Diberi Nama Panda, tapi Bukan dari Tiongkok

07 March, 2012

 
 

BAMBU: Frame MTB buatan Boo Bicycles. Bagian down-tube-nya diperkuat lagi dengan anyaman karbon.

Geleng-geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (4-Habis)

Boo sebenarnya punya beberapa model yang bisa dipilih. Tapi, mereka siap membuat sepeda dengan spesifikasi yang sesuai dengan keinginan konsumen. Sebuah frame balap dengan geometri custom dihargai hampir USD 4.000 (sekitar Rp36 juta). Total sepeda bisa dengan mudah mencapai Rp100 juta.

AZRUL ANANDA, Sacramento

Frey lantas mempromosikan keunggulan lain sepeda berbahan bambu kombinasi karbon: safety. “Ada pemilik sepeda Boo yang bertabrakan langsung dengan mobil. Sepedanya tidak patah. Beda dengan sepeda karbon, yang kalau retak sedikit saja sudah tidak bisa dipakai,” tutur dia.

Karena sepeda itu hanya dibuat Wolf dan asistennya, mereka yang berminat harus bersabar. Ketika pesan sepeda custom, saya harus memenuhi beberapa permintaan dari Boo. Misalnya, mengukur lebih pasti badan sendiri. Panjang lengan kaki, dan lain-lain. Lalu, mereka meminta saya mengirimkan geometri sepeda yang paling saya suka saat ini. Ada beberapa ukuran dimensi yang mereka minta untuk nanti diaplikasikan ke frame Boo yang dibuat.

Kita juga bisa mengirim foto sepeda yang kita miliki, lalu lewat program simulasi komputer Frey bisa menganalisisnya dan menawarkan solusi-solusi perubahan bila dibutuhkan.

Proses itu saja bisa memakan waktu cukup lama. Begitu semua dimensi dan spesifikasi disepakati, baru Wolf bekerja. Kalau sedang inden ringan, dibutuhkan waktu hingga delapan minggu (dua bulan) untuk pembuatan. Kalau sedang padat, bisa lebih dari itu.

Penggemar MTB juga bisa pesan Boo khusus. Sekarang, Frey dan Wolf bereksperimen dengan frame MTB baru yang lebih kukuh. Bagian downtube-nya (pipa diagonal panjang di bawah) dibalut dengan anyaman karbon. Dengan demikian, sepeda itu bisa lebih dikasari lagi saat dipancal di arena off-road.
Wolf menandatangani semua frame yang dibuatnya. Juga menomori semua frame dengan tulisan tangan. Jadi, kelak sepeda itu bisa jadi bahan koleksi yang dapat dilacak dan dicatat sejarahnya.

 

Sekali lagi, Boo bukan satu-satunya produsen sepeda berbahan bambu di NAHBS 2012. Calfee Design juga memamerkan sebuah sepeda tandem dari bambu. Selain itu, ada Panda Bicycles yang habis-habisan mempromosikan sepeda “yang ditumbuhkan” tersebut.
Namanya boleh Panda, tapi perusahaan itu tidak berasal dari Tiongkok. Malah perusahaan tersebut berasal dari kota yang sama dengan Boo, yaitu Fort Collins, Colorado.

Tapi, Panda fokus ke aliran yang sangat beda dengan Boo. Kalau Boo memburu performa, Panda mengutamakan style. “Sepeda kami dibuat sebagai sepeda lifestyle,” kata Rebecca Dodge, koordinator penjualan Panda yang hadir di Sacramento.

Berbeda juga dengan Boo, Panda mendapatkan bambunya dari Yucatan Peninsula di selatan Meksiko. Pipa-pipa bambu tersebut lantas digabung dengan menggunakan penyambung dari steel (baja). Kombinasi itu mungkin bukan yang paling ringan atau paling kaku, tapi Panda mengklaimnya sebagai kombinasi paling nyaman untuk pengendara.

Harga Panda tidak murah. Yang paling bawah di kisaran USD 2.000 atau Rp18 juta. Yang tertinggi bisa di atas USD 3.500 atau Rp31,5 juta.
Dengan begitu banyaknya bahan bambu dipamerkan di NAHBS 2012 dan begitu banyaknya perhatian yang didapat, jangan heran kalau bahan itu bakal makin ngetren dalam tahun-tahun ke depan. Apalagi kalau performanya terbukti bisa setara dengan karbon. Itu bisa sesuai dengan tema lingkungan, yang makin tahun tampaknya makin diutamakan orang.

Kita tunggu saja di NAHBS tahun depan atau di pameran-pameran sepeda kelas dunia lain setelah ini. Siapa tahu bambu benar-benar makin populer. Atau, siapa tahu ada bahan lain yang tiba-tiba mencuri perhatian! (*)

Read more: http://www.jpnn.com

Advertisements

Butuh 50 Jam untuk Bikin Frame Bambu Berlilit Karbon

06 March, 2012

BAMBU UNTUK LIFESTYLE: Booth Panda asal Colorado menampilkan sepeda bambu yang stylish untuk kebutuhan dalam kota dan santai.

Geleng-Geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (3)

Sepeda dari bahan alternatif banyak mewarnai North American Handmade Bicycle Show 2012 yang berakhir Minggu lalu (4/3). Bahan bambu termasuk paling populer. Berikut catatan AZRUL ANANDA dari Sacramento.

Bambu untuk sepeda high performance. Kalau digarap sangat serius dan terus mendapat perhatian seperti sekarang, bisa jadi bahan alami itu menyalip karbon sebagai bahan utama sepeda high-end.

Di Sacramento Convention Center, tempat diselenggarakannya North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2012, sepeda berbahan bambu bertebaran di mana-mana. Bahkan, ketika baru masuk area pameran, sebuah booth sepeda bambu langsung menyedot perhatian pengunjung. Stan itu milik Boo Bicycles, perusahaan dari Fort Collins, Negara Bagian Colorado.

Paling tidak, stan Boo itu yang langsung menyedot perhatian saya pribadi. Belakangan, saya sering membaca artikel majalah maupun online tentang sepedan

bambu buatan Boo itu. Sebab, mereka membuat sepeda bukan untuk barang seni atau antik, melainkan barang high performance yang bisa diajak balapan dan mengalahkan sepeda-sepeda high-end dari karbon!

Di stan itu, saya pun langsung bertemu dengan orang-orang di balik Boo. Pertama adalah Nick Frey, sang pemilik perusahaan. Dia langsung membuat saya sangat terkesan. Usianya baru 25 tahun, memiliki kombinasi otak sangat pintar serta kemampuan fisik dan mental tangguh.

Sebagai atlet, dia tak perlu diragukan kemampuannya. Dia adalah juara nasional time trial di Amerika Serikat saat berusia di bawah 23 tahun. Dia punya kontrak profesional dan ikut sejumlah event kelas dunia di Amerika maupun Eropa.

Pintar? Sangat! Walau bisa punya karir sebagai pembalap profesional, Frey memilih fokus ke studi. Tidak tanggung-tanggung, dia belajar mechanical engineering di kampus elite, Princeton University. Ketika lulus pada 2009, dia sudah mendirikan Boo.

Filosofi Boo adalah mengombinasikan kenyamanan dan performa. Sesuatu yang sangat mungkin dilakukan dengan memakai bahan bambu yang dikombinasikan dengan karbon. Kalau hanya bamboo, tidak cukup. Kalau hanya karbon, tidak cukup. Bahan lain pun disebut tidak cukup.

Untuk mewujudkan target itu, Frey bekerja sama dengan James Wolf yang akhir pekan lalu ikut hadir di Sacramento. Wolf itulah yang memproduksi sepeda-sepeda Boo. Dia adalah seorang pakar industrial design yang sudah 15 tahun berkutat dengan bahan bambu. Wolf tinggal di Vietnam, tempat bambu ditanam dan sepeda dibuat. Dia mengerjakan semua sepeda sendirian. “Dengan bantuan dua asisten,” aku Wolf.

Sekali lagi, Boo adalah sepeda yang didesain untuk high performance, untuk balapan. Inspirasinya, tutur Frey, berasal dari sepeda bambu buatan Craig Calfee (pionir sepeda karbon). Tapi, cara Boo menggarapnya beda. Bambu yang dipilih harus dari spesies khusus dan diproses dengan cara khusus. “Bambu itu hanya ditanam dalam dua pekan dalam setahun,” tutur Frey.

Wolf menambahkan, “Butuh 3,5 tahun sebelum bambu itu bisa dipakai untuk dijadikan sepeda. Kadar gulanya harus sangat rendah, lalu disiapkan dengan berbagai proses industri untuk mengatur tingkat kelembapan dan ketahanannya. Tidak semua spesies bambu bisa dibuat seperti itu.”

Di bagian-bagian sambungan, frame bambu disambung dengan memakai balutan karbon. Berbeda dengan kebanyakan sepeda bambu kombinasi karbon, Boo tidak menyambung pipa-pipa bambu dengan memakai penghubung karbon. Pada sepeda Boo, pipa-pipa bambu itu disatukan dengan cara membalut bagian sambungan menggunakan karbon. Hasilnya pun jauh lebih mulus. Seolah-olah bambu dan karbonnya menyatu.
?Butuh sekitar 50 jam kerja untuk menyelesaikan satu frame,” ungkap Wolf.

Begitu selesai, frame bambu itu ‘road bike, fixie, maupun MTB’ bisa dipadu dengan komponen macam-macam. Contoh, road bike yang dipajang di NAHBS memakai groupset Shimano Ultegra Di2 dengan sistem perpindahan gigi elektronik (banyak yang memakai itu di NAHBS). Agar sangat rapi, semua kabel-kabel groupset dan rem bisa disembunyikan di dalam frame. Lebih rapi daripada kebanyakan sepeda karbon high-end.

Berat? Frey menegaskan bahwa sepeda bambu-karbonnya punya bobot setara dengan sepeda-sepeda karbon papan atas. Sepeda yang dia pamerkan, misalnya, punya bobot total tak sampai 15 pound alias tak sampai 7 kilogram. “Saya sedang membuat road bike bambu lagi yang bobotnya hanya 13 pound (tak sampai 6 kilogram, Red),” ujarnya.

Boo sebenarnya punya beberapa model yang bisa dipilih. Tapi, mereka siap membuat sepeda dengan spesifikasi yang sesuai dengan keinginan konsumen. Sebuah frame balap dengan geometri custom dihargai hampir USD 4.000 (sekitar Rp36 juta). Total sepeda bisa dengan mudah mencapai Rp100 juta.
Frey lantas mempromosikan keunggulan lain sepeda berbahan bambu kombinasi karbon: safety. “Ada pemilik sepeda Boo yang bertabrakan langsung dengan mobil. Sepedanya tidak patah. Beda dengan sepeda karbon, yang kalau retak sedikit saja sudah tidak bisa dipakai,” tutur dia.

Karena sepeda itu hanya dibuat Wolf dan asistennya, mereka yang berminat harus bersabar. Ketika pesan sepeda custom, saya harus memenuhi beberapa permintaan dari Boo. Misalnya, mengukur lebih pasti badan sendiri. Panjang lengan, kaki, dan lain-lain. Lalu, mereka meminta saya mengirimkan geometri sepeda yang paling saya suka saat ini. Ada beberapa ukuran dimensi yang mereka minta untuk nanti diaplikasikan ke frame Boo yang dibuat.

Kita juga bisa mengirim foto sepeda yang kita miliki, lalu lewat program simulasi komputer Frey bisa menganalisisnya dan menawarkan solusi-solusi perubahan bila dibutuhkan.

Proses itu saja bisa memakan waktu cukup lama. Begitu semua dimensi dan spesifikasi disepakati, baru Wolf bekerja. Kalau sedang inden ringan, dibutuhkan waktu hingga delapan minggu (dua bulan) untuk pembuatan. Kalau sedang padat, bisa lebih dari itu.
Penggemar MTB juga bisa pesan Boo khusus. Sekarang, Frey dan Wolf bereksperimen dengan frame MTB baru yang lebih kukuh. Bagian downtube-nya (pipa diagonal panjang di bawah) dibalut dengan anyaman karbon. Dengan demikian, sepeda itu bisa lebih dikasari lagi saat dipancal di arena off-road.
Wolf menandatangani semua frame yang dibuatnya. Juga menomori semua frame dengan tulisan tangan. Jadi, kelak sepeda itu bisa jadi bahan koleksi yang dapat dilacak dan dicatat sejarahnya.

Sekali lagi, Boo bukan satu-satunya produsen sepeda berbahan bambu di NAHBS 2012. Calfee Design juga memamerkan sebuah sepeda tandem dari bambu. Selain itu, ada Panda Bicycles yang habis-habisan mempromosikan sepeda “yang ditumbuhkan” tersebut.

Namanya boleh Panda, tapi perusahaan itu tidak berasal dari Tiongkok. Malah perusahaan tersebut berasal dari kota yang sama dengan Boo, yaitu Fort Collins, Colorado.

Tapi, Panda fokus ke aliran yang sangat beda dengan Boo. Kalau Boo memburu performa, Panda mengutamakan style. “Sepeda kami dibuat sebagai sepeda lifestyle,” kata Rebecca Dodge, koordinator penjualan Panda yang hadir di Sacramento.

Berbeda juga dengan Boo, Panda mendapatkan bambunya dari Yucatan Peninsula di selatan Meksiko. Pipa-pipa bambu tersebut lantas digabung dengan menggunakan penyambung dari steel (baja). Kombinasi itu mungkin bukan yang paling ringan atau paling kaku, tapi Panda mengklaimnya sebagai kombinasi paling nyaman untuk pengendara.

Harga Panda tidak murah. Yang paling bawah di kisaran USD 2.000 atau Rp18 juta. Yang tertinggi bisa di atas USD 3.500 atau Rp31,5 juta.
Dengan begitu banyaknya bahan bambu dipamerkan di NAHBS 2012 dan begitu banyaknya perhatian yang didapat, jangan heran kalau bahan itu bakal makin ngetren dalam tahun-tahun ke depan. Apalagi kalau performanya terbukti bisa setara dengan karbon. Itu bisa sesuai dengan tema lingkungan, yang makin tahun tampaknya makin diutamakan orang.

Kita tunggu saja di NAHBS tahun depan atau di pameran-pameran sepeda kelas dunia lain setelah ini. Siapa tahu bambu benar-benar makin populer. Atau, siapa tahu ada bahan lain yang tiba-tiba mencuri perhatian! (*)

Read more: http://www.jpnn.com

Sepeda Tandem Rp130 Juta, Sepeda TT Kayu Rp80 Juta

05 March, 2012

SEPEDA KAYU HIGH PERFORMANCE: Ken Wheeler (tengah), pendiri Renovo Hardwood Bicycles, menjelaskan kepada pengunjung tentang keunggulan sepeda balapnya yang terbuat dari kayu, yang mampu menyaingi performa sepeda-sepeda karbon. AZRUL ANANDA/JAWA POS)

Geleng-geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (2)

Para dewa sepeda menemui para penggemar di North American Handmade Bicycle Show 2012 di Sacramento. Tapi, tentu saja yang paling dipelototi adalah karya-karya mereka yang luar biasa.

AZRUL ANANDA, Sacramento

Lebih dari 170 peserta tampil di North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2012 di Sacramento Convention Center, 2?4 Maret lalu. Masing-masing membawa karya terbaik, menyuguhkan ribuan sepeda yang berebut perhatian para pengunjung.

Kebanyakan sepeda yang dipamerkan masuk kategori road bike atau city bike. Termasuk varian atau pengembangan dari setiap kategori tersebut. Ada beberapa varian MTB (mountain bike), namun jumlahnya mungkin hanya sepuluh persen dari total sepeda yang dipamerkan.

Karena ini sifatnya sepeda handmade, yang juga bisa diartikan sepeda karya seniman, varian antik dan eksotis lebih dominan.
Yang mencengangkan, ada sangat banyak sepeda tandem yang dipamerkan di NAHBS 2012. Baik dari bahan steel, aluminium, titanium, karbon, bahkan magnesium.

Nah, sepeda tandem yang magnesium itu merupakan yang paling sering diangkat-angkat oleh pengunjung. Semua ingin membuktikan klaim bahwa itu  adalah sepeda tandem paling ringan. Sepeda itu bermerek Paketa, buatan tangan James Peter (JP) Burow asal negara bagian Colorado.

Seperti di stan-stan lain NAHBS, sang pembuat sendiri yang menunggui sepeda dan melayani para pengunjung. Ketika melihat peminat ragu-ragu ingin memegang sepeda Paketa, Burow secara proaktif mengajak mereka untuk mencoba langsung karya ajaibnya itu. Dia menantang pengunjung untuk mengangkat sepeda tandem itu dengan hanya satu tangan!

“Ayo angkat, ini dari magnesium. Beratnya hanya 23 pound (sekitar 10,5 kilogram, Red),” katanya berkali-kali.

Melihat ukuran sepeda yang cukup panjang, kita punya ekspektasi bobot tertentu. Ketika diangkat, wow! Sepeda itu jadi terasa amat ringan. Padahal, sepeda ini dilengkapi dengan groupset Shimano Ultegra Di2, pemindah gigi elektrik yang cenderung lebih berat daripada sistem manual.

“Tidak ada metal yang punya rasio kekuatan dan keringanan setinggi magnesium,” ujar Burow. “Dengan bahan ini, kita bisa membuat pipa frame sepuluh persen lebih besar, tapi dengan bobot 20 persen lebih ringan daripada aluminium,” tandasnya.

Overall, jelasnya, magnesium itu 34 persen lebih ringan daripada aluminium dan 50 persen lebih ringan daripada titanium. Bonusnya, magnesium disebut meredam getaran hingga sepuluh kali lebih baik daripada metal-metal lain. Dengan begitu, sepeda magnesium terasa lebih nyaman untuk jarak jauh.

Jika dibandingkan dengan karbon, magnesium juga lebih enteng di kantong kalau terjadi tabrakan. Bahan ini akan bengkok dan bisa diluruskan kembali seperti aluminium. Tidak seperti karbon, yang jatuh sedikit saja bisa retak atau patah dan harus dibuang!

Hanya harganya yang mungkin kurang nyaman. “Yang ini USD 14 ribu,” kata Burow. Kalau dikurskan, itu hampir Rp130 juta.

Kayu Tahan Banting

Booth lain yang menampilkan sepeda ‘ajaib’ adalah milik Renovo. Semua sepeda yang dipajang di situ terbuat dari kayu. Mulai road bike biasa, sepeda time trial yang eksotik, sampai MTB untuk jumping-jumping naik-turun gunung!

Ken Wheeler, pendiri Renovo sekaligus pembuat sepeda, mengakui bahwa bahan kayu memang tidak seringan karbon atau metal ringan. “Rata-rata, sepeda kayu kami sekitar dua pound (hampir satu kilogram, Red) lebih berat daripada sepeda setipe dari bahan karbon,” ungkap pria asal Oregon yang juga punya reputasi hebat sebagai pembuat pesawat dari kayu.

Namun, Wheeler menegaskan bahwa ekstrabobot itu tidaklah signifikan. Sepedanya dibuat dari kombinasi kayu-kayu keras. Dia tidak mau menyebut detail jenis apa saja  karena paten kombinasinya sedang diproses. Salah satu bahan utama yang dia sebut adalah kayu walnut.

Seperti sejumlah sepeda karbon, frame dibuat dari dua belahan. Sisi kanan dan kiri di-bonding (lem) menjadi satu. Kemudian diberi lapisan khusus dan dipoles. Dengan demikian, bagian dalam frame juga hollow (ada rongga) ala tabung aluminum atau karbon.

Hanya sedikit lebih berat, Wheeler lantas menegaskan karyanya punya kualitas-kualitas lain yang bisa dipandang lebih atraktif daripada  karbon.
Pertama, sepeda kayunya adalah yang paling nyaman. Dia pede pemakai akan langsung merasakan kenyamanan itu saat pertama menunggangi sebuah Renovo. Tingkat kekakuannya (stiffness) juga diklaim tidak kalah daripada karbon. Bahkan bisa lebih kaku.

Kekuatan juga digaransi. Sepeda Renovo pernah ikut lomba-lomba triatlon dan MTB bergengsi. “Beda dengan karbon yang patah, sepeda kayu bisa dipoles lagi jadi seperti baru bila terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Yang paling diunggulkan oleh Wheeler: Sepedanya bisa memiliki nilai seni atau kolektabilitas tinggi ala furniture antik. Seratus tahun lagi, sepeda ini bisa kembali dipoles sehingga kembali terlihat baru. Jangan khawatir jadi lapuk karena kayunya sudah diproses secara khusus. Jadi, umurnya bisa mengalahkan umur pemiliknya!

Wheeler menggarap sepedanya ini bersama 30-an orang stafnya di Portland, Oregon. Ada beberapa model yang bisa dipilih. Untuk road bike, ada tiga level. Seri R1 adalah yang termurah, sekitar USD 2.000 (Rp18 juta) untuk frame saja. Lalu,  seri R3 di atas USD 3.000. Bentuk keduanya, sekilas, mirip frame merek Cipollini asal Italia.

Mau yang lebih mahal? Ada jenis R4, berbentuk seperti sepeda Carrera, seharga USD 3.500 untuk frame saja.
Yang paling eye-catching? Sepeda triatlon atau TT (time trial) bernama Hoodoo. Sepeda ini pernah ikut kejuaraan dunia triatlon di Hawaii pada 2010. Harganya sekitar USD 3.800 untuk frame saja.

Bagi penggemar MTB, ada Badash 29er. Memakai ban berdiameter besar yang kini sedang naik daun di Amerika.
Semua sepeda ini bisa dipesan dengan geometri khusus, disesuaikan bentuk butuh pembeli. Juga bisa dilengkapi dengan komponen pilihan pembeli. Mau pakai groupset Shimano? Bisa. Pakai SRAM atau Campagnolo juga bisa.

Harga full bike pun menjadi sangat bervariasi. Sepeda Hoodoo yang dipajang di Sacramento Convention Center dilengkapi dengan wheelset merek Zipp dari karbon. Harganya USD 8.500 (hampir Rp80 juta, Red).

Melihat begitu banyak pilihan sepeda, dengan kualitas karya seni dan harga yang sebenarnya tidak gila-gilaan (sepeda ratusan juta rupiah sudah sangat umum berkeliaran di jalanan Indonesia), tentu penggemar sepeda  jadi superpusing: Mau beli yang mana ya? (bersambung)
Sumber: http://www.jpnn.com

Para Dewa Sepeda Jaga Sendiri Stan dan Layani Pengunjung

04 March, 2012

Geleng-geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (1)

Di antara berbagai pameran sepeda kelas dunia, yang paling seru dan nyentrik mungkin adalah North American Handmade Bicycle Show (NAHBS). Berikut catatan wartawan Jawa Pos (grup Sumut Pos) AZRUL ANANDA yang akhir pekan ini menikmati ajang tahunan itu di Sacramento, California.
Jadwal liburan saya di California pekan ini benar-benar pas untuk “setengah kerja”. Setelah bersama keluarga jalan-jalan di Los Angeles, kami menuju Sacramento, ibu kota negara bagian tersebut. Selain bernostalgia menikmati tempat saya kuliah belasan tahun lalu ada beberapa event seru yang bisa menambah keasyikan suasana.

Setelah sempat menonton pertandingan basket NBA antara Sacramento Kings melawan tim yang sedang naik daun, Los Angeles Clippers, saya juga sempat menikmati pameran sepeda superseru. Bahkan, disebut-sebut sebagai salah satu yang paling seru di dunia.

Bagi seseorang “saya” yang belum setahun ini menjadi penikmat sport sepeda, pameran itu menjadi ajang belajar yang luar biasa asyiknya. Dengan semangat, saya bersama teman dan keluarga pun menuju Sacramento Convention Center, Jumat lalu (2/3, kemarin WIB), untuk menikmati pameran tersebut.

Pameran itu, North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2012, diselenggarakan selama tiga hari pada akhir pekan ini (2-4 Maret).
Mungkin, tidak banyak yang familier dengan NAHBS. Padahal, ajang tersebut sudah delapan tahun diselenggarakan di Amerika. Sesuai namanya, itu merupakan pameran sepeda-sepeda khusus, bukan sepeda “industri” yang bisa dengan mudah kita beli di toko.

Meski namanya mengandung kata-kata “North American”, tidak berarti itu adalah event regional. Total ada 172 peserta pameran, mewakili sejumlah negara. Selain AS, ada yang berasal dari Kanada, Prancis, Italia, Inggris Raya, Jepang, Denmark, Republik Ceko, dan lain-lain.
Kebanyakan, tentu saja, adalah dari Amerika. Kebanyakan di antara mereka berasal dari dua negara bagian “ibu kota sepeda” di Amerika, yaitu Oregon dan Colorado.

Pengunjungnya sendiri (ditaksir berkisar 10 ribu orang selama tiga hari) berasal dari berbagai penjuru dunia. Ratusan perwakilan media dari berbagai penjuru dunia ikut meliput ajang tersebut.

Mengunjungi NAHBS 2012, tentu kita bisa berasumsi bahwa bintang utamanya adalah sepeda-sepeda yang ditampilkan. Setelah keliling kawasan pameran, mungkin asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Bintang utama ajang tersebut mungkin adalah para pemilik merek/pembuat sepeda, yang dengan sabar dan antusias menemui langsung para pengunjung/penggemar.

Bayangkan, kita tidak hanya bisa melihat sepeda-sepeda keren. Kita juga bisa bicara langsung dengan orang-orang yang membuatnya! Termasuk di antaranya nama-nama kondang/dewa-dewa sepeda seperti Craig Calfee, Ira Ryan, Tony Pereira, dan Tom Ritchey.

Perlu ditegaskan, nama pameran itu mengandung kata “handmade”. Jadi, mayoritas peserta pameran adalah pembuat-pembuat sepeda tersebut. Ya, ada beberapa merek besar dunia yang ikut berpameran. Misalnya, Shimano, Mavic, Fulcrum, Easton, Schwalbe, dan Brompton. Tapi, mayoritas adalah “rumah-rumah produsen sepeda”.

Salah satu booth paling populer adalah milik Calfee Design. Penggemar berat sepeda tentu familier dengan nama “Calfee”. Itu adalah nama Craig Calfee, sang legenda produsen sepeda.

Pada akhir 1980-an, Calfee merupakan pionir produsen road bike berbahan karbon. Pada 1991, sepeda buatannya merupakan sepeda karbon pertama yang berpartisipasi di Tour de France. Pengendaranya: Sang legenda Greg LeMond!

Di Sacramento, Calfee sendiri yang menjaga booth sepedanya, dibantu beberapa staf. Calfee sendiri pula yang menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung/penggemar. Salah satu karyanya yang paling diminati di Sacramento adalah road bike high performance bernama Dragonfly Pro.
Tapi, karya paling personal yang dia pamerkan adalah sebuah sepeda tandem pribadi. Berbeda dari kebanyakan tandem, sepeda yang itu menempatkan “pengendara ekstra” di depan, tidak di belakang. Tempat duduk dan setir yang di depan itu juga lebih kecil serta pendek.

Usut punya usut, sepeda tandem karbon tersebut ternyata merupakan alat untuk menularkan “gila sepeda” kepada sang anak. “Ini sepeda yang saya pakai untuk berkendara bersama anak saya yang masih berusia lima tahun. Meski dia di depan, saya bisa memancal dan mengendalikannya dari belakang,” ungkap Calfee.

Ditanya soal harga, Calfee mengaku tidak tahu pasti. “Karena ini sepeda pribadi, saya tak pernah menghitung berapa harganya,” ucapnya lantas tersenyum.

Mengingat harga sepeda balap karya Calfee bisa dengan mudah di atas USD 10 ribu (hampir Rp100 juta), kita anggap saja harga sepeda tandem itu di kisaran angka yang sama. Apalagi, sepeda tersebut dilengkapi komponen-komponen high end. Termasuk, groupset yang dilengkapi electronic shifting buatan Shimano.

Booth lain yang menampilkan langsung dewa sepeda terletak bersebelahan. Yaitu, Ira Ryan dan Tony Pereira, keduanya asal Portland, Oregon. Sendiri-sendiri, keduanya punya nama besar. Untuk pesan sepeda dari mereka, bisa butuh waktu berbulan-bulan. Nah, sekarang, mereka superkondang gara-gara road bike/touring karya kolaborasi bernama Rapha Continental.

Mau pesan? Harganya tidak gila-gilaan. Di kisaran USD 6.000. Tapi, karena Ryan dan Pereira sendiri yang membuatnya, setiap pesanan bisa butuh waktu enam bulan untuk dipenuhi.

Salah satu Rapha Continental itu kini sedang dalam proses pembuatan, pesanan seorang kolektor/penghobi sepeda di Jakarta!
“Pemesan sepeda kami datang dari berbagai penjuru dunia. Sering kami tak pernah bertemu langsung dengan mereka. Hanya berkomunikasi via telepon atau e-mail,” ungkap Ryan.

Untuk bicara dengan semua dewa sepeda, jelas sehari saja tidak cukup. Apalagi untuk mengamati secara teliti semua sepeda yang ditampilkan. Sebab, semuanya bisa bikin kita terus geleng-geleng kepala” (bersambung)

Sumber: http://www.jpnn.com

Warga Siap Pindah atau Mulai Cari Pekerjaan Lain

nblindonesia.com – 27/02/2011

Sacramento; Ketika Sebuah Kota Terancam Kehilangan Tim NBA (1)
20110226230708-OKE-20110226072250-KINGS-ArcoArenaGantiNama3

Seberapa besar dampak sebuah tim profesional bagi sebuah kota di Amerika? Sacramento, ibu kota California, kini sedang resah karena terancam kehilangan Kings, tim NBA kebanggaan masyarakatnya. Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang baru mengunjungi Sacramento.

Banyak yang bilang, punya tim olahraga profesional –apapun ca bangnya– bisa memberikan nilai tambah bagi sebuah kota. Di mana pun kota itu berada, di negara mana pun. Selain memberi nilai ekonomi, juga memberi nilai psikis karena memberi warganya kebanggaan, sekaligus membuat kota tersebut lebih dikenal secara nasional (atau internasional).

Paragraf di atas agak klise. Sebab, tidak mudah menghitung pasti dampak-dampak positif yang dihasilkan. Gampangnya: Pokoknya positif! Selama tim itu mampu meraih sukses dan kondisi keuangan baik (tim maupun kota), tidak ada yang perlu dipusingkan.

Sebaliknya, ketika tim itu terus kalahan, sementara ekonomi kota tidak lagi menggembirakan, gunung pun terancam meletus. Ketika kota –dan masyarakatnya– tidak bisa lagi mendukung penuh, tim lantas merugi.

Ketika tim sudah tidak bisa lagi meraih keindahan, mereka pun harus mencari jalan keluar. Kalau jalan keluar dengan kota tidak bisa lagi didapatkan, mereka pun mencari jalan di luar kota.

Situasi itulah yang kini sedang berlangsung di Sacramento, ibu kota negara bagian California. Mereka terancam kehilangan Kings, tim basket profesional yang tergabung di liga paling bergengsi dunia: National Basketball Association (NBA).

Ketika All-Star di Los Angeles, muncul omongan dari NBA bahwa Kings sedang bersiap pindah ke Anaheim (kawasan Los Angeles), begitu musim 2010-2011 ini berakhir.

Bagi kota lain, masalah seperti itu mungkin bukan masalah besar. Sebab, masih ada tim dari cabang lain yang bertahan. Namun, di Sacramento –yang kawasan metropolitannya berpenduduk sekitar 2,1 juta– ini masalah paling meresahkan. Mendominasi seluruh media setempat, mulai koran, online, radio, televisi, dan lain-lain.

Maklum bila begitu. Sacramento ini termasuk one-horse town. Hanya punya satu andalan: Kings. Tidak ada lagi tim profesional lain. Kalau tak ada Kings, ya tidak ada lagi yang bisa dibanggakan.

Dan kota ini benar-benar kota basket. Buktinya: Yang terpilih sebagai wali kota sangatlah ”basket.” Wali kotanya adalah Kevin Johnson, ”produk lokal” yang pada era 1990-an menjadi salah satu bintang terbesar NBA bersama tim Phoenix Suns.

Bayangkan: Kota yang suka basket, dengan wali kota mantan bintang basket dunia, kehilangan tim basket profesionalnya. Pantas bila situasi jadi resah dan heboh!

Mampir ke Markas Kings

Terus terang, catatan ini termasuk bersifat pribadi. Setelah menonton even NBA All-Star 2011 di Los Angeles, 18–20 Februari lalu, saya menyempatkan diri ”pulang” ke Sacramento, sekitar enam jam naik mobil ke arah utara.

”Pulang,” karena saya dulu tinggal lebih dari lima tahun di Sacramento. Sampai menyelesaikan kuliah di California State University Sacramento di pengujung 1999. Jadi, mumpung sudah jauh, menyempatkan diri dulu bertemu dengan teman-teman lama sebelum balik ke Indonesia.

Ternyata, kehebohan Kings itu yang menyambut. Semua orang membicarakannya.

Tinggal lama di Sac, tentu saya jadi penggemar Sacramento Kings. Sejak masih zaman susah di pertengahan 1990-an (dengan bintang utama Mitch Richmond), lalu zaman jaya di awal 2000-an (Chris Webber dkk), lalu sampai zaman susah lagi beberapa tahun terakhir.

Salah seorang teman baik saya (anak Indonesia) dulu pernah tinggal dengan host family yang bekerja di Arco Arena. Jadi sering banget dapat tiket gratis nonton. Sebagai kenangan tambahan, saya dulu juga wisuda di Arco Arena.

Ketika dalam beberapa tahun terakhir banyak bekerja bersama NBA (sebagai commissioner liga basket pelajar, DBL alias Development Basketball League, dan liga profesional NBL alias National Basketball League Indonesia), channel ke Kings menjadi semakin besar.

Tahu ada kabar Kings bakal pindah, tentu saya jadi ingin berkunjung lagi ke teman-teman yang bekerja di Kings. Bersama Masany Audri, general manager DBL Indonesia, Rabu pagi lalu (23/2) kami mampir ke Arco Arena, yang terletak di kawasan Natomas, di utara Sacramento.

Mumpung sedang tidak ada pertandingan, kami bisa berjam-jam ngobrol dan diberi tur fasilitas yang dibangun pada 1988 tersebut. Termasuk masuk ke dalam locker room (ruang ganti) Kings yang supermewah. Dilengkapi sauna, ruang trainer (pengobatan dan massage), layar-layar televisi besar, serta berbagai fasilitas lain.

Kunjungan ini memberi lebih banyak gambaran tentang situasi yang dihadapi Kings sekarang. Mulai benar atau tidak bakal pindah, sampai status gedung basket yang sudah dianggap ”kuno” oleh NBA tersebut.

Karyawan Resah

Kabar Kings bakal pindah sebenarnya bukan cerita baru. Bertahun-tahun lamanya gosip sudah beredar, tim ini akan pindah ke kota lain. Namun, selama ini, tidak pernah menjadi kenyataan. Selama ini pula, karyawan di Kings tidak terlalu pusing tentang segala gosip tersebut.

Kali ini agak beda. Gosip yang bilang Kings bakal pindah ke Anaheim membuat sejumlah karyawan resah.

Salah seorang teman saya yang bekerja di Maloof Sports and Entertainment (perusahaan yang mendapat lisensi mengelola Kings dari NBA) mengaku sudah siap-siap andai tim tersebut benar-benar pindah.

”Dulu, ketika gosip seperti ini beredar, manajemen selalu memberi penjelasan atau penegasan. Saat ini, tidak ada satu pun yang bicara memberi penjelasan. Karena itu, kami jadi lebih khawatir,” kata teman saya tersebut, yang sudah tujuh tahun ngantor di Arco Arena.

Teman saya itu mengaku siap saja bila harus pindah ke Anaheim. Dia berharap istrinya mau pengertian. ”Tapi terus terang, saya juga sudah mulai cari-cari pekerjaan lain,” akunya.

Tentu saja, teman saya –dan kebanyakan warga Sacramento– tidak ingin Kings pindah. Mereka berharap, segala masalah teratasi. Khususnya soal status gedung, yang menjadi pemicu utama segala masalah yang berbuntut terancam pindahnya tim. (bersambung)

Catatan Azrul Ananda (Pasang Billboard Jangan Pindah, Berusaha Penuhi Gedung)

28-Feb-2011

Sacramento; Ketika Sebuah Kota Terancam Kehilangan Tim NBA (2-Habis)

20110227213225-KINGS-AzaSanydanMaskot

Pemilik tim, pemerintah kota, penduduk setempat. Tiga faktor itu yang berperan ’’menghidupi’’ sebuah klub NBA. Di Sacramento, ketiganya tak pernah kompak soal gedung baru sehingga berbuntut terancam pindahnya Kings ke kota lain. Berikut catatan lanjutan AZRUL ANANDA.
Di Indonesia, gedung olahraga yang memadai itu sama langkanya dengan jalan tol. Andai ada, kondisinya mungkin sudah terlalu tua atau tidak realistis untuk digunakan (terlalu besar, terlalu jauh, terlalu mahal, dan lain-lain).
Di Amerika, gedung olahraga bisa tumbuh bangun bak tanaman di taman rumah. Sudah umur 20 tahun? Waktunya diruntuhkan, bikin yang baru. Meski demikian, prosesnya tidaklah semudah yang kita bayangkan.
Masalah di Sacramento, ibukota negara bagian California, menunjukkan itu. Apa lagi di saat ekonomi sedang kurang enak seperti sekarang ini.
Rencana pindahnya Sacramento Kings, tim basket NBA dan satu-satunya tim profesional di kota tersebut, membuat banyak pihak begitu resah.
Terancam pindahnya tim tersebut ke Anaheim di kawasan Los Angeles bermula dari masalah gedung.
Tepatnya, pembangunan gedung baru yang lebih modern tak kunjung terealisasikan.
Sejak pindah ke Sacramento (dari Kansas City) pada 1985, Kings langsung mendapatkan hati di masyarakat kota tersebut. Pada 1988, mereka punya gedung baru, bernama Arco Arena. Terletak di sisi luar kota, gedung berkapasitas 17 ribuan penonton itu dibangun dengan biaya ’’hanya’’ USD 40 juta atau sekitar Rp 360 miliar (kurs saat ini).
Selama bertahun-tahun gedung tersebut menjadi gedung paling berisik di NBA. Hampir selalu sold out hingga awal 2000-an, ketika Kings berada di puncak popularitasnya. Belakangan, gedung itu jarang penuh. Selain prestasi Kings yang terus melorot, itu terjadi karena kondisi ekonomi yang memang sedang buruk.
Namun, sebelum jumlah penonton melorot, sudah ada rencana untuk membangun gedung baru di Sacramento. Dan gedung baru memang disebut ’’dibutuhkan’’ untuk meningkatkan profitabilitas Kings.
Pada 2006, ada rencana membangun gedung pengganti di downtown (pusat kota) Sacramento. Gedung itu ultramodern, dengan biaya hingga USD 600 juta atau lebih dari Rp 5 triliun. Dengan dibangun di tengah kota, suasana kota Sacramento bisa ’’dihidupkan’’ lagi.
Bila Arco Arena dibangun dengan dana pribadi, gedung baru tersebut rencananya dibangun dengan dana masyarakat. Caranya, menaikkan pajak penjualan(sales tax) sebanyak seperempat sen selama 15 tahun. Ketika dilakukan pemilihan, masyarakat menolak itu.
Gagal dengan gedung downtown, ada upaya membangun gedung baru di kawasan Cal Expo, tempat ekshibisi terbesar di Sacramento. Hingga kini, tak kunjung ada kejelasan tentang gedung baru itu.
Kabarnya, pemilik Kings (keluarga Maloof memilikinya sejak1999) juga berperan dalam ’’menggagalkan’’ berbagai rencana itu. Ketika gedung berniat dibangun, kabarnya mereka minta kebanyakan. Misalnya, meminta pihak mereka juga mendapatkan hak atas segala fasilitas di seputar gedung (restoran, parkir, dan lain-lain).
Benar atau tidak, yang jelas gedung tidak kunjung dibangun. Pemilik tim, pemerintah kota, dan masyarakat tak pernah “klik” bersama.
Buntutnya, Kings mencari-cari tempat baru yang lebih ’’enak’’ dan menguntungkan. Kansas City dan Seattle pernah disebut sebagai kandidat. Belakangan, yang tampak paling serius adalah Anaheim. Kota tempat Disneyland berada di kawasan Los Angeles.
Di sana ada Honda Center, yang pengelolanya memiliki tim hoki es Ducks dan gingin ada tim NBA ikut menggunakan fasilitasnya. Mereka juga siap memberikan pinjaman USD 100 juta bila Kings pindah ke Anaheim. Tawaran yang menggiurkan, yang cukup untuk membuat Kings serius berpikir pindah.
Honda Center itu tidaklah jauh lebih besar daripada Arco Arena. Namun, gedung itu lebih modern dan berada di lingkungan kota yang ekonominya lebih baik. Gedung itu dibangun pemerintah setempat, lalu ’’diserahkan’’ untuk dikelola swasta.
Banyak gedung NBA memang seperti itu. Dibangun pemerintah kota lewat dana masyarakat dan dikelola oleh tim yang menempati. Kota mendapat revenue dari segala pajak yang dihasilkan berbagai even di sana (termasuk pajak makanan dan lain-lain yang berkaitan dengan even). Sedangkan pemilik tim (NBA, misalnya) dapat revenue dari penjualan tiket plus sewa gedung untuk even-even lain.
Itu merupakan hubungan yang saling menguntungkan. Tanpa klub NBA (atau olahraga lain) sebagai tuan rumah, gedung menjadi lebih sulit mencari pemakai. Dengan adanya tim NBA, minimal puluhan malam dalam setahun sudah terisi untuk pertandingan tim tersebut.
Arco Arena, misalnya, setahun menyelenggarakan sekitar 200 even. Sebanyak 40-an adalah pertandingan Kings. Lainnya beragam, konser, rodeo, balap motocross, gulat, dan lain-lain.
Gerakan untuk Bertahan
Bagi ukuran NBA, Arco Arena mungkin yang paling kecil dan’’kuno’’. Tetapi, itu sudut pandang Amerika. Bagi kita yang di Indonesia, gedung itu jauh lebih dari memadai.
Ruang ganti pemain (locker) termasuk yang terbaik. Meskipun, mungkin ruang ganti untuk tim lawan termasuk yang terburuk. Masalah itu mudah diatasi dengan renovasi. Begitu pula berbagai fasilitas lain, bisa diatasi dengan renovasi. Yang tidak bisa direnovasi, rupanya, adalah jumlah suite (ruang nonton VIP) untuk pembeli corporate. Di Arco hanya ada sekitar 30, sedangkan arena NBA yang lain bisa punya hingga 100 suite.
Arco juga menghasilkan cukup banyak penghasilan untuk kota dan masyarakatnya. Menurut Wali Kota Kevin Johnson (All-Star NBA era 1990-an), gedung itu setahun menghasilkan pajak USD 1 juta dan menyediakan lapangan kerja untuk sekitar 1.000 orang, baik full time maupun part time.
Belum lagi sejarahnya. Arco merupakan tempat paling disegani pada awal 2000-an. ’’Ada banyak sejarah di sini, khususnya di hari-hari indah bersama Chris Webber, Vlade Divac, Mike Bibby, dan lain-lain,’’ kata Jason Thompson, salah seorang bintang muda Kings, lewat salah satu blog pendukung tim.
Hingga hari ini, para petinggi Kings tidak banyak berbicara. Pindah atau tidak, banyak yang bilang masih fifty-fifty. Dalam beberapa hari terakhir, gerakan-gerakan khusus telah dilakukan berbagai kelompok masyarakat untuk meminta Kings bertahan di Sacramento.
Glass Agency, sebuah perusahaan periklanan, meluncurkan kampanye billboard dan media lain. Mereka memasang beberapa billboard di sekeliling kota, bertulisan Game Over dengan bola basket gembos di tengahnya. Di bawahnya ada tulisan yang kurang lebih berbunyi: Kalau Kings pergi, kita semua rugi.
’’Ini tentang Sacramento dan daya tarik kota ini. Sayang kalau mereka pergi dan tidak ada yang berupaya mempertahankan mereka,’’ kata Amber Williams dari Glass Agency sebagaimana dikutip Sacramento Bee. ’’Kita tidak harus peduli basket untuk mengapresiasi betapa besarnya dampak tim profesional terhadap budaya dan relevansi kota secara nasional,’’ tambahnya.
Beberapa pengamat ekonomi juga mengatakan, perginya Kings akan memukul Sacramento cukup berat. ’’Tanpa sebuah tim profesional, kota ini akan masuk kategori kelas dua,’’ kata Matt Mahood, CEO Sacramento Metropolitan Chamber of Commerce (Kadin).
Sejumlah kelompok masyarakat juga melakukan gerakan Here We Stay. Target pertama, memenuhi Arco Arena dengan penonton yang berisik ala era awal 2000-an di setiap pertandingan Kings yang tersisa di kandang sendiri.
Laga home pertama dalam gerakan itu terjadi Senin, 28 Februari, ini atau Selasa pagi, 29 Februari, waktu Indonesia. Melawan Los Angeles Clippers dan bintang mudanya yang sedang meroket, Blake Griffin.
Para penggemar tidak hanya diminta untuk membeli tiket, tetapi juga mendonasikan uang untuk membelikan tiket bagi penggemar lain yang tidak mampu.
Logikanya, dengan terus memenuhi gedung, masyarakat menunjukkan dukungan penuh kepada Kings agar bertahan di Sacramento. Pendapat senada juga disampaikan Grant Napear, penyiar olahraga kondang Sacramento, lewat acara radionya di Sports 1140.
’’Hanya dengan memenuhi gedung kita memberikan dukungan secara sesungguhnya,’’ ucapnya.
Bagi saya pribadi, tentu saja saya berharap agar Kings tidak pindah ke mana-mana. Tim itu telah memberi saya banyak kenangan selama tinggal di Sacramento dan memberikan opsi hiburan ketika saya ’’pulang’’ ke Sacramento.
Hebat ya, gara-gara olahraga, kota –dan masyarakatnya– bisa gila…. (habis)

Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (3/3-Habis)

April 10, 2010 

Jadi Tamu VIP di Sacramento.
Bayar kursi paling mahal saat nonton NBA memang dapat banyak fasilitas. Tapi, juga harus mengikuti aturan paling banyak. Berikut catatan terakhir Azrul Ananda, wakil direktur Jawa Pos, yang baru kembali dari Amerika Serikat.

aza-kings-besar

Sebagai penggemar Sacramento Kings sejak pertengahan 1990-an, pengalaman nonton saya di Arco Arena seperti berkarir. Dulu waktu kuliah tidak punya banyak duit, jadi beberapa kali nonton paling murah. Bayar USD 8, dapat tiket berdiri di belakang kursi paling atas.

Sabtu pekan lalu (3/4), sebagai tamu VIP Sacramento Kings, akhirnya saya mendapatkan kesempatan duduk di kursi impian. Baris paling depan menonton Kings melawan Portland Trail Blazers.

Sewaktu tur ’’di balik layar’’ Arco Arena Sabtu siang itu, Scott Freshour, stage manager sekaligus MC pertandingan Kings, bilang bahwa pihaknya sudah menyiapkan kursi istimewa. Sewaktu berjalan di lapangan, dia menunjuk tempat di pojok lapangan, tempat saya akan duduk.

Di sana, ada pojok khusus yang diberi nama Carl’s Jr. Corner (Carl’s Jr. adalah sponsor, jaringan makanan cepat saji ala McDonald’s). Lokasi itu agak beda dengan kebanyakancourtside seat (tempat duduk di sisi lapangan). Kalau tempat lain itu tempat duduk biasa yang empuk dan berbalut ku lit, di tempat saya itu bentuknya sofa yang bisa berputar.

Sudah tempatnya di baris paling depan, duduknya di sofa lagi! Saya tidak enak mau tanya harga. Tapi, karena penasaran, sebelum pulang, saya mampir dulu ke ticket box Arco Arena. Jawabannya: USD 960 per kursi, atau hampir Rp 9 juta. Itu harga resmi. Kalau lagi heboh, bisa lebih tinggi (di kota lain yang lebih besar, bisa jauh lebih mahal).

***

Pertandingan malam itu dijadwalkan berlangsung mulai pukul 19.00. Saya dan keluarga diminta datang sejak pukul 17.30. Datang masuk lewat pintu VIP di salah satu sudut Arco Arena.

Sebagai pemegang tiket khusus, ada banyak fasilitas yang didapat. Ketika datang, langsung diantar menuju ruang makan VIP. Pilihan makanan tidak terlalu banyak, tapi tempatnya dikemas bak restoran mahal. Ada beberapa televisi pula untuk menonton pertandingan-pertandingan basket lain. Kebetulan, hari itu juga berlangsung Final Four NCAA, liga basket mahasiswa yang superheboh di AS.

Sekitar pukul 18.30, kami dipandu menuju sofa di pojok lapangan. Oleh Tom Vannucci, direktur kreatif departemen entertainment Kings, saya lantas diajak naik ke atas. Dia ingin menunjukkan kepada saya opening ceremony pertandingan dari atas, dari booth panitia yang mengatur segala lighting dan tampilan di layar lebar. Lumayan, bisa belajar lagi hal-hal di
balik layar pertandingan NBA!

Malam itu, Kings memang punya ceremony agak spesial. Kain putih raksasa dihamparkan menutupi lapangan. Lalu, dari atas ’’ditembakkan’’ video-video dan desain-desain atraktif Kings. Ketika nama pemain Kings dipanggil satu per satu, wajah mereka muncul bergantian di kain tersebut. Kata Vannucci, dia memakai kain sutra Tiongkok.

Setelah itu, saya diajak kembali ke sofa di pojok. Dan dipersilakan menikmati pertandingan seutuhnya.

Dasar orangnya suka penasaran, saya malah tidak menonton pertandingan. Malah asyik lihat kanan-kiri dan mengamati segala sesuatu yang terjadi di pinggir lapangan.

Dari sofa terdepan, aksi NBA memang terlihat lebih ’’besar’’. Pemain-pemain NBA terlihat ukuran aslinya. Tyreke Evans, point guard bintang Kings, selama ini hanya saya lihat lewat foto. Ternyata, dia memang besar untuk ukuran playmaker. Terlihat jelas kalau 198 cm dan tebal.

Fasilitas seru lain juga didapatkan di baris terdepan. Ada waiter yang selalu siap dipanggil, kalau kita haus atau ingin makan. Bukan hanya makanan dan minuman, pesan merchandisepun bisa dari mereka. Tidak perlu jalan ke arah stan-stan merchandise yang tersedia di sekeliling arena. Dia membawa kasir portable, jadi kita juga bisa membayar dengan kartu kredit di tempat itu juga.

Hanya, duduk di baris terdepan ternyata juga paling banyak aturannya. Selama menonton, kami sama sekali tidak boleh berdiri. Karena mengganggu yang menonton di belakang. Ketika mau keluar masuk, tidak sebebas penonton di kursi-kursi standar. Hanya bisa keluar masuk ketika ada stoppage di lapangan. Misalnya, saat time out atau hal-hal lain yang menghentikan aksi di lapangan.

Di baris paling depan itu, memang ada usher (pemandu) yang aktif dan cenderung galak. Mengingatkan kita untuk duduk, untuk tidak mengganggu penonton lain di belakang.

Mereka membawa sebuah ’’lollipop’’, ala yang dipakai petugas pit stop tim Formula 1, yang rajin mereka tunjukkan ke penonton yang sedang berlalu-lalang. Tulisannya berbunyi:’’Please wait here for a stoppage in play. THANK YOU’’ (Silakan tunggu di sini sampai ada perhentian dalam pertandingan. Terima kasih).

Lucunya, penonton courtside yang ingin kembali ke kursinya, selain diminta menunggustoppage di lapangan, juga diminta para usher itu untuk berjongkok di lorong-lorong di sela-sela kursi. Sebab, kalau berdiri, mereka akan membuat banyak orang di belakang marah.

Lucu kan? Sudah bayar paling mahal, harus mau berjongkok-jongkok ria sebelum duduk kembali di kursi mahalnya!

Sejumlah petugas keamanan juga aktif mengawal baris terdepan itu. Mereka punya kursi-kursi kecil tepat di belakang kursi courtside. Kalau sedang pertandingan, mereka duduk rapi menghadap ke lorong di sela-sela kursi tribun. Kalau sedang stoppage, mereka langsung berdiri mengamankan kursi-kursi terdepan itu.

Duduk di sofa paling depan juga mengasyikkan, karena bikin penonton lain penasaran. ’’Bagai mana kamu bisa dapat tempat duduk di sini?’’ tanya beberapa orang yang berjalan lewat di de pan saya.’’Beruntung,’’ jawab saya selalu.

***

Sebelum pertandingan, Maurice Brazelton, ’’sutradara’’ acara saat laga berlangsung, hendak memberi saya rundown acara yang harus saya ikuti. Saya sempat bengong. Buat apa saya ikut jadwal program? Belum sempat dia menunjukkan, Scott Freshour langsung menghalangi. “Biarkan itu nanti jadi kejutan,’’ ucapnya.

Wah, saya sempat bingung juga. Bakal disuruh apa ketika pertandingan nanti? Jangan-jangan disuruh jadi penonton yang ikut ’’kontes menari’’ di tengah lapangan.

Saat pertandingan berlangsung, dan Freshour melintas di depan saya, dia selalu menolehkan kepala dan menunjukkan senyum iseng. Saya pun bilang, ’’Apa pun yang akan kamu lakukan, pokoknya saya tidak mau menari,’’ kata saya. Dia hanya membalasnya dengan senyuman.

Untung, saya tak harus menari. Rupanya, Freshour sudah menyiapkan agar saya dan keluarga nampang di layar empat sisi yang menggantung di atas lapangan.

Saat salah satu sesi MC-nya, dia berlari ke pojok lapangan tempat saya duduk, lalu mengajak semua penonton bersorak. Dia lantas mengarahkan rekannya untuk mengarahkan kamera ke arah kami, dan meminta kami untuk bersorak-sorak dan menunjukkan dukungan kepada Kings untuk ditampilkan di layar empat
sisi tersebut.

Kalau ini sih nggak apa-apa. Saya dan semua penonton di sekitar pun tinggal bertingkah gila saja dan meneriakkan kata-kata dukungan seperti ’’Go Kings!’’ Silakan bilang saya norak. Tapi, rasanya senang juga wajah bisa terpampang di layar besar. Kata Freshour, tayangan itu mungkin juga nongol di siaran langsung pertandingan.

***

Sebelum pertandingan, saya sebenarnya sempat berencana dipertemukan dengan Tyreke Evans, bintang utama Kings saat ini. Hanya, Evans sempat menetapkan kondisi. Kalau Kings menang, dia mau bertemu. Kalau kalah, dia tak ingin bertemu siapa-siapa.

Malam itu pun tidak berakhir terlalu indah. Kings kalah 87-98. Sebenarnya, malam itu Kings juga tidak dijagokan menang. Trail Blazers merupakan tim pa pan atas, bersiap menuju babak playoff. Tim itu juga calon dinasti masa depan.

Karena Kings kalah, keinginan bertemu Evans pun tertunda dulu. Karena keesokannya (Minggu pa gi, 4/4) saya sudah harus kembali ke San Francisco untuk terbang pulang ke Indonesia, akhir pekan lalu benar-benar sudah tidak ada kesempatan untuk bertemu Evans.

Tapi, tidak apa-apa. Masih ada hari esok. Hubungan yang baik bukanlah untuk sesaat. Kapan saja saya dan teman-teman DBL Indonesia (penyelenggara Development Basketball League 2010 dan Indonesian Basketball League) datang, teman-teman di Kings selalu siap menjamu. Dan sebagai balasan, saya bilang kami di Indonesia siap menerima kapan saja tim Kings ingin berkunjung.

Kabar baik lain: Meski tidak bisa bertemu, jersey bertanda tangan Evans akan dikirimkan via pos ke Indonesia.

Terima kasih Maloof Sports & Entertainment sebagai pemilik Sacramento Kings. Sampai jumpa lagi di kesempatan yang berikutnya!

(habis)

sumber : http://www.jpnn.com