Sepatu Terbaru Kobe Bryant yang Revolusioner

Senin, 15 Desember 2008 , 08:58:00

Main Basket Gaya Sepak Bola

Kobe Bryant (dan Nike) mencoba bikin sensasi. Sepatu baru sang superstar, Zoom Kobe IV, “melanggar” banyak “aturan basket,” rendah dan ringan ala sepatu sepak bola. Kalau Bryant lolos dari cedera engkel, sepatu ini bisa merevolusi industri sepatu basket.

Ulasan Azrul Ananda

TIDAK banyak bintang basket punya signature shoe. Tidak banyak yang punya signature shoe sampai berseri. Mereka yang sudah bertahun-tahun punya sepatu sendiri, biasanya bertahan lama karena memang punya karakter tersendiri.

Sepatu Michael Jordan? Selalu seksi dan inovatif.

Sepatu LeBron James? Selalu besar dan kokoh.

Sepatu Kobe Bryant? Selalu ringan dan lincah.

Karena Michael Jordan sudah lama pensiun, sepatu James dan Bryant merupakan dua “jualan utama” Nike saat ini. Keduanya punya “aliran” yang berbeda, sesuai dengan karakter dan gaya bermain masing-masing di lapangan.

Untuk musim NBA 2008-2009 ini, tampaknya Nike lebih fokus mendorong sepatu Bryant. Zoom Kobe IV, sepatu bintang Los Angeles Lakers itu, pekan lalu diluncurkan secara global, lewat webcast.

Lewat sepatu baru Bryant, Nike memang habis-habisan berinovasi dan berkreasi. Beda dengan sepatu terbaru James (Zoom LeBron VI), yang tampaknya dirancang tampil “aman dan sederhana.”

Lewat sepatu baru Bryant, Nike tampaknya memang ingin “menggoyang” pasar sepatu basket, membelokkan tren ke jalan baru menuju masa depan. Belakangan, penjualan sepatu basket memang tidak sedahsyat dulu. Menurut laporan Sports One Source, pasar sepatu basket di Amerika kini “hanya” USD 2,5 miliar setahun, hanya separo dari angka penjualan sepuluh tahun lalu, saat Michael Jordan masih merajalela.

Apa hebatnya sepatu Bryant? Sepatu itu diklaim sebagai yang paling ringan. Bahkan lebih ringan dari Nike Hyperdunk, sepatu yang dipakai kebanyakan pemain Team USA di Olimpiade Beijing. Bobot Zoom Kobe VI hanya 11,6 ons, sementara Hyperdunk 13 ons. Rata-rata sepatu basket lain di kisaran 15 ons atau lebih berat.

Untuk mencapai bobot seringan itu, Nike memakai teknologi seperti di Hyperdunk. Yaitu menggunakan Vectran, bahan nylon fiber yang tipis tapi kuat untuk membungkus kaki. Sebagai peredam kejut, Nike memakai LunarLitefoam di bagian depan, seperti yang dipakai tempat duduk pesawat luar angkasa NASA.

Namun, ringan bukanlah bahan omongan utama Zoom Kobe IV. Sepatu itu banyak diperdebatkan para penggila sepatu karena desainnya yang low. Tidak “tinggi” menutup engkel seperti kebanyakan sepatu basket.

Memang, sepatu low bukanlah barang baru. Bintang Washington Wizards Gilbert Arenas selalu suka sepatu rendah, dan Adidas telah menyediakan khusus untuknya selama bertahun-tahun. Bintang Phoenix Suns, Steve Nash, juga selalu suka pakai sepatu rendah.

Bedanya, sepatu low ini menghebohkan karena dipakai oleh seorang Kobe Bryant! Selama ini, sepatu low dianggap berbahaya, membuat pemain lebih rawan terkena cedera engkel. Kalau Bryant, yang gaya bermainnya banyak “belok-belok” sampai mau pindah ke low, maka anggapan itu bisa sirna.

Dan Nike mengklaim, Bryant sendiri yang minta sepatu low. Sebagai penggemar sepak bola (dulu besar di Italia), Bryant mengaku kagum melihat para pemain bola bisa mudah “belok-belok” dengan sepatu yang rendah dan ringan. Kalau engkel pemain bola saja tahan, kenapa tidak pemain basket?

Saat meeting, Bryant pun melontarkan tantangan untuk Eric Avar, performance footwear creative director Nike, untuk membuatkan sepatu basket yang rendah dan ringan ala sepatu sepak bola. “Permintaan itu mengagumkan. Ini pemain terbaik di dunia bilang tak butuh perlindungan engkel. Dia ingin membuktikan itu kepada semua pemain lain dan konsumen,” tutur Avar seperti dilansirESPN.

Bryant menegaskan itu. “Saya benar-benar terinspirasi dari menonton sepak bola. Saya berpikir, kalau saya bisa mengurangi bobot sepatu, saya bisa mendapatkan gerakan kaki yang lebih alami, dan itu lebih baik,” ucapnya lewat wawancara bersama CNBC.

Bryant mengaku tak khawatir mengalami cedera engkel. Dia bilang, dia sudah berkali-kali mengalami cedera engkel meski memakai sepatu tinggi. “Saya sudah bermain basket sangat lama. Setiap kali cedera engkel, itu karena saya mendarat di kaki orang lain. Itu namanya nasib buruk,” ucapnya.

Pemain 30 tahun itu mengaku sudah menjajal Zoom Kobe IV saat latihan, dan mengaku kagum dengan kelincahan sepatu tersebut.

Rencananya, Bryant akan menggunakan Zoom Kobe IV dalam pertandingan resmi untuk kali pertama pada 19 Desember nanti, saat melawan Miami Heat. Saat itu, semua orang akan memperhatikan engkelnya. Kalau hari itu dia sampai cedera engkel, penjualan Zoom Kobe IV bisa hancur, dan masa depan sepatu basket jenis low bisa sirna.

Kalau hari itu Bryant “selamat” dan tampil spektakuler, maka dunia sepatu basket bisa berubah total. Bakal makin banyak sepatu low beredar.

Ditanya soal risiko itu, Bryant mengaku percaya 100 persen dengan sepatu barunya. “Saya sangat percaya dengan sepatu ini, saya sangat percaya dengan teknologi di belakang sepatu ini. Saya tidak merasakan beban ekstra. Saya yakin sepatu ini membuat saya lebih cepat, melompat lebih tinggi, karena sepatu ini lebih ringan,” tandasnya.

Catatan tambahan: Selama ini sepatu basket dianggap kurang praktis. Tidak bisa dipakai harian karena berat dan “panas.” Dengan konsep ringan dan lowala Zoom Kobe IV, sepatu basket pun menjadi lebih multiguna. Kalau lebih multiguna, maka mungkin lebih mudah jualannya, dan kelak mungkin sepatu basket kembali merajalela.

Toh, bagaimana pun juga, tujuan utama Nike adalah jualan sepatu… (azrul ananda)

Bangun Pagi ke Wal-Mart, Ternyata Tak Ada Artest

23-Feb-2011

nba-all-star-2011-23feb-christopher-sherly-berburu-artest

Berburu Bintang Lakers di Sekeliling NBA All-Star 2011

Mumpung di Los Angeles, sekadar ikut rangkaian acara resmi NBA All-Star tidaklah cukup. Saat lowong, pasangan bos CLS Knights Christopher Tanuwidjaja dan Sherly Humardani berburu bintang di pelosok kota.

Rangkaian acara resmi NBA All-Star 2011 di Los Angeles sudah sangat padat. Mulai Jumat sampai Minggu, 18–20 Februari, berbagai even dan pesta diselenggarakan untuk memuaskan para penggemar. Apalagi para undangan VIP, rangkaiannya lebih padat.

Meski demikian, masih ada ’’waktu-waktu kosong’’ yang bisa dimanfaatkan untuk mencari keasyikan ekstra. Yaitu, berburu acara penampilan bintang-bintang Los Angeles Lakers, khususnya yang tidak terlibat dalam NBA All-Star 2011 (selain Kobe Bryant dan Pau Gasol).

Di kota besar yang glamor ini, memang ada banyak even yang mendatangkan bintang-bintang NBA, khususnya Lakers. Cara mencarinya ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan. Misalnya, yang dilakukan Christopher Tanuwidjaja, bos klub National Basketball League (NBL) Indonesia CLS Knights, bersama istrinya yang mantan pemain nasional, Sherly Humardani.

Sebagai penggemar berat Lakers, Christopher serius mengikuti berbagai ’’siar Twitter’’ selama di Los Angeles. Mencoba ’’menangkap’’ setiap kabar kemunculan bintang-bintang tim favoritnya.

Hasilnya lumayan!

Kamis malam (17/2) sebelum NBA All-Star 2011 dimulai, mereka beranjak menuju Best Buy, sebuah toko elektronik di kawasan barat Los Angeles. Di sana, ada acara jumpa fans yang menampilkan Derek Fisher, point guard senior andalan Lakers. Lumayan, dapat tanda tangan di dua lembar foto.

Minggu siang pukul 13.00 (20/2), hanya beberapa jam sebelum laga puncak NBA All-Star 2011, mereka –mengajak penulis dan Masany Audri dari DBL Indonesia– ngebut menuju gerai Earloomz, produsen bluetooth headset, di kawasan Sherman Oaks.

Di sana, Ron Artest alias Ron-Ron, jagoan defense Lakers, menyapa para penggemar dan melayani permintaan tanda tangan.

Tidak puas antre ’’biasa’’, Christopher dan Sherly sama-sama mampu menjawab pertanyaan kuis, yang membantu mengantarkan mereka ’’lolos’’ ke antrean prioritas yang mendapatkan jaminan tanda tangan.

’’Siapa yang tahu, berapa poin yang saya raih dalam pertandingan terakhir Lakers?’’ tanya Ron Artest, ketika nongol ke luar toko untuk menyapa para penggemar sesaat.

Beberapa orang –termasuk penulis yang bukan penggemar Lakers– gagal menjawabnya. ’’Satu poin!’’ jawab Sherly.

Jawaban itu benar! Dia pun mendapat hadiah bluetooth headset berlogo Lakers gratis. Hadiah yang sama dengan yang didapat Christopher beberapa saat sebelumnya. Setelah antre sebentar, dua headset itu diteken Artest. Berikut jerseydan action figure Artest.

’’Tentu saja saya tahu. Dalam beberapa hari terakhir, pertandingan (kalah melawan Cleveland Cavaliers) itu terus yang diomongkan Christopher,’’ kata Sherly.

Sayang, tidak semua upaya perburuan berhasil. Senin pagi (21/2), sehari setelah laga All-Star, pasangan itu menuju sebuah toko serba ada bernama Wal-Mart di kawasan ’’kelas bawah’’ Crenshaw.

Ternyata, ’’siar Twitter’’ yang mereka dapatkan bohong. Walau sudah lari-lari masuk ke Wal-Mart, ternyata tidak ada Artest sama sekali di situ!

Tapi, tidak apa-apa, pengalaman itu dianggap saja sebagai sebuah ’’kelucuan’’. Toh, sepanjang akhir pekan NBA All-Star, sebagai tamu VIP bersama DBL dan NBL Indonesia, mereka sudah mendapat puluhan foto bareng dan tanda tangan dari bintang-bintang NBA.

Baik sejumlah bintang aktif seperti Deron Williams, Al Horford, Amare Stoudemire, Brandon Jennings, Yi Jianlian, Andre Iguodala, dan Kevin Love. Hingga para legenda seperti Clyde Drexler, Dominique Wilkins, dan mantan bintang Lakers, Robert Horry. Seru! (azrul ananda)

Menjadi Tamu VIP di NBA All-Star 2011 di Los Angeles (3-Habis)

RABU, 23 FEBRUARI 2011

EMPAT HEKTARE PENUH ATRAKSI BASKET DI JAM SESSION

013801_679402_Boks_NBA_dalam

Staples Center bukan satu-satunya tempat penuh aksi di NBA All-Star 2011. Los Angeles Convention Center pun disulap jadi theme park temporer pesaing Disneyland. Berikut catatan AZRUL ANANDA.
Pergi ke kawasan Los Angeles? Tidak lengkap kalau belum mampir ke Disneyland atau Universal Studios, atau theme park-theme park lain yang bertebaran di wilayah selatan negara bagian California tersebut.
Masalahnya, kalau datang hanya satu akhir pekan demi NBA All-Star 2011 di Los Angeles, kita mungkin tidak punya waktu untuk mengunjungi tempat-tempat lain. Selama tiga –atau empat hari– waktu kita mungkin sudah habis di radius 1-2 kilometer di downtown Los Angeles.

Jumat-Sabtu-Minggu, 18-20 Februari, mulai sore sampai malam pasti habis di Staples Center, tempat diselenggarakannya even-even utama NBA All-Star 2011. Pagi sampai siangnya? Mungkin sudah habis untuk menikmati atraksi-atraksi lain yang berkaitan dengan NBA All-Star 2011. Selama akhir pekan ini, sejumlah show dan party yang berkaitan dengan NBA All-Star memang meramaikan downtown Los Angeles.
Tapi yang paling seru, dan paling menghabiskan waktu kalau memang kita mau, ada di Los Angeles Convention Center (LACC). Sebuah ruang ekshibisi raksasa yang letaknya bersebelahan dengan Staples Center.

Dan kalau mau, dari pagi sampai malam, bisa menghabiskan waktu di LACC selama empat hari, dari Jumat sampai Senin (18-21 Februari).

Ada apa di sana? Selama empat hari, LACC digunakan untuk NBA Jam Session. Apa itu? Pada dasarnya, selama empat hari, LACC disulap menjadi sebuah theme park a la Disneyland atau Universal Studios. Bedanya, kalau Disneyland untuk kartun dan Universal untuk film, maka NBA Jam Session adalah untuk basket.

Memang, Jam Session tidak secanggih Disneyland atau Universal, karena bersifat temporer. Tapi, di sana orang tetap bisa bersenang-senang. Bagi warga Los Angeles, mungkin ini adalah atraksi alternatif yang seru, yang belum tentu datang ke kota itu sekali dalam sepuluh tahun.

Sejak 1992, Jam Session memang selalu mengiringi kehebohan NBA All-Star, di mana pun even itu berkunjung. Dengan demikian, mereka (mayoritas) penggemar yang tidak bisa (atau tidak mampu) membeli tiket nonton All-Star tetap bisa menikmati kehebohannya.
***
Berkunjung ke Jam Session, kita harus sama siapnya dengan ketika berkunjung ke Disneyland atau Universal Studios. Bagi penggemar basket –khususnya NBA– di Indonesia, contoh “mini”-nya ada. Yaitu NBA Madness, yang sudah diselenggarakan Jawa Pos Group dan DBL Indonesia (pengelola Development Basketball League dan National Basketball League Indonesia) pada 2009 dan 2010.

Bila NBA Madness diselenggarakan di atrium mal-mal, yang biasanya hanya cukup untuk menampung satu “setengah lapangan basket” plus berbagai booth sponsor, maka Jam Session ini ratusan kali lebih besar.

Tepatnya seluas empat hektare! Ya, empat hektare!

Meski superluas, menikmatinya tetap butuh perjuangan hebat. Sebab, antrean sudah akan didapat dari pintu masuk Los Angeles Convention Center sampai hampir semua “wahana” di dalam Jam Session.

Padahal, untuk masuk tidaklah gratis. Harga tiket per harinya di kisaran USD 30 atau sekitar Rp 270 ribu. Enaknya jadi tamu VIP NBA sepanjang ajang NBA All-Star, rombongan DBL dan NBL Indonesia bukan hanya dapat fasilitas keluar-masuk gratis, tapi juga bebas antrean lewat pintu ekspres.

Begitu masuk –dan melewati berbagai pemeriksaan sekuriti– suasana langsung terasa heboh. Ada “lorong” besar berdinding kain bergambarkan bintang-bintang NBA All-Star 2011. Di tengahnya, ada jalur berjalan ala karpet merah, tapi berupa jalur bercorak kayu khas lapangan basket.

Di kanan-kirinya pun ada “penyambutan.” Kalau bintang Hollywood disambut jepretan banyak fotografer, kalau pengunjung Jam Session disambut puluhan staf even yang menepuk-nepukkan balon tongkat (clapper) khas penonton basket. Tidak jarang mereka mengajak pengunjung toast. Bagi penonton, rasanya pun seperti jadi pemain basket yang akan masuk ke lapangan dan disambut oleh para penonton!

Di dalam, tinggal pilih mau ke “wahana” mana. Total, ada tujuh lapangan penuh temporer untuk berbagai permainan. Mulai 3-on-3, laga-laga ekshibisi komunitas, dan lain-lain. Yang utama disebut Center Court, yang mungkin lebih tepat disebut sebagai stadion temporer. Sebab, bukan hanya lapangan yang terpasang. Di sekelilingnya ada pula tribun tiga sisi berkapasitas sekitar 2.000 orang. Di salah satu sisi, ada pula dua layar LED besar, plus scoreboard besar di tengah-tengahnya. Selain itu ada pula tujuh “setengah lapangan” bertebaran, untuk keperluan sponsor, klinik basket anak-anak, dan lain-lain.

Bagi yang gila merchandise, di tengah-tengah LACC ada NBA Store. Kalau lagi ramai-ramainya, untuk masuk toko superluas itu perlu antre. Ketika mau bayar, juga harus ada antrean menuju kasir. Padahal, jumlah kasirnya belasan!

Setiap hari, ada sejumlah pemain atau mantan pemain NBA hadir. Termasuk untuk duduk di kawasan khusus, melayani permintaan tanda tangan para penggemar.
***
NBA All-Star 2011 mungkin bisa dibilang sukses besar. Paling tidak dalam menyedot perhatian, baik di Amerika Serikat sendiri maupun di dunia. Rating televisi kontes slam dunk hari Sabtu (19/2) disebut gila-gilaan. Di AS, ditonton sampai 8,1 juta orang, tertinggi dalam 26 tahun sejarah penyelenggaraan.

Blake Griffin, bintang muda Los Angeles Clippers yang memenangi kontes slam dunk setelah melompati sebuah mobil, instan jadi superstar dunia. “Bau-bau” kontes itu sudah di-setting semakin kentara ketika kita melihat toko merchandise utama di Staples Center hari Minggu (20/2), sebelum laga puncak NBA All-Star.

Di pintu masuk LA Team Store, sudah terpampang t-shirt merah bergambarkan Blake Griffin, bertuliskan “Slam Dunk Champion.” Kata seorang staf NBA, kaus itu bahkan sudah dijual Sabtu malam lalu, tidak lama setelah Griffin dinobatkan sebagai pemenang.
Sudah disiapkan Griffin bakal menang? Entahlah. Tapi kalau pun iya, saya tidak komplain, karena kontes Sabtu itu benar-benar menghibur. Dan inti akhir pekan ini memang bukan persaingan yang sehat, melainkan tingkat keasyikan yang harus setinggi mungkin.

Hari Minggu itu, suasana ramai luar biasa. Sebagai tamu VIP NBA, saya dan teman-teman dari DBL dan NBL Indonesia dapat fasilitas ekstra sebelum acara dimulai pukul 17.00 waktu setempat. Kami diajak turun ke lapangan, ditunjukkan kesibukan di balik layar, lalu berfoto di lapangan hanya beberapa menit sebelum acara berlangsung.
Bukan sekadar foto biasa, NBA juga menyiapkan seorang “Legend” (mantan bintang) untuk pose bersama kami (dan sejumlah tamu VIP lain). Dia adalah AC Green, mantan bintang Los Angeles Lakers.

Dalam tur singkat itu, sejumlah bintang besar lain kami jumpai. Seperti David “The Admiral” Robinson, mantan center andalan San Antonio Spurs yang pernah masuk daftar 50 pemain terbaik dalam sejarah. Di “balik layar,” juga bertemu head coach Boston Celtics, Doc Rivers, sedang berbincang dengan head coach Los Angeles Clippers, Vinny del Negro.

Fasilitas ekstra lain yang kami dapat: Lagi-lagi party. Di ajang ini, memang ada banyak sekali pesta untuk para partner dan undangan VIP. Minggu malam setelah laga All-Star, mereka yang dapat undangan khusus diajak menyeberang jalan. Di depan Staples Center, jalan Figueroa memang diblokir, dan kawasan restoran di sekitar situ juga ditutup. Di sana dipasang tenda besar, di dalamnya ada panggung untuk menghibur para tamu.
Beberapa selebriti yang nongol di laga All-Star ikut hadir di situ. Antara lain penyanyi legendaris yang tunanetra, Stevie Wonder.

Soal berlangsungnya laga NBA All-Star sendiri mungkin tak perlu terlalu banyak dibahas di sini. Tim wilayah barat (West) menang, dan bintang tuan rumah dari Los Angeles Lakers, Kobe Bryant, terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) setelah mencetak 37 poin.
Meski demikian, tongkat estafet popularitas agak-agaknya sudah terjadi di Los Angeles. Kobe Bryant mungkin masih bintang paling top, tapi dia sudah sangat disaingi oleh Blake Griffin. Buktinya, saat laga All-Star, para penonton bersama meneriakkan “We want Blake! We want Blake!” ketika pemain Clippers itu duduk di bangku cadangan.
Begitu Griffin masuk lapangan, sorakan hebat pun menyertainya.

Tahun depan, NBA All-Star pindah ke pantai timur Amerika, ke kota Orlando. Apakah bisa menyaingi NBA All-Star 2011 di Los Angeles ini? Tampaknya itu bakal menjadi sebuah tantangan hebat…

Tamu VIP NBA All-Star 2011 di Los Angeles

Senin, 21 Februari 2011 , 10:07:00

Catatan Azrul Ananda, Tamu VIP NBA All-Star 2011 di Los Angeles
Ada My Giant di Pesta Terbaik untuk Tiongkok

NBA All-Star 2011 seperti jadi ajang promosi Blake Griffin, bintang muda Los Angeles Clippers. Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang bersama rombongan DBL dan NBL Indonesia menjadi tamu VIP di Los Angeles.

PUNCAK NBA All-Star 2011, menurut jadwal, adalah laga bintang pilihan pada hari Minggu (20/2, Senin pagi ini WIB). Itu menurut jadwal panitia. Bagi kebanyakan penggemar beratliga basket tersebut, puncak NBA All-Star mungkin adalah Sabtu malam (kemarin WIB), dengan diselenggarakannya berbagai kontes seru.

Termasuk di antaranya Slam Dunk Contest. Malam itu, satu nama mengukuhkan diri sebagai superstar terbaru di NBA. Dia adalah Blake Griffin, bintang pendatang baru yang membela Los Angeles Clippers.

Dia menjadi jawara Slam Dunk Contest, setelah menguncinya lewat aksi spektakuler, melompati sebuah mobil.

Bagi penggemar “biasa,” nama Griffin mungkin belum terlalu familier. Dia sebenarnya sudah dipilih masuk NBA pada 2009, tapi harus absen pada musim 2009-2010 karena cedera lutut. Pada musim 2010-2011 ini, dia masih berstatus rookie (pendatang baru), tapi langsung “meledak” mencuri sorotan.

Sejak game pertama musim ini, Griffin sudah memukau banyak orang dengan aksi-aksi slam dunk-nya yang garang dan akrobatik. Tinggi badannya boleh 211 cm dengan badan tebal, tapi gerakannya sangat lincah dan indah. Performa Clippers pun terus membaik dan akhirnya mampu menyaingi tim tetangga, Los Angeles Lakers, dalam hal sorotan dan penonton.

Gara-gara aksinya itu, Griffin dapat kesempatan jadi atraksi utama di NBA All-Star 2011. Jumat lalu (18/2), dia sudah berkiprah di Rookie Challenge, laga khusus tim pendatang baru menantang tim Sophomore (para pemain tahun kedua di NBA).

Saat itu Griffin tak bermain terlalu banyak. Dan itu justru menunjukkan betapa populernya pemain 21 tahun tersebut.(*)

Tiket Termurah Melonjak Jadi Rp 5 Juta per Lembar

Menjadi Tamu VIP di NBA All-Star 2011 di Los Angeles (1)

Minggu, 20 Februari 2011 , 08:05:00

131832_735777_justin_bieber

Rombongan DBL dan NBL Indonesia dapat kesempatan supereksklusif akhir pekan ini. Menjadi tamu VIP di NBA All-Star 2011 di Los Angeles. Berikut catatan AZRUL ANANDA dari ibu kota entertainment dunia itu.

“Ayo Azrul, datang ke NBA All-Star. Pasti bakal luar biasa!”Ajakan itu sudah berkali-kali disampaikan pihak National Basketball Association (NBA), liga basket paling bergengsi di dunia, dalam beberapa tahun terakhir.  Tepatnya sejak PT Deteksi Basket Lintas Indonesia (DBL Indonesia) dan Jawa Pos Group, pengelola liga pelajar Development Basketball League (DBL) dan liga profesional National Basketball League (NBL) Indonesia, menjadi partner NBA dalam menyelenggarakan even-evennya di Indonesia.

Tentu saja, saya sangat-sangat ingin untuk datang ke even tersebut. Sejak belum gemar basket dulu, salah satu keinginan saya memang nonton laga NBA All-Star, yang selalu diselenggarakan di tengah-tengah musim liga tersebut.

Paling kepengin sebenarnya pada 2010 lalu, ketika laga bintang itu diselenggarakan di stadion football raksasa (berkapasitas lebih dari 100 ribu orang) di Dallas, negara bagian Texas. Sayang, even itu diselenggarakan di bulan Februari. Dan sebenarnya, setiap tahun even All-Star hampir selalu diselenggarakan di bulan Februari.

Mengapa sayang” Karena Februari itu bulan-bulan paling sibuk di Indonesia. Liga pelajar Honda DBL selalu ramai-ramainya diselenggarakan di berbagai penjuru Indonesia. Dan tahun ini sebenarnya lebih sibuk lagi, karena persaingan klub-klub NBL Indonesia sedang panas-panasnya di bulan Februari. Seri Jakarta diselenggarakan 5-13 Februari lalu, menentukan posisi playoff bulan Maret nanti.

Karena Februari itulah, dalam beberapa tahun terakhir saya “dan teman-teman DBL Indonesia– tidak bisa memenuhi undangan tersebut. Meskipun selalu menolak dengan berat hati, karena undangan itu selalu dibarengi dengan acara-acara supereksklusif, menawarkan pengalaman yang sangat sulit dirasakan kebanyakan orang.

Tahun 2011 ini, saya memutuskan untuk berangkat. Penasaran ini menumpuk terlalu lama. Selain itu, tahun ini even diselenggarakan di Los Angeles. Dari Indonesia tidak butuh perjalanan “terlalu jauh.” Minimal tiba di Amerika tidak perlu lagi naik penerbangan domestik yang jauh ke kota selanjutnya. Selain itu, Los Angeles adalah ibu kota entertainment dunia. Pasti menawarkan kemasan yang tiada duanya! Lumayan untuk belajar”

Even NBA All-Star 2011 di Los Angeles ini mungkin yang paling ribet yang pernah diselenggarakan NBA. Acara-acara utamanya sebenarnya relatif standar, berlangsung tiga hari seperti All-Star sebelumnya (tahun ini 18-20 Februari).

Jumat ada Celebrity Game, di mana bintang-bintang entertainment bermain basket. Tahun ini bintang utamanya adalah Justin Bieber. Lalu ada Rookie Challenge, laga tradisional yang mempertemukan para pendatang baru (rookie) terbaik melawan para pemain tahun kedua terbaik (sophomore).

Sabtu adalah NBA All-Star Saturday Night, berisikan kontes-kontes kemampuan dahsyat. Termasuk tembakan tiga angka, skills, dan “yang utama– slam dunk. Tahun ini, bintang muda Los Angeles Clippers jadi suguhan utama Saturday Night. Di ajang slam dunk, bocorannya dia akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Saya tidak boleh bilang itu apa, tapi yang jelas dia akan melompati sesuatu yang “besar.”

Minggu adalah puncak acara, laga All-Star mempertemukan tim bintang-bintang East (wilayah timur) dan West (wilayah barat). Meski acara utama “standar,” tapi lain-lainnya paling ribet. Karena di Los Angeles, minat orang untuk datang luar biasa besar. “Kami kedatangan tamu lebih banyak di sini. Datang dari lebih banyak negara, dari yang pernah kami terima sebelumnya,” kata Ed Winkle, senior director business development dan marketing partnership NBA Asia.

Bagi NBA, even All-Star memang lebih berfungsi untuk mempertemukan seluruh partner-nya dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, juga untuk mempertemukan seluruh personelnya, yang kini bermarkas di berbagai benua di dunia. Data yang ada memang gila-gilaan. Untuk staf dan tamu-tamunya, NBA mem-booking tidak kurang dari 20 ribu room nights (jumlah kamar kali jumlah malam) sepanjang akhir pekan ini di kawasan Los Angeles.

Asal tahu saja, praktis tiket All-Star tidaklah dijual. Karena untuk undangan-undangan saja sudah hampir memenuhi Staples Center di downtown Los Angeles, yang kapasitasnya di kisaran 20 ribu orang. Menurut Winkle, acara ini terasa lebih “manusiawi” ketika diselenggarakan di stadion football di Dallas tahun lalu. Karena kapasitasnya lebih dari 100 ribu orang, maka masyarakat umum pun bisa membeli tiket dan datang menonton.

Karena tiket yang dijual ke publik sangat terbatas, harganya pun jadi gila-gilaan. Terakhir saya cek di secondary market (tangan kedua atau online), tiket termurah di barisan atas sudah mencapai USD 600 per lembar. Alias lebih dari Rp 5 juta per lembar!

Barisan-barisan terdepan, seperti yang disediakan NBA untuk rombongan DBL dan NBL Indonesia, harganya sudah melonjak hingga Rp 50 juta per lembar! Itu hanya untuk laga All-Star hari Minggu (20/2). Tidak termasuk Saturday Night dan lain-lain! Sebagai tamu VIP NBA, rombongan DBL dan NBL Indonesia dapat rangkaian program priceless dan unforgettable. Jumat lalu (18/2, Sabtu WIB), kami langsung menjalani program-program ekstra yang seru itu.

Di Staples Center, sebelum laga Rookie Challenge, kami diajak ikut sesi foto resmi eksklusif. Pose bareng tim rookie komplet, yang tahun ini dibintangi Blake Griffin (Los Angeles Clippers) dan John Wall (Washington Wizards). Difoto oleh fotografer resmi NBA, dan hasil jepretannya langsung diberikan tidak lama kemudian.

Kelompok rookie musim 2010-2011 ini akan sangat bersejarah. Blake Griffin punya potensi jadi salah satu bintang terbesar NBA. John Wall juga punya peluang jadi salah satu point guard terbaik di NBA. Ada pula DeMarcus Cousins, rookie Sacramento Kings yang punya potensi segudang. Begitu pula Derrick Favors dari New Jersey Nets.

Foto itu tidak akan saya biarkan hilang! Karena bisa jadi bagian dari sejarah penting NBA.Setelah sesi foto resmi, kami naik ke atas, ke San Manuel Club. Sebuah lounge VIP di Staples Center, dengan balkon menghadap ke lapangan utama. Di situ kami mengikuti Partner Welcome Reception. Menurut NBA, ini acara paling eksklusif untuk para undangannya selama NBA All-Star 2011.

“Ada 34 bintang yang hadir di acara ini. Kalian sudah bertemu dengan semuanya?” tanya Scott Levy, pimpinan utama NBA Asia, kepada kami di acara tersebut.Bintang-bintangnya memang luar biasa banyak. Mulai para All-Star, antara lain Deron Williams (Utah Jazz), Kevin Love (Minnesota Timberwolves), dan Al Horford (Atlanta Hawks). Bintang-bintang aktif lain seperti Tony Parker (San Antonio Spurs), Baron Davis (Los Angeles Clippers), Andre Iguodala (Philadelphia 76ers), serta para mantan bintang seperti Robert Horry, BJ Armstrong, Dominique Wilkins, Clyde Drexler, George Gervin, Brian Grant, dan lain-lain.

Bagi kami dari Indonesia, wajah familiar antara lain Sam Perkins, yang pernah hadir di launching NBL Indonesia di Jakarta pada Mei 2010. Juga Detlef Schrempf, yang ikut melatih bintang-bintang muda NBL Indonesia di Indonesia Development Camp 2010 di Bandung.Ada pula beberapa pelatih kondang: Lenny Wilkens, Del Harris, dan lain-lain. Plus bintang atau legenda liga perempuan WNBA, Lisa Leslie dan Marion Jones (mantan superstar atletik yang kini bermain di WNBA).

Tidak ketinggalan bos nomor satu NBA: Sang commissioner, David Stern.Di acara itu kami pun tak sempat kenyang makan, tapi kenyang foto-foto dan berburu tanda tangan. Pertandingan Rookie Challenge di lapangan pun jadi sama sekali tidak terperhatikan!

Buat saya, tanda tangan paling seru didapat dari Robert Horry. Untuk alasan yang sebenarnya cukup menyakitkan. Pada final wilayah barat 2002, Horry bermain untuk Los Angeles Lakers bersama Kobe Bryant dan Shaquille O”Neal. Melawan tim favorit saya, Sacramento Kings, yang waktu itu memiliki rekor terbaik NBA berkat kekompakan Mike Bibby, Chris Webber, Vlade Divac, dan lain-lain.

Pada detik-detik akhir menentukan, Horry memasukkan tembakan tiga angka yang membuat Kings kalah (dan kemudian gagal masuk final NBA).Tembakan itu “dibenci setengah mati” oleh seluruh penggemar Kings (dan pada 2002 itu termasuk di dalamnya kebanyakan penggemar kasual NBA). Tidak percaya” Google saja informasinya. Pada lembar All-Star yang Horry tandatangani, saya meminta dia untuk menuliskan kalimat “Sorry Kings fans.” Setelah tertawa, dia pun dengan senang hati menuliskannya”

Habis party di Staples Center, ada satu acara lagi yang diselenggarakan NBA dan terbuka untuk kami. Apa itu” Party lagi!Mulai pukul 20.00 Jumat malam itu, ada NBA All-Star Tip-Off Reception di salah satu ballroom terbesar di Hyatt Century Plaza. Pesta yang ini lebih mewah, dengan panggung, band komplet, dan makanan serta sarana penghibur lain.

Untuk para tamu VIP, NBA sudah menyiapkan sejumlah shuttle bus dari Staples Center menuju Hyatt Century Plaza (sekitar setengah jam perjalanan).Kami baru tiba di Hyatt Century Plaza sekitar pukul 21.30. Cukup lelah (dan masih jet lag karena baru dua hari tiba dari Indonesia), kami memutuskan balik ke hotel lebih dini. Apalagi saya juga harus menyelesaikan tulisan ini, dan berbagi tugas dengan Rocky Padila, kontributor Jawa Pos Group yang meliput langsung berbagai kegiatan di Staples Center.

Malam itu, saya pun terpaksa membatalkan satu lagi undangan party bersama sebuah asosiasi pemain legenda NBA, di hotel lain lagi di Los Angeles. NBA All-Star memang sebuah pesta yang gila-gilaan. Dan yang diceritakan panjang di tulisan ini baru menggambarkan secuilnya. Ikuti saja terus ulasannya” (bersambung)

Ceballos: Pippen Lebih Tangguh dari Jordan

13-Jun-2011

Cedric-Ceballos-P

Sepanjang karirnya, Cedric Ceballos bermain bersama atau menghadapi banyak bintang-bintang terbesar dalam sejarah NBA. Dia pun bisa menilai, siapa pemain paling hebat yang pernah satu lapangan dengannya. Yang mengejutkan, Michael Jordan tidak dia anggap sebagai lawan paling tangguh!

Misalnya pada 1993, saat membela Phoenix Suns. Waktu itu, dia bermain satu tim dengan nama-nama besar seperti Charles Barkley dan Kevin Johnson. Dan waktu itu, mereka sukses masuk final NBA, menghadapi… Chicago Bulls!

Ya, Chicago Bulls zaman Michael Jordan dan Scottie Pippen.

Waktu itu, Suns kalah. Waktu itu, Ceballos tak banyak bisa membantu, karena dilanda cedera. Menurut Ceballos, kalau waktu itu sehat, dia yakin Suns bisa juara. Bahkan menyapu Bulls saat final. “Kami selalu menjalani laga-laga seru melawan Chicago. Waktu itu, saya mencetak rata-rata 20-25 poin. Sangatlah sulit bertanding melawan pemain terbaik dalam sejarah (Jordan, Red),” koarnya lewat ESPN.

Ceballos menegaskan, Jordan orang yang sangat menakjubkan. Namun, dia merasa Jordan bukanlah lawan individu paling tangguh yang pernah dia hadapi di lapangan.

“Saya rasa Scottie (Pippen) lebih tangguh dari Michael. Sebab, Michael tidak akan mengganggu kita satu lapangan penuh. Scottie bakal bermain point guard, lalu mengawalmu di seluruh panjang dan lebar lapangan. Kita tahu di mana Jordan akan menggigit kita, dia cepat dan efektif. Tapi Scottie akan ada di seluruh wilayah lapangan,” tutur Ceballos.

Sebagai pemain yang “rajin” menerjang ring untuk melakukan slam dunk, Ceballos juga pernah “membentur” banyak center legendaris.

“Saya pernah merasakan bermain lawan Shaquille O’Neal, Kareem Abdul-Jabbar, Ha keem Olajuwon, dan Patrick Ewing. Meski saya hanya bermain sebentar lawan Kareem. Tapi soal yang terbaik, saya rasa Shaq. Ukuran badan, bobot badan, dan kekuatan. Dia hebat segalanya,” paparnya.

O’Neal sendiri baru saja mengumumkan pensiun dari NBA di usia 39 tahun. Usia center yang 15 kali masuk All-Star itu kini hanya sekitar dua tahun lebih muda dari Ceballos. (aza)

Warga Siap Pindah atau Mulai Cari Pekerjaan Lain

nblindonesia.com – 27/02/2011

Sacramento; Ketika Sebuah Kota Terancam Kehilangan Tim NBA (1)
20110226230708-OKE-20110226072250-KINGS-ArcoArenaGantiNama3

Seberapa besar dampak sebuah tim profesional bagi sebuah kota di Amerika? Sacramento, ibu kota California, kini sedang resah karena terancam kehilangan Kings, tim NBA kebanggaan masyarakatnya. Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang baru mengunjungi Sacramento.

Banyak yang bilang, punya tim olahraga profesional –apapun ca bangnya– bisa memberikan nilai tambah bagi sebuah kota. Di mana pun kota itu berada, di negara mana pun. Selain memberi nilai ekonomi, juga memberi nilai psikis karena memberi warganya kebanggaan, sekaligus membuat kota tersebut lebih dikenal secara nasional (atau internasional).

Paragraf di atas agak klise. Sebab, tidak mudah menghitung pasti dampak-dampak positif yang dihasilkan. Gampangnya: Pokoknya positif! Selama tim itu mampu meraih sukses dan kondisi keuangan baik (tim maupun kota), tidak ada yang perlu dipusingkan.

Sebaliknya, ketika tim itu terus kalahan, sementara ekonomi kota tidak lagi menggembirakan, gunung pun terancam meletus. Ketika kota –dan masyarakatnya– tidak bisa lagi mendukung penuh, tim lantas merugi.

Ketika tim sudah tidak bisa lagi meraih keindahan, mereka pun harus mencari jalan keluar. Kalau jalan keluar dengan kota tidak bisa lagi didapatkan, mereka pun mencari jalan di luar kota.

Situasi itulah yang kini sedang berlangsung di Sacramento, ibu kota negara bagian California. Mereka terancam kehilangan Kings, tim basket profesional yang tergabung di liga paling bergengsi dunia: National Basketball Association (NBA).

Ketika All-Star di Los Angeles, muncul omongan dari NBA bahwa Kings sedang bersiap pindah ke Anaheim (kawasan Los Angeles), begitu musim 2010-2011 ini berakhir.

Bagi kota lain, masalah seperti itu mungkin bukan masalah besar. Sebab, masih ada tim dari cabang lain yang bertahan. Namun, di Sacramento –yang kawasan metropolitannya berpenduduk sekitar 2,1 juta– ini masalah paling meresahkan. Mendominasi seluruh media setempat, mulai koran, online, radio, televisi, dan lain-lain.

Maklum bila begitu. Sacramento ini termasuk one-horse town. Hanya punya satu andalan: Kings. Tidak ada lagi tim profesional lain. Kalau tak ada Kings, ya tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.

Dan kota ini benar-benar kota basket. Buktinya: Yang terpilih sebagai wali kota sangatlah ”basket.” Wali kotanya adalah Kevin Johnson, ”produk lokal” yang pada era 1990-an menjadi salah satu bintang terbesar NBA bersama tim Phoenix Suns.

Bayangkan: Kota yang suka basket, dengan wali kota mantan bintang basket dunia, kehilangan tim basket profesionalnya. Pantas bila situasi jadi resah dan heboh!

Mampir ke Markas Kings

Terus terang, catatan ini termasuk bersifat pribadi. Setelah menonton even NBA All-Star 2011 di Los Angeles, 18–20 Februari lalu, saya menyempatkan diri ”pulang” ke Sacramento, sekitar enam jam naik mobil ke arah utara.

”Pulang,” karena saya dulu tinggal lebih dari lima tahun di Sacramento. Sampai menyelesaikan kuliah di California State University Sacramento di pengujung 1999. Jadi, mumpung sudah jauh, menyempatkan diri dulu bertemu dengan teman-teman lama sebelum balik ke Indonesia.

Ternyata, kehebohan Kings itu yang menyambut. Semua orang membicarakannya.

Tinggal lama di Sac, tentu saya jadi penggemar Sacramento Kings. Sejak masih zaman susah di pertengahan 1990-an (dengan bintang utama Mitch Richmond), lalu zaman jaya di awal 2000-an (Chris Webber dkk), lalu sampai zaman susah lagi beberapa tahun terakhir.

Salah seorang teman baik saya (anak Indonesia) dulu pernah tinggal dengan host family yang bekerja di Arco Arena. Jadi sering banget dapat tiket gratis nonton. Sebagai kenangan tambahan, saya dulu juga wisuda di Arco Arena.

Ketika dalam beberapa tahun terakhir banyak bekerja bersama NBA (sebagai commissioner liga basket pelajar, DBL alias Development Basketball League, dan liga profesional NBL alias National Basketball League Indonesia), channel ke Kings menjadi semakin besar.

Tahu ada kabar Kings bakal pindah, tentu saya jadi ingin berkunjung lagi ke teman-teman yang bekerja di Kings. Bersama Masany Audri, general manager DBL Indonesia, Rabu pagi lalu (23/2) kami mampir ke Arco Arena, yang terletak di kawasan Natomas, di utara Sacramento.

Mumpung sedang tidak ada pertandingan, kami bisa berjam-jam ngobrol dan diberi tur fasilitas yang dibangun pada 1988 tersebut. Termasuk masuk ke dalam locker room (ruang ganti) Kings yang supermewah. Dilengkapi sauna, ruang trainer (pengobatan dan massage), layar-layar televisi besar, serta berbagai fasilitas lain.

Kunjungan ini memberi lebih banyak gambaran tentang situasi yang dihadapi Kings sekarang. Mulai benar atau tidak bakal pindah, sampai status gedung basket yang sudah dianggap ”kuno” oleh NBA tersebut.

Karyawan Resah

Kabar Kings bakal pindah sebenarnya bukan cerita baru. Bertahun-tahun lamanya gosip sudah beredar, tim ini akan pindah ke kota lain. Namun, selama ini, tidak pernah menjadi kenyataan. Selama ini pula, karyawan di Kings tidak terlalu pusing tentang segala gosip tersebut.

Kali ini agak beda. Gosip yang bilang Kings bakal pindah ke Anaheim membuat sejumlah karyawan resah.

Salah seorang teman saya yang bekerja di Maloof Sports and Entertainment (perusahaan yang mendapat lisensi mengelola Kings dari NBA) mengaku sudah siap-siap andai tim tersebut benar-benar pindah.

”Dulu, ketika gosip seperti ini beredar, manajemen selalu memberi penjelasan atau penegasan. Saat ini, tidak ada satu pun yang bicara memberi penjelasan. Karena itu, kami jadi lebih khawatir,” kata teman saya tersebut, yang sudah tujuh tahun ngantor di Arco Arena.

Teman saya itu mengaku siap saja bila harus pindah ke Anaheim. Dia berharap istrinya mau pengertian. ”Tapi terus terang, saya juga sudah mulai cari-cari pekerjaan lain,” akunya.

Tentu saja, teman saya –dan kebanyakan warga Sacramento– tidak ingin Kings pindah. Mereka berharap, segala masalah teratasi. Khususnya soal status gedung, yang menjadi pemicu utama segala masalah yang berbuntut terancam pindahnya tim. (bersambung)

Kasihan, di Tribun pun sang Istri Diserbu

16-Oct-2010

Berburu Yao Ming di Tengah NBA China Games 2010 di Beijing (2-Habis)

aza-yaoming

Tidak enak juga jadi Yao Ming, juga jadi istri Yao Ming, di Tiongkok. Sedikit saja kelihatan, langsung jadi sasaran ’’serbuan’’ orang. Berikut catatan AZRUL ANANDA yang baru kembali dari Beijing.

DATANG sebagai penggemar di NBA China Games 2010 sebenarnya cukup mem buahkan hasil. Dalam acara resep si VIP di Hotel Westin Beijing, Se lasa ma lam lalu (12/10), saya dan teman-te man National Basketball League (NBL) Indonesia sudah mendapatkan banyak kenang-kenangan un tuk dibawa pulang.

Hampir semua kaus, jersey, bola, dan foto yang kami bawa dibubuhi tan da tangan oleh orang-orang yang di kejar. Ada jersey New Jersey Nets nomor 34 yang diteken bintang klub itu, Devin Harris. Ada kaus yang di tan datangani bintang muda klub ter sebut, Brook Lopez. Ada pula yang di teken Jordan Farmar serta be berapa pe main Rockets seperti Shane Battier.

Tidak ketinggalan foto bareng dan tanda tangan para legenda seperti Clyde ’’The Glide’’ Drexler, Darryl Dawkins, dan Sam Perkins. Dan of course, berbincang bersama Commissioner NBA David Stern.

Sayang, target utama malam itu, bintang Houston Rockets Yao Ming dan Kevin Martin, tidak bisa didapati. Baik foto maupun tanda tangannya.

Hanya seorang di antara kami yang sempat ’’cepet-cepetan’’ dapat tanda tangan Yao Ming. Bagaimana tidak, baru 15 menit turun panggung, mereka langsung ’’melarikan diri’’ karena jadi target ’’serbuan’’ begitu banyak undangan acara.

Padahal, saat masih di balik panggung, Kevin Martin sempat memberikan kode tangan kepada kami untuk bertemu di ruang acara. Martin yang ramah itu memang familier dengan Indonesia karena Agustus 2009 lalu datang di DBL Arena Surabaya, melatih pemain- pemain muda liga pelajar terbesar, Honda Development Basketball League (DBL).

Begitu tahu para bintang Rockets cabut dari lokasi acara, saya sempat pusing juga. Sebab, kami datang dengan niat untuk bertemu Yao Ming dan bertemu ’’teman lama’’ Kevin Martin. Teman- teman NBA pun ikut bingung karena merasa tidak enak kami gagal bertemu Yao Ming.

Tidak lama kemudian, datang seorang direktur keamanan NBA China asal Australia, yang kami kenal baik karena sudah beberapa kali ke Indonesia. Dia bilang membawa pesan dari Kevin Martin. ’’Dia (Kevin, Red) mintamaafharuscepat pergi bersama yang lain. Dia meminta kamu untuk menelepon dia ke nomor ini. Janjian ketemuan di tempat lain,’’ katanya.

Teman-teman NBA juga mengupayakan agar rombongan kami tetap bisa bertemu Yao Ming dan pemain lain. Dirancanglah pertemuan di hotel tempat para pemain Rockets menginap. Di Ritz-Carlton Beijing, keesokan paginya. Ketemuan dengan Kevin Martin juga di situ.

Sebelum pulang ke hotel, temanteman sempat foto-foto dulu dengan ’’bintang-bintang yang tersisa’’ di tempat acara. Juga dengan para dancer dari New Jersey Nets dan Houston Rockets yang ikut hadir dalam resepsi malam itu.

***

Rabu pagi (13/10), kami mendapat pesan SMS dari rekan-rekan di NBA. Mereka bilang agar bersiap di Ritz-Carlton pagi pukul 09.00- an. Sebab, para pemain akan meninggalkan hotel pukul 10.00- an, menuju tempat latihan pagi.

Kesempatan bertemu pemain Rockets memang tinggal pagi itu. Setelah latihan, para pemain kembali ke hotel dan istirahat. Sebab, sorenya harus ke Wukesong Arena, menjalani pertandingan pertama melawan Nets.

Bagi kami, kesempatan memang tinggal pagi itu. Sebab, kami memang berencana langsung pulang ke Indonesia Rabu tengah malam itu, setelah pertandingan berakhir di Wukesong Arena. Ingin ketemu Yao Ming langsung, saat itulah waktunya!

Kami tiba di Ritz-Carlton pukul 09.15. Langsung nongkrong di lobi, pesan kopi, dan menunggu rekanrekan NBA yang akan mempertemukan kami dengan Yao Ming. Ternyata, rekan kami itu masih rapat koordinasi di atas. Jadi, kami diminta menunggu.

Tidak lama, tak sampai sepuluh menit, tiba-tiba ada orang tinggi banget turun ke lobi. Yao Ming! Dia sedang mengurus sesuatu di meja resepsi hotel. Tidak ingin mengganggu, saya telepon dulu rekan NBA saya di atas. ’’Boleh nggak nyerobot langsung minta foto sama Yao Ming? Daripada menunggu nanti,’’ tanya saya.

Setelah dia bilang aman, kami pun mendekati sang raksasa 226 cm tersebut. Kami bilang datang dari Indonesia, dan dia mau berfoto dengan kami. Sip! Target utama foto sama Yao Ming tercapai! Basa-basi dikit, Yao Ming pun kembali ke lift untuk naik lagi ke kamarnya.

Tidak lama kemudian, rekan NBA saya itu turun. Dia pun mencarikan Kevin Martin, untuk memberi tahu tempat kami berada. Belum lama, Martin datang. ’’How are you Azrul?’’ sapa dia. ’’Maaf, tadi malam kami benarbenar harus pergi,’’ tambahnya. Setelah saya perkenalkan dengan rekan-rekan NBL Indonesia, Martin dengan santai memenuhi semua permintaan foto dan tanda tangan kami.

Lalu, saya menunjukkan foto putri kedua saya, yang saya beri nama Alesi Maxine Ananda. ’’Alesi’’ itu dari nama pembalap Formula 1 Jean Alesi, sedangkan ’’Maxine’’ dari nama nenek Kevin Martin yang pada 2009 lalu ikut datang ke Surabaya. Sang nenek (kini 76 tahun) memang begitu baik. Jadi, ketikaputrisaya lahirtidaklama kemudian, namanya saya gunakan.

Martin tertawa melihat foto Alesi Maxine. Dia mengingatkan saya pada isi e-mail lama ketika dia memberi tahu sang nenek tentang nama itu. ’’Nenek saya menangis terharu, seperti biasa,’’ katanya.

Kami janjian ketemu lagi di Amerika, di salah satu pertandingan Rockets, November mendatang. ’’Kalau sampai, telepon saya,’’ ucapnya.

Tidak lama, Yao Ming turun lagi. Kaliinidenganpengawalanpetugas keamanan hotel. Jangankan mau foto, mendekat saja dilarang.

Usut punya usut, Yao Ming memang diberi proteksi khusus oleh Houston Rockets. Mereka tahu, Yao bakal jadi incaran semua orang selama NBA China Games 2010. Jangankan penggemar, akses media pun sangat dibatasi (dan waktu itu saya tidak datang sebagai peliput, murni sebagai penggemar yang ikut undangan VIP NBA).

’’Traveling itu berat. Perhatian besar itu berat. Satu-satunya yang saya tak sabar jalani adalah bertanding di Wukesong Arena lagi. Itu akan memberi saya kenangan indah lagi seperti ketika dua tahun lalu (di Olimpiade Beijing, Red),’’ kata Yao Ming seperti dilansir Houston Chronicles sebelum ke Beijing.

***

Houston Rockets mungkin harus bergantinama menjadiChinaRockets. Sebab, basis penggemar mereka di Tiongkok mungkin jauh lebih banyak daripada di Kota Houston, negara bagian Texas. Kota itu punya penduduk ’’hanya’’ 2,3 juta orang. Tiongkok lebih dari satu miliar.

Gara-gara Yao Ming, hampir semua pertandingan Rockets ditayangkan di Tiongkok. Garagara Yao Ming, para pemain Rockets yang lain pun dapat ’’duit manis’’ dari Tiongkok.

Selama bertahun-tahun, sangat banyak rekan Yao Ming di Rockets yang disponsori merek sepatu Tiongkok. Misalnya, Li- Ning, Peak, dan Anta. Shane Battier, bintang iklan Peak, sangatlah ngetop di Tiongkok. Luis Scola, bintang iklan Anta, juga superpopuler di sana. Bahkan, pemain rookie (pendatang baru) Rockets tahun ini, Patrick Patterson, langsung dapat kontrak sepatu Tiongkok (Peak).

Karena itu, saat bertanding di Wukesong Arena Rabu malam lalu (13/10), Rockets seperti bermain di kandang sendiri.

Saat para pemain New Jersey Nets diperkenalkan, hanya satu atau dua yang dapat sorakan penonton (kapasitas 17 ribu hampir penuh). Pemain Rockets? Semua disoraki. Khususnya Battier dan –tentu saja– Yao Ming.

Total, Yao Ming hanya bermain 19 menit malam itu (dari total kemungkinan 48 menit). Karena baru pulih dari cedera kaki, Rockets memang membatasi menit bermain sang raksasa tersebut. Tapi, itu sudah cukup untuk menyenangkan para penonton. Apalagi, pada menit-menit awal, Yao Ming sempat melakukan slam dunk yang membuat para penonton berdiri. Rockets sendiri akhirnya menang 91-81, dan Yao Ming mencetak sembilan poin. Kevin Martin mencetak 18 poin, terbanyak untuk Rockets.

Terus terang, kami tidak menonton penuh pertandingan itu. Sebagian besar harus cabut setelah half-time karena harusmengejarpesawatkembali ke Indonesia (satu jam lebih dari Wukesong ke bandara).

Tapi, kami dapat tempat nonton yang cukup asyik. NBA memberi kami tempat di blok 101, bersama tamu VIP lain dan para istri atau keluarga pemain.

Sebelum pertandingan dimulai, kami sempat heran dengan banyaknya penonton lain yang tiba-tiba menyerbu blok tempat kami duduk. Semua menuju ke seorang perempuan Tiongkok yang badannya agak tinggi. Orang-orang itu mencoba fotofoto, mencoba menyalami, atau bahkan minta tanda tangan. Semua ditolak dengan halus.

Usut punya usut, perempuan itu adalah Ye Li, istri Yao Ming (mereka menikah tahun lalu). Kasihan benar dia, meski sudah duduk, orang terus mendatanginya untuk foto dan tanda tangan. Apalagi, dia duduk di kursi pinggir, dengan jalur jalan kecil (kira-kira tepat tiga baris di depan saya).

Rupanya, para istri pemain Rockets lain kasihan melihat Ye Li. Mereka pun mendatangi Ye Li, mengajaknya untuk tukar tempat duduk. Dengan demikian, Ye Li bisa duduk dibangku tengah-tengah, menyulitkan orang lain untuk mendekat dan mengganggunya.

Di Tiongkok, Yao Ming memang begitu dipuja. Istrinya pun tidak bisa lagi mendapatkan kebebasan dan ketenangan…

NBA China Games 2010 berlanjut ke Guangzhou, di sebuah arena baru yang megah. Sabtu hari ini (16/10), Rockets dan Nets kembali bertanding di sana. Setelah itu, mereka langsung kembali ke Amerika Serikat, bersiap menghadapi musim reguler NBA 2010-2011.

Kami pun langsung sibuk begitu tiba di Indonesia. Sebab, Sabtu sore ini juga, musim reguler NBL Indonesia 2010-2011 dimulai di DBL Arena Surabaya. (habis)

Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (3/3-Habis)

April 10, 2010 

Jadi Tamu VIP di Sacramento.
Bayar kursi paling mahal saat nonton NBA memang dapat banyak fasilitas. Tapi, juga harus mengikuti aturan paling banyak. Berikut catatan terakhir Azrul Ananda, wakil direktur Jawa Pos, yang baru kembali dari Amerika Serikat.

aza-kings-besar

Sebagai penggemar Sacramento Kings sejak pertengahan 1990-an, pengalaman nonton saya di Arco Arena seperti berkarir. Dulu waktu kuliah tidak punya banyak duit, jadi beberapa kali nonton paling murah. Bayar USD 8, dapat tiket berdiri di belakang kursi paling atas.

Sabtu pekan lalu (3/4), sebagai tamu VIP Sacramento Kings, akhirnya saya mendapatkan kesempatan duduk di kursi impian. Baris paling depan menonton Kings melawan Portland Trail Blazers.

Sewaktu tur ’’di balik layar’’ Arco Arena Sabtu siang itu, Scott Freshour, stage manager sekaligus MC pertandingan Kings, bilang bahwa pihaknya sudah menyiapkan kursi istimewa. Sewaktu berjalan di lapangan, dia menunjuk tempat di pojok lapangan, tempat saya akan duduk.

Di sana, ada pojok khusus yang diberi nama Carl’s Jr. Corner (Carl’s Jr. adalah sponsor, jaringan makanan cepat saji ala McDonald’s). Lokasi itu agak beda dengan kebanyakancourtside seat (tempat duduk di sisi lapangan). Kalau tempat lain itu tempat duduk biasa yang empuk dan berbalut ku lit, di tempat saya itu bentuknya sofa yang bisa berputar.

Sudah tempatnya di baris paling depan, duduknya di sofa lagi! Saya tidak enak mau tanya harga. Tapi, karena penasaran, sebelum pulang, saya mampir dulu ke ticket box Arco Arena. Jawabannya: USD 960 per kursi, atau hampir Rp 9 juta. Itu harga resmi. Kalau lagi heboh, bisa lebih tinggi (di kota lain yang lebih besar, bisa jauh lebih mahal).

***

Pertandingan malam itu dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.00. Saya dan keluarga diminta datang sejak pukul 17.30. Datang masuk lewat pintu VIP di salah satu sudut Arco Arena.

Sebagai pemegang tiket khusus, ada banyak fasilitas yang didapat. Ketika datang, langsung diantar menuju ruang makan VIP. Pilihan makanan tidak terlalu banyak, tapi tempatnya dikemas bak restoran mahal. Ada beberapa televisi pula untuk menonton pertandingan-pertandingan basket lain. Kebetulan, hari itu juga berlangsung Final Four NCAA, liga basket mahasiswa yang superheboh di AS.

Sekitar pukul 18.30, kami dipandu menuju sofa di pojok lapangan. Oleh Tom Vannucci, direktur kreatif departemen entertainment Kings, saya lantas diajak naik ke atas. Dia ingin menunjukkan kepada saya opening ceremony pertandingan dari atas, dari booth panitia yang mengatur segala lighting dan tampilan di layar lebar. Lumayan, bisa belajar lagi hal-hal di
balik layar pertandingan NBA!

Malam itu, Kings memang punya ceremony agak spesial. Kain putih raksasa dihamparkan menutupi lapangan. Lalu, dari atas ’’ditembakkan’’ video-video dan desain-desain atraktif Kings. Ketika nama pemain Kings dipanggil satu per satu, wajah mereka muncul bergantian di kain tersebut. Kata Vannucci, dia memakai kain sutra Tiongkok.

Setelah itu, saya diajak kembali ke sofa di pojok. Dan dipersilakan menikmati pertandingan seutuhnya.

Dasar orangnya suka penasaran, saya malah tidak menonton pertandingan. Malah asyik lihat kanan-kiri dan mengamati segala sesuatu yang terjadi di pinggir lapangan.

Dari sofa terdepan, aksi NBA memang terlihat lebih ’’besar’’. Pemain-pemain NBA terlihat ukuran aslinya. Tyreke Evans, point guard bintang Kings, selama ini hanya saya lihat lewat foto. Ternyata, dia memang besar untuk ukuran playmaker. Terlihat jelas kalau 198 cm dan tebal.

Fasilitas seru lain juga didapatkan di baris terdepan. Ada waiter yang selalu siap dipanggil, kalau kita haus atau ingin makan. Bukan hanya makanan dan minuman, pesan merchandisepun bisa dari mereka. Tidak perlu jalan ke arah stan-stan merchandise yang tersedia di sekeliling arena. Dia membawa kasir portable, jadi kita juga bisa membayar dengan kartu kredit di tempat itu juga.

Hanya, duduk di baris terdepan ternyata juga paling banyak aturannya. Selama menonton, kami sama sekali tidak boleh berdiri. Karena mengganggu yang menonton di belakang. Ketika mau keluar masuk, tidak sebebas penonton di kursi-kursi standar. Hanya bisa keluar masuk ketika ada stoppage di lapangan. Misalnya, saat time out atau hal-hal lain yang menghentikan aksi di lapangan.

Di baris paling depan itu, memang ada usher (pemandu) yang aktif dan cenderung galak. Mengingatkan kita untuk duduk, untuk tidak mengganggu penonton lain di belakang.

Mereka membawa sebuah ’’lollipop’’, ala yang dipakai petugas pit stop tim Formula 1, yang rajin mereka tunjukkan ke penonton yang sedang berlalu-lalang. Tulisannya berbunyi:’’Please wait here for a stoppage in play. THANK YOU’’ (Silakan tunggu di sini sampai ada perhentian dalam pertandingan. Terima kasih).

Lucunya, penonton courtside yang ingin kembali ke kursinya, selain diminta menunggustoppage di lapangan, juga diminta para usher itu untuk berjongkok di lorong-lorong di sela-sela kursi. Sebab, kalau berdiri, mereka akan membuat banyak orang di belakang marah.

Lucu kan? Sudah bayar paling mahal, harus mau berjongkok-jongkok ria sebelum duduk kembali di kursi mahalnya!

Sejumlah petugas keamanan juga aktif mengawal baris terdepan itu. Mereka punya kursi-kursi kecil tepat di belakang kursi courtside. Kalau sedang pertandingan, mereka duduk rapi menghadap ke lorong di sela-sela kursi tribun. Kalau sedang stoppage, mereka langsung berdiri mengamankan kursi-kursi terdepan itu.

Duduk di sofa paling depan juga mengasyikkan, karena bikin penonton lain penasaran. ’’Bagai mana kamu bisa dapat tempat duduk di sini?’’ tanya beberapa orang yang berjalan lewat di de pan saya.’’Beruntung,’’ jawab saya selalu.

***

Sebelum pertandingan, Maurice Brazelton, ’’sutradara’’ acara saat laga berlangsung, hendak memberi saya rundown acara yang harus saya ikuti. Saya sempat bengong. Buat apa saya ikut jadwal program? Belum sempat dia menunjukkan, Scott Freshour langsung menghalangi. “Biarkan itu nanti jadi kejutan,’’ ucapnya.

Wah, saya sempat bingung juga. Bakal disuruh apa ketika pertandingan nanti? Jangan-jangan disuruh jadi penonton yang ikut ’’kontes menari’’ di tengah lapangan.

Saat pertandingan berlangsung, dan Freshour melintas di depan saya, dia selalu menolehkan kepala dan menunjukkan senyum iseng. Saya pun bilang, ’’Apa pun yang akan kamu lakukan, pokoknya saya tidak mau menari,’’ kata saya. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Untung, saya tak harus menari. Rupanya, Freshour sudah menyiapkan agar saya dan keluarga nampang di layar empat sisi yang menggantung di atas lapangan.

Saat salah satu sesi MC-nya, dia berlari ke pojok lapangan tempat saya duduk, lalu mengajak semua penonton bersorak. Dia lantas mengarahkan rekannya untuk mengarahkan kamera ke arah kami, dan meminta kami untuk bersorak-sorak dan menunjukkan dukungan kepada Kings untuk ditampilkan di layar empat
sisi tersebut.

Kalau ini sih nggak apa-apa. Saya dan semua penonton di sekitar pun tinggal bertingkah gila saja dan meneriakkan kata-kata dukungan seperti ’’Go Kings!’’ Silakan bilang saya norak. Tapi, rasanya senang juga wajah bisa terpampang di layar besar. Kata Freshour, tayangan itu mungkin juga nongol di siaran langsung pertandingan.

***

Sebelum pertandingan, saya sebenarnya sempat berencana dipertemukan dengan Tyreke Evans, bintang utama Kings saat ini. Hanya, Evans sempat menetapkan kondisi. Kalau Kings menang, dia mau bertemu. Kalau kalah, dia tak ingin bertemu siapa-siapa.

Malam itu pun tidak berakhir terlalu indah. Kings kalah 87-98. Sebenarnya, malam itu Kings juga tidak dijagokan menang. Trail Blazers merupakan tim pa pan atas, bersiap menuju babak playoff. Tim itu juga calon dinasti masa depan.

Karena Kings kalah, keinginan bertemu Evans pun tertunda dulu. Karena keesokannya (Minggu pa gi, 4/4) saya sudah harus kembali ke San Francisco untuk terbang pulang ke Indonesia, akhir pekan lalu benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk bertemu Evans.

Tapi, tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Hubungan yang baik bukanlah untuk sesaat. Kapan saja saya dan teman-teman DBL Indonesia (penyelenggara Development Basketball League 2010 dan Indonesian Basketball League) datang, teman-teman di Kings selalu siap menjamu. Dan sebagai balasan, saya bilang kami di Indonesia siap menerima kapan saja tim Kings ingin berkunjung.

Kabar baik lain: Meski tidak bisa bertemu, jersey bertanda tangan Evans akan dikirimkan via pos ke Indonesia.

Terima kasih Maloof Sports & Entertainment sebagai pemilik Sacramento Kings. Sampai jumpa lagi di kesempatan yang berikutnya!

(habis)

sumber : http://www.jpnn.com

Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (2/3)

April 9, 2010

Masuk Ruang Ganti Dancer, Jalan di Langit-Langit Gedung

Semusim, satu tim NBA harus menggelar 41 pertandingan di kandang sendiri. Dan setiap laga itu harus dikemas bak sirkus besar. Berikut catatan lanjutan Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DBL Azrul Ananda.

nba_king-besar

Sebuah tim NBA merupakan perusahaan sports & entertainment bernilai ratusan juta dolar Amerika Serikat. Untuk gaji pemain saja (total sekitar 15 orang), semusim mencapai kisaran USD 60 juta (Rp 560 miliar).

Sacramento Kings bukanlah tim besar untuk ukuran NBA. Namun, tim itu tetap punya standar tinggi (termasuk paling tinggi) karena punya pemilik yang memang aktif di duniaentertainment. Keluarga Maloof, yang juga pemilik kasino Palms di Las Vegas, memang punya visi untuk menjadikan Kings sebagai tim elit meski berada di kota ukuran sedang.

Karena itu, salah satu departemen terpenting adalah departemen kreatif dan entertainment, di bawah komando Tom Vannucci dan Maurice Brazelton. Mereka bukan hanya menyiapkan kemasan pertandingan yang atraktif untuk penonton, juga me-manage dance team dan maskot tim. Sekaligus membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan promosi tim, termasuk yang melibatkan para pemain.

Vannucci baru dua tahun bekerja untuk Kings. Dia tidak punya background basket. Latar belakangnya benar-benar entertainment, dulu pernah bekerja untuk Universal. Karena itulah, untuk operasional departemen, dia dapat bantuan dari Maurice Brazelton, yang punyabackground basket sebagai pemain, pelatih, plus pernah menjadi wasit NCAA (liga universitas di AS).

’’Tanpa entertainment, pertandingan akan berlangsung hambar. Misi kami adalah memberikan sesuatu yang membuat para penonton sangat berkesan,’’ kata Vannucci.

Untuk itu semua, butuh lebih dari 1.000 orang guna mengelola tim dan menyelenggarakan 41 pertandingan kandang dan lain-lain. Jumlah keseluruhan, Kings memiliki sekitar 120 karyawan tetap, plus sekitar 900 pekerja part time.

***

Sabtu akhir pekan lalu (3/4), siang hari sebelum pertandingan Kings melawan Portland Trail Blazers, saya pun mendapat akses khusus ke berbagai sudut Arco Arena, kandang Kings di Sacramento. Saya diajak menengok kantor-kantor kerja Kings, ruang-ruang ganti, bahkan akses ke tempat-tempat yang tidak banyak diketahui orang. Termasuk berjalan di atas ’’catwalk’’ yang menggantung di atas lapangan, tepat di bawah atap bangunan.

Terus terang, Arco Arena bukanlah gedung mewah untuk ukuran NBA. Usianya sudah 25 tahun dan belakangan banyak menjadi omongan untuk dihancurkan agar Kings bisa berpindah ke arena yang lebih modern. Tapi, bagaimana juga, Arco Arena tetap punya standar NBA dan itu jauh dari segala standar yang ada di Indonesia.

Saya juga punya kesan mendalam dengan gedung tersebut. Pada Desember 1999, di arena itulah saya menjalani wisuda, lulus kuliah dari California State University Sacramento.

Scott Freshour menjadi pemandu saya siang itu. Orangnya sangat ramah dan energik, jelas cocok untuk pekerjaan di departemen entertainment dan menjadi MC pertandingan.

Freshour mengatakan sudah kerja di Kings hampir enam tahun. Saat kuliah di kampus yang sama dengan saya, dia sudah magang di situ. Setelah itu, dia langsung diterima bekerja dan tak pernah memikirkan untuk bekerja di tempat lain. ’’Ini pekerjaan yang cool,” katanya.

Pertama-tama, saya diajak masuk kantor-kantor kerja. Bagian paling depan, dekat pintu masuk dan keluar, adalah kantor human resource department. ’’Kalau ada yang dipecat, di sini mereka dipanggil. Ha ha ha,’’ canda Freshour.

Dari sana saya langsung diajak ke lapangan utama. Kebetulan siang itu seluruh lapangan basket selesai dipasang. Para personel tim tinggal merapikan perlengkapan-perlengkapan pertandingan, seperti perangkat komputer di meja-meja, kabel-kabel, serta mengecek segala sistem pendukung pertandingan (seperti lighting dan sound system).

Karena Arco Arena adalah gedung serbaguna (kadang dipakai balapan motocross juga), lapangan memang harus bisa dibongkar pasang. ’’Lapangan ini terdiri atas sekitar 40 panel. Seperti puzzle. Butuh enam sampai tujuh jam untuk pemasangannya,’’ jelas Freshour.

Dari sana saya diajak masuk ke ruang-ruang ganti. Yang pertama, ruang ganti para personeldance team yang seksi-seksi. ’’Halo, ada orang di dalam?’’ teriak Freshour ketika akan membuka pintu masuk.

Aman, tidak ada orang, maka kami pun ke dalam. Ruang ganti itu cukup fungsional. Ada sekitar 15 bilik, satu untuk setiap personel. Ada meja di tengah untuk ’’rapat’’, ada ruang terpisah lagi untuk menyimpan berbagai perlengkapan.

Dari sana kami ke ruang ganti tim lawan. Kebetulan, ruang ganti Kings sedang dipakai. Jadi, kami tak bisa masuk. Ruang ganti Trail Blazers itu masih kosong karena tim akan datang sorenya. Tapi, berbagai jersey dan sepatu pemain sudah tertata rapi di setiap bilik pemain. Tinggal datang, ganti baju, lalu main.

Dari situ ke ruang wasit. Ketika masuk, saya langsung tertawa. ’’Ternyata di seluruh dunia wasit memang paling dianaktirikan. Ruangannya selalu paling sederhana dan paling kecil,’’ ucap saya kepada Freshour, dibalas dengan tawa.

Saking kecilnya ruang itu, ruang ganti untuk wasit di DBL Arena Surabaya ternyata lebih besar. Sama-sama punya cermin besar, tapi yang di Surabaya sudah dilengkapi kamar mandi dan toilet.

Bedanya, di ruang wasit Arco Arena ada televisi, timer, dan komputer. ’’Gunanya untuk evaluasi pertandingan sehingga wasit bisa langsung mengirimkan laporan ke NBA setelah pertandingan,’’ jelas Freshour.

Ruang paling kocak adalah milik Slamson, sang maskot. Entah karena maskot itu berupa singa atau apa, ruang kerja/gantinya benar-benar dibuat seperti kandang. Bukan ruangan berdinding, melainkan salah satu sudut Arco Arena di bawah tribun, dibatasi dengan terali-terali yang dilapisi kain.

Di dalamnya pun berantakan seperti kandang binatang yang tertutup! Bedanya, singa yang satu ini bekerja untuk tim NBA. Jadi, ada komputer lengkap di situ. ’’Sayang, orang yang bekerja sebagai Slamson sedang keluar. Kalau ada, ingin saya kenalkan. Orangnya seru!’’ kata Freshour.

Kami pun melewati berbagai gudang penyimpanan barang-barang kebutuhan pertandingan Kings. Di salah satu jalur akses masuk gedung yang besar ada sebuah trailer besar dengan berbagai kabel. Di dalamnya ternyata ada dua ruangan serta puluhan monitor dan perlengkapan lain. Rupanya, itulah trailer tim siaran langsung. Pakai trailer karena bisa pindah-pindah tempat.

Lalu, kami mengunjungi ruang-ruang kerja tim entertainment. Vannucci punya ruangan sendiri, dihiasi gambar-gambar penonton atau personel dance team. Brazelton dan Freshour punya bilik kerja di depan ruangan itu.

Yang ruangannya paling seru adalah tim video production Kings. Besar dengan puluhan monitor dan perlengkapan. Merekalah yang memproduksi video-video seru untuk promosi tim dan untuk ditampilkan di monitor empat sisi yang menggantung di tengah arena. Sekaligus membuat berbagai keperluan grafis untuk mendukung video-video tersebut.

Saat keliling-keliling, baik dipandu Freshour maupun Vannucci, kami sering harus bolak-balik karena salah arah. Empat sisi Arco Arena memang terlihat sama, dengan empat pintu yang berdesain mirip, hanya beda nama dan nomor.

’’Meski sudah dua tahun bekerja di sini, sekarang pun saya masih harus jalan terus keliling untuk menemukan tempat yang ingin saya tuju,’’ ungkap Vannucci.

Sebuah tim NBA memang seperti tim produksi besar!

***

Dari kunjungan ’’di balik layar’’ ini, yang paling seru mungkin ketika saya diajak Freshour jalan-jalan di langit-langit Arco Arena. Di atas itu segala perlengkapan lighting dan pertunjukan terpasang. Dari atas pula, banyak hal pendukung acara seru dimulai.

Misalnya, dari atas itu panitia sering melemparkan balon-balon atau hadiah-hadiah ke bawah, ke arah tribun. Dari atas itu juga beberapa pengisi acara –seperti maskot– turun menggunakan tali dan mengundang tepuk tangan heboh penonton.

Untuk menuju ke atas, kami harus melewati lift barang khusus. Pencet lantai lima dan kita pun berada di tempat yang sangat jarang dilalui orang. Freshour bilang, dirinya sebenarnya agak enggan ke lantai atas, lalu jalan-jalan tepat di atas lapangan, tepat di bawah atap gedung. ’’Terus terang saya takut ketinggian. Tapi, demi kamu, hari ini saya naik. Ha ha ha,’’ ucapnya.

Kami berjalan pelan-pelan di jalur-jalur besi yang berlubang-lubang. Bayangkan, sambil berjalan, di bawah kaki kita kita bisa melihat tembus sampai ke dasar gedung! Lumayan serem. Tapi, kalau kita terus fokus melihat ke depan, harusnya tidak masalah.

Dari atas, pemandangan memang seru. Bisa melihat lurus ke bawah, ke arah logo Kings tepat di tengah lapangan. Kebetulan, waktu itu ada banyak anak kecil bermain basket di lapangan.

Kok boleh? Kata Scott Freshour, itu salah satu bagian dari cara mereka menjual lebih banyak tiket pada masa krisis ekonomi ini. ’’Saya tidak hafal detailnya. Tapi, kalau tidak salah, kalau ada grup yang membeli tiket dengan jumlah banyak, mereka boleh main-main di lapangan siang hari sebelum pertandingan resmi,’’ jawabnya.

Situasi ekonomi di Amerika, sudah bukan rahasia lagi, memang sedang tidak nyaman. Kawasan Sacramento termasuk yang kena dampak besar. Tim-tim NBA saat ini benar-benar harus menguras otak untuk menarik lebih banyak penonton.

Sebentar foto-foto di atas, kami pun kembali turun. Sorenya saya diminta kembali pukul 17.30, meski pertandingan sebenarnya baru dimulai pukul 19.00. Kata Freshour, kalau datang dini, ada banyak fasilitas VIP yang bisa saya dapatkan sebelum menonton.

(bersambung)

sumber : http://www.jpnn.com