Deteksi – The Power of Youth Community

NOVEMBER 10, 2010 | BY 

FocusOnYoungPeople Option2 284x300 Deteksi – The Power of Youth Community

ilustrarsi dari http://www.statistics.gov.uk

Mengapa Deteksi?

Berawal dari keinginan Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos saat ini, agar anak muda membaca koran. Karena fakta yang ada saat ini, 35 persen  dari penduduk indonesia, yaitu sekitar 100 juta jiwa dibawah umur 25 tahun. Maka orang muda adalah target market yang sangat berpeluang besar jika dia ingin Jawa Pos tetap eksis di masa depan.

Awalnya, banyak yang mencibir dan mengecam, karena selain dianggap tidak penting karena tidak memuat berita, selain itu tema-tema yang vulgar seperti ‘First Kiss, Siapa yang lebih Baik? Papa atau Mama?’ dll, sempat dikecam oleh pihak agamawan karena dianggap melawan orang tua. Namun, Deteksi tetap berjalan dengan tim anak muda usia belasan dan kuliahan.

Namun, passion Azrul yang luar biasa besar, ingin membawa Deteksi lebih maju dengan Deteksi Mading Competition yang fenomenal. Setiap tahun, kompetisi ini menjadi ajang ‘Aktualisasi Diri’ para pelajar SMA di Jawa Timur. Menurutnya, Mading lebih canggih dari internet, karena Mading bisa lebih dirasakan oleh panca indera, dan bisa dibuat dalam bentuk apa saja. Dan hal tesebut terbukti, karena setiap tahun, Convention Hall terbesar di Surabaya selalu menjadi tempat yang penuh sesak untuk kompetisi ini. Kompetisi Deteksi terus berkembang, tidak hanya melulu ke kompetisi mading, tetapi juga Model Competition, Pop Group Competition, Custom Shoes, dll.

Kemudian, Deteksi berkembang lagi merambah dunia olahraga, dengan DBL (Deteksi Basketball League) yang disambut luar biasa bagi pelajar SMA dan SMP di Jawa Timur. Setiap tahunnya, DBL harus menolak beberapa tim karena quota yang tidak mencukupi. Sedemikian luar biasa animo pelajar terhadap ajang seperti ini. Bahkan, Deteksi sudah menjadi barometer para pelajar di Jawa Timur.

Yang lebih hebat lagi, tahun 2010 ini DBL dipercaya untuk mengelola IBL yang dulunya KOBATAMA (liga basket nasional) supaya berhasil seperti DBL. Luar biasanya, tim DBL hampir seluruhnya di bawah usia 30 tahun. Azrul menyadari bahwa Young Talent adalah kekuatan yang luar biasa, karena orang muda FIGHT with CREATIVITY dan tidak ada yang bisa membendung hal tersebut.

Potensi pasar Youth bisa menjadi inspirasi bagi para Marketers, seperti yang dilakukan oleh Deteksi. Youth Community adalah pasar dengan potensi yang sangat besar, karena ketika persepsi mereka dimenangkan oleh suatu Brand, mereka akan menjadi Ambassador yang efektif. Terbukti Deteksi menjadi Brand yangpowerful karena kekuatan Youth, bahkan berdampak pada image Jawa Pos yang menjadi lebih young saat ini.

There is a fountain of youth: it is your mind, your talents, the creativity you bring to your life and the lives of people you love. When you learn to tap this source, you will truly have defeated age.” (Sophia Loren)

sumber : http://the-marketeers.com

Azrul Ananda, Jiwa Muda Jawa Pos!

OCTOBER 13, 2011 | BY 

asrul ananda Azrul Ananda, Jiwa Muda Jawa Pos!

Sumber: RadarSukabumi

DetEksi, halaman anak muda, di koran Jawa Pos telah mengantarkan koran besutan Dahlan Iskan menyabet gelar Newspaper of the Year dari World Young Reader Prize 2011. Penghargaan ini diterima oleh Direktur Utama Jawa Pos Azrul Ananda di Wina, Rabu (12/1/2011).

Kehadiran DetEksi memang fenomenal. Kolom anak muda ini hadir dengan mengembuskan kesegaran baru bagi Jawa Pos yang sebelumnya lebih terkesan sebagai koran untuk pembaca dewasa sekaligus Islami. Sejarah kehadiran DetEksi pun unik dan penuh kesengajaan. Orang di balik hadirnya kolom anak muda ini adalah Azrul Ananda  yang tak lain adalah anak semata wayang Dahlan Iskan—sekarang Dirut PLN— yang sekarang menjabat sebagai dirut. Ia bergabung dengan Jawa Pos pada tahun 2000 dan kemudian lahirlah DeteEksi.

Azrul yang akrab disapa dengan sapaan “Ulik” itu mendirikan DetEksi. Di tangan lulusan pemasaran California State University itu, DetEksi dalam waktu singkat digandrungi anak muda dan sontak mengubah citra Jawa Pos menjadi lebih muda. Azrul menilai Jawa Pos terlalu banyak tulisan serius dan kental berita politiknya. Saat menjabat sebagai Pemred Jawa Pos, anak muda kelahiran Samarinda pada 4 Juli 1977 itu mampu membawa koran ini makin diminati pembaca dengan jangkauan ekspansi distribusi yang lebih luas. Bahkan, DetEksi diklaim sebagai kolom anak muda pertama di koran Indonesia.

Kolom anak muda ini digawangi oleh dari dan untuk orang muda. Darah muda Azrul juga mengalir dalam kolom-kolom Jawa Pos. Bahkan, boleh dibilang, halaman anak muda ini menjadi tempat dirinya mengekspresikan jiwa mudanya. Apa yang menjadi kebutuhan dan kesenangannya sebagai anak muda ia terjemahkan dalam rubrikasi.

Azrul pun tidak hanya menyuguhkan sajian menghibur dan populer anak muda dalam bentuk tulisan dan grafis. DetEksi melakukan brand activation dengan menggelar lomba majalah dinding (mading) yang dikenal dengan DetEksi Mading Championship—sekarang dikenal DetEksi Convention—yang dimulai pertama kali pada 13-15 Oktober. Target lomba ini adalah komunitas pelajar. Dari sinilah, DetEksi semakin digandrungi oleh anak muda. Anak muda yang doyan membaca, inilah yang menjadi salah satu impian Azrul saat membuka kolom muda tersebut.

Olahraga juga dijadikan sarana. Azrul memang doyan olahraga, khususnya bola dan menjadi pebulu tangkis andal.  Pada tahun 1993-1994, Azrul ikut dalam pertukaran pelajar di Ellinwood High School di Kansas. Di sini, ia ikut mengerjakan koran sekolah. Di koran sekolah ini, ia memilih sebagai fotografer tim basket. Dari sini, ia mulai mengenal dn belajar basket. Pada tahun 2004, Azrul membuat brand activity DetEksi berupa kompetisi basket tingkat SMA di Surabaya. Respons anak muda cukup besar. Inilah yang menjadi cikal bakal DBL—Development Baskell Leaque (DBL)—yang tenar saat ini.

Dalam buku terbitan MarkPlus berjudul Anxieties Desires (2010), salah satu kebutuhan anak muda adalah olahraga. Di balik olah raga, ada kebutuhan lebih mendasar yakni kebebasan berekspresi. Dan, tampaknya, Azrul sebagai orang muda yang doyan olahraga sukses menghadirkan sesuatu yang juga dicari oleh banyak anak muda. Boleh dibilang pada tahap ini, Azrul mampu menangkap anxiety-desire anak muda. Dan, DetEksi pun sukses mendeteksinya dan meresponsnya dalam kolom bacaan tersebut.

Bahkan,  usai sukses dengan DetEksi, Jawa Pos membuat halaman For Her yang membidik komunitas perempuan muda urban dan Life Begin at 50 yang membidik komunitas dewasa matang.

Passionnya pada anak muda mengantarkan Jawa Pos menyabet penghargaan dunia World Young Reader Prize 2011. Mengalahkan kampiun-kampiun surat kabar dunia, seperti The Hindu asal India, Wall Streat Journal dan Chicago Tribune asal Amerika Serikat, dan Yomiuri Shimbun dari Jepang.

sumber: http://the-marketeers.com

Wow, Jawa Pos Jadi Koran Favorit Anak Muda Dunia!

OCTOBER 13, 2011 | BY 

Jawa Pos Wow, Jawa Pos Jadi Koran Favorit Anak Muda Dunia!

Sumber: Radar Sukabumi

Jawa Pos kembali meraih prestasi sebagai koran yang digandrungi anak muda. Kali ini, tidak hanya tingkat nasional. Jawa Pos mendapat penghargaan Newspaper of the Year, World Young Reader Prize 2011. Penghargaan ini diberikan di Reed Meese Wien, Wina, Austria dalam rangkaian hajatan koran terakbar World Newspaper Week. Penghargaan ini langsung diberikan oleh Presiden Asosiasi koran dunia WAN-IFRA kepada Direktur Utama Jawa Pos Azrul Ananda.

Yang mengantarkan Jawa Pos menyabet penghargaan prestisius tingkat dunia itu adalah program DetEksi, halaman yang didedikasikan untuk anak muda. Rubrik DetEksi ini sudah ada sejak tahun 2000. Tim juri yang terdiri dari pakar dan pemerhati koran menilai DetEksi menerapkan total youth think terbaik.

Dalam ajang tersebut, Jawa Pos menyabet dua trofi sekaligus, yakni trofi tertinggi Newspaper of the Year dan trofi kategori Enduring Excellence.  Penghargaan tidak hanya membanggakan Jawa Pos saja, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional.

Azrul Ananda mengartakan meskipun tim sepakbola dan bulu tangkis masih susah untuk menjadi juara dunia, minimal dari surat kabar, Indonesia berada di peringkat pertama sebagai koran terbaik, khususnya bagi anak muda, tahun  ini. Kemenangan ini, sambung Azrul, semoga bisa menginspirasi 200 an koran dan stasiusn televisi di bawah bendera Grup Jawa Pos.

Kemenangan Jawa Pos juga dirayakan oleh tim Kedutaan Indonesia untuk Austria. Azrul Ananda didaulat untuk memberikan presentasi keredaksian Jawa Pos dalam Young Reader Rountable kemarin dan berbagi pengalaman berinovasi keredaksian dalam World Editors Forum Jumat 14, Oktober besok.

Wow, selamat!

sumber : http://the-marketeers.com

Satu Dekade Penuh Kebanggaan

_IPT1313

dblindonesia.com | 29-Apr-2013

10 Years DBL (2004-2013)
Satu dekade DBL diselenggarakan di Surabaya, tak ada satu pun musim yang dilalui tanpa riuhnya sorak penonton dan kebanggaan para pebasket pelajar yang berlaga. Liga itu tumbuh dan mengakar di Surabaya secara emosional. DBL telah memberikan sejuta kebanggaan (pride) dan kenangan (story) bagi siapa pun yang pernah berpartisipasi di dalamnya, terutama para pemain yang berlaga.

Sejuta asa dan cerita tentang DBL juga tak bisa lepas dari benak Sumiati Sutrisno. Marilah tengok sejenak perhelatan DBL 2007 yang melahirkan seorang bintang lapangan yang mendominasi di musim itu.

Di musim itu dia memimpin tim putri SMA YPPI 2 Surabaya meraih gelar champion ketiga. Dia bahkan berhasil menyabet gelar most valuable player (MVP) sekaligus top scorer. Permainannya memukau dan menginspirasi banyak orang.

“Saya masih ingat betul suara suporter yang meneriakkan nama saya di malam final. Bahkan, kartu tanda peserta, kaus champion, termasuk hadiah motornya masih saya simpan sampai sekarang,” ujarnya. Kini Sumiati tercatat sebagai pemain Women’s National Basketball League (WNBL) Indonesia, membela Surabaya Emdee Fever.

Kisah serupa disampaikan Yerikho Christopher Tuasela, MVP Honda DBL 2011 dari SMA Santa Agnes Surabaya. Bagi dia, DBL memotivasi dirinya untuk pantang menyerah. Seperti yang tertulis di dinding ruang pemain DBL Arena, hard work beats talent when talents doesn’t work hard, Yerikho terus berusaha. Dari seorang pemain cadangan mati, dia menjadi MVP yang mengantarkan sekolahnya ke final DBL 2011.

“Kalau ingat saat host manggil namaku sebagai starting line-up,rasanya betul-betul bangga. Apalagi waktu pemutaran video sequence menjelang pertandingan final, aku nggak nyangka bahwa aku ternyata bisa sampai ke tahap itu,” papar pebasket yang pernah masuk timnas U-18 itu.

Memang bintang-bintang lapangan yang lahir di DBL tak hanya menjadi inspirasi bagi pebasket selanjutnya, tapi juga menjadi tunas-tunas baru dalam dunia basket profesional Indonesia.

Selain Sumiati dan Henny, ada Oei Abraham Yoel yang kini menjadi guard Stadium Jakarta. Yoel, sapaannya, pernah membawa SMA Petra 4 Sidoarjo menjuarai DBL 2008.

Dia mengakui bahwa apa yang sudah dilatih selama bermain di DBL sangat berpengaruh pada karir basketnya kini. “Saya jadi lebih terbiasa menghadapi sebuah game besar. Yang paling melatih mental saya adalah semangat para suporternya yang memang cuma bisa dirasakan saat bermain di DBL,” ujar Yoel.

Tak ada yang membantah memang bahwa spirit para pelajar dalam mendukung tim kesayangannya di liga basket itu sangat luar biasa. Spirit suporter yang sangat fanatik itu begitu memengaruhi kondisi mental para pemain yang bertanding.

Sepuluh tahun sudah liga ini mengisi buku catatan kosong para pelajar di Indonesia, khususnya Surabaya, dengan berbagai cerita dan kebanggaan. Pahit dan manisnya hasil pertandingan selalu menjadi acuan untuk terus bekerja lebih keras lagi menggapai harapan. Semoga semua cerita selama satu dekade ini terus berlanjut hingga dekade-dekade berikutnya. (roi/c11/ash)

2004

The History Begin

Minggu, 4 Juli 2004, menjadi hari yang bersejarah untuk basket pelajar Surabaya, bahkan Indonesia. Hari itu technical meeting pertama DetEksi Basketball League (DBL) diadakan di DetEksi Room. Opening party musim perdana itu ditonton lebih dari 1.000 orang. Pada final party, pertandingan berlangsung dramatis dan ditonton oleh 5.000 penonton.

2005-2007

New Standard

Memulai musim kedua, DBL melangkah pasti, tumbuh menjadi liga basket pelajar terbesar dan terheboh yang pernah ada di Surabaya. Pada musim kedua, DBL mengemas liga dengan aturan yang lebih profesional. Misalnya, mengenai standar kerapian kostum, baik untuk pemain maupun ofisial. Tak sekadar profesional, DBL berusaha menyuguhkan kemasan liga yang memanjakan penonton dengan sajian entertainment.

2008

Go International

Musim ini, DBL berkembang ke sepuluh kota lain di sepuluh provinsi Indonesia. DBL juga berhasil menjalin kerja sama internasional, antara lain, NBA dengan memboyong Danny Granger (top scorer Indiana Pacers). Ini adalah event resmi NBA pertama di Indonesia. Kolaborasi juga dilakukan dengan pemerintah Australia untuk memberangkatkan tim DBL Indonesia-All Star 2008 ke Australia. Di-launching-nya DBL Arena semakin mengukuhkan eksistensi DBL.

2009

First Winning

Tekad DBL untuk kemajuan basket Indonesia semakin besar. Tahun ini kemenangan tim DBL Indonesia-All Star 2009 saat melawan tim Western Australia di Perth merupakan sebuah prestasi gemilang. Itu menjadi sejarah pertama kemenangan basket Indonesia di Australia. Kemenangan tersebut tak lepas dari keseriusan DBL menyelenggarakan Indonesia Development Camp, perkembangan lebih lanjut dari NBA Basketball Clinic pada 2008.

2010-2012

Amazing Spectators

Liga yang semula bernama DetEksi Basketball League resmi berevolusi menjadi Development Basketball League. Total penonton semakin menggila. Pada 2010 saja, jumlahnya menembus angka 500 ribu penonton. Rekor penonton terus terpecahkan setiap tahun. Pada 2012 jumlah penonton hampir menembus angka 700 ribu di seluruh Indonesia. Tahun 2012 merupakan salah satu momen termanis DBL Surabaya yang pernah ada, kala SMAN 9 Surabaya menjadi champion di tanggal 9 Juni tepat pada pukul 9 malam.

2013

Now and Then…

Memasuki satu dekade penyelenggaraan DBL di Surabaya, kota ini semakin eksis menjadi ibu kota basket di Indonesia. Untuk selanjutnya, DBL terus beradaptasi dengan perkembangan situasi dan kondisi yang selalu berubah. Yang pasti, DBL akan terus memperbaiki perkembangan liganya hingga semakin banyak orang yang merasakan manfaatnya. (ima/c10/ash)

DBL in Facts

Di tahun 2004, kompetisi DBL hanya diikuti oleh sekolah-sekolah yang berasal dari 7 kota di Jawa Timur. Hingga tahun 2012 yang lalu, kompetisi DBL sudah diikuti oleh ribuan tim yang berasal dari 134 kota di 20 provinsi di Indonesia.

Jumlah penonton di awal penyelenggaraan DBL sebanyak 17.000 penonton. Tahun 2012 lalu, jumlah penonton dari keseluruhan kota penyelenggara mencapai angka 616.052.

Show sequence pada opening party Honda DBL 2012 lalu melibatkan 60 dancer utama dan lebih dari 1000 dancer pendukung yang berasal dari suporter sekolah untuk menampilkan flashmob dance.

6 pemain NBA telah didatangkan oleh DBL Indonesia, yakni Danny Granger (2008), Kevin Martin dan David Lee (2009), Trevor Ariza (2010), Nate Robinson (2011), dan Jason Williams (2012).

sumber :www.nblindonesia.com

62 Tahun dan Semakin Muda

Jum’at, 01 Juli 2011 , 13:59:00

62 Tahun dan Semakin Muda

Dalam beberapa bulan terakhir, saya menghadiri dua acara “kewartawanan dan media cetak” tingkat nasional. Masing-masing dihadiri ratusan “insan media” dari berbagai penjuru Indonesia. Agak “serem” juga rasanya. Kok yang usianya di bawah 35 tahun rasanya cuman saya ya?

***

Hari ini (1 Juli 2011), Jawa Pos kembali merayakan ulang tahun. Kali ini ulang tahun ke-62. Kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada seluruh pembaca, khususnya penggemar berat, harian ini. Tanpa Anda semua, tentu Jawa Pos tidak bisa bertahan sejauh ini, tidak bisa berkembang sejauh ini.

Dan kami mengucapkan terima kasih lebih khusus lagi kepada para pembaca muda. Karena Anda-lah yang membuat Jawa Pos menjadi lebih muda di usia ke-62 ini.

Lebih muda” Ya.

Survei membuktikannya.

Menurut data dari Nielsen Media Research di penghujung 2010 lalu, pembaca Jawa Pos benar-benar muda. Jauh lebih muda dari koran-koran utama lain di Indonesia.

Saking mudanya, terhitung 51 persen pembaca Jawa Pos berusia antara 10-29 tahun. Ya, lebih dari separo pembaca Jawa Pos berusia di bawah 30 tahun!

Mereka yang berusia 20-29 tahun merupakan kelompok pembaca terbesar, mencapai 35 persen dari total pembaca.

Ada orang barat bilang: “You earn what you sow.” Bahwa kita akan meraup hasil dari benih yang kita tebarkan. Kalau dihitung mundur sepuluh tahun, maka kelompok pembaca terbesar Jawa Pos ini masih berusia 10-19 tahun.

Orang yang mengikuti perkembangan harian ini mungkin ingat, kalau 11 tahun lalu Jawa Pos melakukan sesuatu yang berani. Dan waktu itu, apa yang dilakukan Jawa Pos itu banyak mengundang protes, banyak mengundang kecaman.

Waktu itu, tepatnya 26 Februari 2000, Jawa Pos menerbitkan halaman-halaman khusus anak muda bernama DetEksi. Dan waktu itu, dengan teguh kami menegaskan bahwa DetEksi adalah untuk pembaca masa depan, untuk membangun basis pembaca Jawa Pos sepuluh tahun ke depan (atau lebih).

Tahun ini, kami bisa mengelus-elus dada karena lega. Karena apa yang kami sesumbarkan dulu itu telah menjadi kenyataan. Kelompok pembaca terbesar Jawa Pos sekarang adalah kelompok yang dulunya basis pembaca DetEksi.

Sekarang, kami berharap kelompok terbesar ini tetap terus bertahan bersama Jawa Pos. Sambil jalan, kami terus menerbitkan dan mengaktifkan DetEksi untuk terus “mengamankan” pembaca-pembaca masa depan.

Tanda-tandanya sih masih sangat positif. Survei dari Enciety Business Consult memperkuat data dari Nielsen Media Research.

Menurut Enciety, di Surabaya, jumlah pembaca mudanya jauh lebih besar daripada kota-kota besar lain di Indonesia. Dari data 2010, sebanyak 41,7 persen remaja usia 15-19 tahun di Surabaya membaca koran. Sebanyak 69,9 persen orang berusia 20-29 tahun membaca koran.

Dua angka persentase itu minimal sepuluh persen lebih tinggi dari kota-kota besar lain. Di Jakarta misalnya, hanya 28,6 persen remaja 15-19 tahun membaca koran, dan hanya 42,8 persen orang berusia 20-29 tahun membaca koran!

***

Sebenarnya ini bukan kabar baru. Tapi kami harus terus rajin menyampaikan kabar ini karena masih belum banyak yang percaya (he he he): Jawa Pos kini adalah koran dengan jumlah pembaca terbesar.

Paling tidak, menurut survei Nielsen di sembilan kota besar di Indonesia (Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar).

Sudah sejak akhir 2009, Jawa Pos tak tertandingi di posisi tertinggi. Koran dari Jakarta yang disebut-sebut sebagai nomor satu, sejak akhir 2009 sudah konsisten berada di urutan kedua.

Malahan, dalam beberapa kuarter terakhir, Jawa Pos merupakan satu-satunya koran yang memiliki readership “nyaman” di atas angka satu juta orang. Koran yang dulu dianggap nomor satu itu, belakangan kesulitan menembus angka satu juta pembaca.

Padahal, dari sembilan kota yang disurvei Nielsen itu, Jawa Pos hanya terhitung di empat kota: Surabaya, Semarang, Jogjakarta, dan Denpasar.

Bayangkan kalau Malang, Solo, atau kota-kota besar lain di Jawa Timur dan sekitarnya dihitung. Angkanya bisa melejit lebih tinggi.

Untuk ini, kami benar-benar berterima kasih kepada pembaca setia Jawa Pos. Kita bersama berhasil menegaskan kepada seluruh Indonesia (dan dunia), kalau untuk jadi nomor satu memang tidak harus dari ibu kota!

***

What?s next” Ini pertanyaan yang sangat berat. Tantangan zaman sekarang sangat beda dengan sepuluh tahun lalu, dengan 20 tahun lalu.

Tapi minimal, tidak ada lagi kekhawatiran tentang masa depan koran. Minimal untuk lima sampai sepuluh tahun lagi. Konferensi WAN-IFRA (asosiasi koran sedunia) di Bangkok beberapa bulan lalu sudah menegaskan itu. Bahwa sekarang ini bukan lagi memikirkan koran versus online. Melainkan bayar versus gratis.

Percuma online kalau tidak ada pemasukan. Siapa yang bayar biaya pemberitaan dan lain-lainnya?

Soal koran format iPad juga masih dianggap sebagai sambilan. Ngapain ngotot bikin format iPad kalau pemakainya di dunia masih sedikit. Ada rekan saya dari koran Korea yang menyinggung soal itu. Dia bilang, di Korea dia tidak butuh format iPad. Lha wong pemakainya di Korea baru 100 ribu orang! Sedangkan pembaca korannya jutaan orang?

Ya, kelak pemakainya akan bertambah. Bukan hanya iPad, tapi tablet-tablet lain. Tapi sambil menunggu, mending fokus ke yang menghasilkan bukan?

Di konferensi itu, semua diingatkan untuk memikirkan hal-hal yang lebih konkret. Bukan hal-hal yang sekadar fashionable?

Di Kongres Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) di Bali baru-baru ini, juga ada pengakuan yang menarik. Sebuah media online kondang, yang belakangan sangat gencar berpromosi dan mengembangkan diri, mengakui kalau pemasukannya hanyalah 1 persen dari pemasukan korannya?

Meski demikian, kami tentu tak boleh meremehkan media format lain. Kita tak tahu masa depan seperti apa. Yang jelas kami akan tetap fokus mengembangkan Jawa Pos, sambil terus melirik dan melatih diri dengan format lain. Seperti yang rajin kami sampaikan pula: Kalau memang harus online, toh nanti tinggal pencet tombol “Enter.?

***

Jawa Pos sudah berusia 62 tahun. Bukannya menua, barisan pembaca Jawa Pos justru menjadi semakin muda. Masalahnya, apakah industri koran (atau media secara umum) juga seperti itu?

Ketika menghadiri dua acara “kewartawanan dan media cetak” besar belakangan ini, banyak orang datang ke saya mengucapkan selamat. “Begini dong, harus ada orang yang muda,” kata mereka.

Masalahnya, ketika saya melihat sekeliling, tidak ada lagi yang muda! Para “tokoh-tokoh” lain rata-rata sudah berusia di kisaran angka 50-an. Tidak sedikit yang 60-an. Tidak jarang yang 70-an. Ada yang 80-an!

“Aduh!” Begitu kata hati saya. Kalau yang muda cuman saya, ya tidak ada gunanya!

Jadi, di ending catatan ini, saya ingin minta tolong kepada seluruh petinggi-petinggi media yang lain: Carikan saya teman dong!

Cobalah percaya kepada yang muda-muda itu. Jangan takut mundur selangkah untuk maju dua langkah. Jangan takut untuk “melepaskan” sesuatu kepada yang muda.

Ya, kami bakal bikin ulah. Ya, kami bakal bikin salah. Tapi Anda semua dulu kan juga begitu?

Please, kasih kesempatan kepada yang muda. Kasih porsi besar kepada pembaca yang muda. Mumpung kita “sepertinya– masih punya waktu. (*)

Jawa Pos Sisihkan Koran-Koran Besar Dunia

Senin, 22 Agustus 2011 , 06:32:00

Jawa Pos Sisihkan Koran-Koran Besar Dunia

Resmi Raih World Young Reader Newspaper of the Year 2011

 

PARIS – Harian Jawa Pos resmi menjadi peraih penghargaan tertinggi Newspaper of the Year, World Young Reader Prize 2011. Pengumuman resminya dirilis Asosiasi Penerbit Dunia, WAN-IFRA, di Paris, Prancis, Jumat malam lalu (19/8, Sabtu dini hari WIB).

Dalam pengumuman resmi itu, WAN-IFRA (World Association of Newspapers and News Publishers) menyebutkan daftar pemenang dalam berbagai kategori. Sejumlah harian paling kondang di dunia, seperti Yomiuri Shimbun (Jepang), Chicago Tribune, dan Wall Street Journal (Amerika Serikat), termasuk dalam barisan yang disisihkan Jawa Pos untuk meraih penghargaan tertinggi.

World Young Reader Prize 2011 merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan WAN-IFRA, yang beranggota lebih dari 18 ribu penerbitan di 120 negara. Penghargaan diberikan dalam berbagai kategori, untuk menghargai inovasi-inovasi yang dilakukan koran dalam menggandeng pembaca muda.

Dalam ajang 2011 ini, Jawa Pos meraih Top Prize (penghargaan utama) untuk kategori Enduring Excellence (konsistensi dalam menghasilkan karya superior). Penghargaan diraih berkat program DetEksi, sebuah departemen dan halaman khusus anak muda yang aktif sejak Februari 2000.

Tim juri lantas menobatkan Jawa Pos sebagai pemenang secara keseluruhan, meraih gelar Newspaper of the Year. ’’Jawa Pos telah menunjukkan kerja luar biasa. Memiliki program yang substansial, yang dijalani bertahun-tahun, dan punya komitmen sukses dalam menggandeng anak muda, baik lewat halaman koran maupun kegiatan off-print,’’ begitu tulis pesan dari tim juri dalam rilis resmi WAN-IFRA.

Pesan itu sebelumnya disampaikan dalam pemberitahuan awal kepada Jawa Pos, akhir Juli lalu.

Lebih lanjut, juri menilai lembaran DetEksi –yang terbit setiap hari di Jawa Pos– sebagai sesuatu yang ’’lebih’’ dari sekadar halaman anak muda biasa. ’’DetEksi merupakan sebuah strategi komplet untuk menemukan, menggandeng, dan mempertahankan pembaca muda. Dan, yang paling penting, DetEksi berhasil melakukan semua itu,’’ tegas tim juri.

Menurut Dr Aralynn McMane, executive director Young Readership Development WAN-IFRA, Jawa Pos meraih kemenangan secara mutlak. ’’Terus terang, tim juri membuat keputusan dengan sangat mudah,’’ ungkap McMane, yang juga menjadi salah satu juri, bersama pakar-pakar pembaca muda dunia dan pemenang-pemenang terdahulu.

Para juri tahun ini, antara lain, Lynne Cahill (harian The West Australian, Australia); Altair Nobre (Zero Hora, Brazil); Wendy Tribaldos (La Prensa, Panama); Grzgorz Piechota (Gazeta Wyborcza, Polandia); dan Lisa Blakeway (EISH, Afrika Selatan).

Selain itu, ada Christopher K. Sopher, pendiri Younger Thinking dari Amerika Serikat; Cristiane Parente, executive newspaper in education coordinator untuk ANJ (Asosiasi Koran Brazil); serta Angela Ravazzolo dan Mariana Muller, dua spesialis anak muda dari koran Zero Hora Brazil.

Diskusi penentuan pemenang diselenggarakan di kantor pusat Zero Hora, pemenang ajang ini pada 2009, di Porto Alegre, Brazil. Tahun lalu, gelar Newspaper of the Year diraih harian Metro asal Polandia.

Dari daftar lengkap pemenang, Jawa Pos bukanlah satu-satunya koran asal Indonesia yang mendapat penghargaan. Harian Kompas ikut meraih Jury Commendations (pujian juri) di kategori Public Service.

Pengumuman resmi ini akan dilanjutkan dengan acara penyerahan penghargaan yang dilakukan di Wina, Austria, 12 Oktober mendatang. Yaitu, saat diselenggarakannya World Newspaper Congress dan World Editors Forum.

Azrul Ananda, direktur Jawa Pos, mengaku semakin senang setelah dirilisnya pengumuman resmi dari WAN-IFRA. Apalagi setelah mengetahui daftar pesaing yang ikut ajang ini berasal dari seluruh dunia.

’’Rasanya masih sulit memercayai kesuksesan ini. Sebuah koran dari Surabaya bersaing dengan koran-koran raksasa dunia seperti Yomiuri Shimbun koran Jepang yang tirasnya di atas sepuluh juta eksemplar dan Wall Street Journal. Penghargaan ini membuktikan bahwa siapa pun bisa meraih sukses tertinggi dengan kerja keras, inovasi, dan konsistensi,’’ ucapnya. ’’Semoga penghargaan ini bisa menyemangati koran-koran lain di Indonesia. Kalau Jawa Pos bisa, yang lain pasti juga bisa,’’ tegas Azrul. (iro

Habis Ini, Apa Lagi Yang Baru?

Selasa, 23 Agustus 2011 , 14:48:00
RASANYA sulit dipercaya.
Jawa Pos, koran yang terbit dari Surabaya, meraih penghargaan tingkat dunia. Tim juri internasional memilih Jawa Pos sebagai peraih gelar tertinggi Newspaper of the Year 2011, di ajang World Young Reader Prize, yang setiap tahun diselenggarakan oleh asosiasi koran dunia, WAN-IFRA.Rasanya sulit dipercaya.
Jawa Pos, koran yang terbit dari Jawa Timur, menang di tingkat dunia. Mengalahkan koran-koran bernama superkondang seperti Wall Street Journal, Chicago Tribune, South China Morning Post, juga koran dengan oplah terbesar di dunia asal Jepang (lebih dari 10 juta eksemplar per hari) Yomiuri Shimbun.Rasanya sulit dipercaya.
Jawa Pos, koran asal Indonesia, pada 12 Oktober nanti akan tampil sebagai peraih penghargaan tertinggi di World Newspaper Congress dan World Editors Forum, di gelaran WAN-IFRA yang beranggotakan lebih dari 18 ribu penerbitan dan 15 ribu situs online di 120 negara di dunia.

Rasanya sulit dipercaya.
Tingkat dunia Bos!

***

Melalui catatan ini, saya mewakili seluruh teman-teman di Jawa Pos ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya seluruh pembaca. Dukungan Anda terhadap Jawa Pos mungkin melebihi dukungan pembaca koran-koran lain di Indonesia, mungkin di dunia.

Bagaimana tidak. Ketika semua koran pesaing menurunkan harga, Jawa Pos malah menaikkan harga, dan Anda tetap memilih untuk membeli atau berlangganan Jawa Pos.

Kadang saya tidak habis pikir. Kalau melihat di jalan-jalan, harga Jawa Pos itu bisa sampai empat kali lipat koran pesaing. Harga bandrol kami Rp 4.500, harga koran lain hanya Rp 1.000. Tapi survei –dari Nielsen Media Research maupun Enciety Business Consult– terus menunjukkan kalau readershare Jawa Pos jauh di atas yang lain.

Khusus di Surabaya, share kami bisa sampai 93 persen. Berarti sembilan dari sepuluh pembaca koran memilih Jawa Pos.

Dan berkat pembaca setia pula, sudah beberapa tahun ini total pembaca Jawa Pos menjadi yang terbanyak di Indonesia (Nielsen). Malah, saat ini Jawa Pos satu-satunya koran dengan jumlah pembaca yang angkanya “nyaman” di atas satu juta orang per hari.

Dukungan pembaca ini yang terus membuat kami bersemangat. Apalagi, mereka begitu setianya, hingga tak pernah lelah memberi masukan-masukan kepada kami. Terus memberikan tantangan, dengan bertanya: “Habis ini apa lagi yang baru?”

Kami juga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada agen dan penyalur, serta para relasi dan mitra kerja Jawa Pos. Semua terus memberikan dukungan dan kepercayaan, meski kebijakan-kebijakan kami sebagai perusahaan kadang-kadang sulit dipercaya atau dipahami.

Bagaimana tidak. Ketika yang lain menurunkan harga, kami malah menaikkan. Ketika yang lain melonggarkan ketentuan, kami justru mengetati. Tapi seperti yang saya sampaikan kepada agen-agen iklan baru-baru ini:

“Tolong benar-benar dipahami, bahwa kami siap diomeli saat ini demi kebaikan jangka panjang. Kami siap dihujat masa sekarang demi kesuksesan masa depan. Toh tujuannya jelas. Kalau kami baik, semua relasi dan mitra kerja juga akan baik.”

Saya selalu percaya, market leader yang baik adalah market leader yang mau berkorban (meski jangan banyak-banyak!) demi menjaga industrinya. Harus berani bikin kecewa sebentar demi senyum jangka panjang. Kalau market leader-nya banting harga atau awur-awuran, apa jadinya industri tersebut nantinya?

***

Sebenarnya sulit juga jadi media di Indonesia, tapi sebenarnya hampir sama di industri media di mana-mana. Kalau ada satu yang meraih sesuatu yang luar biasa, yang lain bisa diam saja. Terus terang, Jawa Pos pun kadang juga begitu.

Karena itu, di kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh media di Indonesia. Kita semua berkompetisi secara sehat, dan kompetisi itulah yang menghasilkan karya-karya hebat.

Kepada media di bawah bendera Jawa Pos Group, yang kini jumlahnya sudah mendekati total 200 koran dan stasiun televisi dari Aceh sampai Papua, saya ingin memberi ucapan terima kasih khusus.

Keliling Indonesia, melihat dinamika koran-koran di daerah-daerah, memberi suntikan motivasi dan ide supaya Jawa Pos terus berbenah dan mengembangkan diri. Karena ide-ide terbaik kadang muncul dari tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

Ucapan terima kasih istimewa ingin saya sampaikan kepada teman-teman di Kompas. Bagaimana pun, Anda-lah Gold Standard koran di Indonesia. Dan di Wina, Austria, 12 Oktober nanti, kita bakal bersama membuat Indonesia bangga. Karena Kompas juga meraih penghargaan khusus World Young Reader Prize 2011 dari dewan juri di kategori Public Service.

Ayo bersama kita tunjukkan, kalau koran dari Indonesia bisa lebih hebat dari koran-koran lain di dunia! Dan ayo kita semangati koran-koran lain supaya terus berkreasi dan berkembang. Industri koran masih bisa terus menempuh perjalanan panjang yang menyenangkan!

Satu lagi apresiasi ingin saya sampaikan kepada harian olahraga pertama di Indonesia, Top Skor. Anda hebat. Ada koran harian olahraga yang pembacanya di Jabodetabek mampu mengalahkan koran-koran umum, dan secara overall (Nielsen) pada pertengahan 2011 ini berada di urutan tiga di belakang Jawa Pos dan Kompas.

Dan Top Skor melakukannya dengan harga yang sangat sehat. Harga jual Rp 3.500 dengan 16 halaman per hari? Koran Anda sudah mencapai titik sustainability hebat dan sekarang bisa melangkah cepat dan berkembang!

Saya baru bicara dengan Ketua Umum Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) Indonesia, supaya Top Skor diberi penghargaan khusus. Itu koran telah melakukan gebrakan luar biasa.

***

Sebagai penutup, saya dan barisan manajemen Jawa Pos lain ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh personel Jawa Pos. Sukses kita di ajang dunia ini merupakan hasil kerja bersama.

Kepada seluruh personel DetEksi, sekarang maupun yang dulu, terima kasih tak terhingga harus kami ucapkan. Saya dari dulu percaya, departemen dan halaman khusus anak muda Jawa Pos itu bakal mampu meregenerasi pembaca dan membantu mengamankan pembaca masa depan harian ini.

Sudah ada contoh yang menunjukkan, kalau koran bisa hilang ketika pembacanya terus menua dan kemudian “menghilang.” Harus ada halaman seperti DetEksi yang menjaga supaya itu tidak terjadi pada Jawa Pos.

Tapi, tetap saja tak pernah terbayangkan DetEksi bisa berbuah sebuah penghargaan tertinggi dunia.

Begitu mendapat pemberitahuan menang di tingkat dunia, saya langsung mengutarakan kabar luar biasa itu ke John R. Mohn, ayah angkat saya waktu jadi siswa SMA pertukaran di Amerika Serikat dulu.

Kini berusia 70-an tahun, dia dulu yang mengajari saya banyak sekali tentang basic manajemen koran dan jurnalistik, lewat koran kecilnya, The Leader, di Ellinwood, negara bagian Kansas. Dia yang mengajari saya dan teman-teman di Ellinwood High School, bagaimana sekelompok anak muda bisa menghasilkan produk koran yang lebih baik dari garapan para profesional.

Pelajaran itulah yang berbuntut DetEksi, yang kali pertama terbit 26 Februari 2000.

John R. Mohn langsung membalas kabar baik itu. Dia mengingatkan saya –dan seluruh staf muda Jawa Pos– untuk tidak lupa diri.
Dalam emailnya, John bilang: “Penghargaan ini bukan hanya untuk personel DetEksi. Ini juga sebuah tribute untuk seluruh personel Jawa Pos yang lebih senior, yang selama ini harus bersabar dalam menghadapi dan membantu anak-anak muda di DetEksi yang gila-gila!”

Terima kasih semua! (*)

Azrul Ananda, Energi Muda Jawa Pos

 28 February 2012

 oleh Olive Bendon

Lelaki muda berperawakan sedang mengenakan stelan semi resmi celana panjang dipadu dengan kaos sport yang dibalut blazer berwarna gelap lengkap dengan sepatu sport berlari kecil saat namanya dipanggil ke atas panggung. Para ABG yang memenuhi ballroom Pakuwon Indah, Surabaya tak henti-hentinya bertepuk sorak setiap kali dirinya mengobarkan semangat mereka. Selesai memberi sambutan, lelaki muda yang ganteng dan tak pernah lepas tersenyum itu oleh panitia diajak mendekat ke bangku VIP dimana kami duduk. Ya, malam itu kami bersepuluh rombongan penggembira duduk sejajar dengan para petinggi yang diundang ke Grand Final DetEKsi Model Competition 2K9 Jumat (21/11/09). Pertemuan sekejap diisi dengan perkenalan singkat dan karena suasana di dalam ballroom cukup ramai, suara kami bersaing dengan teriakan penonton serta dentuman musik dari pengeras suara.

Lelaki muda tadi lalu pamit dan berpesan kepada panitia agar tak lupa mengajak kami berkeliling serta memastikan,”jadwal kita besok pagi di Gresik kan?” Karena melihat beberapa buku Dahlan Iskan di salah satu toko buku beberapa waktu lalu, saya teringat perjalanan rombongan penggembira ke Surabaya dua tahun silam ini. Waktu itu kami berkesempatan mampir ke dapur redaksi serta melihat dari dekat beberapa kegiatan anak muda yang diadakan oleh Jawa Pos. Kami memang tidak bertemu dengan Dahlan Iskan tapi diajak mutar-mutar di pabrik oleh lelaki muda yang ganteng tadi. Dia adalah Azrul Ananda puteranya yang kala itu commissioner DetEKsi sekaligus Wakil Dirut JP.

Disela berlangsungnya pemilihan DetEksi Model kami juga melihat dari dekat kegiatan DetEKSi Mading Championship. Beragam mading 2D/3D karya siswa dari berbagai SMA di Surabaya dan sekitarnya dipamerkan untuk dinilai oleh juri. Sesekali muncul rombangan siswa yang meneriakkan yel-yel kebangsaan yang juga dilombakan untuk menarik perhatian pengunjung. Tak ketinggalan adalah para ABG yang menenteng beragam jenis kamera untuk mengabadikan momen yang menarik. Mereka tak sekedar memotret tapi sesekali mencatat sesuatu di buku yang selalu ditenteng ke sana kemari.

Ternyata mereka adalah para peserta Blog Competition salah satu kegiatan yang juga dilombakan; hal ini tampak jelas dari tulisan di belakang kaos yang mereka kenakan. Dari Pakuwon, kami bergerak menuju Graha Pena untuk melongok dapur redaksi Jawa Pos hingga jelang pk 24.00. Ternyata seru juga melihat kegiatan di ruang redaksi saat menunggu berita dengan deg-deg’an karena dikejar deadline untuk segera naik cetak. Salah satu berita penting yang mereka nantikan adalah liputan para ABG dari malam puncak acara DetEKsi di Pakuwon.

1330388589807837864

Peserta blog competition meliput Grand Final DetEKsi Model Competition 2K9, Surabaya (dok. koleksi pibadi)

Sabtu pagi (22/11/09) saat sarapan masing-masing dapat jatah koran JP edisi pagi itu dengan berita utama hasil DetEKsi Model Competition yang semalam kami hadiri. Di lembaran khusus DetEKsi hampir seluruhnya berisi liputan kegiatan yang tulisan berikut gambarnya disiapkan oleh anak-anak muda yang menggawangi DetEKsi. Jadilah 45 menit perjalanan ke Gresik beritanya menjadi bahan diskusi yang hangat dengan salah seorang tim hore-hore yang juga awak senior pendamping anak muda di DetEKsi, terlebih membahas tampang kucel dan muka bantal kami yang ikut dipampang di lembaran tamu JP. Sampai di halaman parkir PT Adiprima Surapeninta pabrik kertas Jawa Pos, Azrul Ananda menyambut kami dengan wajah segar dan senyum lebar meski mengaku baru meninggalkan Pakuwon jelang pagi. Azrul menjadi pemandu kami berkeliling di dalam pabrik untuk melihat dari dekat proses pengolahan berton-ton limbah kertas hingga menjadi kertas gelondongan. Untuk pasokan kertasnya, JP memproduksi sendiri dengan mendaur ulang limbah kertas hingga berbentuk kertas gulungan yang siap untuk digunakan di lingkungan grup JP. Meski namanya pabrik kertas, lantai di setiap ruangannya bersih dan mengkilap terkecuali di gudang limbah. Pengiriman kertas ke pabrik dan percetakan dalam grupnya, JP menggunakan ekspedisi sendiri PT JP Ekspedisi Mandiri. Dari pabrik, Azrul mengajak kami melihat proses naik cetak tabloid dan koran di Graha Temprina. Di aula Graha Temprina yang waktu itu masih baru, kami disuguhi nasi pecel kesukaan Dahlan Iskan yang sering disajikan di pertemuan direksi JP. Kami pun menikmati nasi pecel sambil mendengarkan presentasi Azrul tentang DetEKsi kolom khusus anak muda di Jawa Pos yang diurusinya sejak Pebruari 2000.

1330389565242275585

Azrul Ananda saat mempresentasikan DetEKsi di Graha Temprina, Gresik (dok. koleksi pribadi)

Beragam kegiatan untuk menyalurkan bakat anak muda diselenggarakan dibawah bendera DetEksi diantaranya yang berlangsung di Pakuwon itu. DetEKsi lalu mengembangkan sayap dengan membuat brand activity DBL (Development Basket League) yang kemudian menjadi PT DBL Indonesia (DetEKsi Basket Lintas Indonesia) yang khusus mengadakan lomba basket antar pelajar. DBL pertama kali diselenggarakan pada 2004 hanya dikhususkan bagi kalangan pelajar di Surabaya, lalu merambah ke Jawa Timur karena permintaan pelajar dari kota-kota lainnya. Pada tahun 2008 mulai berkolaborasi dengan NBA dengan pertandingan dilakukan di DBL Arena gedung basket sendiri yang berdiri dalam satu kawasan dengan Graha Pena Surabaya. Tahun 2010 DBL dilaksanakan di 25 kota di 10 propinsi Indonesia karena minat yang cukup tinggi dari para pelajar Indonesia untuk mengikuti kegiatan tersebut. Hanya pelajar berprestasi yang boleh mengikuti kegiatan ini artinya disamping bisa bermain basket; mereka adalah pelajar dengan prestasi akademik yang bagus di sekolahnya. Para pelajar dan pelatih yang memenangkan beberapa kategori dalam turnamen, mendapat beasiswa dan kesempatan untuk tanding basket internasional ke luar negeri seperti Australia dan Amerika. Mereka tergabung dalam team DBL All Star yang terpilih dari hasil seleksi di DBL Camp. Mereka adalah yang terbaik dari yang terbaik hasil seleksi di DBL Competition yg berhasil lolos ikut DBL Camp dan memiliki kesempatan mengikuti coach clinic dengan pemain NBA. Kesuksesan DBL membuat perwakilan klub basket peserta Indonesia Basketball League (IBL) meminta DBL untukmengelola kompetisi basket antar klub di Indonesia yang sebelumnya dikenal dengan Kobatama itu. Maka pada 2010 PT DBL Indonesia melakukan re-branding mengganti nama IBL menjadi NBL Indonesia (National Basketball League Indonesia.

1330389810327855472

Azrul Ananda saat menerima penghargaan World Young Reader Prize 2011 di Wina (dok. Jawa Pos)

Saat ini Azrul Ananda dipercaya memegang pucuk pimpinan di Jawa Pos menggantikan ayahnya yang telah membesarkan JP. Bukan suatu tanggung jawab yang mudah, karena baginya ini adalah beban berat sekaligus tantangan untuk mempertahankan apa yang telah dirintis oleh ayahnya. Grup JP kini menaungi lebih dari 151 koran daerah dan nasional serta belasan media berupa tabloid, majalah dan televisi daerah.

Sabtu petang kami kembali ke Surabaya dengan segudang gosip hangat:  muda, ganteng, pintar, rendah hati dan memegang jabatan penting di suatu perusahaan besar siapa yang tidak kagum? Berkat DetEKsi Jawa Pos mendapat predikat Newspaper of The YearWorld Young Reader Prize 2011 di Wina 12 Oktober 2011 lalu yang merupakan Top Prize Enduring Excellence (konsistensi dalam menghasilkan karya superior). [oli3ve]

sumber :http://sosok.kompasiana.com/2012/02/28/azrul-ananda-energi-muda-jawa-pos-438845.html

Sepuluh Tahun Lewat, Ayo Seratus Tahun Lagi

dblindonesia.com | 29-Apr-2013

 Mulai 4 Mei mendatang kompetisi basket pelajar SMA terbesar di Indonesia, DBL, memasuki tahun penyelenggaraan ke-10 di Surabaya. Menyambut musim bersejarah ini, berikut catatan Azrul Ananda, Dirut PT Jawa Pos Koran yang juga commissioner dan founder DBL.

2004. Tahun kali pertama DBL, waktu itu DetEksi Basketball League, diselenggarakan. Tujuan sederhana: Supaya halaman anak muda di Jawa Pos punya event olahraga, setelah sebelumnya punya event musik dan mading. Tapi, seperti event-event lain DetEksi, event basket ini juga harus digarap dengan sebenar-benarnya.

Jujur, saat itu tidak ada tujuan untuk masa depan basket nasional.

Pertanyaan yang sampai hari ini masih sering kami dapatkan: Mengapa basket? Kalau melihat sepuluh tahun yang lalu, mungkin kami boleh bilang bahwa basket beruntung.

Apa pun event olahraganya waktu itu, kami mengutamakan keterlibatan setara putra maupun putri. Mengutamakan teamwork, dan melibatkan banyak pemain dan peserta.

Pilihan terakhir jatuh pada basket atau voli.

Akhirnya kami pilih basket, karena ada elemen lifestyle yang lebih menonjol.

Bukan karena saya suka basket, bukan karena alasan lain.

26. Umur saya waktu DBL kali pertama diselenggarakan. Bahkan, technical meeting pertama itu pas ultah saya ke-26. Sepuluh tahun kemudian… Tak usah dibahas ya, karena usia tidak bisa di-rewind.

40. Hanya Rp 40 juta modal awal yang kami miliki untuk memulai liga SMA kala itu. Cuman ada satu sponsor. Berapa nilai sekarang? He he he…

1 dan 16. Satu kaus seragam, yang harus dipakai panitia selama 16 hari penyelenggaraan pada tahun pertama itu. Ketika hari pertama, warnanya masih putih semua. Ketika hari terakhir… Anda bisa bayangkan sendiri!

95. Jumlah tim peserta di tahun pertama itu, dari SMA-SMA se-Jawa Timur. Seharusnya 96, satu mengundurkan diri usai technical meeting karena DBL menetapkan aturan larangan pemain profesional dan semi-profesional di liga pelajar ini.

Sekarang, total tim peserta sudah di atas 1.200 tim di 22 provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua. Bila dulu jumlah pemainnya di angka 2.500-an, sekarang sudah di atas 25 ribu orang. Banyak sekali ya…

3.000. Harga tiket nonton waktu itu hanya Rp 3.000. Sudah “termahal,” karena kebanyakan even yang lain gratis. Harga tiket naik jadi Rp 5.000 pada final pertama DBL di GOR Kertajaya.

Saya ingat, malam sebelum Final Party perdana itu, ketika sedang “asyik” memasang spanduk di depan meja wasit, ada bapak-bapak datang. Dia tanya, ini untuk apa. Saya bilang, ini untuk final besoknya. Dia tanya, tiketnya berapaan. Saya bilang, Rp 5.000. Dia bilang lagi: Mana bisa laku?

Besoknya: Ha ha ha!

Lebih dari 5.000 penonton memadati GOR Kertajaya. Karena kapasitas hanya 3.000. Penonton harus gantian. Suporter final putri harus gantian dengan putra. Katanya, penonton final 2004 itu mengalahkan rekor PON 2000 di tempat yang sama.

Tahun itu, yang hebat ya kru DetEksi Jawa Pos. Bayangkan, kami hanya merencanakan diikuti 40 tim, ternyata 95. Alhasil, karena gedung tidak bisa di-booking berurutan, maka tim kami pun harus bekerja seperti tim SWAT. Saat babak penyisihan, satu malam di GOR Hayam Wuruk, besoknya pindah setting ke GOR Bumimoro, besoknya balik lagi pindah setting ke GOR Hayam Wuruk, dan begitu terus-menerus.

Tahun pertama itu pun perfect ending. Final putra berlangsung superseru hingga perpanjangan waktu. Dimenangkan SMAN 2 Surabaya.

DBL pun terus jadi omongan… Bagi anak basket, jadi even yang “dikangenin.”

Tahun pertama itu, ada total 17 ribu penonton. Tahun 2013 ini, kami terus melangkah mantap menuju SATU JUTA penonton se-Indonesia dalam setahun!

***

Fast forward, sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sudah ada perusahaan khusus, PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, yang mengelola DBL (kini Development Basketball League).

Karyawannya sudah di kisaran angka 100. Kantornya hampir seluruh lantai 20 Graha Pena. Krunya tak henti-henti keliling Indonesia, bahkan pergi ke berbagai negara untuk urusan basket.

Kalau dulu “modal” hanya Rp 40 juta. Sekarang anggaran penerbangannya saja di angka miliar.

Bukan hanya untuk DBL. Juga untuk National Basketball League (NBL), Women’s National Basketball League (WNBL), dan yang terbaru -spinoff dari DBL SMP- Junior Basketball League (JRBL).

Sekarang juga sudah ada DBL Arena. Kalau dulu masalahnya gedung kapasitas 3.000 tidak cukup. Sekarang masalahnya gedung kapasitas 5.000 tidak cukup. Malah di kota lain, ada masalah gedung kapasitas 8.000 tidak cukup.

Tapi saya selalu berpikir, aneh juga bagaimana sebuah liga SMA seperti DBL ini bisa berlangsung sampai sepuluh tahun.

Bayangkan, anak umur 15 tahun yang tahun 2013 ini bermain di DBL. Sepuluh tahun yang lalu, dia masih umur 5 tahun! Jadi, kalau dia baca tulisan ini, maka dia akan seperti baca buku sejarah zaman dahulu kala!

Pada DBL 2004, peserta memanggil saya “Mas.” Pada DBL beberapa tahun terakhir, mereka memanggil saya “Om” atau “Pak.”

Bagaimana sepuluh tahun lagi ya? Bagaimana 20 tahun lagi ya? Gawat. Saya bakal jadi “Mbah DBL.” Aduh, aduh…

Oke, jangan berpikir 20 tahun lagi. Berpikir sepuluh tahun lagi dulu. Seperti DBL 2023 nanti?

Terus terang, sepuluh tahun terakhir berkembang tanpa benar-benar ada planning yang pasti. Kami hanya kerja, kerja, dan kerja. Mengoptimalkan segala keadaan, memaksimalkan segala situasi, dan memanfaatkan segala kesempatan yang ada.

Sepuluh tahun ke depan, tentu kami lebih punya planning.

Sebagian adalah rahasia.

Sebagian lagi kami tidak berani memastikan, karena situasi dan kondisi akan terus berubah. Yang terpenting adalah bagaimana untuk terus kerja, kerja, dan kerja. Dan terus mampu beradaptasi dengan segala perkembangan situasi.

Kepada seluruh kru yang pernah bekerja di DetEksi atau DBL Indonesia selama sepuluh tahun terakhir, terima kasih banyak. Kita semua telah memberi manfaat banyak kepada ratusan ribu anak/orang, atau bahkan jutaan anak/orang.

Tidak ada yang mudah, dan jalan tidak akan pernah menjadi lebih mudah. Kitanya saja yang akan makin pintar, makin tangguh, makin berkembang.

Bayangkan, sepuluh tahun lagi, bakal ada berapa ratus ribu/juta anak/orang yang pernah terlibat langsung di DBL sebagai peserta. Berapa juta orang yang pernah merasakan serunya jadi penonton DBL. Berapa juta orang yang merasakan manfaat dari DBL, dan menularkan manfaat/pengalaman itu untuk jutaan orang lebih banyak lagi…

Bayangkan seratus tahun lagi…

Sepuluh tahun sudah berlalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Ayo seratus tahun lagi! (*)

sumber : http://www.dblindonesia.com

Azrul Ananda’s Insight, 59 Tahun Jawa Pos: Newspaper is Dead

July 03, 2008

asrul-ananda

Newspaper is dead. Era koran sudah berakhir. Kalau belum, era koran sudah hampir berakhir. Dihajar televisi, dan yang kata orang paling mematikan–dihajar internet. Harga koran terus naik, harga online terus turun. Kertas, jarak, dan waktu terbit menjadi penjara bagi koran untuk berkembang. Warga Melawi, Kalimantan Barat, sampai sekarang baru mendapatkan koran sehari setelah terbit. Warga Bima, Nusa Tenggara Barat, masih mendapatkan koran yang beritanya terlambat sehari.

Di dua tempat itu, kalau mau, internet sudah tersedia. Belum cepat, tapi tinggal menunggu waktu (tidak lama) sebelum cepat. Ketika harga online terus turun, tidak ada alasan bagi warga-warga di sana untuk langganan koran bukan?

Ini belum bicara di Amerika Serikat, negara tempat di mana-mana orang bisa online. Secara keseluruhan koran terus turun. Yang besar-besar pun tinggal menunggu waktu untuk turun, bahkan mati.

Saya baca majalah Fortune edisi baru-baru ini. Marc Andreessen, salah satu pendiri Netscape yang juga pebisnis media (online, tentunya!), punya rencana besar seandainya memiliki koran sebesar New York Times.

Dia bilang, dia akan mematikan koran fisika itu sesegera mungkin, pindah penuh ke online. Lebih baik merasakan sakit parah sekarang daripada bertahun-tahun kesakitan, ucapnya.

Dia juga menyinggung, sangat sulit bagi New York Times untuk mengamankan masa depan, karena jajaran direksinya gaptek. Ada yang pakar binatang, ada yang pakar makanan. Tapi tak ada yang mengerti internet, katanya.

***
Beberapa waktu lalu, saya diminta untuk menjadi pembicara di acara Hari Pers Nasional, di Semarang. Menurut panitia, sudah waktunya mendengarkan pendapat orang-orang media yang masih muda. Maksudnya, yang berusia belum 40 tahun.

Saya mewakili koran, membahas tentang peran media koran dalam mewujudkan Indonesia 2030 yang ideal. Saya tidak salah ketik. Tahunnya benar-benar dua ribu tiga puluh.

Ya terus terang, tak banyak yang bisa saya sampaikan. Saya bilang, ini ironis juga. Saya merupakan pembicara termuda, tapi bicara soal media yang paling kuno. Pada 2030, saya sudah umur 52. Idealnya, ya saya sudah pensiun sejak umur 50. Lagipula, emang ya bisa koran bertahan sampai 2030?

Kemudian, ratusan insan media (kebanyakan koran) yang ada di hadapan saya waktu itu usianya maaf– tua. Bukan hanya 40-an. Tapi 50-an, bahkan ada yang 80-an.

Dalam hati, saya berpikir, Buat apa saya bicara di depan bapak-bapak ini, kalau mereka belum tentu ada pada 2030 nanti? Bicara soal koran untuk 2030, bagi saya, sangat tidak realistis. Kalau bicara soal koran, sekarang sebaiknya maksimal untuk lima tahun ke depan. No more. Sekarang saja saya pribadi sudah jauh lebih banyak baca berita lewat internet. Minimal dua jam sehari. Koran? Maksimal 20 menit.

Apakah ini berarti koran harus sepenuhnya ditinggalkan? Penentunya masih sama seperti dulu sampai sekarang: Koran itu sendiri dan pembacanya.

***

Melihat orang-orang di acara pers itu, saya pun berpikir. Masalah koran mungkin bukan hanya pada usia medianya. Tapi pada usia orang-orangnya. Perasaan yang sama saya dapati ketika mengikuti sebuah acara sepak bola nasional, beberapa waktu lalu.

Orang-orang yang mengurusi sepak bola itu masih sama dengan orang-orang yang saya baca di koran waktu masih SD dulu. Hanya satu atau dua yang usianya tidak jauh dari saya. Yang lebih muda dari saya hanya pemain.

Saya berpikir, Apa karena ini ya sepak bola Indonesia tidak maju-maju? Ilmu yang sama diputer-puter sampai habis. Orang yang satu pindah ke tempat yang lain, memuter-muter ilmu yang sama sampai habis.
Padahal, lingkungan sudah berubah, ada beberapa tingkatan generasi baru yang lebih tahu tentang ilmu-ilmu baru. Mereka hanya belum sempat mendapat kesempatan untuk menjajal ilmu-ilmu baru itu, lalu mengetahui kelemahan dan kesalahannya, karena orang-orang yang lama terus memaksakan ilmu-ilmu lama.

***

Sekali lagi, bukannya saya menyinggung mereka yang “maaf– tua. Karena saya suatu saat juga akan “maaf– tua. Dan saya kelak mungkin bakal jadi orang “maaf– tua yang mudah tersinggung.

Saya tahu betul perjuangan koran. Saya dari keluarga newspaperman. Saya tidur di atas koran mungkin sejak bayi. Waktu lulus SMP, pada 1993, saya diikutkan program siswa pertukaran ke Amerika Serikat supaya jauh dari koran. Dasar nasib, ternyata saya justru diterima dan tinggal di keluarga koran yang lain.

Pada 1993-1994, saya benar-benar bekerja di sebuah koran yang bergaya “maaf– tua. Namanya Ellinwood Leader, oplah mingguan hanya sekitar sekitar 1.500. Koran itu terbit di kota Ellinwood, Kansas, yang penduduknya hanya 2.500 dan kebanyakan “maaf– tua dan pensiunan.

Karena belum bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar, pekerjaan awal saya adalah fotografer, cuci cetak, sekaligus montase dan layout.
Kamera yang saya pakai masih Nikon FM-2 (full manual tanpa baterai). Cetak foto pakai enlarger (generasi sekarang mungkin sudah tidak tahu apa itu enlarger). Layout koran juga masih model gunting dan tempel di atas meja lampu. Di Jawa Pos sekarang, hanya satu atau dua orang yang pernah menjalani proses yang sama. Dan mereka sudah “maaf– sangat tua.

Semua pekerjaan harus efisien. Ngetik kepanjangan, makin panjang juga yang harus digunting. Motret hanya modal film satu roll, tidak bisa nge-bren ala machine gun seperti fotografer-fotografer digital sekarang. Habis motret pertandingan basket atau football, kalau tidak ada foto yang fokus, habislah sudah cerita koran minggu itu.

Menurut saya, segala pengalaman ini memberi saya skill set yang unik. Saya adalah generasi baru, tapi pernah menjalani dan merasakan kerja di koran gaya old school. Saya pun bisa menggabungkan efisiensi gaya lama itu dengan peralatan modern.

Jadi, sekali lagi, bukan berarti saya tidak respect dengan mereka yang –maaf– tua. Tapi, saya sudah tahu bahwa segala hal harus berubah menyesuaikan dengan zaman.

Life Will Find a Way
“Kalau mau selamat, ya reinventing saja terus menerus seperti Madonna. Dan sebenarnya, koran-koran yang ada sekarang sudah melakukan itu.”

Newspaper is dead? Mungkin.
Newspaper is dying? Mungkin.
Newspaper harus menyerah? Mungkin belum. Tapi, sudah bukan pengetahuan baru bahwa sudah makin berat bagi koran untuk melihat masa depan.
Lalu, apa yang harus dilakukan koran untuk survive? Apa yang harus dilakukan koran untuk meraih “mission impossible”: Tumbuh?
Saya bukan pakar jurnalistik. Saya juga bukan dewa koran. Saya hanya bagian dari kelompok langka, kelompok muda yang berkiprah di dunia koran. Saya juga tidak mau sok tahu, sok menuturi. Sebab, kalau begitu, saya resmi masuk kategori -maaf- tua. Dan, saya belum mau dibilang -maaf- tua. He he he…

Yang paling tahu jawabannya, mungkin, adalah Madonna.
Penyanyi yang satu ini bukanlah penyanyi favorit saya (terlalu -maaf- tua buat saya). Tapi, dia benar-benar ajaib. Dia mampu terus bertahan selama lebih dari 20 tahun. Bahkan, di usia yang sekarang hampir 50 tahun, dia masih mampu terus membangun popularitas.

Selama beberapa tahun sekali, selama lebih dari 20 tahun, Madonna reinventing diri sendiri. Dia mampu menyesuaikan karya musik dan gaya pembawaan dengan generasi yang terus berubah. Bukan sekadar menyesuaikan, dia kadang mampu mendikte generasi-generasi baru itu.

Coba bayangkan. Generasi bapak saya mungkin kenal Madonna dari lagu-lagu 1980-an seperti Like A Virgin atau La Isla Bonita. Generasi saya, yang mulai gaul pada pertengahan 1990-an, kenal dia lewat Take A Bow dan This Used To Be My Playground.

Generasi setelah saya kenal dia lewat lagu Frozen dan Music. Dan generasi sekarang kenal dia lewat lagu Four Minutes yang dia nyanyikan bareng Justin Timberlake.

Sambil berubah dalam hal musik, Madonna ikut mengubah pengemasan dirinya. Dulu jualan seksi, lalu gaya gothic, lalu gaya koboi, dan terus-menerus mengubah gaya.

Sejauh ini, Madonna terus mulus melakukannya. Cara mendengarkan musik sudah terus berganti. Generasi bapak saya beli kaset, generasi saya beli CD, dan generasi sekarang pakai iPod. Tapi, Madonna terus ngetop.
Tak heran bila bapak saya, saya sendiri, dan generasi-generasi setelah saya masih mau dengar dan joget pakai lagu Madonna. Padahal, secara fisik, mungkin makin sulit bagi penyanyi seusia Madonna untuk berjoget.
Dengan kemampuan dahsyatnya dalam reinventing diri sendiri, jangan heran kalau Madonna terus memukau (dan berjoget) saat usianya nanti mencapai 60 tahun.

Kalau Madonna bisa terus joget sampai umur ajaib begitu, mengapa koran tidak bisa terus berkiprah?

***
Sepertinya gampang. Kalau mau selamat, ya reinventing saja terus menerus seperti Madonna. Dan sebenarnya, koran-koran yang ada sekarang sudah melakukan itu.

Ada yang konstan berevolusi, ada yang gonta-ganti tampilan secara ekstrem. Ada yang mendikte perubahan di industri koran dan masyarakat, ada yang ikut-ikutan berubah meniru koran yang duluan berubah.
Ada yang berubah atau terbit dengan mengambil orang dari koran termutakhir, tapi kemudian mandek berubah sementara koran tempat orang itu berasal sudah terus berubah.

Pokoknya, selama 20 tahun saya jadi pembaca koran, sudah banyak yang berubah. Saya ambil contoh kecintaan saya terhadap balap mobil Formula 1. Dan, ini bisa sama dengan kecintaan orang lain pada sepak bola.
Dua puluh tahun lalu tidak ada siaran langsung F1. Untuk mengetahui hasil lomba yang diselenggarakan Minggu malam WIB, saya harus menunggu sampai Senin pagi lewat koran. Berita hasil yang hanya satu kolom, berisi dua atau tiga paragraf, sudah cukup untuk memuaskan keingintahuan saya.

Kalau mau ulasan lengkap, 20 tahun lalu saya rela menunggu sampai Jumat, lewat tabloid otomotif. Sepuluh tahun lalu, situasi sudah berubah. Siaran langsung F1 sudah makin mantap. Orang sudah tidak cukup lagi membaca hasil lomba pada koran edisi Senin pagi. Mereka lebih ingin prediksi dan review komplet, sebelum dan sesudah lomba.

Fungsi koran pun menjadi pelengkap siaran langsung.
Sekarang? Ulasan online makin instan dan komplet. Tidak terbatasi waktu dan besar halaman seperti koran. Masyarakat juga makin pintar, banyak yang lebih pintar soal F1 daripada yang menulis tentang F1 di koran-koran.
Koran harus bagaimana? Makin sulit bukan? Dan, ini berlaku bukan hanya untuk F1. Juga untuk olahraga-olahraga lain (khususnya sepak bola) dan bidang-bidang lain. Jawabannya… (Maaf, silakan setiap koran memikirkan sendiri-sendiri).

***
Saya bukan pakar jurnalistik, saya juga masih “anak kemarin sore” soal koran. Tapi, dalam delapan tahun terakhir berkiprah di Jawa Pos, saya juga sadar selera berita masyarakat bisa berubah begitu ekstrem. Dan, kalau ingin seperti Madonna, koran harus mampu membaca selera pasarnya. Atau mendiktenya.

Dulu, setelah reformasi, berita politik begitu ngetren. Foto tokoh politik bisa bikin koran laris. Tabloid politik bisa punya oplah sampai jutaan!

Sekarang? Maaf, politik sudah tidak laku. Saya pernah didatangi wakil agen dan penyalur Jawa Pos, tengah malam setelah penggarapan koran berakhir. Dia sengaja menunggui saya sampai penggarapan koran selesai untuk menyampaikan aspirasinya.

Dia menulis surat (tulisan tangan). Isinya, memohon dengan amat sangat agar Jawa Pos tidak memasang foto politikus, siapa pun dia. Juga agar Jawa Pos tidak memasang foto presiden, saat dia mengerjakan apa pun. “Kalau pasang foto politik, besok saya sulit jualan. Kalau saya sulit jualan, saya mau makan apa?” katanya.

Soal bencana juga begitu. Dulu, bencana alam yang menewaskan 20 orang bisa meningkatkan oplah signifikan.
Sekarang? Kalau melihat penjualan Jawa Pos (ini kami buka rahasia), mungkin orang sudah capai dengan berita bencana dan kesusahan. Khususnya setelah bencana tsunami, yang menewaskan hingga ratusan ribu orang.
Sejak tsunami, bencana-bencana lain adalah kecil. Orang sudah tidak “terkesan” lagi dengan banjir longsor yang menewaskan 60 orang.
Berita bencana ini berkaitan dengan kebombastisan berita. Dulu, saya ingat sesama koran sering “adu skor”. Siapa “menang” jumlah korban, dia yang biasanya menang di pasaran.

Sekarang? Orang sudah makin pintar. Orang sudah mengerti, yang penting bukan berapa yang mati, tapi apa yang bisa didapat dan harus dilakukan dari kejadian tersebut.

Kami buka rahasia pemasaran lagi: Berita bombastis juga sudah tidak laku.

***
Jawa Pos kemarin merayakan ulang tahun ke-59. Mewakili seluruh personel Jawa Pos, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca dan rekanan yang telah mendukung selama ini.

Wow. Lima puluh sembilan tahun! Hampir dua kali umur saya!
Selama 59 tahun, Jawa Pos telah berevolusi dalam hal bentuk, penyajian, dan lain-lain. Selama 59 tahun, Jawa Pos telah melewati masa-masa indah, masa-masa sulit.

Terima kasih kepada semua pihak, Jawa Pos sekarang masih jaya. Di saat koran-koran lain menurunkan harga dan mengurangi halaman, Jawa Pos masih bisa terus berinovasi dan menambah halaman. Terima kasih kepada semua pembaca yang setia, Jawa Pos bahkan masih bisa -alhamdulillah- menaikkan harga.

Tapi, sebagai bagian dari kelompok muda, saya ingin segera melupakan 59 tahun yang sudah berlalu itu. Sekarang ini, koran seperti kembali ke tahun zero.

Tantangan yang dihadapi koran di masa depan akan semakin berat. Beruntung, sejak zaman orang-orang -maaf- tua dulu, Jawa Pos besar dengan cara yang sehat. Selalu siap berubah, selalu mau berinovasi, selalu mau bekerja keras, selalu mau lebih repot daripada koran-koran kebanyakan.
Dan, sekarang, beda dengan kebanyakan koran lain, Jawa Pos punya modal lain yang mungkin bakal membantu bertahan di masa depan. Yaitu muda.

Maksudnya bukan hanya karena koran ini punya banyak anak muda (usia rata-rata puluhan anak DetEksi 20,5 tahun, kebanyakan redaktur di usia akhir 20-an atau awal 30-an). Tapi juga karena manajemen teratasnya “muda.”
Manajemen teratas koran ini memang sudah -maaf- tua. Tapi, gaya dan energi mereka kadang lebih muda daripada yang muda.

Pak Dahlan Iskan itu selalu muda (termasuk sebelum ganti hati milik orang muda). Bu Ratna Dewi itu awet muda. Bu Nany Wijaya sampai sekarang juga terus funky. Pak Eddy Nugroho pun makin metroseksual (bagi yang kenal, lihat saja selera sepatunya. Sporty enggak, formal juga enggak. He he he he).

Masih banyak lagi orang-orang teratas koran ini yang “muda.” Dan, kalau dipikir, kayaknya resep sukses ya itu tadi. Harus awet muda.

***
Jadi, sampai kapan koran bisa bertahan?
Saya tidak mau muluk-muluk. Saya tidak mau berpikir sampai 2030. Normal saja, per lima tahun.

Seperti apa lima tahun lagi?
Saya terus terang tidak tahu. Tapi, Pak Dahlan selalu bilang, jangan terlalu berpikir muluk. Asal kerja keras terus, hasil akan datang dengan sendirinya.

Berbagai tantangan yang dihadapi koran saat ini kelak pasti akan muncul solusinya. Toh, dulu orang bilang televisi bakal membunuh radio (video kill the radio star?). Ternyata, sampai sekarang, radio juga terus eksis. Meski makin sulit menemui penyiar yang bukan “tong kosong nyaring bunyinya”, tapi radio terus berkibar.

Penyelamatnya pun tidak disengaja atau diciptakan oleh industri radio. Penyelamatnya adalah mobil! Orang tidak lagi mendengarkan radio di rumah, tapi mendengarkannya di dalam mobil.

Saya ingin mengutip omongan Dr Ian Malcolm, tokoh fiksi di film Jurassic Park (1993) yang diperankan Jeff Goldblum. Waktu itu, menanggapi “dihidupkannya kembali dinosaurus”, dia bilang bahwa “Life will find a way.”

Dinosaurus-dinosaurus di Jurassic Park mungkin sudah diciptakan sedemikian rupa agar bisa dikontrol manusia. Tapi, secara alami, mereka akan menemukan cara untuk “merdeka” dan -untuk T-Rex di film itu- memakan manusia.

Di dunia media, koran tergolong yang paling kuno, yang paling Jurassic Park. Tapi, koran telah selamat berkali-kali dari krisis harga kertas dan ancaman media format lain. Mungkin, dengan kerja keras dan energi muda, koran masih bisa selamat, minimal sekali lagi.
Life will find a way. (*)