Penasaran Bau Cairan Isi Botol Minum Peter Sagan

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (7)
23 Juli 2012 – 09.11 WIB
Penasaran Bau Cairan Isi Botol Minum Peter Sagan
Khoiri Soetomo membentangkan bendera Jawa Pos SRBC (Surabaya Road Bike Community) di lintasan penonton di etape 19 Tour de France 2012, Sabtu (21/7/2012). (Foto: BOY SLAMET/JPNN)

Laporan AZRUL ANANDA, Prancis

Nonton start etape sudah. Finis juga sudah. Sabtu lalu (21/7) giliran pengalaman nonton individual time trial.Harus sabar karena lumayan panjang. Tapi, bumbu-bumbunya tetap mengasyikkan.

Setelah empat hari berturut-turut bersepeda di medan atau cuaca berat, dua hari berturut-turut rombongan penggemar sepeda Indonesia dijauhkan dari tunggangannya.

Jumat (20/7) adalah travel day, naik kereta jauh dari Pau di kawasan selatan Prancis menuju wilayah utara. Sabtu (21/7) kembali jadi hari VIP. Kali ini menonton Etape 19 Tour de France 2012 di sebuah kawasan khusus di Chartres, kota kecil 96 Km di selatan Paris.

Etape 19 ini merupakan etape spesial. Berupa ajang individual time trial (ITT). Setiap pembalap harus melaju secepatnya melawan stopwatch. Dia yang mampu mencatat waktu terbaik adalah pemenang etape. Ini mirip babak kualifikasi balap MotoGP atau Formula 1.

Karena pembalap harus melawan diri sendiri dan waktu, ajang ITT diberi julukan ‘’race of truth’’ di kalangan balap sepeda. Pembalap tidak bisa bohong, tidak bisa sembunyi. Tapi, ajang ITT di ujung Tour de France 2012 ini tidak sembarangan. Dari segi dampak ke lomba maupun tantangan.

Bagi lomba, inilah etape penentu juara. Dia yang menang di Etape 19 hampir pasti akan menjadi jawara Tour de France 2012. Sebab, setelah ini hanya tersisa satu etape pendek, 120 Km menuju Champs-Elysees di Paris.

Tahun ini Bradley Wiggins jadi unggulan. Di etape ini dia digadang-gadang mengunci juara dan mengamankan yellow jersey. Dalam hal tantangan, ini salah satu ajang ITT terpanjang dalam sejarah ‘’Le Tour’’. Setiap pembalap harus melaju secepatnya  sepanjang 53,5 kilometer dari Bonneval ke Chartres.

Bayangkan, bagi kita manusia normal, bersepeda 50 Km dengan kecepatan biasa saja sudah menjadi sebuah pencapaian. Bagi para pembalap Tour de France, mereka harus melahap 53,5 Km dengan kecepatan rata-rata hampir 50 Km per jam!

Di etape ini, setiap pembalap dilepas satu per satu. Jarak antara satu dengan yang lain dipisah 1 sampai 2 menit. Jadi, menontonnya beda dengan menonton etape biasa.

***
Pagi sekitar pukul 10.30, rombongan Jawa Pos Cycling diturunkan di sebuah kawasan di Chartres. Letaknya sekitar tiga kilometer dari garis finis Etape 19. Kawasan seperti lapangan ini sudah ditata khusus untuk pengunjung VIP dan para sponsor.

Tenda-tenda hospitality ditata membentuk keliling persegi panjang, dengan satu sisi jalan tempat para pembalap melintas.

Di tengah-tengahnya ada tenda besar untuk layanan makanan. Ada sebuah panggung kecil untuk acara dan atraksi. Beberapa sepeda bersejarah Tour de France juga dipajang. Salah satunya sebuah sepeda time trial lama merek Pinarello milik seorang legenda: Miguel Indurain.

Ada pula sebuah layar LED besar yang menampilkan tayangan langsung Etape 19 tersebut. Tempat itu ideal untuk nonton ITT karena jalan tempat pembalap lewat cenderung menurun. Pembalap-pembalap akan melintas di situ dengan sangat cepat.

Sebenarnya, ada opsi jalan-jalan yang bisa diambil. Bisa melihat-lihat katedralnya yang sangat kondang. ‘’Chartres terkenal karena dua hal: Katedral dan time trial Tour de France,’’ kata Francois Bernard, pemandu kami.

Para pembalap sendiri baru dijadwalkan meninggalkan Bonneval mulai pukul 12.00. Jadi, sambil mengisi kekosongan, penyelenggara menampilkan beberapa acara di panggung.

Sejumlah mantan pembalap diajak ngobrol, menjelaskan rekaman kiprah mereka di Tour de France yang ditampilkan di layar LED. Seorang bintang stunt, Mark Vinko, menunjukkan kemampuan akrobatnya memakai sebuah sepeda trial.

Hadir pula Christian Prudhomme (52), mantan jurnalis yang sejak 2005 menjadi general director Tour de France.

***
Siang itu tidak semua anggota rombongan menonton ITT sampai selesai. Sebagian memutuskan ke Paris duluan naik kereta. Memang, butuh kesabaran ekstra untuk menontonnya. Kami diberi ‘’modal’’ selembar kertas, berisi jadwal keberangkatan setiap pembalap.

Urutannya sesuai dengan general classification yang dibalik. Pembalap ranking terbawah duluan, ranking pertama terakhir.

Jadi, meski sudah berangkat berurutan sejak pukul 12.00, aksi nama-nama besar tidak langsung bisa dilihat. Hanya beberapa nama kondang yang muncul duluan. Seperti Mark Cavendish (Sky Procycling), yang start di urutan ke-12.

Dengan sabar, kami menunggu para bintang lewat. Sambil makan, minum, dan ngobrol di tenda yang khusus disediakan untuk rombongan kami. Lagi-lagi, ini kesempatan untuk ngobrol lebih lama dengan para peserta program dari negara lain.

Kami bercanda bahwa kami ini datang jauh-jauh hanya untuk melihat para pembalap berkelebat cepat nyaris tanpa suara. Wussss… Mereka lewat dengan cepat.

Tapi, memang lama-lama jadi terasa seru juga. Salah seorang pembalap yang paling ditunggu aksinya petang itu adalah Peter Sagan (Liquigas-Cannondale). Bintang muda Slovakia itu benar-benar mengagumkan tahun ini. Baru berusia 22 tahun, sudah meraih tiga kemenangan etape di Tour de France perdananya.

Sekitar pukul 15.30, Sagan yang ditunggu lewat. Dia nongol dari tikungan sedang mengayuh cepat sambil minum dari bidon (botol plastik). Pas ketika lewat, botol itu dia lempar ke kanan jalan.

Penggemar balap sepeda tentu sangat familiar dengan ini. Pembalap-pembalap biasanya langsung membuang botol begitu isinya habis. Nanti di feed zone atau via mobil pendamping, mereka bisa minta supply tambahan. Mendapatkan botol lemparan itu merupakan suvenir paling istimewa.

Sayang, waktu itu kami di sebelah kiri jalan. Botol dilempar ke kanan. Yang dapat adalah rekan satu program dari Brasil, Giuseppe, yang menyeberang jalan untuk menonton. Dengan santai, dia mengambil botol itu dari sisi jalan. Tampak penasaran, dia mengamatinya dan membuka tutupnya. Dia tampak mencium-cium isinya.

Kami pun ikut penasaran. Ketika balik ke tenda, satu per satu ingin memegang, melihat, dan mencium bau isi botol berwarna hijau tersebut.

Di bagian tutupnya ada tulisan spidol ‘’PS’’, inisial dari Peter Sagan. Ketika dibuka, masih ada sedikit cairan tersisa dan baunya kuat sekali. Seperti bau apel yang digabung dengan bahan kimia lain.

Sudah bukan rahasia lagi, pembalap sepeda memang tidak minum air biasa. Ada banyak merek bubuk dan cairan campuran yang bisa menambah energi dan sebagainya.

Setelah Sagan, banyak nama besar lewat. Setelah pukul 17.00, para bintang utama yang lewat. Terakhir adalah Bradley Wiggins (Sky), pemakai yellow jersey. Pada akhirnya, Wiggins pula yang merebut etape itu, sekaligus mengunci gelar Tour de France 2012.

Sebab, setelah Etape 19 berakhir di Chartres, hanya ada satu etape tersisa. Sebuah etape pendek 120 Km menuju Champs-Elysees, Paris. Menurut tradisinya, etape terakhir ini lebih layak disebut parade. Para pembalap sepakat tidak ada yang melarikan diri dari  peloton, menyiapkan ending yang spektakuler berupa bunch sprint.

Dalam setahun, Champs-Elysees (salah satu jalan paling kondang di dunia) hanya ditutup dua kali. Untuk Bastille Day (semacam hari kebangkitan Prancis) pada 14 Juli dan untuk etape penutup Tour de France.

Bagi rombongan kami, hari terakhir Le Tour ini juga membuat sangat excited. Sebab, sebagai peserta VIP, kami juga diberi kesempatan melintasi Champs-Elysees!

Ahad pagi (22/7) sebelum para pembalap tiba, kami boleh menjajal 10 Km terakhir etape penutup. Termasuk melewati kaki-kaki Menara Eiffel, plus melintasi garis finis!

Dalam perjalanan naik bus dari Chartres, ketika masuk di Paris, kami melihat betapa indahnya Eiffel. Lalu, bus kami berhenti di Champs-Elysees karena hotel kami memang terletak di kawasan itu. Kami melihat jalanan paving tersebut dan makin tidak sabar segera merasakan hari baru untuk melintasinya.(ia/bersambung)

Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (3-Habis)

Pergi hingga 100 Km Naik Karya Perancang Segway
24 Maret 2013 – 08.50 WIB
Pergi hingga 100 Km Naik Karya Perancang Segway
Seorang pengunjung sedang melihat salah satu konsep sepeda lipat inovatif dari Pasific Cycles di Nangang Exhibition Hall, Taipei. Sepeda ini dapat dimasukkan ke dalam koper tas saat bepergian. Foto: DIPTA WAHYU/JAWAPOS

Seheboh apapun konsepnya, fungsi utama sepeda adalah alat transportasi. Di Taipei Cycle 2013, ada banyak sepeda lipat dan e-bike yang membuat fungsi utama itu lebih praktis dan keren.

Catatatn AZRUL ANANDA dan DIPTA WAHYU, Taipei

Ada 1.103 exhibitor di Taipei Cycle 2013, menampilkan entah berapa puluh ribu sepeda. Mulai sepeda anak-anak, sepeda belanja, sepeda lipat, mountain bike (MTB), road bike (balap), hingga e-bike (sepeda elektrik). Semua dengan segala variannya.

Jumlah exhibitor itu adalah rekor baru dari event yang sudah terselenggara kali ke-26 ini. Jumlahnya 6 persen lebih banyak dari tahun lalu. Peningkatan itu pada dasarnya didorong oleh dua hal: meningkatnya popularitas sports bike di Asia plus dorongan pengembangan e-bike sebagai salah satu alternatif transportasi, asa masa depan (sebenarnya sudah menjadi alternatif di masa sekarang).

Sebelum berbicara ke e-bike sebagai sarana transportasi, kita bisa ‘mundur’ dulu ke konsep sepeda yang pada dasarnya dibuat sebagai sarana transportasi praktis: sepeda lipat.

Kalau ditotal, sepeda lipat dan sepeda-sepeda urban (sehari-hari) tetap menjadi penghuni dominan Taipei Cycle 2013. Wajar, karena ini kan memang pameran industri sepeda. Dan sepeda yang paling laris tentu sepeda yang fungsinya seperti itu. Bukan yang untuk sport. ‘’Sepeda lipat di sini paling banyak. Kalau dari sport, 60 persen road bike dan 40 persen MTB,’’ observasi Iwan Budi Santoso dari Graha Sepeda Surabaya.

Sepeda lipat, tentu saja, jenis dan positioning pasarnya macam-macam. Ada yang dibuat semurah mungkin, ada yang memang berkelas seperti merek Brompton. Penggemar merek Inggris itu mungkin sangat suka dengan salah satu produk yang dipajang di Taipei: S6L The Barca Brompton Limited Edition. Kira-kira hanya 500 unit yang diproduksi.

Keliling lagi di Nangang Exhibition Hall, ada beberapa produsen yang mencoba membuat sepeda lipat lebih baik lagi. Lebih baik dalam arti lebih praktis, lebih ringan dan ‘lebih-lebih’ lain yang membantu pemakainya sehari-hari.

Dalam hal ini, yang ‘menang’ adalah IFmove buatan Pacific Cycles. Menang dalam arti literal, karena IFmove merupakan salah satu pemenang Taipei Cycle di Awards 2013.

Apa istimewanya? Pertama, dalam kecepatan melipat. Hanya membutuhkan dua detik untuk melipat atau membuka lipatannya. Tentu itu membuatnya superpraktis, khususnya bagi yang suka tergesa-gesa dalam pemakaian sehari-harinya.

Walau lipatannya sederhana, IFmove tetap memiliki karakter handling dan performance yang bisa diadu dengan sepeda lipat lain. Plus, sepeda lipat berbahan aluminium tersebut sangat ringan. Hanya 10 kilogram. Menurut Pacific Cycles, IFmove sudah akan dijual bulan depan di berbagai negara. Harga yang disebut di kisaran Rp15 juta-Rp20 juta.

Mau sepeda praktis, tapi tetap malas banyak mengayuh? E-bike perlu menjadi pertimbangan. Dan di Taipei Cycle, ada buaanyaaak yang bisa dipertimbangkan. Tidak mau membeli sepeda utuh juga bisa. Pakai saja sepeda yang sudah ada di rumah, khususnya MTB standar, lalu pasang komponen elektriknya. Seperti yang disediakan GreenTrans Corporation Taiwan.

Mereka menyediakan E-bike Power Kit. Terdiri atas baterai yang bisa dipasang di downtube (tempat botol minum) atau di bawah boncengan belakang. Ada pula torque sensor, terpasang di bottom bracket (tempat tuas pedal terpasang). Plus motor elektrik (pada ban belakang), juga konsol LCD 2,8 inci (monitor di setir).

Menurut GreenTrans, harga satu set komponen itu di kisaran 600 hingga 700 dolar AS (tidak sampai Rp7 juta). Tapi, mereka belum menjual langsung ke end user (konsumen), melainkan ke produsen-produsen sepeda.

‘’Kami masih berfokus ke pasar Eropa karena di sanalah tempat pertumbuhan terbesar untuk e-bike saat ini. Dan di sana kami harus mengikuti regulasi yang ketat. Akan lebih safety kalau kit kami disesuaikan dengan sepeda yang dibuat khusus,’’ jelas Max Wang, salah seorang manager marketing and business GreenTrans.

Setelah dipasangi komponen elektrik itu, GreenTrans mengklaim, harga sepeda ketika sampai ke konsumen bisa lebih dari 2.000 dolar AS. ‘’Sistem ini akan sangat membantu anak-anak, orang berusia lanjut atau mereka yang bersepeda tapi bukan berorientasi sport,’’ tambah Max Wang. Kalau mau agak high concept, bisa ke booth DK City, juga perusahaan Taiwan. Di situ ada dua sepeda lipat sekaligus elektrik yang desainnya modern dan memukau. Yang pertama adalah db0 folding bike. Sepeda listrik yang bisa dilipat ringkas.

Tidak mau yang lipat? Ada db07 dengan frame berbentuk huruf ‘V’. Memakai 500W/250W DC brushless motor pada hub belakang, sepeda tersebut bisa mengantarkan kita bersepeda sejauh 100 Km sebelum kehabisan baterai. Itu karena baterai lithium 36V-nya 11Ah.

Pasang lepas baterai sangat mudah. Pada ‘lengan’ bagian belakang, ada tutup hijau yang bisa dibuka. Lantas, baterainya tinggal dikeluarkan. Ingin mengetahui berapa kapasitas baterai tersisa juga tidak perlu pasang monitor. Ada indikator yang terpasang cantik pada ‘lingkaran’ dasar huruf V, di atas bottom bracket.

Desain modern (bisa juga disebut futuristis) itu bukan dari Taiwan, melainkan dari ROBRADY Design, sebuah perusahaan AS yang sebelum ini kondang sebagai desainer Segway.
***

Kalau mau membicarakan semua sepeda yang ada di Taipei Cycle 2013, bisa berhari-hari tanpa habisnya. Bagi pengunjung dari kalangan industri sepeda, ada empat hari yang bisa dimaksimalkan, mulai 20 Maret hingga penutupan Sabtu kemarin (23/3).

Pengunjung umum memang kasihan. Mereka hanya punya kesempatan Sabtu kemarin, pukul 09.00 hingga 15.00. Mereka bisa masuk dengan membayar 200 dolar Taiwan atau sekitar Rp70 ribu. Jelas sangat tidak cukup untuk menikmati seluruh kawasan pameran.

Bagi yang penasaran, memang masih ada tahun-tahun berikutnya. Dan Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) bersama Taiwan Bicycle Exporter Association (TBEA) sebagai penyelenggara akan terus berusaha menjadikan event ini sebagai yang terbesar dan terbaik di dunia.

Jadwal untuk Taipei Cycle 2014 sudah diumumkan, yaitu pada 5-8 Maret 2014. Sedangkan, pada 2016, besar kemungkinan hall baru untuk perluasan Nangang Exhibition Hall sudah bisa digunakan.

Bukan tidak mungkin, pada 2016 itu pula, bersamaan dengan terus berkembangnya pasar di Asia, Taipei Cycle sudah menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia.**

sumber :www.jpnn.com

Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (2)

Sabtu, 23 Maret 2013 , 08:14:00

Bakal Sepertiga Asia, Sepertiga Eropa, dan Sepertiga Amerika

TERKESAN: Philip Gordon White (Founder Cervelo) bersama Azrul Ananda menunjukkan frame Cervelo RCA pada pameran Taipei International Cycle Show di Taipei Nangang Exhibition Hall, Jumat (22/3).

Pameran sepeda tidak seru tanpa melihat sepeda-sepeda konsep, eksotis, dan supermahal. Di Taipei, harian ini sempat berbicara pula dengan tokoh-tokoh kondang di balik karya-karya spektakuler itu. AZRUL ANANDA danDIPTA WAHYU – TAIPEI

PAMERAN sepeda mirip pameran mobil. Seberapa banyak pun mobil yang terjual, seberapa banyak pun model yang dipajang, tetap tidak akan menarik tanpa konsep-konsep baru atau produk-produk yang bisa bikin orang berdecak kagum atau geleng-geleng kepala.

Di Taipei Cycle 2013, khususnya di gedung utama Nangang Exhibition Hall, ada beberapa  yang mampu memberikan efek serupa. Khususnya dari “aliran cepat” alias road bike.

Kalau di pameran mobil, produkproduk ini seperti mobil balap atau supercar yang dipajang di tengah kumpulan sedan. Langsung menonjol dan mencuri perhatian.

Di lantai 4 Nangang, di booth Cer velo, ada sebuah brand highend road bike asal Kanada. Ada satu sepeda berwarna hitam polos, dengan komponen dan aksesori kar bon polos, yang terpajang. Warnanya memang tidak mencolok. Tapi, bagi kalangan penggemar se peda, yang satu ini wajib dipandangi dan dikagumi.

Produk ini benar-benar baru gres. Baru dalam hitungan hari diperke nalkan ke dunia dan menghebohkan para penggemar. Sepeda balap itu dibangun dari frame bernama Cervelo Rca. Sebuah frame yang hanya akan dijual 325 biji di seluruh dunia, yang harganya tertulis USD 11.500. Ya, hanya frame yang harganya di kisaran Rp110 juta!

Apa istimewanya? Frame itu diran cang khusus di unit riset dan pengembangan Cervelo di California, AS. Frame tersebut dibuat memenuhi beberapa tuntutan desain, yang beberapa tahun lalu bisa dianggap “impossible”. Yaitu, bobot di kisaran 600 gram bersama baut-bautnya, tapi tetap memiliki stifness (tingkat kekakuan) superior, plus harus aerodinamis.

Frame seringan itu tentu mampu menghasilkan full bike yang spektakuler ringannya. Nah, sepeda hitam yang dipajang tersebut adalah buktinya.

Dipadu dengan wheelset dan komponen-komponen karbon ringan merek AX Lightness, plus groupset Shimano Dura-Ace 9000 terbaru 11-speed dan crank Rotor, bobot total sepeda itu hanya 4,5 kilogram!

Itu dengan frame ukuran 54 (medium, untuk tinggi kisaran 175 cm). Kalau kecil seperti kebanyakan ukuran Asia, bisa lebih ringan lagi.

“Kalau ukuran 48 (extra small, red), bobot frame-nya turun lagi di angka 500-an gram,” ungkap Phil White, salah seorang founder Cervelo, yang di Taipei meluangkan waktu khusus untuk berbincang dengan Jawa Pos.

Di kalangan sepeda, nama Phil White -yang mendirikan Cervelo bersama Gerard Vroomen- sangat melegenda. Pria kelahiran 1962 itu seperti Ernesto Colnago dan Giovanni Pinarello di Italia. Dan di kancah pasar niche sepeda balap elite, White menyebut Cervelo memang berada di lahan yang sama dengan dua brand tersebut.

“Kami tak bisa menyebut berapa angka penjualannya. Tapi, kami mungkin setara dengan Pinarello, sedangkan Colnago sekitar 20-30 persen lebih sedikit,” ujarnya.

Dari situ, kita bisa menebak berapa kisarannya. Sebab, secara publik, Ernesto Colnago, yang pernah diwawancarai Jawa Pos di Italia akhir 2012, mengaku membatasi jumlah produksinya di angka 20 ribu sepeda per tahun.

Cervelo sendiri, tampaknya, tidak ingin membatasi jumlah produksi. Sekitar setahun lalu, Cervelo diakuisisi grup besar Belanda, Pon, yang juga memiliki merek sepeda lain seperti Focus danGiselle. Meski demikian, fokusnya tetap pada produk high-end di aliran road bike.

“Pon memosisikan Cervelo seperti Lamborghini atau Porsche-nya sepeda. Sedangkan merek Focus lebih masal seperti Volkswagen,” jelas White.

Dengan akuisisi itu, White tidak lagi menjabat CEO. Dia kini chairman. Dan dia merasa itu lebih  baik. Sebagai orang dengan latar belakang inovasi, dia mengaku lega pekerjaan-pekerjaan keras dan membosankan seperti operasional dan bisnis dipegang orang lain. Apalagi, ini di tangan grup besar, yang bisa mendorong Cervelo lebih besar lagi.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal produksi. Sekarang masalah itu bisa teratasi,” paparnya. Pada masa mendatang, memang

akan ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang makin global. Apalagi dengan potensi pasar Asia yang luar biasa. “Saat ini, pasar Amerika-Kanada dan Amerika Serikat kami anggap satu, masih yang terbesar bagi kami. Eropa mungkin akan menyalip jadi pasar terbesar. Tapi, dalam lima sampai sepuluh tahun, saya kira komposisinya akan setara. Sepertiga di Asia, sepertiga di Eropa, dan sepertiga di Amerika,” paparnya.

Kini, White dan Vroomen bisa lebih bebas untuk kembali berin ovasi. White, yang mengaku hobi balap mobil, bisa memikirkan hal-hal baru yang bisa membantu Cervelo menghasilkan kejutan-kejutan baru. Sementara itu, Vroo men kini malah bereksplorasi di arena mountain bike, membuat merek baru lagi bernama “Open Cycle”.

Setelah Rca, kapan ada inovasi kejutan lagi? “Kita butuh tiga sampai empat tahun untuk menghasilkan Rca. Jadi, terobosan baru lagi mungkin butuh tiga tahun lagi,” pungkasnya.
***

Cervelo dulu adalah brand yang dikembangkan inovator dan entrepreneur yang kini meraup sukses besar. Di lantai dasar Nangang, ada brand inovatif, yang mulai jadi pergunjingan, dan kelak berpotensi jadi merek besar baru.

Merek itu adalah “Culprit”, yang fokus di arena aero road bike. Pendirinya adalah Joshua Colp. Pria asal California, AS, itu baru berusia 31 tahun. Tapi, dia sudah delapan tahun tinggal di Taiwan ber sama istri, dan menegaskan tidak ingin kembali ke Amerika.

“Kalau sedang di Amerika, saya justru kangen dan ingin segera balik ke sini,” ungkapnya.

Hebatnya, Colp tidak punya latar belakang teknis. Latar belakangnya adalah bisnis, dan bertahun-tahun bekerja di Taiwan untuk brand kondang asal negara tersebut, Trigon.

“Tapi, saya sangat cinta bersepeda. Dan saat bersepeda, saya selalu berpikir bagaimana membuat pengalaman itu lebih hebat lagi, dan perubahan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya,” ujarnya.

Dia pun mendirikan Culprit. Visinya bisa direalisasikan di Taiwan, yang memiliki industri pendukung. Karya utamanya sekarang adalah Culprit Croz Blade, yang memenangi 2013 Taipei Bike Show IF Design Award. Itu adalah sepeda balap aero, yang bisa dipakai sebagai sepeda time trial (TT).

Apa uniknya? Desain aero road  bike memang sudah banyak. Semua brand terbesar memiliki model aero road bike. Bedanya, sejak awal Culprit fokus memakai disc brake. Merek itu merupakan salah satu di antara segelintir yang mengeluarkan sepeda balap memakai disc brake.

Colp percaya, masa depan road bike memakai disc brake. Dan slogan Culprit adalah “The future is now”.

Karya terbesar Culprit sendiri sekarang belum beredar. Di Taipei Cycle 2013, yang dipajang baru prototipenya. Namanya Culprit Legend, sepeda TT khusus triathlon.

Colp mengizinkan sepeda itu difoto hanya oleh media. Yang lain sama sekali dilarang, karena takut banyak inovasinya akan dipalsu (walau sudah dia patenkan). Dia pun memohon agar detailnya tidak difoto.

Legend, mungkin, akan membuat Colp menjadi legenda sepeda masa depan. Fitur paling berani: Tidak memakai seatstay, atau sepasang “batang” penopang yang meng hubungkan bagian belakang frame dengan bagian atas di dekat sadel.

Mengapa? Colp menjelaskan, sepeda TT memang sangat cepat, tapi biasanya juga sangat kaku dan keras. “Tanpa seatstay, sepeda jadi lebih nyaman, karena tidak ada getaran yang naik ke sadel,” jelasnya.

Sepeda itu disebut akan memberikan keunggulan bagi atlet triathlon. Karena lebih nyaman, pengendaranya akan lebih fresh dan bisa mengikuti fase lomba berikutnya (lari) lebih kuat.

Untuk melakukan itu, butuh proses produksi yang inovatif, yang memastikan chainstay (penopang roda belakang) cukup kuat dan kaku.

Legend juga memakai disc brake. Plus, semua kabelnya di kawasan kokpit (depan) tersembunyi di dalam frame atau fork (garpu depan). Tentu saja, bobotnya harus ringan. Colp menarget bobot sepeda total di kisaran 6-7 kilogram.

Colp mengungkapkan, prototipe Legend yang dipajang itu masih terbuat dari plastik. Versi karbonnya baru akan selesai dibangun bulan depan. “Saya akan mengujinya dulu, memastikan keandalannya sebelum mulai menjualnya,” ucapnya.

Selain bikin aero road bike, Culprit punya obsesi unik: Membuat sepeda balap terbaik untuk anakanak. Salah satu produknya, Junior One, juga memenangi 2013 IF Design Award.

“Sebab, small rider (anak-anak, Red) juga punya hasrat untuk naik sepeda high-end.” Begitu yang tertulis di profil Culprit.
***

Di Taipei Cycle 2013, produk eksotis dan inovatif tidak hanya dari arena road bike. Sepeda listrik dan lipat pun bisa mengajak kita geleng-geleng kepala.(*)
(bersambung)

Jalan 6 Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (1)

Bangun Hall Baru agar Jadi Show Terbesar di Dunia
22 Maret 2013 – 11.32 WIB
Bangun Hall Baru agar Jadi Show Terbesar di Dunia
Taipei Nangang Exhibition Hall dengan luas kurang dari enam hektare yang mampu menampung ribuan pameran, salah satunya Taipe International Cycle Show, Kamis (21/3/2013). Foto: Dipta Wahyu/JPNN
Taipei International Cycle Show 2013 benar-benar besar. Luas areanya hampir 6 hektare di beberapa gedung. Perlu tiga hari jalan keliling untuk mengamati semua exhibitor.
———————–
Catatan AZRUL ANANDA dan DIPTA WAHYU, Taiwan
———————–
SEJAK tahun lalu saya ingin melihat Taipei Cycle (nama populer event). Teman-teman yang pengusaha sepeda berkali-kali menganjurkan saya untuk mengunjunginya. Bagaimanapun, inilah pameran sepeda terbesar di Asia, salah satu di antara tiga pameran terbesar di dunia.

Kalau ke Eropa atau Amerika untuk melihat pameran terbesar lain, tentu tidak sepraktis terbang ke Taiwan. Tapi, keputusan untuk benar-benar pergi saya ambil nyaris last minute. Banyak jadwal dan lain-lain yang membuat saya tak berani memastikan pergi. Ketika benar-benar ada celah waktu, saya pun memutuskan untuk go. Dan memang harus go!

Padahal, Selasa (19/3) pagi, sebelum terbang ke Taipei, saya jatuh saat latihan sepeda balap. Salah satu tulang di telapak kanan saya patah. Saya minta operasi ditunda sepulang dari Taipei saja. Untuk sementara digips saja.

Toh, saya masih bisa jalan, masih bisa beraktivitas. Yang sulit paling ketika harus mengetik laporan atau catatan. Saya tidak bisa mengetik sepuluh jari seperti biasa. Harus ‘’sebelas jari’’ seperti generasi ayah saya.

Selasa malam itu saya dan Dipta Wahyu terbang ke Taipei. Mendarat Rabu pagi (20/3), check in di hotel, lalu langsung ke Nangang Exhibition Hall, lokasi utama diselenggarakannya pameran.
***

Nangang Exhibition Hall besar sekali. Seluruh lantainya dipakai untuk Taipei Cycle 2013. Termasuk dua lantai dengan hall terbesar, lantai pertama dan lantai keempat. Ditambah dengan gedung-gedung lain, total Taipei Cycle memakai venue seluas 58 ribu meter persegi. Itu hampir 6 hektare!

Gedung lain yang dipakai adalah Taipei World Trade Center (TWTC) Hall 1 dan Hall 3 di kawasan pusat kota, dekat dengan gedung pencakar langit Taipei-101.

Dari Nangang dan TWTC tersedia shuttle bus yang rutin bolak-balik mengangkut peserta dan pengunjung pameran.

Semua itu mampu mengakomodasi lebih dari 1.100 exhibitor dari berbagai penjuru dunia. Dengan nyaman, lebih dari 7.000 pengunjung (dari kalangan industri sepeda dan sports) bisa berputar-putar dan berbisnis di dalamnya. Selain show sepeda, event tahun ini juga digabung dengan Taipei Sporting Goods Show (TaiSPO), Taiwan Int’l Sports Textile and Accessory Expo (SPOMODE), serta Diving & Water Sports Show (DiWAS). Beberapa kawasan outdoor di Nangang pun ikut disiapkan untuk keperluan test ride atau atraksi.

Saking besarnya, hari pertama itu -sejak pagi sampai sore- kami baru sempat ‘’menghabiskan’’ area di lantai empat di Nangang. Kebetulan, beberapa merek terbesar berpameran di sana. Acara opening ceremony yang dihadiri Wakil Presiden Wu Den-yih juga dilakukan di situ. Plus, press center tempat kami bisa bekerja juga di lantai tersebut.

Selama acara pembukaan, ditegaskan terus bagaimana Taiwan berniat untuk terus menjadi “Kerajaan Sepeda” di masa mendatang. ‘’Taiwan sudah menjadi pusat suplai untuk keperluan sepeda-sepeda high-end dunia,’’ tegas Wang Chih-kang, Chairman Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), penyelenggara Taipei Cycle.

Ke depan, Taiwan juga berambisi menjadikan event itu sebagai yang terbesar di dunia. Untuk melakukan itu, diperlukan venue baru yang lebih besar lagi.

Wang menyampaikan, pembangunan exhibition hall baru di sekitar Nangang sudah dimulai. Wakil Presiden Wu juga telah mendorong agar pembangunan venue baru itu dipercepat lagi.

Bisa dibayangkan betapa besarnya Taipei Cycle itu nanti. Sekarang saja, perlu waktu sekitar tiga hari untuk bisa menengok seluruh kawasan pameran. Belum lagi kalau ingin mengunjungi sejumlah stan secara khusus.

Tahun ini event diselenggarakan selama empat hari. Berakhir Sabtu besok (23/3). Bagi penonton umum lebih merepotkan lagi. Sebab, mereka hanya boleh membeli tiket untuk melihat pada hari terakhir. Itu pun hanya sampai pukul 15.00!
***

Pemerintah Taiwan memang men-support total event yang mendukung industri sepeda sendiri itu. Para pengunjung internasional yang mendaftar ke TAITRA, kalau berasal dari kalangan bisnis sepeda, mendapat fasilitas hotel gratis. Transportasi berupa shuttle bus dari hotel ke venue (dan sebaliknya) juga gratis. Plus, di venue dapat kupon makan gratis. Kalau ingin jadi turis, pengunjung internasional juga diberi tiket gratis naik ke observatory Taipei-101, salah satu gedung tertinggi di dunia. Seperti yang didapatkan V Christian Pieschel alias Chies dari Velomix Surabaya. ‘’Saya daftar awal Februari, hanya perlu kirim kartu nama dan surat rekomendasi toko,’’ aku Chies, yang mendapat jatah menginap di Fullerton Hotel dan ‘’bonus ekstra’’ kamar suite.

Walau dapat fasilitas transportasi, Chies benar-benar ingin menikmati suasana bersepeda. Dia membawa sepeda Brompton-nya dari Indonesia. Kamis kemarin (21/3) ia mengayuhnya dari hotel ke venue pameran.

‘’Hanya sekitar 5 kilometer. Yang tidak tahan dingin dan anginnya,’’ ujar dia. Suhu udara Kamis kemarin memang sempat agak turun ke kisaran 16 derajat celsius. Sekitar lima derajat lebih dingin daripada sehari sebelumnya.

Menurut data yang dikeluarkan TAITRA, nilai transaksi yang dihasilkan dari pameran tahun ini saja bisa mencapai 300 juta dolar AS atau hampir Rp3 triliun.
***

Taipei Cycle memang lebih fokus ke industri sepeda. Bagi yang ingin memiliki brand sendiri, semua vendor yang diperlukan berpameran di sini. Mulai pembuatan frame dan komponen, pengecatan, dan lain sebagainya.

Tapi, bukan berarti event itu boring untuk penggemar sepeda dan tren terbarunya. Sejumlah sepeda baru yang memukau di-launching di sini. Beberapa prototipe keren juga ditampilkan, yang kelak bisa menjadi tren paling populer.

Tidak ketinggalan kategori e-bike. Baik itu sepeda bermotor listrik maupun komponen motor elektrik yang bisa dipasangkan pada sepeda apa pun. Benar-benar banyak barang yang bisa bikin para penggemar sepeda meneteskan air liur.(bersambung)

sumber :www.jpnn.com

N+1 atau S-1, Jumlah Ideal Sepeda yang Harus Dimiliki

Gowes Bersama Joy Riders, Komunitas Sepeda Terbesar Singapura (2-Habis)
8 Mai 2012 – 12.27 WIB 
N+1 atau S-1, Jumlah Ideal Sepeda yang Harus Dimiliki
Jalanan Singapura bakal memuaskan penggemar sepeda balap. Jalan lebar, naik-turun menantang, dan kaya variasi belokan. Tapi hati-hati, lubang besar tetap siap menerkam setiap saat.Laporan Azrul Ananda, Singapura

JOY Riders, komunitas sepeda terbesar di Singapura, punya lambang menarik. Nama ‘’Joy’’ tentu saja diambil dari nama pemrakarsanya: Joyce Leong.

Slogan Born to Ride juga didapat dari hari istimewa Joyce, yaitu ketika ada acara gowes (istilah lain dari olahraga bersepeda, red) bareng merayakan ulang tahunnya (hari born) ke-50. Kurang lebih saat itulah enam tahun lalu komunitas tersebut terbentuk.

Lalu, ada gambar siput. Itu juga dari julukan Joyce, yaitu Snail Queen alias Ratu Siput. Ketika ditanya kenapa itu menjadi julukan, Joyce menjawab dengan cerita.

‘’Dulu itu saya pernah cedera parah. Tapi, tetap ingin bersepeda. Jadi, saya tanya teman-teman, ada nggak yang mau ikut saya bersepeda pelan-pelan seperti siput. Sejak saat itu saya punya julukan Snail Queen,’’ tutur pensiunan advertising sales tersebut.

Meski julukannya siput, jangan remehkan Joyce Leong. Dia mampu melaju kencang, dengan mudah mencapai rata-rata di atas 35 Km per jam. Kalau kita meremehkan, bisa dipermalukan!

Selain siput, di lambang Joy Riders ada pula matahari hitam dengan tulisan angka ‘’5’’ di tengahnya. ‘’Itu karena kami semua selalu berkumpul pukul 5 pagi, saat masih gelap,’’ jelas Joyce.

Kalau penasaran dengan Joy Riders, sangat mudah menemukan mereka di Singapura. Ya pukul 5 pagi itu datang saja ke Longhouse. Yaitu, sebuah pujasera di kawasan Upper Thomson, salah satu jalan utama di Singapura.

Di sana hampir setiap hari berkumpul ratusan, dan minimal puluhan anggota Joy Riders yang siap riding bersama. Total anggota lebih dari 1.000 orang, tapi tidak semua ikut setiap hari.

Walau jumlahnya bisa ratusan, bukan berarti semua berangkat berbarengan. Harus terbagi dalam beberapa kelompok, masing-masing maksimal 20 orang. Kelompok cepat berangkat duluan, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya. Kelompok newbie (peserta baru) berangkat terakhir, ditemani oleh anggota senior yang membantu memandu. Tidak ada police escort (forerider), cukup saling menjaga satu sama lain.

Anggota Joy Riders memang disiplin. Peserta wajib pakai helm, menyalakan lampu putih depan dan lampu merah belakang plus senyum! Disarankan pakai jersey seragam untuk kemudahan identifikasi. Wajib seragam saat weekend atau event khusus.

Disarankan juga membawa botol minum (tentu sangat penting!), ban dalam cadangan, uang minimal 20 dolar untuk jaga-jaga, telepon seluler, dan kalau bisa bawa pompa mini.

Larangan lain: Jangan memakai earphonepy dan mendengarkan musik, menelepon saat riding, atau sok pamer. Tentu saja harus ikut aturan lalu-lintas yang tertulis untuk pemakai sepeda. Termasuk berhenti saat lampu merah, mengalah kepada pejalan kaki yang menyeberang, hanya boleh memakai lajur paling kiri, maksimal berjajar dua baris, dan hanya boleh menyalip dari kanan.

Menariknya, sepeda boleh naik ke jalan tol atau jalan layang. Syaratnya ya itu tadi: harus tetap di lajur paling kiri. Rutenya macam-macam. Setiap hari berbeda.

Kalau Senin, tentu libur. Tidak ada acara resmi Joy Riders. Silakan latihan sendiri-sendiri kalau ingin latihan. Selasa dan Kamis adalah hari serius dengan rute keliling Singapura, dengan jarak total sekitar 60 Km.

Rabu dan Jumat adalah hari recovery alias santai. Jarak tempuh 35 sampai 50 Km dengan kecepatan lebih rendah. Sabtu biasanya touring jauh, di atas 100 Km.
Sabtu ini juga ada kelompok khusus berjuluk Secret Society (kelompok rahasia). Yaitu, berangkat lebih dulu, pukul 04.40, untuk bisa menempuh jarak sejauh mungkin. ‘’Kami sangat suka memberi nama untuk segalanya. Supaya lebih menyenangkan,’’ ungkap Joyce.

Ahad hari santai, bersepeda ke tempat wisata atau menuju tempat makan. Joyce sendiri mengaku serius bersepeda untuk mengimbangi hobinya yang lain: makan. ‘’Kalau saya banyak bersepeda, saya boleh banyak makan,’’ ucapnya, lantas tertawa.

Setiap hari rute berakhir di tempat makan pula. Joyce tampaknya suka minum Dinosaur setiap kali habis bersepeda. Yaitu, es Milo dengan tambahan bubuk ekstra banyak!

Tiga kali ikut gowes bareng Joy Riders, rasanya memang mengasyikkan. Jalanan Singapura membuat bersepeda tidak membosankan. Jalan lebar-lebar, naik-turun menantang, belokan sangat variatif.

Kecepatan pun memuaskan. Saya tidak ikut kelompok cepat, yang secara konstan melaju di atas 35 Km per jam (sering di atas 40 Km per jam). Saya ikut kelompok kedua bersama Joyce. Di situs Joy Riders, kelompok kedua itu seharusnya melaju 33-35 Km per jam. Tapi, jangan percaya tulisan begitu saja! Tetap saja kecepatan sering di atas 40 Km per jam dan kalau sedang turunan (descent) dengan mudah bisa di atas 50 Km per jam.

Terus terang, perlu semangat dan motivasi ekstra untuk bisa terus bersama kelompok kedua itu. Jarak tempuh 60 Km diambil nyaris tanpa berhenti. Hanya sesekali berhenti kalau ada traffic light. Jangan sampai putus dan malu. Apalagi, ada banyak anggota perempuan yang akan ‘’melahap’’ kita kalau kita mudah menyerah.

Pernah saya adu cepat dan ketahanan ‘’lawan’’ seorang perempuan umur akhir 20-an atau awal 30-an tahun. Dan dia mengaku baru saja enam pekan lalu melahirkan anak. Gile!

Jalanan mulus, secara keseluruhan iya. Tapi, tetap hati-hati dengan lubang. Pada salah satu perjalanan Kamis pekan lalu (3/5), yang semestinya menempuh jarak 60 Km, saya dapat pengalaman tidak enak itu.

Rutenya hari itu asyik. Dari Longhouse, kami ke arah utara. Ke kawasan Kranji (kalau menyeberang sudah ke Johor, Malaysia!). Lalu, ke selatan lagi via jalan layang West Coast Highway, melewati Harbour Front. Kalau mau, dari situ kita sudah melihat Sentosa Island. Dari situ, tujuannya lewat Marina Bay sebelum finish lagi di tengah kota.

Karena jalan yang relatif selalu mulus, kelompok dengan mudah melaju di atas 35 Km per jam. Di jalan layang West Coast Highway, tepat di sebelah pusat perbelanjaan kondang Vivo City, saya dikejutkan oleh sebuah lubang besar. Brakk!

Sepeda saya menghantam lubang itu saat melaju sekitar 38 Km per jam. Ban belakang langsung pecah, untung tidak jatuh, wheelset-nya tidak apa-apa, dan frame karbon juga tidak apa-apa. Meski dudukan as belakang bengkok, itu dengan mudah bisa diganti.

Kenapa saya khawatir? Sebab, itu sepeda pinjaman dari teman saya, Prajna Murdaya. Ribet juga kalau sampai frame-nya patah, he.. he.. he..’’. Ketika tahu saya punya masalah, anggota lain ikut berhenti. Padahal, saat itu di atas jalan layang serta truk-truk dan mobil-mobil mulai ramai melintas. Salah satu anggota menemani saya berjalan menuntun ke tempat yang aman, lalu berusaha membantu membetulkan sepeda.

Di Joy Riders, ketika ada masalah, minimal satu anggota lain harus membantu. Khususnya yang hari itu tidak tergesa-gesa harus segera kembali dan bekerja. Sayang, waktu itu tidak sempat dilakukan perbaikan. Akhirnya, dia menemani saya turun jalan layang, mencari bus stop, dan mencari taksi!

Ini enaknya di Indonesia, ada tukang tambal ban di mana-mana! Kata Prajna, kita memang harus benar-benar berhati-hati dengan lubang jalanan di Singapura. ‘’Lubang bisa tiba-tiba menerkam begitu saja,’’ ujarnya.

Siangnya, saya pun membawa sepeda itu ke toko/bengkel sepeda yang sesuai. Dan di Singapura, ada puluhan toko sepeda mengasyikkan. Jadi, senang-senang saja pergi ke toko-toko itu!
***

Seperti ditulis di atas, setiap acara gowes bareng berakhir di kawasan makan. Misalnya, pujasera di Newton Square, dekat kawasan Bukit Timah. Di sana tentu saja semua asyik ngobrol seputar sepeda.

Salah satu tema: rencana touring bareng ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Cina, atau Spanyol. Tema lain: urusan beli sepeda baru. David Lavery, seorang pengacara asal Kanada, mengaku baru saja berbuat ‘’dosa’’ dan membeli sepeda baru.

Dia menyampaikan gurauan, menyampaikan ungkapan dari sebuah komunitas serius di Italia soal jumlah sepeda yang harus kita miliki. ‘’Ada dua pegangan soal jumlah sepeda yang harus kita punyai. Satu adalah N+1, di mana N adalah jumlah sepeda yang kita miliki sekarang. Jadi, intinya, kita harus selalu menambah sepeda!’’ katanya, lantas tertawa.

‘’Yang satu lagi adalah S-1,’’ tambah Lavery. ‘’S adalah jumlah sepeda yang dimiliki yang akhirnya mengakibatkan kita bercerai dengan istri atau suami,’’ lanjutnya, disambut tawa yang lain.

Meski bicara soal sepeda baru, harus ditegaskan bahwa Joy Riders sangat tidak gengsi-gengsian. Road bike yang dipakai sangat beragam, kebanyakan justru yang masuk kategori harga terjangkau.

Joyce selalu menyampaikan ungkapan ini di email-nya: ‘’The happiest people don’t have the best of everything. They just made the best of everything.’’ Artinya: Orang paling bahagia bukanlah orang yang memiliki segala hal yang terbaik. Melainkan, orang yang mampu memaksimalkan segala hal yang mereka miliki.(jpnn/ila)

Hanya Libur Senin, karena Itu Hari Membosankan

Gowes Bersama Joy Riders, Komunitas Sepeda Terbesar Singapura (1)
7 Mei 2012 – 11.39 WIB

Hanya Libur Senin, karena Itu Hari Membosankan

Beberapa anggota Joy Riders Singapura (Foto: photobucket.com)
Laporan AZRUL ANANDA, SingapuraJoy Riders, komunitas sepeda terbesar Singapura, diprakarsai dan dikelola sendirian oleh Joyce Leong, perempuan berusia 56 tahun. Kini anggotanya lebih dari 1.000 orang dan sepekan enam kali gowes —istilah lain utuk olahraga bersepeda— bareng.

Silakan tanya para penghobi berat sepeda, khususnya road bike yang hampir setiap hari berlatih. Andai tidak bisa mengayuh selama beberapa hari, kebanyakan mungkin bilang badan rasanya tidak enak. Atau minimal takut kondisi badan (yang lama dibangun) menurun.

Dalam tiga pekan terakhir saya hampir dua pekan di Singapura. Bukan liburan, melainkan menemani anak menjalani pengobatan. Sudah delapan bulan ini aktif latihan road bike (sepeda balap), tentu rasanya gatal (dan lesu) ketika lama absen.

Oleh Prajna Murdaya, teman saya yang juga penggemar road bike, saya pun dikenalkan ke Joy Riders. Kebetulan, ketika itu Prajna juga di Singapura, menantikan kelahiran anaknya yang ketiga. Kebetulan lagi, ukuran sepeda dia dengan saya sama. Jadi, saya dapat pinjaman yang pas.

Sebelumnya, saya sama sekali tak punya bayangan apa itu Joy Riders. Saya pikir komunitas biasa saja. Info dari Prajna, komunitas ini hampir setiap hari latihan keliling kota, selalu berangkat pukul 05.00 di kawasan Upper Thomson. Pukul 07.00-08.00 sudah selesai, lalu semua berangkat kerja.

Ternyata, ini bukan komunitas biasa. Setelah beberapa kali ikut latihan bersama mereka, saya malah kagum dan dapat banyak inspirasi. Apalagi, anggotanya sangat beragam. Ada tua, ada muda. Ada warga Singapura, banyak warga asing yang tinggal di Singapura. Dan, banyak yang perempuan dan mereka jago ngebut naik sepeda!

Apalagi setelah tahu Joy Riders itu komunitas terbesar di Singapura, dengan anggota lebih dari 1.000 orang! Semua itu dikelola oleh seorang perempuan berusia 56 tahun bernama Joyce Leong.

Untuk kenal Joy Riders, pertama harus kenal dulu Joyce Leong. Perempuan kelahiran Penang, Malaysia, 10 Januari 1956 itu benar-benar memulai komunitas ini tanpa disengaja.

Joyce, yang pensiun dari pekerjaan sebagai advertising sales, dulu punya hobi ikut triathlon. Lari, bersepeda, dan renang. Hingga sekitar enam tahun lalu. Kata dokter, dia sudah tidak boleh lagi lari karena masalah punggung.

‘’Mau renang saja juga kurang asyik. Renang itu boring (membosankan, red). Tidak bisa ngobrol sama orang saat melakukannya,’’ aku Joyce.

Bersama beberapa teman, Joyce pun rajin bersepeda. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba saja kelompoknya membesar. Seorang teman lantas membuka forum online, dan Joy Riders pun terbentuk dengan sendirinya.  ‘’Sekarang anggota kami sekitar 1.029 orang. Mungkin lebih,’’ ungkapnya.

Nama ‘’Joy’’ tentu saja diambil dari nama depan Joyce. Kebetulan, ‘’joy’’ juga berarti kesenangan. Dan, komunitas ini terbentuk karena semua punya kesenangan yang sama.

Joyce, yang ‘’jobless’’ mengelolanya secara full time di apartemennya, yang berlokasi tidak jauh dari Orchard Road. Di sana dia tinggal bersama suami, seorang wiraswastawan, dan dua anak yang sudah berusia remaja.

Walau dikelola sendiri, Joy Riders sangat tertata rapi. Untuk menjadi anggota tidak ada iuran bulanan atau tahunan. Cukup datang ke tempat tinggal Joyce, membeli jersey seragam Joy Riders. Harganya 90 dolar Singapura sepasang (jersey dan celana) untuk tangan pendek, 120 dolar untuk tangan panjang. Sejumlah sponsor turut mendukung, dan logo mereka terpampang di jersey tersebut.

Setelah itu Joyce akan memotret anggota baru mengenakan jersey, lalu mem-posting fotonya di situs resmi komunitas. Anggota baru juga diminta mengisi data diri secara online, dan tergabung di forum untuk mengikuti update terbaru komunitas.

Sebenarnya, cara pengelolaan ini juga bukan hal baru. Banyak komunitas di Indonesia juga sama. Termasuk Surabaya Road Bike Community (SRBC), tempat saya ikut bergabung sehari-hari. Tapi, Joyce menggunakan situs secara lebih jauh.

Setiap pagi, saat berkumpul di Longhouse di Upper Thomson (detail perjalanan bersepeda dan aturan jalanan akan dilanjutkan di seri kedua), Joyce akan memberi tahu semua anggota tentang password hari itu. Jadi, setelah riding, semua bisa meng-input password itu secara online, dan bisa mendapatkan poin.

Semakin banyak poin, semakin besar peluang anggota mendapatkan door prize yang disediakan sponsor. ‘’Kalau ikut event, poinnya lebih,’’ tambah Joyce.

Karena sifatnya tidak terlalu terikat dan tidak ada iuran tetap, banyak anggota justru jadi betah ikut Joy Riders. Mereka bisa bergabung riding bersama kapan saja, sesuai kebutuhan kerja masing-masing. Maklum, jadwal riding sangat pagi dan setiap hari bisa mengakibatkan anggota harus mengorbankan beberapa hal lain.

‘’Kalau setiap hari, sulit menyesuaikan dengan kehidupan sosial. Termasuk kehidupan malam. Ha.. ha.. ha..,’’ kata seorang anggota Joy Riders, seorang pimpinan perusahaan software di Singapura.

Bagi para ekspatriat, Joy Riders juga menjadi alat ideal untuk mengenal Singapura dan mencari teman selama bekerja atau bertugas di sana.

Ambil contoh David Lavery, pengacara perusahaan minyak asal Kanada. Lavery sudah setahun ini tinggal di Singapura, setelah sebelumnya tinggal lama di Abu Dhabi.
‘’Saya bergabung sejak pindah dari Abu Dhabi. (Joy Riders) ini grup yang sangat sosial (akrab). Dan, itu penting bagi seseorang yang baru saja pindah ke Singapura,’’ ucapnya.

Lavery sendiri punya julukan kocak, ‘’Captain Suzie’’. Usut punya usut, ketika perayaan Imlek, dialah pemenang kontes Cina Doll dalam pesta yang diselenggarakan Joy Riders. Artinya, dia menang karena dandan paling heboh sebagai perempuan!

Joyce memang suka memberikan julukan kepada para anggotanya. Karena nama saya Azrul, Joyce sempat memberikan julukan ‘’ACE-zrul’’. Lumayan, ‘’Ace’’ kan berarti jagoan ha.. ha.. ha.. Tentu saja, meski sifatnya rekreasional, Joy Riders sangat serius dalam mengutamakan keselamatan dalam bersepeda. Cara mereka mengatur rombongan serta menghadapi aturan bersepeda di Singapura juga bisa dijadikan inspirasi.(bersambung)

Tahun Depan Ingin Bersepeda di Eropa Lagi

Rabu, 22 Mei 2013 , 06:12:00
BERAKHIR sudah program Tour of California 2013 yang dijalani rombongan cyclist Indonesia. Senin lalu (20/5), ada bersepeda lagi 50 km, lalu foto bareng Peter Sagan dan para teammate-nya di Cannondale Pro Cycling.

 ————-
Catatan AZRUL ANANDA bersama, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU dari San Francisco
————-
PROGRAM Tour of California (ToC) 2013 berakhir Senin, 20 Mei. Kumpul pagi-pagi pukul 06.30, 17 cyclist asal Surabaya, Jakarta, Madiun, dan Makassar sudah siap dandan dengan jersey kebesaran komunitas atau klub masing-masing.Kebanyakan yang dari Surabaya mengenakan seragam kuning-hitam Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling. Ada pula yang mengenakan jersey merah-hitam komunitas Free. Sedangkan Liem Tjong San dari Makassar dengan komplet mengenakan jersey, bibshort, kaus kaki, dan sleeve hijau-kuning-putih kebesaran Makassar Cycling Club (MCC).Pagi itu, start pukul 07.15, trio guide Lyne Bessette, Ryan Fowler, dan Jen Slowey dari Cannondale Tours (Duvine Adventures) sudah menyiapkan rute yang cukup menantang. Total jarak tempuh sekitar 50 km, tapi dibumbui tanjakan sangat menantang sepanjang hampir 3 km. Tingkat kemiringannya mencapai 13 persen.Rutenya: Dari hotel di downtown Healdsburg menuju Sonoma Lake (danau). Tipe jalannya rolling, naik turun menantang ketahanan serta kekuatan kaki dan paha.

Ryan Fowler, yang hari itu bersepeda memandu, membuat para peserta happy sekaligus ngos-ngosan. Sadar rombongan suka ngebut, dia membiarkan rombongan melaju konstan di atas 40 km/jam. Berhenti ketika mendekati kilometer 20 untuk ambil napas dan mengisi botol minum. Temperatur pagi itu termasuk dingin dan berangin, 18 derajat Celsius.

“Rombongan tur lain yang biasa kami antar tidaklah secepat rombongan Indonesia ini. Kalian termasuk cepat dan kuat,” puji Fowler.

Kami mulai memasuki tanjakan di kilometer 21. Setelah melewati pemandangan spektakuler, yaitu bendungan yang menutup salah satu sisi danau. Tanjakan yang kami lalui menuju ke arah puncak bukit, yang menjadi titik wisata untuk melihat seluruh keindahan Sonoma Lake.

Sadar ini tanjakan terakhir selama di California, para peserta pun habis-habisan. Khususnya Sony Hendarto asal Madiun, yang dalam beberapa hari ini termasuk paling apes di rombongan (kabel sepeda tergunting, sempat tersasar). Ketika finis pertama di puncak, dia sangat puas meski sempat hampir muntah-muntah.

“Puas, sekarang puas. Bisa pulang ke Indonesia dengan tenang,” ucapnya.

Dari atas, rombongan kembali turun menuju hotel di Healdsburg. Setelah itu cepat-cepat mandi dan mengemasi koper karena harus segera naik mobil kembali ke San Francisco. Perjalanannya sekitar 1,5 jam dan kami sudah harus di Sports Basement, di kawasan Presidio, dekat Golden Gate, pukul 12.00.

Dan kami semua sangat ingin berada di sana pukul 12.00. Mengapa” Karena di sanalah Cannondale menyiapkan pertemuan kami dengan para pembalap tim. Termasuk dengan Peter Sagan, pemenang dua etape di ToC 2013, peraih green jersey (best sprinter).

Kebetulan, pagi itu seluruh tim ada di sana untuk acara gowes bareng dengan para diler Cannondale. Lalu ikut acara jumpa fans dan berbagi tanda tangan.

“Kami akan mencoba mengatur supaya rombongan Indonesia dapat sesi sendiri, termasuk berfoto bersama seluruh tim,” ucap Sam Hughes dari Cycling Sports Group, induk perusahaan Cannondale.

Begitu tiba, kami diminta menunggu hingga 12.30, setelah rangkaian acara untuk umum selesai. Lalu kami diminta menuju tenda tempat para pembalap duduk, setelah sebelumnya melayani permintaan tanda tangan pengunjung lain.

Tampak delapan pembalap Cannondale duduk di sana. Ada Peter Sagan di tengah, bersebelahan dengan Juraj (baca: Yuray) Sagan, kakaknya yang Sabtu sebelumnya (18/5) memandu rombongan Indonesia naik Mount Diablo. Ada pula Stefano Agostini, yang juga memandu rombongan Jawa Pos Cycling.

Selain itu, ada bintang lain seperti Ted King, Lucas Sebastian Haedo, Maciej Bodnar, Brian Vanborg, dan Kristijan Koren.

Dengan penuh antusias, rombongan Indonesia memburu tanda tangan mereka. Ada yang minta di jersey, buku foto, print foto, botol minum, dan pernak-pernik lain.

Yang paling heboh: Hampir semua meminta para pembalap menandatangani sepeda Cannondale SuperSix Evo yang selama ini ditunggangi di ToC 2013!

“Sampai di Indonesia nanti bisa di-clear coat, supaya tanda tangannya abadi,” celetuk Sun Hin Tjendra dari Surabaya.

Seusai sesi tanda tangan, para personel Cannondale meminta rombongan Indonesia menunggu di sudut parkiran dengan latar belakang jembatan Golden Gate.

Tidak lama, para pembalap Cannondale pun bergabung. Termasuk Peter Sagan, yang kami daulat untuk berpose di tengah. Bambang Poerniawan, 57, anggota tertua (sekaligus termungil), langsung dengan semangat menempatkan diri di sebelah kiri pembalap Slovakia tersebut.

Satu, dua, tiga! Kami pun berfoto dengan pasukan Cannondale Procycling! Dengan latar belakang Golden Gate. Apalagi, cahaya matahari sedang sangat pas dan tidak ada sedikit pun kabut menyelimuti jembatan legendaris tersebut.

Selain itu, seragam kaus putih Indonesia kami begitu pantas dan kontras bersanding dengan seragam hijau menyala pasukan Cannondale!

Betapa pasnya awal dan ending program ini. Pada Jumat, 17/5, ketika akan bersepeda untuk kali pertama, kami berpose di sudut parkir yang sama. Ending-nya foto serupa, tapi bersama pasukan Cannondale! Benar-benar momen yang mungkin hanya sekali seumur hidup.
***
Begitu program selesai, kami pun berpisah dengan para guide dan pasukan Cannondale. Sepeda-sepeda akan di-packing para guide dan mekanik. Dan diantar ke bandara ketika kami akan pulang ke Indonesia.

Dan memang, Senin malam itu kami langsung pulang. Pesawat tengah malam transit di Hongkong menuju Surabaya.

Mumpung masih ada setengah hari, kami mampir dulu ke satu lagi toko sepeda, ke sekali lagi toko eksklusif Rapha, sebelum berwisata dulu ke Pier 39 di kawasan Fisherman”s Wharf, San Francisco.

Bagi rombongan yang datang ke Amerika bersama keluarga, seharusnya di kawasan inilah semua bertemu di sore hari. Tapi, karena jadwal keluarga masih mengunjungi penjara pulau Alcatraz, pertemuan diundur hingga pukul 18.30, di Restoran Yuet Lee (masakan Tionghoa) di kawasan China Town. Di sana mencicipi cumi goreng yang sangat populer di kalangan pelajar Indonesia di San Francisco.

Pukul 20.00, kami pun menuju San Francisco International Airport (SFO). Bertemu lagi dengan sepeda yang sudah dikemas, check in, dan terbang kembali ke tanah air.

Cerita perjalanan di California ini mungkin akan butuh waktu berminggu-minggu sebelum bosan dibicarakan. Bahkan mungkin sampai tahun depan, ketika perjalanan selanjutnya diselenggarakan.

Sebab, memang ada impian untuk bersepeda di semua benua. Atau merasakan rute dan atmosfer sebanyak mungkin lomba kelas dunia.

Mau ke mana tahun 2014 nanti? Dari pembicaraan, ada beberapa alternatif. Kebetulan keduanya di Eropa. Satu, mengulangi lagi rute Tour de France seperti 2012 lalu, tapi menjajal gunung-gunung yang berbeda. Dua, kembali ke Prancis, tapi merasakan rute jalan bebatuan lomba Paris-Roubaix yang terkenal keras.

Tiga, menuju Italia, mengikuti Grand Tour legendaris lain: Giro d”Italia. Menjajal gunung-gunung gilanya, seperti Passo dello Stelvio.

Masih belum diputuskan mau ke mana, tapi beberapa peserta California (yang tahun lalu juga ikut ke Tour de France) sudah dengan tegas bilang akan ikut lagi! (habis)

Nonton Peter Sagan Menang, Naik Turun Perkebunan Anggur

Bersepeda Ikuti Tour of California, Event Balap Terbesar di Amerika (5)

TOUR of California 2013 berakhir di Santa Rosa, Minggu lalu (19/5). Rombongan Jawa Pos Cycling ikut menyaksikan ending-nya di tengah-tengah festival kota yang meriah.

Catatan AZRUL ANANDA bersama YUDY HANANTA dan DIPTA WAHYU dari Santa Rosa
————————————————————————————————————————–Hari Minggu lalu (19/5) mungkin adalah hari terpadat rombongan cyclist Indonesia selama mengikuti Tour of California (ToC) bersama Cannondale Tours (dioperasikan oleh Duvine Adventures).

Pagi bersepeda sedikit, lalu menonton finis etape terakhir lomba, lantas bersepeda lagi sejauh 48 kilometer di Sonoma Valley, kawasan penghasil anggur dan wine kondang Amerika Serikat.

Bangun pagi-pagi di Cavallo Point, hotel indah di kaki jembatan Golden Gate, rombongan sebenarnya dijadwalkan makan pagi pukul 07.00. Tapi, karena menunya dihidangkan secara khusus, para guide memutuskan untuk menunda dulu breakfast hingga pukul 09.00.

Setelah makan roti-rotian, rombongan langsung mengambil sepeda masing-masing (bangun pagi sudah dandan siap bersepeda). Pagi itu, semua memang harus agak tergesa. Kami harus segera bersepeda sedikit, naik ke Headlands Lookout, puncak sebuah bukit yang menghadap jembatan Golden Gate (sekaligus kota San Francisco sebagai latar belakang).

Posisi di atas itu penting. Sebab, kami semua ingin melihat kilometer-kilometer awal Etape 8 sekaligus penutup ToC 2013, yang berlangsung dari San Francisco menuju Santa Rosa. Kami harus cepat-cepat naik supaya tidak kehilangan momen spektakuler, melihat peloton pembalap kelas dunia melintasi jembatan Golden Gate.

Pagi itu, lomba start pukul 08.15. Hanya dalam hitungan menit, peloton sudah akan melintasi Golden Gate. Jarak dari hotel ke tempat menonton itu hanya 2,5 km. Tapi, semuanya menanjak, dengan kemiringan mencapai 12 persen. Bisa dibilang, kami harus interval (out of saddle alias berdiri) di hampir sepanjang perjalanan ke atas. Butuh sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.

Kompak mengenakan jersey merah bertulisan “Indonesia”, kami melihat jembatan itu kosong karena ditutup untuk publik. Kami melihat sedikitnya empat helikopter berseliweran. Berharap disyuting kamera dari atas, kami semua melambaikan tangan dengan penuh antusias.

Tidak lama kemudian, peloton pun lewat. Masih tampak santai, lebih mirip parade daripada balapan. Walau sudah start, “lomba” memang belum dimulai saat melintasi Golden Gate. Baru tidak lama setelah melewatinya, para pembalap tancap gas.

Begitu peloton lewat, kami pun turun kembali ke hotel. Makan pagi sesuai rencana, lalu memastikan semua koper dan barang sudah di-loading ke dua van plus satu trailer yang selama ini jadi kendaraan sehari-hari.

Saat kami makan, Ryan Fowler, Jen Slowey, dan Lyne Bessette menata sepeda-sepeda kami dengan rapi di atas kedua van. Setelah makan, langsung naik kendaraan dan menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke downtown Santa Rosa.

Di kota itulah ToC 2013 berakhir. Di kota itulah para juaranya dinobatkan. Di kota itu pula diselenggarakan festival merayakan ending ajang balap sepeda terbesar di Amerika tersebut.

Begitu tiba, suasananya memang balap sepeda banget. Jalan-jalan mulai ditutup karena para pembalap dijadwalkan sampai sekitar pukul 11.30. Etape hari itu memang relatif pendek, “hanya” 130,4 km. Ending-nya melakukan dua lap di tengah kota Santa Rosa, sebelum adu sprint menuju garis finis.

Kabarnya, sekitar 30 ribu orang memadati downtown Santa Rosa pagi itu. Berjam-jam mereka menunggu finis sambil menikmati berbagai hiburan dan stan sponsor atau merchandise.

Banyak barang kecil dibagi-bagikan kepada penonton. Yang paling populer: lonceng sapi mini. Para penonton dengan heboh membunyikannya setiap kali para pembalap lewat.

Banyak tokoh sepeda berkumpul di Santa Rosa hari itu. Secara tidak sengaja, kami bertemu Nick Frey, pembalap sekaligus pemilik merek sepeda custom Boo Bicycles. Lulusan Princeton berusia 25 tahun itu memproduksi sepeda unik, paduan bambu dengan karbon.

Walau seorang entrepreneur, Frey juga anggota tim Jamis-Hagens Berman, tim Amerika. Dia datang mendukung rekan-rekannya, khususnya pembalap bernama Tyler Wren.

Frey-lah yang memandu kami tentang kecepatan lomba. Di putaran pertama di Santa Rosa, Frey menjelaskan bahwa kecepatan peloton mencapai 55 km/jam. Menjelang finis, kecepatan naik di atas 60 km/jam.

“Peter Sagan (pembalap Cannondale, Red) akan memenangi lomba ini,” prediksinya mantap.

Kami bilang, Tyler Farrar (Garmin-Sharp) bakal menjadi penantang. “Garmin tidak punya lead train (pasukan tukang tarik, Red) sekuat Cannondale. Farrar akan finis ketiga,” balas Frey.

Omongan Frey itu menjadi kenyataan! Sagan menang, meraih kemenangan keduanya tahun ini, kesepuluh total selama empat tahun ikut ToC. Itu rekor terbanyak. Plus, Sagan berhasil mengamankan Green Jersey, sebagai pemenang point classification (sprinter terbaik). Farrar Finis ketiga! Di belakang Daniel Schorn (NetApp-Endura).

Begitu lomba berakhir dan seremoni podium berakhir Tejay van Garderen dari BMC berhasil jadi juara keseluruhan alias yellow jersey” kami pun makan siang dan berlanjut menikmati stan-stan yang ada.

Hebat, dalam hitungan dua jam, hampir semua sudah dibongkar. Mulai podium, pintu finis, sampai sejumlah stan merchandise. Sore itu, kami yakin downtown Santa Rosa sudah kembali “normal”.

***
Dari downtown, kami berangkat ke Shiloh Ranch Regional Park. Di sana, sepeda kembali diturunkan, dan kami kembali bersiap bersepeda. Rutenya bukan tergolong berat. Dirancang 30 mil (48 km) menyusuri Sonoma Valley, kawasan penghasil wine superkondang di Amerika. Finisnya di Healdsburg, sebuah kota kecil yang indah.

Jalannya memang naik turun, dengan beberapa tanjakan pendek yang cukup bikin ngos-ngosan. Tapi, pemandangannya sangat spektakuler. Di kanan kiri perkebunan anggur serta beberapa rumah indah dan tempat-tempat untuk wine tasting.

“Ini sempurna. Tempat ini sempurna untuk bersepeda,” komentar Rudi “Oyee” Sudarso dari komunitas Free Surabaya.

Rute menuju Healdsburg ini memang rute bersepeda yang populer. Sejumlah cyclist kami jumpai selama perjalanan. Walau relatif mudah, cuaca hari itu cukup unik. Sebelum bersepeda, beberapa peserta merasakan panasnya sengatan matahari. Suhu berkisar 33 derajat Celsius, tapi terasa sangat kering dan menyengat.

Ketika bersepeda, baru rasanya lebih nyaman. Sebab, anginnya terasa dingin. Meski demikian, keringnya udara membuat kami terus merasa haus. Lyne Bessette, yang memandu, menghentikan peloton di kilometer 30. Alasannya untuk kembali mengisi botol minum dengan air yang disiapkan di van yang dikendarai Jen Slowey.

“Bibir ini rasanya kering terus minta dibasahi,” aku Khoiri Soetomo, salah satu founder Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling.

Setelah itu, kami kembali melaju menuju Healdsburg. Kecepatan rata-rata kami mendekati 30 km/jam. Tidak terlalu cepat, tapi cukup berat bagi sebagian peserta. Apalagi dengan udara yang begitu kering.

Rombongan tiba di Hotel Healdsburg yang terletak di downtown kota berpenduduk 11 ribu jiwa tersebut sekitar pukul 16.30. Setelah itu, semua beristirahat sebelum melanjutkan briefing dan makan malam pukul 19.00.

Makan malam itu disiapkan para guide sebagai farewell dinner. Sebab, Seninnya (20/5), rombongan akan bersepeda sekali lagi sebelum berpisah saat makan siang.

Saat makan malam, Lyne Bessette memberikan suvenir menarik kepada para peserta. Berupa foto yang sudah dia tanda tangani. Fotonya adalah aksi dirinya ketika mengikuti Paralimpik 2012 di London, Inggris.

Ketika itu, Bessette menjadi pilot untuk atlet sepeda buta Robbi Weldon dalam ajang road race tandem. Ketika itu, mereka meraih medali emas!

Prestasi itu merupakan lanjutan rangkaian pencapaian hebat dalam karir Bessette. Perempuan 38 tahun tersebut dulu juga pernah menjadi juara nasional Kanada (road race dan time trial) serta memenangi banyak lomba internasional.

Sebagai balasan, rombongan memberikan suvenir jersey INDONESIA dan jersey bercorak koran Jawa Pos kepada Bessette, Fowler, dan Slowey. “Jersey Indonesia ini begitu mencolok. Bagus sekali ketika kalian kenakan saat melintasi perkebunan anggur,” puji Slowey.

Setelah beberapa hari bersama, malam itu rombongan sudah makin cair dan akrab dengan para guide. Sayangnya, itu adalah dinner terakhir bersama dalam program ini. Tapi, para guide menjanjikan hari penutupan yang sangat seru.

“Kita akan berangkat pagi pukul 07.15. Bersepeda sekitar 30 sampai 40 mil di kawasan Sonoma Lake (danau, Red). Setelah itu balik hotel, mandi, dan berkemas. Dan paling lambat pukul 10.30 sudah berangkat menuju San Francisco,” terang Ryan Fowler.

Ada apa di San Francisco? “Di sana, kita akan bertemu dengan pembalap Tim Cannondale. Jadi, bisa foto-foto serta minta tanda tangan,” ungkapnya.(bersambung)

Surprise! Juraj Sagan Jadi Guide Naik Gunung Setan

GUIDE KEJUTAN: Yudy Hananta berfoto bersama Juraj Sagan (Cannondale Procycling) di Livermore, sebelum berangkat menuju Mount Diablo, Sabtu (18/05). Juraj Sagan adalah kakak kandung Peter Sagan, salah satu bintang utama cycling dunia. FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos
GUIDE KEJUTAN: Yudy Hananta berfoto bersama Juraj Sagan (Cannondale Procycling) di Livermore, sebelum berangkat menuju Mount Diablo, Sabtu (18/05). Juraj Sagan adalah kakak kandung Peter Sagan, salah satu bintang utama cycling dunia. FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos
Kado kejutan didapatkan rombongan Jawa Pos Cycling di Tour of California Sabtu lalu (18/5). Menanjak Mount Diablo, Cannondale menyediakan dua pembalapnya untuk jadi guide. Salah satunya kakak Peter Sagan.

===========================================================
Catatan  AZRUL ANANDA, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU dari Mount Diablo
===========================================================HARI yang paling dinantikan itu akhirnya tiba. Sabtu, 18 Mei, adalah hari yang paling diimpi-impikan (atau paling bikin deg-degan) bagi rombongan Jawa Pos Cycling di event Tour of California 2013.

Mungkin bukan hanya kami yang berdebar-debar. Para pembalap kelas dunia yang mengikuti lomba mungkin juga dag-dig-dug menantikan etape ketujuh hari itu.

Bagaimana tidak. Etape ketujuh itu dijuluki “Queen Stage” alias paling menentukan. Finisnya di tanjakan paling maut lomba: Menanjak Mount Diablo, tak jauh dari Kota Livermore, di California Utara.

Kata “diablo” itu bahasa Spanyol, artinya setan. Secara keseluruhan, ini memang tanjakan seru. Masuk kategori 1, tapi ending-nya bisa tergolong HC (hors categorie) alias kategori yang melebihi segala kategori alias terberat.

Memiliki panjang sekitar 18 km, penanjakan ini memiliki rata-rata kemiringan 5,8 persen. Maksudnya, setiap 1 km jalan, menanjak sampai 58 meter.

Semakin ke puncak, semakin curam. Pada 150 meter terakhir, ada bagian yang mencapai kemiringan 16 persen.

Nah, sebelum para pembalap mendaki Mount Diablo di sore hari, paginya rombongan Jawa Pos Cycling diberi jadwal untuk mendakinya.

Seluruh latihan, seluruh persiapan selama di Indonesia, ditujukan untuk bisa menyelesaikan tantangan Gunung Setan ini…

Dan untuk hari istimewa ini, Cannondale Tours (dioperasikan Duvine Adventure) memberikan kejutan istimewa”

***

Dari Hotel Valencia yang mewah di kawasan Santana Row, San Jose, rombongan bangun pagi pukul 06.00. Pukul 07.30 sudah harus loading semua koper dan berangkat naik dua van ke lokasi start rute di Livermore.

Sabtu itu Cannondale Tours meminta kami mengenakan jersey dan bibshort yang mereka sediakan. Yaitu setelan seragam buatan merek papan atas Sugoi, replika seragam yang dipakai tim balap Cannondale. Warnanya hijau terang menyala, dengan paduan corak hitam, putih, dan biru.

Kami pun bercanda. Kalau tim resminya bernama Cannondale Procycling, kami adalah Cannondale NOT Procycling, impor dari Indonesia.

Tiba di sebuah taman kota di Livermore, kami menyiapkan sepeda dan perlengkapan lain. Suhu udara hari itu diperkirakan cukup hangat, tapi angin dingin bakal menerpa kencang. Jadi, kami pun mengenakan arm warmer, leg warmer.

Lama tidak segera berangkat, ternyata ada alasannya.

Sekitar pukul 09.00, datang sebuah mobil berstiker Cannondale Procycling, dengan dua sepeda SuperSix Evo corak tim terpasang di atas atapnya.

Keluarlah tiga orang. Yang berbaju kasual adalah Rory Mason, salah seorang manajer Cannondale selama di Tour of California. Dua lainnya berbadan kecil dan ramping, dandan lengkap tim balap Cannondale.

Ryan Fowler, salah seorang guide kami, menjelaskan bahwa para pembalap kelas dunia itu adalah guide kejutan bagi rombongan Indonesia. Mereka adalah pembalap Cannondale yang kebetulan tidak diturunkan di Tour of California. Didatangkan untuk menemani kami mendaki Mount Diablo!

Yang pertama adalah pembalap muda tim asal Italia Stefano Agostini, 24. Dia salah satu calon andalan masa depan, mantan juara nasional U-23 di Italia.

Yang kedua punya nama sangat familier bagi penggemar balap sepeda: Juraj Sagan asal Slovakia. Ya, pembalap 24 tahun itu adalah keluarga Sagan. Tepatnya, dia adalah kakak Peter Sagan, salah seorang superstar cycling dunia saat ini.

Wow! Tentu saja para cyclist Indonesia merasa senang bukan kepalang. Kapan lagi bersepeda bareng pembalap kelas dunia, apalagi dipandu untuk menaklukkan salah satu tanjakan paling kondang di California!

Kontan, keberangkatan ke puncak Gunung Setan tertunda lagi. Semua ingin foto-foto dulu dengan para pembalap itu. Khususnya dengan Juraj (baca: Yuray) Sagan.

Pukul 09.30, barulah rombongan berangkat bersama. Hari itu, termasuk menanjak dari sisi selatan dan descent (turun) di sisi utara, kami diperkirakan bakal menempuh jarak sekitar 70 km.

Sebelum berangkat, kami punya pesan sangat penting bagi para guide itu (termasuk lagi Lyne Bessette, mantan juara nasional Kanada): “Tolong selalu ingat bahwa kami bukan pembalap profesional. Yang sabar kalau menanjak bersama, jangan terlalu cepat.

***
Dari Livermore, kami harus menempuh dulu rute rolling di kawasan perbukitan sejauh sekitar 37 km. Juraj Sagan dan Bessette hampir selalu berada di depan, memimpin rombongan beriringan dua-dua. Sesekali Bessette mengizinkan kami memimpin di depan, bersebelahan dengan Juraj Sagan.

Sagan sendiri cenderung pendiam. Bukannya sombong, karena dia selalu ramah. Kata Bessette, mungkin karena kemampuan bahasa Inggris Sagan masih terbatas. Agostini justru lebih proaktif dan sering berbincang dengan rombongan kami.

Tentu saja, ini dijadikan kesempatan untuk tanya-tanya ke mereka. Aris Utama sempat bertanya bagaimana posisi sprint yang paling baik, dan Agostini menunjukkan posisi yang paling ekstrem. Tangan di bagian drop bawah, kepala di depan serendah mungkin, hampir sejajar dengan setir. Dengan bagian pantat menungging tinggi di atas sadel.

Begitu memasuki kaki tanjakan, “perang” pun dimulai. Walau ini bukan balapan, ketika sudah di atas sadel, para cyclist biasanya punya target sendiri-sendiri. Misalnya harus finis duluan. Atau mengalahkan salah satu rekan. Atau tidak ingin jadi juru kunci!

Dengan santai, Juraj Sagan dan Agostini menanjak cepat. Anggota rombongan yang tergolong paling kuat langsung melaju mencoba mengikuti. Sony Hendarto, asal Madiun, ingin melejit duluan “menabung” keunggulan sebelum finis. Khoiri Soetomo dan Liem Tjong San memilih cara “sabar”, menyimpan tenaga dengan harapan menyalipi pesaing yang rontok satu per satu.

“Kunci menaklukkan tanjakan seperti ini memang hanya satu: Sabar,” ucap San, 56, asal Makassar.

Seperti ketika latihan atau touring di Indonesia, Sun Hin Tjendra jadi jagoan. Menjadi anggota rombongan pertama yang mencapai garis akhir. Dia “mengalahkan” Rudi “Oyee” Sudarso selama tiga menit.

Menurut Sun Hin, dirinya mencoba sebisa mungkin membuntuti Sagan dan Agostini. Dia mampu membuntuti hingga 6 km menjelang finis. Setelah itu rontok.

“Mereka kuat sekali. Mereka santai ngobrol berdua. Saya habis-habisan mencoba membuntuti,” aku Sun Hin.

Yang paling apes adalah Slamet dari Madiun. Berada di barisan depan, dia terpaksa DNF (did not finish) karena mechanical (masalah teknis). Sekitar 3 km dari titik ending, pedalnya terlepas dari crank.

Ketika diperbaiki, rombongan sudah selesai dan diajak para guide kembali turun.

Di satu sisi, Slamet merasa penasaran. “Suatu saat harus diulangi lagi,” ucapnya. Di sisi lain, dia tetap puas dengan rute tersebut. “Mount Diablo memang keren. Pemandangannya sangat indah. Selain itu, banyak cyclist bule yang ramah menyapa kita di sepanjang jalan. Tapi, panjangnya memang amit-amit. Bikin capek,” ujar Slamet.

Memang, ribuan orang pagi-siang itu mendaki Mount Diablo. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda. Banyak penggemar balap yang sudah stand by di kanan kiri jalan. Tidak sedikit yang membawa lonceng sapi (cow bell), membunyikannya setiap ada cyclist yang lewat.

Banyak yang berdandan aneh-aneh, seperti dandan ala superhero Captain America. Ada yang menanjak naik sepeda tandem, sepeda fixie, sambil menarik trailer kecil berisi anak balitanya, dan lain-lain.

Sayangnya, yang kami maksud dengan titik akhir bukanlah puncak Gunung Setan. Karena persiapan lomba, jalan ditutup sekitar 2 km sebelum puncak. Hanya kalangan tertentu yang berkaitan dengan lomba yang boleh naik ke puncak.

Di garis akhir itu (total bersepeda 71 km), panitia Tour of California menyediakan kawasan parkir sepeda bagi mereka yang ingin terus menunggu untuk menonton lomba.

Kami sendiri diajak turun. Terus turun melewati sisi utara Mount Diablo. Finis di sebuah kawasan parkir luas di sebuah gereja di Walnut Creek. Kenapa di sana?

Pertama, Cannondale Tours menyiapkan tenda piknik untuk makan siang. Ini sangat penting, karena kami semua sangat lapar.

Kedua, karena di kawasan parkir itulah truk-truk, bus-bus, dan trailer tim peserta Tour of California diparkir. Dan kami diberi tur khusus oleh Rory Mason untuk masuk ke dalam trailer Cannondale Procycling.

Trailer besar ini dibeli Cannondale untuk melayani tim selama mengikuti lomba-lomba di Amerika dan Kanada. Ketika di Tour of California, misalnya, tim ini membawa 8 pembalap serta 12 ofisial dan mekanik. Semua dilayani di dalam trailer ini. Ada kamar mandi, dapur, tempat duduk, plus kompartemen untuk menyimpan sepeda dan perlengkapan lain.

Di sana Mason menunjukkan kepada kami trofi berbentuk beruang, simbol Negara Bagian California. Trofi itu diraih Peter Sagan saat memenangi etape ketiga lomba.

Di sekeliling tampak ada bus besar milik RadioShack-Leopard. Trailer milik Omega Pharma-QuickStep parkir di sebelahnya. Siswo Wardojo termasuk beruntung. Ketika foto-foto di depan bus Garmin-Sharp, seorang staf tim itu keluar dan memberinya hadiah topi!

Sebelum berpisah dengan Juraj Sagan dan Stefano Agostini, para rombongan ramai-ramai minta tanda tangan mereka. Ada yang di jersey, ada yang di sepeda!

Hari itu, tampaknya, bakal menjadi hari yang tidak akan pernah terlupakan”

***

Salah satu keasyikan mengikuti program Tour of California ini adalah hotel-hotel yang menarik. Setelah menginap di Santana Row, San Jose, dari Mount Diablo rombongan diajak kembali ke kawasan di sekitar San Francisco.

Sabtu malam itu rombongan menginap di Cavallo Point, Marine Headlands, di kawasan kaki jembatan Golden Gate, seberang San Francisco.

Hotel ini dulunya markas militer, Fort Baker. Tapi disulap jadi hotel mewah yang trendi plus ramah lingkungan.

Semua perabotnya dari bahan yang ramah lingkungan. Khususnya bambu. Bagian-bagian lain dari bahan yang alami atau hasil daur ulang.

Saat makan malam bersama, Lyne Bessette kembali memberikan brifing tentang jadwal dua hari berikutnya.

Minggu siang (19/5, Senin dini hari tadi WIB), kami dijadwalkan menonton etape terakhir Tour of California 2013, menyaksikan penobatan juara di Santa Rosa. Lalu makan siang dan bersepeda di kawasan indah sekaligus kondang, di Sonoma County.

Kawasan itu adalah kawasan produksi wine yang superkondang. Jadi, kami akan bersepeda menyusuri perkebunan anggur dan sebagainya.(bersambung)

Pemanasan lewat Golden Gate lalu Nonton Etape Time Trial

Dari kiri, Tonny Budianto, Aris Utama, dan Bob Denhert bersepeda di kawasan pantai sekitar Los Angeles. Foto: SRBC for JAWA POS
Dari kiri, Tonny Budianto, Aris Utama, dan Bob Denhert bersepeda di kawasan pantai sekitar Los Angeles. Foto: SRBC for JAWA POS
SETELAH segala persiapan, Jumat lalu (17/5) rombongan Jawa Pos Cycling mulai bersepeda di California, plus merasakan atmosfer lombanya. Rute pemanasannya melintasi jalur turis, melintasi jembatan Golden Gate, dari San Francisco ke Tiburon.
—————
Catatan AZRUL ANANDA, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU, dari San Francisco
—————
Akhirnya! Bersepeda di Amerika Serikat dan merasakan atmosfer Tour of California di kawasan utara negara bagian tersebut.Setelah beberapa hari jalan-jalan, setelah setengah hari menyetel dan menyiapkan sepeda, akhirnya 17 cyclist Indonesia bisa melakukan apa yang selama ini jadi keinginan: Bersepeda.

Jumat pagi lalu (17/5) rombongan dijemput oleh tim Cannondale Tours (Duvine) di Hotel Hilton Union Square, San Francisco. Seluruh bagasi diangkut, dan tim diboyong dengan dua van menuju Sports Basement di kawasan Presidio. Ke tempat di mana sepeda-sepeda Cannondale SuperSix Evo telah siap untuk dikendarai.

Instruksi penjemputan jelas: Ketika dijemput, semua sudah harus siap, dan sudah harus mengenakan jersey dan bibshort serta membawa seluruh perlengkapan bersepeda. Pagi itu, semua berseragam sama, mengenakan jersey bercorak koran Jawa Pos.

Begitu tiba sekitar pukul 08.15 semua langsung menuju ke bagian komunitas Sports Basement untuk mengecek sepeda masing-masing. Benar saja, semua sudah berjajar rapi, siap ditunggangi.

Lyne Bessette, mantan juara nasional Kanada yang menjadi guide, meminta kita semua segera keluar dari ruangan dan menjajal sepeda di area parkir yang begitu luas.

Satu per satu keluar dengan sepeda masing-masing. Melakukan setelan-setelan akhir, menyinkronisasikan komputer GPS, dan sebagainya.

Tidak lama, sekitar 30 menit kemudian, semua sudah siap berangkat. Sebelum berangkat, rombongan menjalani briefing, lalu berpose dulu bersama para guide. Selain Bessette, ada pula Ryan Fowler yang ikut bersepeda, serta Jen Slowey yang mengendarai mobil support.

Dipta Wahyu, fotografer Jawa Pos, ikut mobil bersama Slowey, “mencegat” para cyclist di tempat-tempat tertentu.

Posenya penting (dan historis bagi para peserta). Sebab, Sports Basement berada di kawasan kaki jembatan Golden Gate. Jadi, ketika foto, latar belakangnya adalah jembatan legendaris, yang dibangun pada 1937 tersebut.

Setelah berdoa bersama dipimpin Khoiri Soetomo, rombongan pun beriringan keluar dari kawasan parkir. Dan rute “pemanasan” ini sederhana, tapi diwarnai pemandangan-pemandangan kondang.

“Tidak sampai sepuluh menit kita sudah akan mencapai jembatan Golden Gate, lalu melintasinya. Kita kemudian terus bersepeda ke arah (kota) Tiburon. Kita akan makan siang di sana, lalu naik mobil ke San Jose untuk menyaksikan bagian akhir etape Time Trial (Tour of California),” jelas Bessette saat briefing sebelum berangkat.

Bessette juga mengingatkan, biasanya rombongan bersepeda rapi berjajar dua-dua. Tapi di jalur-jalur khusus harus tertib berurutan satu-satu.
***
Rute hari itu tidaklah panjang. Total hanya 32 kilometer. Hanya ada beberapa tanjakan pendek, khususnya saat naik ke jembatan Golden Gate. Kecepatan pun relatif pelan-pelan.

Sekali lagi, ini rute pemanasan. Semua masih membiasakan diri dengan sepeda masing-masing, serta membiasakan diri dengan cuaca. Pagi itu suhu udara memang relatif dingin, sekitar 18 derajat Celcius. Cahaya matahari mampu memberi kehangatan tapi angin kencang membuat badan gemetaran.

Hampir semua peserta membawa wind breaker (jaket tipis penahan angin) di kantong belakang. Tapi setelah hanya beberapa kilometer, tidak sedikit yang langsung memutuskan untuk memakainya.

Angin paling terasa saat melintasi Golden Gate di jalur sisi barat, di jalur khusus sepeda dan pedestrian.

Rombongan sendiri sempat terpecah-pecah. Bukan karena tidak kuat. Tapi karena banyak yang suka berhenti, foto-foto di sepanjang rute. Maklum, di background ada Golden Gate, ada juga pulau tempat berdirinya penjara Alcatraz.

Rudi “Oye” Sudarso dan Edwin Djunaedhy Rachman, misalnya, sempat berhenti di jalanan turun setelah melintasi Golden Gate.

“Kita di kaki jembatan. Kapan lagi kita di kaki Golden Gate,” ucap Edwin.  “Dulu saya pernah ke sini, tapi hanya mengikuti rute turis. Menyeberang dan foto-foto di tempat turis,” akunya.

Setelah menyeberangi jembatan, rombongan memasuki Marin County, menuju kota kecil yang indah bernama Sausalito. Lalu terus bersepeda, menanjaki bukit menuju kota Tiburon. Diambil dari kata bahasa Spanyol,  “Tiburon” artinya ikan hiu.

Ketika di tanjakan ringan menuju Tiburon, sepanjang sekitar 15 kilometer, Bessette “melepas” para peserta. Bagi yang mau melaju kencang diberi kebebasan. Nanti ada mobil van yang sudah menunggu di downtown Tiburon.

Kontan saja para peserta mengayuh sepeda sekuat mungkin. Setengah balapan. Tanjakan yang tidak terlalu curam (hanya 2-3 persen) membuat semua masih mampu melaju mendekati 30 km/jam. Ketika menurun 50 km/jam pun tercapai. Hanya belok-beloknya harus hati-hati karena cukup tajam dan jalan cenderung berpasir.

Kadang, para peserta lupa kalau di Amerika mobil itu setir kiri, dan semua berada di lajur kanan. Beberapa peserta sempat mengamil lajur kiri dan baru sadar ketika ada mobil melaju dari arah berlawanan.

Sebelum “dilepas” itu, Bessette juga beberapa kali mengingatkan untuk tertib berlalu lintas, berhenti ketika lampu merah.

Tidak terasa, 32 kilometer ditempuh. Sekitar pukul 11.30 rombongan sudah sampai downtown Tiburon. Semua berkumpul di Sam”Anchor Bar. Di restoran yang menghadap ke laut tersebut semua menikmati hidangan makan siang.
***
Selesai makan siang, sekitar pukul 13.00, rombongan langsung naik van lagi. Semua sepeda sudah rapi tertata di atas kedua mobil van. Tujuan: San Jose (perjalanan sekitar dua jam). Di sana rombongan diajak menyaksikan jam terakhir etape keenam Tour of California. Yaitu etape individual time trial (ITT) dengan panjang 31,6 kilometer.

Etape ITT ini unik. Karena selama hampir 30 km jalannya “standar”. Pembalap melaju secepat mungkin satu per satu mencoba mencapai finis tercepat menggunakan sepeda-sepeda khusus TT yang aerodinamis.

Nah, hampir 3 km terakhir adalah tanjakan yang tergolong curam, dengan kemiringan 10 persen atau lebih.

Rombongan diantar ke kawasan penonton yang letaknya di kaki tanjakan. Kedatangan pun pas, sekitar pukul 2.45, ketika para jagoan mulai melintas. Etape ITT memang diatur sedemikian rupa sehingga para pembalap yang berada di puncak klasemen general classification (GC) turun paling akhir. Jadi, siapa pun pemakai yellow jersey, dialah yang terakhir turun ke lintasan.

Di kaki tanjakan itu cukup banyak orang dengan sabar menunggu para pembalap lewat, lalu menyoraki semuanya untuk terus melaju secepat mungkin. Di situ ada sebuah karavan resmi Tour of California yang berjualan merchandise resmi.

Ternyata harga merchandise-nya lumayan mahal. Selembar jersey resmi lomba harganya USD 95 atau hampir Rp 1 juta! Pilihannya replika yellow jersey, green sprinter jersey, atau putih-biru limited edition mengenang lomba edisi 2013.

Tahun lalu, saat mengikuti rute Tour de France kami memborong replika yellow jersey untuk teman-teman di Indonesia. Kali ini kami memilih berpikir dulu. He he he..Mahal oy!

Bersama Lyne, rombongan lantas berjalan naik ke atas. Tanjakan itu benar-benar curam. Pada bagian tempat kami berhenti mungkin kemiringannya lebih dari 10 persen.

Pas di tempat kami berhenti, para unggulan mulai bermunculan. Sejumlah bintang besar tampak santai menuruni tanjakan setelah menyelesaikan etape tersebut. Terlihat di antaranya Jens Voigt dan Andy Schleck, bintang RadioShack-Leopard.

Tidak lama kemudian, pembalap-pembalap pemimpin lomba muncul. Ada Michael Rogers (Saxo-Tinkoff) yang di kaki tanjakan memutuskan ganti sepeda dari TT ke road bike biasa supaya menanjak bisa lebih cepat.

Terakhir, mengenakan yellow jersey, muncul Tejay van Garderen (BMC). Van Garderen, bintang muda Amerika, tampak sangat percaya diri dengan kemampuan sendiri, memilih tidak ganti sepeda.

Benar saja, tidak lama kemudian, Van Garderen diumumkan sebagai pemenang etape TT tersebut. Mengukuhkan posisi sebagai kandidat utama juara Tour of California 2013.

Saat menonton itu Khoiri Soetomo mendapatkan “suvenir” idaman penonton balap sepeda. Mendapatkan bidon (botol minum) kosong yang dilemparkan oleh para pembalap ke sisi jalan.

Begitu etape ini berakhir rombongan langsung berjalan turun kembali ke mobil van. Perjalanan berlanjut ke penginapan di San Jose.
***
Sebagai tur VIP, hotel-hotel yang diinapi rombongan bakal istimewa. Di San Jose, rombongan menginap di Hotel Valencia yang terletak di kawasan perbelanjaan supermewah, Santana Row.

Di restoran hotel mewah itu pula Cannondale Tours menjamu makan malam resmi bersama semua peserta. Para guide juga kembali melakukan briefing, menjelaskan program hari-hari selanjutnya. Sebagai balasan, rombongan –yang mengenakan batik– balik memberi kenang-kenangan kepada para guide berupa kain batik atau suvenir tradisional Indonesia yang lain.

Pukul 21.30 semua peserta kembali ke kamar masing-masing untuk memaksimalkan istirahat. Pasalnya, hari kedua bersepeda, Sabtu (18/5) adalah hari terberat.

Berangkat pagi-pagi pukul 07.30, rombongan check out dari hotel dan menuju kota lain bernama Livermore. Di sana para cyclist akan ditantang untuk mendaki medan terberat Tour of  California 2013: Mount Diablo. Kata “Diablo” itu bahasa Spanyol, artinya “Setan”. Jadi, kita akan diajak mendaki Gunung Setan di pagi hari sebelum para pembalap profesional melintas.

Begitu sampai di puncak, para cyclist nantinya akan berbalik arah dan menuruni rute. Lalu berhenti di titik yang sudah disiapkan untuk piknik makan siang serta menikmati kawasan tempat tim-tim peserta memarkir bus dan kendaraannya.

Menurut penjelasan Fowler dan Bessette, tanjakannya bakal sangat berat. Ada bagian yang kesannya datar, padahal itu “false flat” alias datar yang menipu alias tetap menanjak!

Semula rombongan akan berangkat pukul 08.00. Tapi akhirnya minta dipercepat supaya bisa lebih “menikmati” siksaan Mount Diablo. Sebagai bonus, suhu udara diprediksi lebih “hangat”. Tapi anginnya bakal “menyenangkan”.

“Tampaknya kita bakal beruntung karena kita akan terus melawan angin saat menuju Mount Diablo. Kadang angin kencang juga akan menerjang dari samping,” ungkap Fowler. (bersambung)