Di Kampung Basket, Babi Lewat Paksa Time Out

Minggu, 25 Januari 2009 , 07:59:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (3-Habis)

Sebelum datangnya DetEksi Basketball League (DBL), tanda-tanda heboh basket sudah ada di Papua. Kampung-kampung basket bertebaran di sekeliling Danau Sentani yang indah itu.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan commissioner DBL.

KOMPETISI basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League 2009 (DBL), diselenggarakan di 16 kota di 15 provinsi di Indonesia. Seri pertama di Papua, yang berakhir Jumat lalu (23/1) di Jayapura, tampaknya bakal menjadi salah satu yang terheboh.

Hingga penutupan, total berlangsung enam hari pertandingan. Sehari maksimal empat pertandingan. Hanya dalam waktu pendek itu, lebih dari 17 ribu penonton mengunjungi GOR Cenderawasih. Karena kapasitas gedung tak sampai 2.000 orang, pada saat semifinal dan final mereka harus rollingalias bergantian menonton.

Padahal, harga tiket tergolong tinggi. Harga tiket final bahkan lebih mahal daripada pertandingan profesional yang sedang berlangsung di Jakarta.

Usai final itu, Ketua Perbasi Papua Jhon Ibo berbicara kepada saya, berterima kasih telah menyelenggarakan Honda DBL 2009 di provinsinya. “Ini kebangkitan basket Papua,” ucapnya.

Terus terang, saya agak malu juga mendengar itu. Sebab, justru kamilah yang seharusnya berterima kasih kepada seluruh warga Papua. Sebab, mereka membantu kami membuktikan bahwa konsep student athlete dan penyelenggaraan standar tinggi bisa dilakukan di mana saja. Yang penting ada kemauan dan dukungan dari semua yang berkaitan.

Apalagi, sebelum Honda DBL 2009 datang, basket sepertinya memang sudah dahsyat di Papua. Minat masyarakatnya bahkan bisa dibilang menyetarai minat terhadap sepak bola.

Kamis lalu (22/1), saat libur pertandingan sebelum final, saya, Lucky Ireeuw (redaktur pelaksana Cenderawasih Pos dan ketua panitia Honda DBL 2009 di Papua), plus beberapa personel DBL Indonesia melihat betapa kuatnya grass root basket di Papua.

Kami diajak Jhon Ibo serta Jan R. Aragay dan beberapa teman lain dari Perbasi Papua, mengelilingi Danau Sentani naik speed boat. Bukan sekadar untuk menikmati keindahan, melainkan untuk mengunjungi “kampung-kampung basket” yang bertebaran di sekeliling dan di pulau-pulau yang terdapat di danau tersebut. Ikut pula Jecklin Ibo, 18, cucu Jhon Ibo yang sekarang telah menjadi atlet basket nasional.

***

Kampung pertama yang kami kunjungi adalah Ayapo. Kampung ini penduduknya 1.148 orang, dan punya sejarah menyumbangkan banyak atlet. Bukan hanya untuk Papua, juga nasional. Pada era 1970-an hingga 1980-an, banyak nama tenar muncul dari Ayapo.

Fredrik Deda, 46, kepala kampung tersebut, menyebutkan nama-nama seperti Hanock Deda, Adrianus Yomo, Lewi Puhili, Isack Deda, Moses Pulalo, Lukas Lali, dan beberapa lainnya.

Di Ayapo ini, memang ada lapangan basket. Letaknya di pinggir danau, di sisi satunya ada bukit kecil dan pemakaman. Kalau difoto dari bukit itu cukup menarik. Karena pemandangan di sisi lain adalah Danau Sentani yang indah.

Dulu, dasar lapangan itu tanah biasa. Sekitar lima tahun lalu, tutur Jhon Ibo, kampung ini diberi material untuk membangun lapangan dari beton. Warga yang mengerjakannya sendiri.

Fredrik Deda bercerita, kalau sore orang bisa berebut menggunakan lapangan itu. “Karena itu kami mengaturnya. Hari ini putra, besoknya putri. Kalau tidak, bisa marah-marah,” ungkapnya. “Kalau di sini ada empat lapangan, semua pasti terisi,” tambahnya.

Kampung itu total punya sekitar 100 pemain basket, putra maupun putri dari segala umur. Mereka punya klub. Yang putra bernama Putravo, yang putri bernama Putrivo.

Dengan bangga Fredrik bilang bahwa kedua tim itu baru saja meraih sukses di sebuah kejuaraan antarkampung terbuka di Pulau Putali, yang juga terletak di Danau Sentani. “Kami mengirimkan tim usia di bawah 20 tahun. Semua biaya transportasi dan pendaftaran didanai dari kampung ini. Tim putra dan putri kami sama-sama masuk final,” ucapnya.

***

Kampung di Pulau Putali itu merupakan kampung basket kedua yang kami kunjungi. Penduduknya juga sekitar 1.000 orang. Di sana lapangan basketnya juga terletak tepat di sisi danau. Tapi, fasilitasnya lebih “komplet.” Tak heran, lapangan inilah yang dipakai untuk turnamen terbuka antarkampung, yang diikuti puluhan tim pada Maret 2008 lalu.

Tentu saja, yang dimaksud “komplet” itu masih tergolong sederhana. Di satu sisi lapangan, ada “tribun” yang terbuat dari beton. Di sanalah penonton menikmati pertandingan.

Di sisi lain, ada sederet rumah penduduk, rumah panggung di atas air danau. Salah satu rumah itu punya dinding agak lebar, dan dinding itulah yang dijadikan papan scoreboard. Petugas pertandingan menggunakan kapur untuk menuliskan perolehan poin di lapangan.

Yang seru lagi, sama seperti di Ayapo dan kampung-kampung basket lain, binatang peliharaan dengan bebas berkeliaran. Baik anjing maupun babi. Besar maupun kecil. Tak jarang, binatang-binatang itu dengan cuek masuk lapangan, termasuk saat dilangsungkannya pertandingan resmi.

“Di sini kendala nonteknisnya adalah binatang lewat. Kalau ada anjing atau babi lewat, mau tak mau harus time out dulu,” papar Nico Malimongan, 32, seorang wasit dari Perbasi Papua.

Dari Putali, kami diajak ke tempat yang sangat spesial bagi Jhon Ibo. Yaitu, Pulau Ajau, tempatnya berasal dulu. Kampung pertama yang kami kunjungi adalah Kampung Ifale. Lagi-lagi, di sana ada lapangan basket beton. Sayang, sisi lapangan yang bersebelahan langsung dengan danau sudah amblas. Fondasinya tampak kurang kuat.

Dengan kondisi seperti itu, kalau pemain basketnya rewel, yang dipakai mungkin hanyalah satu sisi ring (yang tidak amblas). Tapi dasar gila basket, lapangan yang amblas sebelah bukanlah kendala untuk bermain dan berlatih. “Semua bagian lapangan tetap kami pakai,” ungkap Videl Suebu, 24, seorang pengurus basket di Ifale.

Melihat kondisi lapangan yang mulai rusak itu, Jhon Ibo punya kesimpulan. “Biasanya kami hanya mendatangkan material ke kampung-kampung basket ini. Lalu warga membangun lapangan sendiri. Campuran semen mereka mungkin tidak pas. Mungkin lain kali, biar tukang saja yang membangun lapangan-lapangan ini,” tuturnya.

***

Berjalan sedikit dari Ifale, tibalah kami di Kampung Hobong, kampung asal Jhon Ibo. Dia mengaku di Hobong-lah lapangan basket pertama dia bangun di sekitar Sentani.

Waktu itu pada 1966, saat dia masih berusia sekitar 19 tahun. Jhon Ibo mengaku jatuh cinta pada basket ketika masih SMA, di sebuah sekolah asrama di Jayapura. Di sana dia berteman dengan beberapa anak asal Filipina. Dari merekalah dia belajar bermain basket dan terinspirasi untuk mengembangkannya di kampung halaman.

“Lapangan pertamanya masih tanah. Tiang ring-nya dari pohon palem yang dipotong. Lingkar ring masih dari kawat,” kenang Jhon Ibo.

Sekarang, seperti lapangan-lapangan lain di kampung-kampung basket Sentani, lapangan itu sudah terbuat dari beton. Waktu kami berkunjung, ada beberapa anak sedang asyik main basket di situ. Ada pula Ignatius Suebu, 34. Dia dulu murid basket Jhon Ibo, dan sekarang dialah pelatih basket di Hobong.

Di lapangan ini pula Jecklin Ibo kali pertama bermain basket. Dia dulu sekolah di SD yang terletak tepat di sebelah lapangan tersebut.

Ketika di Hobong itu, senja sudah tiba. Tepat sebelum matahari terbenam, kami kembali ke “daratan” untuk kembali ke Jayapura.

Keesokan harinya, final Honda DBL 2009 diselenggarakan di Jayapura. Tim putri SMA Teruna Bakti Jayapura dan tim putra SMAN 1 Merauke tampil sebagai juara. Disaksikan sekitar 3.000 orang yang bergantian memenuhi gedung pertandingan.

Di Jayapura pula, pemecahan rekor terjadi. Yohana Magdalena “Super” Momot, bintang SMA Teruna Bakti, mencetak 71 poin dalam laga final melawan SMAN 1 Jayapura. Itu perolehan individual tertinggi sejak DBL kali pertama diselenggarakan di Surabaya pada 2004 lalu.

Dalam perjalanan pulang ke Surabaya Sabtu kemarin (24/1), setelah sepuluh hari di Jayapura dan “belajar” basket di Papua, saya merasa lega dan bangga. Pilihan kami untuk membuka Honda DBL 2009 di Jayapura tidaklah salah. Semua berlangsung melebihi ekspektasi.

Bagi semua anggota panitia, penyelenggaraan ini memang melelahkan. Tapi, seperti yang disampaikan Direktur Utama Cenderawasih Pos Suyoto, semua kerja keras dan kendala yang dihadapi itu terbayarkan dengan kehebohan yang dihasilkan.

Saya juga berpikir, mengapa sebelum ini tidak ada pihak lain dari luar Papua yang mau menyelenggarakan kompetisi di provinsi tersebut. Infrastrukturnya memang pas-pasan, tapi antusiasmenya lebih dari dahsyat dan pemandangan di sekitar kotanya sangat istimewa.

Soal gedung pertandingan yang kurang besar, sekarang juga sudah ada harapan. Katanya, gedung baru di Universitas Cenderawasih bakal selesai dibangun pada akhir 2009 ini. Kalau terwujud, itu peluang untuk tumbuh bagi even basket di Papua.

Sebelum pulang, banyak yang minta agar DBL kembali ke Papua tahun depan. Mulai pemain, pelatih, sampai warga kota Jayapura yang kami temui saat makan atau jalan-jalan.

Selama berlangsungnya Honda DBL 2009, di mana-mana di Jayapura orang memang membicarakan kompetisi ini. Di Bandara Sentani sebelum pulang kemarin (Sabtu, 24/1), di mana-mana kami melihat banyak orang menikmati liputan Honda DBL 2009 yang berhalaman-halaman di Cenderawasih Pos.

Saat di pesawat menuju Surabaya pun saya masih diajak diskusi soal kompetisi itu. Misalnya dengan Saul Salamuk, yang duduk dekat saya. Dia mengaku masih saudara dengan Yohana M. Momot, sang pemecah rekor. Juga dengan Elias Henche Thesia, pemain SMAN 1 Jayapura yang terpilih masuk League DBL First Team dan akan ikut terbang ke Surabaya bertemu bintang NBA.

“Di kantor orang semua meributkan (membicarakan, Red). Kenapa tidak dari dulu-dulu ada (DBL). Ini harus rutin diselenggarakan,” kata Saul.

Dengan antusiasme seperti itu, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak kembali tahun depan. (habis)

sumber : http://www.jpnn.com

Advertisements

Main dengan Satu Mata, Elias akan Bertemu Pemain NBA

Sabtu, 24 Januari 2009 , 07:12:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (2)

Bikin kompetisi basket di Papua memberi banyak inspirasi. Baik dari para pemain mudanya maupun dari kampung-kampung basket yang tersebar di sekitar Danau Sentani.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos yang juga commissioner DBL.
INFRASTRUKTUR adalah kendala besar penyelenggaraan kompetisi basket di berbagai penjuru Indonesia. Perbedaan gedung dari satu kota ke kota yang lain bisa sangat ekstrem. Ada kota yang gila basket, gedungnya kecil dan kumuh. Ada kota yang biasa-biasa saja terhadap basket, tapi gedungnya berlebih. Baik itu ukuran tribun maupun jauhnya jarak dari keramaian.
November tahun lalu, saya bersama Masany Audri dan Puji Agus Santoso dari DBL Indonesia lebih dulu mengunjungi Jayapura untuk bertemu panitia dari Cenderawasih Pos serta perwakilan Honda sebagai partner utama. Ketika kali pertama mengunjungi GOR Cenderawasih, tempat diselenggarakannya Honda DBL 2009 seri Papua, perasaan kami antara kaget dan tidak.
Kami memang tidak punya ekspektasi tinggi, dan sudah punya pengalaman memermak gedung-gedung basket yang sebenarnya mungkin sudah tidak layak.Saya tidak akan menjelaskan secara detail seperti apa. Yang pasti, kami harus menambahkan satu aturan lagi dalam fan code of conduct (aturan penonton yang selama ini kami terapkan). Bila biasanya dilarang membawa rokok, botol minuman, dan makanan, sekarang ditambah larangan membawa masuk buah pinang.Juga, sempat tercetus ide untuk kerja bakti beberapa hari sebelum kompetisi dimulai 16 Januari lalu. Dasar nasib baik, kerja bakti tak perlu dilakukan. Ketika Puji kembali ke Jayapura untuk persiapan penyelenggaraan awal Januari lalu, dia bilang, ’’Kita dapat berkah Natal.’’ Karena GOR Cenderawasih dipakai Natalan, gedung itu pun dicat total. Dan karena Honda DBL 2009 adalah even besar pertama di awal tahun, kami kelimpahan kebersihannya…

***

Gara-gara dipakai acara partai di luar kesepakatan pemakaian gedung (dengan karaoke-karaokean segala), panitia hanya punya waktu 18 jam untuk menyiapkan GOR Cenderawasih untuk pembukaan Honda DBL 2009. Pada akhirnya, semua siap pukul 12.00 WIT hari Jumat, 16 Januari lalu. Hanya dua jam sebelum pembukaan kompetisi. Tidak seideal yang diharapkan, karena penataan branding dan peralatan semua serba cepat-cepat, tapi sudah terlihat bakal ada even berstandar tinggi.

Salah satu bagian yang paling dikhawatirkan adalah lapangan. Pertama, butuh waktu beberapa jam untuk menata sports tile (lapangan panel-panel plastik). Kedua, merapikan lapangan itu sendiri dan kemudian menempelinya dengan stiker sponsor. Apalagi, di Jayapura ternyata tidak ada orang yang punya pengalaman memasang stiker lapangan basket. Dulu katanya pernah ada kompetisi yang disponsori sebuah merek rokok dan memakai stiker lapangan. Tapi, penempel stikernya didatangkan dari Jakarta.

Hal itu membuat kami bangga. Ada pemasang kaca film mobil yang bersedia menempeli stiker lapangan Honda, Relaxa, dan BNI. Karena pemasang kaca film, dia pun menempeli stiker besar-besar itu pelan-pelan, mengencangkannya pakai windshield wiper (penyapu kaca mobil).

Lebih lambat memang, tapi minimal Honda DBL 2009 telah meninggalkan satu pakar pasang stiker di Jayapura. Kalau mau menerbangkan ahli dari Jakarta atau Surabaya, mungkin bisa. Tapi, selain buang-buang biaya, juga tidak ’’meninggalkan’’ sesuatu untuk Papua.

***

Jhon Ibo, ketua Perbasi Papua, bilang kepada saya bahwa even kami telah menggairahkan basket di provinsi paling timur tersebut. Terus terang, justru kami yang merasa terinspirasi oleh gairah basket di Papua. Dan itu memberi beban kepada penyelenggaraan Honda DBL 2009 di 15 kota lain di Indonesia.

Bayangkan, mulai penyisihan hingga final kemarin, jumlah penonton per hari minimal di angka 2.000. Itu pun terjadi Minggu lalu (18/1), karena pada hari tersebut biasanya orang di Jayapura enggan melakukan kegiatan, fokus beribadah.
Puncaknya terjadi saat Fantastic Four (semifinal) Rabu lalu (21/1). Sekitar 5.000 orang datang ke GOR Cenderawasih, sehingga panitia sempat harus mengosongkan gedung dua kali di sela-sela pertandingan supaya penonton bisa duduk bergantian.

Kata teman-teman Cenderawasih Pos dan Perbasi Papua, ini kali pertama di Jayapura penonton diminta untuk rolling. Kata mereka, ini adalah even olahraga terbesar yang pernah ada di Papua. Dari segi penonton, hanya pertandingan sepak bola Persipura yang lebih banyak. Padahal, harga tiket termasuk tertinggi. Bahkan, harga tiket final kemarin (Jumat, 23/1) lebih mahal dari pertandingan profesional di Jawa.

Dari semua kota yang pernah dikunjungi DBL, penonton per pertandingan di Jayapura ini mampu menyaingi jumlah penonton di kota tempat DBL Indonesia berpusat, Surabaya. Jauh lebih tinggi dari kota-kota yang lain.

***

Semangat peserta di Papua luar biasa. Jumlah peserta memang kami tahan di bawah angka 30, karena ini kali pertama penyelenggaraan di sini. Tapi, dari angka 25 tim yang ikut (16 putra dan sembilan putri), semua punya cerita yang mampu memacu semangat tim-tim sekolah di kota-kota lain di Indonesia.

Bukan hanya dari Kota dan Kabupaten Jayapura, peserta Honda DBL 2009 juga datang dari kota-kota lain seperti Wamena dan Merauke. Bagi yang kurang familier dengan Papua, silakan lihat peta. Kedua kota itu jauh dari Jayapura. Dan tidak ada jalan darat yang menghubungkan kedua kota tersebut dengan Jayapura. Seluruh tim Wamena dan Merauke (termasuk ofisial dan tim yel-yel) harus terbang naik pesawat ke Jayapura!

Tim SMAN 1 Wamena sempat bermain hanya dengan tujuh anggota yel-yel. Menurut aturan DBL di Papua, kalau yel-yel kurang dari delapan, setiap kekurangan harus digantikan oleh pemain (yang ditunjuk oleh lawan). Pemain itu harus ikut menyoraki tim dan ikut tampil menari di tengah lapangan saat half-time.

Pada pertandingan kedua, tim Wamena tak mau masalah itu terulang. Satu yel-yel yang berhalangan hadir di laga pertama itu pun diterbangkan ke Jayapura untuk melengkapi tim.

Tim SMAN 1 Merauke, meski datang paling jauh, merupakan tim yang layak disebut sebagai tim paling rapi dan disiplin. Bukan hanya di Papua, tapi di seluruh Indonesia. Bukan hanya tim pelajar, tapi mungkin juga tim profesional. Saat pendaftaran, tim itu sangat tertib. Semua kelengkapan dikumpulkan rapi. Ketika menonton pembukaan, semua pemainnya datang menggunakan kemeja rapi dan berdasi. Ketika bertanding, mereka juga terlihat paling rapi dan benar-benar terlihat seperti ’’tim’’.

Padahal, tim tersebut sempat hampir tak bisa ikut Honda DBL 2009 di Papua. ’’Ketika mendengar dan mengetahui DBL di Cenderawasih Pos, gaungnya luar biasa. Tapi, waktu hendak mendaftar, informasi pertama yang kami dapat adalah pesertanya hanya untuk wilayah Jayapura dan sekitarnya,’’ tutur Frans Lucky Liptiay, guru dan pelatih SMAN 1 Merauke. Lucky, panggilan akrabnya, tidak menyerah. ’’Kami sempat menyampaikan, kalau tidak ada wakil dari Merauke, lagu Dari Sabang sampai Merauke dihapuskan saja,’’ ungkapnya.

Begitu ikut, Lucky mengaku senang dan bangga. ’’Pertandingannya memang (tingkat) SMA, tapi kemasannya VIP. Kami biasanya kalau bertanding di tribun penonton banyak makan buah pinang. Jadi hijau merah di mana-mana. Ini benar-benar istimewa,’’ tuturnya.

Dari semua tim itu, Honda DBL 2009 akan memilih lima pemain putra, lima pemain putri, dan dua pelatih untuk terbang ke Surabaya, Agustus mendatang. Mereka akan mengikuti Indonesia Development Camp 2009, yang diselenggarakan DBL bersama liga paling bergengsi di dunia, NBA. Para pemain tersebut akan bertemu dan berlatih bersama pemain serta dua asisten pelatih NBA.

Dari para pemain terpilih itu, yang bakal memberi banyak inspirasi adalah Elias Henche Thesia, bintang SMAN 1 Jayapura. Ketika masih berusia empat tahun, dia dan kakaknya bercanda pakai pisau. Tragis, pisau itu melukai mata kanan Elias. Sejak saat itu, dia hanya bisa melihat pakai mata kanan.

Kendala penglihatan tidak menghalangi niat Elias untuk berprestasi di lapangan. Dialah salah satu mesin poin utama SMAN 1 Jayapura. Larinya sangat cepat, gerakannya cukup akrobatik. Bola masuknya sering tipe-tipe tembakan ’’ajaib’’ (terhalang lawan atau saat posisi sulit). Untuk mengompensasi penglihatan, saat free throw (tembakan bebas), Elias harus menoleh ke kanan supaya mata kirinya bisa melihat ring dengan jelas.

Anak 17 tahun yang sudah kehilangan ayah itu juga motor pertahanan dahsyat. Saat semifinal melawan SMA Teruna Bakti Jayapura, dia tak pernah menyerah mengejar bola, mencoba mencuri dari tangan lawan. Sayang, upaya itu terhenti di semifinal, SMAN 1 kalah tiga angka, 41-44. Andai SMAN 1 lolos ke final, saya dan teman-teman sudah berbicara, Elias-lah peraih Most Valuable Player (MVP) di Honda DBL 2009 seri Papua.

Meski demikian, Elias tetap terpilih masuk League First Team, bakal terbang ke Surabaya untuk bertemu pemain NBA. Ketika saya tanya apa yang akan dia lakukan bila bertemu bintang NBA, Elias menjawab dengan polos, ’’Saya akan jabat tangannya.’’ (bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com

Coba Buktikan Kompetisi Terbesar Tak Harus di Jakarta

Jum’at, 23 Januari 2009 , 01:47:00

Di Balik DetEksi Basketball League dan Kehebohan Basket di Papua (1)

SUASANA GOR Cenderawasih, Jayapura, Rabu (21/1). Sekitar4000 orang secara bergantian memadati GOR tersebut.Foto: Hendra Eka/JAWA POS
SUASANA GOR Cenderawasih, Jayapura, Rabu (21/1). Sekitar4000 orang secara bergantian memadati GOR tersebut. Foto: Hendra Eka/JAWA POS
Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Honda DetEksi Basketball League (DBL) 2009, baru saja dimulai. Pilihan Jayapura sebagai kota pembuka sempat bikin banyak orang mengernyitkan dahi.
Berikut catatan AZRUL ANANDA, wakil direktur Jawa Pos dan commissioner DBL.
SEJAK 2004, DetEksi Basketball League (DBL) sudah diselenggarakan. Liga basket pelajar pertama yang menerapkan konsep student athlete. Pemain tak hanya dituntut jago di lapangan basket, dia juga harus menunjukkan kemampuan di sekolah. Kalau pernah tidak naik kelas, dia tidak boleh tampil di DBL. Hingga 2007, meski hanya diselenggarakan di Jawa Timur, DBL berkembang menjadi liga terbesar. Pada 2007 saja, pesertanya sudah mencapai 220 tim, melibatkan lebih dari 4.000 pemain, ofisial, dan yel-yel.
Pada 2008 lalu, setelah mematangkan konsep dan sistem, sudah waktunya menyebar ke provinsi lain di Indonesia. Sebelas kota dan sepuluh provinsi pun merasakan Honda DBL 2008.Tahun 2008, bagi kami, merupakan tahun belajar. Harus mengulangi lagi masalah-masalah yang dulu dihadapi waktu kali pertama menyelenggarakan DBL pada 2004.
Kali ini di kota-kota yang berbeda. Tahun 2008, bagi kami juga tahun keberuntungan. Siapa sangka, DBL menjadi liga pertama di Indonesia yang bekerja sama resmi dengan liga paling bergengsi di dunia, NBA.Bukan hanya itu, untuk kali pertama DBL mengirimkan pemain-pemain pilihannya ke luar negeri. Terima kasih kepada pemerintah Australia, pemain kami bukan hanya bertanding di Perth. Mereka juga belajar dan bertemu banyak teman.
Bila 2008 adalah tahun belajar, 2009 ini adalah tahun pengembangan. Total, Honda DBL 2009 akan diselenggarakan di 16 kota, di 15 provinsi di Indonesia. Total, diperkirakan bakal diikuti oleh lebih dari 750 tim dan 15 ribu peserta. Belum pernah ada kompetisi basket yang memiliki jumlah partisipan sebesar ini. Dan pembukaannya diselenggarakan di Jayapura…
***

Mengapa Jayapura? Setiap kali ditanya begitu –dan saya bersama teman-teman di DBL Indonesia sering ditanya begitu–, saya akan langsung menjawabnya lagi dengan pertanyaan: Mengapa tidak? Tahun lalu, kami sudah mendapatkan pertanyaan yang sama saat membuka Honda DBL 2008 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Hanya, waktu itu kami memilih Pulau Lombok dengan alasan khusus. Peserta tidak akan terlalu banyak, namun infrastruktur (stadion) memadai. Sebab, Mataram bagi kami adalah tempat training camp untuk panitia. Semua kumpul dulu di sana, belajar segala masalah, baru kemudian terbagi dan menyebar ke kota-kota lain.

Keinginan ke Jayapura ini sebenarnya sudah tercetus sebelum movement ini dimulai tahun lalu. Lalu makin getol dibicarakan saat menyelenggarakan kompetisi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Februari tahun lalu.  Kami makin sadar betapa besarnya tantangan menyelenggarakan kompetisi berstandar tinggi di kota-kota ”non-tradisional” basket. Dan, kami sudah berkali-kali bilang bahwa DBL tidak mengenal batasan wilayah. Kalau tidak ada batasan, kenapa tidak ambil yang ujung? Dalam hal ini, ujung sebelah timur: Jayapura. Apalagi, belakangan nama Papua begitu heboh dalam hal basket. Banyak atlet hebat datang dari sana.

Di Banjarmasin itu pula kami bertemu seorang anak muda asal Papua, Andi Suebu. Dia juga gila basket, dan setiap hari datang menonton Honda DBL 2008 di Banjarmasin (dia bekerja di sebuah bank di sana). ”Kamu harus menyelenggarakan ini di Papua,” katanya kepada saya dan rekan-rekan DBL.

Beberapa bulan kemudian, di kediaman Duta Besar Australia Bill Farmer di Jakarta, saya bertemu tim PON putri Papua yang akan berangkat untuk latihan di Melbourne. Saya dan beberapa teman DBL sendiri datang di sana juga untuk basket, karena akan mengirimkan tim All-Star DBL untuk belajar dan bertanding di Perth, Australia (terwujud Oktober 2008 lalu).

Di sana saya bertemu Ketua Perbasi Papua, Jhon Ibo, dan sekretaris umumnya, Jan R. Aragay. Saya sampaikan saja keinginan menyelenggarakan di Papua. Pak Jhon tidak bicara banyak. Tapi, dari tatapan matanya saya menangkap ada kebahagiaan. Perasaan ini pun makin mantap. Meski mungkin waktu itu Pak Jhon punya rasa tak percaya (jangan-jangan saya dianggap asal bicara dan obral janji saja, he he he).

***

Tentu saja, bicara dan pelaksanaan tidaklah sama. Sebelum berlanjut ke kendala, sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua partner. Khususnya Astra Honda Motor, yang percaya sepenuhnya terhadap misi basket kami yang unik. Juga kepada Relaxa, BNI, League, PT Sinar Sosro, dan Proteam.

Terus terang, saya sering sakit hati kalau bicara dengan calon partner di Jakarta. Tidak banyak yang bisa melihat sebuah rancangan kompetisi secara menyeluruh. Bukan hanya sisi komersialnya, tapi juga misi dan idealismenya. Beberapa selalu bilang, percuma kalau menyelenggarakan di banyak kota, tapi Jakarta tidak dikunjungi. Misalnya kalau menggunakan dasar survei rating televisi. Sebanyak 50 persen lebih dihitung di Jakarta. Surabaya hanya dihitung sekitar 20 persen. Lalu beberapa kota lain.

Kebanyakan kota di luar Jawa sama sekali tidak dihitung. Karena dasar surveinya tidak meluas, beberapa potensial partner di Jakarta pun seolah menggunakan kaca mata kuda. Di mata mereka, kota seperti Jayapura tidak ada nilai angkanya.

Anggapan itu membuat kami (khususnya saya) makin bersemangat menyelenggarakan DBL di luar Jakarta. Harus ada yang bisa membuktikan bahwa liga terbesar tak harus diselenggarakan di Jakarta. Sekali lagi, terima kasih kepada para partner DBL tahun ini. Proses pembuktian itu sekarang bisa berjalan…

***

Kalau tidak ada kendala, tidak ada cerita. Kalau tidak menjalani proses, tidak ada hasil. Menyelenggarakan Honda DBL 2009 di Jayapura merupakan tantangan tersendiri. Saking serunya, tim DBL Indonesia yang dapat jatah ke Papua menyebut diri sendiri sebagai ”Tim Tempur” (juga karena dari sini langsung ke Makassar).

Dari segi logistik, ada banyak kendala. Entah mengapa, kargo pesawat ke Jayapura sering terkendala. Ada kru kami yang mendarat dengan selamat di Jayapura, tapi bagasi (dan baju-bajunya) baru datang tiga hari kemudian. Bola pertandingan dari Proteam yang dijatah untuk Jayapura pun tak kunjung datang pada hari pembukaan, Jumat, 16 Januari lalu. Bahkan, bola-bola itu baru Selasa lalu (20/1), lebih dari dua minggu setelah pengiriman!

Beruntung, kami punya beberapa bola untuk display yang saya bawa di bagasi pesawat. Jadi, pertandingan pertama masih bisa dilangsungkan meski jumlahnya kurang (khususnya untuk pemanasan). Pada hari pembukaan itu pula, markas DBL Indonesia di Surabaya langsung mengirimkan bola-bola baru untuk dikirim overnight. Pada hari kedua (17/1), kami sudah punya bola cukup.

Asal tahu saja, jersey untuk para finalis juga datang sangat mepet. Padahal, sudah dikirim lama. Final diselenggarakan Jumat hari ini (23/1), tapi jersey final itu baru datang Kamis kemarin (22/1). Terima kasih kepada League, yang cepat-cepat membuatkan jersey ekstra dan menerbangkan jersey itu di bagasi seorang personel Rabu malam lalu (21/1) dari Jakarta (tiba Kamis kemarin).

Totalitas juga ditunjukkan sehari sebelum pembukaan, Kamis, 15 Januari lalu. Hari itu, semestinya semua pihak, baik DBL Indonesia, panitia dari Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group), Perbasi Papua, Astra Honda Papua, dan sponsor lain mulai loading barang ke GOR Cenderawasih di Jayapura.

Dasar edan, di luar segala kesepakatan, ada sebuah partai menyelenggarakan pertemuan di GOR tersebut hari itu. Namanya juga partai politik, tidak mau tahu kami butuh waktu untuk menyiapkan gedung. Bahkan, mereka tak kunjung selesai sampai sekitar pukul 19.00 WIT. Pakai karaoke-karaokean segala lagi!

Berarti, kami hanya punya waktu kurang dari 18 jam untuk menunggu partai itu membongkar panggung, lalu menyiapkan gedung sesuai standar DBL yang cukup tinggi. Saya tak mau sebut itu partai apa, tapi kami semua sudah sepakat tidak akan mencoblosnya saat pemilu nanti. Bahkan, ada kru kami yang bilang bahwa sampai anak cucunya nanti tidak akan pernah boleh mencoblos partai itu.

Saat itulah totalitas semua pihak terbukti. Pihak sponsor (Astra Honda di bawah Jefri Rimeldo) mengerahkan banyak pasukan untuk menghiasi gedung. Tim DBL Indonesia dan Cenderawasih Pos (dengan ketua Lucky Ireeuw) menyiapkan perangkat penyelenggaraan. Dan yang patut diacungi semua jempol: Perbasi Papua.

Mereka turun penuh semalaman menyiapkan lapangan pertandingan. Tidak seperti kebanyakan gedung basket, GOR Cenderawasih tidak punya lapangan yang layak. Perbasi Papua memasangkan sports tile, lapangan plastik yang ditata seperti mainan Lego. Kotak-kotak kecil dirangkai menjadi lapangan luas.

Di Jawa dan beberapa daerah lain, berdasarkan pengalaman kami, sangat mudah mendapati pekerja-pekerja ”lamban.” Tidak di sini. Semua total supaya pertandingan besoknya bisa berlangsung… (bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com