Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

Keliling Milan, Liput Balap Formula 1 dan Kunjungi Artis Sepeda

SENIN, 10 SEPTEMBER 2012

STASIUN KECIL: Suasana Stasiun Lesmo di dekat Sirkuit Monza. Dari tribun utama, orang harus berjalan lebih dari 3 km untuk mencapai stasiun ini. FOTO AGUNG KURNIAWAN/JPNN

Kalau Tak Ada Kereta, Jangan-Jangan Harus Menginap di Toilet

Milan bukan sekadar pusat fashion Italia. Kota itu juga jadi tujuan untuk nonton Formula 1 plus tempat bernaungnya para seniman sepeda legendaris dunia. Berikut catatan Azrul Ananda dari kota tersebut.
Bulan September ini merupakan bulan istimewa untuk mengunjungi Milano alias Milan. Di awal bulan, penggemar balap dapat suguhan super, salah satu lomba Formula 1 paling bergengsi: Grand Prix Italia. Di akhir bulan nanti, ada salah satu ajang fashion paling top, Milan Fashion Week.Tentu saja sambil menonton Formula 1, ada banyak hal lain yang bisa dinikmati di Milan. Penggemar sepak bola pasti ingin melihat San Siro. Penggemar sepeda, seperti saya, punya tujuan lain lagi: mengunjungi nama-nama besar sepeda dunia. Misalnya Masi dan Colnago yang bermarkas di kawasan Milan.Jadi, selama akhir pekan lalu (6-9 September), saya dan rekan Agung Kurniawan menyempatkan diri keliling mengunjungi para seniman sepeda sebelum pergi ke Sirkuit Monza untuk meliput Formula 1. Bisa pagi hari, bisa sore hari. Sambil jalan-jalan untuk melihat Milan yang sebenarnya. Bukan lewat jalur-jalur turis yang ’’normal”. Hal paling penting yang harus dibawa/dipakai untuk melakukannya: sepatu yang supernyaman untuk banyak jalan.

Bagi penggemar balap, apalagi F1, Autodromo Nazionale Monza (Sirkuit Monza) merupakan salah satu venue impian yang ingin dikunjungi. Sudah eksis sejak 1922, sudah menjadi bagian dari F1 sejak seri paling bergengsi itu dimulai pada 1950.

Plus, itu adalah kandang Ferrari, tim paling legendaris yang punya jutaan penggemar di seluruh dunia. Tim berlogo Kuda Jingkrak itu bermarkas tak jauh dari Milan, di Maranello. Jadi, para penggemar juga bisa menyempatkan diri ke sana.

Juga memang meliput  dan menonton  F1 di Monza sangat seru. Para penonton, mayoritas tifosi (pendukung Ferrari), selalu memadati sirkuit berkapasitas tribun sekitar 115 ribu orang itu. Total diperkirakan lebih dari 300 ribu orang mengunjungi Monza selama akhir pekan F1.

Kamis saja, saat persiapan dan belum ada mobil turun ke lintasan, lebih dari 10 ribu orang sudah berkumpul di Monza. Padahal, bukan hal mudah untuk mencapai sirkuit tersebut. Letaknya agak jauh di utara Milan (sekitar 30 km) dan tidak ada jalur transportasi yang ideal. Semua tetap akan melibatkan banyak jalan kaki. Tinggal memilih, mau jalan 1 kilometer, 3 kilometer, atau lebih.

Bagi penggemar yang datang dari luar negeri, idealnya memang menginap di sekitar Monza. Atau di kota-kota kecil yang mengitarinya. Tapi, tempat menginap paling enak memang di Milan. Kalau tidak ke sirkuit, bisa jalan-jalan di kota yang keren tersebut.

Dari Milan itu, pilihan transportasinya harus jitu untuk bisa ke Monza. Kalau tidak, bisa kena jebakan Batman, jalan kaki superjauh. Jujur, karena saya dan Agung punya akreditasi media untuk meliput, jalur kami tidak seberat penonton biasa. Ada fasilitas mobil shuttle dan kawasan parkir khusus, bisa langsung masuk dekat paddock tempat tim dan media bekerja. Tapi, di tulisan ini saya ingin menyampaikan trik-trik kalau jadi penonton/penggemar.

So, mau ke Monza dari Milan?Berikut alternatif-alternatifnya: Naik taksi? Tentu saja oke. Bersiaplah membayar lebih dari 100 euro (lebih dari Rp 1,2 juta) untuk sekali jalan. Itu pun belum tentu bisa masuk ke kawasan sirkuit. Turun agak jauh, tetap jalan kaki lebih dari 2 kilometer untuk mencapai pintu sirkuit. Belum ke tribun atau jalan-jalan di dalamnya.

Sewa mobil, ini juga opsi. Namun, tetap saja kawasan parkirnya jauh. Kata seorang penonton yang temannya sewa mobil, makin hari area parkirnya juga makin jauh. Sebab, Sabtu lebih ramai daripada Jumat dan Minggu lebih ramai daripada Sabtu. Jadi, itu bukan opsi menarik kalau jadi penonton  ’’biasa’’.

Karena itu, ada beberapa alternatif lebih baik yang bisa dijalani, melibatkan kereta. Tetapi, kalau tidak tahu triknya, bisa jalan kaki jauh sekali. Ada teman-teman F1 Mania dari Indonesia yang merasakan jauhnya itu serta sempat membuat saya dan Agung ikut merasakannya.

***

Memang, kalau ikut panduan resmi, ada kereta yang nyambung langsung dari Milan ke Monza. Dengan sistem subway yang komplet dan cepat, dari mana saja kita tinggal menuju Stasiun Garibaldi di kawasan pusat kota. Di sana naik kereta  yang hampir setiap jam tersedia menuju Monza.

Tiketnya murah, hanya 1,5 euro untuk subway sekali jalan plus sekitar 2 euro untuk kereta menuju Monza. Tapi, hati-hati. Sebab, ada dua stasiun yang bisa dituju di kawasan Monza. Yang satu Stasiun Monza, dan itu letaknya bukan di sirkuit, melainkan di kotanya. Silakan turun di situ dan Anda tetap harus naik bus lagi atau jalan kaki 12 kilometer!

“Kami (Kamis, 6/9) naik kereta ke sana. Ternyata bus ke sirkuit belum ada. Jadi deh jalan kaki 12 kilometer ke sirkuit,” ucap Ihsan Raharjo, mahasiswa Indonesia di Jerman yang mengisi liburan dengan nonton F1 di Italia bersama temannya, Jefri Christian.

Stasiun kereta yang paling dekat dengan sirkuit adalah Stasiun Lesmo. Namanya sama dengan salah satu tikungan Sirkuit Monza dan memang letaknya berdekatan.

Rombongan lain dari Indonesia sempat diinstruksikan untuk turun di sana. Sebab, tiket nonton juga diminta diambil di sana. Katanya hanya 200 meter dari pintu sirkuit.

Benar memang, stasiun itu hanya 200 meter dari pintu sirkuit. Tapi, pintu yang jauuuuuuuuuuh dari tribun utama dan paddock. Dari ujung ke ujung. Total harus jalan kaki sekitar 3 kilometer dari pintu Lesmo menuju kawasan paddock. Bukan lewat jalan aspal atau jalan resmi, melainkan jalan setapak yang rasanya seperti menembus hutan.

Sirkuit Monza memang berada di dalam kompleks Parco di Monza, taman/hutan terbesar di belahan utara Italia. Luasnya mencapai 150 hektare. Saya dan Agung mencoba naik kereta di Stasiun Lesmo itu saat pulang dari lintasan, Jumat sore setelah babak latihan (7/9). Untung masih sore. Kalau kemalaman, bisa gelap gulita. Dan untung tepat waktu. Sebab, kereta terakhir lewat pukul 20.09.

Petang itu, sekitar pukul 19.00, saat matahari mulai terbenam, saya dan Agung di Stasiun Lesmo bersama dua orang penggemar dari Bulgaria, hanya berempat.

Kami sama-sama bengong khawatir. Sebab, pintu bangunan stasiun dikunci dan tidak ada orang sama sekali. Di dalam gedung hanya ada screen yang menyala, menyebut masih ada kereta terakhir pukul 20.09. Kami berempat benar-benar ragu. Sebab, dari ribuan orang penonton di Monza, mengapa hanya kami berempat di situ?

’’Ini kali pertama kami nonton F1, kali pertama kami ke Monza,’’ aku Adrian Tsvetkov, pemuda dari Bulgaria itu. “Kami diberi tahu bahwa ini jalan yang lebih baik untuk kembali ke Milan,” lanjutnya.

Kami pun bercanda, seandainya tidak ada kereta, kami akan berjalan ke kawasan parkir para camper. Tempat orang-orang yang naik karavan parkir dan menginap selama akhir pekan. ’’Kita ketuk saja pintu mereka, minta menumpang tidur,’’ canda Adrian.

Kalau tidak boleh? Rekannya, Dobrin Dimitrov, punya ide lebih lucu. Dia menunjuk bilik-bilik toilet di depan stasiun. ’’Di situ saja, satu orang satu,” ucapnya, lantas tertawa.

Untunglah, benar-benar ada kereta di stasiun itu. Dan kami tidak berempat. Teman-teman F1 Mania Indonesia tiba di situ sekitar lima menit sebelum kereta berangkat (kalau tidak, gawat itu!). Penonton-penonton lain juga datang tepat waktu. Amanlah kami balik ke Milan, tidak perlu menginap di toilet.

Setelah beberapa hari, kami sekarang tahu jalur paling enak dari Milan ke Monza. Manfaatkan sistem subway yang lengkap dan cepat itu. Cukup 1,5 euro, terus naik subway jalur merah sampai pemberhentian terakhir di utara Milan. Total perjalanan dari Duomo (tempat turis dan belanja di pusat kota) hanya sekitar 15 menit.

Dari Sesto 1 Maggio, nama stasiun terakhir itu, ada dua opsi yang bisa diambil. Pertama, naik bus. Hanya bayar lagi 2 euro, ada bus nomor 221 yang turun di jalanan sekitar sirkuit. Tapi, cukup lama karena berhenti-berhenti, total bisa 45 menitan. Dan kalau bus penuh, bisa berdiri sepanjang jalan.

Alternatif lain, dari stasiun itu, naik taksi. Asal tahu saja, sepanjang akhir pekan grand prix, ada banyak jalan menuju sirkuit yang ditutup. Hanya taksi dan kendaraan dengan tanda khusus yang boleh masuk. Jadi, itu alasan lain naik mobil sendiri bukanlah alternatif.

Naik taksi dari situ relatif lebih fair harganya. Sekitar 30 sampai 40 euro, bergantung jalur dan kemacetan. Kalau berempat, bisa bagi ongkos maksimal.

Kalau naik taksi, minta turun di Via 4 Novembre 1918. Jalan itu lurus menuju pintu utama sirkuit. Dan jalan itu menarik karena ada pasarnya. Bayangkan, ada dua stan berseberangan. Satu berjualan buah, satu lagi berjualan merchandise Ferrari. Di sebelahnya, jualan ikan dan hasil laut!

Kalau naik taksi itu, pulangnya memang ribet. Apalagi pas rush hour, semua penonton mau pulang berbarengan. Kalau pulang, enaknya ya naik bus 221 itu lagi untuk kembali ke stasiun subway. Agak lama, tapi toh sudah tidak tergesa-gesa ke lintasan.

Walau banyak jalan kaki, bagi penggemar F1 Monza tetap berasa “ajaib”. Bagaimanapun, “budaya” F1 begitu kuat sehingga atmosfernya begitu hidup. Tidak seperti ke sirkuit-sirkuit “modern” di negara-negara yang tidak punya sejarah F1 (seperti kebanyakan di Asia atau Timur Tengah).

“Asyik lah sirkuitnya. Asyik banget suasananya,” kata Robianto Haripurnomo, 45, yang sering mengelola tur nonton bersama istrinya, Yenny “Ekies” Erika, lewat Lily Tour.

Bagi Sugeng Haryadi, 45, dan istrinya, Eka Dewi Vegajanti, 44, jalan jauh nonton F1 sudah jadi makanan selama belasan tahun. Pasangan Ferrari Mania dari Surabaya itu sejak 2000 rajin nonton F1 ke mana-mana. Mulai Malaysia, Tiongkok, Australia, hingga beberapa negara lain.

Karena penggemar berat Ferrari, mereka sekarang seperti ada di alam yang benar. Sabtu lalu (8/9) mereka sempat ikut tur ke Maranello, markas Ferrari. “(Jalan jauh) ini sudah biasa. Saya dulu hamil tujuh bulan juga tetap niat jalan kaki terus nonton F1 di Sepang (Malaysia, Red),” tutur Eka Dewi Vegajanti.

Saking gilanya pasangan itu terhadap Ferrari, putri terakhir mereka diberi nama Fiorano. Sama dengan nama sirkuit uji coba yang dimiliki pasukan Kuda Jingkrak!

Bagi saya pribadi, yang paling ingin saya lihat di Monza adalah bagian dari sirkuit lamanya. Khususnya bagian banking (lintasan miring) yang dulu merupakan bagian penting lintasan oval Monza. Ya, sirkuit itu dulu punya bagian oval.

Karena terlalu cepat dan berbahaya, bagian oval tersebut sudah puluhan tahun tidak dipakai. Tapi, dulu itu merupakan bagian dari magic Monza, banyak korbannya. Sampai sekarang, logo sirkuit masih menampilkan bentuk Monza sekarang plus lintasan oval tersebut.

Salah satu film balap favorit saya berjudul Grand Prix keluaran 1970. Film yang memenangi Piala Oscar itu bercerita tentang F1 zaman bahaya dulu. Dan salah satu tokoh utamanya tewas di oval Monza.

Kalau melihat di televisi, agak sulit mencari di mana bagian oval itu. Beberapa disembunyikan sebagai bando reklame. Di sirkuit, juga harus jalan “masuk ke hutan” untuk menemukannya. Sekarang lintasan oval itu sudah tidak dirawat, rerumputan tumbuh di sela-sela aspalnya.

Senang rasanya bisa melihat banking itu. Ketika mencoba mendakinya, alamak, ternyata miring sekali. Harus merangkak untuk mencapai ujung atasnya. Alangkah mengerikannya balapan di sana! (c1/ary)

sumber : http://radarlampung.co.id

Advertisements

Wow, Keliling Champs-Elysees Disoraki Ribuan Penonton

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (8-Habis)
24 Juli 2012 – 09.51 WIB
 Wow, Keliling Champs-Elysees Disoraki Ribuan Penonton
Azrul Ananda saat di garis Champs-Elysees yang merupakan garis finish terakhir dari rangkaian Tour de France 2012, Ahad (22/7/2012). (Foto: BOY SLAMET/JPNN)

Laporan AZRUL ANANDA, Prancis

Hari terakhir program Tour de France memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan: Bersepeda keliling Champs-Elysees di hadapan ribuan penonton. Ada yang teriak ingin beli salah satu sepeda kami!

Program Tour de France yang diikuti rombongan Jawa Pos Cycling secara resmi berakhir, Ahad lalu (22/7).

Hari yang sama dengan etape penutup lomba, yang berakhir di salah satu jalanan paling kondang di dunia: Champs-Elysees.

Serunya, pada hari yang sama itu, kami pun mendapat kesempatan bersepeda di jalur yang sama: Champs-Elysees! Dan ternyata, pengalaman itu jauh lebih eksklusif daripada yang pernah kami bayangkan sebelumnya.

Ketika membaca jadwal ini sebelum ke Prancis, kami pikir kami akan bersepeda bersama rombongan besar. Ala fun bike di Indonesia.

Ternyata tidak! Ternyata, penyelenggara mengatur jadwal sedemikian rupa, sehingga ketika keliling Champs-Elysees, hanya kami yang keliling di sana!

Kami keliling di hadapan ribuan penonton, yang camping di pinggir jalan sejak pagi. Ya, hanya kami yang keliling Champs-Elysees di hadapan ribuan penonton!

***
Pukul 10.45, Ahad pagi itu, kami diminta berkumpul di lobi hotel, yang terletak di kawasan Champs-Elysees. Total ada 24 orang dalam rombongan VIP tersebut. Enam belas dari Indonesia alias kami, plus delapan dari berbagai negara seperti Amerika dan Australia.

Para pemandu kami dari Discover France —partner resmi Amaury Sport Organisation (ASO)— sebagai pengelola Tour de France telah siap semua. Mereka berbagi tugas. Beberapa ikut bersepeda mengawal kami. Beberapa naik mobil untuk memberikan support selama perjalanan.

Rasanya tak sabar segera ke Champs-Elysees. Ya, total bersepeda hari itu bakal sangat pendek, hanya dijadwalkan total 10 kilometer. Namun, beberapa kilometer di antaranya adalah di jalanan Champs Elysees!

Sepanjang tahun, Champs-Elysees merupakan salah satu jalan paling sibuk di Paris. Dalam setahun, jalan tersebut hanya ditutup dua kali. Satu untuk Bastille Day (Hari Nasional Prancis), yang jatuh setiap 14 Juli. Satu kali lagi saat etape penutup Tour de France.

Seperti biasa, sebelum berangkat, ada brifing. Kami diminta menaati segala peraturan. Sebab, ASO sangatlah ketat dalam mengatur jadwal. Lalu, dengan alasan keamanan, kami tak boleh banyak berhenti saat keliling sirkuit. Jadi, kesempatan foto-foto akan terbatas. Meski demikian, mereka sudah menyiapkan beberapa waktu dan tempat untuk berfoto.

Selesai brifing, kami pun berangkat. Menuju Place de la Concorde, salah satu persimpangan kondang di Paris. Di sana, kami diminta menunggu. Sebuah mobil Skoda panitia resmi Tour de France datang menjemput. Mobil itulah yang akan memandu kami mengikuti rute.

Sebelum giliran kami masuk sirkuit, rombongan anak-anak bersepeda diberi kesempatan lebih dulu. Sekitar 15 menit kemudian, baru giliran anak-anak besar alias kami untuk masuk.

Dari Place de la Concorde, kami mengikuti jalan menuju Champs-Elysees. Semua jalanan terbuat dari batu, sehingga getarannya membuat kami makin gemetaran karena senang dicampur tegang.

Tidak jauh, kami berhenti dulu di bawah tanda garis finis lomba, di sisi timur Champs-Elysees. Di kanan dan kiri tampak bangunan tribun sudah terpasang, tinggal menunggu ribuan penonton untuk mengisinya.

Di garis finis itu, kami diberi kesempatan berfoto. Tidak lama, kami dilepas lagi. Kali ini agak menanjak ke arah barat Champs-Elysees, ke arah monumen kondang: Arc de Triomphe.

Di kanan dan kiri tampak butik-butik kondang. Misalnya, Louis Vuitton. Di kanan dan kiri, tampak ribuan penonton sudah berdiri di pagar pembatas.

Sejak pagi, mereka sudah bersiap di situ. Bahkan, banyak yang sudah camping sejak dini hari. Mereka ingin mendapat posisi terdepan melihat aksi para pembalap pada sorenya.

Nah, tengah hari itu, mereka harus bersabar dulu melihat kami melintas di jalanan. Walau kami bukan pembalap, dan wajah kami tampak bingung sendiri ditonton ribuan orang, para penonton itu tetap menyoraki.

Kami pun jadi bersemangat. Ada yang pasang gaya, memegang setir di bagian bawah (drop). Ada yang zig-zag. Ada yang pura-pura sprint. Dan sebagainya.

Hey, kapan lagi kita bisa bergaya di jalanan paling kondang, disaksikan ribuan orang! Yang jelas, kami terus curi-curi berfoto. Baik pakai kamera beneran maupun kamera handphone. ‘’Ya ini yang bikin harganya mahal,’’ celetuk salah seorang anggota rombongan kami.

Ketika berputar di depan Arc de Triomphe, ada teriakan lucu untuk rombongan kami. ‘’Hey, I like your bike! I want to buy it!’’ Terjemahannya: ‘’Hey, aku suka sepedamu! Aku mau membelinya!’’

Teriakan itu ditujukan kepada Sun Hin Tjendra, salah seorang jagoan balap di kelompok kami. Dia memang mengendarai sepeda yang eye-catching. Look 695 Premium Collection edisi Brasil. Warnanya hijau dan kuning.

Sebenarnya, bukan kali itu saja sepeda Sun Hin ini jadi pusat perhatian. Hari-hari sebelumnya, ketika kami bersepeda mengikuti rute-rute kondang Tour de France, sepeda tersebut juga berkali-kali menarik perhatian orang.

Saat di depan Arc de Triomphe itu pula, Sony Hendarto asal Madiun sempat bergaya asyik. Dia mengangkat sepeda custom Independent Fabrication-nya, berpose di depan kamera ala para jawara Tour de France.

Sebenarnya, kebanyakan yang lain juga punya angan-angan berpose seperti itu. Tapi, mungkin karena tegang dan terlalu asyik, mereka sampai lupa untuk melakukannya.

Sepanjang perjalanan balik ke arah Place de la Concorde, ribuan penonton terus menyoraki kami. Seru dan aneh sekali rasanya.

Seusai pengalaman singkat 20 menitan, melewati lintasan sekitar 3 kilometer itu, kami seperti kehabisan komentar. Tidak tahu harus bicara apa. Benar-benar pengalaman yang unik.

Sulit dipercaya, kami telah bersepeda melewati salah satu jalan paling kondang di dunia. Sulit dipercaya, kami telah bersepeda melewati garis finis Tour de France yang paling terkenal.

Satu hal yang kami sepakat di luar perkiraan: Jalanan yang tidak rata. Sulit dipercaya, para pembalap melintasi jalanan kasar itu dengan kecepatan luar biasa!

‘’Pengawas lomba dari Eropa, kalau datang ke Indonesia, selalu komplain tentang jalanan kita yang buruk. Padahal, balapan di Champs-Elysees juga dilakukan di atas permukaan yang buruk,’’ komentar Sastra Harijanto Tjondrokusumo atau Pak Hari, yang di Indonesia merupakan salah seorang tokoh balap sepeda.

Kami rasa, mungkin kami pula rombongan Indonesia pertama yang bersepeda melintasi Champs-Elysees pada saat berlangsungnya Tour de France. Francois Bernard, pemandu kami, membenarkan bahwa rombongan kami adalah yang pertama dari Indonesia. Wow.

***
Dari Champs-Elysees, kami langsung bersepeda lagi berputar kembali ke hotel. Ganti baju, lalu langsung kumpul lagi untuk menuju salah satu tribun VIP: Tribune Grand Palais. Di sanalah rombongan menonton aksi para pembalap kelas dunia menuntaskan Tour de France 2012.

Etape 20 itu sebenarnya dimulai di Rambouillet, dengan total jarak yang ditempuh 120 Km. Tapi, sekitar 50 Km terakhirnya adalah criterium di tengah Kota Paris. Selama sekitar sepuluh kali mereka melintasi Champs-Elysees.

Bagi penonton, rasanya seperti melihat balapan di sirkuit. Mereka bersorak setiap kali idolanya melintas. Para pembalap itu pun terlihat begitu cepat. Wus! Lewat begitu saja nyaris tanpa suara. Padahal, itu pakai tenaga kaki, bukan mesin.

Semakin sedikit jarak lomba, semakin riuh teriakan penonton. Apalagi ketika Sky Procycling (Team Sky) mulai mengambil alih komando lomba, menyiapkan bintangnya, Mark Cavendish, untuk sprint.

Dan untuk tahun keempat berturut-turut, Cavendish meraih kemenangan di jalanan Champs-Elysees. Kali ini melengkapi sukses besar Sky, yang meraih yellow jersey lewat Bradley Wiggins. Seusai lomba, para penonton tidak langsung pulang. Mereka dengan sabar menunggu prosesi seremoni juara. Mereka memang punya insentif ekstra untuk tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, para pembalap berpawai keliling mengucapkan goodbye dan terima kasih kepada para penonton.

Para pembalap juga tidak segan untuk menuju tribun, memenuhi permintaan tanda tangan penonton. Termasuk para bintang besarnya seperti Cadel Evans (BMC) dan Andre Greipel (Lotto-Belisol). Sambil menunggu itu, staf penyelenggara tampak mulai sibuk membongkari perlengkapan lomba. Pada saat pembalap masih berkeliling menyapa penonton, tampak layar LED sudah dibongkar. Dalam hitungan jam, segalanya memang harus bersih.

Lomba berakhir sekitar pukul 17.00, pukul 21.00-nya jalanan Champs-Elysees sudah kembali normal. Tidak ada branding, tidak ada atribut lomba, tidak ada pembatas-pembatas lomba. Bersih!

***
Rombongan kami berkesempatan makan malam bersama. Sekaligus mengucapkan perpisahan dengan para pemandu: Francois Bernard dan Martin Caujolle. Kami juga sempat nongkrong dan ngobrol di depan hotel.

Sedikit merangkum perjalanan seminggu ini: Pengalaman yang kami dapat sangatlah mengesankan. Semula, kami mengira ini perjalanan sepeda santai, hanya 60 kilometeran sehari. Ternyata, kami diajak menyiksa diri, mendaki tanjakan-tanjakan legendaris Tour de France.

Apakah kelak mengulang lagi? Rata-rata bilang sangat mungkin. Rata-rata bilang ingin mengulang lagi. Sebab, masih ada banyak tanjakan atau rute kondang lain yang belum kami rasakan. Apakah akan mengulang tahun depan? Mungkin iya, mungkin tidak.

Bergantung situasi. Yang jelas, kalau tahun depan jadi, itu akan menyuguhkan pengalaman yang lebih spesial lagi. Sebab, tahun depan adalah Tour de France yang ke-100.

Angka spektakuler yang menjanjikan penyelenggaraan lebih spektakuler! Pergi lagi nggak ya?.(ila/jpnn/habis)

sumber :www.jpnn.com

Harus Ulangi Lagi, Jangan Sampai Bobot Bertambah

Senin, 23 Juli 2012 , 00:03:00

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (6)

064428_936179_tdf_6Jersey Persahabatan-Jersey Jawa Poss Cycling Tour de France menarik perhatian peserta tour lain. Usai diner, Paula Braden, asal Alanta, USA meminang Jersey salah satu peserta rombongan Jawa Pos Cycling untuk dibawa sebagai kenangan ke negaranya. Foto : Boy Slamet/Jawa Pos
 
Ikut program bersepeda Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling dapat kesempatan bertemu dengan cyclist dari negara-negara lain. Bisa berbagi cerita dan pengalaman.

Catatan AZRUL ANANDA

Setelah empat hari bersepeda melawan tanjakan, panas, dan dingin, Jumat (20/7) adalah hari travel sekaligus istirahat. Rombongan menuju utara Prancis, bersiap menikmati dua hari penutup Tour de France 2012.

Jumat itu kami sebenarnya juga “menjauh” sebentar dari sirkus “Le Tour”. Ketika para pembalap menjalani rute flat 222,5 km dari Blagnac (dekat Toulouse) menuju Brive-la-Gaillarde, kami naik kereta dari Pau menuju Nogent le Rotrou (semakin dekat ke Paris).

Diberi waktu istirahat dan bangun lebih siang, Jumat itu kami baru check out dan meninggalkan hotel di Pau sekitar pukul 11.00. Satu jam kemudian, kami naik TGV yang bisa melaju lebih dari 200 km/jam.

Total perjalanan yang harus kami tempuh lebih dari enam jam. Dua setengah jam dari Pau ke Bordeaux, lalu hampir tiga jam ke Stasiun Saint Pierre des Corps, kemudian sekitar 20 menit naik kereta komuter ke Vendome. Di sana makan malam dulu, lantas naik bus lagi sekitar sejam menuju penginapan di Nogent le Rotrou.

Mengapa ke sana? Sebab, kami akan mengejar dua etape terakhir yang sangat menentukan. Letak Nogent le Rotrou dekat sekali dengan Chartres, tempat etape 19 berakhir pada Sabtu (21/7).

Hari itu (kemarin, Red) kami akan mengunjungi beberapa kawasan wisata, lalu menonton ending etape di kawasan khusus VIP. Itu akan jadi pengalaman unik. Sebab, pembalap tidaklah “balapan”. Melainkan menjalani individual time trial (ITT), satu per satu berlomba melawan waktu dengan menggunakan sepeda-sepeda TT yang eksotis dan aerodinamis.

Panjang etape itu 53,5 km. Tanda-tandanya, juara Tour de France 2012 akan dikunci di etape itu. Bradley Wiggins, andalan Team Sky, adalah unggulannya.

Setelah etape TT usai, kami langsung diangkut menuju Paris. Minggu pagi (22/7) kami akan diberi kesempatan merasakan bersepeda di Champ-Elysees, salah satu jalan paling kondang di dunia. Di jalur itulah Tour de France 2012 berakhir dan kami akan melintasi garis finis beberapa jam sebelum para pembalap datang.

Siangnya, kami dapat area nonton khusus lagi, menyaksikan finis terakhir Tour de France 2012. Sekaligus menonton penobatan juara di atas podium.

Bahwa pada hari perjalanan itu tidak ada acara bersepeda, bukan berarti tidak ada cerita. Pertama-tama, kami bersemangat naik TGV. Lama-lama bosan juga.

“Pilih mana, lima jam naik kereta atau bersepeda?” tanya Bambang Poerniawan.

“Ya jelas pilih naik sepeda,” timpal Djoko Andono, salah satu penghobi sepeda paling top di Surabaya.

Kami pun bicara betapa serunya “siksaan” tanjakan-tanjakan yang telah kami lalui. Col d’Aubisque, tanjakan hors categorie setinggi 1.709 meter, dipelesetkan oleh teman-teman jadi “Engkol Abis”.

Sony Hendarto mengatakan bahwa kami harus ikut tur itu lagi tahun-tahun ke depan. Sebab, masih banyak tanjakan kondang Tour de France yang bisa dijajal. Toh, sekarang kami semua sudah tahu seperti apa kira-kira beratnya dan lain kali bisa menyiapkan setelan sepeda yang lebih pas lagi.

“Masih ada Tourmalet, Galibier, Alp d’Huez, dan Ventu,” ujarnya, menyebut empat tanjakan “paling menyeramkan” dalam sejarah lomba.

Dalam perjalanan itu, kami juga bertemu lagi dengan kelompok peserta dari negara-negara lain. Misalnya Amerika Serikat, Australia, Brasil, dan Kanada.

Karena ada banyak waktu longgar dan kami tidak bertemu dalam kondisi ngos-ngosan, percakapan jadi lebih panjang. Beberapa di antara mereka ternyata sebelumnya pernah ikut program tersebut. Misalnya pasangan dari Vancouver, Kanada, Eric dan Elaine Edwards. Ini adalah kali kedua mereka ikut tur sepeda di Prancis.

Tiga tahun lalu mereka menjajal yang lebih “seram”, termasuk di antaranya mendaki dua puncak tinggi dalam hari yang sama. “Butuh waktu seharian,” ungkap Eric Edwards.

Kepada kami, mereka menyarankan kami kelak kembali lagi. Sama dengan yang disebut Sony Hendarto sebelumnya, masih banyak tempat yang belum kami rasakan “siksaannya”. Padahal, dia melihat kami benar-benar kesulitan menaklukkan tanjakan Col d’Aubisque!

“Kalau ingin mengulangi, saran saya satu: Jangan sampai berat badan Anda bertambah,” ucapnya.

Paula Braden dari Atlanta, Georgia, datang sendirian untuk ikut program itu. Penggemar berat balap sepeda tersebut tidak punya alasan khusus. “Saya suka bersepeda dan saya suka sekali Tour de France,” katanya.

Braden termasuk yang sangat senang melihat kehebohan grup Indonesia, yang tak pernah berhenti bercanda. Dia juga suka melihat kami selalu kompak berseragam saat bersepeda dan setiap hari ada seragam yang berbeda.

Kepada kelompok kami, dia pernah minta salah satu jersey untuk kenang-kenangan. Dia minta khusus yang hitam-biru bertulisan “Jawa Pos Cycling”. Kebetulan, Djoko Andono punya ekstra dan tentu kami semua dengan senang hati memberikan jersey itu kepadanya.

Hengky Kantono menyerahkan jersey itu kepada Braden dalam salah satu acara makan malam di Pau. Selama di kereta, kami juga mulai menyiapkan rencana akan ngapain saja di Paris beberapa hari kemudian, setelah Tour de France berakhir. Karena sudah jauh-jauh di Prancis, kami akan mencoba keliling Paris naik sepeda sendiri, mengunjungi tempat-tempat paling terkenal dan foto-foto.

Saya bicara kepada beberapa teman, perjalanan ini harus selengkap mungkin. Harus bisa membawa pulang cerita (karena saya juga menulis tentang ini setiap hari!). Prajna Murdaya sepakat. “Hidup ini seperti momen yang berseri. Bukan sesuatu yang dirangkum di bagian akhir,” ujarnya.

Tapi, jangan sampai lupa mengunjungi butik-butik fashion kondang. Bukan untuk diri sendiri karena kami semua lebih suka mengunjungi toko-toko sepeda. Melainkan belanja untuk yang di rumah. Khususnya bagi mereka yang butuh “visa khusus” dari istri, supaya kelak (mungkin tahun depan?) diizinkan pergi lagi”. (bersambung)

 

Penasaran Bau Cairan Isi Botol Minum Peter Sagan

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (7)
23 Juli 2012 – 09.11 WIB
Penasaran Bau Cairan Isi Botol Minum Peter Sagan
Khoiri Soetomo membentangkan bendera Jawa Pos SRBC (Surabaya Road Bike Community) di lintasan penonton di etape 19 Tour de France 2012, Sabtu (21/7/2012). (Foto: BOY SLAMET/JPNN)

Laporan AZRUL ANANDA, Prancis

Nonton start etape sudah. Finis juga sudah. Sabtu lalu (21/7) giliran pengalaman nonton individual time trial.Harus sabar karena lumayan panjang. Tapi, bumbu-bumbunya tetap mengasyikkan.

Setelah empat hari berturut-turut bersepeda di medan atau cuaca berat, dua hari berturut-turut rombongan penggemar sepeda Indonesia dijauhkan dari tunggangannya.

Jumat (20/7) adalah travel day, naik kereta jauh dari Pau di kawasan selatan Prancis menuju wilayah utara. Sabtu (21/7) kembali jadi hari VIP. Kali ini menonton Etape 19 Tour de France 2012 di sebuah kawasan khusus di Chartres, kota kecil 96 Km di selatan Paris.

Etape 19 ini merupakan etape spesial. Berupa ajang individual time trial (ITT). Setiap pembalap harus melaju secepatnya melawan stopwatch. Dia yang mampu mencatat waktu terbaik adalah pemenang etape. Ini mirip babak kualifikasi balap MotoGP atau Formula 1.

Karena pembalap harus melawan diri sendiri dan waktu, ajang ITT diberi julukan ‘’race of truth’’ di kalangan balap sepeda. Pembalap tidak bisa bohong, tidak bisa sembunyi. Tapi, ajang ITT di ujung Tour de France 2012 ini tidak sembarangan. Dari segi dampak ke lomba maupun tantangan.

Bagi lomba, inilah etape penentu juara. Dia yang menang di Etape 19 hampir pasti akan menjadi jawara Tour de France 2012. Sebab, setelah ini hanya tersisa satu etape pendek, 120 Km menuju Champs-Elysees di Paris.

Tahun ini Bradley Wiggins jadi unggulan. Di etape ini dia digadang-gadang mengunci juara dan mengamankan yellow jersey. Dalam hal tantangan, ini salah satu ajang ITT terpanjang dalam sejarah ‘’Le Tour’’. Setiap pembalap harus melaju secepatnya  sepanjang 53,5 kilometer dari Bonneval ke Chartres.

Bayangkan, bagi kita manusia normal, bersepeda 50 Km dengan kecepatan biasa saja sudah menjadi sebuah pencapaian. Bagi para pembalap Tour de France, mereka harus melahap 53,5 Km dengan kecepatan rata-rata hampir 50 Km per jam!

Di etape ini, setiap pembalap dilepas satu per satu. Jarak antara satu dengan yang lain dipisah 1 sampai 2 menit. Jadi, menontonnya beda dengan menonton etape biasa.

***
Pagi sekitar pukul 10.30, rombongan Jawa Pos Cycling diturunkan di sebuah kawasan di Chartres. Letaknya sekitar tiga kilometer dari garis finis Etape 19. Kawasan seperti lapangan ini sudah ditata khusus untuk pengunjung VIP dan para sponsor.

Tenda-tenda hospitality ditata membentuk keliling persegi panjang, dengan satu sisi jalan tempat para pembalap melintas.

Di tengah-tengahnya ada tenda besar untuk layanan makanan. Ada sebuah panggung kecil untuk acara dan atraksi. Beberapa sepeda bersejarah Tour de France juga dipajang. Salah satunya sebuah sepeda time trial lama merek Pinarello milik seorang legenda: Miguel Indurain.

Ada pula sebuah layar LED besar yang menampilkan tayangan langsung Etape 19 tersebut. Tempat itu ideal untuk nonton ITT karena jalan tempat pembalap lewat cenderung menurun. Pembalap-pembalap akan melintas di situ dengan sangat cepat.

Sebenarnya, ada opsi jalan-jalan yang bisa diambil. Bisa melihat-lihat katedralnya yang sangat kondang. ‘’Chartres terkenal karena dua hal: Katedral dan time trial Tour de France,’’ kata Francois Bernard, pemandu kami.

Para pembalap sendiri baru dijadwalkan meninggalkan Bonneval mulai pukul 12.00. Jadi, sambil mengisi kekosongan, penyelenggara menampilkan beberapa acara di panggung.

Sejumlah mantan pembalap diajak ngobrol, menjelaskan rekaman kiprah mereka di Tour de France yang ditampilkan di layar LED. Seorang bintang stunt, Mark Vinko, menunjukkan kemampuan akrobatnya memakai sebuah sepeda trial.

Hadir pula Christian Prudhomme (52), mantan jurnalis yang sejak 2005 menjadi general director Tour de France.

***
Siang itu tidak semua anggota rombongan menonton ITT sampai selesai. Sebagian memutuskan ke Paris duluan naik kereta. Memang, butuh kesabaran ekstra untuk menontonnya. Kami diberi ‘’modal’’ selembar kertas, berisi jadwal keberangkatan setiap pembalap.

Urutannya sesuai dengan general classification yang dibalik. Pembalap ranking terbawah duluan, ranking pertama terakhir.

Jadi, meski sudah berangkat berurutan sejak pukul 12.00, aksi nama-nama besar tidak langsung bisa dilihat. Hanya beberapa nama kondang yang muncul duluan. Seperti Mark Cavendish (Sky Procycling), yang start di urutan ke-12.

Dengan sabar, kami menunggu para bintang lewat. Sambil makan, minum, dan ngobrol di tenda yang khusus disediakan untuk rombongan kami. Lagi-lagi, ini kesempatan untuk ngobrol lebih lama dengan para peserta program dari negara lain.

Kami bercanda bahwa kami ini datang jauh-jauh hanya untuk melihat para pembalap berkelebat cepat nyaris tanpa suara. Wussss… Mereka lewat dengan cepat.

Tapi, memang lama-lama jadi terasa seru juga. Salah seorang pembalap yang paling ditunggu aksinya petang itu adalah Peter Sagan (Liquigas-Cannondale). Bintang muda Slovakia itu benar-benar mengagumkan tahun ini. Baru berusia 22 tahun, sudah meraih tiga kemenangan etape di Tour de France perdananya.

Sekitar pukul 15.30, Sagan yang ditunggu lewat. Dia nongol dari tikungan sedang mengayuh cepat sambil minum dari bidon (botol plastik). Pas ketika lewat, botol itu dia lempar ke kanan jalan.

Penggemar balap sepeda tentu sangat familiar dengan ini. Pembalap-pembalap biasanya langsung membuang botol begitu isinya habis. Nanti di feed zone atau via mobil pendamping, mereka bisa minta supply tambahan. Mendapatkan botol lemparan itu merupakan suvenir paling istimewa.

Sayang, waktu itu kami di sebelah kiri jalan. Botol dilempar ke kanan. Yang dapat adalah rekan satu program dari Brasil, Giuseppe, yang menyeberang jalan untuk menonton. Dengan santai, dia mengambil botol itu dari sisi jalan. Tampak penasaran, dia mengamatinya dan membuka tutupnya. Dia tampak mencium-cium isinya.

Kami pun ikut penasaran. Ketika balik ke tenda, satu per satu ingin memegang, melihat, dan mencium bau isi botol berwarna hijau tersebut.

Di bagian tutupnya ada tulisan spidol ‘’PS’’, inisial dari Peter Sagan. Ketika dibuka, masih ada sedikit cairan tersisa dan baunya kuat sekali. Seperti bau apel yang digabung dengan bahan kimia lain.

Sudah bukan rahasia lagi, pembalap sepeda memang tidak minum air biasa. Ada banyak merek bubuk dan cairan campuran yang bisa menambah energi dan sebagainya.

Setelah Sagan, banyak nama besar lewat. Setelah pukul 17.00, para bintang utama yang lewat. Terakhir adalah Bradley Wiggins (Sky), pemakai yellow jersey. Pada akhirnya, Wiggins pula yang merebut etape itu, sekaligus mengunci gelar Tour de France 2012.

Sebab, setelah Etape 19 berakhir di Chartres, hanya ada satu etape tersisa. Sebuah etape pendek 120 Km menuju Champs-Elysees, Paris. Menurut tradisinya, etape terakhir ini lebih layak disebut parade. Para pembalap sepakat tidak ada yang melarikan diri dari  peloton, menyiapkan ending yang spektakuler berupa bunch sprint.

Dalam setahun, Champs-Elysees (salah satu jalan paling kondang di dunia) hanya ditutup dua kali. Untuk Bastille Day (semacam hari kebangkitan Prancis) pada 14 Juli dan untuk etape penutup Tour de France.

Bagi rombongan kami, hari terakhir Le Tour ini juga membuat sangat excited. Sebab, sebagai peserta VIP, kami juga diberi kesempatan melintasi Champs-Elysees!

Ahad pagi (22/7) sebelum para pembalap tiba, kami boleh menjajal 10 Km terakhir etape penutup. Termasuk melewati kaki-kaki Menara Eiffel, plus melintasi garis finis!

Dalam perjalanan naik bus dari Chartres, ketika masuk di Paris, kami melihat betapa indahnya Eiffel. Lalu, bus kami berhenti di Champs-Elysees karena hotel kami memang terletak di kawasan itu. Kami melihat jalanan paving tersebut dan makin tidak sabar segera merasakan hari baru untuk melintasinya.(ia/bersambung)

Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (3-Habis)

Pergi hingga 100 Km Naik Karya Perancang Segway
24 Maret 2013 – 08.50 WIB
Pergi hingga 100 Km Naik Karya Perancang Segway
Seorang pengunjung sedang melihat salah satu konsep sepeda lipat inovatif dari Pasific Cycles di Nangang Exhibition Hall, Taipei. Sepeda ini dapat dimasukkan ke dalam koper tas saat bepergian. Foto: DIPTA WAHYU/JAWAPOS

Seheboh apapun konsepnya, fungsi utama sepeda adalah alat transportasi. Di Taipei Cycle 2013, ada banyak sepeda lipat dan e-bike yang membuat fungsi utama itu lebih praktis dan keren.

Catatatn AZRUL ANANDA dan DIPTA WAHYU, Taipei

Ada 1.103 exhibitor di Taipei Cycle 2013, menampilkan entah berapa puluh ribu sepeda. Mulai sepeda anak-anak, sepeda belanja, sepeda lipat, mountain bike (MTB), road bike (balap), hingga e-bike (sepeda elektrik). Semua dengan segala variannya.

Jumlah exhibitor itu adalah rekor baru dari event yang sudah terselenggara kali ke-26 ini. Jumlahnya 6 persen lebih banyak dari tahun lalu. Peningkatan itu pada dasarnya didorong oleh dua hal: meningkatnya popularitas sports bike di Asia plus dorongan pengembangan e-bike sebagai salah satu alternatif transportasi, asa masa depan (sebenarnya sudah menjadi alternatif di masa sekarang).

Sebelum berbicara ke e-bike sebagai sarana transportasi, kita bisa ‘mundur’ dulu ke konsep sepeda yang pada dasarnya dibuat sebagai sarana transportasi praktis: sepeda lipat.

Kalau ditotal, sepeda lipat dan sepeda-sepeda urban (sehari-hari) tetap menjadi penghuni dominan Taipei Cycle 2013. Wajar, karena ini kan memang pameran industri sepeda. Dan sepeda yang paling laris tentu sepeda yang fungsinya seperti itu. Bukan yang untuk sport. ‘’Sepeda lipat di sini paling banyak. Kalau dari sport, 60 persen road bike dan 40 persen MTB,’’ observasi Iwan Budi Santoso dari Graha Sepeda Surabaya.

Sepeda lipat, tentu saja, jenis dan positioning pasarnya macam-macam. Ada yang dibuat semurah mungkin, ada yang memang berkelas seperti merek Brompton. Penggemar merek Inggris itu mungkin sangat suka dengan salah satu produk yang dipajang di Taipei: S6L The Barca Brompton Limited Edition. Kira-kira hanya 500 unit yang diproduksi.

Keliling lagi di Nangang Exhibition Hall, ada beberapa produsen yang mencoba membuat sepeda lipat lebih baik lagi. Lebih baik dalam arti lebih praktis, lebih ringan dan ‘lebih-lebih’ lain yang membantu pemakainya sehari-hari.

Dalam hal ini, yang ‘menang’ adalah IFmove buatan Pacific Cycles. Menang dalam arti literal, karena IFmove merupakan salah satu pemenang Taipei Cycle di Awards 2013.

Apa istimewanya? Pertama, dalam kecepatan melipat. Hanya membutuhkan dua detik untuk melipat atau membuka lipatannya. Tentu itu membuatnya superpraktis, khususnya bagi yang suka tergesa-gesa dalam pemakaian sehari-harinya.

Walau lipatannya sederhana, IFmove tetap memiliki karakter handling dan performance yang bisa diadu dengan sepeda lipat lain. Plus, sepeda lipat berbahan aluminium tersebut sangat ringan. Hanya 10 kilogram. Menurut Pacific Cycles, IFmove sudah akan dijual bulan depan di berbagai negara. Harga yang disebut di kisaran Rp15 juta-Rp20 juta.

Mau sepeda praktis, tapi tetap malas banyak mengayuh? E-bike perlu menjadi pertimbangan. Dan di Taipei Cycle, ada buaanyaaak yang bisa dipertimbangkan. Tidak mau membeli sepeda utuh juga bisa. Pakai saja sepeda yang sudah ada di rumah, khususnya MTB standar, lalu pasang komponen elektriknya. Seperti yang disediakan GreenTrans Corporation Taiwan.

Mereka menyediakan E-bike Power Kit. Terdiri atas baterai yang bisa dipasang di downtube (tempat botol minum) atau di bawah boncengan belakang. Ada pula torque sensor, terpasang di bottom bracket (tempat tuas pedal terpasang). Plus motor elektrik (pada ban belakang), juga konsol LCD 2,8 inci (monitor di setir).

Menurut GreenTrans, harga satu set komponen itu di kisaran 600 hingga 700 dolar AS (tidak sampai Rp7 juta). Tapi, mereka belum menjual langsung ke end user (konsumen), melainkan ke produsen-produsen sepeda.

‘’Kami masih berfokus ke pasar Eropa karena di sanalah tempat pertumbuhan terbesar untuk e-bike saat ini. Dan di sana kami harus mengikuti regulasi yang ketat. Akan lebih safety kalau kit kami disesuaikan dengan sepeda yang dibuat khusus,’’ jelas Max Wang, salah seorang manager marketing and business GreenTrans.

Setelah dipasangi komponen elektrik itu, GreenTrans mengklaim, harga sepeda ketika sampai ke konsumen bisa lebih dari 2.000 dolar AS. ‘’Sistem ini akan sangat membantu anak-anak, orang berusia lanjut atau mereka yang bersepeda tapi bukan berorientasi sport,’’ tambah Max Wang. Kalau mau agak high concept, bisa ke booth DK City, juga perusahaan Taiwan. Di situ ada dua sepeda lipat sekaligus elektrik yang desainnya modern dan memukau. Yang pertama adalah db0 folding bike. Sepeda listrik yang bisa dilipat ringkas.

Tidak mau yang lipat? Ada db07 dengan frame berbentuk huruf ‘V’. Memakai 500W/250W DC brushless motor pada hub belakang, sepeda tersebut bisa mengantarkan kita bersepeda sejauh 100 Km sebelum kehabisan baterai. Itu karena baterai lithium 36V-nya 11Ah.

Pasang lepas baterai sangat mudah. Pada ‘lengan’ bagian belakang, ada tutup hijau yang bisa dibuka. Lantas, baterainya tinggal dikeluarkan. Ingin mengetahui berapa kapasitas baterai tersisa juga tidak perlu pasang monitor. Ada indikator yang terpasang cantik pada ‘lingkaran’ dasar huruf V, di atas bottom bracket.

Desain modern (bisa juga disebut futuristis) itu bukan dari Taiwan, melainkan dari ROBRADY Design, sebuah perusahaan AS yang sebelum ini kondang sebagai desainer Segway.
***

Kalau mau membicarakan semua sepeda yang ada di Taipei Cycle 2013, bisa berhari-hari tanpa habisnya. Bagi pengunjung dari kalangan industri sepeda, ada empat hari yang bisa dimaksimalkan, mulai 20 Maret hingga penutupan Sabtu kemarin (23/3).

Pengunjung umum memang kasihan. Mereka hanya punya kesempatan Sabtu kemarin, pukul 09.00 hingga 15.00. Mereka bisa masuk dengan membayar 200 dolar Taiwan atau sekitar Rp70 ribu. Jelas sangat tidak cukup untuk menikmati seluruh kawasan pameran.

Bagi yang penasaran, memang masih ada tahun-tahun berikutnya. Dan Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) bersama Taiwan Bicycle Exporter Association (TBEA) sebagai penyelenggara akan terus berusaha menjadikan event ini sebagai yang terbesar dan terbaik di dunia.

Jadwal untuk Taipei Cycle 2014 sudah diumumkan, yaitu pada 5-8 Maret 2014. Sedangkan, pada 2016, besar kemungkinan hall baru untuk perluasan Nangang Exhibition Hall sudah bisa digunakan.

Bukan tidak mungkin, pada 2016 itu pula, bersamaan dengan terus berkembangnya pasar di Asia, Taipei Cycle sudah menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia.**

sumber :www.jpnn.com

Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (2)

Sabtu, 23 Maret 2013 , 08:14:00

Bakal Sepertiga Asia, Sepertiga Eropa, dan Sepertiga Amerika

TERKESAN: Philip Gordon White (Founder Cervelo) bersama Azrul Ananda menunjukkan frame Cervelo RCA pada pameran Taipei International Cycle Show di Taipei Nangang Exhibition Hall, Jumat (22/3).

Pameran sepeda tidak seru tanpa melihat sepeda-sepeda konsep, eksotis, dan supermahal. Di Taipei, harian ini sempat berbicara pula dengan tokoh-tokoh kondang di balik karya-karya spektakuler itu. AZRUL ANANDA danDIPTA WAHYU – TAIPEI

PAMERAN sepeda mirip pameran mobil. Seberapa banyak pun mobil yang terjual, seberapa banyak pun model yang dipajang, tetap tidak akan menarik tanpa konsep-konsep baru atau produk-produk yang bisa bikin orang berdecak kagum atau geleng-geleng kepala.

Di Taipei Cycle 2013, khususnya di gedung utama Nangang Exhibition Hall, ada beberapa  yang mampu memberikan efek serupa. Khususnya dari “aliran cepat” alias road bike.

Kalau di pameran mobil, produkproduk ini seperti mobil balap atau supercar yang dipajang di tengah kumpulan sedan. Langsung menonjol dan mencuri perhatian.

Di lantai 4 Nangang, di booth Cer velo, ada sebuah brand highend road bike asal Kanada. Ada satu sepeda berwarna hitam polos, dengan komponen dan aksesori kar bon polos, yang terpajang. Warnanya memang tidak mencolok. Tapi, bagi kalangan penggemar se peda, yang satu ini wajib dipandangi dan dikagumi.

Produk ini benar-benar baru gres. Baru dalam hitungan hari diperke nalkan ke dunia dan menghebohkan para penggemar. Sepeda balap itu dibangun dari frame bernama Cervelo Rca. Sebuah frame yang hanya akan dijual 325 biji di seluruh dunia, yang harganya tertulis USD 11.500. Ya, hanya frame yang harganya di kisaran Rp110 juta!

Apa istimewanya? Frame itu diran cang khusus di unit riset dan pengembangan Cervelo di California, AS. Frame tersebut dibuat memenuhi beberapa tuntutan desain, yang beberapa tahun lalu bisa dianggap “impossible”. Yaitu, bobot di kisaran 600 gram bersama baut-bautnya, tapi tetap memiliki stifness (tingkat kekakuan) superior, plus harus aerodinamis.

Frame seringan itu tentu mampu menghasilkan full bike yang spektakuler ringannya. Nah, sepeda hitam yang dipajang tersebut adalah buktinya.

Dipadu dengan wheelset dan komponen-komponen karbon ringan merek AX Lightness, plus groupset Shimano Dura-Ace 9000 terbaru 11-speed dan crank Rotor, bobot total sepeda itu hanya 4,5 kilogram!

Itu dengan frame ukuran 54 (medium, untuk tinggi kisaran 175 cm). Kalau kecil seperti kebanyakan ukuran Asia, bisa lebih ringan lagi.

“Kalau ukuran 48 (extra small, red), bobot frame-nya turun lagi di angka 500-an gram,” ungkap Phil White, salah seorang founder Cervelo, yang di Taipei meluangkan waktu khusus untuk berbincang dengan Jawa Pos.

Di kalangan sepeda, nama Phil White -yang mendirikan Cervelo bersama Gerard Vroomen- sangat melegenda. Pria kelahiran 1962 itu seperti Ernesto Colnago dan Giovanni Pinarello di Italia. Dan di kancah pasar niche sepeda balap elite, White menyebut Cervelo memang berada di lahan yang sama dengan dua brand tersebut.

“Kami tak bisa menyebut berapa angka penjualannya. Tapi, kami mungkin setara dengan Pinarello, sedangkan Colnago sekitar 20-30 persen lebih sedikit,” ujarnya.

Dari situ, kita bisa menebak berapa kisarannya. Sebab, secara publik, Ernesto Colnago, yang pernah diwawancarai Jawa Pos di Italia akhir 2012, mengaku membatasi jumlah produksinya di angka 20 ribu sepeda per tahun.

Cervelo sendiri, tampaknya, tidak ingin membatasi jumlah produksi. Sekitar setahun lalu, Cervelo diakuisisi grup besar Belanda, Pon, yang juga memiliki merek sepeda lain seperti Focus danGiselle. Meski demikian, fokusnya tetap pada produk high-end di aliran road bike.

“Pon memosisikan Cervelo seperti Lamborghini atau Porsche-nya sepeda. Sedangkan merek Focus lebih masal seperti Volkswagen,” jelas White.

Dengan akuisisi itu, White tidak lagi menjabat CEO. Dia kini chairman. Dan dia merasa itu lebih  baik. Sebagai orang dengan latar belakang inovasi, dia mengaku lega pekerjaan-pekerjaan keras dan membosankan seperti operasional dan bisnis dipegang orang lain. Apalagi, ini di tangan grup besar, yang bisa mendorong Cervelo lebih besar lagi.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal produksi. Sekarang masalah itu bisa teratasi,” paparnya. Pada masa mendatang, memang

akan ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang makin global. Apalagi dengan potensi pasar Asia yang luar biasa. “Saat ini, pasar Amerika-Kanada dan Amerika Serikat kami anggap satu, masih yang terbesar bagi kami. Eropa mungkin akan menyalip jadi pasar terbesar. Tapi, dalam lima sampai sepuluh tahun, saya kira komposisinya akan setara. Sepertiga di Asia, sepertiga di Eropa, dan sepertiga di Amerika,” paparnya.

Kini, White dan Vroomen bisa lebih bebas untuk kembali berin ovasi. White, yang mengaku hobi balap mobil, bisa memikirkan hal-hal baru yang bisa membantu Cervelo menghasilkan kejutan-kejutan baru. Sementara itu, Vroo men kini malah bereksplorasi di arena mountain bike, membuat merek baru lagi bernama “Open Cycle”.

Setelah Rca, kapan ada inovasi kejutan lagi? “Kita butuh tiga sampai empat tahun untuk menghasilkan Rca. Jadi, terobosan baru lagi mungkin butuh tiga tahun lagi,” pungkasnya.
***

Cervelo dulu adalah brand yang dikembangkan inovator dan entrepreneur yang kini meraup sukses besar. Di lantai dasar Nangang, ada brand inovatif, yang mulai jadi pergunjingan, dan kelak berpotensi jadi merek besar baru.

Merek itu adalah “Culprit”, yang fokus di arena aero road bike. Pendirinya adalah Joshua Colp. Pria asal California, AS, itu baru berusia 31 tahun. Tapi, dia sudah delapan tahun tinggal di Taiwan ber sama istri, dan menegaskan tidak ingin kembali ke Amerika.

“Kalau sedang di Amerika, saya justru kangen dan ingin segera balik ke sini,” ungkapnya.

Hebatnya, Colp tidak punya latar belakang teknis. Latar belakangnya adalah bisnis, dan bertahun-tahun bekerja di Taiwan untuk brand kondang asal negara tersebut, Trigon.

“Tapi, saya sangat cinta bersepeda. Dan saat bersepeda, saya selalu berpikir bagaimana membuat pengalaman itu lebih hebat lagi, dan perubahan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya,” ujarnya.

Dia pun mendirikan Culprit. Visinya bisa direalisasikan di Taiwan, yang memiliki industri pendukung. Karya utamanya sekarang adalah Culprit Croz Blade, yang memenangi 2013 Taipei Bike Show IF Design Award. Itu adalah sepeda balap aero, yang bisa dipakai sebagai sepeda time trial (TT).

Apa uniknya? Desain aero road  bike memang sudah banyak. Semua brand terbesar memiliki model aero road bike. Bedanya, sejak awal Culprit fokus memakai disc brake. Merek itu merupakan salah satu di antara segelintir yang mengeluarkan sepeda balap memakai disc brake.

Colp percaya, masa depan road bike memakai disc brake. Dan slogan Culprit adalah “The future is now”.

Karya terbesar Culprit sendiri sekarang belum beredar. Di Taipei Cycle 2013, yang dipajang baru prototipenya. Namanya Culprit Legend, sepeda TT khusus triathlon.

Colp mengizinkan sepeda itu difoto hanya oleh media. Yang lain sama sekali dilarang, karena takut banyak inovasinya akan dipalsu (walau sudah dia patenkan). Dia pun memohon agar detailnya tidak difoto.

Legend, mungkin, akan membuat Colp menjadi legenda sepeda masa depan. Fitur paling berani: Tidak memakai seatstay, atau sepasang “batang” penopang yang meng hubungkan bagian belakang frame dengan bagian atas di dekat sadel.

Mengapa? Colp menjelaskan, sepeda TT memang sangat cepat, tapi biasanya juga sangat kaku dan keras. “Tanpa seatstay, sepeda jadi lebih nyaman, karena tidak ada getaran yang naik ke sadel,” jelasnya.

Sepeda itu disebut akan memberikan keunggulan bagi atlet triathlon. Karena lebih nyaman, pengendaranya akan lebih fresh dan bisa mengikuti fase lomba berikutnya (lari) lebih kuat.

Untuk melakukan itu, butuh proses produksi yang inovatif, yang memastikan chainstay (penopang roda belakang) cukup kuat dan kaku.

Legend juga memakai disc brake. Plus, semua kabelnya di kawasan kokpit (depan) tersembunyi di dalam frame atau fork (garpu depan). Tentu saja, bobotnya harus ringan. Colp menarget bobot sepeda total di kisaran 6-7 kilogram.

Colp mengungkapkan, prototipe Legend yang dipajang itu masih terbuat dari plastik. Versi karbonnya baru akan selesai dibangun bulan depan. “Saya akan mengujinya dulu, memastikan keandalannya sebelum mulai menjualnya,” ucapnya.

Selain bikin aero road bike, Culprit punya obsesi unik: Membuat sepeda balap terbaik untuk anakanak. Salah satu produknya, Junior One, juga memenangi 2013 IF Design Award.

“Sebab, small rider (anak-anak, Red) juga punya hasrat untuk naik sepeda high-end.” Begitu yang tertulis di profil Culprit.
***

Di Taipei Cycle 2013, produk eksotis dan inovatif tidak hanya dari arena road bike. Sepeda listrik dan lipat pun bisa mengajak kita geleng-geleng kepala.(*)
(bersambung)

Jalan 6 Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (1)

Bangun Hall Baru agar Jadi Show Terbesar di Dunia
22 Maret 2013 – 11.32 WIB
Bangun Hall Baru agar Jadi Show Terbesar di Dunia
Taipei Nangang Exhibition Hall dengan luas kurang dari enam hektare yang mampu menampung ribuan pameran, salah satunya Taipe International Cycle Show, Kamis (21/3/2013). Foto: Dipta Wahyu/JPNN
Taipei International Cycle Show 2013 benar-benar besar. Luas areanya hampir 6 hektare di beberapa gedung. Perlu tiga hari jalan keliling untuk mengamati semua exhibitor.
———————–
Catatan AZRUL ANANDA dan DIPTA WAHYU, Taiwan
———————–
SEJAK tahun lalu saya ingin melihat Taipei Cycle (nama populer event). Teman-teman yang pengusaha sepeda berkali-kali menganjurkan saya untuk mengunjunginya. Bagaimanapun, inilah pameran sepeda terbesar di Asia, salah satu di antara tiga pameran terbesar di dunia.

Kalau ke Eropa atau Amerika untuk melihat pameran terbesar lain, tentu tidak sepraktis terbang ke Taiwan. Tapi, keputusan untuk benar-benar pergi saya ambil nyaris last minute. Banyak jadwal dan lain-lain yang membuat saya tak berani memastikan pergi. Ketika benar-benar ada celah waktu, saya pun memutuskan untuk go. Dan memang harus go!

Padahal, Selasa (19/3) pagi, sebelum terbang ke Taipei, saya jatuh saat latihan sepeda balap. Salah satu tulang di telapak kanan saya patah. Saya minta operasi ditunda sepulang dari Taipei saja. Untuk sementara digips saja.

Toh, saya masih bisa jalan, masih bisa beraktivitas. Yang sulit paling ketika harus mengetik laporan atau catatan. Saya tidak bisa mengetik sepuluh jari seperti biasa. Harus ‘’sebelas jari’’ seperti generasi ayah saya.

Selasa malam itu saya dan Dipta Wahyu terbang ke Taipei. Mendarat Rabu pagi (20/3), check in di hotel, lalu langsung ke Nangang Exhibition Hall, lokasi utama diselenggarakannya pameran.
***

Nangang Exhibition Hall besar sekali. Seluruh lantainya dipakai untuk Taipei Cycle 2013. Termasuk dua lantai dengan hall terbesar, lantai pertama dan lantai keempat. Ditambah dengan gedung-gedung lain, total Taipei Cycle memakai venue seluas 58 ribu meter persegi. Itu hampir 6 hektare!

Gedung lain yang dipakai adalah Taipei World Trade Center (TWTC) Hall 1 dan Hall 3 di kawasan pusat kota, dekat dengan gedung pencakar langit Taipei-101.

Dari Nangang dan TWTC tersedia shuttle bus yang rutin bolak-balik mengangkut peserta dan pengunjung pameran.

Semua itu mampu mengakomodasi lebih dari 1.100 exhibitor dari berbagai penjuru dunia. Dengan nyaman, lebih dari 7.000 pengunjung (dari kalangan industri sepeda dan sports) bisa berputar-putar dan berbisnis di dalamnya. Selain show sepeda, event tahun ini juga digabung dengan Taipei Sporting Goods Show (TaiSPO), Taiwan Int’l Sports Textile and Accessory Expo (SPOMODE), serta Diving & Water Sports Show (DiWAS). Beberapa kawasan outdoor di Nangang pun ikut disiapkan untuk keperluan test ride atau atraksi.

Saking besarnya, hari pertama itu -sejak pagi sampai sore- kami baru sempat ‘’menghabiskan’’ area di lantai empat di Nangang. Kebetulan, beberapa merek terbesar berpameran di sana. Acara opening ceremony yang dihadiri Wakil Presiden Wu Den-yih juga dilakukan di situ. Plus, press center tempat kami bisa bekerja juga di lantai tersebut.

Selama acara pembukaan, ditegaskan terus bagaimana Taiwan berniat untuk terus menjadi “Kerajaan Sepeda” di masa mendatang. ‘’Taiwan sudah menjadi pusat suplai untuk keperluan sepeda-sepeda high-end dunia,’’ tegas Wang Chih-kang, Chairman Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), penyelenggara Taipei Cycle.

Ke depan, Taiwan juga berambisi menjadikan event itu sebagai yang terbesar di dunia. Untuk melakukan itu, diperlukan venue baru yang lebih besar lagi.

Wang menyampaikan, pembangunan exhibition hall baru di sekitar Nangang sudah dimulai. Wakil Presiden Wu juga telah mendorong agar pembangunan venue baru itu dipercepat lagi.

Bisa dibayangkan betapa besarnya Taipei Cycle itu nanti. Sekarang saja, perlu waktu sekitar tiga hari untuk bisa menengok seluruh kawasan pameran. Belum lagi kalau ingin mengunjungi sejumlah stan secara khusus.

Tahun ini event diselenggarakan selama empat hari. Berakhir Sabtu besok (23/3). Bagi penonton umum lebih merepotkan lagi. Sebab, mereka hanya boleh membeli tiket untuk melihat pada hari terakhir. Itu pun hanya sampai pukul 15.00!
***

Pemerintah Taiwan memang men-support total event yang mendukung industri sepeda sendiri itu. Para pengunjung internasional yang mendaftar ke TAITRA, kalau berasal dari kalangan bisnis sepeda, mendapat fasilitas hotel gratis. Transportasi berupa shuttle bus dari hotel ke venue (dan sebaliknya) juga gratis. Plus, di venue dapat kupon makan gratis. Kalau ingin jadi turis, pengunjung internasional juga diberi tiket gratis naik ke observatory Taipei-101, salah satu gedung tertinggi di dunia. Seperti yang didapatkan V Christian Pieschel alias Chies dari Velomix Surabaya. ‘’Saya daftar awal Februari, hanya perlu kirim kartu nama dan surat rekomendasi toko,’’ aku Chies, yang mendapat jatah menginap di Fullerton Hotel dan ‘’bonus ekstra’’ kamar suite.

Walau dapat fasilitas transportasi, Chies benar-benar ingin menikmati suasana bersepeda. Dia membawa sepeda Brompton-nya dari Indonesia. Kamis kemarin (21/3) ia mengayuhnya dari hotel ke venue pameran.

‘’Hanya sekitar 5 kilometer. Yang tidak tahan dingin dan anginnya,’’ ujar dia. Suhu udara Kamis kemarin memang sempat agak turun ke kisaran 16 derajat celsius. Sekitar lima derajat lebih dingin daripada sehari sebelumnya.

Menurut data yang dikeluarkan TAITRA, nilai transaksi yang dihasilkan dari pameran tahun ini saja bisa mencapai 300 juta dolar AS atau hampir Rp3 triliun.
***

Taipei Cycle memang lebih fokus ke industri sepeda. Bagi yang ingin memiliki brand sendiri, semua vendor yang diperlukan berpameran di sini. Mulai pembuatan frame dan komponen, pengecatan, dan lain sebagainya.

Tapi, bukan berarti event itu boring untuk penggemar sepeda dan tren terbarunya. Sejumlah sepeda baru yang memukau di-launching di sini. Beberapa prototipe keren juga ditampilkan, yang kelak bisa menjadi tren paling populer.

Tidak ketinggalan kategori e-bike. Baik itu sepeda bermotor listrik maupun komponen motor elektrik yang bisa dipasangkan pada sepeda apa pun. Benar-benar banyak barang yang bisa bikin para penggemar sepeda meneteskan air liur.(bersambung)

sumber :www.jpnn.com