N+1 atau S-1, Jumlah Ideal Sepeda yang Harus Dimiliki

Gowes Bersama Joy Riders, Komunitas Sepeda Terbesar Singapura (2-Habis)
8 Mai 2012 – 12.27 WIB 
N+1 atau S-1, Jumlah Ideal Sepeda yang Harus Dimiliki
Jalanan Singapura bakal memuaskan penggemar sepeda balap. Jalan lebar, naik-turun menantang, dan kaya variasi belokan. Tapi hati-hati, lubang besar tetap siap menerkam setiap saat.Laporan Azrul Ananda, Singapura

JOY Riders, komunitas sepeda terbesar di Singapura, punya lambang menarik. Nama ‘’Joy’’ tentu saja diambil dari nama pemrakarsanya: Joyce Leong.

Slogan Born to Ride juga didapat dari hari istimewa Joyce, yaitu ketika ada acara gowes (istilah lain dari olahraga bersepeda, red) bareng merayakan ulang tahunnya (hari born) ke-50. Kurang lebih saat itulah enam tahun lalu komunitas tersebut terbentuk.

Lalu, ada gambar siput. Itu juga dari julukan Joyce, yaitu Snail Queen alias Ratu Siput. Ketika ditanya kenapa itu menjadi julukan, Joyce menjawab dengan cerita.

‘’Dulu itu saya pernah cedera parah. Tapi, tetap ingin bersepeda. Jadi, saya tanya teman-teman, ada nggak yang mau ikut saya bersepeda pelan-pelan seperti siput. Sejak saat itu saya punya julukan Snail Queen,’’ tutur pensiunan advertising sales tersebut.

Meski julukannya siput, jangan remehkan Joyce Leong. Dia mampu melaju kencang, dengan mudah mencapai rata-rata di atas 35 Km per jam. Kalau kita meremehkan, bisa dipermalukan!

Selain siput, di lambang Joy Riders ada pula matahari hitam dengan tulisan angka ‘’5’’ di tengahnya. ‘’Itu karena kami semua selalu berkumpul pukul 5 pagi, saat masih gelap,’’ jelas Joyce.

Kalau penasaran dengan Joy Riders, sangat mudah menemukan mereka di Singapura. Ya pukul 5 pagi itu datang saja ke Longhouse. Yaitu, sebuah pujasera di kawasan Upper Thomson, salah satu jalan utama di Singapura.

Di sana hampir setiap hari berkumpul ratusan, dan minimal puluhan anggota Joy Riders yang siap riding bersama. Total anggota lebih dari 1.000 orang, tapi tidak semua ikut setiap hari.

Walau jumlahnya bisa ratusan, bukan berarti semua berangkat berbarengan. Harus terbagi dalam beberapa kelompok, masing-masing maksimal 20 orang. Kelompok cepat berangkat duluan, lalu kedua, ketiga, dan seterusnya. Kelompok newbie (peserta baru) berangkat terakhir, ditemani oleh anggota senior yang membantu memandu. Tidak ada police escort (forerider), cukup saling menjaga satu sama lain.

Anggota Joy Riders memang disiplin. Peserta wajib pakai helm, menyalakan lampu putih depan dan lampu merah belakang plus senyum! Disarankan pakai jersey seragam untuk kemudahan identifikasi. Wajib seragam saat weekend atau event khusus.

Disarankan juga membawa botol minum (tentu sangat penting!), ban dalam cadangan, uang minimal 20 dolar untuk jaga-jaga, telepon seluler, dan kalau bisa bawa pompa mini.

Larangan lain: Jangan memakai earphonepy dan mendengarkan musik, menelepon saat riding, atau sok pamer. Tentu saja harus ikut aturan lalu-lintas yang tertulis untuk pemakai sepeda. Termasuk berhenti saat lampu merah, mengalah kepada pejalan kaki yang menyeberang, hanya boleh memakai lajur paling kiri, maksimal berjajar dua baris, dan hanya boleh menyalip dari kanan.

Menariknya, sepeda boleh naik ke jalan tol atau jalan layang. Syaratnya ya itu tadi: harus tetap di lajur paling kiri. Rutenya macam-macam. Setiap hari berbeda.

Kalau Senin, tentu libur. Tidak ada acara resmi Joy Riders. Silakan latihan sendiri-sendiri kalau ingin latihan. Selasa dan Kamis adalah hari serius dengan rute keliling Singapura, dengan jarak total sekitar 60 Km.

Rabu dan Jumat adalah hari recovery alias santai. Jarak tempuh 35 sampai 50 Km dengan kecepatan lebih rendah. Sabtu biasanya touring jauh, di atas 100 Km.
Sabtu ini juga ada kelompok khusus berjuluk Secret Society (kelompok rahasia). Yaitu, berangkat lebih dulu, pukul 04.40, untuk bisa menempuh jarak sejauh mungkin. ‘’Kami sangat suka memberi nama untuk segalanya. Supaya lebih menyenangkan,’’ ungkap Joyce.

Ahad hari santai, bersepeda ke tempat wisata atau menuju tempat makan. Joyce sendiri mengaku serius bersepeda untuk mengimbangi hobinya yang lain: makan. ‘’Kalau saya banyak bersepeda, saya boleh banyak makan,’’ ucapnya, lantas tertawa.

Setiap hari rute berakhir di tempat makan pula. Joyce tampaknya suka minum Dinosaur setiap kali habis bersepeda. Yaitu, es Milo dengan tambahan bubuk ekstra banyak!

Tiga kali ikut gowes bareng Joy Riders, rasanya memang mengasyikkan. Jalanan Singapura membuat bersepeda tidak membosankan. Jalan lebar-lebar, naik-turun menantang, belokan sangat variatif.

Kecepatan pun memuaskan. Saya tidak ikut kelompok cepat, yang secara konstan melaju di atas 35 Km per jam (sering di atas 40 Km per jam). Saya ikut kelompok kedua bersama Joyce. Di situs Joy Riders, kelompok kedua itu seharusnya melaju 33-35 Km per jam. Tapi, jangan percaya tulisan begitu saja! Tetap saja kecepatan sering di atas 40 Km per jam dan kalau sedang turunan (descent) dengan mudah bisa di atas 50 Km per jam.

Terus terang, perlu semangat dan motivasi ekstra untuk bisa terus bersama kelompok kedua itu. Jarak tempuh 60 Km diambil nyaris tanpa berhenti. Hanya sesekali berhenti kalau ada traffic light. Jangan sampai putus dan malu. Apalagi, ada banyak anggota perempuan yang akan ‘’melahap’’ kita kalau kita mudah menyerah.

Pernah saya adu cepat dan ketahanan ‘’lawan’’ seorang perempuan umur akhir 20-an atau awal 30-an tahun. Dan dia mengaku baru saja enam pekan lalu melahirkan anak. Gile!

Jalanan mulus, secara keseluruhan iya. Tapi, tetap hati-hati dengan lubang. Pada salah satu perjalanan Kamis pekan lalu (3/5), yang semestinya menempuh jarak 60 Km, saya dapat pengalaman tidak enak itu.

Rutenya hari itu asyik. Dari Longhouse, kami ke arah utara. Ke kawasan Kranji (kalau menyeberang sudah ke Johor, Malaysia!). Lalu, ke selatan lagi via jalan layang West Coast Highway, melewati Harbour Front. Kalau mau, dari situ kita sudah melihat Sentosa Island. Dari situ, tujuannya lewat Marina Bay sebelum finish lagi di tengah kota.

Karena jalan yang relatif selalu mulus, kelompok dengan mudah melaju di atas 35 Km per jam. Di jalan layang West Coast Highway, tepat di sebelah pusat perbelanjaan kondang Vivo City, saya dikejutkan oleh sebuah lubang besar. Brakk!

Sepeda saya menghantam lubang itu saat melaju sekitar 38 Km per jam. Ban belakang langsung pecah, untung tidak jatuh, wheelset-nya tidak apa-apa, dan frame karbon juga tidak apa-apa. Meski dudukan as belakang bengkok, itu dengan mudah bisa diganti.

Kenapa saya khawatir? Sebab, itu sepeda pinjaman dari teman saya, Prajna Murdaya. Ribet juga kalau sampai frame-nya patah, he.. he.. he..’’. Ketika tahu saya punya masalah, anggota lain ikut berhenti. Padahal, saat itu di atas jalan layang serta truk-truk dan mobil-mobil mulai ramai melintas. Salah satu anggota menemani saya berjalan menuntun ke tempat yang aman, lalu berusaha membantu membetulkan sepeda.

Di Joy Riders, ketika ada masalah, minimal satu anggota lain harus membantu. Khususnya yang hari itu tidak tergesa-gesa harus segera kembali dan bekerja. Sayang, waktu itu tidak sempat dilakukan perbaikan. Akhirnya, dia menemani saya turun jalan layang, mencari bus stop, dan mencari taksi!

Ini enaknya di Indonesia, ada tukang tambal ban di mana-mana! Kata Prajna, kita memang harus benar-benar berhati-hati dengan lubang jalanan di Singapura. ‘’Lubang bisa tiba-tiba menerkam begitu saja,’’ ujarnya.

Siangnya, saya pun membawa sepeda itu ke toko/bengkel sepeda yang sesuai. Dan di Singapura, ada puluhan toko sepeda mengasyikkan. Jadi, senang-senang saja pergi ke toko-toko itu!
***

Seperti ditulis di atas, setiap acara gowes bareng berakhir di kawasan makan. Misalnya, pujasera di Newton Square, dekat kawasan Bukit Timah. Di sana tentu saja semua asyik ngobrol seputar sepeda.

Salah satu tema: rencana touring bareng ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Cina, atau Spanyol. Tema lain: urusan beli sepeda baru. David Lavery, seorang pengacara asal Kanada, mengaku baru saja berbuat ‘’dosa’’ dan membeli sepeda baru.

Dia menyampaikan gurauan, menyampaikan ungkapan dari sebuah komunitas serius di Italia soal jumlah sepeda yang harus kita miliki. ‘’Ada dua pegangan soal jumlah sepeda yang harus kita punyai. Satu adalah N+1, di mana N adalah jumlah sepeda yang kita miliki sekarang. Jadi, intinya, kita harus selalu menambah sepeda!’’ katanya, lantas tertawa.

‘’Yang satu lagi adalah S-1,’’ tambah Lavery. ‘’S adalah jumlah sepeda yang dimiliki yang akhirnya mengakibatkan kita bercerai dengan istri atau suami,’’ lanjutnya, disambut tawa yang lain.

Meski bicara soal sepeda baru, harus ditegaskan bahwa Joy Riders sangat tidak gengsi-gengsian. Road bike yang dipakai sangat beragam, kebanyakan justru yang masuk kategori harga terjangkau.

Joyce selalu menyampaikan ungkapan ini di email-nya: ‘’The happiest people don’t have the best of everything. They just made the best of everything.’’ Artinya: Orang paling bahagia bukanlah orang yang memiliki segala hal yang terbaik. Melainkan, orang yang mampu memaksimalkan segala hal yang mereka miliki.(jpnn/ila)

Advertisements

Hanya Libur Senin, karena Itu Hari Membosankan

Gowes Bersama Joy Riders, Komunitas Sepeda Terbesar Singapura (1)
7 Mei 2012 – 11.39 WIB

Hanya Libur Senin, karena Itu Hari Membosankan

Beberapa anggota Joy Riders Singapura (Foto: photobucket.com)
Laporan AZRUL ANANDA, SingapuraJoy Riders, komunitas sepeda terbesar Singapura, diprakarsai dan dikelola sendirian oleh Joyce Leong, perempuan berusia 56 tahun. Kini anggotanya lebih dari 1.000 orang dan sepekan enam kali gowes —istilah lain utuk olahraga bersepeda— bareng.

Silakan tanya para penghobi berat sepeda, khususnya road bike yang hampir setiap hari berlatih. Andai tidak bisa mengayuh selama beberapa hari, kebanyakan mungkin bilang badan rasanya tidak enak. Atau minimal takut kondisi badan (yang lama dibangun) menurun.

Dalam tiga pekan terakhir saya hampir dua pekan di Singapura. Bukan liburan, melainkan menemani anak menjalani pengobatan. Sudah delapan bulan ini aktif latihan road bike (sepeda balap), tentu rasanya gatal (dan lesu) ketika lama absen.

Oleh Prajna Murdaya, teman saya yang juga penggemar road bike, saya pun dikenalkan ke Joy Riders. Kebetulan, ketika itu Prajna juga di Singapura, menantikan kelahiran anaknya yang ketiga. Kebetulan lagi, ukuran sepeda dia dengan saya sama. Jadi, saya dapat pinjaman yang pas.

Sebelumnya, saya sama sekali tak punya bayangan apa itu Joy Riders. Saya pikir komunitas biasa saja. Info dari Prajna, komunitas ini hampir setiap hari latihan keliling kota, selalu berangkat pukul 05.00 di kawasan Upper Thomson. Pukul 07.00-08.00 sudah selesai, lalu semua berangkat kerja.

Ternyata, ini bukan komunitas biasa. Setelah beberapa kali ikut latihan bersama mereka, saya malah kagum dan dapat banyak inspirasi. Apalagi, anggotanya sangat beragam. Ada tua, ada muda. Ada warga Singapura, banyak warga asing yang tinggal di Singapura. Dan, banyak yang perempuan dan mereka jago ngebut naik sepeda!

Apalagi setelah tahu Joy Riders itu komunitas terbesar di Singapura, dengan anggota lebih dari 1.000 orang! Semua itu dikelola oleh seorang perempuan berusia 56 tahun bernama Joyce Leong.

Untuk kenal Joy Riders, pertama harus kenal dulu Joyce Leong. Perempuan kelahiran Penang, Malaysia, 10 Januari 1956 itu benar-benar memulai komunitas ini tanpa disengaja.

Joyce, yang pensiun dari pekerjaan sebagai advertising sales, dulu punya hobi ikut triathlon. Lari, bersepeda, dan renang. Hingga sekitar enam tahun lalu. Kata dokter, dia sudah tidak boleh lagi lari karena masalah punggung.

‘’Mau renang saja juga kurang asyik. Renang itu boring (membosankan, red). Tidak bisa ngobrol sama orang saat melakukannya,’’ aku Joyce.

Bersama beberapa teman, Joyce pun rajin bersepeda. Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba saja kelompoknya membesar. Seorang teman lantas membuka forum online, dan Joy Riders pun terbentuk dengan sendirinya.  ‘’Sekarang anggota kami sekitar 1.029 orang. Mungkin lebih,’’ ungkapnya.

Nama ‘’Joy’’ tentu saja diambil dari nama depan Joyce. Kebetulan, ‘’joy’’ juga berarti kesenangan. Dan, komunitas ini terbentuk karena semua punya kesenangan yang sama.

Joyce, yang ‘’jobless’’ mengelolanya secara full time di apartemennya, yang berlokasi tidak jauh dari Orchard Road. Di sana dia tinggal bersama suami, seorang wiraswastawan, dan dua anak yang sudah berusia remaja.

Walau dikelola sendiri, Joy Riders sangat tertata rapi. Untuk menjadi anggota tidak ada iuran bulanan atau tahunan. Cukup datang ke tempat tinggal Joyce, membeli jersey seragam Joy Riders. Harganya 90 dolar Singapura sepasang (jersey dan celana) untuk tangan pendek, 120 dolar untuk tangan panjang. Sejumlah sponsor turut mendukung, dan logo mereka terpampang di jersey tersebut.

Setelah itu Joyce akan memotret anggota baru mengenakan jersey, lalu mem-posting fotonya di situs resmi komunitas. Anggota baru juga diminta mengisi data diri secara online, dan tergabung di forum untuk mengikuti update terbaru komunitas.

Sebenarnya, cara pengelolaan ini juga bukan hal baru. Banyak komunitas di Indonesia juga sama. Termasuk Surabaya Road Bike Community (SRBC), tempat saya ikut bergabung sehari-hari. Tapi, Joyce menggunakan situs secara lebih jauh.

Setiap pagi, saat berkumpul di Longhouse di Upper Thomson (detail perjalanan bersepeda dan aturan jalanan akan dilanjutkan di seri kedua), Joyce akan memberi tahu semua anggota tentang password hari itu. Jadi, setelah riding, semua bisa meng-input password itu secara online, dan bisa mendapatkan poin.

Semakin banyak poin, semakin besar peluang anggota mendapatkan door prize yang disediakan sponsor. ‘’Kalau ikut event, poinnya lebih,’’ tambah Joyce.

Karena sifatnya tidak terlalu terikat dan tidak ada iuran tetap, banyak anggota justru jadi betah ikut Joy Riders. Mereka bisa bergabung riding bersama kapan saja, sesuai kebutuhan kerja masing-masing. Maklum, jadwal riding sangat pagi dan setiap hari bisa mengakibatkan anggota harus mengorbankan beberapa hal lain.

‘’Kalau setiap hari, sulit menyesuaikan dengan kehidupan sosial. Termasuk kehidupan malam. Ha.. ha.. ha..,’’ kata seorang anggota Joy Riders, seorang pimpinan perusahaan software di Singapura.

Bagi para ekspatriat, Joy Riders juga menjadi alat ideal untuk mengenal Singapura dan mencari teman selama bekerja atau bertugas di sana.

Ambil contoh David Lavery, pengacara perusahaan minyak asal Kanada. Lavery sudah setahun ini tinggal di Singapura, setelah sebelumnya tinggal lama di Abu Dhabi.
‘’Saya bergabung sejak pindah dari Abu Dhabi. (Joy Riders) ini grup yang sangat sosial (akrab). Dan, itu penting bagi seseorang yang baru saja pindah ke Singapura,’’ ucapnya.

Lavery sendiri punya julukan kocak, ‘’Captain Suzie’’. Usut punya usut, ketika perayaan Imlek, dialah pemenang kontes Cina Doll dalam pesta yang diselenggarakan Joy Riders. Artinya, dia menang karena dandan paling heboh sebagai perempuan!

Joyce memang suka memberikan julukan kepada para anggotanya. Karena nama saya Azrul, Joyce sempat memberikan julukan ‘’ACE-zrul’’. Lumayan, ‘’Ace’’ kan berarti jagoan ha.. ha.. ha.. Tentu saja, meski sifatnya rekreasional, Joy Riders sangat serius dalam mengutamakan keselamatan dalam bersepeda. Cara mereka mengatur rombongan serta menghadapi aturan bersepeda di Singapura juga bisa dijadikan inspirasi.(bersambung)