Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (3-Habis)

Pergi hingga 100 Km Naik Karya Perancang Segway
24 Maret 2013 – 08.50 WIB
Pergi hingga 100 Km Naik Karya Perancang Segway
Seorang pengunjung sedang melihat salah satu konsep sepeda lipat inovatif dari Pasific Cycles di Nangang Exhibition Hall, Taipei. Sepeda ini dapat dimasukkan ke dalam koper tas saat bepergian. Foto: DIPTA WAHYU/JAWAPOS

Seheboh apapun konsepnya, fungsi utama sepeda adalah alat transportasi. Di Taipei Cycle 2013, ada banyak sepeda lipat dan e-bike yang membuat fungsi utama itu lebih praktis dan keren.

Catatatn AZRUL ANANDA dan DIPTA WAHYU, Taipei

Ada 1.103 exhibitor di Taipei Cycle 2013, menampilkan entah berapa puluh ribu sepeda. Mulai sepeda anak-anak, sepeda belanja, sepeda lipat, mountain bike (MTB), road bike (balap), hingga e-bike (sepeda elektrik). Semua dengan segala variannya.

Jumlah exhibitor itu adalah rekor baru dari event yang sudah terselenggara kali ke-26 ini. Jumlahnya 6 persen lebih banyak dari tahun lalu. Peningkatan itu pada dasarnya didorong oleh dua hal: meningkatnya popularitas sports bike di Asia plus dorongan pengembangan e-bike sebagai salah satu alternatif transportasi, asa masa depan (sebenarnya sudah menjadi alternatif di masa sekarang).

Sebelum berbicara ke e-bike sebagai sarana transportasi, kita bisa ‘mundur’ dulu ke konsep sepeda yang pada dasarnya dibuat sebagai sarana transportasi praktis: sepeda lipat.

Kalau ditotal, sepeda lipat dan sepeda-sepeda urban (sehari-hari) tetap menjadi penghuni dominan Taipei Cycle 2013. Wajar, karena ini kan memang pameran industri sepeda. Dan sepeda yang paling laris tentu sepeda yang fungsinya seperti itu. Bukan yang untuk sport. ‘’Sepeda lipat di sini paling banyak. Kalau dari sport, 60 persen road bike dan 40 persen MTB,’’ observasi Iwan Budi Santoso dari Graha Sepeda Surabaya.

Sepeda lipat, tentu saja, jenis dan positioning pasarnya macam-macam. Ada yang dibuat semurah mungkin, ada yang memang berkelas seperti merek Brompton. Penggemar merek Inggris itu mungkin sangat suka dengan salah satu produk yang dipajang di Taipei: S6L The Barca Brompton Limited Edition. Kira-kira hanya 500 unit yang diproduksi.

Keliling lagi di Nangang Exhibition Hall, ada beberapa produsen yang mencoba membuat sepeda lipat lebih baik lagi. Lebih baik dalam arti lebih praktis, lebih ringan dan ‘lebih-lebih’ lain yang membantu pemakainya sehari-hari.

Dalam hal ini, yang ‘menang’ adalah IFmove buatan Pacific Cycles. Menang dalam arti literal, karena IFmove merupakan salah satu pemenang Taipei Cycle di Awards 2013.

Apa istimewanya? Pertama, dalam kecepatan melipat. Hanya membutuhkan dua detik untuk melipat atau membuka lipatannya. Tentu itu membuatnya superpraktis, khususnya bagi yang suka tergesa-gesa dalam pemakaian sehari-harinya.

Walau lipatannya sederhana, IFmove tetap memiliki karakter handling dan performance yang bisa diadu dengan sepeda lipat lain. Plus, sepeda lipat berbahan aluminium tersebut sangat ringan. Hanya 10 kilogram. Menurut Pacific Cycles, IFmove sudah akan dijual bulan depan di berbagai negara. Harga yang disebut di kisaran Rp15 juta-Rp20 juta.

Mau sepeda praktis, tapi tetap malas banyak mengayuh? E-bike perlu menjadi pertimbangan. Dan di Taipei Cycle, ada buaanyaaak yang bisa dipertimbangkan. Tidak mau membeli sepeda utuh juga bisa. Pakai saja sepeda yang sudah ada di rumah, khususnya MTB standar, lalu pasang komponen elektriknya. Seperti yang disediakan GreenTrans Corporation Taiwan.

Mereka menyediakan E-bike Power Kit. Terdiri atas baterai yang bisa dipasang di downtube (tempat botol minum) atau di bawah boncengan belakang. Ada pula torque sensor, terpasang di bottom bracket (tempat tuas pedal terpasang). Plus motor elektrik (pada ban belakang), juga konsol LCD 2,8 inci (monitor di setir).

Menurut GreenTrans, harga satu set komponen itu di kisaran 600 hingga 700 dolar AS (tidak sampai Rp7 juta). Tapi, mereka belum menjual langsung ke end user (konsumen), melainkan ke produsen-produsen sepeda.

‘’Kami masih berfokus ke pasar Eropa karena di sanalah tempat pertumbuhan terbesar untuk e-bike saat ini. Dan di sana kami harus mengikuti regulasi yang ketat. Akan lebih safety kalau kit kami disesuaikan dengan sepeda yang dibuat khusus,’’ jelas Max Wang, salah seorang manager marketing and business GreenTrans.

Setelah dipasangi komponen elektrik itu, GreenTrans mengklaim, harga sepeda ketika sampai ke konsumen bisa lebih dari 2.000 dolar AS. ‘’Sistem ini akan sangat membantu anak-anak, orang berusia lanjut atau mereka yang bersepeda tapi bukan berorientasi sport,’’ tambah Max Wang. Kalau mau agak high concept, bisa ke booth DK City, juga perusahaan Taiwan. Di situ ada dua sepeda lipat sekaligus elektrik yang desainnya modern dan memukau. Yang pertama adalah db0 folding bike. Sepeda listrik yang bisa dilipat ringkas.

Tidak mau yang lipat? Ada db07 dengan frame berbentuk huruf ‘V’. Memakai 500W/250W DC brushless motor pada hub belakang, sepeda tersebut bisa mengantarkan kita bersepeda sejauh 100 Km sebelum kehabisan baterai. Itu karena baterai lithium 36V-nya 11Ah.

Pasang lepas baterai sangat mudah. Pada ‘lengan’ bagian belakang, ada tutup hijau yang bisa dibuka. Lantas, baterainya tinggal dikeluarkan. Ingin mengetahui berapa kapasitas baterai tersisa juga tidak perlu pasang monitor. Ada indikator yang terpasang cantik pada ‘lingkaran’ dasar huruf V, di atas bottom bracket.

Desain modern (bisa juga disebut futuristis) itu bukan dari Taiwan, melainkan dari ROBRADY Design, sebuah perusahaan AS yang sebelum ini kondang sebagai desainer Segway.
***

Kalau mau membicarakan semua sepeda yang ada di Taipei Cycle 2013, bisa berhari-hari tanpa habisnya. Bagi pengunjung dari kalangan industri sepeda, ada empat hari yang bisa dimaksimalkan, mulai 20 Maret hingga penutupan Sabtu kemarin (23/3).

Pengunjung umum memang kasihan. Mereka hanya punya kesempatan Sabtu kemarin, pukul 09.00 hingga 15.00. Mereka bisa masuk dengan membayar 200 dolar Taiwan atau sekitar Rp70 ribu. Jelas sangat tidak cukup untuk menikmati seluruh kawasan pameran.

Bagi yang penasaran, memang masih ada tahun-tahun berikutnya. Dan Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) bersama Taiwan Bicycle Exporter Association (TBEA) sebagai penyelenggara akan terus berusaha menjadikan event ini sebagai yang terbesar dan terbaik di dunia.

Jadwal untuk Taipei Cycle 2014 sudah diumumkan, yaitu pada 5-8 Maret 2014. Sedangkan, pada 2016, besar kemungkinan hall baru untuk perluasan Nangang Exhibition Hall sudah bisa digunakan.

Bukan tidak mungkin, pada 2016 itu pula, bersamaan dengan terus berkembangnya pasar di Asia, Taipei Cycle sudah menjadi yang terbesar dan terpenting di dunia.**

sumber :www.jpnn.com
Advertisements

Jalan Enam Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (2)

Sabtu, 23 Maret 2013 , 08:14:00

Bakal Sepertiga Asia, Sepertiga Eropa, dan Sepertiga Amerika

TERKESAN: Philip Gordon White (Founder Cervelo) bersama Azrul Ananda menunjukkan frame Cervelo RCA pada pameran Taipei International Cycle Show di Taipei Nangang Exhibition Hall, Jumat (22/3).

Pameran sepeda tidak seru tanpa melihat sepeda-sepeda konsep, eksotis, dan supermahal. Di Taipei, harian ini sempat berbicara pula dengan tokoh-tokoh kondang di balik karya-karya spektakuler itu. AZRUL ANANDA danDIPTA WAHYU – TAIPEI

PAMERAN sepeda mirip pameran mobil. Seberapa banyak pun mobil yang terjual, seberapa banyak pun model yang dipajang, tetap tidak akan menarik tanpa konsep-konsep baru atau produk-produk yang bisa bikin orang berdecak kagum atau geleng-geleng kepala.

Di Taipei Cycle 2013, khususnya di gedung utama Nangang Exhibition Hall, ada beberapa  yang mampu memberikan efek serupa. Khususnya dari “aliran cepat” alias road bike.

Kalau di pameran mobil, produkproduk ini seperti mobil balap atau supercar yang dipajang di tengah kumpulan sedan. Langsung menonjol dan mencuri perhatian.

Di lantai 4 Nangang, di booth Cer velo, ada sebuah brand highend road bike asal Kanada. Ada satu sepeda berwarna hitam polos, dengan komponen dan aksesori kar bon polos, yang terpajang. Warnanya memang tidak mencolok. Tapi, bagi kalangan penggemar se peda, yang satu ini wajib dipandangi dan dikagumi.

Produk ini benar-benar baru gres. Baru dalam hitungan hari diperke nalkan ke dunia dan menghebohkan para penggemar. Sepeda balap itu dibangun dari frame bernama Cervelo Rca. Sebuah frame yang hanya akan dijual 325 biji di seluruh dunia, yang harganya tertulis USD 11.500. Ya, hanya frame yang harganya di kisaran Rp110 juta!

Apa istimewanya? Frame itu diran cang khusus di unit riset dan pengembangan Cervelo di California, AS. Frame tersebut dibuat memenuhi beberapa tuntutan desain, yang beberapa tahun lalu bisa dianggap “impossible”. Yaitu, bobot di kisaran 600 gram bersama baut-bautnya, tapi tetap memiliki stifness (tingkat kekakuan) superior, plus harus aerodinamis.

Frame seringan itu tentu mampu menghasilkan full bike yang spektakuler ringannya. Nah, sepeda hitam yang dipajang tersebut adalah buktinya.

Dipadu dengan wheelset dan komponen-komponen karbon ringan merek AX Lightness, plus groupset Shimano Dura-Ace 9000 terbaru 11-speed dan crank Rotor, bobot total sepeda itu hanya 4,5 kilogram!

Itu dengan frame ukuran 54 (medium, untuk tinggi kisaran 175 cm). Kalau kecil seperti kebanyakan ukuran Asia, bisa lebih ringan lagi.

“Kalau ukuran 48 (extra small, red), bobot frame-nya turun lagi di angka 500-an gram,” ungkap Phil White, salah seorang founder Cervelo, yang di Taipei meluangkan waktu khusus untuk berbincang dengan Jawa Pos.

Di kalangan sepeda, nama Phil White -yang mendirikan Cervelo bersama Gerard Vroomen- sangat melegenda. Pria kelahiran 1962 itu seperti Ernesto Colnago dan Giovanni Pinarello di Italia. Dan di kancah pasar niche sepeda balap elite, White menyebut Cervelo memang berada di lahan yang sama dengan dua brand tersebut.

“Kami tak bisa menyebut berapa angka penjualannya. Tapi, kami mungkin setara dengan Pinarello, sedangkan Colnago sekitar 20-30 persen lebih sedikit,” ujarnya.

Dari situ, kita bisa menebak berapa kisarannya. Sebab, secara publik, Ernesto Colnago, yang pernah diwawancarai Jawa Pos di Italia akhir 2012, mengaku membatasi jumlah produksinya di angka 20 ribu sepeda per tahun.

Cervelo sendiri, tampaknya, tidak ingin membatasi jumlah produksi. Sekitar setahun lalu, Cervelo diakuisisi grup besar Belanda, Pon, yang juga memiliki merek sepeda lain seperti Focus danGiselle. Meski demikian, fokusnya tetap pada produk high-end di aliran road bike.

“Pon memosisikan Cervelo seperti Lamborghini atau Porsche-nya sepeda. Sedangkan merek Focus lebih masal seperti Volkswagen,” jelas White.

Dengan akuisisi itu, White tidak lagi menjabat CEO. Dia kini chairman. Dan dia merasa itu lebih  baik. Sebagai orang dengan latar belakang inovasi, dia mengaku lega pekerjaan-pekerjaan keras dan membosankan seperti operasional dan bisnis dipegang orang lain. Apalagi, ini di tangan grup besar, yang bisa mendorong Cervelo lebih besar lagi.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami tidak mampu memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan modal produksi. Sekarang masalah itu bisa teratasi,” paparnya. Pada masa mendatang, memang

akan ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang makin global. Apalagi dengan potensi pasar Asia yang luar biasa. “Saat ini, pasar Amerika-Kanada dan Amerika Serikat kami anggap satu, masih yang terbesar bagi kami. Eropa mungkin akan menyalip jadi pasar terbesar. Tapi, dalam lima sampai sepuluh tahun, saya kira komposisinya akan setara. Sepertiga di Asia, sepertiga di Eropa, dan sepertiga di Amerika,” paparnya.

Kini, White dan Vroomen bisa lebih bebas untuk kembali berin ovasi. White, yang mengaku hobi balap mobil, bisa memikirkan hal-hal baru yang bisa membantu Cervelo menghasilkan kejutan-kejutan baru. Sementara itu, Vroo men kini malah bereksplorasi di arena mountain bike, membuat merek baru lagi bernama “Open Cycle”.

Setelah Rca, kapan ada inovasi kejutan lagi? “Kita butuh tiga sampai empat tahun untuk menghasilkan Rca. Jadi, terobosan baru lagi mungkin butuh tiga tahun lagi,” pungkasnya.
***

Cervelo dulu adalah brand yang dikembangkan inovator dan entrepreneur yang kini meraup sukses besar. Di lantai dasar Nangang, ada brand inovatif, yang mulai jadi pergunjingan, dan kelak berpotensi jadi merek besar baru.

Merek itu adalah “Culprit”, yang fokus di arena aero road bike. Pendirinya adalah Joshua Colp. Pria asal California, AS, itu baru berusia 31 tahun. Tapi, dia sudah delapan tahun tinggal di Taiwan ber sama istri, dan menegaskan tidak ingin kembali ke Amerika.

“Kalau sedang di Amerika, saya justru kangen dan ingin segera balik ke sini,” ungkapnya.

Hebatnya, Colp tidak punya latar belakang teknis. Latar belakangnya adalah bisnis, dan bertahun-tahun bekerja di Taiwan untuk brand kondang asal negara tersebut, Trigon.

“Tapi, saya sangat cinta bersepeda. Dan saat bersepeda, saya selalu berpikir bagaimana membuat pengalaman itu lebih hebat lagi, dan perubahan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya,” ujarnya.

Dia pun mendirikan Culprit. Visinya bisa direalisasikan di Taiwan, yang memiliki industri pendukung. Karya utamanya sekarang adalah Culprit Croz Blade, yang memenangi 2013 Taipei Bike Show IF Design Award. Itu adalah sepeda balap aero, yang bisa dipakai sebagai sepeda time trial (TT).

Apa uniknya? Desain aero road  bike memang sudah banyak. Semua brand terbesar memiliki model aero road bike. Bedanya, sejak awal Culprit fokus memakai disc brake. Merek itu merupakan salah satu di antara segelintir yang mengeluarkan sepeda balap memakai disc brake.

Colp percaya, masa depan road bike memakai disc brake. Dan slogan Culprit adalah “The future is now”.

Karya terbesar Culprit sendiri sekarang belum beredar. Di Taipei Cycle 2013, yang dipajang baru prototipenya. Namanya Culprit Legend, sepeda TT khusus triathlon.

Colp mengizinkan sepeda itu difoto hanya oleh media. Yang lain sama sekali dilarang, karena takut banyak inovasinya akan dipalsu (walau sudah dia patenkan). Dia pun memohon agar detailnya tidak difoto.

Legend, mungkin, akan membuat Colp menjadi legenda sepeda masa depan. Fitur paling berani: Tidak memakai seatstay, atau sepasang “batang” penopang yang meng hubungkan bagian belakang frame dengan bagian atas di dekat sadel.

Mengapa? Colp menjelaskan, sepeda TT memang sangat cepat, tapi biasanya juga sangat kaku dan keras. “Tanpa seatstay, sepeda jadi lebih nyaman, karena tidak ada getaran yang naik ke sadel,” jelasnya.

Sepeda itu disebut akan memberikan keunggulan bagi atlet triathlon. Karena lebih nyaman, pengendaranya akan lebih fresh dan bisa mengikuti fase lomba berikutnya (lari) lebih kuat.

Untuk melakukan itu, butuh proses produksi yang inovatif, yang memastikan chainstay (penopang roda belakang) cukup kuat dan kaku.

Legend juga memakai disc brake. Plus, semua kabelnya di kawasan kokpit (depan) tersembunyi di dalam frame atau fork (garpu depan). Tentu saja, bobotnya harus ringan. Colp menarget bobot sepeda total di kisaran 6-7 kilogram.

Colp mengungkapkan, prototipe Legend yang dipajang itu masih terbuat dari plastik. Versi karbonnya baru akan selesai dibangun bulan depan. “Saya akan mengujinya dulu, memastikan keandalannya sebelum mulai menjualnya,” ucapnya.

Selain bikin aero road bike, Culprit punya obsesi unik: Membuat sepeda balap terbaik untuk anakanak. Salah satu produknya, Junior One, juga memenangi 2013 IF Design Award.

“Sebab, small rider (anak-anak, Red) juga punya hasrat untuk naik sepeda high-end.” Begitu yang tertulis di profil Culprit.
***

Di Taipei Cycle 2013, produk eksotis dan inovatif tidak hanya dari arena road bike. Sepeda listrik dan lipat pun bisa mengajak kita geleng-geleng kepala.(*)
(bersambung)

Jalan 6 Hektare di Taipei Cycle 2013, Pameran Sepeda Terbesar Asia (1)

Bangun Hall Baru agar Jadi Show Terbesar di Dunia
22 Maret 2013 – 11.32 WIB
Bangun Hall Baru agar Jadi Show Terbesar di Dunia
Taipei Nangang Exhibition Hall dengan luas kurang dari enam hektare yang mampu menampung ribuan pameran, salah satunya Taipe International Cycle Show, Kamis (21/3/2013). Foto: Dipta Wahyu/JPNN
Taipei International Cycle Show 2013 benar-benar besar. Luas areanya hampir 6 hektare di beberapa gedung. Perlu tiga hari jalan keliling untuk mengamati semua exhibitor.
———————–
Catatan AZRUL ANANDA dan DIPTA WAHYU, Taiwan
———————–
SEJAK tahun lalu saya ingin melihat Taipei Cycle (nama populer event). Teman-teman yang pengusaha sepeda berkali-kali menganjurkan saya untuk mengunjunginya. Bagaimanapun, inilah pameran sepeda terbesar di Asia, salah satu di antara tiga pameran terbesar di dunia.

Kalau ke Eropa atau Amerika untuk melihat pameran terbesar lain, tentu tidak sepraktis terbang ke Taiwan. Tapi, keputusan untuk benar-benar pergi saya ambil nyaris last minute. Banyak jadwal dan lain-lain yang membuat saya tak berani memastikan pergi. Ketika benar-benar ada celah waktu, saya pun memutuskan untuk go. Dan memang harus go!

Padahal, Selasa (19/3) pagi, sebelum terbang ke Taipei, saya jatuh saat latihan sepeda balap. Salah satu tulang di telapak kanan saya patah. Saya minta operasi ditunda sepulang dari Taipei saja. Untuk sementara digips saja.

Toh, saya masih bisa jalan, masih bisa beraktivitas. Yang sulit paling ketika harus mengetik laporan atau catatan. Saya tidak bisa mengetik sepuluh jari seperti biasa. Harus ‘’sebelas jari’’ seperti generasi ayah saya.

Selasa malam itu saya dan Dipta Wahyu terbang ke Taipei. Mendarat Rabu pagi (20/3), check in di hotel, lalu langsung ke Nangang Exhibition Hall, lokasi utama diselenggarakannya pameran.
***

Nangang Exhibition Hall besar sekali. Seluruh lantainya dipakai untuk Taipei Cycle 2013. Termasuk dua lantai dengan hall terbesar, lantai pertama dan lantai keempat. Ditambah dengan gedung-gedung lain, total Taipei Cycle memakai venue seluas 58 ribu meter persegi. Itu hampir 6 hektare!

Gedung lain yang dipakai adalah Taipei World Trade Center (TWTC) Hall 1 dan Hall 3 di kawasan pusat kota, dekat dengan gedung pencakar langit Taipei-101.

Dari Nangang dan TWTC tersedia shuttle bus yang rutin bolak-balik mengangkut peserta dan pengunjung pameran.

Semua itu mampu mengakomodasi lebih dari 1.100 exhibitor dari berbagai penjuru dunia. Dengan nyaman, lebih dari 7.000 pengunjung (dari kalangan industri sepeda dan sports) bisa berputar-putar dan berbisnis di dalamnya. Selain show sepeda, event tahun ini juga digabung dengan Taipei Sporting Goods Show (TaiSPO), Taiwan Int’l Sports Textile and Accessory Expo (SPOMODE), serta Diving & Water Sports Show (DiWAS). Beberapa kawasan outdoor di Nangang pun ikut disiapkan untuk keperluan test ride atau atraksi.

Saking besarnya, hari pertama itu -sejak pagi sampai sore- kami baru sempat ‘’menghabiskan’’ area di lantai empat di Nangang. Kebetulan, beberapa merek terbesar berpameran di sana. Acara opening ceremony yang dihadiri Wakil Presiden Wu Den-yih juga dilakukan di situ. Plus, press center tempat kami bisa bekerja juga di lantai tersebut.

Selama acara pembukaan, ditegaskan terus bagaimana Taiwan berniat untuk terus menjadi “Kerajaan Sepeda” di masa mendatang. ‘’Taiwan sudah menjadi pusat suplai untuk keperluan sepeda-sepeda high-end dunia,’’ tegas Wang Chih-kang, Chairman Taiwan External Trade Development Council (TAITRA), penyelenggara Taipei Cycle.

Ke depan, Taiwan juga berambisi menjadikan event itu sebagai yang terbesar di dunia. Untuk melakukan itu, diperlukan venue baru yang lebih besar lagi.

Wang menyampaikan, pembangunan exhibition hall baru di sekitar Nangang sudah dimulai. Wakil Presiden Wu juga telah mendorong agar pembangunan venue baru itu dipercepat lagi.

Bisa dibayangkan betapa besarnya Taipei Cycle itu nanti. Sekarang saja, perlu waktu sekitar tiga hari untuk bisa menengok seluruh kawasan pameran. Belum lagi kalau ingin mengunjungi sejumlah stan secara khusus.

Tahun ini event diselenggarakan selama empat hari. Berakhir Sabtu besok (23/3). Bagi penonton umum lebih merepotkan lagi. Sebab, mereka hanya boleh membeli tiket untuk melihat pada hari terakhir. Itu pun hanya sampai pukul 15.00!
***

Pemerintah Taiwan memang men-support total event yang mendukung industri sepeda sendiri itu. Para pengunjung internasional yang mendaftar ke TAITRA, kalau berasal dari kalangan bisnis sepeda, mendapat fasilitas hotel gratis. Transportasi berupa shuttle bus dari hotel ke venue (dan sebaliknya) juga gratis. Plus, di venue dapat kupon makan gratis. Kalau ingin jadi turis, pengunjung internasional juga diberi tiket gratis naik ke observatory Taipei-101, salah satu gedung tertinggi di dunia. Seperti yang didapatkan V Christian Pieschel alias Chies dari Velomix Surabaya. ‘’Saya daftar awal Februari, hanya perlu kirim kartu nama dan surat rekomendasi toko,’’ aku Chies, yang mendapat jatah menginap di Fullerton Hotel dan ‘’bonus ekstra’’ kamar suite.

Walau dapat fasilitas transportasi, Chies benar-benar ingin menikmati suasana bersepeda. Dia membawa sepeda Brompton-nya dari Indonesia. Kamis kemarin (21/3) ia mengayuhnya dari hotel ke venue pameran.

‘’Hanya sekitar 5 kilometer. Yang tidak tahan dingin dan anginnya,’’ ujar dia. Suhu udara Kamis kemarin memang sempat agak turun ke kisaran 16 derajat celsius. Sekitar lima derajat lebih dingin daripada sehari sebelumnya.

Menurut data yang dikeluarkan TAITRA, nilai transaksi yang dihasilkan dari pameran tahun ini saja bisa mencapai 300 juta dolar AS atau hampir Rp3 triliun.
***

Taipei Cycle memang lebih fokus ke industri sepeda. Bagi yang ingin memiliki brand sendiri, semua vendor yang diperlukan berpameran di sini. Mulai pembuatan frame dan komponen, pengecatan, dan lain sebagainya.

Tapi, bukan berarti event itu boring untuk penggemar sepeda dan tren terbarunya. Sejumlah sepeda baru yang memukau di-launching di sini. Beberapa prototipe keren juga ditampilkan, yang kelak bisa menjadi tren paling populer.

Tidak ketinggalan kategori e-bike. Baik itu sepeda bermotor listrik maupun komponen motor elektrik yang bisa dipasangkan pada sepeda apa pun. Benar-benar banyak barang yang bisa bikin para penggemar sepeda meneteskan air liur.(bersambung)

sumber :www.jpnn.com