Berdoa Sepanjang Malam supaya Terpilih Ikut Klinik

29-Aug-2008

DBL_NBA_Basketball_Clinic

Di Balik Layar: Danny Granger dan Even Resmi Pertama NBA di Indonesia (3-Habis)

Danny Granger menjadi bintang di even resmi pertama NBA di Indonesia, di DBL Arena Surabaya. Bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan sang bintang, momen itu tak akan terlupakan seumur hidup.

Tim DetEksi Jawa Pos – Surabaya

Kedatangan Danny Granger ke Indonesia bukan sekadar bikin sensasi. Kedatangannya mampu memberi inspirasi bagi banyak anak muda. Siapa pun dia, cinta basket maupun tidak.

“Saya datang dari keluarga tidak mampu. Tempat tinggal saya dulu berada di kawasan yang buruk. Beruntung saya punya ayah yang terus mendukung. Sehingga saya bisa kuliah, bermain basket, dan menjadi seperti sekarang,” kata Granger, saat berada di Panti Asuhan Darrul Mushthofa, di kawasan perkampungan Surabaya Barat.

Dan bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan top scorer Indiana Pacers itu, kehadirannya benar-benar tidak akan terlupakan.

Di even resmi NBA di Indonesia, di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya, Granger memang menemui 22 tim SMA champion (11 putra, 11 putri) kompetisi basket pelajar terbesar dari Jawa Pos Group, Honda DBL 2008. Mereka datang dari 11 kota di Indonesia, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Nusa Tenggara Barat.

Para champion itu (total hampir 240 pemain) didatangkan ke Surabaya sebagai hadiah atas pencapaian mereka di provinsi masing-masing. Mereka diajak menonton final Honda DBL 2008 Jawa Timur (Sabtu, 23/8), lalu menjalani NBA Basketball Clinic bersama Danny Granger (24/8).

Tentu saja, tidak semua pemain bisa berlatih langsung dengan Granger dan Martin Conlon (mantan pemain klub NBA Milwaukee Bucks yang sekarang bekerja untuk NBA). Minggu pagi (24/8), semua pemain itu menjalani klinik pembuka bersama DBL dan klub profesional Surabaya, CLS Knights. Dari klinik pembuka itu, 50 pemain dipilih (25 putra, 25 putri), untuk berlatih bersama Granger dan Conlon pada sore harinya. Yang lain tetap menonton untuk melihat sendiri bagaimana materi latihan yang diberikan NBA.

Bagi para pemain itu, bisa melihat langsung pemain NBA adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Bisa berlatih bersama pemain NBA, mungkin tidak pernah berani mereka impikan sebelumnya.

Andrew Dave Maringka, kapten SMAN 1 Manado, sudah membayangkan ini sejak saat mengikuti Honda DBL 2008 di kotanya, awal Maret lalu. Meski panitia tidak pernah menyebut kerja sama dengan NBA (dan waktu itu DBL memang BELUM sekalipun berkomunikasi dengan NBA), Andrew sudah mengharapkannya.

“Ternyata benar! Benar-benar mimpi jadi kenyataan,” tegas Andrew.

Malam sebelum klinik, Andrew mengaku tak bisa tidur. Dia begitu cemas, khawatir tidak terpilih menjadi 50 pemain terbaik yang berinteraksi langsung dengan Granger. “Saya berdoa sepanjang malam agar terpilih,” ungkapnya.

Betapa bahagianya Andrew ketika dia terpilih. “Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata lah bahagianya. Kesempatan emas. Paling hanya sekali seumur hidup,” ujar siswa yang sekarang sudah kelas XII itu.

Bukan hanya Andrew, Marsenanda Advean, champion dari SMA Santa Maria Pekanbaru, merasa tiga hari di Surabaya adalah tiga hari terindah dalam hidupnya. “Bersyukur sekali saya. Bisa rasakan selapangan dengan Danny. Rasakan DBL Arena yang benar-benar megah. Bisa bertemu dengan para champion dari pulau lain. Komplet paketnya,” ucapnya.

Marsenanda bahkan mengaku sangat sedih karena harus berpisah dengan DBL. ”Sayang sekali saya sudah kelas tiga. Saya ingin sekali merasakannya tahun depan. Tak bisa ya kita diundang lagi tahun depan? Undang lagi lah,” pintanya pada panitia.

Bukan hanya para champion yang bangga. Sejumlah pemain CLS Knights yang membantu klinik pun merasa ini pengalaman yang tidak akan terlupakan. Saat klinik tiga jam itu, Granger dan Conlon memang dibantu oleh tiga pemain CLS Knights, Elia Prana Bukit, Dimaz Muharri, dan Freddy. Merekalah pemain profesional pertama di Indonesia yang memberi latihan bersama NBA.

Tugas mereka bukan sekadar memberi contoh dari instruksi yang diberikan Granger dan Conlon. Tugas mereka juga menjadi penerjemah ketika para champion menerima materi dalam bahasa Inggris. Ketika pemain ini juga mampu mengimbangi keisengan Granger saat materi permainan fun. Seperti mengganggu tembakan-tembakan peserta klinik.

”Semua pemain basket pasti melihatnya ke NBA. Liga yang tingkatnya paling tinggi di dunia. Buat pemain basket seperti saya, jelas rasanya senang waktu diminta membantu di NBA Basketball Clinic. Even pertama NBA di Indonesia. Itu jelas benar-benar kesempatan langka,” ujar Elia, forward CLS Knights.

Elia mengaku sempat grogi ketika kali pertama bertemu Granger. ”Aku sempat diam ajaNggak bisa ngomong. Danny tinggi banget soalnya. Kharismanya keluar banget. Biasanya kita cuma nonton di TV, ini melihat langsung. Amazingbanget,” ceritanya.

Meski materi yang diberikan waktu itu sangat fundamental (kata Granger, fundamental harus selalu diingatkan kepada para pemain, apa pun levelnya), namun trio CLS Knights pun merasakan manfaatnya.

”Aku jadi tambah pengetahuan juga. Seperti permainan knock out (adu shooting saling menggugurkan, Red) di klinik itu. Aku benar-benar terkesan sama Granger. Ternyata dia asyik banget. Total dan mau melakukan apa pun. Termasuk kena hukuman push up. Padahal dia kan bintang NBA. Salut buat dia!” kata Dimas.

Di barisan penonton, ada wajah kondang ikut menikmati NBA Basketball Clinic tersebut. Hermawan Kertajaya, pakar marketing kondang, ikut menonton dari atas tribun. Dia tampak terus senyum-senyum melihat segala yang terjadi di lapangan.

”Acara ini bisa membawa nama Surabaya berkibar di kancah internasional. Selama ini, Jakarta yang selalu duluan. Sekarang bukti bahwa Surabaya juga bisa, bahkan Surabaya bisa menginspirasi Jakarta,” ucapnya. ”Acara ini luar biasa. Siapa tahu anak-anak itu kelak bisa menjadi pemain dunia,” tambahnya.

***

Usai NBA Basketball Clinic, bukan berarti segala rangkaian DBL tahun ini berakhir. Sekarang, para pemain terbaik kompetisi ini kembali harap-harap cemas. Sebab, Sabtu besok (30/8), DBL akan mengumumkan 24 pemain terbaik (12 putra, 12 putri) plus empat pelatih untuk bergabung dalam tim All-Star untuk tampil di DBL Western Australia Games 2008.

Pada pertengahan Oktober mendatang, tim ini akan terbang ke Perth, Australia. Di sana, mereka akan belajar dan bertanding melawan tim anak muda pilihan Western Australia. ”Setiap provinsi yang dikunjungi Honda DBL 2008 akan mempunyai wakil. Entah itu putra, putri, atau pelatih,” ujar Donny Rahardian, deputy commissioner DBL.

Sebagian pemain dipilih dari performa mereka di NBA Basketball Clinic, sebagian lagi dari performa mereka saat berlaga di Honda DBL 2008. (hilda nurina sabikah/arum primasty/maulana farizil qudsi/habis)

Advertisements

Kaus Kotor dan Tertinggal, Masuk Lapangan Pakai Singlet

28-Aug-2008

DBL_Panti_Asuhan

Di Balik Layar: Danny Granger dan Even Resmi Pertama NBA di Indonesia (2)

Danny Granger kemarin bertolak kembali ke Amerika Serikat. Banyak kenangan dia tinggalkan dari even resmi pertama NBA di Indonesia.

 

Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DetEksi Basketball League (DBL) yang juga wakil direktur Jawa Pos.

”Orang-orang di sini begitu ramah. Saya tidak keberatan kalau harus kembali ke sini tahun depan.” Begitu ucap Danny Granger, top scorer Indiana Pacers yang Selasa kemarin (27/8) bertolak kembali ke Amerika Serikat.

Bagi pemain bertinggi badan 206 cm itu, kunjungan ke Indonesia merupakan kunjungan pertamanya ke Asia. Ketika pertama menginjakkan kaki di Surabaya Jumat pekan lalu (22/8), dia langsung merasakan kekaguman dan culture shock.

Kagum melihat wajahnya terpampang di mana-mana di Kota Pahlawan. Grup Jawa Pos dan Honda, penyelenggara dan partner utama DetEksi Basketball League (DBL), memang memasang sangat banyak papan reklame raksasa bertulisan Welcome to Surabaya, Danny Granger.

Termasuk di dinding depan DBL Arena, gedung basket baru tempat Granger tampil selama di Surabaya.

Makanya, begitu pertama masuk kota, Granger langsung memotret-motret berbagai reklame tersebut. Dionna, tunangan Granger, menyinggung bahwa besarnya kampanye menyambut sang bintang itu mungkin setara dengan kampanye yang dilakukan Indiana Pacers menjelang musim NBA 2008-2009 nanti.

Sebelum ke Indonesia, Granger memang baru saja menyelesaikan serangkaian persiapan promosi tim. Sebagai mesin poin utama, Granger memang akan resmi menjadi ”wajah” Pacers. Menurut Dionna, Granger menjalani berbagai wawancara majalah dan sesi pemotretan.

”Wajahnya akan terpampang di bus-bus dan lain-lain,” ungkap Dionna  yang sudah bersama Granger sejak masih kuliah di University of New Mexico.

Saat wawancara khusus bersama Jawa Pos di Surabaya, Granger mengaku memang akan meneken kontrak baru bernilai sangat besar. Pacers akan memperpanjang kontraknya selama lima tahun dengan nilai total menuju angka USD 70 juta. Angka yang setara dengan superstar-superstar NBA.

Selain kagum, Granger juga mengaku shock melihat banyaknya motor berseliweran di jalan. Bahwa banyak motor bukanlah masalah baginya. Yang jadi masalah adalah melihat anak-anak dibonceng tanpa helm. ”Di Amerika polisi akan menangkapi mereka semua,” ujarnya.

***

Selama tampil di hadapan publik di Indonesia, Granger selalu mengenakan baju yang sama. Kaus adidas abu-abu berlogo NBA besar di bagian depan.

Salah seorang di antara enam staf NBA yang datang menemani Granger mengatakan, pihaknya menyiapkan tiga kaus dengan desain yang sama. Soal kaus ini, ada cerita seru saat Granger tampil di final Honda DBL 2008 Sabtu malam lalu (23/8) di DBL Arena.

Dia diperkenalkan secara spesial,  keluar dari balik layar LED yang bergeser ke samping. Begitu keluar, lebih dari 4.000 penonton yang memadati DBL Arena berteriak bersamaan, ”Danny! Danny! Danny!”.

Pemain 25 tahun itu pun tampak ”NBA banget”. Dia mengenakan celana basket hitam, tapi atasannya hanya kaus singlet ketat warna putih. Orang pun langsung melihat betapa gagahnya Granger. Badan tinggi besar, lengan begitu kekar.

Ssst, kami sebagai panitia punya rahasia. Sebenarnya, Granger diprogramkan tampil dengan mengenakan kaus abu-abu NBA. Masalahnya waktu itu, kausnya tertinggal di hotel!
Jujur, waktu itu ada kaus yang bisa dipakai Granger. Namun, kaus itu kotor. Granger tidak mau mengenakannya. Kaus cadangan yang bersih tertinggal di hotel. Jadilah dia tampil hanya dengan mengenakan singlet. Sementara seorang staf NBA ngebut kembali ke hotel dengan naik mobil polisi khusus untuk mengambilkan kaus cadangan Granger.

Tapi, tidak apa-apa. Bagi mereka yang menjadi saksi sejarah di DBL Arena waktu itu, Granger justru terlihat lebih keren bukan? Lebih eksklusif lagi. Sebab, di tempat-tempat lain dia tidak menunjukkan ”badan NBA-nya.”

***

Mewakili seluruh keluarga Grup Jawa Pos, DBL, beserta seluruh pihak yang terlibat di Honda DBL 2008, saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Danny Granger. Selama di Indonesia, dia terus menunjukkan profesionalitas. Bahkan  lebih dari itu. Dia juga menunjukkan diri sebagai seseorang yang sangat apresiatif, bisa melihat apa yang real dan apa yang tidak real.

Ketika berada di Jakarta, ada banyak pihak yang tampaknya mencoba mencuri kesempatan dengan kehadiran Granger. Namun, dari setiap sesi wawancara dan kesempatan bicara, Granger terus melontarkan pujian kepada DBL dan Surabaya, kota pertama yang menyelenggarakan even resmi NBA di Indonesia.

Sebagai warga Surabaya yang bangga pada kotanya, saya ingin mengucapkan rasa terima kasih tambahan.

Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada seluruh staf NBA, yang mempercayai DBL sebagai penyelenggara even resmi pertama mereka di Indonesia.

Salah satu yang paling spesial adalah Martin Conlon. Mantan pemain Milwaukee Bucks era pertengahan 1990-an itulah yang mengatur segala klinik bersama para 50 pemain, wakil tim-tim champion Honda DBL 2008 yang datang dari sepuluh provinsi di Indonesia. Setelah mengakhiri karir basket bersama sejumlah tim NBA dan klub Eropa, dia sekarang bekerja di NBA sebagai manager basketball operation international.

Pria 40 tahun itu punya tinggi badan 210 cm. Tanpa gerak pun dia sudah membuat orang kagum. Tapi, cara dia berkomunikasi dengan anak-anak DBL sangatlah baik. Kita semua banyak belajar dari dia.

Rupanya, ada alasan kenapa Conlon begitu antusias menjalani semua program, khususnya NBA Basketball Clinic Minggu lalu (24/8). Dia mengaku terpacu oleh semangat dan antusiasme pemain dan penggemar basket di Surabaya.

”Momen yang paling saya suka selama di Indonesia adalah saat masuk DBL Arena, menonton final DBL.  Suasananya begitu ramai dan riuh. Para penonton begitu mendukung kompetisi ini,” kata Conlon.

Ketika pesta perpisahan bersama para champion Honda DBL 2008 di Palimanan Minggu malam lalu (24/8), Conlon tanpa diminta mau naik ke panggung dan memberikan semangat kepada para pemain basket SMA yang datang dari berbagai pulau di Indonesia itu.

”Saya telah menjalani klinik di berbagai penjuru dunia. Di Amerika, Eropa, Tiongkok, dan Afrika. Tapi, saya tidak pernah melihat antusiasme sebesar yang kalian tunjukkan. Antusiasme kalian jauh dari di negara-negara lain,” katanya disambut dengan tepukan tangan riuh para champion.

Berkat Conlon pula, kita semua kru DBL pernah merasakan bagaimana rasanya bermain lawan pemain NBA (meskipun dia mantan pemain NBA). Minggu sore setelah NBA Basketball Clinic, para staf NBA menantang kru DBL bermain 2 x 10 menit di DBL Arena. Hasilnya? Berkat Conlon yang supertinggi, NBA menang telak, 39-18!

Mengenai staf yang lain, saya dan seluruh kru DBL lagi-lagi mengucapkan terima kasih. Mereka terus mengucapkan betapa menariknya DBL di Indonesia.

Salah satunya bilang ke saya dan beberapa rekan dari Honda, memberikan pendapatnya tentang final Honda DBL 2008. ”Selama dua bulan terakhir, saya selalu mendengar dari Azrul tentang betapa luar biasanya DBL ini. Tapi sekarang, setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, ternyata justru lebih luar biasa dari yang Azrul bilang,” ucapnya.

Iseng, saya bercanda kepadanya. ”Jadi,  selama ini kamu tidak percaya?”

“Saya percaya, tapi kami belajar untuk menjaga ekspektasi. Kami pernah didatangi orang dari (tempat lain). Mereka bilang punya program basket yang besar. Tapi ternyata omongan belaka,” jawabnya.
Tentu saja, ucapan-ucapan seperti itu membuat saya dan teman-teman semakin bersemangat untuk musim selanjutnya. Honda DBL 2009 akan melebar ke provinsi lain, menjadi total 15 provinsi.

Kerja sama dengan NBA juga akan meningkat. Bukan sekadar NBA Basketball Clinic selama sehari. Tahun depan, NBA dan DBL akan berkolaborasi untuk menyelenggarakan Indonesia Development Camp. Tetap akan berlangsung di Surabaya, panjang camp itu beberapa hari. Penonton di DBL Arena nanti bukan hanya menyaksikan latihan bersama. Penonton juga akan melihat All-Star Game. Para pemain terbaik Honda DBL 2009 dari 15 provinsi akan adu kemampuan di lapangan.

Pemain NBA yang datang ke Surabaya tahun depan tidak sendirian. Nanti juga hadir dua asisten pelatih,  yang juga akan memberikan materi kepada 50 pelatih-pelatih pilihan DBL.

Tak sabar rasanya menunggu tahun depan. Tak sabar rasanya mengetahui siapa pemain yang akan datang tahun depan. Tapi sekarang istirahat dulu. Terima kasih NBA, see you next year(bersambung)

Penggemar Batman Itu Ternyata Paling Takut Kelelawar

27-Aug-2008

DBL_Danny_Granger2

Di Balik Layar: Danny Granger dan Even Resmi Pertama NBA di Indonesia (1)

Liga basket paling bergengsi di dunia, NBA, baru saja menyelenggarakan even resminya di Indonesia.

 

Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DetEksi Basketball League (DBL), host acara bersejarah yang dibintangi oleh Danny Granger tersebut.

Mimpi itu telah menjadi kenyataan. Untuk kali pertama dalam sejarah, Indonesia dikunjungi oleh liga basket paling bergengsi di dunia, National Basketball Association (NBA).

Akhir pekan lalu top scorer Indiana Pacers, Danny Granger, berkunjung ke Surabaya. Sabtu lalu (23/8) dia menghadiri final liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2008, wilayah Jawa Timur.

Sehari kemudian (24/8) pemain 25 tahun itu tampil di NBA Basketball Clinic. Dia memberikan materi latihan fundamental basket kepada para pemain tim-tim juara Honda DBL 2008, yang datang dari sepuluh provinsi di Indonesia.

Sebagai tuan rumah, kedatangan Granger tentu memberi pressure besar bagi saya dan teman-teman di DBL. Selama ini kami memang berupaya menyuguhkan kompetisi seprofesional mungkin. Baik dalam hal regulasi maupun presentasi di lapangan. Tapi, belum pernah kami merasakan pressure sebesar ini, menyelenggarakan even resmi pertama NBA di Indonesia.

Berbagai kekhawatiran ada di kepala kami semua. Apakah kami cukup profesional untuk NBA? Apakah kami punya sumber daya cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya?

Meski melakukan investasi cukup besar untuk sebuah liga basket pelajar, apa yang kami keluarkan masih shoe-string(kecil) bila dibandingkan dengan beberapa liga lain. Kami mengatasinya dengan kemauan dan kerja keras (saya beruntung punya the hardest working crew).

Selain itu, kami punya kekhawatiran. Apakah Danny Granger ”orang yang baik.” Sebab, sejak DetEksi Jawa Pos(halaman anak muda di Jawa Pos yang menjadi basis DBL) kali pertama terbit pada 2000 lalu), kami sudah sangat sering menyelenggarakan even yang melibatkan selebriti. Indonesia maupun luar negeri. Kami bukanlah event organizer, jadi kami melakukan sendiri semua kebutuhan even-even tersebut.

Kadang, para selebriti itu bukanlah orang yang gampang diajak bekerja sama. Minta ruang ganti berkarpet mahallah. Minta spaghetti dan ikan bawallah. Minta inilah. Itulah. Dan sebagainya.

Tim NBA Asia sudah mengingatkan kami soal kemungkinan-kemungkinan itu. Kadang ada pemain yang malas melakukan apa saja. Tidak ramah. Jadi, kami harus siap dengan segala situasi. Apalagi, kalau pemain itu datang dengan teman-teman mainnya. Ulahnya bisa macam-macam di luar acara.

Memang, nama Danny Granger belum melambung tinggi seperti para bintang Team USA yang baru saja meraih emas di Olimpiade Beijing. Namun, jangan pernah meremehkan. Granger sudah di ambang batas menjadi superstar sejati. Setelah tiga tahun di NBA, dia sudah menjadi top scorer. Tidak mudah meraih rata-rata 19,6 poin per pertandingan. Apalagi di liga seperti NBA.

Di Amerika, pengamat basket sudah heboh membicarakan berapa nilai kontrak Granger berikutnya. Kepada saya, saat wawancara khusus Jumat malam lalu (22/8), Granger mengaku bakal meneken kontrak lima tahun. Nilainya antara USD 50 juta hingga USD 70 juta. Berarti, rata-rata lebih dari USD 10 juta per musim (Rp 93 miliar). Dan itu angka seorang All-Star NBA.

Beruntunglah kami. Danny Granger jauh dari kata merepotkan. Dia benar-benar cocok untuk menjadi bintang tamu di DBL, yang punya filosofi dan komitmen kuat terhadap karakter pemain. Dari badannya saja sebenarnya sudah kelihatan. Di badan 206 cm-nya tidak terlihat ada tato. Tingkah lakunya juga sopan. Baik saat acara maupun di luar acara.

Soal tidak merepotkan itu, Granger mengaku memang bisa mengatur diri sendiri. ”Sebagian atlet diaturkan segalanya oleh agen. Ada manajer ini dan itu. Saya tidak butuh. Saya bisa mengurus diri saya sendiri,” tandasnya.

Granger mungkin memang tidak butuh aneh-aneh. Dari beberapa hari bersamanya, kelihatan kalau dia itu bukan seorang traveller. Dia itu anak rumahan.

Bukan hanya tidak aneh-aneh, Granger juga sangat alami dalam membawakan diri. Misalnya, waktu bertemu tamu-tamu VIP DBL di Surabaya, Jumat malam (22/8) setelah baru tiba dari Amerika pagi harinya. Sangat lelah dan jet lag, Granger tetap melayani semua permintaan foto dan tanda tangan. Dia tidak minta cepat-cepat istirahat, meski dalam hati mungkin bilang ingin cepat tidur.

Ketika mengunjungi Panti Asuhan Darrul Mushthofa di kawasan Surabaya Barat, Granger juga terlihat sangat natural. Begitu datang, tanpa diminta dia langsung menggendong anak-anak yang menyambutnya.

Setelah bertemu pengurus yayasan, kepada saya Granger bertanya pelan, ”Boleh nggak saya memberi donasi (pribadi)?” Ketika dijawab boleh, dia langsung menoleh ke arah tunangannya, Dionna. Tunangan yang sudah bersamanya sejak kuliah di University of New Mexico itu lantas memberikan sejumlah uang dolar AS.

Diumpani uang, Granger langsung sadar diri. Dia menyembunyikan sejumlah uang itu di dalam genggaman tangannya yang besar. Baru setelah semua berhenti berbicara dan sorotan kamera beralih ke yang lain, dia menyerahkan donasi tersebut.

***

Dionna (baca: Diana) merupakan sosok yang sangat penting bagi Granger. Bila banyak atlet top suka ganti-ganti pasangan, keduanya sudah bersama sejak kuliah.

Sekarang mereka tinggal bersama di rumah Granger, bersama ayah Granger (Danny Granger Senior) dan seekor anjing bulldog bernama Bentley (umur hampir tiga tahun).

Kalau lagi musim NBA, mereka tinggal di Indianapolis, Indiana. Kalau musim libur, keduanya di Albuquerque, kota di negara bagian New Mexico tempat mereka bertemu. Kadang, mereka tinggal di apartemen sewaan di Los Angeles.

Granger bercerita, seharusnya mereka menikah Agustus tahun ini. Hanya jadwal yang tidak memungkinkan untuk melakukan pesta seperti yang diinginkan. Termasuk di antaranya harus terbang ke Indonesia untuk tampil di Surabaya.

Pernikahan itu pun ditunda setahun. ”Kami akan menikah 18 Agustus tahun depan,” kata Granger, saat makan malam perpisahan, Minggu malam lalu (24/8) di Palimanan Surabaya.

Mendengar itu, Dionna yang duduk di sebelahnya langsung menyela. ”Salah honey, kita akan menikah 8 Agustus. Dia memang selalu salah sebut,” ujar Dionna yang waktu kuliah belajar untuk jadi seorang guru.

Dionna menjelaskan, soal pilihan bulan memang sulit. ”Kalau sedang musim NBA, pasti tidak mungkin. Jadi, kami hanya bisa menikah di saat offseason,” ungkap Dionna.

Selama beberapa hari di Surabaya, Dionna memang terlihat sebagai yang lebih dewasa, yang menenangkan Granger. Paling lucu waktu makan malam perpisahan itu.

Di ruang VIP restoran yang menghadap padang golf itu, tiba-tiba ada seekor kelelawar kecil menyelinap masuk. Granger sontak melompat dari kursinya, menyandarkan kepala ke bahu Dionna. Dia benar-benar ketakutan!

”Apakah itu kelelawar? Itu kelelawar atau burung? Apakah itu vampire? Apakah itu akan menggigit? Vampire menggigit lho!” ucapnya dengan nada ketakutan.

Tentu saja semua yang duduk semeja dengan Granger tertawa. Dia terus menempelkan kepala di pundak Dionna sampai kelelawar itu keluar dari ruangan lewat pintu yang dibuka.

Tidak lama kemudian Granger terus terang mengaku paling takut dengan kelelawar. Ironis, karena sore harinya, dalam jumpa pers setelah NBA Basketball Clinic di DBL Arena, dia menyebut The Dark Knight (film Batman terbaru) sebagai film favoritnya saat ini.

Saking senangnya dia pada film itu, dia juga menyebut mendiang Heath Ledger, pemeran Joker di The Dark Knight, sebagai aktor favoritnya saat ini. ”Hidup atau mati, saya berharap dia nanti bisa mendapatkan Oscar,” kata Granger.(bersambung)

Ayah Tak Perlu Kerja Kasar Lagi

21-Jul-2008

DannyGranger9

Danny Granger; Bintang Indiana Pacers yang Akan ke Indonesia (2-Habis)

Danny Granger datang dari keluarga pekerja keras. Sang ayah mendorongnya untuk bermain basket agar jauh dari masalah, agar tidak masuk penjara seperti seorang sepupu.

KELUARGA Danny Granger merupakan keluarga pekerja keras. Tipe keluarga yang tahu bahwa sukses tidak datang begitu saja. Semangat itulah yang diharapkan terus dimiliki Granger untuk mengejar hasil tertinggi di National Basketball Association (NBA).

Sang kakek, Johnny Granger, dulu hanya sekolah sampai kelas 2 SD. Tiga puluh tahun lamanya Johnny menjadi sopir truk sampah, sampai tulang punggungnya tak mampu lagi diajak bekerja.

Sang nenek, Angelina Granger, bekerja selama 40 tahun di dapur sekolah, menyediakan makan siang untuk anak-anak sekolah.

Kerja keras kakek-nenek tersebut menurun kepada sang ayah, Danny Granger Senior. Danny Senior punya tangan terampil. Sejak masih umur 20 tahun, dia membeli forklift-forklift bekas, memperbaiki kondisinya, lalu mendapat keuntungan dengan menjualnya kembali.

Kepada Nashville Tribune, Granger mengenang betapa keras dan kotornya pekerjaan sang ayah. ’’Waktu kecil dulu, saya selalu di bengkel. Saya benci di sana. Kerja ayah saya berat. Kotor dan sama sekali tidak indah. Di bawah forklift, kena oli, cedera tangan. Dibandingkan dengan itu, bermain basket sangatlah ringan,’’ ungkapnya. ’’Lihat saja tangan ayah saya. Tangan itu hancur, kuku-kukunya hilang,’’ ujar pemain 25 tahun tersebut.

Tapi, dengan kerja keras itu, Danny Granger Senior mampu memberikan kehidupan yang lebih baik kepada tiga anaknya. Keluarga yang tinggal di kawasan New Orleans tersebut bisa scuba diving, berkuda, dan bermain ski.

Ketika akan masuk NBA pada pertengahan 2005, Granger punya keinginan untuk sang ayah. ’’Dia tak akan perlu bekerja seperti itu lagi. Dia dulu bekerja begitu keras. Mulai pukul 7 pagi sampai 9 malam. Kalau saya masuk NBA, dia tak perlu bekerja lagi,’’ ucapnya kala itu.

***

Danny Granger pernah bilang, masuk NBA bukanlah target utama hidupnya. Dulu dia menggunakan basket untuk masuk kuliah, mengejar gelar di jurusan Teknik Sipil. Pemain bernomor jersey 33 itu menegaskan, ketika kecil, basket memang bukan cita-citanya.

Sang ayahlah yang mendorong dirinya untuk bermain basket ketika masih kecil. Sang ayah membangun sebuah lapangan basket, supaya Granger tidak ke mana-mana. Juga, supaya anak-anak tetangga bisa ikut bermain di sana.

Alasannya, kawasan tempat mereka tinggal, Metairie (di pinggiran New Orleans), tergolong magnet masalah. Seorang sepupu Granger adalah buktinya. Dia tidak menjelaskan mengapa, yang jelas sang sepupu pernah masuk bui.

’’Kami punya rumah yang indah. Tapi, area di sekitarnya tidak terlalu baik. Narkoba di sini, narkoba di sana. Jadi, saya membeli sepetak tanah, memasang ring basket di sana,’’ jelas sang ayah.

Benar saja, Granger dan teman-teman selalu sibuk di lapangan itu. ’’Dia pulang dari sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, lalu langsung keluar main basket. Saya bahkan memasang lampu supaya dia dan teman-temannya bisa main sampai malam. Dan mereka bermain begitu ngotot, seperti tak ada lagi hari esok,’’ papar sang ayah.

Hanya, ada aturan ketat kalau ingin main di sana. Tidak ada omongan kotor, tidak ada minuman alkohol, tidak ada rokok, tidak ada narkoba.

***

Danny Granger tumbuh pesat. Saat baru masuk SMA, tinggi badannya sudah mencapai 2 meter. Setelah menjadi bintang di Grace King High School di Metairie, Louisiana, Granger kuliah dulu dua tahun di Bradley University. Dari situ, transfer ke University of New Mexico, membela tim basket New Mexico Lobos.

Di sana, Granger menjadi bintang. Pada musim NCAA 2004-2005, Lobos meraih rekor istimewa, 26-6, menjadi juara di Mountain West Conference (MWC). Untuk kali pertama dalam enam tahun, Lobos lolos ke NCCA Tournament.

Sebagai individual, Granger masuk All-MWC First Team. Associated Press juga menghadiahinya penghargaan Honorable Mention All-American.

Ketika akhirnya masuk NBA pada 2005, dia pun menunjukkan kerja solid. Tidak banyak yang menganggapnya sebagai bintang, tapi dia tekun bekerja mengembangkan kemampuan. Sebagai rookie, Granger terpilih masuk All-NBA Rookie Second Team.

Pada musim 2007-2008 lalu, Granger pun menjadi mesin poin utama Indiana Pacers. Menjelang musim 2008-2009 nanti, dia digadang-gadang bakal naik lagi satu level, menjadi superstar sejati dan bahkan masuk All-Star. Ini mungkin adalah level paling sulit untuk dinaiki. Tapi, Pacers percaya Granger mampu melakukannya.

Granger sendiri terus-menerus menegaskan tekad tersebut. ’’Sebagai individual, saya ingin dikenang. Saya ingin mencapai level All-Star, bermain di laga All-Star tiga, empat, bahkan lima kali berturut-turut. Saya juga ingin meraih gelar juara. Tidak ada perasaan lebih indah dari menjadi seorang juara,’’ tegasnya. (azz/habis)

Plan A Kuliah, Plan B Basket

21-Jul-2008

DannyGranger7

Danny Granger; Bintang Indiana Pacers yang Akan ke Indonesia (1)

Danny Granger bakal tampil dalam even resmi NBA pertama di Indonesia, 23-24 Agustus mendatang di Surabaya. Orang pun penasaran, siapa dia sebenarnya dan bagaimana perjalanan karirnya.

INDIANA Pacers mencomot Danny Granger di urutan 17, NBA Draft 2005. Ketika itu, tidak banyak yang membicarakan pemain asal University of New Mexico tersebut. Hanya, Larry Bird (manajer Pacers) punya keyakinan bahwa anak muda yang satu ini bakal bersinar.

Apalagi, Pacers tahu, Granger adalah sosok anak yang baik, yang dibesarkan oleh keluarga yang baik pula. Bagi Pacers, itu luar biasa penting, karena ketika itu mereka sedang berkutat dengan barisan pemain yang doyan berulah. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Mulai Ron Artest, Stephen Jackson, dan beberapa lainnya.

Berbeda dari kebanyakan bintang muda NBA, Granger ’’tidak buru-buru’’ jadi pemain profesional. Dia kuliah penuh empat tahun. Pertama di Bradley University, lalu transfer ke New Mexico. Jurusannya pun tidak main-main, Teknik Sipil.

Sejak kecil, Granger mengaku selalu ingin jadi engineer. Saudara perempuannya juga begitu, belajar untuk menjadicomputer engineer. Apalagi, dia merasa bakat di mata pelajaran matematika dan sains. ’’Saya selalu ingin jadi civil engineer. Itu cita-cita saya. Sampai sekarang saya masih berminat ke sana,’’ katanya lewat situs resmi Pacers.

Granger mengungkapkan, meski tingginya sudah mencapai 201 cm saat masih SMA, kuliah masih jadi target utama. Kuliah adalah Plan A, basket adalah Plan B. Bagi Granger, basket adalah alat untuk masuk kuliah (dapat beasiswa) dan meraih gelar sarjana.

’’Kalau mau realistis, masuk NBA adalah target yang sangat sulit. Kalau kita melihat angkanya, secara persentase, tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Butuh kerja keras dan determinasi tinggi. (Dengan kuliah), kita masih bisa meraih sukses sambil mengejar target tersebut,’’ ungkapnya.

Begitu masuk NBA, Granger tidak mengecewakan. Sejak musim pertama, performanya terus meningkat. Musim 2007-2008 lalu adalah musim terbaiknya. Granger tampil dalam 80 di antara 82 pertandingan, menjadi pemain paling konsisten di barisan Pacers. Dia mencetak rata-rata 19,6 poin, tertinggi di tim.

Tujuh kali Granger mencetak lebih dari 30 poin. Termasuk pada tiga dari empat pertandingan terakhir 2007-2008. Tembakan tiga angkanya maut, dengan akurasi di atas 40 persen.

Gaya bertahannya pun keren, seperti bintang Chicago Bulls Scottie Pippen dulu (nomor 33 Granger terinspirasi dari Pippen). Kalau sempat buka-buka video di YouTube, ada adegan di mana Granger mencuri bola dari gerakan cepat Vince Carter!

Menghadapi musim 2008-2009 nanti, Granger pun mendapat beban makin berat. Pacers telah ’’membuang’’ wajah-wajah senior seperti Jermaine O’Neal, resmi menjadikannya sebagai andalan utama tim. Granger, bersama point guardT.J. Ford dan forward Mike Dunleavy, akan mencoba mengembalikan Pacers ke barisan playoff.

Granger paham betul beban itu. Dalam menghadapi musim baru nanti, dia mempersiapkan diri lebih baik. Menjadi seorang assassin yang tak bisa dihentikan lawan, sekaligus menjadi alat pengunci senjata utama lawan.

’’Target saya menjadi seperti Kobe (Bryant). Dia bisa mencetak poin sekaligus mematikan lawan saat bertahan. Itu target utama saya,’’ ucapnya sebagaimana dilansir Indianapolis Star.

Selain meningkatkan kemampuan defenseskill lain yang dikejar Granger sekarang adalah kemampuan dribble untuk menciptakan peluang poin bagi diri sendiri. Dia harus makin lengket dengan bola, sehingga punya senjata makin lengkap di lapangan.

Kalau mampu meningkatkan kemampuan itu, kata pelatih Pacers Jim O’Brien, Granger bakal menjadi seorang All-Star.

’’Saya pikir Danny akan menjadi seorang All-Star bila dia menjadi pemain yang komplet. Yaitu, orang yang bisa menjadi pemain terbaik kami dalam bertahan, dan lawan tahu bahwa dia adalah pemain terbaik kami dalam bertahan. Seorang pemain yang benar-benar bisa mematikan pemain terbaik lawan,’’ paparnya. (azz/dat)

Cinta Superhero, Bangun Rumah Bergua Batma

21-Jul-2008

DannyGranger10

SEIRING dengan status yang terus meningkat, kepribadian Danny Granger yang unik semakin terungkap. Menurut laporan Albuquerque Journal, di kota tempatnya kuliah dulu (University of New Mexico), Granger sedang membangun rumah mewah. Yang membuat orang terhenyak, rumah itu akan dilengkapi dengan sebuah Batcave alias Gua Batman!

Rencana ini terungkap dalam sebuah acara radio di Indianapolis. Yang kemudian menarik minat ekstra di Albuquerque.

 

 

“Saya selalu menyukai superhero. Saya baru saja nonton film Hulk (The Incredible Hulk, Red), dan saya benar-benar menikmatinya. Hulk, Batman, Superman, saya suka mereka semua,” tutur Granger.

Meski membangun rumah dengan Batcave, pemain 203 cm itu menyebut Superman sebagai tokoh favoritnya. Sebagai bukti, di rumahnya sekarang (di Indianapolis), dia suka mengenakan bathrobe berlambang Superman. Bedanya, di situ tidak ada tulisan “S.” Yang ada tulisan “DG 33” di dalam logo Superman. Robe itu adalah hadiah dari sang kekasih, Dionna Kann.

“Saya selalu mengenakannya. Itu hadiah yang luar biasa,” ucap Granger.

Rumah ber-Batcave itu akan dimulai pembangunannya pada pertengahan tahun ini. Dia berharap sudah bisa menempatinya pertengahan tahun depan, setelah musim NBA 2008-2009 berakhir. Di dalam “gua” nanti, Granger berencana menempatkan video game, televisi, dan mobil.

Apakah itu nanti Batmobile? Granger bilang tidak. Tapi dia mengaku pernah punya sebuah BMW Convertible yang serbahitam, dengan kaca yang sangat hitam. “Kami dulu memanggilnya ‘Batmobile.’ Tapi saya sudah menjualnya,” ungkapnya. (azz)

Menunggu Kontrak Rp 500 Miliar

21-Jul-2008

DannyGranger6

DANNY Granger bakal menjadi harapan utama Indiana Pacers untuk beberapa tahun ke depan. Sebagai insentif, Pacers sekarang mulai bicara soal perpanjangan kontrak dengan nilai cukup spektakuler.

Pada dasarnya, Granger sekarang masih bekerja dengan kontrak yang dia teken saat masih rookie. Untuk musim 2008-2009 nanti, bayarannya ’’hanya’’ Rp 21,7 miliar, kecil untuk seorang superstar. Baru setelah musim 2008-2009 dia bisa punya kontrak baru. Itu pun sebagai restricted free agent. Maksudnya, tim lain boleh menawar, tapi dia wajib terus bersama Pacers kalau Pacers mau menyamai tawaran tim lain itu.

Meski punya opsi kuat, Pacers tak ingin tim lain punya kesempatan mengambil Granger. Karena itu, sekarang mereka mulai bicara soal kontrak baru. Jangan heran kalau dalam beberapa pekan ke depan, Granger akan mengumumkan kontrak baru tersebut.

Sesuai aturan NBA, untuk kontrak kedua seorang pemain (ada batasan nilai untuk setiap kontrak baru), nilainya diperkirakan USD 45 hingga USD 60 juta untuk lima tahun. Sangat mungkin di angka USD 48 juta atau USD 55 juta. Kalau benar, berarti Granger bisa mendapat sekitar Rp 500 miliar untuk lima tahun.

Untuk saat ini, Granger maupun Pacers belum mau bicara banyak soal kontrak tersebut. Yang jelas, kedua pihak sama-sama merasa nyaman, tak perlu terburu-buru membuat keputusan.

’’Negosiasi seperti ini tak pernah mudah. Tapi, mereka (Pacers, Red) ingin tetap punya Danny, dan Danny tak ingin ke tempat lain,’’ kata Mark Bartelstein, manajer Granger, kepada Indianapolis Star.

Bartelstein terus menenangkan Pacers, mengatakan bahwa Granger bukan tipe orang yang aneh-aneh. ’’Dia anak yang luar biasa. Keluarganya benar-benar telah membesarkannya dengan baik. Dia senang menjadi bagian dari masyarakat Indiana. Dia senang menjadi bagian dari masa depan Pacers,’’ tegasnya. (azz)