Sempat Merasa Seperti Obama

dblindonesia.com | 23-Aug-2009

KevinBesar

Martin Berbagi Cerita
dengan Media AS

SACRAMENTO Kunjungan lima hari di Surabaya tampaknya benar-benar meninggalkan kesan mendalam bagi Kevin Martin, bintang klub NBA Sacramento Kings. Pada edisi Jumat lalu (21/8), pemain bergaji Rp 100 miliar semusim itu berbagi kisah lewat Sacramento Bee, koran utama di kota tempat klubnya bernaung. Cerita Martin ini lantas dikutip sejumlah situs basket terkemuka. Termasuk di antaranya ESPN.

Kepada Sam Amick, reporter Sacramento Bee, Martin mengaku merasakan apresiasi baru terhadap hidup. Bahwa kita kadang tidak sadar betapa baiknya hidup kita ini, sampai kita melihat keadaan di tempat lain. Martin mengaku sangat kagum terhadap kerja keras para pemain SMA DetEksi Basketball League (DBL), yang dia latih selama Indonesia Development Camp (IDC) 2009, 15-18 Agustus lalu. Kekaguman itulah yang membuatnya tergerak untuk mendonasikan USD 15 ribu (sekitar Rp 150 juta) kepada DBL.

Ketika saya memberikan pidato perpisahan, semua anak-anak itu ada di sana. Dan saya sampaikan ke mereka, bahwa saya selalu bilang kalau kita kerja keras maka kita akan mendapat balasan, kata Martin kepada Bee. Anak-anak itu bekerja lebih keras daripada saya selama tiga hari. Saya merasa tidak layak mendapatkan uang tersebut. Saya hanya ingin memberi contoh kepada mereka, karena itu saya mendonasikan uang kembali ke DBL, lanjut pemain 26 tahun tersebut.

Kepada Bee, Martin juga mengutarakan alasan mengapa dia mengajak sang nenek ke Indonesia. Artikel koran itu menjelaskan, Maxine Martin, 75, nenek Kevin, tak pernah pergi ke luar negeri. Suaminya, Dallas (kakek Kevin), meninggal tahun lalu. Sebelum itu, Maxine harus merawatnya selama 13 tahun, karena selama itu pula Dallas sudah kehilangan kemampuan melihat.

Kevin Martin bilang, dia ingin membahagiakan sang nenek. Karena itu, dia mengajak Maxine ke Surabaya. Dia selalu membaca tentang hal-hal yang saya lakukan. Tapi, dia tak pernah merasakannya secara langsung, ungkap Martin. Dalam artikel tersebut, Martin juga mengaku sempat merasa seperti presiden Amerika Serikat. Pada suatu saat, saya merasa seperti Presiden Barack Obama. Dan saya tidak membesar-besarkan itu, ucapnya.

Martin merasakan itu ketika melihat begitu banyak orang menyampaikan pesan-pesan sambutan dan dukungan di sekeliling lapangan basket. Rasanya gila! tandasnya. Secara keseluruhan, Martin mengaku sangat puas dengan kunjungan ke Indonesia ini. Senang rasanya bisa memberi sesuatu kepada masyarakat dan dunia dengan cara yang baik. Itu membuat kita melihat sisi lain dunia ini, di luar basket, pungkasnya. (azz)

Advertisements

Awal Kuliah, Belajar Jadi Dokter Gigi

22-Jul-2009

Kevin-Martin03

Kevin Martin; Bintang Indonesia Development Camp 2009 (2-Habis)

Kevin Martin tak pernah punya cita-cita jadi pemain NBA. Malahan, dia sudah bersiap untuk menjadi dokter gigi. Baru ketika kuliah, dia sadar kalau mampu menjadi pemain profesional.

Setiap musim, ada 400-an pemain tampil di NBA. Rata-rata gaji mereka adalah USD 5 jutaan per musim. Tak banyak yang berstatus bintang, apalagi superstar.

 

Kevin Martin tak pernah menyangka bisa masuk NBA. Apalagi menjadi salah satu bintangnya dan bergaji lebih dari USD 10 juta semusim.

Ketika masih kecil, sang ayah yang mendorongnya untuk menekuni olahraga. Kevin Martin Sr. mengajaknya mencoba berbagai cabang.

“Dia yang membuat saya mencoba basket. Dia selalu ingin melihat saya bermain di semua cabang olahraga. Basket,baseball, maupun (Americanfootball. Sepuluh tahun lamanya saya bermain football dan baseball,” kenang Martin, seperti disampaikan kepada Sacramento Magazine.

Martin mulai fokus di basket saat masih freshman di SMA (di Indonesia setingkat kelas 9 atau 3 SMP), di Zanesville High School, negara bagian Ohio. Ternyata, performanya luar biasa. Dia bahkan terpilih masuk tim All-American.

Prestasi itu pun berbuah beasiswa penuh di Western Carolina University, pada 2001 lalu. Kampus itu bukanlah kampus besar, dan bukan kampus elite untuk urusan basket. Namun, Martin mampu memukau banyak pihak, dan namanya bergaung sampai ke NBA.

Martin sendiri masih belum yakin bisa masuk NBA. “Saya merasa punya kemampuan untuk masuk NBA. Tapi saya masih belum yakin kalau ingin menekuni basket sebagai profesi. Saya sempat belajar menjadi dokter gigi di awal kuliah,” kenang pemain 26 tahun tersebut.

Baru ketika menginjak tahun kedua kuliah, Martin sadar kalau dia memang punya peluang masuk NBA. Sebab, pada musim pertamanya di Western Carolina University (musim basket 2001-2002), Martin langsung menjadi freshmannomor dua dalam hal scoring di seluruh Amerika.

Para pelatih terus menyemangati Martin untuk mengembangkan kemampuan. Selama empat tahun kuliah, Martin terus menjadi top scorer di timnya. Dia pun menjadi salah satu pemain tingkat universitas terbaik di Amerika. Hanya saja, dia belum dianggap masuk barisan elite, karena tampil untuk kampus yang punya reputasi “tanggung.”

Pada NBA Draft 2004, Sacramento Kings mencomot Kevin Martin di urutan nomor 26. Andai tampil di kampus yang lebih elite, mungkin Martin bisa masuk sepuluh besar.

Catatan: Martin belum sempat meraih gelar kuliah ketika dipilih di NBA Draft 2004. Tapi, dia rajin mengambil kelas saat jeda musim NBA, berupaya meraih gelar di jurusan Sports Marketing.

Setelah beberapa tahun, Martin pun menjadi pilar utama Sacramento Kings. Tim itu belum mampu kembali ke masa jaya di awal dekade ini, tapi Martin merupakan bagian utama dari program rebuilding (membangun ulang kekuatan) Kings.

Martin yakin, tidak lama lagi Kings akan kembali ke barisan lebih elite. Dan dia siap menanggung beban terberat untuk membawa Kings kembali ke atas.

“Saya telah menjalani tahun-tahun luar biasa di Sacramento. Saya tidak akan membiarkan satu tahun buruk menghancurkan segalanya. Saya datang di Sacramento masih kekanak-kanakan. Sekarang saya sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Tidak banyak pemain lain di liga ini yang mampu mencapai apa yang saya capai,” ujarnya mantap.

Rajin Bikin Camp

Pada 15-18 Agustus nanti, Kevin Martin bakal berada di Surabaya. Dia menghadiri final Honda DBL East Java 2009 di DBL Arena, lalu menjadi bintang di Indonesia Development Camp 2009. Di camp itu, dia dan dua asisten pelatih NBA bakal memberi materi latihan kepada pemain-pemain terbaik liga basket pelajar terbesar di Indonesia tersebut.

Memberi materi latihan di sebuah camp anak muda bukanlah hal baru bagi Martin. Selama bertahun-tahun dia menyelenggarakan camp di Sacramento. Dan tahun ini, pada 29 Juni sampai 1 Juli lalu, dia menyelenggarakan Kevin Martin Basketball Camp di kampung halaman, di Zanesville, Ohio.

Sebanyak 140 pelajar mengikuti berbagai latihan, yang diselenggarakan di Zanesville High School, tempat Martin dulu belajar. “Zanesville menjadikan saya seperti sekarang. Setinggi apa pun sukses yang kita capai, kita tak boleh melupakan tempat kita berasal,” katanya seperti dikutip Zanesville Times Recorder.

Martin mengaku sangat menikmati camp-camp seperti ini. “Ini menyenangkan. Mengingatkan saya kepada masa lalu, di saat permainan ini bukanlah sebuah bisnis. Anak-anak ini bermain untuk bersenang-senang,” paparnya.

Selain berbagi ilmu, Martin sendiri juga terus berusaha mengembangkan kemampuan. Sebelum menjalani musim NBA 2009-2010 nanti, Martin juga akan menjalani camp untuk diri sendiri.

Dia bakal bergabung di Pro Training Center di IMG Academies, di Bradenton, Florida. Di sana, dia bakal menjalani serangkaian program pengembangan diri bersama pelatih pribadi, David Thorpe.

Dengan komitmen seperti itu, Martin benar-benar ingin menunjukkan bahwa sehebat apa pun seseorang, selalu ada jalan untuk membuat diri menjadi lebih baik lagi… (habis)

Anak Baik-Baik yang Anti Tato

21-Jul-2009

Kevin-Martin02

Kevin Martin; Bintang Indonesia Development Camp 2009 (1)

Kevin Martin menjadi bintang NBA ketiga yang tampil di Surabaya dalam setahun terakhir. Sama seperti Danny Granger dan David Lee, pemain yang satu ini juga bebas dari tato. Bahkan, dia termasuk yang anti tato.

Entah mengapa, kebanyakan pemain NBA sekarang identik dengan tato. Ironisnya, tiga pemain NBA yang datang (dan akan menuju) Surabaya semuanya tidak bertato.

Danny Granger (Indiana Pacers) tidak punya tato.
David Lee (New York Knicks) tidak punya tato.
Dan Kevin Martin, bintang Sacramento Kings yang akan tampil di Surabaya 15-18 Agustus mendatang, juga tidak punya tato.

Bahkan, Martin termasuk yang blak-blakan bilang anti-tato. “Saya tidak akan pernah punya tato. Saya tak suka jarum. Jadi saya tak akan membiarkan jarum mendekati badan saya. Selain itu, saya juga ingin menjadi orang bergaya bersih. Memang seperti inilah saya,” katanya seperti dikutip Sacramento Magazine, beberapa waktu lalu.

Bertato atau tidak, Kevin Martin bisa dibilang merupakan bintang NBA terbesar yang mengunjungi Surabaya.  Granger dan Lee mengunjungi kota ini dengan status “di ambang superstar.” Kalau Martin, dia sudah datang sebagai superstar.

Martin masuk NBA pada 2004, setahun sebelum Granger dan Lee. Karena itu, ketika Granger dan Lee baru menikmati gaji superbesar tahun ini, Martin sudah lebih dulu meneken kontrak superstar.

Sejak 2008 lalu, Martin sudah menikmati gaji di kisaran Rp 100 miliar semusim. Dan nilainya akan terus meningkat. Pada musim 2012-2013 nanti, dia dijadwalkan menerima gaji di kisaran Rp 130 miliar. Asal tahu saja, gaji rata-rata di NBA itu di kisaran Rp 50 miliar semusim.

Untuk mendapatkan gaji seperti itu tentu tidak mudah. Martin pun sempat menjalani masa-masa cobaan dan tantangan. Ketika dicomot Sacramento Kings di urutan 26 NBA Draft 2004, tidak banyak yang memperhitungkan Martin.

Wajar bila demikian. Meski tinggi 201 cm, badan Martin kurus, hanya 80-an kilogram. Dia juga berasal dari kampus kecil, Western Carolina University, bukan dari universitas elite di kancah NCAA (liga universitas di Amerika Serikat). Belum lagi gaya menembaknya yang membuat pelatih meringis (lengannya menutupi wajah ketika menembak).

Karirnya pun perlahan merangkak naik. Kings, yang di awal dekade ini berada di barisan elite, perlahan kehilangan para pilar penting. Perlahan pula, Martin menjadi pemain penting.

Berkat kerja keras dan perkembangan yang konsisten, akhirnya, dua tahun lalu Martin pun menjadi pemain terpenting di barisan Kings. Perolehan poinnya terus merangkak naik, gaya bermainnya yang cepat dan akrobatik terus membuat lawan harus bekerja keras untuk mengawal.

Musim 2008-2009 lalu, ketika prestasi tim terus melorot, Kings pun membuat keputusan besar. Mereka “menyingkirkan” semua pemain senior, me-restart ulang tim dari barisan muda yang sesuai untuk mendukung permainan Kevin Martin.

Jerry Reynolds, salah satu petinggi sekaligus mantan pelatih Kings, menyebut evolusi Kevin Martin sebagai sesuatu yang menakjubkan. “Saya pikir Kevin sempat menjalani masa perkembangan lambat di tahun pertamanya. Saat itu, dia benar-benar kebingungan,” tuturnya.

Menginjak pertengahan musim pertama itu, Martin menemukan jalan. “Sejak saat itu, perkembangannya konstan. Bahkan, selama 20 tahun lebih bersama tim ini, belum pernah saya melihat pemain berkembang sekonsisten dia,” puji Reynolds.

Anak Kota Kecil

Attitude Martin dianggap sebagai kunci sukses sang pemain. Jarang ada kabar aneh-aneh tentang Martin, karena sang pemain memang tidak pernah aneh-aneh.

“Kevin bukan pemain NBA biasa. Dia tidak seperti kebanyakan yang lain. Dia rendah hati, pintar, dan tidak berpikir yang aneh-aneh,” ucap Greg Elmasian, agen Martin.

Latar belakang Martin memang mendorongnya untuk menjadi orang seperti ini. Martin berasal dari kota kecil, Zanesville di negara bagian Ohio, yang memiliki sekitar 25 ribu penduduk. Martin menyebut kota itu “penuh dengan orang-orang ramah, dan semua orang kenal semua orang.”

Ayahnya, Kevin Senior, adalah ahli taman. Ibunya, Marilyn, seorang pekerja sosial. Dia punya adik, Jonathon. Peran keluarga ini disebut sangat besar. “Kevin Martin adalah anak baik dari keluarga yang baik.

Dia tahu mana yang baik, mana yang buruk. Kalau dia berbuat yang tidak semestinya, sang ayah akan langsung mengingatkan. Bahkan, sampai sekarang sang ayah masih terus mengingatkan,” tutur Dana Matz, teman keluarga.

Tentang diri sendiri, Martin mengaku memang berusaha untuk selalu sadar diri. “Saya tipe orang yang tidak berharap terlalu tinggi atau terlalu rendah. Di NBA, kita harus seperti ini. Sebab, satu malam kita bisa mencetak 40 poin, di malam berikutnya hanya dua poin. Apa pun yang terjadi, kita harus terus mencoba dan bekerja,” pungkasnya. (azrul ananda/bersambung)

KEVIN MARTIN

Sacramento Kings #23

Posisi

:

Shooting Guard
Lahir

:

Zanesville (Ohio), 1 Februari 1983
Tinggi/Berat

:

201 cm/84 kilogram
Masuk NBA

:

Pilihan No. 26 NBA Draft 2004
Statistik Musim 2008-2009

:

24,6 poin, 3,6 rebound, 2,7 assist
Gaji musim 2009-2010

:

USD 10,2 juta
(lebih dari Rp 100 miliar)

Kenalkan Bintang NBA di Opening East Java

19-Jul-2009

Kevin-Martin01

Top Scorer Kings Masih Dijadwalkan Hadir di Surabaya

SURABAYA – Siapa bintang NBA yang bakal hadir lagi di Surabaya, kemarin (18/7) diungkapkan identitasnya di Opening Party Honda DetEksi Basketball League (DBL) East Java 2009. Pengumuman disampaikan di sela-sela pertandingan kompetisi basket pelajar terbesar itu, di DBL Arena Surabaya.

Kevin Martin, top scorer Sacramento Kings, dijadwalkan tampil di Surabaya pada 15-18 Agustus mendatang. Pada hari pertama, dia akan menghadiri final Honda DBL seri Jawa Timur. Kemudian, dia tampil di Indonesia Development Camp 2009, memberi materi latihan kepada pemain-pemain terbaik DBL dari berbagai penjuru Indonesia.

Pemain 26 tahun itu tidak sendirian. Dia didampingi dua asisten pelatih NBA, yaitu Neal Meyer (Los Angeles Clippers) dan Joe Prunty (Portland Trail Blazers).

Menurut Azrul Ananda, commissioner DBL, pengumuman resmi seharusnya sudah dirilis NBA. Namun, karena aksi pengeboman di Jakarta Jumat lalu (17/7), pengumuman resmi ditunda dulu selama beberapa hari.

“Kami semua ikut merasa sedih dengan aksi yang terjadi di Jakarta. Kami, mewakili lebih dari 20 ribu peserta Honda DBL 2009 di berbagai penjuru Indonesia, berharap kejadian itu tidak mempengaruhi program yang sudah lama kami rancang bersama NBA,” papar Azrul.

Kunjungan Kevin Martin ini merupakan lanjutan kerja sama jangka panjang antara NBA dan DBL. Pada Agustus 2008 lalu, DBL menyelenggarakan even resmi pertama NBA di Indonesia, yaitu NBA Basketball Clinic yang dibintangi Danny Granger (Indiana Pacers). Ketika itu, Granger melatih pemain-pemain pilihan DBL di Surabaya.

Pada Juni 2009 lalu, DBL juga telah sukses menyelenggarakan NBA Madness pertama di Indonesia. Even basketball lifestyle interaktif itu telah mengunjungi empat mal di Surabaya. Bintang New York Knicks, David Lee, tampil sebagai bintang utama. Didukung oleh Grizz, maskot Memphis Grizzlies, dan Miami Heat Dancers.

Kehadiran Kevin Martin merupakan kelanjutan langsung dari kunjungan Danny Granger. Indonesia Development Camp merupakan even pembinaan basket yang intensif. Selama tiga hari, sebanyak 161 student athlete (80 putra, 81 putri) dari 15 provinsi di Indonesia mendapat kesempatan belajar langsung dari NBA.

“Kehadiran Kevin Martin sudah sangat ditunggu-tunggu. Sejauh ini, semua masih berlangsung sesuai jadwal. Kami terus melakukan komunikasi dengan NBA. Kita harus bersikap optimistis dalam situasi seperti ini. Pihak NBA pun telah menyampaikan sikap optimistis,” papar Azrul.

Pembukaan Fantastis

Pembukaan Honda DBL East Java 2009 kemarin kembali menunjukkan bahwa kompetisi ini merupakan trendsetterpenyelenggaraan basket di Indonesia. Meski bukan tontonan gratis, hampir 6.000 penonton bergantian memadati tribun DBL Arena, yang berkapasitas 4.400 penonton.

Di antara para pengunjung, ada dua tamu istimewa dari Darwin Basketball Association, Australia. Mereka adalah Don Sheppard (development manager) dan Allan Hilzinger (executive officer).

Mereka mulai mengenal kompetisi ini melalui situs resmi DBL, www.deteksibasketball.com, atas rekomendasi kalangan basket Western Australia. Tahun lalu, DBL memang sempat mengirimkan tim All-Star untuk bertanding di Perth. Dalam pembukaan kemarin, rasa penasaran mereka terjawab.

Apalagi, pertandingan pertama kemarin sangat dramatis, tim putra SMA Ta’miriyah Surabaya hanya menang satu angka, 38-37, atas SMA Untung Suropati Sidoarjo.

“DBL jauh lebih besar daripada kompetisi pelajar yang kami punya di Australia. Saya benar-benar menikmati penonton yang heboh. Konsep DBL luar biasa, dapat menyatukan seluruh komponen. Mulai sekolah, pemain, penonton, semuanya. Saya ikut tegang melihat pertandingan tadi,” aku Sheppard.

Saking senangnya, Sheppard berencana kembali lagi Agustus mendatang, melihat babak final dan Indonesia Development Camp 2009 yang diselenggarakan NBA dan DBL. “Saya akan mengajak anak-anak saya. Mereka sudah tak sabar untuk datang,” ucapnya.

Kalau Hilzinger mengaku melihat masa depan basket yang cerah di Indonesia. “Saya terkejut melihat banyak sekali manusia di DBL. Mereka sangat antusias. Saya yakin, lima sampai sepuluh tahun lagi, basket di Indonesia bakal lebih kuat dan besar karena DBL,” tuturnya.

Hilzinger mengaku pernah enam tahun melatih basket di Jepang. “Namun, di sana pun tak ada yang seheboh ini. (DBL) ini jauh, jauh lebih baik dari semua kompetisi pelajar yang pernah saya lihat,” pungkasnya.

Honda DBL East Java 2009 ini terbagi dalam dua wilayah. North, bermain di Surabaya, berlangsung sampai 12 Agustus mendatang. South, bermain di Malang, berlangsung 25 Juli sampai 11 Agustus. Juara kedua wilayah bertemu di Final East Java, 15 Agustus, yang rencananya dihadiri oleh Kevin Martin. (azz)