Azrul’s Insights: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

17 September 2009

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke empat) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda bersama Patrick Mills, pemain muda Australia yang tahun ini masuk NBA bersama Portland Trail Blazers. Dia sedang cedera kaki, menjalani proses pemulihan di Australia Institute of Sports di Canberra. Foto oleh Broughton Robertson)

Pemulihan Cedera Lebih Baik daripada di Amerika

Tujuan utama kunjungan seminggu di Australia ini adalah mempromosikan hubungan people to people. Khususnya lewat jalur olahraga. Sebagai bonus: Bertemu bintang basket Aborigin yang sukses menembus NBA.

Azrul Ananda, Canberra

Australia negara gila olahraga. Selama di Australia, kebanyakan pertemuan saya adalah dengan orang-orang olahraga. Ketika di Darwin, pada dasarnya saya melihat semua tim profesional Negeri Kanguru yang tergabung di National Basketball League (NBL), bertemu pemain-pemain bintang, dan melakukan pertemuan dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (semacam Ketua Perbasi).

Saya juga bertemu menteri olahraga di beberapa kawasan. Selain di Northern Territory, juga Kevin Greene, menteri olahraga dan rekreasi New South Wales (negara bagian dengan penduduk terbanyak) di Sydney.

Kemudian, di Canberra Selasa lalu (8/9), saya diajak ke tempat yang sangat mengagumkan: Australian Institute of Sports (AIS).

Pada dasarnya, AIS merupakan tempat pemusatan latihan untuk atlet-atlet Australia. Mulai dari tingkat junior sampai elit. Di sana, berbagai fasilitas kelas dunia tersedia untuk puluhan macam olahraga. Di sana, sejak berdiri pada 1981, tak terhitung jumlah atlet-atlet elite kelas dunia yang “lulus”.

Dari basket saja ada berapa nama kondang. Yang utama adalah Luc Longley, pemain basket yang pada pertengahan 1990-an meraih popularitas luar biasa di NBA. Waktu itu, dia bermain di Chicago Bulls, menjadi salah satu rekan setim Michael Jordan.

Selain Longley, ada pula Andrew Bogut, yang sekarang menjadi pilar klub Milwaukee Bucks di NBA. Ada juga Lauren Jackson, salah satu pemain wanita terbaik di dunia.

Menurut Marty Clarke, pelatih kepala basket pria di AIS, mungkin 40-50 persen pemain di NBL Australia merupakan lulusan AIS.

Clarke –yang juga pelatih tim nasional junior Australia– menjelaskan, dia konstan berkomunikasi dengan asosiasi-asosiasi di berbagai penjuru Australia. Pihaknya terus mencari pemain-pemain muda berbakat, maksimal kelas XI SMA (kalau kelas XII sudah harus siap ujian).

Kadang tidak harus pemain paling berbakat, tapi pemain yang dianggap punya potensi besar bila dikembangkan dengan tepat. “Untuk putra lebih sulit daripada putri. Karena pertumbuhan postur putri lebih cepat dari putra. Kadang, kemampuan pemain putra berkembang pesat di akhir masa remaja,” ungkapnya.

Setiap dua tahun, AIS “merekrut” sekitar 12 pemain putra dan putri untuk pindah ke Canberra. Sekolah di ibu kota Australia itu, dan menjalani latihan khusus pada pagi dan sore di luar jam sekolah.

Ada pula camp-camp basket khusus selama empat hari untuk calon-calon pemain lain. Serta program bagi pihak-pihak asing yang ingin mendapatkan bantuan pengembangan dari AIS. Baru-baru ini, katanya, ada tim junior Filipina datang untuk menjalani camp di Canberra.

Fasilitas di AIS memang super-komplet. Selain gedung khusus basket berisikan empat lapangan, ada pula pusat rehabilitasi dan fitnes yang besar dan komplet. Juga ada tempat khusus di mana atlet bisa berlatih dalam cuaca di negara tempat mereka kelak bertanding (misalnya simulasi tropis dan panas).

Dasar nasib baik, di AIS kami bertemu dengan Patrick “Patty” Mills. Bagi kebanyakan orang, nama itu mungkin belum terlalu dikenal. Tapi lihatlah dalam lima tahun ke depan, ada peluang nama itu bakal dikenal di berbagai penjuru dunia.

Mills, 20, merupakan salah satu produk sukses AIS. Dia salah satu pemain basket Aborigin pertama yang sukses menembus level tertinggi. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Point guard ini termasuk pemain termuda yang pernah bergabung di Boomers, julukan tim nasional Australia.

Dia sudah berkiprah dan meraih banyak pujian di Olimpiade Beijing tahun lalu. Pada Juni lalu, Mills berhasil menembus ranking NBA. Dia dicomot oleh salah satu tim kuat di liga paling bergengsi itu: Portland Trail Blazers. Salah satu pelatihnya di Blazers adalah Joe Prunty, yang pada Agustus lalu hadir di Surabaya, melatih pemain-pemain SMA terbaik dari 15 provinsi di Indonesia, dalam even Indonesia Development Camp 2009 (hasil kerja sama NBA dan DetEksi Basketball League).

Sayang, tidak lama setelah bergabung di Blazers, Mills patah kaki. Sudah sepuluh pekan terakhir ini dia harus berjalan memakai kruk (setelah operasi). Mungkin baru pulih satu sampai dua bulan lagi.

“Nasib buruk,” katanya singkat. Saya pun bertanya, ngapain rehabilitasi di Canberra? Bukankah di Amerika lebih lengkap? Ternyata, Mills bilang tidak ada yang lebih lengkap dari AIS di Canberra. “Kalau ada yang lengkap di Amerika, saya lebih baik rehabilitasi di sana. Karena pada prinsipnya saya sudah pindah, dan segala milik saya sudah ada di sana. Karena tidak ada, maka saya balik ke sini. Bahkan, begitu cedera, Marty Clarke merupakan salah satu orang pertama yang saya hubungi,” tuturnya.

Tidak ada pujian lebih tinggi dari pengakuan seorang atlet elit.

***

Mills merupakan atlet Aborigin yang sukses. Selama di Australia, beberapa kali pula saya bertemu dengan perwakilan organisasi yang bekerja membantu anak-anak aborigin lewat jalur olahraga.

Ada pertemuan dengan Clontarf Foundation di Darwin, yang banyak bekerja di kawasan utara atau barat Australia. Mereka mencoba membantu anak-anak Aborigin yang punya latar belakang sulit atau kekerasan lewat permainan Australian Football. Syarat untuk ikut: Harus masuk sekolah.

Di Marrickville High School di Sydney, saya bertemu dengan National Aboriginal Sporting Chance Academy (NASCA), yang juga melakukan kegiatan lewat Australian Football.

Sebagai informasi balasan, saya pun banyak mempresentasikan DetEksi Basketball League (DBL), selain bicara soal media di Indonesia. Apalagi misinya agak mirip. Lewat DBL, kami pun ingin mempromosikan konsep student athlete. Kalau mau main basket di liga pelajar terbesar di Indonesia itu, harus selalu naik kelas.

AZA AUSTRALIA 09

( Azrul Ananda (berdasi) di tengah-tengah pelajar Indonesian Studies University of Sydney, setelah memberi materi tentang perkembangan DetEksi Basketball League (DBL) di Indonesia. Ada mahasiswa yang ternyata pernah menonton langsung pertandingan DBL di Mataram. Foto oleh Broughton Robertson)

Ketika menyampaikan DBL di University of Sydney, ternyata ada sambutan menarik. Anthony Fine, 21, salah satu mahasiswa Indonesian Studies di situ, ternyata sudah pernah nonton langsung pertandingan DBL. Dia menyaksikan final Honda DBL 2009 seri Nusa Tenggara Barat, di Mataram.

Dengan antusias, Fine mengaku geleng-geleng kepala melihat hebohnya DBL. “Penonton sampai harus gantian memenuhi gedung. Saya tidak menyangka ada even olahraga sehebat itu di Indonesia. Di Australia saja tidak seperti itu,” katanya kepada rekan-rekan lain di kelas.

Di Australia, basket memang maju pesat, tapi sekarang lebih bersifat olahraga partisipasi di tingkat grass root. Di tingkat profesional, harus diakui kalau National Basketball League (NBL) memang sedang menjalani masa sulit. Tim-timnya kesulitan keuangan, duit sponsor makin mengering.

Pertandingan-pertandingan basket di Australia berkualitas sangat tinggi, namun penontonnya sepi. Ada banyak teori mengapa itu terjadi, tapi pada dasarnya kalah bersaing dengan berbagai olahraga di negara yang gila olahraga ini.

Olahraga nomor satu, sudah bukan rahasia lagi adalah Australian Football. Dan itu nomor satu jauh di atas nomor dua yang lain. Australian Football League (AFL), liga tertinggi olahraga itu, kini memiliki 16 tim, dan memiliki perputaran uang fantastis.

Saat hari terakhir kunjungan di Melbourne, Rabu kemarin (9/9), saya diberi tur fasilitas Essendon Football Club (Bombers), salah satu dari sepuluh (!) tim AFL yang bermarkas di kawasan Melbourne. Tim ini merupakan salah satu yang memiliki member terbesar dan perputaran uang tertinggi.

Simon Matthews, General Manager Media and Community Essendon Bombers, menjelaskan bahwa timnya memiliki sekitar 60 karyawan. Perputaran uang mencapai 40 juta dollar Australia semusim. Dari jumlah itu, sekitar 7 juta dollar untuk gaji pemain.

Pemasukannya? Sebagian dari member, yang menyumbang sampai 5 juta dollar semusim. Lalu 7 juta dollar dari pembagian hasil penjualan hak siar televisi. Setelah itu pemasukan lain-lain.

Pemasukan televisi AFL sangatlah fantastis. Kontrak lima tahun mencapai hampir 800 juta dollar Australia! “Kontrak itu habis dua tahun lagi. Kemungkinan, ketika perpanjangan, nilainya bisa mencapai 1 miliar dollar untuk lima tahun selanjutnya,” jelas Matthews.

Angka itu jauuuuuuh lebih tinggi dari yang lain. A-League, liga sepak bola Australia yang sedang melangkah maju, hanya punya kontrak televisi sekitar 1 sampai 2 juta dollar Australia semusim! Ya, AFL ratusan kali lebih raksasa! Bahkan rugby, yang juga populer, tidaklah sekaya AFL.

“Tim termiskin AFL punya perputaran uang sekitar 20 juta dollar semusim. Tim terkaya rugby mungkin hanya 15 atau 16 juta dollar semusim,” jelas Greg Baum, sports editor The Age, koran di Melbourne.

Saking jauhnya, AFL pun menyedot perhatian media terbesar. Menurut Baum, saat musim AFL (sekitar tujuh bulan, berakhir September ini), 80 persen porsi halaman olahraganya tercurahkan untuk AFL.

sumber :  mainbasket , http://www.jpnn.com

Advertisements

Azrul’s Insights: Paling Enjoy jika Tahan 3,5 Jam tanpa ke Toilet

15 September 2009 

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke tiga) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda berpose di atas Sydney Harbour Bridge, saat berjalan menuju titik tertinggi jembatan. Sejak 1998, sudah lebih dari 2 juta orang menjalani tur BridgeClimb. (BridgeClimb))

Azrul Ananda, Sydney

SETELAH tiga hari di Darwin, Northern Territory, waktunya melanjutkan perjalanan ke kota lain. Tujuan: Sydney, New South Wales. Naik pesawat ke kota terbesar Australia itu menegaskan betapa terpisahnya Darwin dari ”keramaian”. Penerbangannya memakan waktu 4,5 jam!

Sebenarnya, saya bukan tipe yang suka kota-kota terbesar. Saya lebih menikmati mengunjungi tempat-tempat ”tenang”. Namun, ada banyak jadwal sudah menunggu di Sydney. Mulai mengunjungi grup media besar, bertemu dengan menteri olahraga (lagi), hingga diwawancarai saluran televisi Australia Network.

Sebelum menjalani rangkaian acara itu, saya diajak untuk menikmati salah satu tujuan wisata yang makin lama makin naik daun di Sydney: Mendaki Sydney Harbour Bridge.

BridgeClimb di Sydney bukanlah atraksi baru. Sudah tersedia sejak 1998. Total, lebih dari 2 juta orang diklaim pernah merasakan wisata itu.

Ide dasarnya sangat sederhana, tapi brilian: Paksa orang membayar ratusan dolar Australia, lalu ajak mereka mendaki jembatan ikon kota Sydney yang diresmikan pada 1932 tersebut. Proses mendakinya menyusuri lengkungan jembatan, hingga ke puncak tertinggi yang mencapai 134 meter.

Bagi yang tidak suka berjalan jauh (dan banyak orang Indonesia mungkin tidak suka berjalan terlalu jauh), program tersebut mungkin ”menyeramkan”. Dan, memang cukup melelahkan karena kita berjalan (termasuk mendaki dan memanjat tangga) lebih dari dua kilometer dalam waktu sekitar 3,5 jam.

Kalau suka berjalan jauh dan merasa kuat, itu benar-benar program menarik. Saya yakin, kalau dibandingkan dengan mendaki bukit atau gunung sungguhan, memanjat Sydney Harbour Bridge bukanlah apa-apa!

***

Entrepreneur Sydney, Paul Cave merupakan pencetus hadirnya BridgeClimb, perusahaan swasta pengelola wisata BridgeClimb. Pada 1989, dia diberi kesempatan mengorganisasi acara panjat internasional di sana. Kemudian, dia pun punya mimpi memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang menikmatinya.

Sembilan tahun kemudian, lewat kengototan dan kerja keras, pada 1 Oktober 1998, impian itu menjadi kenyataan. Kabarnya, dia mendapatkan hak ”mengontrak” pengelolaan acara panjat selama 20 tahun dan harus membayar 3 juta dolar Australia per tahun.

Sekilas, 3 juta dolar merupakan angka fantastis. Namun, kalau dibandingkan dengan pemasukan yang dia dapat, itu merupakan angka kecil. Hebat!

Capek memanjat Sydney Harbour Bridge memang tidak murah. Pada dasarnya, setiap sepuluh menit ada jadwal memanjat. Setiap kelompok maksimal terdiri atas 14 peminat, dipandu seorang guide.

Harga beragam. Kalau siang, 198 dolar Australia per orang (satu dolar Australia sekitar Rp 8.500). Kalau malam, harganya 188 dolar. Yang mahal adalah paket Twilight (petang), mencapai 258 dolar per orang. Atau mau paket eksklusif Dawn (subuh), 295 dolar per orang.

Tiba di Sydney sekitar pukul 13.00, saya dan Broughton Robertson (wakil pemerintah Australia yang menemani saya selama kunjungan) bisa ikut rombongan Twilight pertama. ”Berangkat” pukul 15.25 dari pangkal jembatan di Cumberland Street, kawasan The Rocks.

Sebelum duduk di ruang tunggu, ada tulisan peringatan yang sangat-sangat penting. Bukan untuk keselamatan, melainkan peringatan bahwa begitu melewati pintu ruang tunggu tidak akan ada lagi kesempatan untuk mampir ke toilet (nanti dijelaskan mengapa ini sangat-sangat penting!).

Di ruang pertama, semua anggota rombongan dibrifing terlebih dahulu. Napas setiap anggota dites untuk memastikan tidak ada yang mengonsumsi alkohol berlebihan sebelum naik jembatan. Peserta juga diminta mengisi formulir, untuk keselamatan dan data diri.

Dari situ, peserta diminta untuk melepas semua aksesori. Jam tangan, cincin, kalung, dan anting yang terlalu besar. Kemudian, semua perlengkapan turis, seperti kamera dan telepon, harus dimasukkan ke loker. Untuk memastikan tidak ada barang terbawa, semua peserta harus melalui metal detector.

Lalu, peserta diberi baju overall ala balap, tapi dengan ritsleting di belakang (setelah memakai baju, ke toilet menjadi mission impossible!). Sabuk perlengkapan dipasangkan. Peralatan terpenting: Kabel yang bakal dikaitkan dengan railing jembatan selama pendakian. Kabel itu menjamin kita selalu ”bersama” jembatan, tak mungkin jatuh jauh ke bawah.

Berbagai aksesori itu harus dilepas karena bisa berbahaya ketika terlepas dan jatuh. Maklum, di bawah ada delapan jalur mobil berseliweran, plus dua jalur kereta. Plus, tanpa kamera, kita pun ”terpaksa” membeli ke BridgeClimb, menambah pemasukan perusahaan itu.

Perlengkapan lain adalah jaket ekstra (karena di atas sangat berangin dan dingin, khususnya menjelang malam), lampu yang diikatkan di kepala, earphone untuk mendengarkan penjelasan dan instruksi guide, plus opsi tambahan seperti topi dan sapu tangan (untuk bersin atau menangis haru).

Semua perlengkapan itu dikaitkan dengan pakaian overall sehingga tidak akan ada yang terlepas ketika di atas jembatan. Proses brifing sampai selesai memasang perlengkapan itu hampir satu jam.

***

Sehari, ratusan hingga ribuan orang menjalani tur tersebut. Saking banyaknya, ada 70 guide bertugas setiap hari, membawa rombongan yang jumlahnya maksimal 14 orang. Masing-masing guide mendaki dua hingga tiga kali sehari.

Ketika musim panas (akhir hingga awal tahun), jumlah guide melonjak hingga 100 orang atau lebih. Total peserta tur bisa lebih dari 1.500 orang sehingga tur itu beroperasi nyaris 24 jam. Ada yang larut malam, ada yang dini hari.

Guide yang membawa rombongan saya bernama Nick. Orangnya suka bercanda (kebanyakan mungkin begitu karena tugasnya memang untuk membahagiakan peserta yang membayar mahal).

Setelah semua peserta memasang perlengkapan, dia bilang untuk bersiap menjalani bagian paling berat. ”Bagian paling berat adalah keluar dari pintu ruangan ini, menyusuri jalanan kota Sydney sebelum mencapai kaki jembatan. Kita harus tahan malu karena kita akan berjalan berkelompok di pinggir jalan seperti pasukan Ghostbusters,” ucapnya disambut tawa.

Kami semua memang terlihat seperti anggota tim penangkap hantu di film zaman lama itu. Pakai overall abu-abu, dengan berbagai perlengkapan mengelilingi pinggang.

Sebelum menaiki tangga kaki jembatan, tersedia tempat minum. ”Tapi ingat, semua yang kita minum harus tetap berada di dalam badan sampai tur ini berakhir,” ingat Nick.

Proses mendaki tergolong biasa saja. Pertama, kita menyusuri catwalk yang berada di bawah jembatan. Lalu, naik tangga sempit satu per satu ke atas, sebelum mendaki bagian atas lengkungan utama jembatan. Sebentar-sebentar kami berhenti, mendengarkan penjelasan Nick tentang pemandangan sekeliling di Sydney Harbour. Termasuk tentang sejarah jembatan itu.

”Ketika jembatan ini dibangun, banyak orang heran. Sebab, ada jalur mobil begitu lebar. Padahal, pada 1932 itu, jumlah mobil hanya puluhan. Ini menunjukkan betapa desainer jembatan ini punya visi yang begitu hebat,” terang Nick.

Sebelum mencapai puncak, ada grup foto dulu, lalu foto satu per satu. Di bagian puncak (yang dipasangi dua bendera Australia), rombongan berhenti dulu untuk menikmati pemandangan sekaligus menunggu matahari terbenam. Hanya rombongan Twilight yang bisa menikmati pemandangan indah itu. Naik jembatan masih terang, turun jembatan gelap.

Bagi yang ingin pengalaman beda, ada pula paket Discovery Climb. Bedanya, sambil menuju puncak, paket yang kedua itu mengajak peserta menyusuri komponen-komponen dalam jembatan. Belajar tentang kehebatan desainnya.

Di puncak, Nick menjelaskan bahwa ada warna baru dalam beberapa waktu belakangan. Sekarang mulai banyak orang ingin menjalani proses pernikahan di puncak Sydney Harbour Bridge. ”Tidak semua lancar. Tiga bulan lalu, pasangan yang akan menikah itu kehilangan cincin. Jatuh ke bawah jembatan. Ini tidak bohong!” katanya.

***

Kunci menikmati BridgeClimb sebenarnya satu: Tahan tidak ke toilet selama 3,5 jam. Saya sendiri tergolong orang yang ”rajin” ke toilet. Jadi, ini bukan tur yang terlalu menyenangkan. Di saat semua orang menikmati matahari terbenam di puncak jembatan, saya sudah tak sabar segera turun. Dan, saya yakin tidak sendirian karena beberapa peserta yang lain juga goyang-goyang kaki dan terus bergerak di tempat.

Apesnya, dari puncak masih ada proses sekitar 45 menit lagi untuk turun, plus 15 menit ekstra untuk melepas segala perlengkapan.

Gara-gara itu, pengalaman terindah tur ini bagi saya ada dua: Mencapai puncak dan mengakhiri di toilet!

(bersambung)

sumber : http://www.mainbasket.com, http://www.jpnn.com

Jualan Barbeque untuk Bantu Biaya Tim ke Surabaya

11 September 2009 

Tulisan di bawah ini adalah tulisan atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu.

AZA AUSTRALIA 09

Di Darwin, basket dikembangkan secara swasta. Koran lokalnya sedang berupaya menemukan format baru. Plus, di sana kita bisa mengagumi (dan gemetaran) melihat buaya-buaya berukuran hingga enam meter!

Azrul Ananda, Darwin

Darwin punya pantai cukup indah. Di dekat kota juga ada Sungai Adelaide yang lebar, seru untuk dijelajahi naik perahu. Tapi kita harus hati-hati. Bahkan, pantainya bukan untuk berenang atau berjemur. Sebab, buaya ada di mana-mana. Dan bukan sekadar buaya biasa, melainkan buaya-buaya yang ukurannya mencapai enam meter!

Sebelum kita bicara soal buaya, saya ingin mengucapkan terima kasih khusus dulu kepada Darwin Basketball Association (DBA). Pada Oktober nanti, mereka akan mengirimkan tim mudanya ke Surabaya, bertanding melawan tim All-Star dari DetEksi Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia.

Kerja sama ini merupakan bukti konkret hubungan people to people antara Indonesia dan Australia, tanpa campur tangan pemerintah sama sekali. Dari DBA, kita juga bisa belajar bagaimana sebuah perusahaan swasta bisa membuat basket begitu maju di sebuah kota yang berpenduduk hanya 120 ribu orang.

Sama seperti DBL yang berbasis di Surabaya, DBA adalah perusahaan swasta murni. Sama sekali tidak mendapat sokongan dari pemerintah. Karyawan full time-nya pun hanya empat orang. Seorang executive officer (CEO), development manager, finance manager, dan seorang bagian umum.

Di luar itu, seluruh kru pendukungnya bersifat part time atau volunteer (relawan).
Namun, mereka mampu menyelenggarakan kompetisi secara rutin, mulai anak-anak sampai dewasa. Setiap tahun mereka juga mengirim ratusan pemain (dari berbagai usia) untuk bertanding di berbagai negara.

Eksistensi DBA merupakan bukti konkret betapa organisasi basket tak harus mengikuti jalur resmi dari pusat. Dengan berdiri sendiri, DBA bisa lebih cepat membuat keputusan, lebih lincah bergerak mengembangkan diri.

Bahwa DBA independen bukan berarti terpisah dari sistem pusat. Secara resmi, mereka masih bergerak di bawah Basketball Australia. Dan pemerintah setempat memberikan support besar, menyediakan infrastruktur yang memadai.

Pemerintah membangunkan DBA Stadium, sebuah kompleks yang terdiri atas lima lapanganindoor. Dua berfasilitas AC, tiga tidak. Lapangan utama dilengkapi tribun yang menampung lebih dari 500 penonton. Stadion ini terletak di sebelah Marrara Indoor Stadium, yang lebih besar dan mewah (kapasitas sekitar 1.500 penonton).

Untuk pemakaian gedung, pemerintah sama sekali tidak meminta pungutan dari DBA. Dengan catatan, DBA melakukan perawatan dan menggunakannya secara maksimal. “Kalau kami bangkrut, maka pemerintah akan mengambil alih lagi stadion ini,” jelas Allan Hilzinger, Executive Officer DBA.

Konsep ini menarik juga. Dan mungkin bisa ditiru di Indonesia. Banyak yang tahu, kota-kota di Indonesia sebenarnya punya banyak gedung-gedung berstandar lumayan tinggi. Banyak juga yang tahu, gedung-gedung itu sama sekali tidak terawat (dengan berbagai alasan khas pemerintah yang tidak perlu ditulis di sini).

Kalau pemerintah mampu membangun, tapi tak mampu merawat, mengapa tidak dipercayakan saja kepada swasta? Karena gedungnya “dipinjami,” maka pihak swastanya tak perlu menyewakan terlalu mahal. Itu kemudian berdampak mempermudah penyelenggaraan-penyelenggaraan even di sana, menstimulasi perkembangan olahraga yang bersangkutan.

Dari mana DBA mendapat pemasukan? Macam-macam. Yang utama adalah dari keanggotaan. Saat ini, tercatat sekitar 2.000 anggota DBA dari berbagai usia. Mereka membayar iuran yang terjangkau untuk ukuran Darwin (sekitar 60 dollar Australia). Plus iuran tambahan kalau ikut kompetisi-kompetisi khusus.

Untuk mengirim tim ke Surabaya Oktober mendatang misalnya. Setiap anggota yang berminat (yang usianya sesuai) tinggal membayar jumlah tertentu, membantu biaya penerbangan dan lain-lain.

Kemudian, biaya tambahan dicari dengan cara lain. Misalnya selama penyelenggaraan Top End Challenge, turnamen pramusim National Basketball League (NBL), liga paling bergengsi di Australia.

Pihak DBA buka stan barbeque. Menawarkan sandwich berisikan sosis, bacon, atau steak berharga masing-masing 5 dollar Australia. Pihak DBA juga buka meja undian. Penonton membeli tiket undian seharga 2 dollar Australia. Kalau beruntung, mendapatkan salah satu dari sekian banyak bola basket bertanda tangan bintang-bintang NBL.

Di meja pelayanan barbeque dan undian dipasangi banyak tulisan: “Semua penghasilan akan digunakan untuk keperluan tim DBA ke Surabaya.”

Selain itu, DBA juga mendapatkan dana dari sponsor. Salah satu yang besar adalah Darwin Airport Resort, hotel populer yang terletak di sebelah bandara internasional (dan tak jauh dari kompleks olahraga).

Bayangkan seandainya kota-kota “kecil” di Indonesia bisa menerapkan sistem ini. Kalau merasa tidak mendapat perhatian cukup dari pusat, bikin saja organisasi swasta. Lalu kerja keras, mencari cara untuk hidup sendiri dan tak mengomel seandainya merasa kurang diperhatikan dari pusat. Juga tidak malu “minta-minta” sumbangan.

***

Selama di Darwin, saya sempat diajak mengunjungi Northern Territory News, satu-satunya harian (berukuran tabloid) di Darwin. Tentu saja, dalam pertemuan ini saya “melepas topi basket,” menjadi wakil dari Jawa Pos (media di Indonesia).

Harian ini cukup unik. Meski satu-satunya di Darwin, harian ini cenderung bergaya sensasionalistis ala tabloid gosip atau koran kuning. Setiap hari, yang jadi headline selalu berita-berita aneh-aneh. Misalnya, “Ada Ular di Toilet.” Sampai ada guyonan, kalau tidak berkaitan dengan buaya atau ular, maka tak layak masuk halaman depan.

Untung itu kurang lebih hanya di halaman depan. Halaman-halaman dalamnya sendiri tergolong harian “standar,” dengan berita nasional, ekonomi, kota, dan olahraga.

Ternyata, ada alasan harian itu memilih jalur sensanionalistis. Menurut Evan Hannah, sang General Manager, hanya empat persen pembacanya adalah pelanggan. Sisanya eceran. Makanya, harian beroplah di kisaran 25 ribu eksemplar itu harus punya halaman depan yang mengundang penasaran orang untuk beli.

Saat pertemuan itu, kami pun diskusi tentang masa depan koran, mengejar pembaca muda, dan solusi online. Apa isinya? Maaf, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Soalnya ada koran-koran lain di luar Jawa Pos Group yang ikut membaca tulisan ini. He he he he…

Yang menarik (dan membanggakan) dari pertemuan ini, dalam beberapa hal media di Indonesia bisa lebih maju dari yang di negara maju!

Agak lucu juga, sebelum pertemuan ini, seorang wakil pemerintah Northern Territory yang menemani minta saya untuk memberi “pencerahan” kepada Northern Territory News. Dia tampak begitu sebal dengan gaya harian itu yang dia anggap terlalu menggosip.

***

Selama kunjungan di Australia ini, jadwal padat memang telah disiapkan. Dalam sehari, bisa ada lima pertemuan dan acara dari pukul 07.30 pagi sampai sore atau malam.

Meski jarak dari Indonesia ke Darwin begitu dekat, perbedaan jamnya cukup membuat saya kesulitan untuk beradaptasi. Sebab, beda antara Darwin dengan Waktu Indonesia Barat (WIB) tidaklah “genap.” Melainkan “ganjil” 2,5 jam. Jadi kalau di Jakarta pukul 12.00, maka di Darwin pukul 14.30. Ini kali pertama saya harus pergi ke tempat yang selisih waktunya ada setengah jam-nya.

Banyak meeting bukan berarti tidak ada kegiatan fun. Paling seru di Darwin? Lihat buaya! Bisa lihat yang liar naik helikopter, lihat di “miniatur kebun binatang” di tengah kota, atau di taman khusus yang lebih luas di pinggiran kota.

Buaya benar-benar hal besar di Australia. Dan buaya di Australia benar-benar besar. Beruntung, saya dapat tiga cara lihat buaya.

Pertama, lewat Crocosaurus Cove, di tengah kota (di dekat pusat perbelanjaan dan perkantoran). Tempat ini merupakan miniatur kebun binatang bagi orang yang tak sempat berkunjung ke tempat lebih besar di pinggir kota atau di alam bebas.

Dengan bayar 28 dollar Aussie, kita bisa menikmatinya setiap hari pukul 08.00 pagi sampai 20.00. Di dalamnya cukup mengesankan. Banyak buaya besar (sampai panjang 5,5 meter) di dalam tangki akuarium raksasa.

Kalau mau bayar 120 dollar ekstra, kita bisa “berenang” bersama buaya-buaya itu. Tidak berenang bebas tentunya. Kita berenang di kolam tangki di sebelah tangki buaya, dipisahkan dinding kaca. Atau, kita dimasukkan ke dalam sebuah sangkar, lalu sangkar itu dimasukkan ke dalam tangki untuk bisa berinteraksi langsung secara aman.

Kurang seru? Kita juga bisa ke Crocodylus Park, tak jauh dari bandara. Ini seperti kebun binatang “normal,” dan punya lebih banyak buaya. Tiket masuk kurang lebih sama, tapi di sini lebih banyak yang bisa didapat.

Di sana, kita bisa melihat show memberi makan buaya (daging ayam digantung di kabel, lalu buaya di danau buatan melompat vertikal untuk memakannya).

Setelah itu, semua pengunjung diberi kesempatan untuk ikut merasakan serunya memberi makan buaya-buaya besar itu (banyak yang panjangnya sampai 5 meter). Cukup mendebarkan juga. Sebab, buaya-buaya itu tampak diam, tapi lantas bergerak vertikal begitu cepat untuk menangkap makanan yang kita gantung di ujung tali.

Ada pula museum buaya, termasuk di dalamnya menceritakan kasus-kasus buaya makan manusia di berbagai penjuru dunia (banyak di Malaysia).

Bagi yang ingin melakukan “pembalasan,” Crocodiylus Park juga menyediakan kafe yang berjualan daging buaya dan produk-produk kulit buaya berlisensi. Ada fillet, ada burger. Katanya daging buaya itu baik, karena rendah lemak dan kolesterol.

Di Crocodylus Park memang ada peternakan buaya, untuk mendapatkan daging dan kulitnya.

Saya tidak mencoba seperti apa daging buaya. Tapi, Broughton Robertson, Wakil Department of Foreign Affairs dan Trade dari Canberra yang mendampingi saya, sempat menjajal burger buaya. Katanya, rasanya seperti daging ayam. Saya balas: “Saya pernah baca kanibal mengaku daging manusia juga terasa seperti ayam.”

Sebenarnya, cara paling seru adalah dengan naik perahu di Adelaide River, tak jauh dari Darwin. Di sana masih banyak buaya berkeliaran liar. Saya, Robertson, dan Donny Rahardian (Basketball Operations Manager DBL Indonesia) diajak menikmati dengan cara lebih seru.

Kami diajak Jeff Blake, seorang pengusaha setempat, naik helikopternya mengelilingi Darwin. Mulanya kami putar-putar di atas kota, lalu menikmati pantai yang indah. Sayang, karena ancaman buaya, pantai tidak direnangi. Untung juga, kalau tidak, pengunjung Bali bakal banyak berkurang!

Sebelum balik ke rumahnya, Blake mengajak terbang ke “alam bebas” di luar kota. Blake menerbangkan helikopter Bell-nya rendah mengikuti alur Adelaide River, dan tak akan berputar balik sampai melihat buaya liar. Untung tidak perlu waktu lama. Saya melihat dua buaya mengapung di tengah sungai.

Darwin memang kota “kecil,” tapi ada banyak yang bisa dinikmati di sana. Dan kelak, pengin juga rasanya mengajak keluarga ke sana. Tenang, santai, dan harga relatif lebih terjangkau. Cocok untuk menjauhkan diri dan menenangkan diri dari kehidupan sehari-hari.

(bersambung)

sumber : http://www.mainbasket.com

DBL TAMU SPESIAL LAGA NBL

16-Oct-2008

bertemumenteri

Hadiah Bola Indonesia untuk Menteri Olahraga Western Australia

PERTH – Tim All-Star DetEksi Basketball League (DBL) Indonesia menjalani hari tak terlupakan di Perth, Australia, kemarin.

 

Pada siang hari, perwakilan liga basket pelajar terbesar di Indonesia itu menjadi tamu Menteri Olahraga dan Rekreasi Australia Hon Terry Waldron.

WBloglogo

Malamnya, seluruh tim menjadi tamu spesial pertandingan profesional National Basketball League (NBL), antara Perth Wildcats melawan Woolongong Hawks, di Challenge Stadium. Dua puluh empat pemain, empat pelatih, dan kru DBL yang mendampingi dipanggil masuk lapangan saat half-time, disambut dengan sorakan meriah dari ribuan penonton liga paling bergengsi di Australia tersebut.

Seluruh anggota tim lantas berjalan mengitari lapangan, bermain-main dengan maskot Wildcats dan menyalami para pemain yang bertanding.

“Selamat datang kepada para bintang DetEksi Basketball League, liga pelajar terbesar Indonesia yang diselenggarakan oleh Jawa Pos,” kata pembawa acara di lapangan.

Dia lantas mengajak sekitar 4.000 penonton Wildcats untuk datang ke Perry Lakes Basketball Stadium pada Sabtu, 18 Oktober nanti. Sebab, hari itu tim pelajar Indonesia ini bakal menjalani pertandingan internasional resmi melawan tim U-16 Western Australia.

Tentu saja, pengalaman ini membuat seluruh anggota tim bangga. “Ini pengalaman yang mungkin hanya sekali seumur hidup, mungkin tidak akan terulang lagi. Sambutan penonton meriah sekali,” kata Jamin Mattotoran, salah satu pelatih tim putri All-Star DBL Indonesia dari SMA Rajawali Makassar.

“Saya kaget. Waktu mau masuk lapangan deg-degan, takut dicuekin sama penonton. Ternyata semua malah tepuk tangan,” tambah Trisna Gama Putri, guard tim putri All-Star DBL Indonesia dari SMAN 7 Banjarmasin.

Siang sebelumnya, saat anak-anak DBL Indonesia mengunjungi kampus-kampus ternama di Perth, beberapa anggota tim diajak berpisah oleh Hallam Pereira, international project director Departemen Olahraga dan Rekreasi Western Australia. Sebab, mereka sudah ditunggu oleh Hon Terry Waldron, menteri departemen tersebut di kantornya.

Commissioner DBL Azrul Ananda pun berangkat bersama Pereira, ditemani dua pemain: Ryan Christyanto dari SMA BOPKRI 1 Jogjakarta dan Yoanna Gustia Rahayu dari SMAN 11 Pekanbaru.

Ketika bertemu, Waldron bertanya-tanya tentang kesan para pemain di Australia. Mulai perasaan pertama ketika datang, cara orang Australia berpakaian, dan –yang mendapat jawaban paling seru– makanan di Australia.

Soal makanan itu, Ryan dan Yoanna sama-sama malu menjawab. Azrul menjelaskan bahwa pada dua hari pertama anak-anak All-Star DBL Indonesia memang agak sulit beradaptasi, khususnya tentang makan siang. Banyak yang kesulitan makan sandwich!

“Setiap pagi, kami selalu menyiapkan mental mereka untuk makan siang. Bahwa kita pasti akan makan sandwich. Lalu, semua harus bicara lantang, ‘We love sandwich!’ agar bisa beradaptasi,” jelas Azrul, disambut tawa oleh Waldron.

Mengenai tantangan pertandingan yang sangat berat, karena kualitas pemain muda Western Australia yang sudah begitu maju, sang menteri lantas memberi pesan semangat kepada seluruh pemain All-Star DBL Indonesia. “Kalau mau maju, harus berani menghadapi lawan yang jauh lebih berat. Hanya dengan cara itu kita bisa maju,” ujarnya.

Waldron mengaku punya minat ekstra pada DBL Western Australia Games 2008 ini. Sebab, putrinya bersekolah di Willetton Senior High School, SMA juara basket Perth yang bakal dihadapi All-Star DBL Indonesia pada Jumat, 17 Oktober besok.

Sebagai suvenir, anak-anak All-Star DBL Indonesia menghadiahkan bola resmi pertandingan DBL. Bola merek Proteam itu sudah ditandatangani oleh semua pemain. Azrul lantas menjelaskan, DBL bangga bisa menggunakan berbagai produk buatan Indonesia.

Bukan hanya bola. Seluruh tim All-Star DBL Indonesia memakai jersey dan sepatu basket merek Indonesia, League. Dan warna merah-putih pada sepatu yang dipakai sekarang disediakan secara khusus, karena belum dijual di toko-toko.

Dalam pertemuan itu, juga dibicarakan kemungkinan kelanjutan program ini tahun depan. Bukan hanya tim DBL Indonesia yang ke Perth. Western Australia juga akan berusaha mengirimkan tim mudanya untuk belajar dan bertanding ke Surabaya, tempat DBL berpusat. (azz)