Seminggu Cuti untuk 24 Jam Urusi Anak-Anak DBL All-Star

nblindonesia.com – 10/11/2010

Totalitas People-to-People ala Seattle-Surabaya Sister City Association

AnggotaSSSCA

Sekelompok relawan bekerja habis-habisan membantu kunjungan tim basket SMA DBL Indonesia All-Star 2010 di Amerika, 31 Oktober- 8 No vember lalu. Mereka anggota Seattle-Surabaya Sister City Association (SSSCA).

Berikut catatan AZRUL ANANDA dan M. AZIZ HASIBUAN tentang organisasi nonprofi t itu.

Mengirimkan kumpulan pemain basket SMA terbaik Indonesia ke Amerika Serikat mungkin mudah. Asal punya duit, tinggal urus visa, beli tiket, dan pergi.

Mengirimkan tim basket dan memberi mereka program yang sangat komprehensif bukanlah hal mudah. Seperti kunjungan tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 di Seattle, 31 Oktober hingga 8 November lalu.

Bukan hanya berlatih dan bertanding di Seattle, mereka juga dapat akses istimewa dari sejumlah perusahaan besar dan ikut masuk kelas di sejumlah SMA. Ini sesuai dengan misi program: Belajar dan bertanding di Amerika untuk para student athlete pilihan DBL dari berbagai penjuru Indonesia.

Bisa dibilang, perencanaannya dimulai lebih dari setahun. Karena ini program perdana, butuh ketekunan dan kesabaran untuk menyusun detail program selama sepekan.

Yang pasti, kunjungan rombongan student athlete ini butuh dukungan besar dari banyak pihak. Pihak Konsulat Jenderal AS di Surabaya telah memberikan support maksimal untuk memastikan visa rombongan –total 43 orang– selesai tanpa masalah. Bahkan, konsulat telah membantu mendapatkan funding tambahan untuk biaya penginapan selama di Seattle.

Penerbangan pun mendapat support khusus dari EVA Air, serta dukungan tanpa henti para brand pendukung DBL 2010: Honda, Flexi, Zee, Biore, Relaxa, Powerade Isotonik, League, dan Proteam.

Namun, segala program ini mungkin tidak akan terwujud begitu istimewa tanpa tuan rumah yang total. Mereka bukan hanya berhasil menyiapkan program begitu komplet, tapi juga menemani setiap menit kunjungan rombongan dari Indonesia.

Tuan rumah itu adalah Seattle-Surabaya Sister City Association (SSSCA). Organisasi nonprofit itu terdiri atas sekelompok relawan, yaitu warga Indonesia yang ada di Seattle. Yang juga menarik, mereka datang dari berbagai wilayah dan latar belakang di Indonesia. Hanya satu-dua berasal dari Surabaya.

Merekalah yang menjadi ”mami-mami dan mas-mas” bagi anak-anak DBL Indonesia All-Star 2010 (yang juga hanya punya satu pemain asal Surabaya. Yang lain dari berbagai penjuru Indonesia).

***

SSSCA benar-benar menjadi keluarga baru bagi DBL Indonesia All-Star 2010. Para personel organisasi yang berdiri pada 1992 tersebut memang memberikan konsentrasi khusus kepada kegiatan DBL Indonesia All-Star.”Waktu kali pertama diperkenalkan dengan DBL, nonton video-videonya, saya langsung bilang ke teman-teman, ini harus ditekadkan agar terlaksana,” ungkap Michael Atmoko, 33, presiden SSSCA yang dulu besar di Surabaya.

Perkenalan langsung itu terjadi kira-kira setahun lalu. Michael –konsultan sebuah department store ternama di Indonesia– mengunjungi kantor Jawa Pos dan DBL Indonesia di Graha Pena Surabaya.

Sejak itu, tim SSSCA bekerja (sangat) keras untuk mewujudkan kunjungan pertama DBL All-Star ke Amerika Serikat. Mulai mengatur transportasi, makanan, tempat tinggal, sampai kunjungan ke sejumlah sekolah dan perusahaan-perusahaan besar di Seattle.

Seperti halnya Michael, para anggota lain jadi bersemangat mendatangkan DBL setelah melihat video-video yang dibawa Michael dari Surabaya.

Vivi Cooper, Reny Stewart, dan Nanik Trickey adalah geng mami-mami bersuami bule yang kebagian meng-handle kunjungan sekolah. ”Mereka (sekolah-sekolah di Seattle, Red) kan pada awalnya nggak kenal apa itu DBL. Jadi, kami harus keliling ke beberapa sekolah untuk menunjukkan video highlight DBL, juga membagikan booklet,” ujar mami Vivi, yang asal Bandung.

”Memang kebanyakan langsung impressed (kagum, Red) begitu melihat video DBL. Tapi, masalahnya belum selesai. Soalnya, di sini, sekolah punya banyak aturan kalau kami mau berkunjung. Jadi, kami harus dealing (membuat kesepakatan) mengenai itu,” jelasnya.

Soal kunjungan sekolah ada yang mengurus, begitu pula kunjungan ke perusahaan. Selama di Seattle, tim DBL All-Star memang sempat melihat dapur Boeing, Microsoft, dan Starbucks, tiga perusahaan global yang memang berpusat di kota tersebut.

Kunjungan perusahaan-perusahaan itu tugas Greg Dwidjaya, Budi Prasetya, Victor Kumesan, dan Ben Doko. Mas-mas inilah yang menghubungkan DBL dengan perusahaan kelas dunia seperti Boeing, Microsoft, dan Starbucks. DBL Indonesia cukup beruntung karena SSSCA punya banyak link yang sangat membantu kunjungan.

”Di Seattle, tiga perusahaan itu adalah yang paling utama. Makanya, kami ingin dari DBL bisa ke sana. Syukurlah, setelah beberapa kali meeting dan followup, mereka bersedia menerima dan memberikan tur, bahkan gratis,” ungkap Greg, lulusan SMAN 2 Surabaya, yang kini bekerja di Boeing.

Semua cerita di atas baru persiapan. Ketika pelaksanaan, tim SSSCA justru semakin serius. Michael seolah jadi guide full time, menemani ke mana pun rombongan pergi.

Mas Budi Prasetya, asal Tulungagung, juga termasuk yang paling total. Seminggu penuh dia cuti bekerja dari eNom Inc, salah satu penyedia dan reseller domain website terbesar di dunia.

Mas Budi inilah yang selama 24 jam menemani dengan sebuah mobil van besar. Kalau para pemain atau staf DBL punya kebutuhan mendadak, Mas Budi yang langsung tancap gas mengantar atau mencarikan solusi.

”Kedatangan tim DBL adalah agenda besar SSSCA. Saya senang DBL datang. Makanya, harus total,” cerita Budi, yang di SSSCA bertanggung jawab di bagian IT. ”Kantor juga nggak ada masalah kalau saya tinggalkan sementara. Tapi memang, ketika mereka (kantor, Red) butuh sesuatu yang urgent, saya harus tetap datang seperti kemarin. Jadi, agak bolak-balik sedikit,” ceritanya.

Selain mengurusi sekolah, geng mami-mami punya kesibukan di rumah masing-masing: bikin kue. Bukan hanya sedikit-sedikit untuk camilan rombongan, tapi juga dalam jumlah besar untuk acara utama.

Untuk pertandingan utama melawan tim Rainier Select Bulldogs, Jumat (5/11), mereka menyiapkan kue-kue tradisional Indonesia. Ada lemper, kue kukus, dan masih banyak lagi. ”Jadi, sekalian mengenalkan makanan Indonesia ke penonton dan lawan bertanding. Makanya, setiap mami harus bikin kue,” ujar mami Nanik, yang asal Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Ingin bukti bagaimana SSSCA telah menjadi ”keluarga baru” bagi DBL Indonesia All-Star? Cukup melihat perpisahan di Seattle-Tacoma Airport, menjelang penerbangan pulang tim Senin dini hari lalu (8/11). Tidak sedikit anak-anak DBL All-Star yang menitikkan air mata saat harus berpisah.

”Ingat, jangan bilang ‘Goodbye’ ya, bilang ‘See you later,” ucap Michael kepada rombongan saat menuju bandara.

***

Menurut Michael, tim SSSCA yang sekarang ini merupakan yang terbaik. Program kedatangan DBL Indonesia All-Star ini merupakan program terbesar yang dilakukan SSSCA, dengan penggarapan paling total. Yang lebih menyenangkan, kunjungan ini merupakan program people-topeople yang sangat konkret. Bukan government, bukan perusahaan.

Michael berharap kunjungan ini terus berlanjut hingga tahun-tahun ke depan. Harapan yang sama sudah disampaikan DBL Indonesia kepada SSSCA. Kedua pihak bahkan sudah membicarakan tanggal ideal untuk kunjungan 2011.

”Masih banyak yang bisa ditunjukkan kepada anak-anak Indonesia dan memberi mereka inspirasi untuk maju di Seattle. Dan, kami sekarang punya pengalaman langsung, sehingga bisa bikin program lebih baik lagi bersama DBL,” ujarnya.

Lebih dari itu, Michael berharap kunjungan ini bisa membantu membuka pintu untuk menyelenggarakan lebih banyak kegiatan.

”Kami ingin bukan cuma sport dan budaya. Juga ke trade. Kami ingin lebih bisa mengenalkan pengusaha-pengusaha kecil ke masyarakat Amerika Serikat. Jadi, bisa juga membantu ekonomi dan dampaknya bisa lebih luas,” tandas Michael. (*)

 

Advertisements

Kehilangan Handphone, Novi Dapat Sepatu Legenda WNBA

nblindonesia.com – 07/11/2010

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (5-Habis)
bsr-5

Tim DBL Indonesia All-Star 2010 dapat acara impian: mengunjungi markas klub juara WNBA, Seattle Storm, dan dikado merchandise seru. Termasuk jersey dan sepatu bekas pemain!

Berikut catatan AZRUL ANANDA.

Jumat (5/11, Sabtu WIB) sebenarnya hari super penting bagi tim putra dan putri Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010. Malamnya, mereka menjalani pertandingan utama di Rainier Vista Boys & Girls Club.

Tim putra melawan Rainier Select Bulldogs, sedangkan tim putri melawan Lady Home Team yang disponsori bintang NBA Brandon Roy. Dua tim itu merupakan tim anak muda U-18. Setara dengan usia pemain-pemain SMA DBL All-Star yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia.

Pagi sebelum bertanding, tim DBL All-Star dapat suntikan motivasi impian: mengunjungi markas tim juara WNBA 2010, Seattle Storm. Di sana, mereka bertemu dengan head coach tim itu, Brian Agler, dan CEO/ Presiden Tim Karen Bryant. Saat anak-anak Indonesia dijamu, dipajang pula dua trofi juara WNBA yang pernah diraih Storm

Selain dari musim 2010, ada trofi musim 2004, saat mereka kali pertama meraih jawara. Tim DBL All-Star lantas mendapatkan penjelasan komplet tentang dapur klub serta dijamu makan siang.

Yang membuat kunjungan tersebut tidak terlupakan, semua mendapatkan merchandise asli. Berupa topi champion 2010, poster, dan lain-lain. Ketika sesi penjelasan yang bersifat interaktif, mereka juga berebut hadiah-hadiah heboh. Mulai kaus-kaus, jersey latihan asli bekas pemain, sampai sepatu bekas para bintang!

***

Rombongan DBL Indonesia All- Star 2010 tiba di markas Storm, di kawasan Thorndyke Avenue, Seattle. Letaknya jauh dari Key Arena, stadion utama tempat Storm dan dulu tim NBA Seattle SuperSonics– bertanding. Chauntelle Johnson, koordinator senior community relations Storm, menyambut rombongan beranggota 24 pemain, lima pelatih, serta 15 staf dan wakil media dari DBL Indonesia dan Jawa Pos tersebut.

Di sudut markas itu, sudah disiapkan jajaran kursi, layar proyeksi, serta backdrop berlogo Storm dan sponsor utama klub, Bing (produk Microsoft). Tidak ketinggalan sepasang trofi WNBA yang dimenangi klub tersebut pada 2004 dan 2010. Semua dipajang secara khusus untuk menyambut rombongan dari Indonesia.

Sejak awal, sudah ditegaskan kami akan sulit bertemu dengan pemain Storm. Sebab, musim WNBA berlangsung pada pertengahan tahun serta berakhir pada pertengahan September. Setelah itu, para pemainnya langsung pergi, bertanding lagi di klub-klub profesional lain di Eropa atau Australia.

Namun, ada yang lebih dari menghibur kekecewaan tersebut. Sebab, head coach tim dan CEO sendiri yang menemui rombongan.

Karen Bryant, bos Storm, lebih dulu menyapa anak-anak DBL All-Star. Dengan bangga, dia menyebut WNBA sebagai pionir pengembangan liga perempuan profesional di seluruh dunia. Tapi, dia juga bangga menyambut rombongan DBL All-Star, yang juga memiliki tim perempuan.

Ketika tahu bahwa di Indonesia liga perempuan kini bermasalah dan Indonesia sangat jarang mengirim tim perempuan ke luar negeri, Bryant mencoba memberikan ucapan penyemangat. ”Jangan patah semangat. Meski belum ada pertandingan yang profesional untuk putri, jangan berhenti mencintai basket. Waktu saya muda dulu, juga belum ada WNBA. Tapi, sekarang saya bisa menjadi bagian dari liga basket perempuan itu meski tidak bermain. Jadi, kalian pun kelak bisa seperti saya,” ucapnya.

Sang CEO lantas memperkenalkan Brian Agler, head coach Storm. ”Brian merupakan salah seorang pelatih terbaik di dunia. Dia bukan hanya orang yang punya pengetahuan tinggi soal basket. Dia mampu mengajarkannya kepada para pemain.

Tidak banyak orang berpengetahuan besar yang juga bisa mengajarkannya lagi dengan baik,” paparnya. Kepada rombongan DBL All-Star, Agler menjelaskan komposisi tim yang berhasil merebut juara WNBA 2010. ”Kami punya sebelas pemain. Lima di antaranya adalah pemain dari luar Amerika Serikat.”

Nama-nama besar memang menghiasi roster Storm 2010. Ada Lauren Jackson dari Australia, yang disebut Agler sebagai pemain terbaik di dunia. ”Dia tinggi (198 cm). Jago main di dalam, jago menembak dari jarak jauh,” kata sang pelatih tentang Most Valuable Player (MVP) WNBA 2010 itu.

Lalu, ada dua nama legendaris, Sue Bird dan Swin Cash, yang sama-sama sudah delapan tahun berkiprah di WNBA. Dari Rusia, ada Svetlana Abrosimova. Dari Republik Ceko, ada Jana Vesela. ”Karena internasional, begitu WNBA berakhir, mereka langsung meninggalkan Amerika untuk berlaga di liga-liga di Eropa, Israel, dan Australia,” papar Agler.

Sang pelatih lantas memberikan kesempatan bagi rombongan DBL All-Star untuk bertanya. Hendry Bonardi, pelatih tim putri dari SMA Santu Petrus Pontianak, menyampaikan pertanyaan penting, ”Sebagai salah seorang pelatih terbaik di dunia, apa yang ditekankan kepada para pemain saat latihan? Apakah offense, apakah defense?”

Agler menjawab, defense selalu harus ditekankan. Sebab, ketika pemain semakin tua, semakin sulit mengajari mereka kemampuan offense yang lebih baik. ”Tapi, yang paling penting adalah karakter. Sama dengan ketika mencari personel untuk kantor ini, kami mencari pemain yang berkarakter baik. Sebab, basket merupakan permainan tim,” katanya.

Setelah tanya jawab sejenak, pihak Storm lantas menyampaikan hadiah luar biasa untuk DBL Indonesia. Berupa sepasang replika jersey Storm milik Lauren Jackson dan Sue Bird, yang ditandatangani pemain-pemain hebat tersebut. Ketika foto grup, Sarah Dephiola, kapten DBL All-Star dari SMAN 9 Bandung, juga diperkenankan memegang trofi juara WNBA.

***

Chauntelle Johnson lantas memberikan materi presentasi tentang kegiatan berbisnis Seattle Storm. Tapi, dia memberikan peringatan terlebih dahulu. ”Bagi sebagian kalian, apa yang akan saya sampaikan bakal membosankan. Bagi sebagian yang lain, apa yang akan saya sampaikan bakal di anggap sangat membosankan,” ucap Johnson, disambut tawa rombongan DBL All-Star.

Materi yang disampaikan oleh Johnson memang serius. Menjelaskan bagaimana Stormber aktivitas dan meraup sukses secara komersial. Satu per satu departemen dia jelaskan, dibantu dengan beberapa staf Storm yang lain. Mulai departemen marketing, game operation, hingga keuangan dan teknologi.

Salah satu fakta yang menarik adalah slogan tim ”Bring It (Ayo Tantang Kami, Red)”, yang digu nakan sepanjang musim 2010. ”Setiap tahun, tim marketing kami memilih satu slogan. Tema tahun ini kami suka karena menunjukkan semangat dan keberanian bahwa kami akan selalu memberikan yang terbaik dan menantang lawan untuk berani melawan kami,” jelas Johnson.

”Slogan ’Bring It’ itu pernah kami gunakan beberapa tahun lalu, tepatnya pada 2004. Waktu itu kami jadi juara untuk kali pertama. Sekarang, ketika dipakai lagi, kami juara lagi,” tambahnya. Meski bahannya tergolong berat, dia menyampaikannya dengan menyenangkan. Dia menyajikannya secara interaktif, memancing pertanyaan peserta, dan menanyai terus peserta sambil memberikan hadiah-hadiah.

Seluruh pemain dan pelatih mendapatkan topi yang memperingati status champion Storm pada 2010. Lalu, satu per satu dapat hadiah kaus-kaus tim. Yang seru, ada hadiah jersey latihan bekas dipakai pemain Storm, yang diraih Stephanie Yolanda (SMA Sutomo Medan).

Stephanie mendapatkannya gara-gara meraih poin tertinggi dalam permainan menembak bola mini di kantor itu. Yang lebih seru, ada dua pasang sepatu Nike bekas dipakai pemain Storm sendiri! Sepasang sepatu Nike Hyperdunk Low berlogo LJ dengan bendera Australia bekas dipakai Lauren Jackson diserahkan kepada Masany Audri, general manager DBL Indonesia, untuk dipajang bersama koleksi sepatu asli pemain NBA lain di Surabaya.

Di Kantor DBL Indonesia di lantai 20 Graha Pena, Jalan Ahmad Yani, memang ada banyak sepatu yang dipajang. Yaitu, sepatu milik bintang-bintang NBA yang pernah datang ke Indonesia sejak 2008. Sepasang sepatu yang kedua adalah Nike Hiperize berwarna putih merah bekas dipakai Sue Bird, yang sudah punya status legenda di WNBA.

Untuk mendapatkannya, Johnson menanyai ukuran kaki para pemain putri DBL All-Star. Mencari yang ukurannya sama dengan Sue Bird, yaitu 42 atau 42,5. Ternyata, ada dua pemain yang memiliki ukuran kaki sama dengan Sue Bird: Ingrid Tri Rachmadianty dari SMAN 1 Baleendah, Bandung, dan Novi Apriyani dari SMAN 1 Banyuasin III, Sumatera Selatan (Sumsel).

Johnson lalu memberikan tebakan kepada mereka berdua. ”Berapa lama Sue Bird sudah bertanding di WNBA? Yang jawabannya paling dekat dapat hadiah sepatu itu,” ujar dia. Novi menjawab tujuh tahun, Inggrid bilang enam tahun. Ternyata, yang benar adalah sembilan tahun. Sepatu itu pun jadi milik Novi untuk dibawa pulang ke Sumsel!

Hadiah tersebut ternyata menjadi penghibur terbaik bagi Novi. Sebab, selama hampir dua pekan bersama DBL All-Star, dua kali dia kehilangan. Saat di Surabaya, dia kehilangan uang Rp 1 juta. Lalu, di Seattle dia kehilangan handphone. ”Sepatu itu membalas kesedihan tersebut. Sepatu itu mungkin bisa dibeli. Tapi, yang tidak bisa dibeli, sepatu itu kan bekas dipakai bintang WNBA,” ucap Novi.

Sebelum menutup acara dan menyuguhkan makan siang, Johnson menegaskan ucapan CEO-nya pada awal kunjungan DBL All-Star. ”Dengan presentasi itu, kami berharap kalian terus bersemangat untuk mencintai basket. Untuk bisa dekat dengan olahraga itu, kalian tidak harus bermain di lapangan. Kalian bisa juga bekerja di berbagai bidang yang berkaitan dengan basket,” terang dia.

Kunjungan tersebut benar-benar membuka mata para pemain DBL All-Star. Memberikan satu lagi kesempatan belajar yang sulit didapatkan lewat kunjungan-kunjungan biasa ke Amerika Serikat. ”Saya yakin bahwa NBA dan WNBA sama. Ternyata, untuk mengelola sebuah klub dan menye leng garakan pertandingan, dibutuhkan begitu banyak upaya. Kapan lagi kami bisa belajar langsung seperti itu,” ujar M. Rizal Falconi, pemain dari SMAN 7 Pontianak. (*/dibantu M. Aziz Hasibuan)

Setahun Hanya Rp 325 Ribu, Termasuk Dokter Gigi Gratis

nblindonesia.com – 06/11/2010

Ikut Belajar dan Bertanding bersama DBL Indonesia All-Star di Seattle (4)
500-1

Cari kegiatan di luar sekolah? Tidak punya banyak uang? Cukup datang ke Rainier Vista Boys & Girls Club. Tempat DBL Indonesia All-Star 2010 berlatih dan bertanding di Seattle. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL.

Alangkah indahnya bila format Boys & Girls Club di Amerika Serikat juga tersedia di seluruh Indonesia. Anak-anak –mulai TK sampai SMA– bisa punya tempat untuk bermain dan belajar yang komplet, tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Pada Kamis dan Jumat (4-5 November), tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 berlatih dan bertanding di Rainier Vista Boys & Girls Club. Sambil menjalani latihan, tim yang ber anggota pemain-pemain SMA ter baik kompetisi Honda DBL 2010 itu mendapatkan banyak wawasan ba ru tentang kepedulian sosial di negeri Paman Sam. Boys & Girls Club merupakan fasilitas yang tersebar di kota-kota besar di seluruh AS. Biasanya di kawasankawasan yang kondisi ekonominya rendah.

Di tempat itu, anak-anak TK sampai SMA bisa menjalani berbagai aktivitas, dapat makan malam gratis, dapat guru les gratis, tanpa harus mengeluarkan banyak duit.

Rainier Vista Boys & Girls Club merupakan salah satu di antaranya, terletak di bagian selatan Seattle. Total, ada 12 Boys & Girls Club di King County, yang meli puti empat kota (termasuk Seattle).

Kamis pagi (4/11) sebelum ber – latih, tim DBL Indonesia All-Star dapatturfasilitasolehCrystalBrown, 26, salah seorang mana jer di Rainier Vista Boys & Girls Club.

”Kami punya sekitar 500 anak yang menjadi anggota di sini. Untukbisamemakaiseluruhfasi litas, mereka hanya perlu membayar USD 36 (sekitar Rp 325 ribu, Red) setahun,” ungkap Brown.

Dari luar, bangunannya tampak sederhana. ”Kotak” biasa, seper ti kebanyakan bangunan di AS. Tapi, fasilitas di dalamnya sangatlah komplet. Yang paling terlihat dulu adalah lapangan basket.

Total, ada dua lapangan full size di situ. Kalau dibutuhkan, dua lapangan penuh itu bisa dialihfungsikan menjadi empat lapangan pendek. Jadi, total ada delapan ring basket di berbagai sisi (termasuk dua di tengah yang bisa dilipat ke atap). Untuk anak-anak kecil, beberapa ring bisa diturunkan menjadi sangat rendah.

Lapangannya? Standar banget. Kayu memantul berkualitas tertinggi. Di atasnya, sering dilakukan aktivitas olahraga lain.

Di luar itu, ada beberapa ruang bermain yang sangat disukai anak-anak. Tersedia meja pingpong, meja biliar, plus mejameja permainan lain. Lalu, ada ruang makan luas dan dapur komplet. ”Setiap malam, kami menyediakan makan malam gratis untuk anak-anak yang jadi member. Gratis,” ujar Brown.

Di lantai dasar itu, ada pula studio televisi dan studio rekaman. ”Anak-anak suka datang ke sini dan merekam CD sendiri,” katanya.

Fasilitas terakhir di lantai dasar: sebuah kantin yang menjual makanan dan minuman untuk se mua pengunjung. ”Kantin ini dikelola sendiri oleh anak-anak. Mereka datang ke sini sepulang dari sekolah, lalu memasak dan jual an. Lumayan, mereka bisa dapat penghasilan ekstra,” papar Brown.

Naik ke atas, fasilitas pendidikan lengkap tersedia. Ada dua ruang kelas besar, plus ruang seni (menggambar, melukis, dan lain-lain), tempat anak-anak bisa belajar dan mengerjakan tugas sepulang dari sekolah. Kalau mereka kesulitan belajar, di sana selalu tersedia tutor-tutor yang siap membantu. Sekali lagi, semua gratis.

”Kami sering kedatangan tamu untuk klinik bersama anak-anak. Misalnya melukis, bahkan barongsai. Yang barongsai itu sangat disukai anak-anak,” tutur Brown. ”Semua tutor dan orang yang datang adalah relawan,” tambahnya.

Di atas, terdapat sebuah ruang dokter gigi. Ya, hanya dengan Rp 325 ribu setahun, fasilitas perawatan giginya gratis! Ini sesuatu yang luar biasa di AS. Di negara ini, tarif pelayanan dokter gigi supermahal (cabut gigi bisa lebih dari USD 1.000!).

***

Rainier Vista Boys & Girls Club tidaklah dibangun dengan murah. Menurut Crystal Brown, biaya pembangunannya USD 13 juta atau sekitar Rp 117 miliar.

Tentu saja, uang member tidaklah cukup untuk menjalankan operasi fasilitas lengkap itu. ”Kami mendapatkan uang dari para donatur, anggaran pemerintah, dan bantuan-bantuan lain,” ungkap Brown.

Bantuan pun tidak hanya berbentuk uang. Bola-bola bas ket yang digunakan di sana juga barang sumbangan. Kebetulan, pemilik merek bola Baden adalah orang Seattle. Kebetulan pula, anak sang pemilik dilatih bas ket oleh Jerry Petty, athletic director (direktur olahraga) di Rainier Vista Boys & Girls Club.

”Dia (pemilik Baden, Red) yang menyumbang semua bola di sini,” kata Petty. Petty, 32, merupakan sosok le gendaris di kalangan basket Negara Bagian Washington. Dia dulu salah seorang pemain SMA terbaik dan pernah terpi lih sebagai defensive player of the year (pemain bertahan terbaik) di seluruh negara bagian. Karirnya di NCAA (liga mahasiswa kondang) juga hebat, jadi bintang di University of Nevada.

Lulus kuliah, dia langsung men – dedikasikan diri untuk melatih anak-anak muda di kawasan Seattle. Meski demikian, dia punya koneksi kuat di NBA. Ber te – man baik dengan bintang-bin tang seperti Brandon Roy (Portland Trail Blazers), Nate Ro binson (Boston Celtics), dan Jamal Crawford (Atlanta Hawks). Juga seluruh bintang asal Seattle, yang kalau musim libur suka ikut latihan di Rainier Vista Boys & Girls Club.

Petty pula yang Kamis pagi lalu memberikan materi latihan untuk anak-anak DBL Indonesia All-Star. Materi yang dia berikan merupakan materima teri fundamental. Misalnya, dribbling, shooting, dan posisiposisi defensive.

Pagi itu anak-anak DBL All-Star juga ditemukan dengan Steve Gordon, chief advisor tim NBA Portland Trail Blazers. Gordon memberikan materi khusus, yaitu trik-trik canggih yang digunakan bintang-bintang NBA saat bertanding. Termasuk trik-trik mengelabui wasit!

***

Setelah dapat tur di Rainier Vista Boys & Girls Club, saya jadi berpikir (sedih). Seandainya di Indonesia ada banyak fasilitas seperti ini, anak-anak bu kan hanya jadi lebih sibuk. Me reka bisa mengembangkan kemampuan ke tingkat yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.

Kamis pagi itu anak-anak DBL All-Star bertemu dengan dua anak kecil. Lenon Fitdler, kelas 5 SD, dan Xaeon Franklin, kelas 4 SD. Keduanya sudah begitu jago main basket. Kemampuan fundamental dribbling dan shooting mereka bikin gelenggeleng kepala.

Itu mungkin terjadi karena, meski dari keluarga tidak mampu, mereka punya tempat yang lengkap untuk mengembangkan kemampuan!

Dampak lain adalah ongkos sosial. Kalau kita keluar uang un tuk membangun fasilitas seperti ini di sebuah kantong masyarakat yang tidak mampu, dampaknya mungkin bernilai jauh lebih tinggi.

Pertimbangannya klise saja. Anak-anak jadi sibuk, jauh dari kegiatan-kegiatan yang bukan hanya merugikan diri sendiri, ta pi juga merugikan banyak orang.

Data dari Rainier Vista membuk tikan hal tersebut. Para member mereka 75 persen datang dari keluarga single parent. Sebanyak 90 persen berasal dari keluarga kurang mampu. Banyak di antara mereka juga korban kekerasan di rumah.

Bayangkan akibatnya kalau anak-anak itu tidak punya tempat untuk menyibukkan diri. Sangat mengerikan bukan?

Cara berpikirnya sama de ngan DepartemenOlahragadan Rekreasi di Australia. Waktu di Perth, saya belajar bahwa departemen itu tidak perlu memikirkan prestasi atlet. Hanya memikirkan kurikulum pendidikan olahraga dan membangun fasilitas-fasili tas olahraga. Tujuannya ”Memasyarakatkan Olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”. Sama dengan di Indonesia, yang sayangnya hanya menjadi slogan semata.

Biayanya banyak, tapi dampaknya dahsyat. Kalau masyarakatnya sehat, beban biaya ke sehatan mereka pun lebih rendah. Juga, biaya mengobati orang sakit (dalam jumlah masal) jauh lebih murah daripada memba ngun lapangan berlari atau gedung basket!

Ada yang lain berpikir seperti ini gak ya? (bersambung/tulisan ini dibantu M. Aziz Hasibuan)

Tantang Lawan Lebih Besar untuk Belajar Tantangan Hidup

nblindonesia.com – 05/11/2010

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (3)
assembly_dbl_allstar

Setelah mengunjungi SMA negeri yang ultramodern, Rabu lalu (3/11, Kamis kemarin WIB) tim DBL Indonesia All-Star 2010 menjadi tamu kehormatan di sebuah sekolah swasta elite. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL dari Seattle.

Rombongan Development Basketball League (DBL) Indonesia All- Star 2010 begitu terkagum-kagum setelah seharian berlatih dan belajar di Glacier Peak High School di kawasan pinggir Seattle Selasa lalu (2/11).

Sekolah negeri yang dibangun tiga tahun lalu itu begitu komplet dan canggih. Padahal, masuk di sana tidak di pungut biaya alias gratis.

Sehari kemudian rombongan pemain dan pelatih SMA pilihan dari kompetisi Honda DBL 2010 itu terkagum-kagum di sekolah yang sangat berbeda di kawasan utara Seattle. Yaitu, di Lakeside High School.

Kalau ingat film-film Barat dan membayangkan seperti apa bangunan sekolahnya, mungkin yang digambarkan itu adalah yang seperti Lakeside ini.

Bangungan-bangunannya klasik dengan dinding bata merah tua. Ornamen-ornamennya pun klasik. Misalnya, papanpapan pengumuman atau informasi dari kayu.

Warna kebesaran sekolah pun sangat klasik. Merah marun dengan kombinasi kuning gelap seperti warna kebangsaan universitas kondang Harvard. Ada pula yang nyeletuk: ’’Seperti di Hogwarts.’’

Setelah berkunjung, memang ditegaskan bahwa Hogwarts, eh, Lakeside itu klasik. Sekolah ini berdiri pada 1919! ’’Ketika terus menjalani renovasi, kami terus berupaya menjaga desain asli gedung ini,’’ kata Than Healy, pimpinan Lakeside.

Karena ini sekolah swasta, tentu saja siswa harus membayar tuisi (uang pendidikan) untuk bisa menimba ilmu di situ. Biayanya tidaklah murah.

’’Biaya setahun sekolah di sini USD 24 ribu (sekitar Rp 216 juta, Red). Tetapi, tidak banyak yang membayar penuh. Kami punya program-program beasiswa untuk mengurangi beban biaya,’’ ungkap Abe Wehmiller, direktur olahraga Lakeside.

Wehmiller menegaskan, Lakeside adalah sekolah yang sangat mengutamakan kemampuan akademis. Sangat sulit diterima masuk di sekolah ini. Selain harus mampu membayar, calon siswa harus mampu bersaing.

’’Tak heran, 99 sampai 100 persen lulusan kami pasti masuk universitas. Bahkan berani menarget sekolah-sekolah sepuluh besar di Amerika,’’ ujarnya.

***

Walau mengutamakan akademis, dalam hal olahraga Lakeside punya reputasi hebat. Datang ke sekolah ini akan langsung mendapatkan kesan tersebut. Sebuah lapangan American football/sepak bola yang ’’mulus’’ menyambut di sisi jalan (1st Avenue NE). Warna rumputnya hijau gelap rapi, tanpa ada sedikit pun bagian yang menguning atau belang.

’’Seperti foto yang di-Photoshop,’’ celetuk salah seorang kru DBL Indonesia yang selalu ikut mendampingi tim.

Usut punya usut, ada alasan kuat mengapa lapangan itu begitu hijau. Ternyata rumput sintetis! Tetapi, kalau diinjak, benar-benar soft, sangat terasa se perti rumput beneran yang lebat.

’’Beberapa tahun lalu kami memutuskan memasang rumput sintetis. Karena setelah musim football berakhir di penghujung tahun, kondisi lapangan menjadi begitu rusak. Butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat kembali hijau dan indah. Jadi kami ganti saja dengan sintetis,’’ tutur Healy.

Total, ada 24 program olahraga di Lakeside. Memasuki musim dingin ini, segera dimulai musim renang (indoor), gulat, basket putra, dan basket putri. Untuk basket, ada dua ruang yang bisa dipakai latihan.

Di basement gedung olahraga ada lapangan sintetis berisi satu lapangan basket normal (horizontal) dan dua lapangan basket pendek (vertikal). Seperti di kebanyakan SMA, ada enam ring basket yang bisa dipakai latihan.

Tim DBL Indonesia All-Star 2010 sempat menggunakan lapangan lantai sintetis (karet) itu untuk latihan Rabu pagi lalu.

Di atas, ada lapangan pertandingan utama. Tidaklah terlalu besar, hanya ada satu sisi tribun yang bisa menampung 500–750 penonton. Menurut Wehmiller (yang bertanggung jawab atas seluruh program olahraga), ketika pertandingan resmi, penonton sampai harus berdiri berdesakan di sisi lapangan. Harga tiket USD 5 per lembar.

’’Gedung kecil ini memberi kami keunggulan saat menjamu lawan. Suasana menjadi sangat riuh, benar-benar menjadi home-court advantage,’’ tandas Wehmiller.

Dengan bangga, Wehmiller mengatakan bahwa Lakeside tampil di liga paling berat di negara bagian Washington. Yaitu, Seattle Metropolitan League, yang terdiri atas sekolah-sekolah terbesar di kota tersebut.

Meski Lakeside tergolong sekolah kecil, mereka tidak gentar. Tim putri mereka pernah lima kali juara negara bagian (State champion, gelar tertinggi SMA di AS). Tim putranya sekali menjadi runner-up.

Bukan pencapaian mudah. ’’Untuk menjadi state champion, harus juara liga, juara distrik, baru dapat kesempatan memburu gelar tertinggi,’’ ucapnya.

Th an Healy menegaskan hal tersebut. Sekolahnya tidak takut menghadapi lawan-lawan besar. Khususnya di Seattle, yang dikenal sebagai kota penghasil banyak bintang basket andal. Beberapa bintang NBA, seperti Nate Robinson (Boston Celtics) dan Brandon Roy (Portland Trail Blazers), berasal dari kota itu. Bahkan, mereka bermain untuk liga yang sama, jadi pernah tampil di gedung kecil Lakeside.

’’Dengan bermain dengan lawan berat, kami memberikan pelajaran hidup penting bagi siswa kami. Bahwa harus berani menghadapi tantangan terberat dan bekerja keras untuk mengalahkan tantangan tersebut,’’ ucapnya.

Semangat itu agak setara dengan misi DBL Indonesia, yang menghadapkan tim All-Star melawan tim-tim muda ’’negara raksasa’’ basket, seperti Australia dan AS. Kalau mau maju, memang harus berani melawan yang jauh lebih tinggi! Hasilnya mungkin tidak segera didapat, tapi sangat mungkin dicapai untuk jangka panjang. Yang penting konsisten.

Tidaklah sederhana bagi Lakeside untuk membangun tim yang baik. Mengingat sekolah itu punya standar akademis yang berat. Linda Wijaya, pemain DBL All-Star asal SMA Santu Petrus Pontianak, bertanya bagaimana sekolah tersebut membangun tim basketnya.

’’Kami berusaha agar punya dua atau tiga pemain basket hebat di setiap tingkat kelas. Lalu, punya beberapa atlet hebat –jago di berbagai olahraga– di kelas yang sama. Dengan begitu, kami bisa membangun tim yang solid,’’ jawab Wehmiller.

Beruntung bagi Lakeside, banyak anak ingin masuk ke situ (atau banyak orang tua yang menginginkan anaknya masuk ke situ). Mereka juga siap terus mendampingi kebutuhan belajar para pemain.

’’Kami menunjukkan diri sebagai tempat yang baik untuk bermain basket. Kalau ada yang kesulitan meraih nilai baik, kami akan membantu dengan menyediakan tutor khusus. Kalau perlu, satu tutor untuk satu anak,’’ lanjutnya, lantas menjelaskan bahwa Lakeside punya 12 pelatih basket.

***

Rabu itu rombongan DBL Indonesia All-Star 2010 menjadi tamu istimewa. Sesudah shower dan berganti pakaian setelah latihan pagi, anak-anak DBL All-Star didampingkan lagi dengan anak-anak basket Lakeside.

Mereka lantas makan siang bersama. Meski baru kenal, suasana akrab langsung tercipta. Tawa riuh sering terdengar dari meja tempat anak-anak basket itu makan bersama. ’’Remaja di mana-mana sama. Gampang nyambung,’’ kata Healy.

Setelah makan, ada acara istimewa yang disuguhkan Lakeside. Seluruh siswa, 500 lebih, berkumpul di auditorium sekolah. Setiap pekan Lakeside memang punya School Assembly selama 45 menit, yaitu seluruh warga sekolah berkumpul. Kali ini acara itu dipaskan dengan kehadiran tim DBL All-Star.

Dalam Assembly itu selalu ada acara khusus. ’’Biasanya kami mendatangkan pembicara penting atau tokoh penting untuk berbicara di hadapan anak-anak. Kadang mereka juga saling menghibur,’’ jelas Healy.

Ketika DBL All-Star hadir, kelompok orkestra sekolah tampil membuka acara. Lalu, ada penampilan grup acapella sekolah yang kocak. Beberapa siswa bergantian maju di depan panggung, mengumumkan rangkaian program yang bisa diikuti. Termasuk acara sumbang makanan untuk kalangan tidak mampu. Semua dipandu oleh para siswa.

Di tengah acara itu, anak-anak DBL All-Star diperkenalkan kepada seluruh warga sekolah dan disambut dengan aplaus hangat.

Kami pun menjelaskan apa itu DBL Indonesia dan betapa sulitnya menjadi anggota DBL All- Star, yang dipilih dari 24 ribuan peserta kompetisi di 21 kota, 18 provinsi di Indonesia.

Setelah Assembly, anak-anak DBL All-Star tampak begitu senang. Mereka tidak menyangka sebuah SMA bisa membuat acara yang begitu seru. Sama sekali tidak ada kekakuan seperti kebanyakan sekolah di Indonesia. ’’Acaranya lucu. Sederhana, tapi menghibur,’’ kata Yuni Anggraeni dari SMA Tri Tunggal, Semarang.

Dari pihak Lakeside, kehadiran anak-anak DBL All-Star memberikan kesempatan kepada siswanya untuk semakin sadar atas pentingnya globalisasi. ’’Anak-anak kami bisa punya kenalan dengan anak-anak dari negara lain. Sesuai dengan misi sekolah kami untuk menyiapkan siswa yang siap bersaing di tingkat dunia, bukan hanya Amerika,’’ papar Healy.

Lakeside merupakan SMA terakhir yang dikunjungi DBL All-Star selama kunjungan di AS. Setelah itu, tim fokus kelatihan dan latih tanding sebelum pertandingan utama melawan Rainier Select Bulldogs di Rainier Vista Boys & Girls Club, Jumat, 6 November (Sabtu pagi WIB). (bersambung/dibantu M. Aziz Hasibuan)

Lapangan Basket Standar NBA, Papan Tulis Canggih Rp 45 Juta

nblindonesia.com – 05/11/2010

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (2)
keramik_school

Pada hari kedua di Seattle, tim DBL Indonesia All- Star 2010 berlatih dan ikut masuk kelas di sebuah sekolah yang mengagumkan: Glacier Peak High School. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL.

Glacier Peak High School (GPHS), sebuah SMA negeri di Kota Snohomish (pinggiran Seattle), menjadi tuan rumah bagi anak-anak Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 Selasa lalu (2/11 atau kemarin WIB).

Selama sehari, 12 pemain putra dan 12 pemain putri dari berbagai penjuru Indonesia itu berlatih, bermain, sekaligus merasakan masuk kelas di sekolah yang memiliki 1.500 siswa tersebut.

Selama sehari pula, para pemain (dan para pelatih) terkagum-kagum atas komplet dan canggihnya fasilitas SMA di Amerika Serikat. Pun, GPHS merupakan salah satu contoh yang paling modern karena baru dibangun sekitar tiga tahun lalu.

Tiba di GPHS pukul 08.00, rombongan DBL Indonesia All-Star langsung disambut Jim Dean, sang kepala sekolah

Pagi itu, jadwalnya latihan dulu bersama para pelatih basket GPHS selama dua jam. Tim putra bersama Brian Hunter, head coach tim putra GPHS Grizzlies. Tim putri bersama Brian Hill, head coach tim putri GPHS.

Meski tergolong sekolah baru, prestasi tim basket (putra) GPHS cukup menggila. Pada musim 2009–2010, mereka mencapai peringkat keempat di seluruh Negara Bagian Washington. Center tim sekolah tersebut, Payton Pervier yang bertinggi badan 218 cm, memegang rekor blok. Tepatnya me – ngeblok tembakan lawan sebanyak 24 kali dalam empat pertandingan!

Begitu melihat fasilitas latihan GPHS, mulut para pemain DBL Indonesia All-Star beserta seluruh pelatih dan ofisial langsung menganga. Ada dua gymnasium di sekolah tersebut. Di atas, secara horizontal ada satu lapangan penuh. Lalu, kalau vertikal, ada dua lapangan berukuran kecil. Total, ada enam ring. Plus ada tribun bergerak yang menampung sekitar 500 orang. Kalau tidak dibutuhkan –dan latihan memakai dua lapangan kecil–, tribun itu secara elektronik merapat dan melipat menjadi dinding.

Di bawah, gym utama bisa disetting beberapa macam. Untuk pertandingan resmi, ada satu lapangan penuh di tengah. Di kanan-kirinya, ada tribun bergerak yang total bisa menampung hampir 2.000 orang. Ketika tribun ditarik menjadi dinding, bisa dipakai dua lapangan penuh yang paralel dengan lapangan utama (sehingga ada tiga lapangan yang menyatu ala diagram Venn).

Ketika butuh dua lapangan penuh, dari langit-langit bagian tengah bisa diturunkan tirai pemisah hingga lantai.

Itu belum apa-apa. Lapangannya (di kedua gym) terbuat dari kayu terbaik berstandar NBA. ”Lapangan itu spring loaded. Dasarnya beton, lalu ada lapisan karet tebal, lapisan plywood, baru lapisan kayu utama sehingga memiliki pantulan ideal,” jelas Jim Dean.

Ketika para pemain berkumpul di gym utama, Hunter langsung melakukan dril lari dan layup satu lapangan penuh. Kru DBL Indonesia dan pelatih sempat bingung. Sebab, anak-anak sama sekali tidak diberi kesempatan pemanasan.

Ternyata, Hunter mengira kami sudah melakukan pemanasan saat ganti pakaian di ruang ganti atau sebelum latihan dimulai.

Kebiasaan anak-anak di AS memang beda dengan Indonesia. Kalau kita, sering pemanasan baru dilakukan setelah berkumpul dengan pelatih. Di AS (dan sebenarnya di negara lain yang basketnya maju, seperti Australia), pemanasan merupakan tanggung jawab setiap pemain. Berada di lapangan bersama pelatih menandakan pemain sudah siap langsung tancap gas untuk latihan, tanpa buang waktu lagi buat pemanasan.

”Pemanasan tanggung jawab individual. Kalau kita hanya punya waktu dua jam, ya harus maksimal dua jam latihan. Jangan buang waktu sampai setengah jam hanya untuk pemanasan,” tegas Hunter.

Hunter dan Hill pun meng hentikan sesaat dril. Mereka memberikan waktu lima menit kepada anak-anak DBL All-Star untuk pemanasan.

Selama hampir dua jam (termasuk pemanasan), anak-anak DBL Indonesia All-Star menjalani latihan ala anak-anak SMA di GPHS. Ketika diskusi dengan pelatih-pelatih DBL All-Star, disimpulkan sebenarnya di mana-mana latihan basket sama. Tapi, di AS, latihan basket lebih menekankan terus running dan membawa bola. Sedangkan di Australia, lebih banyak penekanan fundamental.

Menurut Hunter, mau tak mau pihaknya memang harus memberikan banyak dril permainan. ”Ketika musim basket dimulai, kami bertanding dua sampai tiga kali sepekan. Latihan hanya empat kali sepekan. Jadi, kami harus berkonsentrasi pada latihan permainan. Terus terang, kami berharap bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk penguatan fundamental,” ungkapnya.

Di AS, terang Hunter, ada tiga liga SMA yang diikuti semua. Yang pertama dikhususkan freshman alias kelas IX (di sini setara dengan kelas tiga SMP). Lalu, ada tingkat utama varsity (terbaik di sekolah). Di tengah, ada junior varsity (JV, untuk lapis kedua). ”Pemain JV bisa naik turun ke varsity dan balik, bergantung performanya sedang baik atau menurun,” katanya.

Di tiap-tiap liga itu, tim SMA bermain minimal 20 kali. ”Kalau terus lolos ke tingkat negara bagian dan jadi juara, tim bermain total 30 kali. Kami musim lalu main 28 kali,” jelas Hunter.

***

Setelah latihan pagi, anak-anak DBL All-Star mandi dan berganti pakaian. Mereka kemudian dipertemukan dengan pemain-pemain basket GPHS. Setiap pemain putri DBL dipasangkan dengan pemain putri GPHS. Pemain putra berpasangan dengan pemain putra.

Setelah itu, pemain DBL mengikuti jadwal pemain pasangannya. Kalau waktu makan siang, ya makan siang. Kalau kelas matematika, ya kelas matematika. Pokok nya, selain makan siang, pemain DBL All-Star harus ikut tiga sesi kelas.

Itu pengalaman yang mungkin belum pernah dirasakan oleh tim basket muda lain dari Indonesia. Benar-benar ikut belajar bersama anak Amerika di sekolah Amerika.

Karena jadwal setiap orang beda, pengalaman yang didapat pun beda-beda. Ketika ditanya siapa punya pengalaman paling ”aneh”, hampir semua mengacungkan tangan.

Teuku Rahmat Iqbal, pemain dari SMAN 9 Banda Aceh, misalnya. Dia ikut pemain GPHS Tanner Southard. Sesudah makan siang sesi pertama, ternyata Southard ikut kelas entrepreneurship. Artinya, pukul 12.30 dia harus bekerja saat makan siang sesi kedua, melayani pembelian pizza, makanan ringan, dan minuman.

Iqbal pun ikut berjualan pizza dan melayani para pembeli!

Linda Wijaya, pemain dari SMA Santu Petrus Pontianak, ikut Olivia Van Dlac. Kelas yang diikuti? Salah satunya kelas ceramics. Sesuai dengan nama, di kelas seni tersebut dia ikut membuat hiasan-hiasan porselen.

Yang langsung kena ujian juga ada. Misalnya, Inggrid Tri Rachmadianty (SMAN 1 Baleendah, Ban dung), yang harus pusing menjawab soal-soal sports medicine. Sementara itu, tantangan untuk Muhammad Rizal Falconi dari SMAN 7 Pontianak lebih ringan. Sebab, dia bisa menjawab dengan mudah soal-soal matematika (dan membantu pasangannya!).

Kelas olahraga (physical education) juga ada. Edi Hidayat dari SMA Trinitas Bandung main sepak bola indoor dan sukses mencetak gol. Indri Hapsari Djohan main bulu tangkis.

Tidak ketinggalan ikut masuk kelas adalah Hanifah Alde Abdillah (SMP Dapena Surabaya) dan Rangga Mandalah Putra (SMAN 1 Surabaya). Mereka berdua dapat berkah ikut rombongan DBL Indonesia All-Star 2010 di Seattle setelah memenangi kuis SMS Telkom Flexi sebagai partner resmi DBL.

Mereka ikut kakak beradik Alfie Ruscoe dan Dina Ludgii Pao yang bisa berbahasa Indonesia. Ruscoe dan Pao adalah anak Nanik Trickey, ibu dari Indonesia yang kini menetap di Seattle dan ikut kepengurusan Seattle-Surabaya Sister City Association.

Pengalaman tersebut benarbenar membuat senang anakanak DBL All-Star. ”Pertama-tama bingung. Kok, ada kelas seperti itu. Tapi, banyak teman di kelas yang membantu. Jadi tahu rasanya belajar gaya Amerika. Lebih santai dan seru. Tidak membosankan,” ucap Linda.

GPHS memang sangat komplet. Semua jenis kelas ada di situ. Bahkan, di kelas shop (kerja pertu kangan), sudah ada peralatan canggih computer aided design/manufacturing (CAD/CAM). Pelajar SMA bisa mendesain komponen pesawat di computer. Lalu, mesin merealisasikan desain itu dan membuat komponen berbentuk tiga dimensi.

”Standar peralatan kami sama dengan yang dipakai Boeing,” kata Dean.

Di setiap kelas pun, ada papan tulis canggih (smart board), masing- masing seharga sekitar USD 5.000 (sekitar Rp 45 juta). Dengan papan tulis itu, kita bisa menulis tanpa tinta, tapi bisa menulis dan menghapus seperti menggunakan whiteboard biasa.

Di layar yang sama, tampilan internet dan video bisa disuguhkan, layaknya pada monitor komputer. Juga aplikasi belajar yang lain. ”Misalnya, kalau ada anak yang tidak tahan darah sehingga tidak bisa ikut praktikum membedah katak, dia bisa belajar melakukannya di papan pintar itu. Membedah katak secara digital,” jelas Dean.

Cerita unik lain, Rizky Lyandra, pemain dari SMAN 2 Banjarmasin, dapat kelas biologi saat pendampingan dan membedah katak beneran!

Smart board itu juga nyambung ke kamera di atas meja kerja guru. Jadi, kalau guru menulis di kertas, murid bisa langsung melihat tulisan tersebut di layar pintar.

”Di sekolah ini, hampir tidak ada yang tidak bisa dilakukan untuk membantu proses belajar mengajar. Ketika pembuatannya, segala desain dipastikan untuk itu,” papar Dean.

Pantas sekolah itu dibangun mahal sekali. ”Biaya total pembangunannya sekitar USD 90 juta (Rp 810 miliar, Red),” ungkap sang kepala sekolah yang ramah.

Semua itu bikin geleng-geleng kepala para pelatih DBL All-Star. ”Kalau caranya begini, jangankan mengalahkan anak-anak Amerika, untuk menyamai saja, anak-anak Indonesia rasanya tidak mungkin…” gumam Budi Santoso, coach manager DBL All-Star dari SMA Petra 5 Surabaya.

Yang bikin anak-anak dan pelatih DBL All-Star makin iri, tidak perlu bayar sepeser pun untuk bersekolah di GPHS. Seperti SMA negeri lain di Amerika Serikat, pendidikan memang gratis. Yang penting, orang tuanya bayar pajak. Ya, gratis! Termasuk, peminjaman buku-buku pelajaran dan segala perlengkapan olahraga!

Seorang pelatih DBL All-Star bilang, di Bogor ada sekolah yang SPP-nya Rp 4,5 juta sebulan. Tapi, fasilitasnya masih jauh di bawah GPHS! (bersambung/tulisan ini dibantu M. Aziz Hasibuan)

 

Belajar & Bertanding Bersama DBL All-Star di Seattle (1)

nblindonesia.com – 05/11/2010

MuseumBoeing

Lihat Boeing Terbaru Dirakit, Main Game Terbaru di Microsoft

Tim basket pelajar DBL Indonesia All-Star 2010 benar-benar belajar dan bertanding di Amerika Serikat. Pada hari pertama, langsung masuk pabrik pesawat terbesar dan mengunjungi perusahaan software terbesar di dunia. Berikut catatan AZRUL ANANDA, commissioner DBL, dari Seattle.

Kunjungan sepekan tim Development Basketball League (DBL) Indonesia All-Star 2010 di Amerika Serikat tampaknya bakal jadi kunjungan tak terlupakan. Kumpulan pemain dan pelatih SMA terbaik dari berbagai penjuru tanah air itu benar-benar belajar dan bertanding di Kota Seattle (plus nanti Portland).

Hari pertama kunjungan Senin lalu (1 November, Selasa kemarin WIB) benar-benar melebihi segala yang saya harapkan. Benar-benar sebanding dengan upaya membentuk tim putra dan putri ini, yang dimulai sejak Januari lalu lewat Honda DBL 2010 di 21 kota,18 provinsi di Indonesia.

Kami memang ingin tim ini dapat pengalaman komplet. Sesuai dengan misi DBL yang mempromosikan konsep student athlete. Tak sekadar ke AS untuk jalan-jalan biasa.

Dari sisi atlet, harus ada sesi training dengan pelatih dan pemain-pemain muda setempat, harus ada pertandingan resmi, dan harus ada nonton NBA-nya. Dari sisi pelajar, harus ada pengalaman sekolah di SMA setempat dan kunjungan-kunjungan yang memberikan wawasan serta inspirasi.

Siapa sangka jadwal yang kami miliki lebih dari semua itu. Pada hari pertama, sebelum merasakan sekolah dan bertanding, anak-anak DBL Indonesia All-Star langsung melihat sesuatu yang tidak banyak dinikmati orang. Salah satunya, masuk pabrik pesawat terbesar milik Boeing di Everett, sekitar 30 kilometer dari Seattle.

Di sana, anak-anak benar-benar melihat langsung bagaimana pesawat Boeing 747, 777, dan –paling baru– 787 dibuat dari komponen sampai jadi!

*****

Tujuh belas tahun lalu, di usia 16 tahun pada pertengahan 1993, saya kali pertama menginjakkan kaki di AS. Waktu itu tiba bersama rombongan 80 anak SMA Indonesia, yang mengikuti program exchange student (pertukaran pelajar).

Sebelum dipencar ke berbagai kota di seluruh penjuru AS, kami dikumpulkan dulu di satu tempat. Selama tiga pekan, kami mengikuti camp, diberi pelajaran tentang budaya AS secara mendetail. Mulai bahasa, tata krama, olahraga-olahraganya, hingga cara berkencan.

Kota tempat kami pertama tiba adalah Seattle. Camp kami sebenarnya terletak di Olympia, di kampus Evergreen State College. Tapi, itu tak jauh dari Seattle dan jalan-jalannya ya ke Seattle.

Aneh juga rasanya ketika kali pertama membawa tim DBL Indonesia All-Star ke AS, kota yang dituju adalah Seattle!

Dasar memang jodoh, semua yang kami harapkan ada di kota itu. Ketika menyatakan ingin ke Amerika, justru bertemu dengan teman-teman dari Seattle-Surabaya Sister City Association (SSSCA). Mereka benar-benar menemukan program yang seru untuk rombongan kami, yang jumlahnya mencapai 43 orang (termasuk pemain, pelatih, staf DBL Indonesia, media Jawa Pos Group, dan wakil partner kompetisi).

Jadi, sekarang giliran saya membawa anak-anak umur 16 dan 17 tahun ke Seattle!

(Aneh kedua: Tidak terasa, umur saya sekarang sudah dua kali lipat anak-anak SMA!).

*****

Ketika Michael Atmoko, presiden SSSCA, bilang kami dapat tur di markas Boeing, terus terang saya sempat agak underestimate. Jujur, dalam hati saya berpikir, ”Paling-paling cuman kunjungan museumnya saja.”

Ternyata, kami benar-benar masuk pabrik Boeing! Bila tur pada umumnya tidak boleh memotret untuk menjaga kerahasiaan, kami diberi izin menggunakan kamera staf Boeing untuk mengabadikan momen-momen seru tur tersebut.Semua ini terjadi lewat upaya ngotot SSSCA dalam meyakinkan Boeing tentang pentingnya rombongan kami. Khususnya lewat Greg Dwidjaya, koordinator SSSCA bidang seni dan budaya, yang pekerjaan utamanya adalah project manager di salah satu departemen di Boeing.

Pabrik yang kami kunjungi ada di Everett. Di sana, diproduksi pesawat-pesawat ”twin aisle” atau berbadan lebar (dua lorong berjalan di kabin penumpang). Antara lain, tipe 747, 777, dan 787. Tipe lebih kecil seperti 737, dibuat tidak jauh dari Everett, di Renton.

Bagi anak-anak SMA Indonesia di DBL All-Star, kunjungan tersebut mungkin agak terlalu ”tinggi.” Pertama, yang dibahas dan dijelaskan sangat teknis dan pabriknya sendiri sangat masif untuk dipahami lewat tur tak sampai dua jam. Apalagi, semua disampaikan dengan bahasa Inggris.

Kami sendiri (DBL Indonesia dan SSSCA) mencoba memberikan pemahaman yang sederhana-sederhana kepada para pemain. Pertama, mengaitkan kunjungan itu dengan penerbangan EVA Air (partner resmi DBL All-Star) yang mengantarkan kami ke Seattle.

Misalnya, 747 adalah pesawat yang mereka tumpangi saat terbang dari Jakarta ke Taipei. Lalu, pesawat 777 merupakan pesawat yang dinaiki dari Taipei ke Seattle.

”Bangunan pabrik di Everett ini merupakan bangunan terbesar di dunia, kalau dihitung berdasar volume, mencapai 13 juta meter kubik. Ada enam pintu raksasa dipasang berderetan, masing-masing setara lebar lapangan sepak bola,” jelas Christopher Summitt, guide kunjungan rombongan DBL All-Star di Boeing.

Summitt menjelaskan, bangunan itu dibangun tanpa sistem air conditioning. Sulit memasangnya di bangunan yang begitu luas dan besar. Untuk mengatur temperatur ruang, mereka memanfaatkan buka tutup pintu dan ”keraksasaan” bangunan itu sendiri.

Pertama, kami melihat bagian pembuatan 747. Di sana, dijelaskan bagaimana pesawat itu dirakit dengan sistem assembly line. Komponen-komponen harus dibuat dan dirakit di bawah satu atap. Makan waktu sekitar empat bulan untuk menyelesaikan satu unit pesawat tersebut.

Salah satu pesawat yang kami lihat hampir jadi adalah 747 seri 800 terbaru. ”Itu pesawat Dash 8 (seri 800) untuk penumpang pertama yang kami selesaikan,” tegas Summitt.

Setelah itu, kami menengok pembuatan pesawat 777. Kali ini memakai sistem moving line, yakni pesawat-pesawat yang sedang dirakit berada dalam posisi berurutan depan belakang. Semakin ke depan, semakin selesai. Kalau selesai, langsung keluar dari pintu raksasa untuk masuk ruang pengecatan dan tahap uji coba.

”Hanya butuh waktu sembilan pekan untuk menyelesaikan satu unit 777,” jelas Summitt.

Terakhir, kami melihat pesawat baru yang sangat dibanggakan, 787. Pesawat itu kini masih belum beredar. Sederetan sudah selesai dan siap dikirim, lengkap dengan logo ANA (All Nippon Airways, maskapai Jepang). Sebagian lagi dalam tahap finishing, dipasangi tanda sudah dibeli oleh Air India.

Greg Dwidjaya menjelaskan, 787 tersebut benar-benar baru. Tidak lagi dibuat memakai baja atau aluminium, melainkan komposit. Lebih kuat daripada baja, lebih ringan daripada aluminium (ala mobil Formula 1). Summitt menerangkan, bobot pesawat yang memakai komposit bisa 20 ton lebih ringan. Itu membuat operasional lebih efisien.

Sayang, lanjut Greg, belum ada maskapai Indonesia yang memesannya. ”Maskapai Garuda sempat tertarik, tapi batal karena waiting list-nya yang terlalu panjang. Pesanannya sudah 850-an unit,” tuturnya.

Itu ditegaskan Summitt: ”Calon pembeli begitu percaya dengan pesawat ini. Sebanyak 750 pesanan sudah masuk sebelum prototipenya menjalani uji terbang.”

Karena dari komposit, pesawat itu tidak lagi dirakit memakai panel- panel yang di-rivet (jahit). Komponen badan datang dalam ”gelondongan.” Badan utama, misalnya, dibuat di Italia. Untuk mendatangkannya ke Everett, digunakan sejumlah pesawat Dream Lifter. Yaitu, 747 yang ”digemukkan” untuk menampung komponen- komponen raksasa 787.

Karena dari komposit dan komponen besar, 787 tak butuh waktu lama untuk dibuat. Satu unit hanya butuh proses perakitan tiga sampai lima hari!

Di akhir kunjungan, Summitt menyampaikan harga beli pesawat-pesawat tersebut. ”Satu 747 harganya USD 308 juta, satu 777 harganya USD 287 juta, dan satu 787 harganya USD 172 juta. Itu belum termasuk mesin, yang harga satu buahnya antara USD 10 juta hingga USD 20 juta,” paparnya.

*****

Dari Boeing, rombongan tim basket mengunjungi Microsoft Campus. Di markas produsen software terbesar itu, rombongan diajak ke ”museum” kecil, tapi seru (Microsoft Visitor Center). Di sana, ada display deretan sejarah komputer, mulai mesin ketik sampai yang terbaru. Ada pula fotofoto para pendiri –termasuk Bill Gates dan Paul Allen– ketika masih muda (dan culun) dulu.

Yang seru, di sana dipasang sejumlah Kinect for Xbox 360. Video game yang dimainkan menggunakan gerakan-gerakan asli badan kita. Kalau lomba lari, ya adu cepat lari di tempat. Kalau main bowling, ya bergerak seperti main bowling beneran. Main pingpong dan tenis juga sama.

Timing kunjungan termasuk tepat. ”Kinect itu baru kami luncurkan beberapa hari yang lalu,” kata Tom Perham, salah seorang program manager Microsoft.

*****

Setelah kunjungan Microsoft, tim tidak langsung ke hotel. Petang pukul 18.00, mereka menuju gedung basket di International Full Gospel Fellowship, sebuah gereja masyarakat Indonesia di Seattle. Di sana mereka berlatih perdana untuk menghapus jet lag dan beradaptasi dengan dingin.

Dua jam latihan, mereka dijamu oleh SSSCA di Indo Café, sebuah restoran Indonesia milik Irwan Ngadisastra. Rasanya benar- benar kekeluargaan karena rombongan DBL Indonesia All- Star 2010 benar-benar disambut oleh masyarakat Indonesia di kota tersebut.

”Ketika kali pertama melihat video program DBL November tahun lalu (2009, Red), kami langsung terkesan. Kami bilang, DBL harus ke Seattle. Sekarang DBL sudah ada di Seattle. Semoga DBL akan terus datang ke Seattle,” kata Michael Atmoko, presiden SSSCA.

Dari satu hari ini saja, kunjungan terasa sangat istimewa. Sulit membayangkan program lain yang bisa setara. Seperti yang disampaikan Dendy Sean T., general manager MPM Honda (main dealer di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur untuk motor Honda, partner utama DBL), yang ikut rombongan All-Star.

”Anak-anak DBL dapat pengalaman yang tidak bisa dinilai dengan uang. Kalau punya uang pun, belum tentu bisa merasakan yang sama. Kalau jadi turis, paling mendatangi tempat-tempat biasa. Kunjungan seperti ini harus punya misi dan koneksi yang pas,” ujar Dendy.

Setelah hari pertama, tidak sabar rasanya menjalani harihari lanjutan di Seattle bersama anak-anak All-Star hingga 8 November mendatang… (bersambung/ tulisan ini dibantu oleh M. Aziz Hasibuan)