Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Letters to Commissioner Edisi Juli 2012
Dari: Stella N.
Email: space4_stella@yahoo.com

Syarat Jadi Tim Kontestan WNBL

Dear Commissioner,

Saya ingin bertanya. Musim lalu adalah musim perdana WNBL Indonesia. Nah, apa sih syarat bagi sebuah klub untuk mengikuti WNBL? Saya ingin sekali membentuk klub basket wanita yang bisa berkompetisi di level WNBL. Terima kasih banyak, Mas Azrul. Semoga basket Indonesia makin jaya!

Dear Stella,

Sebelum kami menjalankan WNBL, ketika berembug dengan Pak Anggito Abimanyu, ketua umum PP Perbasi, kami sepakat bahwa barrier (halangan) untuk membentuk tim harus dibuat seminimal mungkin. Dalam artian, syarat dipermudah, biaya dipermurah, dan lain sebagainya. Karena misinya adalah menghidupkan lagi liga perempuan yang ketika itu sudah empat tahun hilang.

Dan itulah yang kami lakukan pada 2012, sehingga terjadilah musim perdana WNBL.

Namun, walau sudah dipermudah, tetap saja sulit bagi tim untuk berpartisipasi. Satu, biaya. Dua, jumlah pemain yang minimal. Sulit melengkapi lima tim, apalagi sepuluh tim, yang kualitasnya layak disebut sebagai liga perempuan tertinggi di Indonesia.

Untuk ke depan, kami harus lebih hati-hati dalam menerima tim baru. Apalagi, sekarang sudah terbentuk Dewan Komisaris WNBL Indonesia yang beranggotakan tim-tim yang ada, plus saya sebagai commissioner dan wakil dari PP Perbasi.

Semoga WNBL bisa menggairahkan lagi minat di liga perempuan, sehingga kelak makin banyak tim bisa terbentuk secara sehat dan punya masa depan yang sustainable.

——————-

Dari: Andreas Bordes
Email: andreasbordes@gmail.com

Akun Twitter Commissioner

Dear Commissioner,

Apa kabar Mas Azrul? Surat saya ini sangat singkat, tapi saya yakin mampu mewakili pertanyaan banyak fans basket di luar sana. Kenapa sih Mas Azrul tidak membuat account Twitter? Pasti akan lebih mudah dan menyenangkan bagi kami untuk memberi masukan atau ide untuk kemajuan basket tanah air. 🙂 Salam basket Indonesia!

Dear semua yang penasaran sama akun twitter saya:

Mohon maaf, saya tidak punya akun twitter, dan tidak punya rencana punya akun twitter. Facebook pun sudah tidak lagi aktif selama bertahun-tahun. Mohon semua memahami, bahwa menjadi commissioner, sesibuk apa pun, bukanlah satu-satunya pekerjaan saya. Punya handphone satu saja rasanya sudah kebanyakan untuk membalas telepon dan pesan yang masuk. Tapi ini bukan berarti saya tidak mau mendengar masukan. Saya terus aktif meraba-raba apa kira-kira yang dibutuhkan agar basket kita terus maju. Dan harus maju dengan cara yang benar. Saya terus mendengar (dengan cara saya sendiri), membaca (di mana pun), dan terus berusaha belajar dari pengalaman di negara-negara lain.

Dan dengan demikian, waktu saya bisa dipakai untuk melakukan action. Kan doing lebih baik daripada talking…

——————-

Dari: @doniikurniawan

Setiap tahun, Championship Series-nya di kota berbeda dong, biar semua bisa ngerasain atmosfer Championship. #DearCommissioner

Dear Doni,

Tentu kami ingin menyelenggarakan NBL di sebanyak mungkin kota, menyapa sebanyak mungkin tim dan fans. Tapi harus dipahami, khusus untuk Championship Series, ada syarat-syarat tertentu yang tidak bisa dipenuhi banyak kota. Pertama, harus ada basis fans yang kuat. Tidak harus untuk satu tim. Minimal, kota itu harus punya gairah yang bagus dalam menyambut sebuah even akbar. Kedua, harus ada gedung yang memadai. Nah, ini syarat yang paling berat. Kita lihat saja, di Surabaya tahun 2011 benar-benar penuh sesak. Di Jogjakarta pun, dengan gedung yang berkapasitas lebih besar, tetap penuh sesak. Semoga ini membuat kota-kota lain bergairah dan membangun fasilitas yang benar-benar mampu menjadi tuan rumah sebuah Championship Series NBL Indonesia.

——————-

Dari: @gerrykrisnata11

Bikin sistem supaya pemain bintang menyebar di setiap klub, jadi calon juara sulit diprediksi. #DearCommissioner

Dear Gerry,

Ini bukan hanya impian Anda. Ini juga impian kami sebagai penyelenggara. Dan ini juga –percaya atau tidak– impian tim-tim peserta. Saat ini, walau popularitas NBL terus meroket, kami tetap harus menyentuh bumi. Liga ini masih bayi. Baru dua musim. Jadi harus tertata baik dulu fondasinya sebelum bisa mengembangkan yang lainnya. Sabar, itu akan terjadi!

Advertisements

Bikin Akademi Basket Indonesia

Letter to Commissioner – 01/08/2012

Most Valuable Letter Edisi Juli 2012
Bikin Akademi Basket Indonesia
Dari: Adjie Nugroho
Email: adjiengrh98@gmail.com

Bikin Akademi Basket Indonesia

Dear Commissioner,

Saya punya saran nih untuk memajukan basket indonesia di level dunia. Bagaimana kalau dibikin semacam akademi basket Indonesia (bukan klub basket). Akademi itu diberi nama: Indonesian Basketball Academic League. Pelatih-pelatih muda dipilih untuk menggembleng training harian peserta, sementara pelatih asing kita manfaatkan untuk men-drill peserta menjelang kompetisi (bila ada). Sekian dulu masukan dari saya. Maju basket Indonesia!

Dear Adjie,

Terima kasih usulannya. Setiap kali saya ke luar negeri melihat sistem pengembangan basket, rasanya selalu jadi iri. Kenapa di Indonesia tidak ada yang bikin seperti itu. Kami dari DBL Indonesia tentu sangat ingin punya fasilitas gedung latihan berisi delapan lapangan, plus fasilitas gym lengkap, dan lain sebagainya. Tapi kami bukan pemerintah!

Dari dulu, kami juga ingin punya akademi yang bukan sekolah basket maupun klub. Saya tegaskan: Saya tidak pernah punya klub basket dan tidak akan pernah punya klub basket. Bakat dan expertise kami adalah di management liga. Semoga bisa terwujud ya!

TAK MULUK-MULUK TETAPKAN TARGET

National Basketball League 2012-2013

Gugum Rachmat Gumilar

Minggu,  25 November 2012  −  00:33 WIB

Tak muluk-muluk tetapkan target

Sindonews.com – Kejuaraan bola basket tertinggi di tanah air, Speedy National Basketball League (NBL) Indonesia kembai digelar untuk musim kompetisi 2012-2013. Penyelenggara kejuaraan mengklaim hal ini sebagai keberhasilan ditengah terpuruknya prestasi olahraga dalam negeri.

Comissioner NBL sekaligus Direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia Azrul Ananda mengatakan, di awal penyelenggaraan, pihaknya tidak menyangka kompetisi ini bisa bertahan hingga tahun ketiga. Bahkan di setiap musim, NBL selalu menunjukkan peningkatan kualitas kejuaraan.

“Saya tidak menyangka kejuaraan ini bisa survive sampai sejauh ini, bertahan hingga musim ke tiga. Bahkan selama penyelenggaraannya, saya melihat banyak hal yang diluar dugaan. Termasuk kesimpulan bahwa tidak ada liga lain, selain tentunya sepak bola, yang penontonnya bisa seheboh ini. Apa lagi jika melihat penonton di Bandung dan Surabaya, luar biasa. Itu pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang tentu harus kami tingkatkan di penyelenggaraan selanjutnya,” ujarnya.

Meski terus menunjukkan kemajuan di setiap tahun penyelenggaraannya, ujar Azrul, pihaknya tidak menetapkan target tinggi di perhelatan tahun ini. Termasuk dengan pencapaian yang ingin dihasilkan dalam NBL tahun ini. Sebagai langkah awal meningkatkan prestasi bola basket nasional, ajang ini hanya menargetkan tingginya partisipasi masyarakat Indonesia terhadap olahraga basket. Jika keikutsertaan khalayak sudah membludak, ujar Azrul, maka prestasi basket dalam negeri secara otomatis akan meningkat.

“Memang menjadi cita-cita kami agar basket Indonesia bisa menjadi raja di Asia Tenggara, Asia, bahkan dunia. Tapi itu butuh proses. Untuk saat ini, cukup menargetkan bagaimana caranya agar banyak yang nonton basket, termasuk NBL. Sehingga nantinya banyak juga yang bermain baskt. Jika sudah seperti itu, dengan melimpahnya jumlah masyarakat Indonesia, masa tidak ada satu orang saja yang bisa seperti Michael Jordan,” tuturnya.

Azrul mengaku optimistis pamor basket di Indonesia terus meningkat. Terlebih, berbagai kejuaraan olahraga ini selalu mengedepankan profesionalisme. Hal itu merupakan imbas dari minimnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk berbagai kegiatan bola basket.

“Basket itu semuanya swasta. Mulai dari kejuaraan hingga timnasnya pun dibiayai sendiri, karena tidak ada kucuran dana dari pemerintah. Tapi justru dengan anggaran dari pihak swasta melalui sistem sponsor, semua harus dilakukan dengan profesional. Ini yang membuat bola basket terus meningkat perkembangannya. Bahkan beberapa survey mengatakan, bahwa basket saat ini menjadi olahraga kedua di Indonesia setelah sepakbola. Di tahun-tahun mendatang, bukan tidak mungkin kami menjadi nomor satu di negeri ini,” kata Azrul.

sumber : http://sports.sindonews.com

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 17:28 WIB

Azrul Ananda: NBL Gairahkan Basket di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Seluruh tim peserta liga basket tertinggi di tanah air telah menyerahkan susunan ofisial dan pemainnya untuk kompetisi National Basketball League (NBL) Indonesia musim 2011-2012 yang akan mulai bergulir 10 Desember.

Tercatat ada puluhan rookie yang akan mengawali kariernya di musim reguler liga basket tertinggi Indonesia ini. Seitar 31 wajah baru akan berebut gelar pendatang baru terbaik. Itu belum termasuk barisan pemain yang memperkuat dua tim baru, Pacific Caesar Surabaya dan NSH GMC Riau.

Kebanyakan pemain muda itu telah menunjukkan kemampuan mereka saat Preseason Tournament di Malang, 23 September hingga 2 Oktober lalu. Dua yang paling menonjol adalah Arki Dikania Wisnu dari Satria Muda Britama Jakarta dan Herman “Wewe” Lo dari Nuvo CLS Knights Surabaya.

Banyaknya bintang muda ini dianggap sebagai pertanda baik untuk masa depan basket Indonesia. “Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum era NBL Indonesia, gairah di arena basket bisa dibilang redup. Tidak banyak tim berinvestasi untuk membina bintang-bintang masa depan basket Indonesia. Sekarang, setelah sukses musim perdana, gairah itu sangat terasa di NBL Indonesia 2011-2012,” kata Azrul Ananda, commissioner NBL Indonesia.

“Fondasi yang baik ini bukan hanya untuk setahun ke depan. Ini baik untuk bertahun-tahun ke depan,” tambahnya.

Bella Erwin Harahap, ketua Dewan Komisaris NBL Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Perbasi, merasa yakin hadirnya para pemain muda itu akan membuat basket Indonesia semakin mantap melangkah.

“Banyaknya wajah baru ini bukti bahwa regenerasi telah berjalan. Kompetisi menjadi lebih enak dinikmati dengan tenaga-tenaga muda tersebut. Kita semua jadi punya lebih banyak pilihan untuk mencari pemain-pemain masa depan tim nasional Indonesia,” ujar Ade Bella, sapaan akrabnya.

Musim reguler NBL Indonesia 2011-2012 terdiri atas enam seri. Pembukanya di Bandung, 10-18 Desember, berlanjut ke Solo, Denpasar, Palembang, Surabaya, dan Jakarta. Delapan dari 12 tim terbaik lantas lolos ke Championship Series, yang dijadwalkan berlangsung di Jogjakarta pada April 2012.

sumber : http://www.tribunnews.com

Komisioner NBL berharap olahraga Indonesia lekas privatisasi

Sabtu, 12 Januari 2013 05:20 WIB

NBL (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) – Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

“Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta,” kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

“NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja,” ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

“Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja,” ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

“Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial,” kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

“Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya,” tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

“Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?” kata dia.

“Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak,” ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

“Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya,” ujar dia menutup perbincangan. (G006)
Editor: B Kunto Wibisono

sumber : http://www.antaranews.com