Undangan Menyerbu, Pasukan Rockets Melarikan Diri

15-Oct-2010

Berburu Yao Ming di Tengah NBA China Games 2010 di Beijing (1)

Untitled-3

Yao Ming benar-benar ”dewa” di Tiongkok. Saat tampil di NBA China Games 2010, dia harus tahan ”siksaan sorotan.” Berikut catatan AZRUL ANANDA, yang baru datang dari Beijing untuk ”berburu Yao Ming” bersama rombongan National Basketball League (NBL) Indonesia.

KAPAN lagi bisa bertemu Yao Ming, raksasa 226 cm Tiongkok yang kini superstar di NBA? Kalau ”kereta Yao Ming” lewat, dan ada kemampuan, kita mungkin harus berlari dan melompat naik agar tidak ketinggalan.

Bagi saya, kereta itu ”lewat” pada 12 dan 13 Oktober lalu di Beijing. Ja ngan sampai ketinggalan kereta!

***

Sejak 2007, praktis setiap tahun Ja wa Pos Group dan PT Deteksi Bas ket Lintas (DBL) Indonesia mengi rimkan rombongan ke Tiongkok. Mereka menjadi peliput atau tamu VIP di NBA China Games, even laga ekshibisi yang dise lengga rakan liga paling bergengsi di dunia tersebut

Jalur ke sana memang mudah karena Jawa Pos Group dan DBL Indonesia (lewat liga pelajar terbesar Development Basketball League) telah menjalin kerja sama multiyear untuk pengembangan basket di Indonesia.

Tahun ini sebenarnya cukup berat untuk memenuhi undangan tahunan NBA tersebut. Sebab, jadwal kompetisi basket di Indonesia sudah sangat padat. Bukan hanya liga pelajar yang bertitel resmi Honda DBL 2010 (seri SMP sekarang berlangsung di Surabaya). Juga penyelenggaraan liga profesional baru pengganti Indonesian Basketball League (IBL), National Basketball League (NBL) Indonesia.

Kedua liga terbesar di tanah air itu –DBL dan NBL Indonesia– memang sekarang berada di bawah satu payung, PT DBL Indonesia, dan saya menjadi commissioner (seperti CEO) untuk keduanya.

Apalagi, NBA China Games 2010 dijadwalkan berlangsung pada 13 Oktober (Beijing) dan 16 Oktober (Guangzhou). Sementara seri perdana NBL Indonesia dibuka di DBL Arena Surabaya pada 16 Oktober. Yang tampil? Hous ton Rockets dan New Jersey Nets.

Kalau yang bertanding tim-tim lain, mungkin tahun ini saya memilih absen dulu dari NBA China Games. Tapi, kali ini yang datang adalah Rockets!

Ada dua alasan besar mengapa tim itu tak boleh dilewatkan. Pertama, Yao Ming. Rak sasa Tiongkok itu akan tampil sebagai pe main NBA di negeri sendiri untuk kali pertama sejak 2004.

Pada usia 30 tahun dan setelah bertahunta hun dilanda cedera, sang superstar mungkin tidak akan pernah kembali lagi untuk bertanding sebagai bintang di sebuah tim NBA. Jadi, kesempatan ini tak boleh dilewatkan.

Kedua, guard Rockets Kevin Martin. Tahun lalu Martin datang ke Surabaya, tampil sebagai bintang/pelatih di Indonesia Development Camp 2009. Dia menemui dan berbagi ilmu dengan pemain-pemain SMA terbaik di DBL. Yang paling mengesankan, dia sempat mendonasikan ratusan juta rupiah untuk membantu perkembangan DBL di Indonesia!

Oke, kalau sekadar datang untuk nonton di lapangan mungkin juga tidak terlalu meyakinkan. Tapi, sebagai tamu VIP NBA, ada pula undangan untuk menghadiri resepsi kedatang an di Hotel Westin di Financial Street Bei jing. Di acara 12 Oktober (sehari sebelum pertandingan) itu ada kesempatan bertemu langsung dengan Yao Ming, Martin, dan semua bintang Rockets dan Nets!

Saya pun memutuskan berangkat ke Beijing. Niatnya bukan sebagai peliput. Murni mencoba menikmati lagi rasanya menjadi fans (superfan?). Meski ada sedikit meeting dengan NBA untuk urusan kerja sama, dalam perjalanan ini saya benar-benar mencoba memosisikan diri sebagai penggemar (selama ini selalu jadi peliput atau menghadiri sejumlah business meeting).

Kali ini bersama beberapa rekan NBL Indonesia. Yaitu, Andiko Ardi Purnomo (pimpinan Pelita Jaya Jakarta) dan Bambang Susilo (general manager CLS Knights Surabaya). Ikut pula Harjono (teman kolektor NBA dari Surabaya) serta Cyrus Harsaningtyas (kru Pelita Jaya).

Hanya, trip kali ini sangatlah singkat. Berangkat Senin malam (11/10), sampai Selasa pagi (12/10). Selasa malam ikut welcome reception, Rabu malam (13/10) nonton per tandingan di Wukesong Arena. Lalu, Rabu te ngah malam itu juga terbang balik ke Indonesia. Tanggal 14 kemarin pagi sudah harus kembali untuk persiapan seri pembukaan NBL Indonesia di Surabaya.

Saking singkat dan padatnya, teman-teman menyebut ini perjalanan ”tiga hari satu malam.” Sebab, dua malam yang lain ”tak dihitung,” karena dihabiskan di ”Hotel SQ” (kode penerbangan Singapore Airlines).

Tiba di Beijing, semua undangan didapat dari teman-teman NBA yang sudah hadir di Tiongkok. Termasuk undangan reception plus tiket VIP di baris istimewa, satu kelompok dengan undangan VIP lain dan istri/keluarga para pemain.

Undangan siap, kaus dan merchandise lain untuk berburu tanda tangan sudah didapat. Ada kaus, foto, jersey, majalah, bola, dan se bagainya.

Tapi, ternyata, bertemu Yao Ming (dan bisa dibilang semua pemain Rockets) tidaklah semudah membawa undangan. Dan, perjalan an ini juga memberi pelajaran, menjadi Yao Ming tidak seenak yang kita bayangkan…

***

Selasa malam (12/10) kami datang lebih dini di acara resepsi. Mulai pukul 19.00, datang sejak 18.00. Supaya maksimal menikmati acara dan bertemu sebanyak mungkin bintang (dan mendapat sebanyak mungkin foto plus tanda tangan).

Satu teman lagi bergabung, Happy Saputra, seorang polisi muda Indonesia yang mendapat beasiswa belajar bahasa di Tiongkok. Pria 25 tahun itu unik. Dari dulu cita-citanya ingin membuktikan bahwa warga Tionghoa pun bisa menjadi polisi di Indonesia (dia satu-satunya di Polda Jatim).

Acara resepsi itu sebenarnya acara standar resepsi NBA. Anggap saja jumpa fans untuk VIP, di Ballroom Hotel Westin dengan tatanan mewah. Total sekitar 400 orang hadir di acara tersebut. Termasuk puluhan eksekutif NBA da ri kantor pusat New York, NBA China di Tiongkok, dan NBA Asia di Hongkong. Tentu saja, termasuk puluhan pemain, pelatih, dan ofisial Houston Rockets dan New Jersey Nets.

Tepat pukul 19.00, semua undangan boleh masuk dan langsung menikmati sajian (standing party). Para eksekutif NBA sudah di dalam. Jadi, kami pun sudah bisa berbincang santai dengan mereka. Sudah hadir pula sejumlah ”legend.” Mantan-mantan superstar NBA yang kini bekerja untuk liga itu, untuk kebutuhan-kebutuhan media dan PR.

Tampak di antaranya Clyde ”The Glide” Drexler, yang dulu andalan Portland Trail Blazers dan Houston Rockets. Lalu Darryl ”Chocolate Thunder” Dawkins, raja slam dunk era 1970-an. Yang seru –bagi saya–waktu bertemu Sam Perkins, andalan Seattle SuperSonics yang Mei lalu hadir untuk serangkaian klinik basket di Jakarta dan Medan, serta menghadiri acara launching NBL Indonesia.

Begitu melihat saya, dia langsung tersenyum lebar dan bilang, ”Hey Azrul! Nice to see you again. Sejak pulang dari Indonesia, saya selalu bilang ke orang-orang, ’Indonesia sekarang sudah punya liga.’ Semoga sukses ya.”

Dalam hati saya berpikir, ”Wih, lumayan, ada yang bantu promosikan basket Indonesia nih. Legenda NBA lagi!”

Kemudian, saya diperkenalkan pada Clyde Drexler. Mantan anggota original Dream Team di Olimpiade Barcelona 1992 itu ternya ta memang sering berkunjung ke Tiongkok. Sejak pensiun, dia menjadi salah satu bintang favorit untuk mempromosikan produk- produk di Tiongkok (negara yang memang gila basket).

”Saya mewakili beberapa perusahaan di sini. Mungkin setahun dua atau tiga kali ke sini. Total, mungkin sudah 14 kali atau lebih saya ke Tiongkok,” aku sang legenda yang kini berusia 48 tahun itu.

Para legenda ini sebenarnya punya fungsi ganda di resepsi tersebut. Mereka membuat senang para undangan karena lebih fleksibel dalam melayani permintaan foto dan tanda tangan. Yang lebih penting: Fungsi sebagai decoy (pengalih perhatian). Khususnya, ketika para pemain Rockets dan Nets mulai berkumpul di Ballroom. Jadi, para bintang utama bisa datang lebih tenang. Sebab, saat mereka masuk, para undangan sibuk ”me nyer bu” para legenda.

Kecuali mungkin untuk Yao Ming….

***

Biasanya, para bintang utama (kali ini pemain Rockets dan Nets) datang lewat belakang, muncul dari balik panggung, naik ke panggung, baru turun untuk makan dan berga bung dengan para undangan.

Entah mengapa, Selasa malam lalu Yao Ming muncul dari pintu depan. Raksasa Tiongkok itu benar-benar kelihatan raksasa. Meski ada banyak orang tinggi di dalam ballroom, pemain 226 cm itu tetap menjadi yang paling tinggi. Tentu saja, begitu tiba, Yao Ming langsung diser bu undangan untuk foto dan tanda tangan. Wajar, dia memang ”jualan utama” di NBA China Games 2010. Semestinya dia berbagi tugas dengan bintang Tiongkok lain di NBA, Yi Jianlian. Namun, karena Yi ditukar oleh Nets ke Washington Wizards, Yao pun jadi ”sendirian.”

Saya dan teman-teman dari Indonesia mera sa tidak perlu ikut menyerbu. Sebab, teman- teman NBA sudah menjanjikan waktu khusus bertemu dengannya.

Malam itu kami juga sudah sangat senang karena dapat bertemu dan berbincang de ngan Commissioner NBA David Stern (bagi saya ini pertemuan kedua), yang disebut-sebut sebagai pimpinan liga profesional terbaik di dunia. Stern, 62, ternyata cukup update soal basket di Indonesia, khususnya hubungan antara DBL Indonesia dan NBA yang dijalin sejak 2008. ”Keep up the good work,” pesannya.

Yao Ming sendiri tampak kurang nyaman menjadi pusat perhatian. Meski ada banyak pemain bintang lain, dia tampak kikuk dan terkesan ingin segera pergi dari ruang acara. Ketika dipanggil di atas panggung pun, dia mencoba ”bersembunyi.” Caranya, dengan naik panggung di barisan terakhir, lalu selalu menundukkan kepala di saat rangkaian acara di panggung

Ketika dalam pidatonya David Stern menying gung Yao Ming, sang bintang tampak langsung menundukkan kepala dan meringis. Raut wajahnya seolah bilang, ”Aduh, sudahlah! Jangan terlalu perhatikan saya!”

Setelah foto bersama, semua pemain turun bergabung bersama undangan. Seluruh barisan Nets terus santai sepanjang acara. Namun, Yao Ming dan barisan bintang Houston Rockets sempat bikin bingung banyak orang. Gara-gara langsung ”diserbu,” mereka tidak mau lama-lama, dan seperti melarikan diri ramai-ramai dari ruang acara.

Kami pun sempat panik. ”Waduh! Tidak bisa bertemu Yao Ming dong!” pikir saya waktu itu. (bersambung)

Advertisements

Mengunjungi Pusat Grosir tanpa Ujung di Yiwu, Tiongkok (3-Habis)

Selasa, 23 Okt 2007,
Seratus Kelereng Rp 1.000, Tak Tega Tanya Harga Karet Gelang
Barang-barang di Yiwu bukan hanya barang sehari-hari. Barang-barang untuk dikoleksi juga diproduksi dan dijual secara grosir. Misalnya, perisai Inggris dan miniatur David Beckham. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wartawan Jawa Pos yang baru kembali dari Tiongkok.
————-

Harga barang di pusat-pusat perbelanjaan “standar” Tiongkok sudah bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Bagi yang berdagang, harga “standar” sudah cukup untuk memberi untung besar ketika dijual lagi di Indonesia.

Kalau melihat harga di The China Yiwu International Trade City, kita mungkin bakal geleng-geleng sampai kepala berputar 360 derajat.

Saya dan rekan-rekan dari DetEksi Jawa Pos sempat mengunjungi beberapa toko cukup lama, tanya-tanya harga. Tapi, mungkin karena masih muda-muda (dan saya merasa masih muda), yang kami kunjungi toko-toko yang memang membuat kami tertarik.

Jadi maaf, kami tidak mendapatkan quotation untuk harga panci, piring, kompor, dan harga-harga barang kebutuhan yang sekarang banyak didatangkan dari Tiongkok.

Toko pertama yang kami masuki, terus terang, adalah toko kelereng. Ya, di Trade City itu ada beberapa toko kelereng, bukan hanya satu. Berapa harga yang ditawarkan?

Di Indonesia, sebuah kelereng biasa ukuran kecil mungkin dijual Rp 100 per buah. Di Yiwu? Satu kantong isi seratus biji hanya 84 sen, tak sampai 1 yuan. Berarti, seratus biji kelereng hanya sekitar Rp 1.000.

Kami juga mengunjungi toko yang menyediakan berbagai merchandise olahraga. Mereka menjual gantungan kunci, syal, handband, handuk, bantal, boneka, dan berbagai barang berlambang tim-tim sepak bola internasional. Termasuk di antaranya miniatur pemain-pemain top seperti David Beckham.

Salah satu produk yang paling kami minati ya miniatur Beckham itu. Tingginya sekitar 15 cm, dengan ukuran kepala lebih besar dari badan. Kepalanya bisa goyang-goyang (bobbing head).

Kalau di Indonesia atau di toko-toko resmi, miniatur itu dijual di atas Rp 100 ribu. Bahkan mungkin sampai Rp 200 ribu. Tahu berapa harganya kalau pesan di sana? Hanya 6,8 yuan atau Rp 9.100. Mau pesan boneka bentuk diri sendiri atau tokoh karangan sendiri juga bisa. Syaratnya, harus pesan minimal 5.000 buah.

Ada pula Fa Zhan Craft Gift Shop. Toko tersebut menjual barang-barang novelty. Yaitu, barang-barang unik yang dijual untuk dikoleksi. Contohnya, aneka ragam replika perisai Inggris. Miniatur tokoh film Predator dan Transformer dari besi-besian, replika full size helm dan baju besi Inggris, dan sebagainya.

Barang-barang tersebut biasanya dijual di negara-negara Barat, di berbagai gift shop. Karena memang bukan barang masal, kita tak perlu beli dalam jumlah ratusan. Bahkan, boleh beli hanya satu set saja. Perisai Inggris yang cantik dipajang di dinding rumah, harganya cukup mahal, mencapai 2.800 yuan atau Rp 3,5 juta. Kalau dijual di Amerika, misalnya, saya yakin mencapai lebih dari Rp 10 juta per set. Ingin memajang replika baju besi Inggris? Harganya 7.500 yuan atau Rp 9,375 juta. Lumayan sangar, tingginya sampai 2 meter.

Ada satu tempat yang saya menyesal tidak tanya harga. Yaitu, toko yang khusus menjual karet gelang. Bukan karet gelang modis, tapi karet gelang seperti yang biasa dipakai untuk membungkus nasi di warung. Begitu tahu ada toko yang khusus berjualan itu saja sudah cukup membuat saya lemas, tak tega bertanya.

Soal barang-barang unik, banyak berada di bangunan pertama, atau bangunan lama Trade City. Blok A sampai E itu terkesan lebih sederhana. Kalau di Surabaya, seperti masuk Pasar Turi. Tentu saja dengan jalan-jalan yang lebih lebar, suasana yang lebih bersih.

Blok A sampai E itu berisi berbagai macam aksesori. Mulai untuk rambut, pakaian, dan lain-lain. Kancing, ritsluiting, pita rambut, atau jepit rambut, semua ada di sana.

Kumpulan blok tersebut mungkin juga merupakan toko mainan terbesar di dunia. Ada blok khusus mainan elektronik, ada blok khusus boneka, mainan plastik, dan lain-lain.

Di dalamnya, ada sejumlah toko yang menjual khusus berbagai bentuk Sinterklas. Ada yang ukuran manusia normal dan bisa bergoyang, boneka-boneka kecil. Ada pula toko yang menjual khusus topeng seram untuk kebutuhan Halloween.

Kalau bawa anak kecil ke Blok A Trade City, hati-hati. Ada begitu banyak toko mainan di situ, anak Anda mungkin terus merengek tak mau pulang selama sebulan!

Mengunjungi Pusat Grosir tanpa Ujung di Yiwu, Tiongkok (2)

Senin, 22 Okt 2007,
Hanya Satu-Dua Penjaga, Duduk di Depan Komputer
Siapkan sepatu jalan yang nyaman, tanpa terlalu banyak aksesori bergelantungan. Karena di mal tanpa ujung di Yiwu, Anda bakal berjalan berjam-jam. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wartawan Jawa Pos yang baru kembali dari Tiongkok.

Mengunjungi The China Yiwu International Trade City merupakan sebuah tantangan fisik. Pusat grosir itu benar-benar seperti tak punya ujung. Dan, jangan punya harapan muluk bisa mengunjungi semua blok atau toko di dalamnya. Jangankan semua, dalam sehari, sepuluh persen saja mungkin tidak tercapai. Jalan ke semua blok saja belum tentu bisa dilakukan.

Kan sudah ada hitungannya. Kalau ingin mengunjungi semua dari 30 ribuan toko di dalamnya, masing-masing satu menit, delapan jam dalam sehari, Anda akan butuh dua bulan untuk “menamatkan” Trade City tersebut.

Di antara dua bangunan superpanjang yang membentuknya, yang paling menantang kekuatan jalan adalah bangunan kedua. Blok F sampai H. Ada bagian yang empat lantai, ada yang lima lantai.

Bangunan kedua itu merupakan yang terbaru. Ketika saya dan rekan-rekan DetEksi Jawa Pos masuk dari dekat ujung Blok H, kesan yang didapat bukan seperti pusat grosir di Indonesia yang supersibuk. Kesannya luas dan tenang. Jalannya lebar-lebar, dengan lapisan keramik yang rapi.

Berbagai barang bisa didapatkan di Trade City ini. Di Blok H itu, lantai pertama full jualan kacamata. Ya, kacamata-kacamata plastik murah yang Anda beli di pinggir jalan atau pertokoan di Indonesia sangat mungkin dulunya “dikulak” di Yiwu.

Lantai dua penuh dengan penjual sporting goods. Aneka ragam bola, mulai basket sampai kelereng, aneka raket, tali skipping, peralatan fitness, dan lain-lain ada di sana. Lantai tiga adalah stationery, mulai pulpen, notebook, dan sebagainya. Sedangkan lantai empat penuh dengan produk kosmetik.

Toko-tokonya berukuran standar, kira-kira 2 x 3 meter. Ada yang lebih besar, bergantung berapa kavling yang disewa atau dibeli. Hampir semua punya pola penjualan sama.

Masing-masing toko biasanya hanya dijaga satu atau dua orang. Setiap toko punya meja, hampir semua dilengkapi komputer. Karena tak banyak pengunjung, para penjaga biasanya duduk-duduk di depan layar komputer. Toko-toko itu tidak dipenuhi barang seperti pusat grosir di Indonesia. Bahkan, masing-masing barang hanya ada satu buah.

Kalau kita tertarik membeli, mereka akan memberikan quotation. Berapa jumlah barang yang Anda pesan menentukan harga akhirnya. Kalau mau beli satu-satu, mereka biasanya akan menolak.

Namun, ada trik yang bisa dilakukan untuk mendapatkan barang yang diidamkan. Bilang saja tertarik ingin order, tapi butuh barang sample. Jangan terburu-buru, pura-pura saja menanyakan harga berbagai barang, lalu pura-pura tawar-menawar jumlah pesanan dan harga barang per buah. Butuh waktu, tapi biasanya berhasil.

Pakai bahasa apa? Tenang. Banyak penjaga stan di Trade City itu bisa bahasa Inggris. Tidak bisa diajak ngobrol banyak, tapi cukup untuk negosiasi harga dan jumlah. Kalaupun kerepotan, selalu ada bahasa lain yang lebih efektif: Bahasa kalkulator dan tulisan angka di kertas.

Yiwu memang tidak butuh jualan eceran. Trade City itu melayani penjualan berbagai industri yang tersebar di Provinsi Zhejiang. Provinsi itu memang luar biasa, membuat berbagai produk yang kita miliki dan sehari-hari kita gunakan.

Seperempat sepatu Made in China dibuat di provinsi ini, tepatnya di Kota Wenzhou. Kota Wuyi menghasilkan satu miliar kartu permainan per tahun. Sepertiga kaus kaki di dunia dibuat di Datang. Sebanyak 350 juta payung diproduksi di Songxia setiap tahun.

Bukan hanya itu. Hobi main pingpong? Sangat mungkin paddle (bat) Anda dibuat di Shangguan. Pulpen Anda dibuat di Fenshui. Sebanyak 40 persen dasi di dunia diproduksi di Shengzhou.

Sekarang perhatikan kancing baju Anda. Mungkin itu dibuat di Qiatou, sebuah kota kecil dengan penduduk hanya 64 ribu orang. Menurut catatan, sampai 70 persen kancing baju di Tiongkok dibuat di kota itu.

Dari Blok H, kami berjalan ke arah Blok G. Blok ini yang mungkin paling disuka wanita penghobi shopping. Kenapa? Lantai pertama penuh dengan tas dan dompet!

Terus terang, saya dan rekan-rekan tidak mengelilingi semua toko di bagian ini. Tapi, bagi penggemar tas-tas bermerek yang palsu, mungkin di sini bukan tempatnya. Di sini bahan, model, dan jenisnya luar biasa bervariasi, namun banyak yang tidak bermerek atau merek lokal.

Masuk akal juga sih. Kita bisa beli banyak di sini, lalu pasang merek sendiri. Saya sempat melihat toko dompet yang menjual merek Eropa palsu. Waktu di Tianjin, saya tahu harganya sekitar 60 yuan atau Rp 75 ribu. Di Indonesia, saya tahu harganya sekitar Rp 150 ribu. Berapa harganya di Yiwu? Hanya 30 yuan atau Rp 37.500 per buah. Itu belum ditawar. Tapi, kita memang tak boleh beli satu atau dua. Kata sang penjaga toko, pesanan minimum 200 buah.

Ada juga beberapa toko yang berjualan barang satuan, mungkin sampel yang sudah tak lagi dibutuhkan. Harganya cukup murah, ada satu kotak tas -yang menurut saya lumayan bagus- dijual hanya 20 yuan (Rp 25 ribu) per buah. Tas-tas itu, ketika sampai di Indonesia, harganya pasti di atas Rp 150 ribuan.

Blok G ini mungkin cocok juga untuk pasangan. Yang wanita nyangkut di bawah melihat tas, yang pria bisa ke lantai atas untuk melihat-lihat alat-alat komunikasi, jam dinding, jam tangan, dan berbagai perangkat elektronik.

Tahu jam tangan harga Rp 50 ribuan yang kita lihat di mal-mal Indonesia? Mungkin dipesannya dari lantai dua Blok G Trade City Yiwu ini.

Tak terasa, tiga jam lebih berlalu sejak kami tiba di Trade City ini. Meski dipotong makan siang, dengan kecepatan seperti ini, kita tak mungkin bisa sampai ujung sebelum petang.

Apesnya, ketika keliling melihat-lihat di Blok G, ternyata kita berjalan salah arah. Bukannya menuju ke Blok F, ternyata kita malah berjalan kembali ke Blok H!

Begitu banyaknya toko dan jalan di Trade City, kita memang bisa tersesat dengan mudah. Apalagi, toko-tokonya tidak dihias seperti di Indonesia. Semua terlihat sama, apalagi dalam satu lantai kebanyakan menjual barang yang sama.

Sejak saat itu targetnya bukan lagi melihat-lihat barang di dalam Trade City. Targetnya adalah berjalan menuju Blok A, menamatkan Trade City ini sebelum pukul lima sore. Sebab, pukul 18.45 kita sudah harus naik kereta lagi kembali ke Shanghai. (bersambung)

Mengunjungi Pusat Grosir tanpa Ujung di Yiwu, Tiongkok (1)

Minggu, 21 Okt 2007
Butuh Dua Bulan untuk Mengunjungi Semua Toko
Di Tiongkok, ada pusat perbelanjaan yang seolah tanpa ujung. Saking panjang dan besar, mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk mengunjungi semua toko yang ada di dalamnya. Berikut catatan AZRUL ANANDA, wartawan Jawa Pos yang baru kembali dari Tiongkok.
———-

Kancing baju yang Anda pakai. Ritsluiting pada celana atau koper. Karet gelang pembungkus makanan. Korek api. Tas dan dompet wanita. Bola basket hingga kelereng. Kacamata murah. Gantungan kunci. Miniatur plastik David Beckham. Pulpen. Dasi. Lampu rumah. Aneka mainan. Juga besi pengait pada (maaf) bra wanita.

Kalau semua itu datang dari Tiongkok, atau bertulisan Made in China, besar kemungkinan dibuat di Provinsi Zhejiang. Didapatkannya dari Yiwu (baca: I-U), sebuah kota sekitar 100 km di selatan Hangzhou.

Tahun ini enam kali sudah saya terbang ke Tiongkok. Beberapa kali saya mendengar orang cerita betapa dahsyatnya Yiwu. Semua barang ada di sana, kata mereka. Harganya luar biasa murah, kata mereka. Mal di sana lebih besar dari besar, kata mereka.

Saya juga pernah baca, mal itu berisi lebih dari 30 ribu toko. Jadi, kalau ingin mengunjungi semua toko yang ada di dalamnya satu per satu, masing-masing satu menit, sehari delapan jam, kita bakal membutuhkan waktu minimal dua bulan untuk “menamatkan” mal tersebut.

Akhir pekan lalu saya memutuskan pergi ke sana, mengajak teman-teman DetEksi Jawa Pos yang baru saja mengikuti NBA China Games di Shanghai.

Semula sempat bingung pula mau ke sana naik apa. Dulu saya pernah diajak ke Hangzhou. Waktu itu butuh tiga jam naik mobil dari Shanghai. Kalau Yiwu berada di selatan lagi, mungkin perlu empat jam naik mobil.

Apalagi, ini Tiongkok. Segala kemampuan yang saya dapatkan setelah SMA dan kuliah tujuh tahun di Amerika Serikat mungkin tidak ada gunanya. Lupakan bahasa Inggris, lupakan alfabet, halo bahasa ikan dan isyarat.

Tapi, ternyata, ke Yiwu tidak sesulit yang dibayangkan. Bahkan, hanya 119 yuan atau sekitar Rp 150 ribu per orang bisa pergi secara mewah dan tanpa banyak memakan waktu.

Sekarang saya merasakan hebatnya revolusi kereta api yang sedang berlangsung di Tiongkok. Sudah setahun ini ada Shanghai Nanzhan alias Shanghai South Station. Stasiun kereta api itu supermewah. Terbungkus kaca di mana-mana serta travelator dan eskalator di mana-mana. Megah dan mewah meski masih terdengar “huek, cuh!” beberapa kali di beberapa sudut.

Bandara Shanghai jelas kalah, Bandara Beijing jelas kalah, kebanyakan bandara top di mana-mana kalah megah.

Dengan 119 yuan per orang, kita bisa naik CRH (China Railway High-speed). Sesuai namanya, itu kereta kecepatan tinggi. Dalam waktu 2 jam dan 15 menit, dengan kecepatan mencapai 203 km/jam, kita bisa mencapai Yiwu dari Shanghai. Sehari ada beberapa kali keberangkatan, pagi hingga sore.

Waktu itu kami memilih kereta pukul 07.25. Jadwal sampai di Yiwu pukul 09.40. Kereta itu berhenti tiga kali sebelum sampai Yiwu, salah satu di antaranya di Hangzhou.

Naik CRH itu yang dahsyat bukan kecepatannya, tapi kemewahan di dalamnya. Tempat duduknya seperti naik penerbangan internasional kelas economy deluxe. Joknya bak di pesawat, bisa dimundurkan dengan meja lipat di depan. Ada juga set kursi yang berhadap-hadapan dengan meja di tengah. Layar televisi ada di dalam setiap gerbong. “Pramugari” berdandan begitu rapi dengan blazer dan topi.

Bawa laptop, jangan takut kehabisan baterai. Ada “colokan” listrik di sisi setiap kursi. Pesawat, eh, kereta sangat mulus. Lumayan membantu saya mengerjakan sejumlah rencana naskah yang menumpuk dalam seminggu terakhir.

Kalau lapar, ada gerbong restoran yang begitu mewah, menyediakan aneka makanan dan minuman. Dengan harga yang normal, bukan harga luar angkasa seperti di kebanyakan bandara Indonesia. Toilet? Bagi yang trauma dengan kondisi toilet di Tiongkok, jangan khawatir. Bersih seperti di pesawat.

Di Yiwu, kami mendarat, eh, tiba di stasiun yang baru diresmikan setahun lalu. Dari sana, kami langsung naik bus nomor 801 menuju The China Yiwu International Trade City, mal raksasa yang dimaksud itu. Biaya naik bus hanya 1 yuan (Rp 1.250) per orang. Begitu sampai di mal tersebut, bus itu berhenti tiga kali. Di depan, tengah, dan belakang.

Kami memutuskan turun di ujung paling belakang. Mal itu terdiri atas dua bangunan superpanjang. Bangunan pertama blok A sampai E, bangunan kedua F sampai H.

Terus terang, kami tidak masuk dari pintu paling ujung, jung, jung, tapi cukup di ujung. Masih di blok H, tapi di pintu nomor 67 (ada sekitar 70 pintu masuk).

Masuk ke dalam. Suasana tidak ramai, mai, mai seperti kebanyakan mal dan pusat grosir yang saya kenali. Malah tergolong lengang. Di blok H itu, di luar ada petunjuk. Lantai satu untuk kacamata, lantai dua sports goods, lantai tiga stationery, dan lantai empat kosmetik.

Karena saya penghobi sports dan baru saja mengikuti NBA China Games, kami naik ke lantai dua. Begitu melihatnya dan keliling beberapa menit, saya merasa gula darah saya drop. Mungkin karena pagi hanya makan dua bakpao di kereta. Tapi, mungkin juga karena saya tidak habis pikir, betapa dahsyatnya mal yang satu ini.

Yang pertama ada di pikiran saya, “Ini lebih dahsyat daripada yang saya bayangkan dan ekspektasi saya sudah tinggi.” Yang kedua ada di pikiran saya, “Ya ampun, bagaimana Indonesia bisa kompetitif?” (bersambung)