Jelang Grand Prix Belgia di Sirkuit Spa-Francorchamps (2-Habis)

Saling Kejar 6-7-8, Adu Gengsi 5-4
25 Agustus 2011 – 08.50 WIB
Laporan AZRUL ANANDA, SurabayaHanya delapan lomba tersisa di musim Formula 1 2011. Tim-tim harus memutuskan, apakah fokus ke perbaikan klasemen atau langsung menatap tahun depan. Khususnya peringkat empat sampai delapanSilakan perhatikan klasemen konstruktor Formula 1. Setelah berlangsungnya 11 dari 19 lomba. Persaingan papan atas sudah hampir berakhir.

Red Bull-Renault sudah sangat sulit ditaklukkan, karena sudah unggul 103 poin di atas pesaing terdekat, McLaren-Mercedes.

Memang, setiap lomba menyediakan poin 43 maksimal untuk setiap tim, andai dia finis 1-2 (25 + 18).

Jadi, secara matematis McLaren masih sangat bisa mengejar. Namun, jaraknya sudah begitu jauh, sehingga persaingan ini mungkin baru layak disorot bila jarak sudah mendekat di akhir musim.

Di urutan tiga, Ferrari sepertinya sudah “menggantung.” Naik ke atas nyaris mustahil. Melorot ke belakang juga sepertinya mustahil. Tak heran, menjelang Grand Prix Belgia akhir pekan ini, Ferrari bilang kalau mereka sudah fokus ke desain mobil 2012.

Nah, di belakang tiga besar, persaingan lebih interesting. Mercedes GP ada di urutan empat, tapi hanya unggul 14 poin dari Lotus Renault GP (80-66). Kedua tim ini tampaknya bakal habis-habisan berebut posisi sampai akhir musim.

Bagi Mercedes GP, finis di urutan empat seperti sebuah kewajiban. Dengan barisan pembalap Michael Schumacher dan Nico Rosberg, tentu akan malu kalau sampai kalah dari Renault. Bagi Renault, posisi keempat benar-benar harus diburu. Di Belgia akhir pekan ini, mereka akan menurunkan upgrade mobil terakhir untuk musim 2011. Mereka yakin, komponen-komponen baru itu akan memberi hasil positif.

“Upgrade yang kami turunkan adalah paket komplet. Ada dasar mobil baru, knalpot baru, dan perubahan pada suspensi belakang. Bakal cukup komprehensif, dan saya berharap perbaikan ini akan memberikan hasil positif,” kata Eric Boullier, bos Lotus Renault GP.

“Kami punya ekspektasi kedua mobil kami finis di urutan sepuluh besar. Kami butuh mengejar Mercedes GP. Di Spa, kita akan melihat apakah upgrade kami cukup untuk melakukan itu. Semoga saja begitu,” tambahnya.

Bukan sekadar upgrade mobil, untuk memburu peringkat empat, Renault harus membuat keputusan besar. Di atas kertas, mereka seharusnya butuh pembalap berpengalaman seperti Nick Heidfeld untuk memastikan posisi baik di akhir musim. Mengandalkan Vitaly Petrov, sepertinya kurang.

Namun, menjelang GP Belgia, muncul gosip Renault akan menggeser Heidfeld, menggantinya dengan pembalap muda Bruno Senna. Alasannya, performa Heidfeld kurang memenuhi harapan. Kalau menurunkan Senna, mereka bisa sekalian melakukan evaluasi untuk jangka panjang. Risikonya, kalau menurunkan Senna yang minim pengalaman, peringkat empat bisa hilang di akhir musim.

Hingga kemarin, Boullier dan barisan Renault belum mau bicara soal ini. Keputusan mereka akan menjadi bumbu khusus GP Belgia.

Di belakang duel Mercedes dan Renault, persaingan lebih sengit terjadi dari urutan enam sampai delapan. Hanya 13 poin memisahkan Sauber-Ferrari (35 poin), Force India-Mercedes (26), dan Toro Rosso-Ferrari (22).

Overall, Sauber tampak paling konsisten. Hanya saja, belakangan Force India paling menggila. Dalam dua lomba terakhir, pasangan Adrian Sutil dan Paul di Resta mampu meraup total 14 poin. Lebih dari separo total poin yang mereka dapatkan tahun ini!

Dan beberapa tahun terakhir, Force India selalu garang di akhir musim. Khususnya di sirkuit-sirkuit cepat, seperti Spa dan Monza (Italia).

Pada 2009, Giancarlo Fisichella meraih pole untuk Force India di Spa, lalu finis kedua. Sampai hari ini, itulah lomba terakhir tim milik Vijay Mallya tersebut.

Tahun ini, Mallya merasa timnya masih bisa meraih hasil memuaskan di Spa. Mungkin bukan podium, tapi kedua pembalapnya bisa memborong banyak poin.

“Tahun ini, kami datang ke Belgia dengan mobil yang jauh lebih komplet. Dulu, mobil kami garang di trek lurus. Sekarang kuat di semua area,” sesumbarnya.

Kalau Toro Rosso, soal mobil mungkin tak banyak berubah. Hanya saja, mereka punya dua pembalap yang akan berjuang habis-habisan. Kalau tidak perform baik, Jaime Alguersuari dan Sebastien Buemi terancam terdepak dari F1 di penghujung 2011. Dan mungkin, tidak ada dorongan lebih barik daripada ancaman dipecat!

Bagi penggemar awam, persaingan peringkat tengah ke bawah mungkin tak terlalu menarik. Namun, ada perbedaan nilai hadiah uang cukup signifikan antara peringkat enam dan delapan (berdasarkan persentase pemasukan F1).

Jadi, di sisa musim ini, perhatikan peringkat-peringkat minor itu. Satu perubahan posisi di satu lomba yang tersisa bisa menjadi penentu peringkat yang luar biasa!***

Advertisements

Jelang Grand Prix Belgia di Sirkuit Spa-Francorchamps (1)

Menunggu Miracle Michael Schumacher
24 Agustus 2011 – 08.40 WIB
Laporan AZRUL ANANDA, SurabayaMichael “Schumi” Schumacher mengawali karir di Formula 1 di Sirkuit Spa, pada 1991. Dia meraih victory perdana di tempat yang sama, pada 1992. Akhir pekan ini, 20 tahun kemudian, masih adakah “Schumi Miracle”Spa-Francorchamps (baca: Frankorsha), 25 Agustus 1991. Sebagai pembalap binaan Mercedes-Benz, Michael “Schumi” Schumacher dapat hadiah besar.

Ada lowongan membalap untuk Jordan-Ford, setelah pembalap utama tim itu, Bertrand Gachot, kena masalah hukum.

Kabarnya, Mercedes membayar Jordan, dan debut bersejarah pun dimulai. Secara mengejutkan, Schumi mampu meraih posisi start ketujuh, lebih baik dari rekannya yang sangat berpengalaman, Andrea de Cesaris.

Sayang, kopling mobilnya jebol saat start, sehingga Schumi tak pernah menyelesaikan putaran pertama lomba. Tapi itu tidak masalah, di lomba berikutnya, dia sudah dicaplok Benetton-Ford. Dan bersama tim itu, pada 1992 Schumi meraih kemenangan pertamanya. Juga di Spa-Francorchamps.

Ingat, di saat semua kejadian bersejarah itu terjadi, Sebastian Vettel (lahir 1987) yang kini memimpin klasemen masih balita! Umur empat tahun saat Schumi menjalani debut, umur lima tahun saat Schumi meraih kemenangan perdana!

Akhir pekan ini, Schumi merayakan 20 tahun debutnya di F1. Bersama Mercedes GP, bersama pabrikan yang dulu ?membiayai? debutnya bersama Jordan.

Katanya, Schumi bakal bikin pesta besar. “Ini bakal jadi momen spesial. Saya akan mengundang seluruh isi paddock untuk berpesta Sabtu malam nanti,” ucap pembalap Jerman berusia 42 tahun itu, seperti dikutip koran Cologne, Jerman, Express.

Ya, Schumi bakal mengajak berpesta. Tapi, pertanyaan yang lebih besar: Apakah dia bisa mengajak jutaan penggemarnya di seluruh dunia berpesta juga di hari Ahad, ketika Grand Prix Belgia berakhir?

Masih adakah “Schumi Miracle” (keajaiban Schumi) di Spa-Francorchamps? Sebab kalau masih ada, mungkin itu bisa menghapus segala kekecewaan sejak dia mulai comeback bersama Mercedes GP, musim 2010 lalu. Hingga sekarang, 30 lomba sudah dia jalani bersama Mercedes GP, tanpa sekalipun naik podium.

Sampai bikin orang hampir lupa, kalau dia itu juara dunia tujuh kali dan pernah juara lomba sebanyak 91 kali! Schumi mengaku akan berusaha memberikan hasil maksimal. “Bagi saya, Spa masih seperti ?ruang keluarga.? Inilah panggung tempat terjadinya banyak hal luar biasa dalam karir saya,” ucapnya lewat rilis resmi Mercedes GP.

“Mengenai persaingan di Spa, kami baru saja kembali dari libur musim panas dengan motivasi dan energi baru. Kami akan mencoba mengakhiri GP Belgia dengan tanda seru!” tambahnya.

Bicara soal peluang, Spa mungkin bakal memberi peluang terbaik bagi Mercedes GP untuk meraih hasil terbaik musim ini. Mobil mereka, W02, sejauh ini lebih happy melaju di trek yang cepat dan panjang. Belum lagi seringnya gangguan cuaca di Spa, yang membuat balapan menjadi semacam lotere.

“Layout sirkuit seharusnya lebih cocok untuk paket mobil kami, bila dibandingkan dengan dua lomba sebelum ini (Jerman dan Hungaria, Red),” kata Norbert Haug, bos Mercedes-Benz Motorsport.

Haug menegaskan, Schumi masih sangat mampu meraih hasil terbaik. Bukan hanya di Spa akhir pekan ini, tapi juga sampai tahun depan, tahun terakhir kontranya bersama Mercedes GP. “Dia (Schumi, Red) sangat ambisius, tapi tidak berlebihan. Apinya masih membara. Lihat saja matanya, Anda semua akan bisa melihatnya,? ujar Haug.(bersambung)