak ada yang berubah dari seorang Dahlan. Yang berubah hanya penampilannya. Dulu, sebagai CEO GJP ia kerap terlihat berkemeja panjang gombrong dengan sepatu kets membungkus kakinya. Kini, ia lebih terlihat perlente dengan setelan jas. Bagaimana ia mewariskan wisdom strategi bisnisnya sehingga GJP tetap melaju kencang meski ayah Azrul Ananda dan Isna Fitriana ini tak lagi ikut cawe-cawe? Berikut petikan wawancara SWA dengan Dahlan Iskan:

Bagaimana perasaan Anda meninggalkan Jawa Pos?

Sekarang, posisi saya Chairman Grup Jawa Pos. Benang merah yang harus dipahami oleh seluruh pemimpin di Grup Jawa Pos adalah harus percaya bahwa di setiap zaman itu punya generasinya tersendiri, dan setiap generasi itu punya zamannya tersendiri. Nah, agar bisa lintas generasi alias bisa diterima di setiap generasi, pahamilah hal tersebut lebih dulu dengan sikap mau menerima, berpikiran terbuka, dan fleksibel. Kalau tidak paham akan hal tersebut, jangan coba-coba bisa menjadi pemimpin. Jadi, pahamilah setiap zaman itu pasti ada bedanya dan pelakunya. Jangan pernah ngotot untuk bisa terus memimpin di zaman yang sudah bukan zamannya lagi. Sesungguhnya, itu sama saja omong kosong. Saya saja menyadari kalau sudah bukan zaman saya lagi memimpin dengan tipikal dan cara saya di zaman sekarang. Sudah saatnya alih generasi. Saya legowo akan hal ini.

Sekarang Azrul ikut di Jawa Pos. Pendapat Anda?

Ya, begitulah.Azrul jadi pemimpin Grup Jawa Pos?Hmmm… sebenarnya saya tidak pernah bercita-cita dan menginginkan Azrul bergabung dan bahkan menjadi pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya lebih senang dia menjadi profesional atau menjadi sesuatu yang dia inginkan. Saya tidak mau dia menderita seperti saya. Apa sih kayanya jadi wartawan itu? Makanya, sejak lulus SMP, dia saya sekolahkan ke Amerika Serikat supaya jauh dari “bau tinta” Di AS kan dia lebih punya banyak pilihan. Saya menyadari sepenuhnya sejak dini kalau saya memang tidak mau menyiapkan Azrul sebagai pemimpin di Grup Jawa Pos. Saya tidak mau dikecam dan anak saya dikecam karena tindakan nepotisme itu.

Namun, akhirnya Azrul masuk juga di Jawa Pos …

Sepulang dia dari Kansas, AS, tahun 1999, sebagai master international marketing, dia datang kepada saya meminta bekerja di koran Jawa Pos. Saat itu saya masih menjadi Dirut Jawa Pos. Saya jawab saja, gak mungkin kamu bisa kerja di sini. Azrul heran dengan pernyataan saya itu, lalu dia membalas pernyataan saya kalau dia tidak dibolehkan kerja di Jawa Pos, dia akan bekerja di Kompas. Waduh bingung kan saya dan saya merasa dipojokkan dengan pernyataan Azrul yang mau kerja di Kompas kalau tidak diizinkan bergabung dengan Jawa Pos. Saya berada di posisi sulit. Paling sulit dalam kehidupan saya. Saya diskusikan dengan kawan-kawan petinggi Jawa Pos.

Saya tahu hal ini bertentangan dengan hati nurani saya, dan melanggar prinsip manajemen.Bagi saya, sangat sulit memutuskan menerima Azrul bekerja di Jawa Pos. Saya tahu saya sudah berupaya menjauhkan Azrul sedemikian rupa dari bau tinta Jawa Pos, tapi kalau ternyata dia masih mau dan memilih untuk dekat dengan bau tintanya Jawa Pos, saya anggap itu sudah takdir Azrul. Bahwa akhirnya dia ada di Jawa Pos, ya takdir Azrul. Sampai-sampai saya membujuk dia untuk bergabung di JTV saja dulu, biarpun bukan koran Jawa Pos, kan masih Grup Jawa Pos. Tapi dia tetap tidak mau dan tetap ingin masuk di koran Jawa Pos. Akhirnya, ya iyalah, daripada di Kompas karena gak enak kan, masa kerja di kompetitor. Apalagi Azrul sangat optimistis dan percaya diri kalau dia bisa diterima di Kompas dengan background pendidikan formal dan pengalaman jurnalistiknya di koran orang tua angkatnya waktu tinggal di Kansas. Dia pun sering menjadi koresponden luar negeri Jawa Pos. Saat itu, memang dia diizinkan menjadi koresponden Jawa Pos karena tidak ada ikatan karyawan.

Bagaimana prosesnya?

Azrul memulai sebagai wartawan. Ketika diterima bekerja di Jawa Pos, dia juga harus menjadi reporter lebih dulu biarpun dia pernah menjadi koresponden Jawa Pos selama tiga tahun. Selama setahun, dia menjadi reporter dan ditempatkan di Surabaya. Kemudian menjadi redaktur untuk desk olah raga setahun, redaktur desk kota setahun, lalu redaktur anak muda satu tahun, terus redaktur halaman 1 satu tahun. Setelah proses itu baru deh dia menjadi pemred selama dua tahun. Jadi, kata siapa dia dengan mudahnya begitu saja diterima jadi wartawan Jawa Pos. Apalagi dia juga mendapat penilaian yang sama seperti wartawan Jawa Pos lainnya karena ada sistem penilaian yang harus dipatuhi.

Bagaimana meminimalkan kesan nepotisme?

Apa yang saya lakukan untuk meminimalkan kesan nepotisme antara saya dengan anak saya? Pertama, ya Azrul harus mau memulainya lagi dari posisi terbawah meski dia punya pengalaman jurnalistik di tempat lain. Kedua, dia juga punya nilai lebih baik dari kawan-kawan selevelnya bahkan dari kawan-kawan di Jawa Pos. Dan, dia dinilai oleh sekelilingnya. Kalau rata-rata orang terbaik saya di Jawa Pos itu nilainya 7,5, nilai Azrul harus lebih dari 7,5 itu. Misalnya hasil penilaian Azrul itu juga 7,5 atau 8, maka saya tidak akan memilih Azrul. Saya lebih baik memilih karyawan Jawa Pos yang bukan anak saya yang punya nilai sama dengan Azrul untuk menjadi pemimpin. Artinya, Azrul harus bisa menunjukkan kemampuan yang lebih dari rata-rata nilai karyawan-karyawan terbaik saya.

Bagaimana proses penilaiannya?

Untuk menilai prestasi seseorang di koran kan mudah. Ketika dia jadi reporter, berita-berita hebat seperti apa yang sudah dia berhasil cover dan tembus. Kemudian, ketika dia menjadi redaktur, dilihat bagaimana isi halaman desk yang menjadi tanggung jawabnya. Ketika dia jadi redaktur pun, akan terlihat bagaimana relationship-nya dengan wartawan lain di Jawa Pos dan dengan wartawan dari media-media lain. Berita-beritanya berbobot dan netral atau tidak. Apalagi ketika dia menjadi pemred, termasuk terobosan-terobosan yang bisa dia lakukan yang akhirnya berujung pada peningkatan penjualan atau tiras dan pendapatan di samping konten koran itu sendiri.

Akhirnya Anda memutuskan Azrul menjadi pengganti Anda?

Saya memutuskannya menjadi pemred ketika Azrul membuat terobosan-terobosan seperti dia melahirkan konsep DetEksi yang berpengaruh pada peningkatan tiras, citra, dan penjualan Jawa Pos. Dia punya ide kreatif dan berhasil diwujudkannya. Ketika dia menjadi redaktur kota, dia berhasil mengubah tampilan halaman desk kota menjadi sangat metropolis sehingga Jawa Pos semakin dikenal bukan hanya sebagai koran lokal dari Surabaya. Ketika dia menjadi redaktur olah raga, dia melahirkan konsep sportivo. Ketika dia menjadi redaktur halaman 1 dan saat itu ada bom Bali, dia berhasil membuat liputan yang deep mengulas tentang bom Bali. Dan, pastinya, keberhasilan Azrul itu bukan hanya prestasi Azrul karena dia punya tim biarpun ide itu berasal dari dia. Ketika Azrul ditetapkan menjadi Pemimpin Umum setara Dirut Jawa Pos, Azrul dua poin lebih unggul dari kandidat yang lain. Jadi, bukan semata-mata dia anak saya. Toh, Azrul pun saat menjadi dirut pernah saya pecat.

Mengapa?

Sebetulnya, pemecatan Azrul itu tidak terkait dengan pekerjaan dan posisi Azrul di Jawa Pos. Ada urusan pribadi, yang tidak ada hubungannya dengan Grup Jawa Pos sama sekali, Azrul saya berhentikan sementara. Kalau dia orang lain, mungkin tidak akan diberhentikan karena masalah itu baru hanya rumor belaka. Nah, karena Azrul anak saya, saya putuskan untuk diberhentikan sampai penyelidikan atas kebenaran rumor tersebut. Ternyata setelah penyelidikan yang berlangsung 6 bulan, itu hanya rumor, dan kawan-kawan di Jawa Pos meminta Azrul kembali. Saya perhatikan selama 6 bulan nganggur dari Jawa Pos itu, Azrul tidak bersikap negatif. Dia tetap meliput dan menulis serta mengirimkan tulisannya dari luar kantor Jawa Pos. Dia tidak berkantor selama penyelidikan berlangsung. Kan bisa saja dia ngambek, namanya anak muda, wong gak salah kok, cuma rumor, dia diberhentikan. Dia bisa saja menuntut hal tersebut pada saya.

Tapi, sepertinya dia gak beban dalam menghadapi cobaan itu.Hikmah saya berobat, saya bisa lebih rileks dan perusahaan baik-baik saja. Sakitnya saya juga yang membuat saya berpikir untuk melepaskan semua jabatan saya.Ketika Azrul menjadi Kepala Pemasaran dan Produksi, sistem pemasaran dan produksi koran jadi lebih sistematis. Dengan kata lain, Azrul jauh lebih sistematis, efisien dan efekif. Dan, saya rasa memang sudah saatnya Grup Jawa Pos itu berubah, dari yang awalnya di masa saya yang bisa disebut kelompok perintis itu banyak menggunakan pendekatan personal. Nah, di zaman Azrul dan anak-anak yang lebih muda lagi, Grup Jawa Pos sudah mulai dikelola dengan sistem yang rapi, tertib, tertulis, dan akuntabel. Ya kalau kata orang pintar, lebih GCG-lah (Good Corporate Governance “Red.) dan lebih terstruktur. Tapi, sifat egaliternya dan sederhana dalam berpakaian yang kasual itu juga nurun dari saya, padahal saya tidak pernah mengajarinya begitu.

Apa harapan Anda pada kepemimpinan Azrul?

Kelebihan Grup Jawa Pos di bawah kepemimpinan yang sekarang, kalau saya perhatikan, lebih sistematis dan metodologis. Azrul berada di dalam era kepemimpinan yang sekarang. Nah, yang saya harapkan dari Azrul itu lebih memahami perhitungan akuntasi keuangan perusahaan dengan cara belajar lagi.

Bagaimana dengan putri Anda, mengapa tidak bergabung?

Anak saya yang lain yang bernama Isna itu memang benar-benar tidak bergabung dalam bisnis keluarga. Isna punya perusahaan sendiri, butik atau toko pakaian. Kalau tidak salah ada tiga butik. Dia juga punya bisnis penyewaan peralatan musik dan sound system. Isna sih boro-boro punya passion bergabung dengan Grup Jawa Pos.

Bagaimana Anda mendidik putra-putri Anda, dalam kehidupan ataupun bisnis?

Saya tidak pernah menasihati anak-anak secara langsung. Tidak pernah mengarahkan mereka harus seperti apa. Tidak. Saya biarkan mereka berpikir dan berbuat sesuai dengan keinginan mereka. Sepanjang hidup saya sampai sekarang, saya hanya bicara dua kali tentang wisdom pada anak saya. Itu pun saya sampaikan dengan bercerita.Pada kesempatan pertama, saya ceritakan pada mereka tentang Surabaya Post. Ini koran sangat besar pada masa itu. Bahkan Jawa Pos tidak ada apa-apanya. Saya bilang kerajaan ini runtuh karena tidak ada yang mau melanjutkan. Anaknya yang pertama, Iwan Jaya Aziz, terlalu pandai. Tiap kali disuruh pulang selalu menolak, karena di kampusnya pangkat dia selalu naik. Dia juga menjadi tokoh ekonomi yang besar. Anaknya yang kedua di Jakarta, menjadi psikolog. Sementara anaknya yang ketiga tukang menghabiskan uang. Kerajaan Surabaya Post runtuh karena tidak ada yang melanjutkan.

Saya menyampaikan ini bukan bermaksud memengaruhi mereka. Biar saja mereka yang memutuskan. Tetapi saya mau menunjukkan kalau ada kasus seperti ini.Lalu, saat anak saya lulus dari SMA di Kansas, AS. Waktu itu saya undang mereka berdua untuk makan malam sangat spesial. Saya katakan kalau saya mau berterima kasih kepada mereka. Saya katakan kepada mereka, saya undang Anda makan karena ingin berterima kasih. Karena, selama ini Anda tidak merepotkan saya. Seandainya Anda terlibat narkoba, tentu saya harus berurusan dengan polisi. Saya juga tidak bisa bekerja. Kalau Anda terjerat narkoba mungkin saya juga akan “habisâ€. Kedua, Anda tidak menghamili anak orang. Tidak menyakiti cewek lain. Saya katakan seperti itu kepada anak-anak saya. Saya ingin dengan bercerita, tidak secara langsung mengarahkan anak-anak. Mereka juga akan merasa kalau apa yang mereka lakukan selalu saya perhatikan.

Bagaimana Anda melihat kehidupan?

Saya melihat orang tua saya bekerja terlalu keras. Jadi mungkin secara tidak sadar saya melihat orang hidup ya seperti itu. Misalnya, bapak saya habis sembahyang Subuh terus ke pekarangan. Jam 7 dia berangkat menjadi tukang kayu. Lalu pulang sembahyang Dzuhur, ke pekarangan lagi. Selanjutnya kembali nukang kayu. Dan setelah sembahyang Isya, dia ke pekarangan orang lain untuk menjaga air dan sebagainya. Nah, secara tidak sadar saya menilai bapak bekerja terlalu keras. Dan ini menginspirasi saya dalam menjalani kehidupan. Saya percaya pada hidup. Itu saya istilahkan sunatullah, bahwa orang mau dapat itu harus kerja. Kalau mau sukses harus kerja keras.

Seberapa sering Anda gagal?

Pertanyaan menarik. Karena saya lebih senang bicara soal kegagalan. Sebab orang kalau sudah sukses, ngomong apa saja enak. Sebenarnya ini tidak fair. Saya sering diminta mengisi seminar untuk berbicara sukses saya. Saya merasa tidak begitu-begitu juga. Karena, saya mengalami kegagalan juga banyak banget. Tapi saya tidak pernah diundang seminar dengan topik kisah-kisah kegagalan Dahlan Iskan.Padahal, kegagalan saya banyak sekali. Misalnya, provider Internet. Saat belum banyak orang masuk Internet, saya masuk duluan. Karena terlalu dini kami masuk ke bisnis itu, ya kami gagal. Koran ada juga beberapa yang gagal. Real estate, saya gagal. Kemudian masuk ke hotel, saya gagal. Properti saya gagal. Saya kira kalau Rp 5 miliar saja kegagalan saya itu ada. Tetapi karena banyak yang berhasil, orang lantas menilai Dahlan Iskan itu orang yang bertangan dingin. Apa saja yang dia pegang pasti jadi. Itu sama sekali tidak betul.

Tip supaya sukses dalam berbisnis?

Ketika memulai bisnis, ketika mau memulai harus tahu apa escape yang harus dilakukan kalau menghadapi masalah yang berbahaya. Misalnya, rugi Rp 10 miliar masih lebih baik daripada rugi Rp 15 miliar. Rugi Rp 15 miliar harus lebih baik ketimbang rugi Rp 20 miliar. Itu harus menjadi pegangan. Nah, ketika sudah rugi-rugi-rugi dan sesudah dianalisis investasinya ini akan rugi terus, ya berhenti.Banyak orang yang tidak berani berhenti. Wah, kita kan sudah rugi Rp 10 miliar. Kenapa harus berhenti? Ah, tidak boleh seperti itu. Kalau memang diperkirakan tidak tertangani harus berhenti. Jangan bilang, sayang kan sudah habis Rp 10 miliar. Harus berani bilang, mumpung masih Rp 10 miliar, harus berhenti.Kalau mau sukses, harus jalani apa yang ada. Mulai dari kecil, sekarang, jangan nunggu nanti-nanti. Fokus. Jangan berpikir ingin cepat besar. Yang penting tekuni dahulu sampai batas waktu tertentu, baru mengembangkan diri.

Nilai-nilai bisnis apa yang Anda pegang?

Banyak orang salah sangka memandang Dahlan Iskan. Orang berpikir kalau saya punya grand plan. Menurut saya tidak. Saya ini benar-benar seperti air yang mengalir, tetapi kalau bisa yang deras. Jangan air yang mengalir tapi biasa saja. Karena apa? Saya pikir saya ini tidak punya cita-cita. Hahahaha…. Tapi setelah saya rasa-rasakan, beruntung juga tidak punya cita-cita. Hehe… Kenapa? Karena tidak terlalu mempertaruhkan segala sesuatu untuk mewujudkan cita-cita itu.Orang yang tidak punya cita-cita lebih fleksibel. Bayangkan misalnya saya harus sampai di sana, dan itu harus tercapai. Lalu di depan sana tiba-tiba ada dinding. Kalau orang yang punya cita-cita keras, dia akan tabrak dinding itu. Iya kalau dindingnya kalah. Lha kalau dindingnya terlalu kuat? Mati dia.Tapi kalau orang yang gak punya cita-cita, bilang wah di depan ada dinding. Ya belok aja. Misalnya di sana ada batu, ya belok aja. Jadi saya merasa tidak punya cita-cita itu ya bagus juga. Hahahaa…. Ini saya serius. Tidak mengada-ada.

Cita-cita tertinggi Anda, apa?

Hahahaha… Cita-cita tertinggi saya cuma satu: pengen punya sepeda! Itu saja. Bahwa sekarang punya helikopter, punya Jaguar, punya Mercy itu sama sekali di luar cita-cita saya. Cita-cita saya cuma punya sepeda. Kenapa? Karena saya anaknya buruh tani. Saya tidak boleh latihan naik sepeda. Berarti saya harus meminjam sepeda teman. Bapak saya bilang, “Kalau nanti sepedanya rusak, bagaimana cara menggantinya?†Jadi sampai saya tamat SMA, saya belum punya sepeda. Saya sekolah jalan kaki pergi-pulang 12 km. Teman saya yang punya sepeda tidak pernah mau memboncengkan saya. Katanya, orang yang tidak bisa naik sepeda lebih berat kalau diboncengkan.

Keinginan Anda yang belum tercapai?

Saya sudah tidak punya keinginan apa-apa lagi. Karena sejak saya sakit, kemudian perusahaan ditangani oleh anak saya. Dan selama saya tinggal tetap berkembang, berarti ya sudah boleh ditinggal. Sebelum saya dioperasi, saya kan membeli dua helikopter. Karena perasaan saya, setelah sembuh pasti tidak bisa ke mana-mana. Jadi bisa naik helikopter. Tapi ternyata setelah operasi saya seperti begini. Ya akhirnya helikopter itu nganggur. Makanya ketika saya dipanggil Presiden untuk menjadi Dirut PLN, ya sudahlah, ada kesibukan baru.

Nilai dalam kehidupan yang Anda pegang?

Saya percaya takdir. Tetapi takdir yang diusahakan. Jadi saya tidak percaya takdir begitu saja. Misalnya begini. Ada seorang wartawan foto Jawa Pos yang jadi juara foto internasional. Foto itu tentang tergulingnya truk suporter sepak bola. Orang-orang bilang, “Itu kebetulan karena si fotografer ada di situ, terus motret.†Nah saya tidak setuju dengan omongan seperti itu. Memang kebetulan dia ada di situ. Tapi seandainya hari itu si wartawan ada di kantor, atau males-malesan di rumah, apa ya dia dapat momen itu? Dia dapat foto terbaik dunia itu karena dia rajin.

Siapa tokoh idola Anda?

Saya senang Eka Tjipta Widjaja. Dia pernah bangkrut tiga kali. Bangkrut habis-habisan dan selalu bisa bangkit dengan hebat. Sebelum saya sakit, saya nanya ke beliau, “Pak Eka, Anda kebayang nggak akan bangkrut?†Lalu dia bilang, “Dik Dahlan, saya ini sudah dalam posisi tidak mungkin bangkrut. Saya sudah terlalu besar untuk bangkrut.â€Saya juga senang Ciputra karena menjalankan prinsip bisnis yang fair. Moralitas bisnis beliau juga sangat tinggi. Saya salut sekali dengan Pak Ciputra. Lalu, kerendahan Anthony Salim juga membuat saya kagum. Ketiga tokoh ini mungkin yang banyak menginspirasi perjalanan hidup dan bisnis saya.

BOKS:

Azrul Ananda:

Di Luar Jawa Pos,Mungkin Lebih EnakPerjalanan Azrul Ananda yang akrab disapa Ulik ini di GJP tak berarti mulus karena ia anak Dahlan Iskan. Apalagi, sejak awal Dahlan tak ingin putra semata wayangnya mengikuti jejaknya sebagai kuli tinta. Dahlan juga tak pernah berpikir mewariskan kerajaan bisnis GJP kepada anak sulungnya itu. Namun, bagi Ulik, GJP adalah muaranya untuk beraktualisasi.Maka, Ulik pun rela mengikuti aturan main yang diterapkan sang ayah. Ia rela memulai karier di GJP dari posisi bawah. Ia juga menjawab tantangan Dahlan yang mensyaratkan nilai 9 baginya dengan kerja keras, kreativitas, dan inovasi untuk melahirkan produk yang membuat Jawa Pos makin moncer.

Dari tangan alumni California State University jurusan pemasaran yang lulus cum laude ini lahir halaman DetEksi, seksi khusus anak muda yang dalam tempo singkat menjadi andalan Jawa Pos sampai sekarang. Kelahiran Samarinda tahun 1977 ini pun membuktikan kehebatannya yang lain. Saat menjadi Pemred Jawa Pos, koran itu berlari makin kencang dan kerap diganjar berbagai penghargaan, antara lain Cakram Award (Newspaper of the Year) 2005

Berikut petikan SWA dengan Azrul Ananda yang kini COO Jawa Pos.

 

 

Apa saja nilai-nilai dalam bisnis dan kehidupan yang Anda pelajari dari ayahanda?

Abah, (begitu Azrul memanggil Dahlan Iskan) dari dulu selalu mengajari saya: bekerja, dan bekerja secara fokus dan serius tanpa terlalu memikirkan apa yang akan didapat. Jangan terlalu perhitungan. Katanya, kalau kita kerja keras dan fokus, hasil baik akan datang dengan sendirinya. Sejauh ini, semua itu menjadi kenyataan.

Bagaimana Anda mengimplementasi nilai-nilai itu dalam aktivitas bisnis dan kehidupan?

Adakah nilai yang direaktualisasi – disesuaikan dengan kondisi masa kini?Dari dulu, apa pun yang saya lakukan, selalu dilakukan dengan serius. Kalau pun gagal, prosesnya selalu serius. Paling tidak, ada pelajaran yang selalu kita dapat dengan menjalani proses secara serius. Bedanya cara dia dengan saya sekarang? Hmmm, sekarang lebih sulit dan kompetitif, jadi kerjaan saya pasti lebih susah dari dia dulu. Hahahaha. Tidaklah, dulu dan sekarang sama sulit, tapi sulitnya beda.

Adakah perbedaan chemistry dalam memandang nilai-nilai itu antara Anda dengan ayah Anda?

Saya tidak persis dengan Abah. Dia punya satu cara, saya mungkin cara lain. Kadang kami pun berantem teriak-teriakan. Hahahaha. Tapi hebatnya Abah, dia selalu memberi saya kebebasan dalam berbuat. Kalau pun saya salah, dia akan membiarkan saya membuat kesalahan. Toh akhirnya akan belajar juga hahaha.

Dalam pandangan Anda, apa saja kehebatan yang dimiliki Pak Dahlan sebagai ayah sekaligus entrepreneur?

Dia itu orangnya serius dan konsekuen. Kalau mau sesuatu, akan diusahakan sampai dapat. Tapi dengan cara yang benar. Tidak dengan jalan pintas. Kalau harus bersusah payah naik gunung, ya akan bersusah payah naik gunung. Tidak buru-buru cari helikopter biar gampang. Memang cara-caranya kadang lebih susah, tapi jangka panjangnya akan lebih baik.

Bagaimana Anda dididik oleh ayah Anda? Apa yang diinginkan ayah Anda terhadap anak-anaknya?

Entahlah. Hahaha. Kayaknya dia dulu nggak pengen saya masuk koran. Tapi akhirnya kecemplung juga di dunia media. Yang jelas, dia ingin kami sukses dengan kerja keras, bukan dengan cara karbitan. Dia selalu mengingatkan, kalau nilai saya 7 maka lebih baik memakai orang lain. Kalau nilai saya 8, dan ada orang lain nilainya 7 maka lebih baik pakai orang lain. Jadi, mau tidak mau saya harus menang jauh dari yang lain, harus punya nilai 9 atau 10. Karena kalau saya biasa-biasa saja, orang akan menilai saya sukses karena ayah saya.

Kenapa Anda punya passion yang tinggi terhadap olah raga basket?

Sebenarnya olah raga favorit saya bukan basket. Saya ini pemain bola, dan olah raga terbaik saya bulu tangkis. Saya dulu tergabung dengan klub Djarum selama tiga tahun, waktu SD sampai SMP. Tapi ketika jadi siswa pertukaran di Ellinwood High School di Kansas tahun 1993-1994, saya ikut koran sekolah dan jadi fotografer tim basket. Dari situ belajar sistem basket SMA di Amerika. Sejak saat itu mulai perhatian pada basket. Belum penggemar, tapi mulai mengikuti.Keterlibatan di basket juga tidak direncanakan. Pada 2004, untuk menambah aktivitas anak muda di bawah bendera DetEksi Jawa Pos (halaman khusus anak muda), kami spontan bikin kompetisi basket SMA di Surabaya. Ternyata langsung meledak. Terus berkembang, dan kemudian berkembang jadi Development Basketball League (DBL) yang sekarang.Mengapa meledak? Mungkin karena konsepnya disukai ya. Kami menerapkan konsep student athlete, kalau tidak naik kelas tidak boleh ikut. Sekolah dan orang tua suka itu. Lalu kami juga ketat menerapkan aturan-aturan di lapangan, jadi pemain dan penonton merasa lebih spesial. Juga tidak menerima sponsor rokok, minuman berenergi, dan minuman beralkohol. Kami konsekuen hingga sekarang.

Untuk kompetisi bola basket pelajar tahun lalu, berapa banyak peserta dan penontonnya?

Tahun ini, apa targetnya?Honda DBL 2010 ini diselenggarakan di 21 kota, di 18 provinsi. Mulai Aceh sampai Papua, kecuali Jakarta. Kami berhasil membuktikan bahwa kompetisi terbesar di Indonesia tidak harus di Jakarta. Total tim peserta hampir 1.200 tim SMP dan SMA, dengan jumlah pemain dan official hampir 25 ribu orang. Besar sekali ya! Simulasi kami, seharusnya jumlah penonton mencapai 500 ribu orang. Tercapai kira-kira awal Agustus 2010 nanti. Kalau terwujud, Honda DBL 2010 adalah kompetisi olah raga terbesar kedua di Indonesia, setelah liga sepak bola nasional. Hebat ya?Targetnya sekarang, mengejar 500 ribu penonton itu. Seharusnya bisa. Dan ingat, pertandingan kami bukan tontonan gratis. Kami dari awal mengajarkan penonton untuk apresiasi dan membayar. Target ke depan, terus mengembangkan konsep student athlete kami ke seluruh provinsi di Indonesia.

Apa dream Anda terhadap olah raga basket di Indonesia? Akan Anda jadikan seperti apa DBL dalam 5-10 tahun ke depan?

Terus terang, kami tak pernah membayangkan DBL menjadi sebesar ini. Saking besarnya, sejak 2009 kami harus mendirikan perusahaan sendiri untuk mengelola DBL secara full time. Namanya PT Deteksi Basket Lintas Indonesia (DBL Indonesia) karena untuk menjaga dan mengembangkan, butuh tim yang bekerja full time. Sekarang karyawan DBL Indonesia sudah lebih dari 50 orang.Bukan hanya mengelola liga pelajar DBL, mulai tahun ini DBL Indonesia juga dipercaya mengelola liga basket profesional tertinggi di Indonesia, yaitu Indonesian Basketball League (IBL). Pada 25 Mei 2010, liga itu kami rebranding menjadi National Basketball League (NBL) Indonesia. Semoga jadi seheboh DBL.Dalam 5-10 tahun ke depan, semoga DBL bisa merambah seluruh Indonesia. Menyelenggarakan kompetisi basket dengan standar tertinggi di Indonesia. Selain itu, juga terus membina kerja sama internasional. Gunanya untuk meningkatkan hubungan people-to-people antara anak muda Indonesia dengan mancanegara. Sekarang kami sudah menjalin itu dengan Amerika Serikat dan Australia. Untuk mencapai itu, DBL harus tumbuh secara berkelanjutan. Tidak boleh terlalu tergantung pada sponsor.Ke depan, revenue sponsor maksimum hanya boleh 65%. Sisanya harus dari tiket penonton, merchandising, licensing, dan lain-lain. Kami sedang merintis itu sekarang. Merchandise DBL sudah bisa didapat di mal-mal di Indonesia, termasuk di Jakarta. Buku tulis sekolah DBL pun sekarang sudah dijual di mana-mana. Jangan lupa pula, semakin besar DBL dan NBL, semakin besar pula dampaknya untuk media-media di bawah Grup Jawa Pos.

Anda sepertinya menikmati sekali di Jawa Pos?

Saya sebenarnya tidak perlu ada di Jawa Pos untuk hidup enak. Di luar Jawa Pos mungkin lebih enak. Tidak capek, tetap dapat bagian banyak dari orang tua. Bahkan lebih banyak dari kebanyakan karyawan. Karena itulah, ketika benar-benar di Jawa Pos, saya harus sadar kalau saya punya tanggung jawab sangat besar. Tidak boleh main-main. Saya nyaris tak pernah libur. Dari pagi sampai malam saya di kantor. Meski kadang juga hanya bengong doang hahaha.

Reportase: Sigit A. Nugroho dan Tutut Handayani

Riset: Siti Sumariyati

sumber : http://www.facebook.com/notes/android-indonesia/dahlan-iskan-dan-azrul-ananda-keteladanan-yang-mengalir-sampai-jauh/407752215909812

AZRUL ANANDA: THE YOUNG GENERATION AND LEADER OF JAWA POS

February 1, 2013 · by Yuanita Amarien ·

Azrul Ananda, Commissioner DBL. (Foto: Dita Putri/ Jawa Pos)

 

He is still young. He is only 36 years old this year, yet currently he is the President Director of PT. Jawa Pos Koran, one of the biggest newspapers in Indonesia. Even though people may think that his position is enthroned from his father, Dahlan Iskan – the former CEO of Jawa Pos, but he didn’t come on instant to be the big boss. Instead, he wasn’t permitted to join Jawa Pos by his father at first. A prohibition that made him thought of working in Kompas, the big competitor of Jawa Pos.

images-156x300

http://basketballman.files.wordpress.com

However, finally he joined Jawa Pos at the age of 22, by starting as a reporter in Surabaya. Later on, he initiated DetEksi, a youth section of the newspaper. Targeted to the High School students, this section are also run by the young students, ranging from the reporters, editors, photographers, designers to the editor. Since 2000, this youth section has been embedded in a total of 3 pages of the newspaper and presented everyday. The fresh and innovative idea to embrace the youth by dedicating special pages for them in a newspaper was claimed to be the first one in Indonesia, or perhaps in the world as well. The result? Jawa Pos won the Newspaper of the Year, World Young Reader Prize by WAN-IFRA in 2011, during Azrul’s leadership as a Head of Editor. Quoted from the WAN-IFRA, the World Association of Newspaper and News Publisher, Jawa Pos is known for its innovation in presentation of the pages and its consistency in promoting young editors and managers inside the company.

His career path evolved from DetEksi to a city news editor, front-page editor, managing editor and at the age of 27 years old, he already became a Chief Editor of PT. Jawa Pos Koran, in 2005. Afterwards, he was trusted to be Vice Director of Newspaper Sales, Advertising Sales and Operational Director (COO) in 2010. Currently, he is only 36 years old and already holds as the President Director position of one of the biggest media companies in Indonesia.

azrul-ananda-300x225

 

http://the-marketeers.com/

The encouraging part is Azrul deserves to earn that success. DetEksi proved to increase the daily circulation of Jawa Pos newspaper. Moreover, his ideas to incorporate the youth spirit and reinvention of new features have made Jawa Pos, which has the circulation over 400.000 copies everyday, metamorphosed into a trendsetting newspaper. With its slogan, ‘Selalu Ada yang Baru’, which means there is always something new, Jawa Pos introduces many new features and special segments for the readers, such as Metropolis, Sportivo, Nouvelle, Evergreen, Life begins at 50 and also Jawa Pos For Her.

And now, apart from the national and international award winning newspaper in Indonesia, Jawa Pos is the Most Read Newspaper in Indonesia, based on Nielsen Media Research in 2010, by dominating the market share in Surabaya and East Java. Jawa Pos also continues to be the strongest and the biggest media network in Indonesia, consisiting of around 200 newspaper and local television stations. A legacy that undoubtedly came from the leadership of Dahlan Iskan, together with the top managers and the team of Jawa Pos, including the booster of vibrant and fresh energy from Azrul Ananda.

Graha Pena Jawa Pos - http://www.jawapos.com

Graha Pena Jawa Pos – http://www.jawapos.com

The presence of Azrul Ananda is not only echoing in Jawa Pos Group. His ideas and fresh initiatives also elevate the spirit of the youth in Surabaya. He considers that the youth are a big market in Indonesia. Moreover, he also believes that if Jawa Pos wants to survive in the future, the key is by embracing the youth. He does not want to foment regeneration only in Jawa Pos Company, but he also wants to incite the regeneration within the readers too.

Therefore, in line with the marketing strategy of DetEksi to embrace more young readers, he initiated a student basketball competition, DetEksi Basketball League (DBL). DBL was started on 2004 when he observed that there wasn’t any regular sport competition for the youth that time. Afterwards, DBL became phenomenal and a big hit. From Surabaya, DBL expanded to other cities in Indonesia. On 2009, DBL also stretched to Australia too. The DBL team even won the competition with Western Australia team. On 2010, DetEksi Basketball League transformed into Development Basketball League that is managed professionally by the young and enthusiastic professionals. Now, DBL reaches more than 27.000 participants within 1.500 teams from Aceh to Papua. Azrul also proclaimed that this basketball league would be the second biggest league after soccer, in Indonesia. The most interesting part from this basketball league, perhaps the principles it has. Azrul explained further that DBL wants to develop the student athlete concept, whereas the participants should have good rapports at school. Moreover, he is also consistent not to have sponsors from cigarettes, energy drinks and alcohol companies. Nowadays, Development Basketball League (DBL) Youth Events has changed into the biggest Indonesia’s Student Basketball Competition.

 

http://www.kopimaya.com

http://www.kopimaya.com

Apart from that, Azrul also threw a brilliant idea, by organizing DetEksi Convention – a school wall magazine competition – every year. Starting on 2007, this annual event is always held on SSCC – Supermall Pakuwon Indah Surabaya, Jawa Timur, followed the participation of Junior and Senior High Schools in East Java. This event grows into an important and prestigious event for the high schoolers for their self – actualization and also for the school’s pride.

Commenting about his success and also as the second generation of Jawa Pos, Azrul Ananda, mentioned that being the second generation is not easy. Therefore, he upholds the principle, that is as a young generation, he should be able to take over and works much better than the previous generation.

Azrul Ananda - www.swa.co.id

Azrul Ananda – http://www.swa.co.id

sumber : http://projectingindonesia.com

Jawa Pos Peduli Perempuan

OCTOBER 31, 2011 | BY 

IMG 1773 Jawa Pos Peduli Perempuan

Biasanya, kalau kita melihat survei pembaca majalah dan koran, laki-laki selalu mendominasi. Namun, di balik dominasi laki-laki itu, peran perempuan sangat besar. Paling tidak inilah yang dilihat Azrul Ananda, Presiden Direktur Jawa Pos.

“Sejak sepuluh tahun lalu, Jawa Pos menyadari peran perempuan sangat besar. Mengingat 75 persen pembaca itu pelanggan dan bukan pembeli eceran. Di sini, orang membeli koran ternyata lebih dipengaruhi oleh perempuan dan bukan bapaknya. Keputusan keluarga dipengaruhi oleh perempuan,” kata Azrul sebelum tampil sebagai narasumber Marketeers Dinner Seminar, di Ballroom FourSeasons Hotel, Jakarta, Senin (31/10/2011).

Sebab itu, Jawa Pos juga memberi porsi untuk pembaca perempuan ini. Kalau untuk pembaca muda, Jawa Pos memunyai  halam khusus DetEksi, untuk pembaca perempuan Jawa Pos juga memberikan halam khusus. “Dalam tradisi redakktur Jawa Pos, sebelum mengeluarkan berita, wajib memikirkan berita untuk perempuan. Tidak harus ada berita tentang perempuan, tapi harus ada unsur perempuannya. Itu wajib ada di Jawa Pos,” kata Azrul.

Setahun terakhir, Jawa Pos mendedikasikan empat halaman setiap terbit untuk kaum perempuan dengan nama Jawa Pos For Her. “Biasanya halaman khusus perempuan bukanlah hal baru di koran-koran. Namun, di Jawa Pos pemberitaannya lebih tajam dan fokus untuk perempuan,” tambah Azrul.

Selain itu, untuk membentuk kultur yang menghormati perempuan, sambung Azrul, Jawa Pos berusaha mengubah cara berpikir timnya.  Misalnya, di Jawa Pos, tidak boleh lagi ada kata “wanita.” Kata “perempuan” dipilih karena dinilai lebih memuat nilai penghormatan pada perempuan. “Sudut pandang halaman juga harus perempuan dan dikelola oleh tim redaksi yang semuanya adalah perempuan termasuk fotografer,’ kata Azrul.

Menariknya lagi, di halaman perempuan tersebut ada rubrik khusus yang membahas tentang perceraian dari sudut padang perempuan yang bernama rubrik “Divorce.” “Ini merupakan rubrik pertama di koran Indonesia yang terbit setiap Rabu. Rubrik ini diangkat untuk mengimbangi berita-berita seperti berita seputar perceraian selebriti yang lebih kental sudut pandang laki-lakinya. Kita justru mau angkat cerita-cerita orang-orang lain dan terutama khusus dari sudut pandang perempuan,” kata Azrul.

Satu lagi yang unik. Setiap edisi Minggu, ada satu halaman penuh yang didedikasikan khusus untuk perempuan untuk “curhat” tentang suami atau laki-laki yang bernama “Letter to Him.” “Di sini, perempuan bebas bicara bahkan ‘menghujat’ suami, pacar, maupun teman laki-lakinya,” imbuh Azrul.

Selain dalam rubrikasi, Jawa Pos juga rajin mengadakan roadshow untuk menemui komunitas-komunitas perempuan dengan aneka program.  Azrul menandaskan percuma kalau melakukan pemberdayaan perempuan di luar, kalau di dalam diri Jawa Pos sendiri tidak dilakukan. Di Jawa Pos, semua karyawan laki-lakinya harus ikut pelatihan seputar dunia perempuan. Hal ini hukumnya wajib bagi karyawan laki-laki yang ingin naik gaji. Untuk karyawan perempuan, diharuskan untuk ikut pelatihan-pelatihan, seperti tentang kesehatan reproduksi perempuan. “Ruang redaksi kami cat dengan warna pink.  Seragam karyawan baik laki-laki dan peremuan untuk setiap Kamis harus berseragam warna pink. Dengan cara totalitas ini, misinya baru bisa dicapai,” pungkas Azrul.

sumber : http://the-marketeers.com