Di Ambang All-Star dan Kontrak Besar

16-Jul-2008

arena-inside

Nama Danny Granger mungkin belum terlalu familiar bagi penggemar basket kasual. Tapi bagi pengamat NBA, namanya belakangan mendapat banyak sorotan dan pujian. Dialah senjata utama Indiana Pacers untuk kembali ke barisan elite, dan dia disebut-sebut sebagai kandidat kuat All-Star.

 

Dicomot oleh Pacers pada NBA Draft 2005, performa Danny Granger setiap tahun terus meningkat. Pacers pun makin mempercayainya sebagai andalan. Pada musim reguler 2007-2008 lalu, dia pun meroket menjadi mesin poin utama Pacers.

Musim lalu, Granger mencetak rata-rata 19,6 poin dan menyumbang 6,1 rebound. Dia tampil dalam 80 dari 82 pertandingan, semua sebagai starter.

Sayang, karena masalah cedera pada “bintang lama” Pacers, Jermaine O’Neal dan Jamaal Tinsley, tim itu gagal masukplayoff. Mereka berada di urutan sembilan wilayah timur, sementara hanya delapan yang masuk playoff.

Padahal, begitu dipercaya sebagai senjata utama di penghujung musim, Granger (dan Mike Dunleavy) telah tampil habis-habisan untuk mengejar sukses itu. Pacers memenangi 12 dari 16 pertandingan terakhirnya. Pada empat laga terakhir musim lalu, Granger tiga kali mencetak lebih dari 30 poin.

Meski gagal masuk playoff, tim yang dipimpin mantan pemain legendaris Larry Bird ini bisa senyum melihat masa depan. Granger dan Dunleavy adalah fondasi utama yang sangat menjanjikan, berpotensi mengembalikan Pacers ke masa kejayaan lalu.

Kepercayaan terhadap Granger itu ditunjukkan pada awal Juli lalu. Ketika itu, Bird dan manajemen Pacers memutuskan untuk menukar Jermaine O’Neal ke Toronto Raptors, menggantikannya dengan point guard T.J. Ford dan center Rasho Nesterovic.

Dengan pertukaran itu, Granger resmi menjadi “jualan utama” Pacers. Setahun belakangan, Granger sebenarnya sudah jadi “poster boy” Pacers. Wajahnya menghiasi berbagai brosur dan materi promosi tim. Sekarang, tanpa O’Neal, Pacers bakal makin gencar menggunakan Granger di berbagai materi promosi.

Bukan hanya “membersihkan” tim dari bintang lama, Pacers kabarnya juga mulai menawari Granger perpanjangan kontrak yang menggiurkan. Pada musim 2008-2009 nanti, dia dijadwalkan meraih bayaran USD 2,4 juta atau sekitar Rp 21,7 miliar.

Musim 2008-2009 itu adalah musim terakhir kontrak rookie Granger. Begitu musim berakhir, dia berstatus restricted free agent. Maksudnya, tim lain boleh menawari, tapi Pacers punya hak menyamai.

Agar tidak keburu dikejar tim lain, dalam beberapa pekan ini Pacers akan menawari Granger kontrak jangka panjang. Berapa nilainya masih belum jelas, tapi kemungkinan besar di atas USD 10 juta atau Rp 93 miliar per musim.

Dan dengan kepercayaan penuh Bird dan pelatih Jim O’Brien, jangan heran kalau performa Granger bakal terus membaik. Kalau membaik, jangan heran pula kalau dia masuk All-Star pada musim 2008-2009 nanti.

Granger istimewa karena dia tergolong serbabisa. Tingginya (203 cm) sebanding dengan banyak power forward. Tapi dia sangat lincah bermain di posisi 2 (shooting guard) atau 3 (small forward).  Karena itu, dia bisa meraup poin dengan berbagai cara. Mulai menusuk ke dalam, melakukan dunk garang, dan –yang paling mengagumkan– menembak tiga angka sangat akurat.

Musim lalu, Granger memasukkan 171 tembakan tiga angka, dengan tingkat akurasi 40,4 persen. Itu tertinggi di Pacers. Dan dalam sejarah tim, hanya pemain legendaris Reggie Miller yang lebih maut. Musim lalu, Granger juga memecahkan rekor tim, memasukkan 65 free throw berturut-turut. Rekor Pacers sebelumnya dipegang Reggie Miller, dengan 61 free throw berturut-turut. (azz)

Advertisements

Top Scorer Indiana Pacers ke Surabaya

16-Jul-2008

potrait-danny

Danny Granger Tampil di Even Resmi Pertama NBA di Indonesia

SURABAYA – Liga basket paling bergengsi di dunia, National Basketball Association (NBA), bakal mengirim seorang bintang muda untuk even resmi pertamanya di Indonesia. Danny Granger, top scorer Indiana Pacers, dijadwalkan tampil di gedung baru DetEksi Basketball League (DBL) Arena, Surabaya, 23-24 Agustus mendatang.

 

 

Pada hari pertama, Granger, 25, akan menghadiri Final Party Honda DBL 2008. Sehari kemudian, pemain bertinggi badan 203 cm itu tampil di NBA Basketball Clinic, menemui tim-tim SMA juara kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia tersebut.

Dalam klinik itu, Granger akan berbagi resep sukses dengan sekitar 300 pemain yang datang dari 11 kota, sepuluh provinsi di Indonesia. Kemudian, dia akan memberi materi latihan praktik kepada 50 pemain pilihan liga basket gelaranJawa Pos Group tersebut.

“Bagi saya, adalah sebuah kehormatan besar untuk menjadi seorang duta, mempromosikan olahraga basket di Indonesia,” kata Granger, yang musim lalu mencetak rata-rata 19,6 poin, terbanyak di Pacers. “Semoga para pemain muda DBL nanti bisa menikmati pengalaman dan skill yang akan saya sharing kepada mereka di Surabaya. Pada saat yang sama, saya juga ingin belajar dari pengalaman-pengalaman mereka,” lanjutnya.

Kim Bohuny, vice president of basketball operations international NBA, mengatakan bahwa liganya bangga bisa menyelenggarakan program-program pengembangan basket di berbagai penjuru dunia. Dan dia menegaskan, even di Surabaya ini merupakan yang pertama di Indonesia.

“Danny Granger akan memberi pelajaran kepada para pemain muda tentang fundamental basket, dan semoga ini bisa memberi mereka pengalaman yang positif bagi para pemain muda itu, baik di dalam maupun di luar lapangan,” tambah Bohuny.

Azrul Ananda, commissioner DBL, mengaku senang liga yang dimulai pada 2004 itu bakal dikunjungi pemain muda sekaliber Granger, yang disebut-sebut bakal menjadi seorang All-Star.

“Kami tak sabar menyambut Danny Granger di Surabaya, di even resmi pertama NBA di Indonesia. Para pemain kami juga tak sabar belajar dari dia,” ujar Azrul, yang juga wakil direktur di Jawa Pos.

“Semoga dia bisa menikmati pengalamannya di Surabaya nanti. Karena dia akan menjadi bagian besar dalam sejarah basket Indonesia,” tambahnya.

Kunjungan Danny Granger ini merupakan pembuka dari kerja sama multiyear (jangka panjang) antara NBA dan DBL. Mulai tahun depan, kerja sama meningkat lagi, menjadi program bertajuk Indonesia Development Camp.

Bukan hanya satu pemain, NBA akan mengirim satu pemain plus dua asisten pelatih ke Surabaya. Selama dua hari, mereka akan berbagi ilmu (teori maupun praktek) bersama para pemain dan pelatih DBL.

Di Asia, di luar Tiongkok, Indonesia merupakan negara kedua yang mendapatkan program Development Camp ini. Korea adalah yang pertama, sudah menyelenggarakannya sejak 2007 lalu. (azz)