Prestasi = Ongkos, Partisipasi = Income, oleh Azrul Ananda

Oktober 17, 2009 by mainbasket

Setelah “mendapat” pencerahan dari Malcolm Gladwell pada posting gw yang ke-500, posting-an selanjutnya rupanya tak kalah menggugah. Datang dari penggagas dan pemimpin liga basket pelajar terbesar di Indonesia, Azrul Ananda. (Head Coach Nuvo CLS Knights Surabaya, Simon Wong bahkan pernah mengatakan bahwa menurutnya, Deteksi Basketball League adalah liga basket pelajar terbesar di dunia!)

DBL Australia Games

DBL Australia Games Logo

Prestasi adalah ongkos. Partisipasi adalah income. Kalau terus dipacu, partisipasi bisa mengongkosi prestasi.

Hari ini (17/10), pertandingan basket penting diselenggarakan di DetEksi Basketball League (DBL) Arena Surabaya. Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009, yang terdiri atas pemain-pemain SMA pilihan dari 15 provinsi di Indonesia, bertanding melawan wakil Australia, Darwin Basketball Association (DBA) U-18.

Sejak Senin, 12 Oktober lalu, kedua kubu sudah berkumpul di Surabaya, menjalani serangkaian pertandingan pemanasan dan acara. Puncaknya sore ini, bertanding di ajang DBL Australia Games 2009.

Bagi DBL Indonesia, pertandingan ini merupakan alat ukur dari sebuah eksperimen besar. Yaitu membentuk “tim nasional junior” lewat jalur kompetisi yang konsisten dan konsekuen.

Tahun ini, total ada 18.739 peserta yang mengikuti Honda DBL 2009 di 16 kota, 15 provinsi di Indonesia. Semua harus menuruti aturan ketat dari konsep student athlete. Harus baik di sekolah. Tidak naik kelas, berarti tidak boleh ikut. Di Jawa Timur, kalau nilai mata pelajaran utama di bawah 6, tidak boleh main.

Dari situ, dipilihlah 160 pemain terbaik (80 putra, 80 putri), untuk ikut Indonesia Development Camp 2009. Pada 16-18 Agustus lalu, mereka berlatih bersama pemain dan pelatih NBA. Saat itu, 50 pelatih terbaik DBL juga menimba ilmu.

Di akhir camp itulah, dipilih 12 pemain putra, 12 pemain putri, dan lima pelatih untuk masuk DBL Indonesia All-Star 2009. Ada yang datang dari Palembang, dari Bandung, Pontianak, Surabaya, Bali, sampai Papua. Ada yang bilang, ini adalah “timnas junior swasta.” Bagi kami, terserah mau disebut apa. Kami juga mengakui, pemain-pemain ini mungkin belum tentu benar-benar yang terbaik di Indonesia. Mungkin masih banyak pemain yang lebih hebat tersembunyi atau tersebar.
Namun, bagi kami, tim ini sangat penting, karena dipilih melalui sebuah sistem besar. Lewat kompetisi yang standar dasarnya sama dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekadar lewat pantauan pemandu bakat atau ditemukan secara tidak sengaja.

Dan meski belum tentu pemain terbaik, bagi kami mereka adalah student athlete terbaik. Ingat, mereka belum tentu menjadi atlet basket. Mungkin, kelak mereka akan jauh lebih berguna bagi kita semua dalam hal-hal di luar basket.
Nanti, ketika DBL terus berkembang ke lebih banyak provinsi, lalu ketika lebih banyak anak berpartisipasi di setiap provinsi, maka akan semakin banyak anak yang bisa “dipilih” untuk basket.

Secara teori, nantinya akan semakin mudah menemukan bintang-bintang basket. Selama ini mereka mungkin sudah ada, tapi tidak terlihat karena tidak berpartisipasi di kompetisi yang tertata.
Tapi itu teori. Kalau tidak pernah dijalani atau dicoba, ya selamanya hanya akan menjadi teori.

***

DBL Australia Games

Tidak mudah membentuk tim seperti DBL Indonesia All-Star 2009. Tentu saja tidak murah. Karena harus menyelenggarakan even di mana-mana dengan skala besar. Cara lebih murah mungkin ya dengan mencari bakat ke sana ke mari. Dikumpulkan, lalu melatih mereka untuk membentuk tim. Selama ini, mungkin inilah yang sudah dilakukan.

Menurut saya, cara ini tentu baik-baik saja. Hanya saja, mungkin ini bukanlah cara yang baik untuk jangka panjang. Bagi saya, ini juga bukan cara yang sustainable. Untuk efektif, dengan cara ini kita butuh keberuntungan, menemukan pemain berbakat yang mencuat sedikit-sedikit di sana-sini. Mungkin ada anak petani yang tingginya 216 cm, tapi harus dilatih dulu bermain basket. Mungkin ada anak hutan yang bisa berlari supercepat, tapi tak pernah bermain basket.

Cara terbaik, menurut saya, tetap lewat kompetisi. Yang standarnya sama di sana-sini. Mungkin lebih sulit dan butuh waktu lebih lama untuk menemukan bintang. Tapi, cara ini juga menyedot tingkat partisipasi yang jauh lebih tinggi. Tingginya partisipasi adalah kunci sukses prestasi masa depan yang sustainable.

Bagi saya, Indonesia sekarang tidak perlu ngotot mengejar prestasi olahraga. Fondasinya belum cukup kuat untuk itu.
Bagi Indonesia, saat ini prestasi adalah ongkos. Jadi bukan sekadar fondasi yang belum cukup kuat, kemampuan mengongkosi juga belum ada. Paling tidak, kemampuan untuk mengongkosi secara efektif.

Sebaliknya, partisipasi adalah income. Bukan sekadar pemasukan uang. Juga pemasukan bakat dan tetek bengek yang lain.
Semakin banyak partisipasi, semakin hidup pula industrinya. Lebih banyak yang beli bola, lebih banyak yang beli sepatu olahraga, semakin banyak yang beli tiket nonton even olahraga. Semakin banyak partisipasi, seperti sudah disinggung di atas, semakin banyak pula bakat yang bisa dipilih untuk mengejar prestasi di tingkat lebih tinggi.

Kelak, ketika partisipasi sudah sangat tinggi, partisipasi itulah yang mengongkosi prestasi. Bukan pemerintah, bukan sumbangan, bukan orang-orang kaya gila, dan bukan sponsor secara langsung.

Yang jadi pertanyaan sekarang: Maukah kita melupakan prestasi untuk lima tahun ke depan, lalu fokus mengejar partisipasi?

***

DBL Australia Games

Tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bukan hanya melawan tim muda Darwin. Senin, 19 Oktober nanti, tim ini terbang ke Perth, melawan tim muda Australia Barat.

Pertandingan di Perth bukanlah pertandingan baru. Tahun lalu, tim DBL Indonesia All-Star 2008 sudah pernah bermain di sana.

Pertandingan di DBL Arena Surabaya hari ini merupakan sejarah penting. Sebab, untuk kali pertama DBL Indonesia All-Star bertanding di negeri sendiri.

DBL Indonesia sendiri mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Darwin Basketball Association (DBA) Australia. Sama seperti DBL Indonesia, DBA ini juga swasta yang self-sustain.

Jadi, pertandingan ini lebih dari sekadar negara lawan negara. Melainkan pertandingan people to people. Baik DBL Indonesia maupun DBA sama sekali tidak mendapat pemasukan dari pemerintah untuk mengembangkan diri dan mengirim tim ke luar negeri.

Dan mereka lawan yang tepat. Mereka adalah alat ukur yang paling baik untuk “timnas swasta/eksperimen Indonesia.”

Di Australia, dan negara-negara maju lain, sistem pengembangannya sudah begitu tertata. Fondasinya begitu kuat. Tidak butuh menemukan pemain berbakat. Semua orang bisa dilatih dengan baik, lalu menjadi pemain yang hebat.
Partisipasi tinggi, infrastruktur komplet, kompetisi lancar.

Kita? Sampai sekarang masih harus memikirkan partisipasi. Infrastruktur pun mungkin belum dipikir. Kompetisi amburadul.
Saya kadang berpikir, andai duit olahraga ratusan miliar (atau lebih) yang selama ini digunakan untuk prestasi itu distop. Lalu digunakan untuk membangun banyak infrastruktur olahraga, maka partisipasi akan langsung naik. Dua masalah terjawab sekaligus, dan dari sana tinggal melangkah mencari prestasi.

Dan kita tidak perlu gedung yang bagus-bagus. Yang penting ada tempat olahraga yang komplet. Tak perlu Gedung Taj Mahal, tapi perlu banyak gedung Tak Mahal.

***
Hari ini, tim putra dan putri DBL Indonesia All-Star 2009 bakal menghadapi DBA Australia.
Siapa bakal menang? Hari ini, pertandingan tim putra tampaknya bakal berlangsung seru dan menghibur. Tim DBA Australia punya postur lebih tinggi, namun tim DBL Indonesia lebih lincah dan merata. Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena (tampaknya bakal ribuan orang), jangan lewatkan duel ini.

Pertandingan putri? Peluang tim DBL Indonesia termasuk berat. Tim DBA punya dua pemain hebat, Tamara Sheppard dan Claire O’Bryan. Keduanya dalam waktu dekat pindah ke Amerika, mengejar mimpi main di liga paling bergengsi dunia, WNBA.
Meski peluang berat, saya yakin tim putri DBL Indonesia All-Star 2009 akan memberikan yang terbaik.
Bagi yang akan datang menonton di DBL Arena, saya minta tolong untuk terus menyemangati mereka. Kita bukan hanya menyemangati mereka untuk tampil kompetitif atau mengejar kemenangan. Kita menyemangati mereka karena merekalah fondasi masa depan.

Kalau banyak yang bersorak menyemangati mereka, maka akan banyak pemain muda lain yang bertambah semangat untuk menjadi seperti mereka. Dan seperti “hukum partisipasi” yang saya sampaikan di atas: Semakin banyak yang ikut, semakin banyak pilihan, semakin kuatlah tim yang dihasilkan.

Sorakan semangat hari ini mungkin tidak akan membuahkan kemenangan hari ini juga.Sorakan semangat hari ini, siapa tahu, akan membuahkan gelar juara dunia basket untuk Indonesia pada 2030 nanti!

Masih lama memang, tapi harus dimulai dari sekarang. Dan yang diperlukan hanyalah berpartisipasi dalam bentuk sorakan! (*)

sumber : https://mainbasket.wordpress.com

Advertisements

Deteksi – The Power of Youth Community

NOVEMBER 10, 2010 | BY 

FocusOnYoungPeople Option2 284x300 Deteksi – The Power of Youth Community

ilustrarsi dari http://www.statistics.gov.uk

Mengapa Deteksi?

Berawal dari keinginan Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos saat ini, agar anak muda membaca koran. Karena fakta yang ada saat ini, 35 persen  dari penduduk indonesia, yaitu sekitar 100 juta jiwa dibawah umur 25 tahun. Maka orang muda adalah target market yang sangat berpeluang besar jika dia ingin Jawa Pos tetap eksis di masa depan.

Awalnya, banyak yang mencibir dan mengecam, karena selain dianggap tidak penting karena tidak memuat berita, selain itu tema-tema yang vulgar seperti ‘First Kiss, Siapa yang lebih Baik? Papa atau Mama?’ dll, sempat dikecam oleh pihak agamawan karena dianggap melawan orang tua. Namun, Deteksi tetap berjalan dengan tim anak muda usia belasan dan kuliahan.

Namun, passion Azrul yang luar biasa besar, ingin membawa Deteksi lebih maju dengan Deteksi Mading Competition yang fenomenal. Setiap tahun, kompetisi ini menjadi ajang ‘Aktualisasi Diri’ para pelajar SMA di Jawa Timur. Menurutnya, Mading lebih canggih dari internet, karena Mading bisa lebih dirasakan oleh panca indera, dan bisa dibuat dalam bentuk apa saja. Dan hal tesebut terbukti, karena setiap tahun, Convention Hall terbesar di Surabaya selalu menjadi tempat yang penuh sesak untuk kompetisi ini. Kompetisi Deteksi terus berkembang, tidak hanya melulu ke kompetisi mading, tetapi juga Model Competition, Pop Group Competition, Custom Shoes, dll.

Kemudian, Deteksi berkembang lagi merambah dunia olahraga, dengan DBL (Deteksi Basketball League) yang disambut luar biasa bagi pelajar SMA dan SMP di Jawa Timur. Setiap tahunnya, DBL harus menolak beberapa tim karena quota yang tidak mencukupi. Sedemikian luar biasa animo pelajar terhadap ajang seperti ini. Bahkan, Deteksi sudah menjadi barometer para pelajar di Jawa Timur.

Yang lebih hebat lagi, tahun 2010 ini DBL dipercaya untuk mengelola IBL yang dulunya KOBATAMA (liga basket nasional) supaya berhasil seperti DBL. Luar biasanya, tim DBL hampir seluruhnya di bawah usia 30 tahun. Azrul menyadari bahwa Young Talent adalah kekuatan yang luar biasa, karena orang muda FIGHT with CREATIVITY dan tidak ada yang bisa membendung hal tersebut.

Potensi pasar Youth bisa menjadi inspirasi bagi para Marketers, seperti yang dilakukan oleh Deteksi. Youth Community adalah pasar dengan potensi yang sangat besar, karena ketika persepsi mereka dimenangkan oleh suatu Brand, mereka akan menjadi Ambassador yang efektif. Terbukti Deteksi menjadi Brand yangpowerful karena kekuatan Youth, bahkan berdampak pada image Jawa Pos yang menjadi lebih young saat ini.

There is a fountain of youth: it is your mind, your talents, the creativity you bring to your life and the lives of people you love. When you learn to tap this source, you will truly have defeated age.” (Sophia Loren)

sumber : http://the-marketeers.com

Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola

MAY 9, 2012 | BY 

azrul ananda Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas SepakbolaAzrul mengungkapkan rasa syukurnya karena liga basket yang ia bentuk sejak di Surabaya sudah besar seperti sekarang. DBL sekarang menjangkau lebih dari 27.000 peserta dengan 1.500 tim dari Aceh sampai Papua. “Saat itu, hal ini dimaksudkan untuk mendukung penjualan koran Jawa Pos. Tapi, ternyata cukup booming dan mendapat dukungan besar dari berbagai kalangan, khususnya anak muda. Dari Jawa Timur, DBL berhasil mengekspansi seluruh Indonesia. Tahun 2012,” kata Azrul di tengah-tengah pertandingan liga antarsekolah yang digelar di Gelora Pemuda, Bulungan, Jakarta, Rabu (09/05/2012).

Presiden Direktur Grup Jawa Pos ini berani mengklaim DBL merupakan liga terbesar nomer dua di Indonesia setelah sepakbola. Azrul optimistis pada tahun ini, liga ini berhasil menjangkau 700.000 penonton. “Ini akan menjadi liga pertama selain sepakbola yang menghadirkan sejuta penonton dalam waktu dekat,” kata Azrul.

Boleh dibilang DBL ini cukup fenomenal. DBL memiliki cikal bakal dari rubrik DeTeksi, kolom khusus anak muda besutan Jawa Pos. DBL dulunya merupakan singkatan dari DetEksi Basketball Leaque dan dimulai pada tahun 2004. Dari Surabaya, DBL berekspansi ke kota-kota lain. Pada tahun 2009, DBL berekspansi sampai Australia yang mana Tim pura DBL Indonesia All-Star 2009 memenangi pertandingan dengan menaklukkan tim Western Australia. Pada tahun 2010, singkatan DBL berganti menjadi Development Basketball League. Perubahan nama ini sebagai langkah penting untuk mencapai misi DBL, yakni mengembangkan konsep atlit pelajar yang tidak hanya mengembangkan sisi olahraganya, tapi juga kepribadian dan profesionalitas.

DBL Azrul Ananda: Basket Sangat Mungkin Kalahkan Popularitas Sepakbola“Ini kami buat karena waktu itu tidak ada event untuk anak muda yang digelar secara konsisten. Mereka hanya berhantung pada satu sponsor. Kalau hanya satu sponsor, mereka tergantung pada kebutuhan pemasaran merek tersebut. Nah, kami lain, pada tahun 2008, kami membentuk PT DBL Indonesia yang mengelola event ini secara penuh fulltime. Event ini jalan terus walaupun mungkin tanpa sponsor,” tandas Azrul.

Dengan PT sendiri, DBL bisa fokus menggarap tim dan penontonnya, termasuk sistem merchandising. Tak heran bila di pertandingan ada suvenir-suvenir khas DBL, seperti sepatu Azrul Ananda. “Kami juga berhasil mengambil liga profesional seperti NBL Indonesia. Kami juga membentuk liga khusus perempuan dengan nama WNBL Indonesia. Ini produk-produk kami yang kami kelola secara perusahaan,” imbuh Azrul.

Azrul menambahkan DBL berhasil memasarkan olahraga yang selama ini digerakkan kalangan ekonomi sosial AB menjadi yang disukai masyarakat, khususnya anak muda. “Menurut survei yang kami lakukan bersama Astra Honda Motor, untuk remaja usia 13-17 tahun, basket merupakan olahraga nomer satu di atas sepak bola. Masa depan basket sangat cemerlang dan bisa jadi nantinya mengalahkan sepakbola,” tandas Azrul.\

sumber : http://the-marketeers.com

Satu Dekade Penuh Kebanggaan

_IPT1313

dblindonesia.com | 29-Apr-2013

10 Years DBL (2004-2013)
Satu dekade DBL diselenggarakan di Surabaya, tak ada satu pun musim yang dilalui tanpa riuhnya sorak penonton dan kebanggaan para pebasket pelajar yang berlaga. Liga itu tumbuh dan mengakar di Surabaya secara emosional. DBL telah memberikan sejuta kebanggaan (pride) dan kenangan (story) bagi siapa pun yang pernah berpartisipasi di dalamnya, terutama para pemain yang berlaga.

Sejuta asa dan cerita tentang DBL juga tak bisa lepas dari benak Sumiati Sutrisno. Marilah tengok sejenak perhelatan DBL 2007 yang melahirkan seorang bintang lapangan yang mendominasi di musim itu.

Di musim itu dia memimpin tim putri SMA YPPI 2 Surabaya meraih gelar champion ketiga. Dia bahkan berhasil menyabet gelar most valuable player (MVP) sekaligus top scorer. Permainannya memukau dan menginspirasi banyak orang.

“Saya masih ingat betul suara suporter yang meneriakkan nama saya di malam final. Bahkan, kartu tanda peserta, kaus champion, termasuk hadiah motornya masih saya simpan sampai sekarang,” ujarnya. Kini Sumiati tercatat sebagai pemain Women’s National Basketball League (WNBL) Indonesia, membela Surabaya Emdee Fever.

Kisah serupa disampaikan Yerikho Christopher Tuasela, MVP Honda DBL 2011 dari SMA Santa Agnes Surabaya. Bagi dia, DBL memotivasi dirinya untuk pantang menyerah. Seperti yang tertulis di dinding ruang pemain DBL Arena, hard work beats talent when talents doesn’t work hard, Yerikho terus berusaha. Dari seorang pemain cadangan mati, dia menjadi MVP yang mengantarkan sekolahnya ke final DBL 2011.

“Kalau ingat saat host manggil namaku sebagai starting line-up,rasanya betul-betul bangga. Apalagi waktu pemutaran video sequence menjelang pertandingan final, aku nggak nyangka bahwa aku ternyata bisa sampai ke tahap itu,” papar pebasket yang pernah masuk timnas U-18 itu.

Memang bintang-bintang lapangan yang lahir di DBL tak hanya menjadi inspirasi bagi pebasket selanjutnya, tapi juga menjadi tunas-tunas baru dalam dunia basket profesional Indonesia.

Selain Sumiati dan Henny, ada Oei Abraham Yoel yang kini menjadi guard Stadium Jakarta. Yoel, sapaannya, pernah membawa SMA Petra 4 Sidoarjo menjuarai DBL 2008.

Dia mengakui bahwa apa yang sudah dilatih selama bermain di DBL sangat berpengaruh pada karir basketnya kini. “Saya jadi lebih terbiasa menghadapi sebuah game besar. Yang paling melatih mental saya adalah semangat para suporternya yang memang cuma bisa dirasakan saat bermain di DBL,” ujar Yoel.

Tak ada yang membantah memang bahwa spirit para pelajar dalam mendukung tim kesayangannya di liga basket itu sangat luar biasa. Spirit suporter yang sangat fanatik itu begitu memengaruhi kondisi mental para pemain yang bertanding.

Sepuluh tahun sudah liga ini mengisi buku catatan kosong para pelajar di Indonesia, khususnya Surabaya, dengan berbagai cerita dan kebanggaan. Pahit dan manisnya hasil pertandingan selalu menjadi acuan untuk terus bekerja lebih keras lagi menggapai harapan. Semoga semua cerita selama satu dekade ini terus berlanjut hingga dekade-dekade berikutnya. (roi/c11/ash)

2004

The History Begin

Minggu, 4 Juli 2004, menjadi hari yang bersejarah untuk basket pelajar Surabaya, bahkan Indonesia. Hari itu technical meeting pertama DetEksi Basketball League (DBL) diadakan di DetEksi Room. Opening party musim perdana itu ditonton lebih dari 1.000 orang. Pada final party, pertandingan berlangsung dramatis dan ditonton oleh 5.000 penonton.

2005-2007

New Standard

Memulai musim kedua, DBL melangkah pasti, tumbuh menjadi liga basket pelajar terbesar dan terheboh yang pernah ada di Surabaya. Pada musim kedua, DBL mengemas liga dengan aturan yang lebih profesional. Misalnya, mengenai standar kerapian kostum, baik untuk pemain maupun ofisial. Tak sekadar profesional, DBL berusaha menyuguhkan kemasan liga yang memanjakan penonton dengan sajian entertainment.

2008

Go International

Musim ini, DBL berkembang ke sepuluh kota lain di sepuluh provinsi Indonesia. DBL juga berhasil menjalin kerja sama internasional, antara lain, NBA dengan memboyong Danny Granger (top scorer Indiana Pacers). Ini adalah event resmi NBA pertama di Indonesia. Kolaborasi juga dilakukan dengan pemerintah Australia untuk memberangkatkan tim DBL Indonesia-All Star 2008 ke Australia. Di-launching-nya DBL Arena semakin mengukuhkan eksistensi DBL.

2009

First Winning

Tekad DBL untuk kemajuan basket Indonesia semakin besar. Tahun ini kemenangan tim DBL Indonesia-All Star 2009 saat melawan tim Western Australia di Perth merupakan sebuah prestasi gemilang. Itu menjadi sejarah pertama kemenangan basket Indonesia di Australia. Kemenangan tersebut tak lepas dari keseriusan DBL menyelenggarakan Indonesia Development Camp, perkembangan lebih lanjut dari NBA Basketball Clinic pada 2008.

2010-2012

Amazing Spectators

Liga yang semula bernama DetEksi Basketball League resmi berevolusi menjadi Development Basketball League. Total penonton semakin menggila. Pada 2010 saja, jumlahnya menembus angka 500 ribu penonton. Rekor penonton terus terpecahkan setiap tahun. Pada 2012 jumlah penonton hampir menembus angka 700 ribu di seluruh Indonesia. Tahun 2012 merupakan salah satu momen termanis DBL Surabaya yang pernah ada, kala SMAN 9 Surabaya menjadi champion di tanggal 9 Juni tepat pada pukul 9 malam.

2013

Now and Then…

Memasuki satu dekade penyelenggaraan DBL di Surabaya, kota ini semakin eksis menjadi ibu kota basket di Indonesia. Untuk selanjutnya, DBL terus beradaptasi dengan perkembangan situasi dan kondisi yang selalu berubah. Yang pasti, DBL akan terus memperbaiki perkembangan liganya hingga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya. (ima/c10/ash)

DBL in Facts

Di tahun 2004, kompetisi DBL hanya diikuti oleh sekolah-sekolah yang berasal dari 7 kota di Jawa Timur. Hingga tahun 2012 yang lalu, kompetisi DBL sudah diikuti oleh ribuan tim yang berasal dari 134 kota di 20 provinsi di Indonesia.

Jumlah penonton di awal penyelenggaraan DBL sebanyak 17.000 penonton. Tahun 2012 lalu, jumlah penonton dari keseluruhan kota penyelenggara mencapai angka 616.052.

Show sequence pada opening party Honda DBL 2012 lalu melibatkan 60 dancer utama dan lebih dari 1000 dancer pendukung yang berasal dari suporter sekolah untuk menampilkan flashmob dance.

6 pemain NBA telah didatangkan oleh DBL Indonesia, yakni Danny Granger (2008), Kevin Martin dan David Lee (2009), Trevor Ariza (2010), Nate Robinson (2011), dan Jason Williams (2012).

sumber :www.nblindonesia.com

Dibutuhkan Sejuta Azrul Ananda Baru

Refleksi Hari Olah Raga Nasional (9 September 2010)

Oleh: Ratmaya Urip*)

Azrul Ananda, anak muda ganteng dengan tinggi badan 176 cm dan berat badan 74 kg yang lahir pada 4 Juli 1977, alumnus Ellinwood High School,  Kansas, USA dan  California State University Sacramento, 1999 itu benar-benar telah mengalihkan perhatian saya. Betapa tidak, dalam usianya yang masih sangat muda (33 tahun), telah mengukir prestasi di bidang pembinaan olah raga yang tidak ada duanya, khususnya di cabang olah raga bola basket. Tidak banyak anak muda seusianya yang dapat menyamai prestasinya.

Setiap anak muda, khususnya para pelajar di seluruh Indonesia, pasti tidak asing lagi dengan kiprahnya dalam membina olah raga basket.  Development Basketball League (DBL) Youth Events telah bermetamorfosa menjadi Indonesia’s Biggest Student Basketball Competition, secara cepat dan mencengangkan, di tengah dahaganya talenting atau pembinaan atlit muda di Indonesia. Bayangkan, kompetisi yang dimulai dari tahun 2004, atau tahun yang sama dengan tahun ketika Mark Zuckerberg memperkenalkan Facebook pertama kali, kompetisi bola basket anak muda itu kini telah menjadi events olah raga yang paling ditunggu-tunggu oleh anak muda Indonesia.

 

Seperti halnya Facebook, DBL Youth Events dibidani dan diorganisir oleh anak-anak muda, dimulai dari waktu yang bersamaan, dan sama-sama meraih prestasi di bidangnya masing-masing dalam waktu yang singkat dan spektakuler. Hanya kalau Facebook merajai dunia informasi dan komunikasi global,DBL Youth Events merajai dunia olah raga basket tanah air. Keduanya memperoleh apresiasi dan penghargaan, meskipun berbeda level. Facebook di tingkat dunia, sementara DBL di tingkat nasional.

Meskipun DBL kini juga mulai berani merambah dunia dengan kerja sama yang dijalin dengan NBA. Saya tidak tahu, apakah kesuksesan DBL diilhami oleh keberhasilan Facebook. Semoga saja tidak. Dengan cakupan penyelenggaraan DBL yang menjangkau 21 kota di 18 provinsi, yang melibatkan lebih dari 1000 tim dan 25.000 partisipan adalah buktinya. Apalagi setelah keberhasilan-keberhasilannya tersebut kemudian mulai tahun 2010 DBL dipercaya untuk melakukan take over atas pelaksanaan kompetisi bola basket profesional Indonesia, Indonesian Basketball League (IBL).

 

Terlepas dari tangan dingin yang dilakukan oleh  Azrul Ananda, nampaknya peran publikasi atau media adalah kontributor utama kesuksesan acara ini. Tentu saja tanpa mengabaikan profesionalisme individu maupun profesionalisme institusi penyelenggara, serta peran sponsor maupun para partisipan. Gegap gempita pemberitaan media, dalam hal ini Jawa Pos Group yang tersebar di seluruh Indonesia membuat kompetisi ini menjadi semarak, menggairahkan, membanggakan, menjulat keinginan untuk berprestasi dan sexy. Benar-benar exciting and fascinating competition.

 

Besarnya peran media inilah yang mengusik perhatian saya, mengapa ya, sampai saat ini tidak ada lagi anak-anak muda seperti Azrul Ananda yang kebetulan memiliki modal media Jawa Pos Group untuk mengikuti jejaknya? Seandainya ada sepuluh orang saja anak muda yang memiliki visi yang sama dan yang kebetulan memiliki media yang berpengaruh, apakah itu media cetak atau elektronik mengikuti jejaknya, pastilah ada sepuluh cabang olah raga yang dapat dikembangkan.

Apalagi kalau ada sejuta Azrul Ananda baru. Mungkin saja prestasi olah raga kita tidak seburuk saat ini.  Mengapa media nasional lebih disibukkan dengan berita-berita konsumtif di bidang olah raga, sementara yang produktif diabaikan. Banyaknya media yang hanya memberitakan atau melakukan publikasi berita atau tayangan olah raga asing, tanpa diimbangi dengan upaya-upaya yang lebih produktif seperti memfasilitasi bergulirnya kompetisi olah raga nasional, itulah salah satu biang keterpurukan olah raga Indonesia. Jawa Pos Group sudah on the right track, dengan memberikan porsi yang seimbang antara pembinaan olah raga yang bersifat konsumtif dengan yang bersifat produktif, meskipun baru sebatas olah raga bola basket.

 

Ketika di suatu kesempatan coba saya tanyakan kepada Azrul Ananda, mengapa tidak memperluas cakupan pembinaan ke cabang olah raga lain? Selalu dijawab, hanya ingin membina bola basket saja, supaya fokus. Tokh, cabang olah raga lain sudah ada pembinanya masing-masing. Namun menurut saya, pola pembinaan seperti yang dilakukan Azrul Ananda, akan sangat tepat jika juga diaplikasikan ke cabang olah raga lain. Menurut saya, paling tidak ada 1 (satu) lagi cabang olah raga individual, bukan olah raga beregu yang masih dapat dibinanya tanpa kehilangan fokus. Apakah itu cabang olah raga renang, atletik, tinju atau lainnya.

Cabang olah raga yang disebut terakhir ini memiliki kemungkinan berprestasi yang lebih baik di level regional maupun global. Alasan supaya fokus menurut saya kurang relevan jika dikaitkan dengan rendahnya prestasi olah raga kita saat ini. Tambahan satu cabang olah raga untuk dibina oleh Azrul Ananda, khususnya cabang olah raga yang lebih berpotensi untuk mendulang medali emas di tingkat regional dan global, saya kira masih dapat dilakukan oleh seorang Azrul Ananda. Apalagi jika lebih dari satu cabang olah raga. Karena sampai saat ini saya belum melihat adanya Azrul Ananda baru. Padahal untuk mendongkrak prestasi olah raga nasional masih diperlukan sejuta Azrul Ananda baru. Ini adalah langkah terobosan (bukan jalan pintas) bagi Azrul Ananda untuk mendunia seperti Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya.

 

Tidak dapat dipungkiri, bahwa selama ini pembinaan olah raga nasional selalu melibatkan pemerintah secara langsung maupun tidak langsung, dengan berjubelnya para birokrat, baik yang masih aktif apalagi yang sudah pensiun dalam pembinaan olah raga nasional. Peran birokrat yang berlebihan akan kontra produktif, karena mereka sulit untuk fokus, ditengah upayanya untuk melayani dan menyejahterakan masyarakat di bidang lainnya. Karena tugas dan kewajiban mereka sudah sangat banyak. Namun di sisi yang lain, penguasaan dana yang masih bersumber dari anggaran belanja negara dan anggaran belanja daerah tentu saja tidak dapat mengabaikan peran birokrat, khususnya dalam kelancaran pendanaan.

 

Maka saya menjadi lebih terkagum-kagum lagi, setelah mengamati bahwa DBL diorganisir secara profesional oleh pihak swasta, dengan meminimumkan peran birokrat (baca: pemerintah) dalam pelaksanaannya. Apalagi pola pembinaan yang selama ini melibatkan sponsor dari produsen rokok atau minuman beralkohol amat sangat ditentang oleh Azrul Ananda. Menurutnya, ke depan peran sponsor dari industri rokok atau minuman beralkohol pasti akan berkurang karena ketatnya regulasi dan isu lingkungan. Hal tersebut sudah dirasakan di tingkat global, sementara di level nasional belum banyak yang menyadarinya. Apalagi olah raga seharusnya tidak boleh dikonotasikan dengan produk-produk yang bertentangan dengan kesehatan, karena kesehatan adalah modal dalam pencapaian prestasi tinggi di bidang olah raga.

 

Saya punya mimpi, seorang Azrul Ananda suatu saat nanti akan dinobatkan sebagai pembina olah raga terbaik tingkat nasional atau bahkan tingkat global, asal berani melakukan gebrakan-gebrakan pembinaan olah raga tidak hanya bola basket, dan berani meninggalkan alasan “supaya fokus”. Infrastruktur dan modal untuk itu sudah ada, tinggal keberaniannya saja.

 

Mengurai benang kusut keterpurukan prestasi olah raga nasional memang tidak mudah. Memerlukan waktu, dana, profesionalisme, dan tingkat fokus yang lebih tinggi, yang lebih besar daripada yang ada sekarang. Namun satu contoh pola pembinaan sudah nyata diaplikasikan dalam DBL dan cukup berhasil. Salah satu benih prestasi sedang ditebar, marilah kita tunggu panennya.

sumber : http://themanagers.org

Mengenai DBL dan APBD, e-mail dari Azrul Ananda


Kepada Yth.
Rekan-rekan media
Di Surabaya (hmm.. saya di Bandung kak..)

Terima kasih atas perhatian teman-teman terhadap program DBL (Development Basketball League), yang rupanya telah menjadi salah satu program olahraga dan anak muda tersukses dan mendapat begitu banyak perhatian, baik secara nasional maupun internasional.

Mengenai anggaran APBD yang dibicarakan, tidak banyak yang sebenarnya perlu kami tanggapi. Mengingat DBL sama sekali tidak menerima sedikit pun dana dari pemerintah. DBL adalah program yang dikelola secara profesional, tanpa mengandalkan bantuan atau sumbangan dari pemerintah. Sudah begitu sejak liga ini pertama diselenggarakan pada 2004.

Dalam beberapa tahun terakhir, DBL memang banyak mendatangkan tamu dari berbagai penjuru Indonesia maupun bintang-bintang kelas dunia. Mereka datang untuk hadir atau tampil di even kelas dunia yang selama ini diselenggarakan DBL di Surabaya. Kami dari DBL sangatlah bangga, karena kedatangan mereka membantu menjadikan Surabaya –kota asal DBL– sebagai salah satu tujuan utama basket di dunia. Bahkan Surabaya disebut sebagai ibu kota basket Indonesia.

Bahwa pemerintah kota menyediakan anggaran untuk menyambut tamu-tamu itu sebagai tamu resmi kota, dan memberi mereka apresiasi lebih atas kedatangan mereka ke Surabaya, tentu membuat kami merasa sangat bangga. Seandainya tidak pun, kami juga sudah senang karena tidaklah mudah untuk mendatangkan tamu-tamu itu, khususnya bintang kelas dunia, untuk datang ke kota seperti Surabaya.

Kita semua mungkin malah harus mengapresiasi upaya tersebut. Sebab, itu merupakan salah satu cara untuk menjadikan Surabaya –kota yang sangat kami cintai– lebih dikenal di mata internasional.

Sekali lagi, tidak ada sedikit pun anggaran APBD yang diterima oleh DBL. Dan kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Pemerintah Kota Surabaya, sejak era kepemimpinan Bapak Bambang Dwi Hartono dahulu, yang selalu membantu memperlakukan tamu-tamu kelas dunia kami sebagai tamu kota Surabaya.

Kepada rekan-rekan media, terima kasih banyak atas perhatian terhadap DBL. Semoga program ini bisa terus berkembang, dan kita bersama terus membuat nama Indonesia –khususnya Surabaya– semakin hebat di mata internasional.

Terima kasih,

Azrul Ananda
Commissioner DBL

sumber : http://mainbasket.wordpress.com

Sepuluh Tahun Lewat, Ayo Seratus Tahun Lagi

dblindonesia.com | 29-Apr-2013

 Mulai 4 Mei mendatang kompetisi basket pelajar SMA terbesar di Indonesia, DBL, memasuki tahun penyelenggaraan ke-10 di Surabaya. Menyambut musim bersejarah ini, berikut catatan Azrul Ananda, Dirut PT Jawa Pos Koran yang juga commissioner dan founder DBL.

2004. Tahun kali pertama DBL, waktu itu DetEksi Basketball League, diselenggarakan. Tujuan sederhana: Supaya halaman anak muda di Jawa Pos punya event olahraga, setelah sebelumnya punya event musik dan mading. Tapi, seperti event-event lain DetEksi, event basket ini juga harus digarap dengan sebenar-benarnya.

Jujur, saat itu tidak ada tujuan untuk masa depan basket nasional.

Pertanyaan yang sampai hari ini masih sering kami dapatkan: Mengapa basket? Kalau melihat sepuluh tahun yang lalu, mungkin kami boleh bilang bahwa basket beruntung.

Apa pun event olahraganya waktu itu, kami mengutamakan keterlibatan setara putra maupun putri. Mengutamakan teamwork, dan melibatkan banyak pemain dan peserta.

Pilihan terakhir jatuh pada basket atau voli.

Akhirnya kami pilih basket, karena ada elemen lifestyle yang lebih menonjol.

Bukan karena saya suka basket, bukan karena alasan lain.

26. Umur saya waktu DBL kali pertama diselenggarakan. Bahkan, technical meeting pertama itu pas ultah saya ke-26. Sepuluh tahun kemudian… Tak usah dibahas ya, karena usia tidak bisa di-rewind.

40. Hanya Rp 40 juta modal awal yang kami miliki untuk memulai liga SMA kala itu. Cuman ada satu sponsor. Berapa nilai sekarang? He he he…

1 dan 16. Satu kaus seragam, yang harus dipakai panitia selama 16 hari penyelenggaraan pada tahun pertama itu. Ketika hari pertama, warnanya masih putih semua. Ketika hari terakhir… Anda bisa bayangkan sendiri!

95. Jumlah tim peserta di tahun pertama itu, dari SMA-SMA se-Jawa Timur. Seharusnya 96, satu mengundurkan diri usai technical meeting karena DBL menetapkan aturan larangan pemain profesional dan semi-profesional di liga pelajar ini.

Sekarang, total tim peserta sudah di atas 1.200 tim di 22 provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Bila dulu jumlah pemainnya di angka 2.500-an, sekarang sudah di atas 25 ribu orang. Banyak sekali ya…

3.000. Harga tiket nonton waktu itu hanya Rp 3.000. Sudah “termahal,” karena kebanyakan even yang lain gratis. Harga tiket naik jadi Rp 5.000 pada final pertama DBL di GOR Kertajaya.

Saya ingat, malam sebelum Final Party perdana itu, ketika sedang “asyik” memasang spanduk di depan meja wasit, ada bapak-bapak datang. Dia tanya, ini untuk apa. Saya bilang, ini untuk final besoknya. Dia tanya, tiketnya berapaan. Saya bilang, Rp 5.000. Dia bilang lagi: Mana bisa laku?

Besoknya: Ha ha ha!

Lebih dari 5.000 penonton memadati GOR Kertajaya. Karena kapasitas hanya 3.000. Penonton harus gantian. Suporter final putri harus gantian dengan putra. Katanya, penonton final 2004 itu mengalahkan rekor PON 2000 di tempat yang sama.

Tahun itu, yang hebat ya kru DetEksi Jawa Pos. Bayangkan, kami hanya merencanakan diikuti 40 tim, ternyata 95. Alhasil, karena gedung tidak bisa di-booking berurutan, maka tim kami pun harus bekerja seperti tim SWAT. Saat babak penyisihan, satu malam di GOR Hayam Wuruk, besoknya pindah setting ke GOR Bumimoro, besoknya balik lagi pindah setting ke GOR Hayam Wuruk, dan begitu terus-menerus.

Tahun pertama itu pun perfect ending. Final putra berlangsung superseru hingga perpanjangan waktu. Dimenangkan SMAN 2 Surabaya.

DBL pun terus jadi omongan… Bagi anak basket, jadi even yang “dikangenin.”

Tahun pertama itu, ada total 17 ribu penonton. Tahun 2013 ini, kami terus melangkah mantap menuju SATU JUTA penonton se-Indonesia dalam setahun!

***

Fast forward, sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sudah ada perusahaan khusus, PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, yang mengelola DBL (kini Development Basketball League).

Karyawannya sudah di kisaran angka 100. Kantornya hampir seluruh lantai 20 Graha Pena. Krunya tak henti-henti keliling Indonesia, bahkan pergi ke berbagai negara untuk urusan basket.

Kalau dulu “modal” hanya Rp 40 juta. Sekarang anggaran penerbangannya saja di angka miliar.

Bukan hanya untuk DBL. Juga untuk National Basketball League (NBL), Women’s National Basketball League (WNBL), dan yang terbaru -spinoff dari DBL SMP- Junior Basketball League (JRBL).

Sekarang juga sudah ada DBL Arena. Kalau dulu masalahnya gedung kapasitas 3.000 tidak cukup. Sekarang masalahnya gedung kapasitas 5.000 tidak cukup. Malah di kota lain, ada masalah gedung kapasitas 8.000 tidak cukup.

Tapi saya selalu berpikir, aneh juga bagaimana sebuah liga SMA seperti DBL ini bisa berlangsung sampai sepuluh tahun.

Bayangkan, anak umur 15 tahun yang tahun 2013 ini bermain di DBL. Sepuluh tahun yang lalu, dia masih umur 5 tahun! Jadi, kalau dia baca tulisan ini, maka dia akan seperti baca buku sejarah zaman dahulu kala!

Pada DBL 2004, peserta memanggil saya “Mas.” Pada DBL beberapa tahun terakhir, mereka memanggil saya “Om” atau “Pak.”

Bagaimana sepuluh tahun lagi ya? Bagaimana 20 tahun lagi ya? Gawat. Saya bakal jadi “Mbah DBL.” Aduh, aduh…

Oke, jangan berpikir 20 tahun lagi. Berpikir sepuluh tahun lagi dulu. Seperti DBL 2023 nanti?

Terus terang, sepuluh tahun terakhir berkembang tanpa benar-benar ada planning yang pasti. Kami hanya kerja, kerja, dan kerja. Mengoptimalkan segala keadaan, memaksimalkan segala situasi, dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada.

Sepuluh tahun ke depan, tentu kami lebih punya planning.

Sebagian adalah rahasia.

Sebagian lagi kami tidak berani memastikan, karena situasi dan kondisi akan terus berubah. Yang terpenting adalah bagaimana untuk terus kerja, kerja, dan kerja. Dan terus mampu beradaptasi dengan segala perkembangan situasi.

Kepada seluruh kru yang pernah bekerja di DetEksi atau DBL Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, terima kasih banyak. Kita semua telah memberi manfaat banyak kepada ratusan ribu anak/orang, atau bahkan jutaan anak/orang.

Tidak ada yang mudah, dan jalan tidak akan pernah menjadi lebih mudah. Kitanya saja yang akan makin pintar, makin tangguh, makin berkembang.

Bayangkan, sepuluh tahun lagi, bakal ada berapa ratus ribu/juta anak/orang yang pernah terlibat langsung di DBL sebagai peserta. Berapa juta orang yang pernah merasakan serunya jadi penonton DBL. Berapa juta orang yang merasakan manfaat dari DBL, dan menularkan manfaat/pengalaman itu untuk jutaan orang lebih banyak lagi…

Bayangkan seratus tahun lagi…

Sepuluh tahun sudah berlalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Ayo seratus tahun lagi! (*)

sumber : http://www.dblindonesia.com