TAK MULUK-MULUK TETAPKAN TARGET

National Basketball League 2012-2013

Gugum Rachmat Gumilar

Minggu,  25 November 2012  −  00:33 WIB

Tak muluk-muluk tetapkan target

Sindonews.com – Kejuaraan bola basket tertinggi di tanah air, Speedy National Basketball League (NBL) Indonesia kembai digelar untuk musim kompetisi 2012-2013. Penyelenggara kejuaraan mengklaim hal ini sebagai keberhasilan ditengah terpuruknya prestasi olahraga dalam negeri.

Comissioner NBL sekaligus Direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia Azrul Ananda mengatakan, di awal penyelenggaraan, pihaknya tidak menyangka kompetisi ini bisa bertahan hingga tahun ketiga. Bahkan di setiap musim, NBL selalu menunjukkan peningkatan kualitas kejuaraan.

“Saya tidak menyangka kejuaraan ini bisa survive sampai sejauh ini, bertahan hingga musim ke tiga. Bahkan selama penyelenggaraannya, saya melihat banyak hal yang diluar dugaan. Termasuk kesimpulan bahwa tidak ada liga lain, selain tentunya sepak bola, yang penontonnya bisa seheboh ini. Apa lagi jika melihat penonton di Bandung dan Surabaya, luar biasa. Itu pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang tentu harus kami tingkatkan di penyelenggaraan selanjutnya,” ujarnya.

Meski terus menunjukkan kemajuan di setiap tahun penyelenggaraannya, ujar Azrul, pihaknya tidak menetapkan target tinggi di perhelatan tahun ini. Termasuk dengan pencapaian yang ingin dihasilkan dalam NBL tahun ini. Sebagai langkah awal meningkatkan prestasi bola basket nasional, ajang ini hanya menargetkan tingginya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap olahraga basket. Jika keikutsertaan khalayak sudah membludak, ujar Azrul, maka prestasi basket dalam negeri secara otomatis akan meningkat.

“Memang menjadi cita-cita kami agar basket Indonesia bisa menjadi raja di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Tapi itu butuh proses. Untuk saat ini, cukup menargetkan bagaimana caranya agar banyak yang nonton basket, termasuk NBL. Sehingga nantinya banyak juga yang bermain baskt. Jika sudah seperti itu, dengan melimpahnya jumlah masyarakat Indonesia, masa tidak ada satu orang saja yang bisa seperti Michael Jordan,” tuturnya.

Azrul mengaku optimistis pamor basket di Indonesia terus meningkat. Terlebih, berbagai kejuaraan olahraga ini selalu mengedepankan profesionalisme. Hal itu merupakan imbas dari minimnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk berbagai kegiatan bola basket.

“Basket itu semuanya swasta. Mulai dari kejuaraan hingga timnasnya pun dibiayai sendiri, karena tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Tapi justru dengan anggaran dari pihak swasta melalui sistem sponsor, semua harus dilakukan dengan profesional. Ini yang membuat bola basket terus meningkat perkembangannya. Bahkan beberapa survey mengatakan, bahwa basket saat ini menjadi olahraga kedua di Indonesia setelah sepakbola. Di tahun-tahun mendatang, bukan tidak mungkin kami menjadi nomor satu di negeri ini,” kata Azrul.

sumber : http://sports.sindonews.com

Advertisements

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 17:28 WIB

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seluruh tim peserta liga basket tertinggi di tanah air telah menyerahkan susunan ofisial dan pemainnya untuk kompetisi National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012 yang akan mulai bergulir 10 Desember.

Tercatat ada puluhan rookie yang akan mengawali kariernya di musim reguler liga basket tertinggi Indonesia ini. Seitar 31 wajah baru akan berebut gelar pendatang baru terbaik. Itu belum termasuk barisan pemain yang memperkuat dua tim baru, Pacific Caesar Surabaya dan NSH GMC Riau.

Kebanyakan pemain muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka saat Preseason Tournament di Malang, 23 September hingga 2 Oktober lalu. Dua yang paling menonjol adalah Arki Dikania Wisnu dari Satria Muda Britama Jakarta dan Herman “Wewe” Lo dari Nuvo CLS Knights Surabaya.

Banyaknya bintang muda ini dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan basket Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum era NBL Indonesia, gairah di arena basket bisa dibilang redup. Tidak banyak tim berinvestasi untuk membina bintang-bintang masa depan basket Indonesia. Sekarang, setelah sukses musim perdana, gairah itu sangat terasa di NBL Indonesia 2011-2012,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.

“Fondasi yang baik ini bukan hanya untuk setahun ke depan. Ini baik untuk bertahun-tahun ke depan,” tambahnya.

Bella Erwin Harahap, ketua Dewan Komisaris NBL Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perbasi, merasa yakin hadirnya para pemain muda itu akan membuat basket Indonesia semakin mantap melangkah.

“Banyaknya wajah baru ini bukti bahwa regenerasi telah berjalan. Kompetisi menjadi lebih enak dinikmati dengan tenaga-tenaga muda tersebut. Kita semua jadi punya lebih banyak pilihan untuk mencari pemain-pemain masa depan tim nasional Indonesia,” ujar Ade Bella, sapaan akrabnya.

Musim reguler NBL Indonesia 2011-2012 terdiri atas enam seri. Pembukanya di Bandung, 10-18 Desember, berlanjut ke Solo, Denpasar, Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Delapan dari 12 tim terbaik lantas lolos ke Championship Series, yang dijadwalkan berlangsung di Jogjakarta pada April 2012.

sumber : http://www.tribunnews.com

Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com

Sepatu Terbaru Kobe Bryant yang Revolusioner

Senin, 15 Desember 2008 , 08:58:00

Main Basket Gaya Sepak Bola

Kobe Bryant (dan Nike) mencoba bikin sensasi. Sepatu baru sang superstar, Zoom Kobe IV, “melanggar” banyak “aturan basket,” rendah dan ringan ala sepatu sepak bola. Kalau Bryant lolos dari cedera engkel, sepatu ini bisa merevolusi industri sepatu basket.

Ulasan Azrul Ananda

TIDAK banyak bintang basket punya signature shoe. Tidak banyak yang punya signature shoe sampai berseri. Mereka yang sudah bertahun-tahun punya sepatu sendiri, biasanya bertahan lama karena memang punya karakter tersendiri.

Sepatu Michael Jordan? Selalu seksi dan inovatif.

Sepatu LeBron James? Selalu besar dan kokoh.

Sepatu Kobe Bryant? Selalu ringan dan lincah.

Karena Michael Jordan sudah lama pensiun, sepatu James dan Bryant merupakan dua “jualan utama” Nike saat ini. Keduanya punya “aliran” yang berbeda, sesuai dengan karakter dan gaya bermain masing-masing di lapangan.

Untuk musim NBA 2008-2009 ini, tampaknya Nike lebih fokus mendorong sepatu Bryant. Zoom Kobe IV, sepatu bintang Los Angeles Lakers itu, pekan lalu diluncurkan secara global, lewat webcast.

Lewat sepatu baru Bryant, Nike memang habis-habisan berinovasi dan berkreasi. Beda dengan sepatu terbaru James (Zoom LeBron VI), yang tampaknya dirancang tampil “aman dan sederhana.”

Lewat sepatu baru Bryant, Nike tampaknya memang ingin “menggoyang” pasar sepatu basket, membelokkan tren ke jalan baru menuju masa depan. Belakangan, penjualan sepatu basket memang tidak sedahsyat dulu. Menurut laporan Sports One Source, pasar sepatu basket di Amerika kini “hanya” USD 2,5 miliar setahun, hanya separo dari angka penjualan sepuluh tahun lalu, saat Michael Jordan masih merajalela.

Apa hebatnya sepatu Bryant? Sepatu itu diklaim sebagai yang paling ringan. Bahkan lebih ringan dari Nike Hyperdunk, sepatu yang dipakai kebanyakan pemain Team USA di Olimpiade Beijing. Bobot Zoom Kobe VI hanya 11,6 ons, sementara Hyperdunk 13 ons. Rata-rata sepatu basket lain di kisaran 15 ons atau lebih berat.

Untuk mencapai bobot seringan itu, Nike memakai teknologi seperti di Hyperdunk. Yaitu menggunakan Vectran, bahan nylon fiber yang tipis tapi kuat untuk membungkus kaki. Sebagai peredam kejut, Nike memakai LunarLitefoam di bagian depan, seperti yang dipakai tempat duduk pesawat luar angkasa NASA.

Namun, ringan bukanlah bahan omongan utama Zoom Kobe IV. Sepatu itu banyak diperdebatkan para penggila sepatu karena desainnya yang low. Tidak “tinggi” menutup engkel seperti kebanyakan sepatu basket.

Memang, sepatu low bukanlah barang baru. Bintang Washington Wizards Gilbert Arenas selalu suka sepatu rendah, dan Adidas telah menyediakan khusus untuknya selama bertahun-tahun. Bintang Phoenix Suns, Steve Nash, juga selalu suka pakai sepatu rendah.

Bedanya, sepatu low ini menghebohkan karena dipakai oleh seorang Kobe Bryant! Selama ini, sepatu low dianggap berbahaya, membuat pemain lebih rawan terkena cedera engkel. Kalau Bryant, yang gaya bermainnya banyak “belok-belok” sampai mau pindah ke low, maka anggapan itu bisa sirna.

Dan Nike mengklaim, Bryant sendiri yang minta sepatu low. Sebagai penggemar sepak bola (dulu besar di Italia), Bryant mengaku kagum melihat para pemain bola bisa mudah “belok-belok” dengan sepatu yang rendah dan ringan. Kalau engkel pemain bola saja tahan, kenapa tidak pemain basket?

Saat meeting, Bryant pun melontarkan tantangan untuk Eric Avar, performance footwear creative director Nike, untuk membuatkan sepatu basket yang rendah dan ringan ala sepatu sepak bola. “Permintaan itu mengagumkan. Ini pemain terbaik di dunia bilang tak butuh perlindungan engkel. Dia ingin membuktikan itu kepada semua pemain lain dan konsumen,” tutur Avar seperti dilansirESPN.

Bryant menegaskan itu. “Saya benar-benar terinspirasi dari menonton sepak bola. Saya berpikir, kalau saya bisa mengurangi bobot sepatu, saya bisa mendapatkan gerakan kaki yang lebih alami, dan itu lebih baik,” ucapnya lewat wawancara bersama CNBC.

Bryant mengaku tak khawatir mengalami cedera engkel. Dia bilang, dia sudah berkali-kali mengalami cedera engkel meski memakai sepatu tinggi. “Saya sudah bermain basket sangat lama. Setiap kali cedera engkel, itu karena saya mendarat di kaki orang lain. Itu namanya nasib buruk,” ucapnya.

Pemain 30 tahun itu mengaku sudah menjajal Zoom Kobe IV saat latihan, dan mengaku kagum dengan kelincahan sepatu tersebut.

Rencananya, Bryant akan menggunakan Zoom Kobe IV dalam pertandingan resmi untuk kali pertama pada 19 Desember nanti, saat melawan Miami Heat. Saat itu, semua orang akan memperhatikan engkelnya. Kalau hari itu dia sampai cedera engkel, penjualan Zoom Kobe IV bisa hancur, dan masa depan sepatu basket jenis low bisa sirna.

Kalau hari itu Bryant “selamat” dan tampil spektakuler, maka dunia sepatu basket bisa berubah total. Bakal makin banyak sepatu low beredar.

Ditanya soal risiko itu, Bryant mengaku percaya 100 persen dengan sepatu barunya. “Saya sangat percaya dengan sepatu ini, saya sangat percaya dengan teknologi di belakang sepatu ini. Saya tidak merasakan beban ekstra. Saya yakin sepatu ini membuat saya lebih cepat, melompat lebih tinggi, karena sepatu ini lebih ringan,” tandasnya.

Catatan tambahan: Selama ini sepatu basket dianggap kurang praktis. Tidak bisa dipakai harian karena berat dan “panas.” Dengan konsep ringan dan lowala Zoom Kobe IV, sepatu basket pun menjadi lebih multiguna. Kalau lebih multiguna, maka mungkin lebih mudah jualannya, dan kelak mungkin sepatu basket kembali merajalela.

Toh, bagaimana pun juga, tujuan utama Nike adalah jualan sepatu… (azrul ananda)

Dibutuhkan Sejuta Azrul Ananda Baru

Refleksi Hari Olah Raga Nasional (9 September 2010)

Oleh: Ratmaya Urip*)

Azrul Ananda, anak muda ganteng dengan tinggi badan 176 cm dan berat badan 74 kg yang lahir pada 4 Juli 1977, alumnus Ellinwood High School,  Kansas, USA dan  California State University Sacramento, 1999 itu benar-benar telah mengalihkan perhatian saya. Betapa tidak, dalam usianya yang masih sangat muda (33 tahun), telah mengukir prestasi di bidang pembinaan olah raga yang tidak ada duanya, khususnya di cabang olah raga bola basket. Tidak banyak anak muda seusianya yang dapat menyamai prestasinya.

Setiap anak muda, khususnya para pelajar di seluruh Indonesia, pasti tidak asing lagi dengan kiprahnya dalam membina olah raga basket.  Development Basketball League (DBL) Youth Events telah bermetamorfosa menjadi Indonesia’s Biggest Student Basketball Competition, secara cepat dan mencengangkan, di tengah dahaganya talenting atau pembinaan atlit muda di Indonesia. Bayangkan, kompetisi yang dimulai dari tahun 2004, atau tahun yang sama dengan tahun ketika Mark Zuckerberg memperkenalkan Facebook pertama kali, kompetisi bola basket anak muda itu kini telah menjadi events olah raga yang paling ditunggu-tunggu oleh anak muda Indonesia.

 

Seperti halnya Facebook, DBL Youth Events dibidani dan diorganisir oleh anak-anak muda, dimulai dari waktu yang bersamaan, dan sama-sama meraih prestasi di bidangnya masing-masing dalam waktu yang singkat dan spektakuler. Hanya kalau Facebook merajai dunia informasi dan komunikasi global,DBL Youth Events merajai dunia olah raga basket tanah air. Keduanya memperoleh apresiasi dan penghargaan, meskipun berbeda level. Facebook di tingkat dunia, sementara DBL di tingkat nasional.

Meskipun DBL kini juga mulai berani merambah dunia dengan kerja sama yang dijalin dengan NBA. Saya tidak tahu, apakah kesuksesan DBL diilhami oleh keberhasilan Facebook. Semoga saja tidak. Dengan cakupan penyelenggaraan DBL yang menjangkau 21 kota di 18 provinsi, yang melibatkan lebih dari 1000 tim dan 25.000 partisipan adalah buktinya. Apalagi setelah keberhasilan-keberhasilannya tersebut kemudian mulai tahun 2010 DBL dipercaya untuk melakukan take over atas pelaksanaan kompetisi bola basket profesional Indonesia, Indonesian Basketball League (IBL).

 

Terlepas dari tangan dingin yang dilakukan oleh  Azrul Ananda, nampaknya peran publikasi atau media adalah kontributor utama kesuksesan acara ini. Tentu saja tanpa mengabaikan profesionalisme individu maupun profesionalisme institusi penyelenggara, serta peran sponsor maupun para partisipan. Gegap gempita pemberitaan media, dalam hal ini Jawa Pos Group yang tersebar di seluruh Indonesia membuat kompetisi ini menjadi semarak, menggairahkan, membanggakan, menjulat keinginan untuk berprestasi dan sexy. Benar-benar exciting and fascinating competition.

 

Besarnya peran media inilah yang mengusik perhatian saya, mengapa ya, sampai saat ini tidak ada lagi anak-anak muda seperti Azrul Ananda yang kebetulan memiliki modal media Jawa Pos Group untuk mengikuti jejaknya? Seandainya ada sepuluh orang saja anak muda yang memiliki visi yang sama dan yang kebetulan memiliki media yang berpengaruh, apakah itu media cetak atau elektronik mengikuti jejaknya, pastilah ada sepuluh cabang olah raga yang dapat dikembangkan.

Apalagi kalau ada sejuta Azrul Ananda baru. Mungkin saja prestasi olah raga kita tidak seburuk saat ini.  Mengapa media nasional lebih disibukkan dengan berita-berita konsumtif di bidang olah raga, sementara yang produktif diabaikan. Banyaknya media yang hanya memberitakan atau melakukan publikasi berita atau tayangan olah raga asing, tanpa diimbangi dengan upaya-upaya yang lebih produktif seperti memfasilitasi bergulirnya kompetisi olah raga nasional, itulah salah satu biang keterpurukan olah raga Indonesia. Jawa Pos Group sudah on the right track, dengan memberikan porsi yang seimbang antara pembinaan olah raga yang bersifat konsumtif dengan yang bersifat produktif, meskipun baru sebatas olah raga bola basket.

 

Ketika di suatu kesempatan coba saya tanyakan kepada Azrul Ananda, mengapa tidak memperluas cakupan pembinaan ke cabang olah raga lain? Selalu dijawab, hanya ingin membina bola basket saja, supaya fokus. Tokh, cabang olah raga lain sudah ada pembinanya masing-masing. Namun menurut saya, pola pembinaan seperti yang dilakukan Azrul Ananda, akan sangat tepat jika juga diaplikasikan ke cabang olah raga lain. Menurut saya, paling tidak ada 1 (satu) lagi cabang olah raga individual, bukan olah raga beregu yang masih dapat dibinanya tanpa kehilangan fokus. Apakah itu cabang olah raga renang, atletik, tinju atau lainnya.

Cabang olah raga yang disebut terakhir ini memiliki kemungkinan berprestasi yang lebih baik di level regional maupun global. Alasan supaya fokus menurut saya kurang relevan jika dikaitkan dengan rendahnya prestasi olah raga kita saat ini. Tambahan satu cabang olah raga untuk dibina oleh Azrul Ananda, khususnya cabang olah raga yang lebih berpotensi untuk mendulang medali emas di tingkat regional dan global, saya kira masih dapat dilakukan oleh seorang Azrul Ananda. Apalagi jika lebih dari satu cabang olah raga. Karena sampai saat ini saya belum melihat adanya Azrul Ananda baru. Padahal untuk mendongkrak prestasi olah raga nasional masih diperlukan sejuta Azrul Ananda baru. Ini adalah langkah terobosan (bukan jalan pintas) bagi Azrul Ananda untuk mendunia seperti Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya.

 

Tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini pembinaan olah raga nasional selalu melibatkan pemerintah secara langsung maupun tidak langsung, dengan berjubelnya para birokrat, baik yang masih aktif apalagi yang sudah pensiun dalam pembinaan olah raga nasional. Peran birokrat yang berlebihan akan kontra produktif, karena mereka sulit untuk fokus, ditengah upayanya untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat di bidang lainnya. Karena tugas dan kewajiban mereka sudah sangat banyak. Namun di sisi yang lain, penguasaan dana yang masih bersumber dari anggaran belanja negara dan anggaran belanja daerah tentu saja tidak dapat mengabaikan peran birokrat, khususnya dalam kelancaran pendanaan.

 

Maka saya menjadi lebih terkagum-kagum lagi, setelah mengamati bahwa DBL diorganisir secara profesional oleh pihak swasta, dengan meminimumkan peran birokrat (baca: pemerintah) dalam pelaksanaannya. Apalagi pola pembinaan yang selama ini melibatkan sponsor dari produsen rokok atau minuman beralkohol amat sangat ditentang oleh Azrul Ananda. Menurutnya, ke depan peran sponsor dari industri rokok atau minuman beralkohol pasti akan berkurang karena ketatnya regulasi dan isu lingkungan. Hal tersebut sudah dirasakan di tingkat global, sementara di level nasional belum banyak yang menyadarinya. Apalagi olah raga seharusnya tidak boleh dikonotasikan dengan produk-produk yang bertentangan dengan kesehatan, karena kesehatan adalah modal dalam pencapaian prestasi tinggi di bidang olah raga.

 

Saya punya mimpi, seorang Azrul Ananda suatu saat nanti akan dinobatkan sebagai pembina olah raga terbaik tingkat nasional atau bahkan tingkat global, asal berani melakukan gebrakan-gebrakan pembinaan olah raga tidak hanya bola basket, dan berani meninggalkan alasan “supaya fokus”. Infrastruktur dan modal untuk itu sudah ada, tinggal keberaniannya saja.

 

Mengurai benang kusut keterpurukan prestasi olah raga nasional memang tidak mudah. Memerlukan waktu, dana, profesionalisme, dan tingkat fokus yang lebih tinggi, yang lebih besar daripada yang ada sekarang. Namun satu contoh pola pembinaan sudah nyata diaplikasikan dalam DBL dan cukup berhasil. Salah satu benih prestasi sedang ditebar, marilah kita tunggu panennya.

sumber : http://themanagers.org

Sepuluh Tahun Lewat, Ayo Seratus Tahun Lagi

dblindonesia.com | 29-Apr-2013

 Mulai 4 Mei mendatang kompetisi basket pelajar SMA terbesar di Indonesia, DBL, memasuki tahun penyelenggaraan ke-10 di Surabaya. Menyambut musim bersejarah ini, berikut catatan Azrul Ananda, Dirut PT Jawa Pos Koran yang juga commissioner dan founder DBL.

2004. Tahun kali pertama DBL, waktu itu DetEksi Basketball League, diselenggarakan. Tujuan sederhana: Supaya halaman anak muda di Jawa Pos punya event olahraga, setelah sebelumnya punya event musik dan mading. Tapi, seperti event-event lain DetEksi, event basket ini juga harus digarap dengan sebenar-benarnya.

Jujur, saat itu tidak ada tujuan untuk masa depan basket nasional.

Pertanyaan yang sampai hari ini masih sering kami dapatkan: Mengapa basket? Kalau melihat sepuluh tahun yang lalu, mungkin kami boleh bilang bahwa basket beruntung.

Apa pun event olahraganya waktu itu, kami mengutamakan keterlibatan setara putra maupun putri. Mengutamakan teamwork, dan melibatkan banyak pemain dan peserta.

Pilihan terakhir jatuh pada basket atau voli.

Akhirnya kami pilih basket, karena ada elemen lifestyle yang lebih menonjol.

Bukan karena saya suka basket, bukan karena alasan lain.

26. Umur saya waktu DBL kali pertama diselenggarakan. Bahkan, technical meeting pertama itu pas ultah saya ke-26. Sepuluh tahun kemudian… Tak usah dibahas ya, karena usia tidak bisa di-rewind.

40. Hanya Rp 40 juta modal awal yang kami miliki untuk memulai liga SMA kala itu. Cuman ada satu sponsor. Berapa nilai sekarang? He he he…

1 dan 16. Satu kaus seragam, yang harus dipakai panitia selama 16 hari penyelenggaraan pada tahun pertama itu. Ketika hari pertama, warnanya masih putih semua. Ketika hari terakhir… Anda bisa bayangkan sendiri!

95. Jumlah tim peserta di tahun pertama itu, dari SMA-SMA se-Jawa Timur. Seharusnya 96, satu mengundurkan diri usai technical meeting karena DBL menetapkan aturan larangan pemain profesional dan semi-profesional di liga pelajar ini.

Sekarang, total tim peserta sudah di atas 1.200 tim di 22 provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Bila dulu jumlah pemainnya di angka 2.500-an, sekarang sudah di atas 25 ribu orang. Banyak sekali ya…

3.000. Harga tiket nonton waktu itu hanya Rp 3.000. Sudah “termahal,” karena kebanyakan even yang lain gratis. Harga tiket naik jadi Rp 5.000 pada final pertama DBL di GOR Kertajaya.

Saya ingat, malam sebelum Final Party perdana itu, ketika sedang “asyik” memasang spanduk di depan meja wasit, ada bapak-bapak datang. Dia tanya, ini untuk apa. Saya bilang, ini untuk final besoknya. Dia tanya, tiketnya berapaan. Saya bilang, Rp 5.000. Dia bilang lagi: Mana bisa laku?

Besoknya: Ha ha ha!

Lebih dari 5.000 penonton memadati GOR Kertajaya. Karena kapasitas hanya 3.000. Penonton harus gantian. Suporter final putri harus gantian dengan putra. Katanya, penonton final 2004 itu mengalahkan rekor PON 2000 di tempat yang sama.

Tahun itu, yang hebat ya kru DetEksi Jawa Pos. Bayangkan, kami hanya merencanakan diikuti 40 tim, ternyata 95. Alhasil, karena gedung tidak bisa di-booking berurutan, maka tim kami pun harus bekerja seperti tim SWAT. Saat babak penyisihan, satu malam di GOR Hayam Wuruk, besoknya pindah setting ke GOR Bumimoro, besoknya balik lagi pindah setting ke GOR Hayam Wuruk, dan begitu terus-menerus.

Tahun pertama itu pun perfect ending. Final putra berlangsung superseru hingga perpanjangan waktu. Dimenangkan SMAN 2 Surabaya.

DBL pun terus jadi omongan… Bagi anak basket, jadi even yang “dikangenin.”

Tahun pertama itu, ada total 17 ribu penonton. Tahun 2013 ini, kami terus melangkah mantap menuju SATU JUTA penonton se-Indonesia dalam setahun!

***

Fast forward, sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sudah ada perusahaan khusus, PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, yang mengelola DBL (kini Development Basketball League).

Karyawannya sudah di kisaran angka 100. Kantornya hampir seluruh lantai 20 Graha Pena. Krunya tak henti-henti keliling Indonesia, bahkan pergi ke berbagai negara untuk urusan basket.

Kalau dulu “modal” hanya Rp 40 juta. Sekarang anggaran penerbangannya saja di angka miliar.

Bukan hanya untuk DBL. Juga untuk National Basketball League (NBL), Women’s National Basketball League (WNBL), dan yang terbaru -spinoff dari DBL SMP- Junior Basketball League (JRBL).

Sekarang juga sudah ada DBL Arena. Kalau dulu masalahnya gedung kapasitas 3.000 tidak cukup. Sekarang masalahnya gedung kapasitas 5.000 tidak cukup. Malah di kota lain, ada masalah gedung kapasitas 8.000 tidak cukup.

Tapi saya selalu berpikir, aneh juga bagaimana sebuah liga SMA seperti DBL ini bisa berlangsung sampai sepuluh tahun.

Bayangkan, anak umur 15 tahun yang tahun 2013 ini bermain di DBL. Sepuluh tahun yang lalu, dia masih umur 5 tahun! Jadi, kalau dia baca tulisan ini, maka dia akan seperti baca buku sejarah zaman dahulu kala!

Pada DBL 2004, peserta memanggil saya “Mas.” Pada DBL beberapa tahun terakhir, mereka memanggil saya “Om” atau “Pak.”

Bagaimana sepuluh tahun lagi ya? Bagaimana 20 tahun lagi ya? Gawat. Saya bakal jadi “Mbah DBL.” Aduh, aduh…

Oke, jangan berpikir 20 tahun lagi. Berpikir sepuluh tahun lagi dulu. Seperti DBL 2023 nanti?

Terus terang, sepuluh tahun terakhir berkembang tanpa benar-benar ada planning yang pasti. Kami hanya kerja, kerja, dan kerja. Mengoptimalkan segala keadaan, memaksimalkan segala situasi, dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada.

Sepuluh tahun ke depan, tentu kami lebih punya planning.

Sebagian adalah rahasia.

Sebagian lagi kami tidak berani memastikan, karena situasi dan kondisi akan terus berubah. Yang terpenting adalah bagaimana untuk terus kerja, kerja, dan kerja. Dan terus mampu beradaptasi dengan segala perkembangan situasi.

Kepada seluruh kru yang pernah bekerja di DetEksi atau DBL Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, terima kasih banyak. Kita semua telah memberi manfaat banyak kepada ratusan ribu anak/orang, atau bahkan jutaan anak/orang.

Tidak ada yang mudah, dan jalan tidak akan pernah menjadi lebih mudah. Kitanya saja yang akan makin pintar, makin tangguh, makin berkembang.

Bayangkan, sepuluh tahun lagi, bakal ada berapa ratus ribu/juta anak/orang yang pernah terlibat langsung di DBL sebagai peserta. Berapa juta orang yang pernah merasakan serunya jadi penonton DBL. Berapa juta orang yang merasakan manfaat dari DBL, dan menularkan manfaat/pengalaman itu untuk jutaan orang lebih banyak lagi…

Bayangkan seratus tahun lagi…

Sepuluh tahun sudah berlalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Ayo seratus tahun lagi! (*)

sumber : http://www.dblindonesia.com

Menjadi Tamu VIP di NBA All-Star 2011 di Los Angeles (3-Habis)

RABU, 23 FEBRUARI 2011

EMPAT HEKTARE PENUH ATRAKSI BASKET DI JAM SESSION

013801_679402_Boks_NBA_dalam

Staples Center bukan satu-satunya tempat penuh aksi di NBA All-Star 2011. Los Angeles Convention Center pun disulap jadi theme park temporer pesaing Disneyland. Berikut catatan AZRUL ANANDA.
Pergi ke kawasan Los Angeles? Tidak lengkap kalau belum mampir ke Disneyland atau Universal Studios, atau theme park-theme park lain yang bertebaran di wilayah selatan negara bagian California tersebut.
Masalahnya, kalau datang hanya satu akhir pekan demi NBA All-Star 2011 di Los Angeles, kita mungkin tidak punya waktu untuk mengunjungi tempat-tempat lain. Selama tiga –atau empat hari– waktu kita mungkin sudah habis di radius 1-2 kilometer di downtown Los Angeles.

Jumat-Sabtu-Minggu, 18-20 Februari, mulai sore sampai malam pasti habis di Staples Center, tempat diselenggarakannya even-even utama NBA All-Star 2011. Pagi sampai siangnya? Mungkin sudah habis untuk menikmati atraksi-atraksi lain yang berkaitan dengan NBA All-Star 2011. Selama akhir pekan ini, sejumlah show dan party yang berkaitan dengan NBA All-Star memang meramaikan downtown Los Angeles.
Tapi yang paling seru, dan paling menghabiskan waktu kalau memang kita mau, ada di Los Angeles Convention Center (LACC). Sebuah ruang ekshibisi raksasa yang letaknya bersebelahan dengan Staples Center.

Dan kalau mau, dari pagi sampai malam, bisa menghabiskan waktu di LACC selama empat hari, dari Jumat sampai Senin (18-21 Februari).

Ada apa di sana? Selama empat hari, LACC digunakan untuk NBA Jam Session. Apa itu? Pada dasarnya, selama empat hari, LACC disulap menjadi sebuah theme park a la Disneyland atau Universal Studios. Bedanya, kalau Disneyland untuk kartun dan Universal untuk film, maka NBA Jam Session adalah untuk basket.

Memang, Jam Session tidak secanggih Disneyland atau Universal, karena bersifat temporer. Tapi, di sana orang tetap bisa bersenang-senang. Bagi warga Los Angeles, mungkin ini adalah atraksi alternatif yang seru, yang belum tentu datang ke kota itu sekali dalam sepuluh tahun.

Sejak 1992, Jam Session memang selalu mengiringi kehebohan NBA All-Star, di mana pun even itu berkunjung. Dengan demikian, mereka (mayoritas) penggemar yang tidak bisa (atau tidak mampu) membeli tiket nonton All-Star tetap bisa menikmati kehebohannya.
***
Berkunjung ke Jam Session, kita harus sama siapnya dengan ketika berkunjung ke Disneyland atau Universal Studios. Bagi penggemar basket –khususnya NBA– di Indonesia, contoh “mini”-nya ada. Yaitu NBA Madness, yang sudah diselenggarakan Jawa Pos Group dan DBL Indonesia (pengelola Development Basketball League dan National Basketball League Indonesia) pada 2009 dan 2010.

Bila NBA Madness diselenggarakan di atrium mal-mal, yang biasanya hanya cukup untuk menampung satu “setengah lapangan basket” plus berbagai booth sponsor, maka Jam Session ini ratusan kali lebih besar.

Tepatnya seluas empat hektare! Ya, empat hektare!

Meski superluas, menikmatinya tetap butuh perjuangan hebat. Sebab, antrean sudah akan didapat dari pintu masuk Los Angeles Convention Center sampai hampir semua “wahana” di dalam Jam Session.

Padahal, untuk masuk tidaklah gratis. Harga tiket per harinya di kisaran USD 30 atau sekitar Rp 270 ribu. Enaknya jadi tamu VIP NBA sepanjang ajang NBA All-Star, rombongan DBL dan NBL Indonesia bukan hanya dapat fasilitas keluar-masuk gratis, tapi juga bebas antrean lewat pintu ekspres.

Begitu masuk –dan melewati berbagai pemeriksaan sekuriti– suasana langsung terasa heboh. Ada “lorong” besar berdinding kain bergambarkan bintang-bintang NBA All-Star 2011. Di tengahnya, ada jalur berjalan ala karpet merah, tapi berupa jalur bercorak kayu khas lapangan basket.

Di kanan-kirinya pun ada “penyambutan.” Kalau bintang Hollywood disambut jepretan banyak fotografer, kalau pengunjung Jam Session disambut puluhan staf even yang menepuk-nepukkan balon tongkat (clapper) khas penonton basket. Tidak jarang mereka mengajak pengunjung toast. Bagi penonton, rasanya pun seperti jadi pemain basket yang akan masuk ke lapangan dan disambut oleh para penonton!

Di dalam, tinggal pilih mau ke “wahana” mana. Total, ada tujuh lapangan penuh temporer untuk berbagai permainan. Mulai 3-on-3, laga-laga ekshibisi komunitas, dan lain-lain. Yang utama disebut Center Court, yang mungkin lebih tepat disebut sebagai stadion temporer. Sebab, bukan hanya lapangan yang terpasang. Di sekelilingnya ada pula tribun tiga sisi berkapasitas sekitar 2.000 orang. Di salah satu sisi, ada pula dua layar LED besar, plus scoreboard besar di tengah-tengahnya. Selain itu ada pula tujuh “setengah lapangan” bertebaran, untuk keperluan sponsor, klinik basket anak-anak, dan lain-lain.

Bagi yang gila merchandise, di tengah-tengah LACC ada NBA Store. Kalau lagi ramai-ramainya, untuk masuk toko superluas itu perlu antre. Ketika mau bayar, juga harus ada antrean menuju kasir. Padahal, jumlah kasirnya belasan!

Setiap hari, ada sejumlah pemain atau mantan pemain NBA hadir. Termasuk untuk duduk di kawasan khusus, melayani permintaan tanda tangan para penggemar.
***
NBA All-Star 2011 mungkin bisa dibilang sukses besar. Paling tidak dalam menyedot perhatian, baik di Amerika Serikat sendiri maupun di dunia. Rating televisi kontes slam dunk hari Sabtu (19/2) disebut gila-gilaan. Di AS, ditonton sampai 8,1 juta orang, tertinggi dalam 26 tahun sejarah penyelenggaraan.

Blake Griffin, bintang muda Los Angeles Clippers yang memenangi kontes slam dunk setelah melompati sebuah mobil, instan jadi superstar dunia. “Bau-bau” kontes itu sudah di-setting semakin kentara ketika kita melihat toko merchandise utama di Staples Center hari Minggu (20/2), sebelum laga puncak NBA All-Star.

Di pintu masuk LA Team Store, sudah terpampang t-shirt merah bergambarkan Blake Griffin, bertuliskan “Slam Dunk Champion.” Kata seorang staf NBA, kaus itu bahkan sudah dijual Sabtu malam lalu, tidak lama setelah Griffin dinobatkan sebagai pemenang.
Sudah disiapkan Griffin bakal menang? Entahlah. Tapi kalau pun iya, saya tidak komplain, karena kontes Sabtu itu benar-benar menghibur. Dan inti akhir pekan ini memang bukan persaingan yang sehat, melainkan tingkat keasyikan yang harus setinggi mungkin.

Hari Minggu itu, suasana ramai luar biasa. Sebagai tamu VIP NBA, saya dan teman-teman dari DBL dan NBL Indonesia dapat fasilitas ekstra sebelum acara dimulai pukul 17.00 waktu setempat. Kami diajak turun ke lapangan, ditunjukkan kesibukan di balik layar, lalu berfoto di lapangan hanya beberapa menit sebelum acara berlangsung.
Bukan sekadar foto biasa, NBA juga menyiapkan seorang “Legend” (mantan bintang) untuk pose bersama kami (dan sejumlah tamu VIP lain). Dia adalah AC Green, mantan bintang Los Angeles Lakers.

Dalam tur singkat itu, sejumlah bintang besar lain kami jumpai. Seperti David “The Admiral” Robinson, mantan center andalan San Antonio Spurs yang pernah masuk daftar 50 pemain terbaik dalam sejarah. Di “balik layar,” juga bertemu head coach Boston Celtics, Doc Rivers, sedang berbincang dengan head coach Los Angeles Clippers, Vinny del Negro.

Fasilitas ekstra lain yang kami dapat: Lagi-lagi party. Di ajang ini, memang ada banyak sekali pesta untuk para partner dan undangan VIP. Minggu malam setelah laga All-Star, mereka yang dapat undangan khusus diajak menyeberang jalan. Di depan Staples Center, jalan Figueroa memang diblokir, dan kawasan restoran di sekitar situ juga ditutup. Di sana dipasang tenda besar, di dalamnya ada panggung untuk menghibur para tamu.
Beberapa selebriti yang nongol di laga All-Star ikut hadir di situ. Antara lain penyanyi legendaris yang tunanetra, Stevie Wonder.

Soal berlangsungnya laga NBA All-Star sendiri mungkin tak perlu terlalu banyak dibahas di sini. Tim wilayah barat (West) menang, dan bintang tuan rumah dari Los Angeles Lakers, Kobe Bryant, terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) setelah mencetak 37 poin.
Meski demikian, tongkat estafet popularitas agak-agaknya sudah terjadi di Los Angeles. Kobe Bryant mungkin masih bintang paling top, tapi dia sudah sangat disaingi oleh Blake Griffin. Buktinya, saat laga All-Star, para penonton bersama meneriakkan “We want Blake! We want Blake!” ketika pemain Clippers itu duduk di bangku cadangan.
Begitu Griffin masuk lapangan, sorakan hebat pun menyertainya.

Tahun depan, NBA All-Star pindah ke pantai timur Amerika, ke kota Orlando. Apakah bisa menyaingi NBA All-Star 2011 di Los Angeles ini? Tampaknya itu bakal menjadi sebuah tantangan hebat…