Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda (3)

Menikmati Gaya dan Orang Belanja di Kota Mode Dunia Milan

KAMIS, 13 SEPTEMBER 2012
boks
JUJUKAN FASHIONISTA: Jalan Montenapoleone yang menjadi tempat berlangsungnya Milan Fashion Week pekan depan. FOTO ARIYANTI K.R./JPNN

Susuri Jalan Milan Fashion Week, Lupa Putari Bull’s Ball
Selain sepak bola, Milan dikenal karena fashion-nya. Bahkan, Milan sering disebut sebagai salah satu ibu kota fashion dunia. Berada di sana selama dua hari, kami menjadi tahu bagaimana sebutan itu bisa tersemat di kota yang masuk wilayah Lambordy, Italia, tersebut.
Laporan Ariyanti K.R., MILAN

Begitu menjejakkan kaki keluar terminal subway Metro kuning di Duomo siang itu (8/9), saya bersama Ivo Ananda, fashion police rubrik Jawa Pos For Her, langsung disuguhi pemandangan bak keramaian pasar. Banyak orang berlalu lalang dengan tentengan tas belanja berbagai ukuran. Berjalan ke kiri, ada gerai label United Colors of Benetton. Empat lantai gerai itu menyajikan kebutuhan berbeda. Bawah tanah untuk anak-anak, satu perempuan, dua laki-laki, dan tiga aksesori.

Melangkah ke seberang, ada butik Zara. Pengunjungnya juga ramai. Di kasir minimal selalu ada sepuluh orang yang mengantre hingga toko tutup pukul 20.00. Tren baju-baju bertema army dan celana panjang dengan ritsleting di samping bawah memang menarik minat.

Keluar dari situ, teruslah melintasi Corso Vittorio Emanuele tersebut. Ratusan outlet dengan brand populer berjajar. Levi’s, Guess, H&M, hingga merek lokal mengisi deretan toko yang sebagian besar merupakan bangunan klasik Italia itu.

Masih belum puas berbelanja baju, sepatu, tas, dan pernik-pernik fashion di situ, segeralah bergegas ke Galleria Vittorio Emanuele II yang letaknya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki. Bangunan yang menjadi tempat shopping model arcade (gedung berlorong tertutup atap) itu sangat ikonis, elegan, dan berkelas.     Selesai didirikan pada 1877, Galleria yang menjadi jalan penghubung dua landmark Kota Milan, Piazza Duomo dan gedung opera Teatro Alla Scala, itu ditutup atap kaca berkombinasi dengan besi. Lantainya marmer bermozaik. Brand luxury seperti Prada, Gucci, dan Louis Vuitton berada di Galleria.

Di tempat itu juga tersebar kafe-kafe ternama dengan menu khas Italia. Sekali makan di situ, satu orang dengan porsi biasa appetizer oven baked dan  main course steak serta air mineral, harga yang dibayar sekitar Rp600 ribu. Wow! Harga makan di situ memang lebih mahal daripada tempat lain di Milan. Tetapi, itu pantas dengan kebanggaan bisa nongkrong di tempat prestisius tersebut.

Milan Fashion Week merupakan even mode yang sangat bergengsi. Di seluruh dunia hanya ada empat fashion week besar yang menjadi acuan tren mode. Skedulnya dimulai dari New York Fashion Week, kemudian London, selanjutnya Milan, serta berakhir di Paris. Dan, peragaan koleksi Prada sebagai brand ternama Italia selalu menjadi bagian pertunjukan yang paling dinanti.

Banyaknya turis yang datang membuat kami kesulitan menilai style warga setempat. Namanya turis sedang berbelanja di musim panas, gayanya nyaris seragam. Kasual dengan sepatu flat, celana pendek atau jins panjang, dengan atasan kaus. Yang penting nyaman. Camilla Stech, seorang SPG (sales promotion girl), juga mengatakan sebagai perempuan Milan, dia merasa kondisi yang tercipta di sekeliling membuatnya harus selalu gaya.

’’Di sini kami bisa melihat perkembangan fashion terkini. Seminggu sekali saya pasti jalan ke shopping mall untuk melihat apa yang menjadi tren. Tentu tidak semua bisa terbeli. Tetapi, saya menjadi pintar mix and match. Kalau mau aman, ya pakai saja dress warna hitam yang timeless,” kata perempuan 27 tahun itu.

Ucapan perempuan tersebut ada benarnya. Berada di subway Metro, baik pagi maupun malam, kami bisa dengan mudah menemukan perempuan dengan dandanan chic menenteng tas bermerek. Beberapa di antara mereka menambahkan syal untuk atribut gaya. Ankle boot, stiletto, hingga flat shoes modis menjadi pelengkap penampilan.

Perjumpaan Milan dengan fashion, baju, dan industri tekstil dimulai sejak akhir abad ke-19. Awalnya, industri fashion di sana menjiplak desain fashion papan atas Paris. Namun, tak lama kemudian, Milan mengembangkan gaya sendiri. Kota yang menjadi markas tim sepak bola AC Milan itu mulai memunculkan namanya pada dekade 1970 dan 1980-an, membuatnya makin prestisius pada 1990-an, dan pada 2000-an resmi menjadi salah satu di antara big four kota fashion dunia.

Tak semua jalan terkenal di Milan bisa kami singgahi dalam waktu sesingkat itu. Misalnya, kami tak sempat melakukan ’’ritual” memutari gambar Bull’s Ball di Galleria Vittorio Emanuele. Menurut kepercayaan warga di sana, jika ’’ritual’’ itu dilakukan, dipercaya membuat kita bisa kembali ke Milan dan bernasib baik. Bull’s Ball adalah sebuah mozaik batu bergambar kerbau dengan sebuah lubang tepat berada di testikelnya.

Meski tak menjalani ’’ritual” itu, kami tetap berharap bisa datang ke sana lagi. Sebab, aktivitas dunia fashion di Milan memang nikmat untuk dijelajahi. Dengan segala yang terjadi di dalamnya, Milan layak menjadi pusat mode dunia.

Apalagi, pemerintah Italia punya kebijakan goods and services tax (GST) refund. Pajak barang yang dibeli bisa dikembalikan saat kita akan meninggalkan bandara negeri pemilik Menara Pisa itu. Ow, siapa yang tak mau. Pemerintah Italia biasanya menetapkan pajak 20 persen untuk banyak hal. Bagi penduduk non-Uni Eropa, pajak itu akan dikembalikan lagi.

Syarat utama pembelian minimal harus sebesar 154,94 euro (Rp1,9 juta) dalam satu waktu di satu toko. Selain itu, barang yang dibeli untuk keperluan pribadi, diangkut dalam bagasi sendiri, harus diperiksa oleh petugas pabean, dan maksimal tiga bulan sesudah pembelian sudah harus dibawa keluar Uni Eropa. (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Ke Tokyo, Kali Pertama Hadiri Resepsi Pernikahan Gaya Jepang

SENIN, 07 JUNI 2010 , 07:33:00

Datang kawinan di Indonesia sudah biasa. Datang kawinan di Jepang, buat saya, baru kali pertama. Sangat berkesan, substansi lebih penting daripada style-nya.

—————————————-
Catatan AZRUL ANANDA
—————————————-

Ke Jepang? Terus terang saya tidak terlalu antusias kalau ditawari pergi ke sana. Alasannya sederhana: Mahal! Semua di sana memang serba mahal. Kalau sedang punya uang, daripada tiga hari di Jepang, lebih baik sepuluh hari di Amerika. Karena biayanya kurang lebih sama.

Asal tahu saja, naik taksi sekali duduk langsung Rp 70 ribu. Naik subway lebih ekonomis, tapi makan dan lain-lainnya masih sangat mahal. Oleh-oleh” Lupakan kalau saya ke Jepang. Gantungan kunci saja paling murah Rp 40 ribu!

Pengin makan seperti di Indonesia” Lebih lupakan lagi. Durian satu buah Rp 500 ribu. Tebu satu batang pendek Rp 30 ribu. Kelapa muda” Satu buah Rp 70 ribu. Untung saya gak suka durian!

Dulu waktu masih lebih muda (dan masih pacaran dengan orang Jepang), mungkin tidak apa-apa dipaksakan. Sekarang, benar-benar nyaris tak ada alasan untuk ke sana. Saya kali terakhir jalan-jalan di sana pada 2005, jalan-jalan pertama bersama istri. Bukan bulan madu, karena waktu itu kami berdua sama-sama sakit selama di sana!

Tapi pekan lalu, saya memang wajib ke Jepang. Pada Minggu pekan lalu (30/5), sahabat saya menikah. Namanya Kazuyuki Miyake alias Kazu, teman kuliah waktu di Sacramento City College dan California State University Sacramento (1995-1999).

Kazu ini kami sebut sebagai “Japanese Indonesian.” Banyak gaul sama anak Indonesia, dikenal semua anak Indonesia. Dia baik buanget. Rajin dan tertib khas Jepang, tapi tetap fleksibel dan mau contek-contekan (maksudnya memberi contekan) pada anak-anak Indonesia.

Saya sendiri sering sekelas dengan dia. Maklum, saya jurusan international marketing, dia jurusan international business. Kelas kami berdua banyak yang overlap.

Ketika dapat kabar Kazu menikah, saya (dan teman-teman lain) terkejut juga. Di Jepang, orang tidak menikah sudah sangat biasa.

Makanya di sana sekarang ada krisis populasi. Tingkat kelahiran sangat rendah, sementara orang umurnya panjang-panjang. Itulah penyebab utama kenapa teknologi robot begitu ngotot dikembangkan di Jepang. Kebanyakan untuk membantu orang-orang di sana andai tidak mampu lagi mengurusi diri sendiri. Jepang kan tergolong ogah menerima pekerja asing. Tidak seperti Amerika Serikat atau negara maju lain. Karena tenaga kerja di sana terlalu mahal, ya ramai-ramai-lah bikin robot!

Teman-teman saya yang lain di Jepang juga tidak ada yang menikah. Kazu sendiri sedikit lebih tua dari saya, sekarang sudah 36 tahun. Dan dulu, setiap kali datang ke Indonesia, selalu membawa pacar yang berbeda.

Orang memang punya jalan sendiri-sendiri. Kazu menikah dengan Yukari, yang empat tahun lebih tua. Sebagai sahabat dekat, hukumnya wajib bagi saya (dan istri) untuk memenuhi undangannya. Sekaligus mewakili teman-teman kuliah Indonesia lain yang tidak bisa datang ke Jepang.

Kazu termasuk “menengah atas,” manajer di Oracle (cabang Jepang), salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia. Istrinya termasuk “atas,” anak kelima dari tujuh bersaudara, keluarga pemilik Tokushukai, kelompok rumah sakit terbesar ketiga di dunia. Jadi, pernikahannya memang termasuk mewah.

Hanya saja, mewah di Jepang sangat jauh beda dengan mewah di Indonesia.

Acara yang kami hadiri Minggu lalu itu bukanlah pernikahan “adat”-nya. Itu sudah diselenggarakan pada Maret lalu. Acara yang kami hadiri Minggu lalu itu adalah resepsinya. Gaya modern, western style.

Acara diselenggarakan di salah satu ballroom di Hotel Okura, salah satu hotel paling top di Tokyo (seperti Kempinsky Hotel Indonesia-nya). Tapi, undangannya tidak sampai ribuan. Bahkan “hanya” 106 orang.

Sebagai perbandingan, seminggu sebelumnya kami juga menghadiri pernikahan supermewah teman kami, seorang artis papan atas Indonesia, di Jakarta. Undangannya ribuan, antre untuk salaman saja sampai hampir 30 menit.

Mungkin ada pembaca yang sudah pernah datang ke kawinan orang Jepang. Bahkan mungkin sudah ada yang beberapa kali menghadiri acara kawinan orang Jepang. Tapi bagi saya ini adalah yang pertama. Dan bagi saya, acaranya jauh lebih bermakna. Sangat substance over style.

***

Terus terang, saya tidak tahu perkawinan Jepang lain seperti apa. Katanya sih mirip-mirip, tapi agak variatif. Pernikahan Kazu dan Yukari termasuk yang simple.

Para undangan duduk dalam meja-meja, masing-masing dikelilingi delapan sampai sepuluh undangan. Undangan mempelai perempuan ada di sebelah kanan, mempelai laki-laki di sebelah kiri. Saya duduk di meja paling depan sebelah kiri, bersama teman-teman terdekat Kazu.

Lucu juga, meja saya seperti meja reuni. Karena isinya “anak-anak” Jepang yang dulunya juga kuliah di Amerika, kebanyakan di Sacramento.

Semua berlangsung on time (Jepang banget!). Undangan satu per satu datang dan menunggu bersama dulu di ruangan khusus. Lalu bersama berjalan ke ballroom ketika jam menunjukkan pukul 16.00. Dekorasinya tidak aneh-aneh. Hanya hiasan-hiasan bunga putih dan kristal di meja.

Tidak berselang lama, Kazu dan Yukari masuk ke dalam ruangan, berjalan melintasi tengah-tengah undangan disambut tepuk tangan yang meriah. Mereka lantas duduk di meja di depan, menghadap ke para undangan.

Keduanya berdandan modern. Memakai baju dan gaun ala western berwarna putih. Kemudian, teman terbaik mempelai perempuan berdiri di podium, bersama seorang penerjemah. Teman perempuan itu lalu menceritakan bagaimana Yukari bertemu Kazu dalam bahasa Jepang, lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Cerita itu relatif singkat dan penuh makna. Misalnya dijelaskan bagaimana ketika Kazu melamar. “Yukari, percayalah. Setiap hari, aku akan mencintaimu. Makin hari, makin mencintai,” begitu ucapan lamaran Kazu.

Kemudian, pidato “kubu” Kazu dilakukan oleh bosnya di Oracle. Dari “kubu” Yukari, profesor musiknya ketika masih belajar di universitas dulu. Kedua pidato tadi disusul dengan lantunan lagu Ave Maria. Bukan, Kazu dan Yukari sama-sama bukan penganut Nasrani. Tapi di Jepang, orang suka memadu-madukan kebudayaan untuk acara pernikahan.

Setelah itu, acara yang ditunggu-tunggu para undangan. Apalagi kalau bukan makan-makan!!!

Satu demi satu menu disajikan di meja. Kombinasi western dan Japanese. Nama-namanya saya lupa, karena memang bukan pengamat makanan. Yang jelas diawali dengan roti, disusul salad, sup, potongan ikan kecil, es krim, baru terakhir potongan daging sapi yang empuk dan enak.

Kazu sangat hati-hati dengan menu yang saya makan. Sama sekali tidak diberi alkohol maupun yang berbau babi. Jadi menu saya dan istri agak beda dengan yang lain.

Kasihan Kazu dan Yukari. Di saat yang lain makan, dia harus melayani foto-foto para undangan. Satu per satu undangan berjalan ke meja pengantin untuk berfoto bersama. Jadi, undangan sudah sampai tahap es krim, Kazu dan Yukari masih di tahap salad.

Selesai makan, acara belum selesai. Kazu dan Yukari keluar dulu untuk ganti pakaian. Mereka kembali lagi mengenakan pakaian tradisional Jepang. Kata teman-teman saya semeja, kawinan Kazu ini termasuk sederhana. Ada yang ganti bajunya sampai tujuh kali!

Saat mengenakan baju tradisional itu, Kazu dan Yukari berjalan ke setiap meja. Di setiap meja, mereka berfoto dengan undangan yang duduk di sana. Bayangkan, mereka harus berfoto di semua meja yang ada.

Setelah itu duduk sebentar di meja depan, mendengarkan beberapa anggota keluarga menyanyi. Lantas kembali lagi keluar untuk mengakhiri acara. Sebelum keluar untuk kali terakhir, sebuah mic disediakan di dekat pintu ballroom. Di sana, Kazu, Yukari, serta ibu keduanya berdiri memberi penghormatan kepada semua undangan.

Dengan mata berkaca-kaca (kali pertama saya melihat Kazu menangis!), Kazu mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan dukungan semua undangan. Mereka saling berpelukan, lalu berjalan meninggalkan ballroom.

Di luar, mereka menunggu para undangan bergantian keluar. Pada dasarnya, para undangan memang keluar bersamaan. Sebelum pulang, menyapa dan bersalaman dulu dengan pasangan pengantin di luar ballroom.

Sebelum pulang, beberapa undangan tampak berebut ke meja depan. Mereka berebut membungkusi bunga-bunga mawar putih yang menghiasi meja pengantin tersebut! Untung ini bukan Indonesia. Kalau di Indonesia, mungkin meja dan kristalnya ikut diangkut pulang! Ha ha ha!

Kurang lebih empat jam lamanya resepsi itu berlangsung. Selama empat jam, tidak satu pun undangan menyelinap pulang. Kalau datang untuk menghadiri undangan, benar-benar memberi penghormatan sampai acara berakhir. Toh acaranya juga sangat bermakna, tidak sekadar gembar-gembor adu mewah. Tidak ada event organizer yang bergaya berlebihan, tidak ada tuan rumah yang bergaya berlebihan.

***

Undangan resepsi Kazu-Yukari hanya 106 orang. Tapi bukan berarti pernikahannya murah. Sehari setelah resepsi, kami pergi makan sushi bersama di kawasan gaul Roppongi.

Kazu berkali-kali bilang terima kasih atas kehadiran kami. Saya bilang, meski kita jarang ketemu karena jauh, persahabatan yang dijalin saat kuliah tak pernah boleh putus. Bagaimanapun, tanpa (contekan) Kazu, kuliah saya dulu mungkin tidak selancar yang telah berjalan. Tanpa (contekan) saya, Kazu mungkin juga tidak selancar itu kuliah.

Bukannya bermaksud buruk, tapi saya benar-benar penasaran dengan biaya pernikahan di Jepang. Untungnya, Kazu mau berbagi cerita soal biaya.

“Asal tahu saja, untuk makan saja satu orang biayanya 25 ribu yen (sekitar Rp2,5 juta, Red). Untuk resepsi itu, biaya yang dikeluarkan sampai 7 juta yen (sekitar Rp 700 juta). Belum untuk pernikahan Maret lalu, belum untuk biaya-biaya lain,” tutur Kazu.

Kalau di Indonesia (adat Jawa), biasanya keluarga perempuan yang membiayai. Kalau di Jepang? “Keluarga kami menanggung separo-separo. Tapi itu tidak adil,” jawabnya dengan pancingan canda.

Maksudnya? “Resepsi itu acara untuk mempelai perempuan. Di situ saya kan hanya menjadi ornamen. Jadi seharusnya yang bayar keluarga perempuan semua. Ha ha ha,” katanya.

Diajak bulan madu ke Indonesia, Kazu bilang akan mencoba. Tapi sulit sekali. Setelah resepsi, dia hanya libur sehari itu saja. Setelah itu kembali kerja normal. “Saya harus kembali bekerja keras untuk mendapatkan uang. Sekarang saya harus kerja keras tiga kali lipat dari sebelumnya!” ucapnya.

Kata Kazu, dia akan berusaha untuk datang ke Indonesia. Selain bertemu lagi dengan saya, juga untuk bertemu dengan “keponakan-keponakannya” alias dua anak saya (cowok 2 tahun 5 bulan, cewek 8 bulan).

Tapi dia menegaskan akan sulit menemukan waktu. Bukan hanya itu, Yukari sekarang juga sudah mengandung beberapa minggu. “Dia ingin punya tiga anak. Jadi mulai sekarang setiap tahun harus punya anak!” kata Kazu.

Saya bilang saja, saya berharap Kazu dan keluarga yang ke Indonesia. Karena akan jauh lebih mahal kalau saya yang ingin ketemu “keponakan-keponakan” saya di Jepang!(*)

Minum Kopi di Dalam Kurungan Burung Raksasa

Senin, 06 Oktober 2008 , 11:07:00

Factory 798, Kawasan Seni Underground Beijing yang Makin Trendy

Salah satu sudut Factory 798 di Distrik Chaoyang, Beijing.
Salah satu sudut Factory 798 di Distrik Chaoyang, Beijing.
Factory 798 atau Dashanzi 798, kawasan seni di Distrik Chaoyang, Beijing, dulu adalah kompleks “underground” seru yang tak banyak diketahui orang. Kini, kawasan itu sudah jadi 798 Art Zone, kawasan trendy untuk “turis kebanyakan.” Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang baru kembali dari Tiongkok.

KALAU ke Beijing, tempat kunjungan standar adalah Lapangan Tiananmen, Forbidden City (Kota Terlarang), plus tempat belanja barang palsu Silk Street Market (Xiushui) atau Hong Qiao Market. Atau tempat jalan-jalan dan belanja paling ramai, Jalan Wangfujing. Belakangan, kompleks Olimpiade juga menjadi tempat kunjungan seru.
Tapi, kalau ke Beijing, sempatkan berkunjung ke 798 Art Zone di Distrik Chaoyang, sekitar 30 menit naik taksi dari kawasan Tiananmen. Kalau perlu, sempatkan waktu sehari penuh untuk jalan-jalan di sana. Dijamin akan memberi suasana dan pengalaman yang berbeda.
Kawasan seni yang trendy itu memang sudah bukan lagi kawasan “underground,” tempat para seniman bisa bekerja dan mengekspresikan diri secara “aman.” Sekarang, tempat itu sudah murni menjadi kawasan turis, lengkap dengan fasilitas-fasilitas penunjangnya. Dalam setahun terakhir, luar biasa banyak perubahan yang telah terjadi di kawasan seru ini.
Sebenarnya, saya sudah berkunjung ke 798 Art Zone ini pada pertengahan 2007 lalu. Waktu itu, tempat ini masih sering disebut sebagai Dashanzi 798 atau Factory 798. Maklum, tempat ini dulunya memang penuh dengan pabrik elektronik buatan Jerman Timur. Karena mangkrak, pada akhir 1990-an para seniman mulai mengisinya sebagai tempat untuk bekerja yang “aman dan bebas.”
Hebatnya, sampai tahun lalu pun tempat ini tak dikenal secara luas. Sopir-sopir taksi belum tentu tahu tempatnya, bagian informasi di hotel-hotel berbintang pun belum tentu mengetahuinya. Di sana memang tidak ada gapura atau tanda masuk yang jelas, yang menyambut orang ke kawasan seni trendy.
Untuk menuju ke sana, bilang saja mau ke Jalan Jiuxianqiao. Lalu dari situ cari-cari jalan masuk ke kompleks Factory 798.
Ketika ke sana tahun lalu, suasana juga relatif sepi. Lingkungannya masih sangat pabrik dan cenderung berantakan. Galeri-galerinya masih sederhana dan belum dilengkapi terlalu banyak kafe. Ke mana-mana harus jalan kaki, dengan panduan peta yang bisa dibeli di sebuah kafe dengan harga 5 yuan.
Tahun ini? Luar biasa berubahnya. Hanya dalam setahun, kawasan ini sudah berubah menjadi kawasan turis trendy. Pekan lalu, saya dan keluarga –bersama beberapa teman– mampir ke sana.
Kali ini, tidak susah untuk bilang mau ke sana. Taksi dan hotel-hotel biasanya sudah langsung tahu. Di sana pun sudah ada angka besar “798” yang menyambut di salah satu dari dua pintu masuk dari Jalan Jiuxianqiao (disebut pintu 2 dan 4). Tulisan “Art Zone 798” juga bertebaran di papan-papan pemandu di sekeliling kompleks itu.
Alangkah terkejutnya saya ketika kami berhenti di pintu 4. Bila dulu taksi langsung menurunkan di pinggir jalan, sekarang sudah ada kawasan khusus untuk parkir dan menurunkan penumpang. Di sana juga sudah ada banyak turis –lokal maupun mancanegara– yang berbaris antre. Saya pun berpikir, “Antre untuk apa?”.
Ternyata, mereka antre menunggu mobil elektrik (seperti mobil golf untuk banyak penumpang) yang siap mengantar masuk ke dalam kompleks. Wah, ini sudah benar-benar jadi tempat wisata. Sudah ada infrastruktur dan sistem yang memudahkan pengunjung untuk menikmati kawasan ini. Hebatnya, mobil pengantar itu tidak memungut biaya sama sekali. Pokoknya antre, naik, lalu berhenti di tempat yang diinginkan.
Hanya harga peta dan minum saja yang naik. Kalau tahun lalu petanya 5 yuan selembar, sekarang 10 yuan. Harga air putih sebotol pun sampai segitu (di luar paling hanya satu atau dua yuan). Benar-benar sudah lebih matre, seperti tempat-tempat turis kebanyakan!
Ketika masuk di dalam pun, sudah banyak sekali yang berubah dalam setahun terakhir. Jalan-jalan dan gang-gangnya sudah jauh lebih rapi dan bersih. Sekarang sudah lebih banyak kafe (dan orang nongkrong) di sekeliling kawasan ini.
Patung-patung “seni” yang dulu berserakan di gang-gang memang masih ada, tapi sekarang lebih tertata rapi di tempat-tempat yang seolah sudah diatur.
Galeri-galerinya juga sudah beda. Kalau tahun lalu masih sederhana “tersembunyi” di balik tembok-tembok pabrik yang usang, sekarang sudah menjadi galeri-galeri serius dengan arsitektur dan dekorasi modern.
Semua masih nyentrik, tapi tidak lagi “nyeni serius” seperti tahun lalu. Terus terang, saya bukan seniman. Saya bukan penikmat seni, apalagi pengamat seni. Tapi saya tahu, ini sudah ke arah “trendy,” bukan “nyeni.”
Misalnya sebuah coffee shop di kompleks ini. Setelah beli kopi, teh, atau camilan di sebuah jendela besar, kita lantas masuk sebuah kurungan burung raksasa yang terletak di depannya. Di dalam kurungan itu sudah ada beberapa meja dan tempat duduk yang tertata. Jadi kita menikmati kopi di dalam kurungan burung.
Di atas kurungan itu tergantung sejumlah “bus.” Semula saya pikir itu bus-bus warna-warni biasa dengan banyak roda. Saya baru sadar setelah “nge-zoom” pakai kamera. Ternyata itu semua replika gerbang besar Forbidden City, lengkap dengan foto Mao di tengahnya. Bedanya, gerbang-gerbang itu sekarang punya banyak roda, menggelantung dari atas kurungan burung, di atas tempat orang minum kopi.
Sekali lagi, saya bukan orang seni, dan saya tidak akan sok tahu soal seni. Jadi entah itu apa maksudnya. Yang pasti, bagi saya itu trendy juga.
Kemudian saya mengajak keluarga dan teman ke 798 Space, galeri utama Factory 798 dulu. Bangunan besar bergaya Jerman Timur itu, hingga tahun lalu, masih berbentuk bangunan mangkrak. Bagian luarnya kusam, halamannya benar-benar seperti pabrik yang telah lama tidak dipakai.
Sekarang? Alangkah bedanya. Halaman depan sudah di-paving rapi. Tersebar beberapa tenda dan tempat duduk untuk minum dan bersantai. Lorong masuk 798 Space, yang dulu seperti lorong pabrik lama, sekarang sudah disulap menjadi lorong galeri gaya barat. Kaca di sana-sini, dengan penerangan mumpuni. Galeri-galeri yang mengisi ruang-ruang kosong di dalamnya juga sudah sangat modern dan “barat.”
Galeri utama 798 Space sendiri masih kurang lebih sama dengan tahun lalu. Tapi terkesan jauh lebih rapi dan kinclong.
Perubahan lain: Sekarang ada pasar dadakan di dalam kompleks Art Zone 798. Ada sudut yang diberikan kepada para pedagang kaki lima untuk menggelar alas, jualan baju-baju atau barang-barang lain.
Kemudian, di salah satu sudut lain, ada proyek pembangunan bangunan besar ala mal. Setelah saya lihat salah satu plangnya, ternyata di situ akan dibangun sebuah “mal seni modern.”
Tahun lalu, ketika ke kompleks ini, saya diberitahu kalau saya mungkin sudah terlambat untuk menikmati “keaslian” dan semangat dari Factory 798. Tempat ini sudah menjadi begitu trendy, sehingga harga sewa terus melangit dan menyingkirkan para seniman-seniman “murni” yang dulu memberi kehidupan di dalam kompleks pabrik mangkrak ini.
Tapi setelah melihat suasana sekarang, saya tidak merasa terlalu terlambat. Yang terlambat adalah keluarga dan teman yang baru ikut saya datang tahun ini. Dan orang-orang penasaran lain yang baru datang sekarang ini.
Terus terang, saya memang kecewa tempat ini menjadi “kafe banget” dan “turis banget.” Mungkin ini dampak dari Olimpiade Beijing lalu, yang membuat pemerintah ingin membuat semua sudut Beijing nyaman untuk pengunjung. Di sisi lain, perubahan pada Art Zone 798 ini membuat saya makin kagum pada Tiongkok.
Di negara ini, semuanya bisa berubah instan. (*)