Diberi Nama Panda, tapi Bukan dari Tiongkok

07 March, 2012

 
 

BAMBU: Frame MTB buatan Boo Bicycles. Bagian down-tube-nya diperkuat lagi dengan anyaman karbon.

Geleng-geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (4-Habis)

Boo sebenarnya punya beberapa model yang bisa dipilih. Tapi, mereka siap membuat sepeda dengan spesifikasi yang sesuai dengan keinginan konsumen. Sebuah frame balap dengan geometri custom dihargai hampir USD 4.000 (sekitar Rp36 juta). Total sepeda bisa dengan mudah mencapai Rp100 juta.

AZRUL ANANDA, Sacramento

Frey lantas mempromosikan keunggulan lain sepeda berbahan bambu kombinasi karbon: safety. “Ada pemilik sepeda Boo yang bertabrakan langsung dengan mobil. Sepedanya tidak patah. Beda dengan sepeda karbon, yang kalau retak sedikit saja sudah tidak bisa dipakai,” tutur dia.

Karena sepeda itu hanya dibuat Wolf dan asistennya, mereka yang berminat harus bersabar. Ketika pesan sepeda custom, saya harus memenuhi beberapa permintaan dari Boo. Misalnya, mengukur lebih pasti badan sendiri. Panjang lengan kaki, dan lain-lain. Lalu, mereka meminta saya mengirimkan geometri sepeda yang paling saya suka saat ini. Ada beberapa ukuran dimensi yang mereka minta untuk nanti diaplikasikan ke frame Boo yang dibuat.

Kita juga bisa mengirim foto sepeda yang kita miliki, lalu lewat program simulasi komputer Frey bisa menganalisisnya dan menawarkan solusi-solusi perubahan bila dibutuhkan.

Proses itu saja bisa memakan waktu cukup lama. Begitu semua dimensi dan spesifikasi disepakati, baru Wolf bekerja. Kalau sedang inden ringan, dibutuhkan waktu hingga delapan minggu (dua bulan) untuk pembuatan. Kalau sedang padat, bisa lebih dari itu.

Penggemar MTB juga bisa pesan Boo khusus. Sekarang, Frey dan Wolf bereksperimen dengan frame MTB baru yang lebih kukuh. Bagian downtube-nya (pipa diagonal panjang di bawah) dibalut dengan anyaman karbon. Dengan demikian, sepeda itu bisa lebih dikasari lagi saat dipancal di arena off-road.
Wolf menandatangani semua frame yang dibuatnya. Juga menomori semua frame dengan tulisan tangan. Jadi, kelak sepeda itu bisa jadi bahan koleksi yang dapat dilacak dan dicatat sejarahnya.

 

Sekali lagi, Boo bukan satu-satunya produsen sepeda berbahan bambu di NAHBS 2012. Calfee Design juga memamerkan sebuah sepeda tandem dari bambu. Selain itu, ada Panda Bicycles yang habis-habisan mempromosikan sepeda “yang ditumbuhkan” tersebut.
Namanya boleh Panda, tapi perusahaan itu tidak berasal dari Tiongkok. Malah perusahaan tersebut berasal dari kota yang sama dengan Boo, yaitu Fort Collins, Colorado.

Tapi, Panda fokus ke aliran yang sangat beda dengan Boo. Kalau Boo memburu performa, Panda mengutamakan style. “Sepeda kami dibuat sebagai sepeda lifestyle,” kata Rebecca Dodge, koordinator penjualan Panda yang hadir di Sacramento.

Berbeda juga dengan Boo, Panda mendapatkan bambunya dari Yucatan Peninsula di selatan Meksiko. Pipa-pipa bambu tersebut lantas digabung dengan menggunakan penyambung dari steel (baja). Kombinasi itu mungkin bukan yang paling ringan atau paling kaku, tapi Panda mengklaimnya sebagai kombinasi paling nyaman untuk pengendara.

Harga Panda tidak murah. Yang paling bawah di kisaran USD 2.000 atau Rp18 juta. Yang tertinggi bisa di atas USD 3.500 atau Rp31,5 juta.
Dengan begitu banyaknya bahan bambu dipamerkan di NAHBS 2012 dan begitu banyaknya perhatian yang didapat, jangan heran kalau bahan itu bakal makin ngetren dalam tahun-tahun ke depan. Apalagi kalau performanya terbukti bisa setara dengan karbon. Itu bisa sesuai dengan tema lingkungan, yang makin tahun tampaknya makin diutamakan orang.

Kita tunggu saja di NAHBS tahun depan atau di pameran-pameran sepeda kelas dunia lain setelah ini. Siapa tahu bambu benar-benar makin populer. Atau, siapa tahu ada bahan lain yang tiba-tiba mencuri perhatian! (*)

Read more: http://www.jpnn.com

Advertisements

Butuh 50 Jam untuk Bikin Frame Bambu Berlilit Karbon

06 March, 2012

BAMBU UNTUK LIFESTYLE: Booth Panda asal Colorado menampilkan sepeda bambu yang stylish untuk kebutuhan dalam kota dan santai.

Geleng-Geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (3)

Sepeda dari bahan alternatif banyak mewarnai North American Handmade Bicycle Show 2012 yang berakhir Minggu lalu (4/3). Bahan bambu termasuk paling populer. Berikut catatan AZRUL ANANDA dari Sacramento.

Bambu untuk sepeda high performance. Kalau digarap sangat serius dan terus mendapat perhatian seperti sekarang, bisa jadi bahan alami itu menyalip karbon sebagai bahan utama sepeda high-end.

Di Sacramento Convention Center, tempat diselenggarakannya North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2012, sepeda berbahan bambu bertebaran di mana-mana. Bahkan, ketika baru masuk area pameran, sebuah booth sepeda bambu langsung menyedot perhatian pengunjung. Stan itu milik Boo Bicycles, perusahaan dari Fort Collins, Negara Bagian Colorado.

Paling tidak, stan Boo itu yang langsung menyedot perhatian saya pribadi. Belakangan, saya sering membaca artikel majalah maupun online tentang sepedan

bambu buatan Boo itu. Sebab, mereka membuat sepeda bukan untuk barang seni atau antik, melainkan barang high performance yang bisa diajak balapan dan mengalahkan sepeda-sepeda high-end dari karbon!

Di stan itu, saya pun langsung bertemu dengan orang-orang di balik Boo. Pertama adalah Nick Frey, sang pemilik perusahaan. Dia langsung membuat saya sangat terkesan. Usianya baru 25 tahun, memiliki kombinasi otak sangat pintar serta kemampuan fisik dan mental tangguh.

Sebagai atlet, dia tak perlu diragukan kemampuannya. Dia adalah juara nasional time trial di Amerika Serikat saat berusia di bawah 23 tahun. Dia punya kontrak profesional dan ikut sejumlah event kelas dunia di Amerika maupun Eropa.

Pintar? Sangat! Walau bisa punya karir sebagai pembalap profesional, Frey memilih fokus ke studi. Tidak tanggung-tanggung, dia belajar mechanical engineering di kampus elite, Princeton University. Ketika lulus pada 2009, dia sudah mendirikan Boo.

Filosofi Boo adalah mengombinasikan kenyamanan dan performa. Sesuatu yang sangat mungkin dilakukan dengan memakai bahan bambu yang dikombinasikan dengan karbon. Kalau hanya bamboo, tidak cukup. Kalau hanya karbon, tidak cukup. Bahan lain pun disebut tidak cukup.

Untuk mewujudkan target itu, Frey bekerja sama dengan James Wolf yang akhir pekan lalu ikut hadir di Sacramento. Wolf itulah yang memproduksi sepeda-sepeda Boo. Dia adalah seorang pakar industrial design yang sudah 15 tahun berkutat dengan bahan bambu. Wolf tinggal di Vietnam, tempat bambu ditanam dan sepeda dibuat. Dia mengerjakan semua sepeda sendirian. “Dengan bantuan dua asisten,” aku Wolf.

Sekali lagi, Boo adalah sepeda yang didesain untuk high performance, untuk balapan. Inspirasinya, tutur Frey, berasal dari sepeda bambu buatan Craig Calfee (pionir sepeda karbon). Tapi, cara Boo menggarapnya beda. Bambu yang dipilih harus dari spesies khusus dan diproses dengan cara khusus. “Bambu itu hanya ditanam dalam dua pekan dalam setahun,” tutur Frey.

Wolf menambahkan, “Butuh 3,5 tahun sebelum bambu itu bisa dipakai untuk dijadikan sepeda. Kadar gulanya harus sangat rendah, lalu disiapkan dengan berbagai proses industri untuk mengatur tingkat kelembapan dan ketahanannya. Tidak semua spesies bambu bisa dibuat seperti itu.”

Di bagian-bagian sambungan, frame bambu disambung dengan memakai balutan karbon. Berbeda dengan kebanyakan sepeda bambu kombinasi karbon, Boo tidak menyambung pipa-pipa bambu dengan memakai penghubung karbon. Pada sepeda Boo, pipa-pipa bambu itu disatukan dengan cara membalut bagian sambungan menggunakan karbon. Hasilnya pun jauh lebih mulus. Seolah-olah bambu dan karbonnya menyatu.
?Butuh sekitar 50 jam kerja untuk menyelesaikan satu frame,” ungkap Wolf.

Begitu selesai, frame bambu itu ‘road bike, fixie, maupun MTB’ bisa dipadu dengan komponen macam-macam. Contoh, road bike yang dipajang di NAHBS memakai groupset Shimano Ultegra Di2 dengan sistem perpindahan gigi elektronik (banyak yang memakai itu di NAHBS). Agar sangat rapi, semua kabel-kabel groupset dan rem bisa disembunyikan di dalam frame. Lebih rapi daripada kebanyakan sepeda karbon high-end.

Berat? Frey menegaskan bahwa sepeda bambu-karbonnya punya bobot setara dengan sepeda-sepeda karbon papan atas. Sepeda yang dia pamerkan, misalnya, punya bobot total tak sampai 15 pound alias tak sampai 7 kilogram. “Saya sedang membuat road bike bambu lagi yang bobotnya hanya 13 pound (tak sampai 6 kilogram, Red),” ujarnya.

Boo sebenarnya punya beberapa model yang bisa dipilih. Tapi, mereka siap membuat sepeda dengan spesifikasi yang sesuai dengan keinginan konsumen. Sebuah frame balap dengan geometri custom dihargai hampir USD 4.000 (sekitar Rp36 juta). Total sepeda bisa dengan mudah mencapai Rp100 juta.
Frey lantas mempromosikan keunggulan lain sepeda berbahan bambu kombinasi karbon: safety. “Ada pemilik sepeda Boo yang bertabrakan langsung dengan mobil. Sepedanya tidak patah. Beda dengan sepeda karbon, yang kalau retak sedikit saja sudah tidak bisa dipakai,” tutur dia.

Karena sepeda itu hanya dibuat Wolf dan asistennya, mereka yang berminat harus bersabar. Ketika pesan sepeda custom, saya harus memenuhi beberapa permintaan dari Boo. Misalnya, mengukur lebih pasti badan sendiri. Panjang lengan, kaki, dan lain-lain. Lalu, mereka meminta saya mengirimkan geometri sepeda yang paling saya suka saat ini. Ada beberapa ukuran dimensi yang mereka minta untuk nanti diaplikasikan ke frame Boo yang dibuat.

Kita juga bisa mengirim foto sepeda yang kita miliki, lalu lewat program simulasi komputer Frey bisa menganalisisnya dan menawarkan solusi-solusi perubahan bila dibutuhkan.

Proses itu saja bisa memakan waktu cukup lama. Begitu semua dimensi dan spesifikasi disepakati, baru Wolf bekerja. Kalau sedang inden ringan, dibutuhkan waktu hingga delapan minggu (dua bulan) untuk pembuatan. Kalau sedang padat, bisa lebih dari itu.
Penggemar MTB juga bisa pesan Boo khusus. Sekarang, Frey dan Wolf bereksperimen dengan frame MTB baru yang lebih kukuh. Bagian downtube-nya (pipa diagonal panjang di bawah) dibalut dengan anyaman karbon. Dengan demikian, sepeda itu bisa lebih dikasari lagi saat dipancal di arena off-road.
Wolf menandatangani semua frame yang dibuatnya. Juga menomori semua frame dengan tulisan tangan. Jadi, kelak sepeda itu bisa jadi bahan koleksi yang dapat dilacak dan dicatat sejarahnya.

Sekali lagi, Boo bukan satu-satunya produsen sepeda berbahan bambu di NAHBS 2012. Calfee Design juga memamerkan sebuah sepeda tandem dari bambu. Selain itu, ada Panda Bicycles yang habis-habisan mempromosikan sepeda “yang ditumbuhkan” tersebut.

Namanya boleh Panda, tapi perusahaan itu tidak berasal dari Tiongkok. Malah perusahaan tersebut berasal dari kota yang sama dengan Boo, yaitu Fort Collins, Colorado.

Tapi, Panda fokus ke aliran yang sangat beda dengan Boo. Kalau Boo memburu performa, Panda mengutamakan style. “Sepeda kami dibuat sebagai sepeda lifestyle,” kata Rebecca Dodge, koordinator penjualan Panda yang hadir di Sacramento.

Berbeda juga dengan Boo, Panda mendapatkan bambunya dari Yucatan Peninsula di selatan Meksiko. Pipa-pipa bambu tersebut lantas digabung dengan menggunakan penyambung dari steel (baja). Kombinasi itu mungkin bukan yang paling ringan atau paling kaku, tapi Panda mengklaimnya sebagai kombinasi paling nyaman untuk pengendara.

Harga Panda tidak murah. Yang paling bawah di kisaran USD 2.000 atau Rp18 juta. Yang tertinggi bisa di atas USD 3.500 atau Rp31,5 juta.
Dengan begitu banyaknya bahan bambu dipamerkan di NAHBS 2012 dan begitu banyaknya perhatian yang didapat, jangan heran kalau bahan itu bakal makin ngetren dalam tahun-tahun ke depan. Apalagi kalau performanya terbukti bisa setara dengan karbon. Itu bisa sesuai dengan tema lingkungan, yang makin tahun tampaknya makin diutamakan orang.

Kita tunggu saja di NAHBS tahun depan atau di pameran-pameran sepeda kelas dunia lain setelah ini. Siapa tahu bambu benar-benar makin populer. Atau, siapa tahu ada bahan lain yang tiba-tiba mencuri perhatian! (*)

Read more: http://www.jpnn.com

Sepeda Tandem Rp130 Juta, Sepeda TT Kayu Rp80 Juta

05 March, 2012

SEPEDA KAYU HIGH PERFORMANCE: Ken Wheeler (tengah), pendiri Renovo Hardwood Bicycles, menjelaskan kepada pengunjung tentang keunggulan sepeda balapnya yang terbuat dari kayu, yang mampu menyaingi performa sepeda-sepeda karbon. AZRUL ANANDA/JAWA POS)

Geleng-geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (2)

Para dewa sepeda menemui para penggemar di North American Handmade Bicycle Show 2012 di Sacramento. Tapi, tentu saja yang paling dipelototi adalah karya-karya mereka yang luar biasa.

AZRUL ANANDA, Sacramento

Lebih dari 170 peserta tampil di North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2012 di Sacramento Convention Center, 2?4 Maret lalu. Masing-masing membawa karya terbaik, menyuguhkan ribuan sepeda yang berebut perhatian para pengunjung.

Kebanyakan sepeda yang dipamerkan masuk kategori road bike atau city bike. Termasuk varian atau pengembangan dari setiap kategori tersebut. Ada beberapa varian MTB (mountain bike), namun jumlahnya mungkin hanya sepuluh persen dari total sepeda yang dipamerkan.

Karena ini sifatnya sepeda handmade, yang juga bisa diartikan sepeda karya seniman, varian antik dan eksotis lebih dominan.
Yang mencengangkan, ada sangat banyak sepeda tandem yang dipamerkan di NAHBS 2012. Baik dari bahan steel, aluminium, titanium, karbon, bahkan magnesium.

Nah, sepeda tandem yang magnesium itu merupakan yang paling sering diangkat-angkat oleh pengunjung. Semua ingin membuktikan klaim bahwa itu  adalah sepeda tandem paling ringan. Sepeda itu bermerek Paketa, buatan tangan James Peter (JP) Burow asal negara bagian Colorado.

Seperti di stan-stan lain NAHBS, sang pembuat sendiri yang menunggui sepeda dan melayani para pengunjung. Ketika melihat peminat ragu-ragu ingin memegang sepeda Paketa, Burow secara proaktif mengajak mereka untuk mencoba langsung karya ajaibnya itu. Dia menantang pengunjung untuk mengangkat sepeda tandem itu dengan hanya satu tangan!

“Ayo angkat, ini dari magnesium. Beratnya hanya 23 pound (sekitar 10,5 kilogram, Red),” katanya berkali-kali.

Melihat ukuran sepeda yang cukup panjang, kita punya ekspektasi bobot tertentu. Ketika diangkat, wow! Sepeda itu jadi terasa amat ringan. Padahal, sepeda ini dilengkapi dengan groupset Shimano Ultegra Di2, pemindah gigi elektrik yang cenderung lebih berat daripada sistem manual.

“Tidak ada metal yang punya rasio kekuatan dan keringanan setinggi magnesium,” ujar Burow. “Dengan bahan ini, kita bisa membuat pipa frame sepuluh persen lebih besar, tapi dengan bobot 20 persen lebih ringan daripada aluminium,” tandasnya.

Overall, jelasnya, magnesium itu 34 persen lebih ringan daripada aluminium dan 50 persen lebih ringan daripada titanium. Bonusnya, magnesium disebut meredam getaran hingga sepuluh kali lebih baik daripada metal-metal lain. Dengan begitu, sepeda magnesium terasa lebih nyaman untuk jarak jauh.

Jika dibandingkan dengan karbon, magnesium juga lebih enteng di kantong kalau terjadi tabrakan. Bahan ini akan bengkok dan bisa diluruskan kembali seperti aluminium. Tidak seperti karbon, yang jatuh sedikit saja bisa retak atau patah dan harus dibuang!

Hanya harganya yang mungkin kurang nyaman. “Yang ini USD 14 ribu,” kata Burow. Kalau dikurskan, itu hampir Rp130 juta.

Kayu Tahan Banting

Booth lain yang menampilkan sepeda ‘ajaib’ adalah milik Renovo. Semua sepeda yang dipajang di situ terbuat dari kayu. Mulai road bike biasa, sepeda time trial yang eksotik, sampai MTB untuk jumping-jumping naik-turun gunung!

Ken Wheeler, pendiri Renovo sekaligus pembuat sepeda, mengakui bahwa bahan kayu memang tidak seringan karbon atau metal ringan. “Rata-rata, sepeda kayu kami sekitar dua pound (hampir satu kilogram, Red) lebih berat daripada sepeda setipe dari bahan karbon,” ungkap pria asal Oregon yang juga punya reputasi hebat sebagai pembuat pesawat dari kayu.

Namun, Wheeler menegaskan bahwa ekstrabobot itu tidaklah signifikan. Sepedanya dibuat dari kombinasi kayu-kayu keras. Dia tidak mau menyebut detail jenis apa saja  karena paten kombinasinya sedang diproses. Salah satu bahan utama yang dia sebut adalah kayu walnut.

Seperti sejumlah sepeda karbon, frame dibuat dari dua belahan. Sisi kanan dan kiri di-bonding (lem) menjadi satu. Kemudian diberi lapisan khusus dan dipoles. Dengan demikian, bagian dalam frame juga hollow (ada rongga) ala tabung aluminum atau karbon.

Hanya sedikit lebih berat, Wheeler lantas menegaskan karyanya punya kualitas-kualitas lain yang bisa dipandang lebih atraktif daripada  karbon.
Pertama, sepeda kayunya adalah yang paling nyaman. Dia pede pemakai akan langsung merasakan kenyamanan itu saat pertama menunggangi sebuah Renovo. Tingkat kekakuannya (stiffness) juga diklaim tidak kalah daripada karbon. Bahkan bisa lebih kaku.

Kekuatan juga digaransi. Sepeda Renovo pernah ikut lomba-lomba triatlon dan MTB bergengsi. “Beda dengan karbon yang patah, sepeda kayu bisa dipoles lagi jadi seperti baru bila terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Yang paling diunggulkan oleh Wheeler: Sepedanya bisa memiliki nilai seni atau kolektabilitas tinggi ala furniture antik. Seratus tahun lagi, sepeda ini bisa kembali dipoles sehingga kembali terlihat baru. Jangan khawatir jadi lapuk karena kayunya sudah diproses secara khusus. Jadi, umurnya bisa mengalahkan umur pemiliknya!

Wheeler menggarap sepedanya ini bersama 30-an orang stafnya di Portland, Oregon. Ada beberapa model yang bisa dipilih. Untuk road bike, ada tiga level. Seri R1 adalah yang termurah, sekitar USD 2.000 (Rp18 juta) untuk frame saja. Lalu,  seri R3 di atas USD 3.000. Bentuk keduanya, sekilas, mirip frame merek Cipollini asal Italia.

Mau yang lebih mahal? Ada jenis R4, berbentuk seperti sepeda Carrera, seharga USD 3.500 untuk frame saja.
Yang paling eye-catching? Sepeda triatlon atau TT (time trial) bernama Hoodoo. Sepeda ini pernah ikut kejuaraan dunia triatlon di Hawaii pada 2010. Harganya sekitar USD 3.800 untuk frame saja.

Bagi penggemar MTB, ada Badash 29er. Memakai ban berdiameter besar yang kini sedang naik daun di Amerika.
Semua sepeda ini bisa dipesan dengan geometri khusus, disesuaikan bentuk butuh pembeli. Juga bisa dilengkapi dengan komponen pilihan pembeli. Mau pakai groupset Shimano? Bisa. Pakai SRAM atau Campagnolo juga bisa.

Harga full bike pun menjadi sangat bervariasi. Sepeda Hoodoo yang dipajang di Sacramento Convention Center dilengkapi dengan wheelset merek Zipp dari karbon. Harganya USD 8.500 (hampir Rp80 juta, Red).

Melihat begitu banyak pilihan sepeda, dengan kualitas karya seni dan harga yang sebenarnya tidak gila-gilaan (sepeda ratusan juta rupiah sudah sangat umum berkeliaran di jalanan Indonesia), tentu penggemar sepeda  jadi superpusing: Mau beli yang mana ya? (bersambung)
Sumber: http://www.jpnn.com

Para Dewa Sepeda Jaga Sendiri Stan dan Layani Pengunjung

04 March, 2012

Geleng-geleng Lihat Pameran Bicycle Paling Nyentrik di Amerika (1)

Di antara berbagai pameran sepeda kelas dunia, yang paling seru dan nyentrik mungkin adalah North American Handmade Bicycle Show (NAHBS). Berikut catatan wartawan Jawa Pos (grup Sumut Pos) AZRUL ANANDA yang akhir pekan ini menikmati ajang tahunan itu di Sacramento, California.
Jadwal liburan saya di California pekan ini benar-benar pas untuk “setengah kerja”. Setelah bersama keluarga jalan-jalan di Los Angeles, kami menuju Sacramento, ibu kota negara bagian tersebut. Selain bernostalgia menikmati tempat saya kuliah belasan tahun lalu ada beberapa event seru yang bisa menambah keasyikan suasana.

Setelah sempat menonton pertandingan basket NBA antara Sacramento Kings melawan tim yang sedang naik daun, Los Angeles Clippers, saya juga sempat menikmati pameran sepeda superseru. Bahkan, disebut-sebut sebagai salah satu yang paling seru di dunia.

Bagi seseorang “saya” yang belum setahun ini menjadi penikmat sport sepeda, pameran itu menjadi ajang belajar yang luar biasa asyiknya. Dengan semangat, saya bersama teman dan keluarga pun menuju Sacramento Convention Center, Jumat lalu (2/3, kemarin WIB), untuk menikmati pameran tersebut.

Pameran itu, North American Handmade Bicycle Show (NAHBS) 2012, diselenggarakan selama tiga hari pada akhir pekan ini (2-4 Maret).
Mungkin, tidak banyak yang familier dengan NAHBS. Padahal, ajang tersebut sudah delapan tahun diselenggarakan di Amerika. Sesuai namanya, itu merupakan pameran sepeda-sepeda khusus, bukan sepeda “industri” yang bisa dengan mudah kita beli di toko.

Meski namanya mengandung kata-kata “North American”, tidak berarti itu adalah event regional. Total ada 172 peserta pameran, mewakili sejumlah negara. Selain AS, ada yang berasal dari Kanada, Prancis, Italia, Inggris Raya, Jepang, Denmark, Republik Ceko, dan lain-lain.
Kebanyakan, tentu saja, adalah dari Amerika. Kebanyakan di antara mereka berasal dari dua negara bagian “ibu kota sepeda” di Amerika, yaitu Oregon dan Colorado.

Pengunjungnya sendiri (ditaksir berkisar 10 ribu orang selama tiga hari) berasal dari berbagai penjuru dunia. Ratusan perwakilan media dari berbagai penjuru dunia ikut meliput ajang tersebut.

Mengunjungi NAHBS 2012, tentu kita bisa berasumsi bahwa bintang utamanya adalah sepeda-sepeda yang ditampilkan. Setelah keliling kawasan pameran, mungkin asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Bintang utama ajang tersebut mungkin adalah para pemilik merek/pembuat sepeda, yang dengan sabar dan antusias menemui langsung para pengunjung/penggemar.

Bayangkan, kita tidak hanya bisa melihat sepeda-sepeda keren. Kita juga bisa bicara langsung dengan orang-orang yang membuatnya! Termasuk di antaranya nama-nama kondang/dewa-dewa sepeda seperti Craig Calfee, Ira Ryan, Tony Pereira, dan Tom Ritchey.

Perlu ditegaskan, nama pameran itu mengandung kata “handmade”. Jadi, mayoritas peserta pameran adalah pembuat-pembuat sepeda tersebut. Ya, ada beberapa merek besar dunia yang ikut berpameran. Misalnya, Shimano, Mavic, Fulcrum, Easton, Schwalbe, dan Brompton. Tapi, mayoritas adalah “rumah-rumah produsen sepeda”.

Salah satu booth paling populer adalah milik Calfee Design. Penggemar berat sepeda tentu familier dengan nama “Calfee”. Itu adalah nama Craig Calfee, sang legenda produsen sepeda.

Pada akhir 1980-an, Calfee merupakan pionir produsen road bike berbahan karbon. Pada 1991, sepeda buatannya merupakan sepeda karbon pertama yang berpartisipasi di Tour de France. Pengendaranya: Sang legenda Greg LeMond!

Di Sacramento, Calfee sendiri yang menjaga booth sepedanya, dibantu beberapa staf. Calfee sendiri pula yang menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung/penggemar. Salah satu karyanya yang paling diminati di Sacramento adalah road bike high performance bernama Dragonfly Pro.
Tapi, karya paling personal yang dia pamerkan adalah sebuah sepeda tandem pribadi. Berbeda dari kebanyakan tandem, sepeda yang itu menempatkan “pengendara ekstra” di depan, tidak di belakang. Tempat duduk dan setir yang di depan itu juga lebih kecil serta pendek.

Usut punya usut, sepeda tandem karbon tersebut ternyata merupakan alat untuk menularkan “gila sepeda” kepada sang anak. “Ini sepeda yang saya pakai untuk berkendara bersama anak saya yang masih berusia lima tahun. Meski dia di depan, saya bisa memancal dan mengendalikannya dari belakang,” ungkap Calfee.

Ditanya soal harga, Calfee mengaku tidak tahu pasti. “Karena ini sepeda pribadi, saya tak pernah menghitung berapa harganya,” ucapnya lantas tersenyum.

Mengingat harga sepeda balap karya Calfee bisa dengan mudah di atas USD 10 ribu (hampir Rp100 juta), kita anggap saja harga sepeda tandem itu di kisaran angka yang sama. Apalagi, sepeda tersebut dilengkapi komponen-komponen high end. Termasuk, groupset yang dilengkapi electronic shifting buatan Shimano.

Booth lain yang menampilkan langsung dewa sepeda terletak bersebelahan. Yaitu, Ira Ryan dan Tony Pereira, keduanya asal Portland, Oregon. Sendiri-sendiri, keduanya punya nama besar. Untuk pesan sepeda dari mereka, bisa butuh waktu berbulan-bulan. Nah, sekarang, mereka superkondang gara-gara road bike/touring karya kolaborasi bernama Rapha Continental.

Mau pesan? Harganya tidak gila-gilaan. Di kisaran USD 6.000. Tapi, karena Ryan dan Pereira sendiri yang membuatnya, setiap pesanan bisa butuh waktu enam bulan untuk dipenuhi.

Salah satu Rapha Continental itu kini sedang dalam proses pembuatan, pesanan seorang kolektor/penghobi sepeda di Jakarta!
“Pemesan sepeda kami datang dari berbagai penjuru dunia. Sering kami tak pernah bertemu langsung dengan mereka. Hanya berkomunikasi via telepon atau e-mail,” ungkap Ryan.

Untuk bicara dengan semua dewa sepeda, jelas sehari saja tidak cukup. Apalagi untuk mengamati secara teliti semua sepeda yang ditampilkan. Sebab, semuanya bisa bikin kita terus geleng-geleng kepala” (bersambung)

Sumber: http://www.jpnn.com