Wow, Keliling Champs-Elysees Disoraki Ribuan Penonton

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (8-Habis)
24 Juli 2012 – 09.51 WIB
 Wow, Keliling Champs-Elysees Disoraki Ribuan Penonton
Azrul Ananda saat di garis Champs-Elysees yang merupakan garis finish terakhir dari rangkaian Tour de France 2012, Ahad (22/7/2012). (Foto: BOY SLAMET/JPNN)

Laporan AZRUL ANANDA, Prancis

Hari terakhir program Tour de France memberikan pengalaman yang tak akan terlupakan: Bersepeda keliling Champs-Elysees di hadapan ribuan penonton. Ada yang teriak ingin beli salah satu sepeda kami!

Program Tour de France yang diikuti rombongan Jawa Pos Cycling secara resmi berakhir, Ahad lalu (22/7).

Hari yang sama dengan etape penutup lomba, yang berakhir di salah satu jalanan paling kondang di dunia: Champs-Elysees.

Serunya, pada hari yang sama itu, kami pun mendapat kesempatan bersepeda di jalur yang sama: Champs-Elysees! Dan ternyata, pengalaman itu jauh lebih eksklusif daripada yang pernah kami bayangkan sebelumnya.

Ketika membaca jadwal ini sebelum ke Prancis, kami pikir kami akan bersepeda bersama rombongan besar. Ala fun bike di Indonesia.

Ternyata tidak! Ternyata, penyelenggara mengatur jadwal sedemikian rupa, sehingga ketika keliling Champs-Elysees, hanya kami yang keliling di sana!

Kami keliling di hadapan ribuan penonton, yang camping di pinggir jalan sejak pagi. Ya, hanya kami yang keliling Champs-Elysees di hadapan ribuan penonton!

***
Pukul 10.45, Ahad pagi itu, kami diminta berkumpul di lobi hotel, yang terletak di kawasan Champs-Elysees. Total ada 24 orang dalam rombongan VIP tersebut. Enam belas dari Indonesia alias kami, plus delapan dari berbagai negara seperti Amerika dan Australia.

Para pemandu kami dari Discover France —partner resmi Amaury Sport Organisation (ASO)— sebagai pengelola Tour de France telah siap semua. Mereka berbagi tugas. Beberapa ikut bersepeda mengawal kami. Beberapa naik mobil untuk memberikan support selama perjalanan.

Rasanya tak sabar segera ke Champs-Elysees. Ya, total bersepeda hari itu bakal sangat pendek, hanya dijadwalkan total 10 kilometer. Namun, beberapa kilometer di antaranya adalah di jalanan Champs Elysees!

Sepanjang tahun, Champs-Elysees merupakan salah satu jalan paling sibuk di Paris. Dalam setahun, jalan tersebut hanya ditutup dua kali. Satu untuk Bastille Day (Hari Nasional Prancis), yang jatuh setiap 14 Juli. Satu kali lagi saat etape penutup Tour de France.

Seperti biasa, sebelum berangkat, ada brifing. Kami diminta menaati segala peraturan. Sebab, ASO sangatlah ketat dalam mengatur jadwal. Lalu, dengan alasan keamanan, kami tak boleh banyak berhenti saat keliling sirkuit. Jadi, kesempatan foto-foto akan terbatas. Meski demikian, mereka sudah menyiapkan beberapa waktu dan tempat untuk berfoto.

Selesai brifing, kami pun berangkat. Menuju Place de la Concorde, salah satu persimpangan kondang di Paris. Di sana, kami diminta menunggu. Sebuah mobil Skoda panitia resmi Tour de France datang menjemput. Mobil itulah yang akan memandu kami mengikuti rute.

Sebelum giliran kami masuk sirkuit, rombongan anak-anak bersepeda diberi kesempatan lebih dulu. Sekitar 15 menit kemudian, baru giliran anak-anak besar alias kami untuk masuk.

Dari Place de la Concorde, kami mengikuti jalan menuju Champs-Elysees. Semua jalanan terbuat dari batu, sehingga getarannya membuat kami makin gemetaran karena senang dicampur tegang.

Tidak jauh, kami berhenti dulu di bawah tanda garis finis lomba, di sisi timur Champs-Elysees. Di kanan dan kiri tampak bangunan tribun sudah terpasang, tinggal menunggu ribuan penonton untuk mengisinya.

Di garis finis itu, kami diberi kesempatan berfoto. Tidak lama, kami dilepas lagi. Kali ini agak menanjak ke arah barat Champs-Elysees, ke arah monumen kondang: Arc de Triomphe.

Di kanan dan kiri tampak butik-butik kondang. Misalnya, Louis Vuitton. Di kanan dan kiri, tampak ribuan penonton sudah berdiri di pagar pembatas.

Sejak pagi, mereka sudah bersiap di situ. Bahkan, banyak yang sudah camping sejak dini hari. Mereka ingin mendapat posisi terdepan melihat aksi para pembalap pada sorenya.

Nah, tengah hari itu, mereka harus bersabar dulu melihat kami melintas di jalanan. Walau kami bukan pembalap, dan wajah kami tampak bingung sendiri ditonton ribuan orang, para penonton itu tetap menyoraki.

Kami pun jadi bersemangat. Ada yang pasang gaya, memegang setir di bagian bawah (drop). Ada yang zig-zag. Ada yang pura-pura sprint. Dan sebagainya.

Hey, kapan lagi kita bisa bergaya di jalanan paling kondang, disaksikan ribuan orang! Yang jelas, kami terus curi-curi berfoto. Baik pakai kamera beneran maupun kamera handphone. ‘’Ya ini yang bikin harganya mahal,’’ celetuk salah seorang anggota rombongan kami.

Ketika berputar di depan Arc de Triomphe, ada teriakan lucu untuk rombongan kami. ‘’Hey, I like your bike! I want to buy it!’’ Terjemahannya: ‘’Hey, aku suka sepedamu! Aku mau membelinya!’’

Teriakan itu ditujukan kepada Sun Hin Tjendra, salah seorang jagoan balap di kelompok kami. Dia memang mengendarai sepeda yang eye-catching. Look 695 Premium Collection edisi Brasil. Warnanya hijau dan kuning.

Sebenarnya, bukan kali itu saja sepeda Sun Hin ini jadi pusat perhatian. Hari-hari sebelumnya, ketika kami bersepeda mengikuti rute-rute kondang Tour de France, sepeda tersebut juga berkali-kali menarik perhatian orang.

Saat di depan Arc de Triomphe itu pula, Sony Hendarto asal Madiun sempat bergaya asyik. Dia mengangkat sepeda custom Independent Fabrication-nya, berpose di depan kamera ala para jawara Tour de France.

Sebenarnya, kebanyakan yang lain juga punya angan-angan berpose seperti itu. Tapi, mungkin karena tegang dan terlalu asyik, mereka sampai lupa untuk melakukannya.

Sepanjang perjalanan balik ke arah Place de la Concorde, ribuan penonton terus menyoraki kami. Seru dan aneh sekali rasanya.

Seusai pengalaman singkat 20 menitan, melewati lintasan sekitar 3 kilometer itu, kami seperti kehabisan komentar. Tidak tahu harus bicara apa. Benar-benar pengalaman yang unik.

Sulit dipercaya, kami telah bersepeda melewati salah satu jalan paling kondang di dunia. Sulit dipercaya, kami telah bersepeda melewati garis finis Tour de France yang paling terkenal.

Satu hal yang kami sepakat di luar perkiraan: Jalanan yang tidak rata. Sulit dipercaya, para pembalap melintasi jalanan kasar itu dengan kecepatan luar biasa!

‘’Pengawas lomba dari Eropa, kalau datang ke Indonesia, selalu komplain tentang jalanan kita yang buruk. Padahal, balapan di Champs-Elysees juga dilakukan di atas permukaan yang buruk,’’ komentar Sastra Harijanto Tjondrokusumo atau Pak Hari, yang di Indonesia merupakan salah seorang tokoh balap sepeda.

Kami rasa, mungkin kami pula rombongan Indonesia pertama yang bersepeda melintasi Champs-Elysees pada saat berlangsungnya Tour de France. Francois Bernard, pemandu kami, membenarkan bahwa rombongan kami adalah yang pertama dari Indonesia. Wow.

***
Dari Champs-Elysees, kami langsung bersepeda lagi berputar kembali ke hotel. Ganti baju, lalu langsung kumpul lagi untuk menuju salah satu tribun VIP: Tribune Grand Palais. Di sanalah rombongan menonton aksi para pembalap kelas dunia menuntaskan Tour de France 2012.

Etape 20 itu sebenarnya dimulai di Rambouillet, dengan total jarak yang ditempuh 120 Km. Tapi, sekitar 50 Km terakhirnya adalah criterium di tengah Kota Paris. Selama sekitar sepuluh kali mereka melintasi Champs-Elysees.

Bagi penonton, rasanya seperti melihat balapan di sirkuit. Mereka bersorak setiap kali idolanya melintas. Para pembalap itu pun terlihat begitu cepat. Wus! Lewat begitu saja nyaris tanpa suara. Padahal, itu pakai tenaga kaki, bukan mesin.

Semakin sedikit jarak lomba, semakin riuh teriakan penonton. Apalagi ketika Sky Procycling (Team Sky) mulai mengambil alih komando lomba, menyiapkan bintangnya, Mark Cavendish, untuk sprint.

Dan untuk tahun keempat berturut-turut, Cavendish meraih kemenangan di jalanan Champs-Elysees. Kali ini melengkapi sukses besar Sky, yang meraih yellow jersey lewat Bradley Wiggins. Seusai lomba, para penonton tidak langsung pulang. Mereka dengan sabar menunggu prosesi seremoni juara. Mereka memang punya insentif ekstra untuk tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, para pembalap berpawai keliling mengucapkan goodbye dan terima kasih kepada para penonton.

Para pembalap juga tidak segan untuk menuju tribun, memenuhi permintaan tanda tangan penonton. Termasuk para bintang besarnya seperti Cadel Evans (BMC) dan Andre Greipel (Lotto-Belisol). Sambil menunggu itu, staf penyelenggara tampak mulai sibuk membongkari perlengkapan lomba. Pada saat pembalap masih berkeliling menyapa penonton, tampak layar LED sudah dibongkar. Dalam hitungan jam, segalanya memang harus bersih.

Lomba berakhir sekitar pukul 17.00, pukul 21.00-nya jalanan Champs-Elysees sudah kembali normal. Tidak ada branding, tidak ada atribut lomba, tidak ada pembatas-pembatas lomba. Bersih!

***
Rombongan kami berkesempatan makan malam bersama. Sekaligus mengucapkan perpisahan dengan para pemandu: Francois Bernard dan Martin Caujolle. Kami juga sempat nongkrong dan ngobrol di depan hotel.

Sedikit merangkum perjalanan seminggu ini: Pengalaman yang kami dapat sangatlah mengesankan. Semula, kami mengira ini perjalanan sepeda santai, hanya 60 kilometeran sehari. Ternyata, kami diajak menyiksa diri, mendaki tanjakan-tanjakan legendaris Tour de France.

Apakah kelak mengulang lagi? Rata-rata bilang sangat mungkin. Rata-rata bilang ingin mengulang lagi. Sebab, masih ada banyak tanjakan atau rute kondang lain yang belum kami rasakan. Apakah akan mengulang tahun depan? Mungkin iya, mungkin tidak.

Bergantung situasi. Yang jelas, kalau tahun depan jadi, itu akan menyuguhkan pengalaman yang lebih spesial lagi. Sebab, tahun depan adalah Tour de France yang ke-100.

Angka spektakuler yang menjanjikan penyelenggaraan lebih spektakuler! Pergi lagi nggak ya?.(ila/jpnn/habis)

sumber :www.jpnn.com
Advertisements

Harus Ulangi Lagi, Jangan Sampai Bobot Bertambah

Senin, 23 Juli 2012 , 00:03:00

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (6)

064428_936179_tdf_6Jersey Persahabatan-Jersey Jawa Poss Cycling Tour de France menarik perhatian peserta tour lain. Usai diner, Paula Braden, asal Alanta, USA meminang Jersey salah satu peserta rombongan Jawa Pos Cycling untuk dibawa sebagai kenangan ke negaranya. Foto : Boy Slamet/Jawa Pos
 
Ikut program bersepeda Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling dapat kesempatan bertemu dengan cyclist dari negara-negara lain. Bisa berbagi cerita dan pengalaman.

Catatan AZRUL ANANDA

Setelah empat hari bersepeda melawan tanjakan, panas, dan dingin, Jumat (20/7) adalah hari travel sekaligus istirahat. Rombongan menuju utara Prancis, bersiap menikmati dua hari penutup Tour de France 2012.

Jumat itu kami sebenarnya juga “menjauh” sebentar dari sirkus “Le Tour”. Ketika para pembalap menjalani rute flat 222,5 km dari Blagnac (dekat Toulouse) menuju Brive-la-Gaillarde, kami naik kereta dari Pau menuju Nogent le Rotrou (semakin dekat ke Paris).

Diberi waktu istirahat dan bangun lebih siang, Jumat itu kami baru check out dan meninggalkan hotel di Pau sekitar pukul 11.00. Satu jam kemudian, kami naik TGV yang bisa melaju lebih dari 200 km/jam.

Total perjalanan yang harus kami tempuh lebih dari enam jam. Dua setengah jam dari Pau ke Bordeaux, lalu hampir tiga jam ke Stasiun Saint Pierre des Corps, kemudian sekitar 20 menit naik kereta komuter ke Vendome. Di sana makan malam dulu, lantas naik bus lagi sekitar sejam menuju penginapan di Nogent le Rotrou.

Mengapa ke sana? Sebab, kami akan mengejar dua etape terakhir yang sangat menentukan. Letak Nogent le Rotrou dekat sekali dengan Chartres, tempat etape 19 berakhir pada Sabtu (21/7).

Hari itu (kemarin, Red) kami akan mengunjungi beberapa kawasan wisata, lalu menonton ending etape di kawasan khusus VIP. Itu akan jadi pengalaman unik. Sebab, pembalap tidaklah “balapan”. Melainkan menjalani individual time trial (ITT), satu per satu berlomba melawan waktu dengan menggunakan sepeda-sepeda TT yang eksotis dan aerodinamis.

Panjang etape itu 53,5 km. Tanda-tandanya, juara Tour de France 2012 akan dikunci di etape itu. Bradley Wiggins, andalan Team Sky, adalah unggulannya.

Setelah etape TT usai, kami langsung diangkut menuju Paris. Minggu pagi (22/7) kami akan diberi kesempatan merasakan bersepeda di Champ-Elysees, salah satu jalan paling kondang di dunia. Di jalur itulah Tour de France 2012 berakhir dan kami akan melintasi garis finis beberapa jam sebelum para pembalap datang.

Siangnya, kami dapat area nonton khusus lagi, menyaksikan finis terakhir Tour de France 2012. Sekaligus menonton penobatan juara di atas podium.

Bahwa pada hari perjalanan itu tidak ada acara bersepeda, bukan berarti tidak ada cerita. Pertama-tama, kami bersemangat naik TGV. Lama-lama bosan juga.

“Pilih mana, lima jam naik kereta atau bersepeda?” tanya Bambang Poerniawan.

“Ya jelas pilih naik sepeda,” timpal Djoko Andono, salah satu penghobi sepeda paling top di Surabaya.

Kami pun bicara betapa serunya “siksaan” tanjakan-tanjakan yang telah kami lalui. Col d’Aubisque, tanjakan hors categorie setinggi 1.709 meter, dipelesetkan oleh teman-teman jadi “Engkol Abis”.

Sony Hendarto mengatakan bahwa kami harus ikut tur itu lagi tahun-tahun ke depan. Sebab, masih banyak tanjakan kondang Tour de France yang bisa dijajal. Toh, sekarang kami semua sudah tahu seperti apa kira-kira beratnya dan lain kali bisa menyiapkan setelan sepeda yang lebih pas lagi.

“Masih ada Tourmalet, Galibier, Alp d’Huez, dan Ventu,” ujarnya, menyebut empat tanjakan “paling menyeramkan” dalam sejarah lomba.

Dalam perjalanan itu, kami juga bertemu lagi dengan kelompok peserta dari negara-negara lain. Misalnya Amerika Serikat, Australia, Brasil, dan Kanada.

Karena ada banyak waktu longgar dan kami tidak bertemu dalam kondisi ngos-ngosan, percakapan jadi lebih panjang. Beberapa di antara mereka ternyata sebelumnya pernah ikut program tersebut. Misalnya pasangan dari Vancouver, Kanada, Eric dan Elaine Edwards. Ini adalah kali kedua mereka ikut tur sepeda di Prancis.

Tiga tahun lalu mereka menjajal yang lebih “seram”, termasuk di antaranya mendaki dua puncak tinggi dalam hari yang sama. “Butuh waktu seharian,” ungkap Eric Edwards.

Kepada kami, mereka menyarankan kami kelak kembali lagi. Sama dengan yang disebut Sony Hendarto sebelumnya, masih banyak tempat yang belum kami rasakan “siksaannya”. Padahal, dia melihat kami benar-benar kesulitan menaklukkan tanjakan Col d’Aubisque!

“Kalau ingin mengulangi, saran saya satu: Jangan sampai berat badan Anda bertambah,” ucapnya.

Paula Braden dari Atlanta, Georgia, datang sendirian untuk ikut program itu. Penggemar berat balap sepeda tersebut tidak punya alasan khusus. “Saya suka bersepeda dan saya suka sekali Tour de France,” katanya.

Braden termasuk yang sangat senang melihat kehebohan grup Indonesia, yang tak pernah berhenti bercanda. Dia juga suka melihat kami selalu kompak berseragam saat bersepeda dan setiap hari ada seragam yang berbeda.

Kepada kelompok kami, dia pernah minta salah satu jersey untuk kenang-kenangan. Dia minta khusus yang hitam-biru bertulisan “Jawa Pos Cycling”. Kebetulan, Djoko Andono punya ekstra dan tentu kami semua dengan senang hati memberikan jersey itu kepadanya.

Hengky Kantono menyerahkan jersey itu kepada Braden dalam salah satu acara makan malam di Pau. Selama di kereta, kami juga mulai menyiapkan rencana akan ngapain saja di Paris beberapa hari kemudian, setelah Tour de France berakhir. Karena sudah jauh-jauh di Prancis, kami akan mencoba keliling Paris naik sepeda sendiri, mengunjungi tempat-tempat paling terkenal dan foto-foto.

Saya bicara kepada beberapa teman, perjalanan ini harus selengkap mungkin. Harus bisa membawa pulang cerita (karena saya juga menulis tentang ini setiap hari!). Prajna Murdaya sepakat. “Hidup ini seperti momen yang berseri. Bukan sesuatu yang dirangkum di bagian akhir,” ujarnya.

Tapi, jangan sampai lupa mengunjungi butik-butik fashion kondang. Bukan untuk diri sendiri karena kami semua lebih suka mengunjungi toko-toko sepeda. Melainkan belanja untuk yang di rumah. Khususnya bagi mereka yang butuh “visa khusus” dari istri, supaya kelak (mungkin tahun depan?) diizinkan pergi lagi”. (bersambung)

 

Penasaran Bau Cairan Isi Botol Minum Peter Sagan

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (7)
23 Juli 2012 – 09.11 WIB
Penasaran Bau Cairan Isi Botol Minum Peter Sagan
Khoiri Soetomo membentangkan bendera Jawa Pos SRBC (Surabaya Road Bike Community) di lintasan penonton di etape 19 Tour de France 2012, Sabtu (21/7/2012). (Foto: BOY SLAMET/JPNN)

Laporan AZRUL ANANDA, Prancis

Nonton start etape sudah. Finis juga sudah. Sabtu lalu (21/7) giliran pengalaman nonton individual time trial.Harus sabar karena lumayan panjang. Tapi, bumbu-bumbunya tetap mengasyikkan.

Setelah empat hari berturut-turut bersepeda di medan atau cuaca berat, dua hari berturut-turut rombongan penggemar sepeda Indonesia dijauhkan dari tunggangannya.

Jumat (20/7) adalah travel day, naik kereta jauh dari Pau di kawasan selatan Prancis menuju wilayah utara. Sabtu (21/7) kembali jadi hari VIP. Kali ini menonton Etape 19 Tour de France 2012 di sebuah kawasan khusus di Chartres, kota kecil 96 Km di selatan Paris.

Etape 19 ini merupakan etape spesial. Berupa ajang individual time trial (ITT). Setiap pembalap harus melaju secepatnya melawan stopwatch. Dia yang mampu mencatat waktu terbaik adalah pemenang etape. Ini mirip babak kualifikasi balap MotoGP atau Formula 1.

Karena pembalap harus melawan diri sendiri dan waktu, ajang ITT diberi julukan ‘’race of truth’’ di kalangan balap sepeda. Pembalap tidak bisa bohong, tidak bisa sembunyi. Tapi, ajang ITT di ujung Tour de France 2012 ini tidak sembarangan. Dari segi dampak ke lomba maupun tantangan.

Bagi lomba, inilah etape penentu juara. Dia yang menang di Etape 19 hampir pasti akan menjadi jawara Tour de France 2012. Sebab, setelah ini hanya tersisa satu etape pendek, 120 Km menuju Champs-Elysees di Paris.

Tahun ini Bradley Wiggins jadi unggulan. Di etape ini dia digadang-gadang mengunci juara dan mengamankan yellow jersey. Dalam hal tantangan, ini salah satu ajang ITT terpanjang dalam sejarah ‘’Le Tour’’. Setiap pembalap harus melaju secepatnya  sepanjang 53,5 kilometer dari Bonneval ke Chartres.

Bayangkan, bagi kita manusia normal, bersepeda 50 Km dengan kecepatan biasa saja sudah menjadi sebuah pencapaian. Bagi para pembalap Tour de France, mereka harus melahap 53,5 Km dengan kecepatan rata-rata hampir 50 Km per jam!

Di etape ini, setiap pembalap dilepas satu per satu. Jarak antara satu dengan yang lain dipisah 1 sampai 2 menit. Jadi, menontonnya beda dengan menonton etape biasa.

***
Pagi sekitar pukul 10.30, rombongan Jawa Pos Cycling diturunkan di sebuah kawasan di Chartres. Letaknya sekitar tiga kilometer dari garis finis Etape 19. Kawasan seperti lapangan ini sudah ditata khusus untuk pengunjung VIP dan para sponsor.

Tenda-tenda hospitality ditata membentuk keliling persegi panjang, dengan satu sisi jalan tempat para pembalap melintas.

Di tengah-tengahnya ada tenda besar untuk layanan makanan. Ada sebuah panggung kecil untuk acara dan atraksi. Beberapa sepeda bersejarah Tour de France juga dipajang. Salah satunya sebuah sepeda time trial lama merek Pinarello milik seorang legenda: Miguel Indurain.

Ada pula sebuah layar LED besar yang menampilkan tayangan langsung Etape 19 tersebut. Tempat itu ideal untuk nonton ITT karena jalan tempat pembalap lewat cenderung menurun. Pembalap-pembalap akan melintas di situ dengan sangat cepat.

Sebenarnya, ada opsi jalan-jalan yang bisa diambil. Bisa melihat-lihat katedralnya yang sangat kondang. ‘’Chartres terkenal karena dua hal: Katedral dan time trial Tour de France,’’ kata Francois Bernard, pemandu kami.

Para pembalap sendiri baru dijadwalkan meninggalkan Bonneval mulai pukul 12.00. Jadi, sambil mengisi kekosongan, penyelenggara menampilkan beberapa acara di panggung.

Sejumlah mantan pembalap diajak ngobrol, menjelaskan rekaman kiprah mereka di Tour de France yang ditampilkan di layar LED. Seorang bintang stunt, Mark Vinko, menunjukkan kemampuan akrobatnya memakai sebuah sepeda trial.

Hadir pula Christian Prudhomme (52), mantan jurnalis yang sejak 2005 menjadi general director Tour de France.

***
Siang itu tidak semua anggota rombongan menonton ITT sampai selesai. Sebagian memutuskan ke Paris duluan naik kereta. Memang, butuh kesabaran ekstra untuk menontonnya. Kami diberi ‘’modal’’ selembar kertas, berisi jadwal keberangkatan setiap pembalap.

Urutannya sesuai dengan general classification yang dibalik. Pembalap ranking terbawah duluan, ranking pertama terakhir.

Jadi, meski sudah berangkat berurutan sejak pukul 12.00, aksi nama-nama besar tidak langsung bisa dilihat. Hanya beberapa nama kondang yang muncul duluan. Seperti Mark Cavendish (Sky Procycling), yang start di urutan ke-12.

Dengan sabar, kami menunggu para bintang lewat. Sambil makan, minum, dan ngobrol di tenda yang khusus disediakan untuk rombongan kami. Lagi-lagi, ini kesempatan untuk ngobrol lebih lama dengan para peserta program dari negara lain.

Kami bercanda bahwa kami ini datang jauh-jauh hanya untuk melihat para pembalap berkelebat cepat nyaris tanpa suara. Wussss… Mereka lewat dengan cepat.

Tapi, memang lama-lama jadi terasa seru juga. Salah seorang pembalap yang paling ditunggu aksinya petang itu adalah Peter Sagan (Liquigas-Cannondale). Bintang muda Slovakia itu benar-benar mengagumkan tahun ini. Baru berusia 22 tahun, sudah meraih tiga kemenangan etape di Tour de France perdananya.

Sekitar pukul 15.30, Sagan yang ditunggu lewat. Dia nongol dari tikungan sedang mengayuh cepat sambil minum dari bidon (botol plastik). Pas ketika lewat, botol itu dia lempar ke kanan jalan.

Penggemar balap sepeda tentu sangat familiar dengan ini. Pembalap-pembalap biasanya langsung membuang botol begitu isinya habis. Nanti di feed zone atau via mobil pendamping, mereka bisa minta supply tambahan. Mendapatkan botol lemparan itu merupakan suvenir paling istimewa.

Sayang, waktu itu kami di sebelah kiri jalan. Botol dilempar ke kanan. Yang dapat adalah rekan satu program dari Brasil, Giuseppe, yang menyeberang jalan untuk menonton. Dengan santai, dia mengambil botol itu dari sisi jalan. Tampak penasaran, dia mengamatinya dan membuka tutupnya. Dia tampak mencium-cium isinya.

Kami pun ikut penasaran. Ketika balik ke tenda, satu per satu ingin memegang, melihat, dan mencium bau isi botol berwarna hijau tersebut.

Di bagian tutupnya ada tulisan spidol ‘’PS’’, inisial dari Peter Sagan. Ketika dibuka, masih ada sedikit cairan tersisa dan baunya kuat sekali. Seperti bau apel yang digabung dengan bahan kimia lain.

Sudah bukan rahasia lagi, pembalap sepeda memang tidak minum air biasa. Ada banyak merek bubuk dan cairan campuran yang bisa menambah energi dan sebagainya.

Setelah Sagan, banyak nama besar lewat. Setelah pukul 17.00, para bintang utama yang lewat. Terakhir adalah Bradley Wiggins (Sky), pemakai yellow jersey. Pada akhirnya, Wiggins pula yang merebut etape itu, sekaligus mengunci gelar Tour de France 2012.

Sebab, setelah Etape 19 berakhir di Chartres, hanya ada satu etape tersisa. Sebuah etape pendek 120 Km menuju Champs-Elysees, Paris. Menurut tradisinya, etape terakhir ini lebih layak disebut parade. Para pembalap sepakat tidak ada yang melarikan diri dari  peloton, menyiapkan ending yang spektakuler berupa bunch sprint.

Dalam setahun, Champs-Elysees (salah satu jalan paling kondang di dunia) hanya ditutup dua kali. Untuk Bastille Day (semacam hari kebangkitan Prancis) pada 14 Juli dan untuk etape penutup Tour de France.

Bagi rombongan kami, hari terakhir Le Tour ini juga membuat sangat excited. Sebab, sebagai peserta VIP, kami juga diberi kesempatan melintasi Champs-Elysees!

Ahad pagi (22/7) sebelum para pembalap tiba, kami boleh menjajal 10 Km terakhir etape penutup. Termasuk melewati kaki-kaki Menara Eiffel, plus melintasi garis finis!

Dalam perjalanan naik bus dari Chartres, ketika masuk di Paris, kami melihat betapa indahnya Eiffel. Lalu, bus kami berhenti di Champs-Elysees karena hotel kami memang terletak di kawasan itu. Kami melihat jalanan paving tersebut dan makin tidak sabar segera merasakan hari baru untuk melintasinya.(ia/bersambung)

Ingin Tinggalkan Musim Buruk 2012

20 Januari 2013 – 05.56 WIB 
Laporan AZRUL ANANDA, Benidorm

SALAH satu tim paling mengecewakan musim lalu mencoba untuk kembali ke puncak di ajang cycling dunia 2013. RadioShack-Leopard-Trek Kamis lalu (17/1) meluncurkan susunan tim sekaligus corak jersey terbarunya.

Tahun lalu, RadioShack-Nissan-Trek meluncurkan tim secara besar-besaran. Menegaskan diri sebagai salah satu superteam di arena cycling, hasil merger skuad RadioShack dan Leopard-Trek.Kenyataannya, tim ini justru termasuk yang paling mengecewakan. Andalan mereka merebut yellow jersey, Andy Schleck, tak mampu tampil memuaskan dan justru dilanda cedera. Kakaknya, Frank Schleck, tersandung kasus doping di Tour de France. Bintang tim di arena classics (one-day race), Fabian Cancellara, juga cedera.Bukan hanya itu. Bos tim kala itu, Johan Bruyneel, harus dikeluarkan setelah dikenai sanksi skorsing seumur hidup, atas peran sertanya dalam kasus doping Lance Armstrong. Bruyneel adalah manajer tim yang mendampingi Armstrong ketika merajai Tour de France dulu.Suasana di dalam tim juga tidak terlalu harmonis. Berbuntut keluarnya beberapa pembalap. Yang paling parah, beberapa sponsor mengundurkan diri. Termasuk Nissan, salah satu title partner. Untuk 2013, tim pun berubah nama jadi RadioShack-Leopard-Trek.Kamis lalu (17/1), tim ini launching secara jauh lebih sederhana di Benidorm, Spanyol. Tidak ada lagi panggung mewah, hanya acara foto dan wawancara di sebuah ruangan pertemuan.

Dalam ajang itu, tidak semua pembalap juga hadir. Beberapa memang sudah berada di Australia untuk mengikuti ajang Tour Down Under, yang dimulai Ahad, 20 Januari hari ini, di Adelaide. Termasuk Andy Schleck. Di ajang peluncuran itu, praktis Fabian Cancellara jadi bintang utama.

Manajer baru tim, Luca Guercilena, merupakan sosok paling penting untuk musim 2013. Dialah yang bertugas mengubah haluan tim ke arah yang lebih bersinar. “Kami telah menghabiskan banyak waktu selama off season untuk bekerja lebih baik sebagai sebuah tim. Ini sangat penting bagi kami, supaya para pembalap kami bisa kembali ke performa puncaknya pada 2013. Kami bertemu dengan semua pembalap, mendiskusikan target dan ambisi masing-masing, menyatukan semua. Kemudian baru menentukan kalender lomba kami ke depan,” tuturnya.

Semangat baru pun ditunjukkan para personel. Andy Schleck, yang bicara via video conference, mengaku akan memberikan yang terbaik. Ia berharap bisa kembali menjadi kekuatan utama di ajang-ajang terbesar. “Saya tak tahu apakah bisa kembali ke form seperti 2011. Tapi saya masih berusia 27 tahun, dan saya akan berusaha keras untuk kembali ke sana. Saya kira saya masih punya banyak peluang untuk menang,” tuturnya.

Untuk awal musim 2013, harapan utama kemenangan akan bertumpu pada Cancellara. Pembalap berjulukan Spartacus itu pun tak sabar kembali menjadi sosok dominan di arena dunia. Tinggal berharap supaya Dewi Fortuna tidak membencinya.

“Saya telah bekerja begitu keras selama musim dingin. Saya yakin, dengan sedikit keberuntungan, saya bisa kembali ke ritme lomba terbaik,” ujarnya.

Untuk musim 2013, tim juga memperkenalkan beberapa partner baru. Skoda datang menggantikan Nissan sebagai penyedia mobil operasional. Merek sepatu Gaerne datang menggantikan Northwave. Desain jersey tetap elegan minimalis buatan Craft. Tapi garis biru muda dan merah lebih dominan di dada.(esi)

Pakai Jersey Batik, Kebut-kebutan di Jalan Pedesaan

21 July, 2012

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (5/Habis)

Setelah hancur mendaki dua puncak tinggi, program Tour de France seharusnya dapat jadwal santai. Sete-lah asyik nonton start etape di Pau, kami sempat kebut-kebutan melawan matahari musim panas Prancis.
Dua hari, dua puncak tinggi telah dihadapi rombongan Jawa Pos Cycling di Prancis. Rabu lalu (18/7) seharusnya jadi hari santai.

Catatan: AZRUL ANANDA

BELAJAR TERTIB RAPI: Berseragam jersey batik, rombongan putar-putar 42 kilometer keliling pedesaan  kawasan Pyrenees. Suhu udara mencapai 41 derajat Celcius.//Boy Slamet/Jawa Pos/jpnn

BOY SLAMET/JAWA POS/JPNN

BELAJAR TERTIB RAPI: Berseragam jersey batik, rombongan putar-putar 42 kilometer keliling pedesaan di kawasan Pyrenees. Suhu udara mencapai 41 derajat Celcius.

Program awal: menikmati suasana dan menonton start etape 16 Tour de France 2012. Lalu, makan siang dan bersepeda mengelilingi desa-desa di sekitar Kota Pau.

Setelah menjajal Col de Marie-Blanque (1.035 m) dan Col d’Aubisque (1.709 m), kami sudah meminta dengan amat sangat kepada pemandu-pemandu kami agar rute berikutnya santai dan flat (datar).
Francois Bernard, salah satu pemandu kami, bilang oke. “Total sekitar 40 km, hanya mendaki sekitar 500 meter. Kurang lebih seperempat kemarin (Col d’Aubisque, Red),” ucapnya.

Hari itu, sebelum bersepeda, kami lebih dulu dapat jadwal istimewa. Berangkat pukul 08.30 dari hotel, kami menuju pusat Kota Pau. Di sana kami bisa merasakan atmosfer start etape 16 Tour de France 2012.
Dan etape itu merupakan yang paling berat. Panjang totalnya 197 km. Melintasi empat puncak terberat. Yang pertama adalah Col d’Aubisque, yang sehari sebelumnya dijajal rombongan Jawa Pos Cycling. Lalu, puncak yang lebih tinggi lagi, Col du Tourmalet (2.115 m). Setelah itu, Col d’Aspin (1.489 m) dan Col de Pyresourde (1.569 m). Sebelum akhirnya finis di Bagneres-de-Luchon.

Start dijadwalkan berlangsung pukul 11.00. Kami sudah tiba sekitar pukul 09.00. Begitu tiba, kami langsung heboh bingung sendiri. Antara ingin foto-foto atau menyerbu stan-stan merchandise yang ada. Apalagi, karena ikut program resmi Tour de France, kami dapat fasilitas diskon 25 persen. Lumayan!

Foto-foto memang menarik. Sebab, sebelum start, suasana tidak tenang. Pukul 09.20, terlebih dulu dimulai karnaval para sponsor. Setiap partner pendukung menurunkan mobil/caravan hebohnya dengan staf yang siap melempar-lempar suvenir kepada para penonton di pinggir jalan. Seperti pawai kereta bunga, tapi bukan bunga.

Hadiahnya lumayan-lumayan. Bukan hanya yang kecil-kecil seperti gantungan kunci, tapi juga topi atau kaus-kaus tim yang bermerek.

Fotografer Jawa Pos Boy Slamet sempat dapat hoki lumayan waktu memotret suasana finis etape 15 di Pau Senin lalu (16/7). Dia dapat kaus tim Movistar merek Santini.
Karena itu balap sepeda di jalanan kota, tidak ada tiket yang harus dibayar. Siapa saja boleh datang dan dulu-duluan berdiri menonton di pinggir jalan.

Stan merchandise resmi Tour de France menawarkan banyak macam produk. Yang paling populer adalah bidon (botol minum) berlogo even 2012. Harganya relatif murah, 5 euro per buah. Replika yellow jersey, green jersey, dan polkadot merek Le Coq Sportif “sponsor resmi” juga tersedia. Harganya 75 euro per lembar.

Tapi, yang diburu tentu stan yang menyediakan merchandise resmi tim-tim World Tour. Tentu saja semua asli dan banyak variasinya yang tidak bisa ditemukan di Indonesia. Walaupun di stan itu tidak ada fasilitas diskon, tetap saja membuat orang bernafsu memborong.

Yang menarik, secara tidak resmi para penjaganya menjual sejumlah jersey yang ditandatangani pembalap. Ada yang terang-terangan, ada yang tidak.
Jersey asli (bukan replika) milik Frank Schleck dari tim RadioShack-Nissan dijual 600 euro (sekitar Rp7 juta). Mahal karena ditandatangani sembilan pembalap tim. Termasuk Schleck, Fabian Cancellara, Jens Voigt, dan beberapa personel inti lain. Jersey replika RadioShack yang diteken Cancellara sendirian dijual 250 euro.

Yang dimaksud dijual diam-diam adalah di stan resmi Tour de France. Rupanya, ada petugasnya yang menyisihkan salah satu yellow jersey, lalu memburu tanda tangan beberapa bintang. Yang sempat ditawarkan kepada kami adalah yang ditandatangani para bintang tim Europcar.

Termasuk dua bintang utamanya, Thomas Voeckler dan Pierre Roland. Harga yang diminta? Sebesar 350 euro boleh ditawar. Waktu itu kami agak kurang pengen, jadi tidak memburu. Eh, sore hari, ternyata jersey itu jadi menarik. Sebab, etape 16 itu dimenangi Voeckler!
***
Makan siang kami lumayan seru. Bukan karena lokasinya di tepi danau indah, tapi karena kami makan pas saat televisi (Eurosport) menayangkan langsung etape 16 Tour de France 2012. Bahkan, pas saat para pembalap melintasi Col d’Aubisque, yang sehari sebelumnya telah menyiksa kami habis-habisan.

Kami jadi kagum terhadap para pembalap. Bayangkan, dalam waktu hanya satu jam, mereka sudah mencapai kaki Col d’Aubisque. Padahal, itu sekitar 50 km dari Pau!
Lebih kagum lagi ketika melihat mereka dengan mudah melahap dakian sepanjang 16 km menuju ketinggian 1.709 m tersebut.
Kami ingat bagaimana dakian itu sama sekali tidak memiliki permukaan datar. Selalu naik, rata-rata di atas 7 persen. Para pembalap mampu menuntaskannya dalam waktu tak sampai satu jam. Berarti, total tak sampai dua jam dari Pau.
Kami? Butuh waktu enam jam!

Saat menonton, kami heboh mengingat setiap tikungan yang mereka lewati.
“Kita disengat lebah di sana,” kata seorang anggota.
“Lho, itu spanduk yang kita lihat kemarin,” kata yang lain.
“Di sana kita berhenti, istirahat,” sahut lainnya lagi.
Sepanjang 2 kilometer terakhir Col d’Aubisque, yang kami lintasi dengan kecepatan sangat rendah atau jalan kaki, justru dijadikan ajang adu sprint oleh para pembalap.
“Edan. Masih bisa sprint. Mereka bukan manusia normal,” komentar Sony Hendarto, peserta dari Madiun.

“Dari sini kita bisa menyimpulkan, kekuatan mereka itu sepuluh kali lebih hebat dari kita,” timpal Hengky ‘Dming’ Kantono dari Surabaya.

Kesimpulannya memang jelas: Para pembalap sepeda tingkat dunia itu memang manusia-manusia luar biasa. Benar bila salah satu majalah balap sepeda mengklaim sport itu sebagai yang paling berat di dunia!
Saya butuh 5 jam 53 menit untuk menempuh 50 km perjalanan menuju puncak Col d’Aubisque. Hari itu Thomas Voeckler hanya butuh 5 jam 35 menit untuk menyelesaikan etape sepanjang 197 km, yang terdiri atas empat gunung maut!
Bagi yang heran lihat tayangan balap sepeda di televisi, memang sulit untuk memberikan apresiasi terhadap kehebatan para atlet tersebut. Baru setelah merasakan sendiri rute dan membandingkannya dengan para bintang dunia, kita belajar untuk memberikan apresiasi yang jauh lebih tinggi kepada para atlet balap sepeda.

***
Selesai makan siang, jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Kami butuh sekitar 30 menit lagi untuk menyiapkan sepeda dan lain-lain, untuk kembali putar-putar di kawasan Pyrenees. Khusus untuk hari ‘santai’ itu, kami kompak pakai jersey bercorak batik.

Rencananya ya itu tadi. Hanya sekitar 40 km dengan ketinggian maksimal 500 m.
Kenyataannya, recovery ride itu menjadi ajang penyiksaan lanjutan tur VIP Tour de France. Karena sudah siang menuju sore, matahari sedang terik-teriknya. Temperatur menunjukkan angka di atas 40 derajat Celsius. Angin pun terasa panas karena kami tidak di pegunungan.

Malamnya, rombongan pecah dua. Ada yang cari makanan Asia setelah berhari-hari dapat makanan Eropa. Saya dan beberapa orang memilih bersepeda lagi ke tengah kota, cari makan di sana. Sekalian keliling downtown, termasuk melintasi sirkuit jalanan tempat digelarnya balap Formula 3 setiap tahun.

Dan malam itu kami harus benar-benar beristirahat. Sebab, hari selanjutnya (Kamis, 19 Juli), punya tanda-tanda kembali jadi hari penyiksaan. Kami dijadwalkan berangkat pagi-pagi ke arah finis etape 17 di puncak Peyragudes (1.605 m). Nah, kami tidak naik mobil sepenuhnya ke puncak itu. Kami juga dijadwalkan untuk mendaki lagi puncak sebelum Peyragudes, yaitu puncak Col de Peyresourde dengan ketinggian setara (1.603 m).
Aduh, aduh, ke puncak gunung. Tinggi, tinggi sekali. (*)
sumber: http://www.jpnn.com

Enam Jam Menanjak Lawan Lebah dan Panas 38 Derajat Celsius

20 July, 2012

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (4)

Hari kedua bersepeda di Prancis, siksaan lebih panjang dan berat menyambut. Mencoba menaklukkan Col d’Aubisque, yang masuk top ten tanjakan terberat dalam sejarah Tour de France.

Catatan: AZRUL ANANDA

PEMANDANGAN INDAH: Liem Tjong San dari Makassar bersama Azrul Ananda hanya beberapa kilometer dari puncak Col d’Aubisque.
PEMANDANGAN INDAH: Liem Tjong San dari Makassar bersama Azrul Ananda hanya beberapa kilometer dari puncak Col d’Aubisque.

Sebelum berangkat ikut program Tour de France, rombongan Jawa Pos Cycling tak punya bayangan bahwa rute-rute yang ditawarkan begitu berat. Toh, sehari ‘hanya’ sekitar 60 kilometer. Bagi banyak penghobi sepeda yang ikut, itu merupakan makanan rutin latihan di Indonesian
Tapi, setelah dua hari bersepeda, semua merasa beruntung rute hariannya hanya di kisaran 60 kilometer. Sebab, di Prancis yang utama bukan kuantitasnya, melainkan kualitas ‘siksaan’-nya!

Menaklukkan puncak Col de Marie-Blanque dengan ketinggian 1.035 meter Senin lalu (16/7) sudah memberikan kebanggaan tersendiri. Begitu melelahkan, begitu menyiksa kaki, punggung, dan pikiran.

Luar biasa rasanya bisa mencapai puncak yang tingkat kesulitannya masuk kategori 1 tersebut.
Begitu selesai, kami langsung membayangkan tantangan hari kedua. Lebih tepatnya, seram membayangkan tantangan hari kedua. Sebab, rute yang harus kami hadapi adalah Hors Categorie (HC) alias kategori terberat.

Dan, tanjakan itu tercatat sebagai salah satu di antara sepuluh tanjakan terberat dalam sejarah Tour de France!
Col d’Aubisque namanya, 1.709 meter ketinggiannya. Kalau melihat angka ketinggian itu, memang kesannya tidak mengerikan. Ada teman di Surabaya yang nyeletuk bahwa sebuah tanjakan di Jawa Timur memiliki ketinggian 2.000 meter.

Ya, tapi 2.000 meter itu relatif lurus. Tanjakannya curam, tapi pendek. Kalau di Prancis, ketinggian itu harus dilalui lewat jalan yang melingkar-lingkar atau zig-zag. Jadi, siksaannya jauh lebih panjang.

Ketika mencapai ‘kaki’ tanjakan, kami harus mengayuh sepeda sebetah mungkin sejauh 16,6 km untuk mencapai puncak. SEMUA menanjak, dengan rata-rata kecuraman lebih dari 7%.

Dan, Col d’Aubisque ini sangat legendaris. Nama-nama besar balap sepedalah yang mampu dan pernah memenanginya. ‘Michael Jordan’-nya balap sepeda, Eddy Merckx, pernah menang di sana pada 1969.

Juara Tour de France lima kali, Miguel Indurain, pernah finis duluan di Col d’Aubisque pada 1989. Dan bagi penggemar era sekarang, juara Tour de France 2011 lalu, Cadel Evans, pernah memimpin di sana pada 2005.

Bila data-data di atas bikin merinding, ada juga iming-iming kuat bagi kita untuk mencoba menaklukkan Col d’Aubisque: Rute ini kami lintasi sehari sebelum dipakai oleh para pembalap World Tour.

Pada Rabu (18/7), Col d’Aubisque merupakan bagian dari Etape Ke-16 Tour de France 2012.

Jadi, kami akan melintasi rute yang sama dengan para pembalap. Ketika melintasinya pun, kami akan mengikuti panah-panah atau petunjuk-petunjuk jalan resmi Tour de France!

***

POSE: Rombongan berpose bersama  puncak Col d\'Aubisque,  ketinggian 1.709 meter. //Boy Slamet/Jawa Pos/jpnn

BOY SLAMET/JAWA POS/JPNN

POSE: Rombongan berpose bersama di puncak Col d\’Aubisque, di ketinggian 1.709 meter.

Sebenarnya, kalau menghadapi Col d’Aubisque dengan kondisi fresh, mungkin kami tidak terlalu pusing. Hajar saja, kuat atau tidak urusan nanti.
Seperti sudah disebut, ini menghadapi Col d’Aubisque setelah sehari sebelumnya dihajar Col de Marie-Blanque. Jadi, kami harus naik dua gunung dua hari berturut-turut!

Francois Bernard dan Martin Caujolle, pemandu kami dari Discover France, tampaknya, sadar bahwa kondisi kami sedang ‘hancur’. Jadi, kami tidak bersepeda dari hotel di Pau. Pukul 08.30 pagi kami naik van dulu menuju Gan, sekitar 20 km di selatan Pau. Hari itu kami bersepakat mengenakan seragam jersey SRBC (Surabaya Road Bike Community).

Di Gan, kami menyiapkan sepeda. Dari sana, kami harus mengayuh sepeda sekitar 34 km menuju ‘kaki’ Col d’Aubisque. Setelah itu, baru menjalani menu siksaan utama, 16 km mendaki.

Sebelum berangkat, seperti biasanya, ada safety briefing. Lalu, kami berdoa bersama. Waktu itu kami sama-sama bersepakat untuk ‘damai’ menuju kaki Col d’Aubisque.

Maksudnya, jangan kebut-kebutan, kontrol kecepatan supaya rombongan bisa terus bersama. Kesepakatannya adalah rata-rata 25 km/jam. Ketika yang memimpin di depan melaju terlalu cepat, yang di belakang langsung teriak, “Damai! Damai!” untuk mengingatkan.

Dua puluh kilometer pertama rasanya berat sekali. Kalau mencapai dasar tanjakan saja berat, apalagi tanjakannya nanti! Karena kelelahan, salah seorang anggota kami hari itu memutuskan tidak ikut bersepeda. Tapi, dia tidak bengong karena tetap ikut di dalam van dan menjadi support crew bagi yang bersepeda. Membantu mengisi botol minum dan lain-lain.

Bernard dan Caujolle, dua-duanya cyclist hebat (Caujolle dulu ternyata pembalap semi profesional), tahu bagaimana me-manage energi kami. Setelah 20 kilometer, kami berhenti. Lalu, mereka menyiapkan snack yang pas. Ada buah-buahan dan manisan untuk energi instan, ada kacang-kacangan (almond dll) untuk energi lanjutan.

Ketika mencapai kaki Col d’Aubisque, kami juga berhenti dulu. Mengunyah lagi gel, energy bar, dan memastikan botol minum penuh terisi.
Setelah itu, waktunya habis-habisan. Banyak yang bertekad menuntaskan Col d’Aubisque bagaimana pun kesulitannya. Berapa lama pun waktu yang harus dijalani akan dilakoni. Tidak harus ngebut, yang penting finis!

Empat kilometer pertama relatif nyaman dan konstan. Rata-rata menanjak 4-5%, di bawah pepohonan yang rindang. Mereka yang jago dengan cepat melahapnya. Saya sendiri (kemampuan tengah-tengah) mampu melaju konstan 12-15 km/jam tanpa detak jantung yang berlebihan.

Setelah itu, tanjakan semakin curam, matahari semakin menyengat. Tanjakan mulai 7%, lalu 8%, kemudian 10%. Bahkan, ada satu bagian yang paling curam, sampai 13%.

Sampai di atas, tidak ada semeter pun jalan datar. Semua menanjak paling rendah 7%. Menurut data di panduan, rata-rata tanjakan dari pangkal sampai puncak adalah 7,2%.

Sewaktu ke Col de Marie-Blanque, rata-ratanya tanjakannya ‘hanya’ 4-5%.

Saat itu saya belajar bersabar. Menempel salah seorang jagoan sabar di tanjakan, Khoiri Soetomo, dan mengikuti kecepatan kayuhannya. Putaran kaki kira-kira 40 rpm, dengan kecepatan 6-9 km/jam.

Jagoan tanjakan kelompok kami adalah Bambang Poerniawan. Usianya sudah 57 tahun, tapi dia dikenal sulit dikalahkan di tanjakan mana pun di Indonesia.

Ketika menuju Col d’Aubisque, dia katanya sampai kram empat kali. Sun Hin Tjendra, jagoan tanjakan lain, terus menemani dan membantu. “Dia (Bambang, Red) orangnya bandel dan nekat. Luar biasa. Kram, saya pijat sebentar. Langsung naik sepeda lagi. Seratus meter kemudian kram lagi, tapi tidak mau menyerah,” ungkap Sun Hin, yang berkali-kali menang lomba eksekutif di Jawa Timur.

Semakin tinggi kami mendaki, panas matahari semakin terasa. Temperatur di Garmin (komputer sepeda) saya menunjukkan angka maksimal 38 derajat Celsius!

Memang tidak lembab, jadi rasanya kering terus. Angin dingin pegunungan juga membantu ‘mengelabui’ hawa panas. Namun, sengatan mataharinya maut. Dan kami masing-masing mungkin menghabiskan air lebih dari satu galon menuju puncak.
Tidak hanya panas, lebah dan lalat juga ikut mengganggu. Konsentrasi kami terus terganggu karena harus memukul-mukul bagian badan yang disinggahi lebah.

“Ini agak tidak lazim. Biasanya tidak mengganggu seperti ini. Tapi, kalau bersepedanya lebih cepat, kemungkinan tidak masalah,” ucap Bernard.
Masalahnya, kami tidak mampu bersepeda lebih cepat. Mendengar itu, kami hanya bisa tersenyum kecut.
Pemandangan indah seharusnya bisa menjadi obat lelah. Tapi, itu seharusnya. Kenyataannya, mata kami lebih banyak melihat aspal di bawah. Takut melihat curamnya tanjakan di depan. Kami hanya bisa menikmatinya saat berhenti untuk menenangkan diri. Sesekali menyempatkan diri foto-foto pakai iPhone atau BlackBerry.

Kalaupun ada yang membantu melupakan sakit, mereka adalah ratusan orang yang sudah camping di sepanjang sisi jalan menuju puncak. Mereka sudah menempatkan tenda atau caravan dan akan terus berada di situ sampai Tour de France benar-benar melintasinya pada Rabu siang (18/7).
Melihat kami, dan cyclist yang lain, mereka bersorak-sorak memberikan semangat: “Allez! Allez! Allez!”
Ada pula yang terus membunyikan bel.

Ketika melewati mereka, rasanya seperti menjadi pembalap beneran!

***
Hingga tinggal beberapa kilometer, siksaan makin terasa berat. Apalagi, ketika kurang 2 km, tanjakannya mencapai 10%. Pada kilometer terakhir, masih 8%.

Ada sebuah kafe sekitar 1,5 km dari finis. Meski sudah dekat dan puncak mulai terlihat, kami memilih berhenti dulu di sana. Beberapa sepeda tampak sudah tertata di atas van, pertanda sudah tidak sanggup lagi.

Ketika melanjutkan pada kilometer terakhir, saya memilih berhenti sebelum tikungan terakhir. Rasanya benar-benar berat dan agak seram melihat curamnya tanjakan terakhir sebelum finis. Pak Khoiri menyemangati, bilang ada fotografer menunggu di atas. Dia tancap gas duluan. Saya dan Pak Liem Tjong San dari Makassar menyusul.

Di atas, setelah melewati garis penanda puncak, rasanya legaaaaaa.

Teman-teman yang sudah di atas menyambut dengan tos tangan atau pelukan. Mereka yang finis kemudian juga disambut dengan tos tangan dan pelukan.
Kami bukan pembalap, jadi ini sebuah puncak pencapaian bersepeda. Bahkan, Bambang Poerniawan menyebut ini sebagai pencapaian terbaiknya selama puluhan tahun bersepeda. Dan dia merasa, kemungkinan tidak akan bisa mengulanginya lagi. Bukan karena masalah tak mau pergi ke Prancis lagi.
“Usia saya sudah 57 tahun. Sebentar lagi 60 tahun. Kalaupun ke sini lagi, mungkin sudah tidak cukup kuat untuk mendaki yang seperti ini,” ujarnya.
Bambang bilang, di Jawa Timur yang paling berat itu tanjakan di Cangar, Batu. “Tapi, Cangar tidak ada apa-apanya bila dibadingkan dengan yang ini!” tandasnya.

Total jarak yang kami tempuh memang hanya 50 km. Tapi, kami membutuhkan waktu lebih dari lima jam untuk menyelesaikannya (termasuk berhenti-berhentinya). Komputer saya menunjukkan angka 5 jam 53 menit. Ada yang lebih cepat, ada juga yang membutuhkan waktu  hampir tujuh jam.
Tidak masalah karena kami telah menaklukkan tanjakan top ten terberat dalam sejarah Tour de France!
***
Begitu semua berkumpul di puncak, kami berfoto-foto dan makan gaya piknik di bawah sinar matahari. Setelah mencopot helm, kacamata, dan kaus tangan, kami semua terlihat belang-belang terbakar sinar matahari.

Kami pun terus membicarakan betapa beratnya tantangan ini. Lalu membicarakan dan makin mengagumi, betapa hebatnya para pembalap kelas dunia.
Bagi kami, 50 km menuju puncak berat luar biasa. Nah, di Etape Ke-16 Tour de France 2012, para bintang akan melahap Col d’Aubisque hanya sebagai santapan pembuka.

Etape dari Pau ke Bagneres-de-Luchon itu berjarak 197 km. Setelah Col d’Aubisque, para pembalap menghadapi satu lagi tanjakan Hors Categorie yang lebih tinggi, yaitu Col du Tourmalet (2.115 meter). Dan sebelum finis, mereka harus melewati pula dua tanjakan category 1, yaitu Col d’Aspin dan Col de Peyresourde.

Dan mereka mampu menyelesaikan SEMUA itu dalam waktu sekitar ENAM jam! Mengagumkan sekali”. (bersambung)

Read more: http://www.jpnn.com

Aduh, Aduh, ke Puncak Gunung, Sudah Telanjur Bayar…

19 July, 2012

Ke Prancis Bersepeda Mengikuti Rute dan Kehebohan Tour de France 2012 (3)

CHAMPION OF THE DAY: Prajna mengepalkan tangan saat mencapai finis  Col de Marie-Blanque (foto kiri). Mekanik menyetel sepeda Azrul Ananda.
CHAMPION OF THE DAY: Prajna mengepalkan tangan saat mencapai finis di Col de Marie-Blanque (foto kiri). Mekanik menyetel sepeda Azrul Ananda.

Hari kedua di Pau adalah hari pertama bersepeda menjajal rute kondang Tour de France. Jarak totalnya ‘hanya’ hampir 60 kilometer. Tapi, tanjakan dan siksaannya bikin yang pengalaman bilang, “Aduuuuhhh….”

BAGI penggemar berat bersepeda, khususnya road bike (sepeda balap), ada satu tujuan yang menurut saya merupakan esensi dari hobi ini: menaklukkan suffering alias penderitaan. Semakin cepat dan semakin jauh bersepeda, semakin berat suffering-nya. Semakin tinggi tanjakannya, semakin berat lagi suffering-nya.

Dan, semakin mahal serta semakin cepat sepeda yang kita beli, semakin jauh dan semakin parahn
suffering yang bisa kita kejar dan bisa kita taklukkan. Salah seorang teman saya pernah bilang,“Ini olahraga yang tidak bisa bohong. Kalau main sepak bola atau basket, kita bisa ‘sembunyi’. Tidak mengejar bola atau tidak bergerak tanpa bola. Kalau balap sepeda, semua kemampuan dan kemauan kita akan terlihat jelas oleh semua.”

Eddy Merckx, ‘Michael Jordan’-nya balap sepeda, pernah bilang bahwa dirinya meraih sukses karena punya kapasitas mengalahkan suffering lebih besar daripada yang lain. Setelah hari pertama bersepeda di Pau, Prancis, rombongan Jawa Pos Cycling baru benar-benar sadar bahwa beberapa hari ke depan akan disuguhi banyak menu suffering.

***
Senin lalu (16/7) merupakan hari pertama 16 peserta rombongan penggemar sepeda Indonesia merasakan betapa sulit dan hebatnya rute Tour de France. Ketika sirkus yang sebenarnya menjalani etape 15 dari Samatan ke Pau, rombongan kami diajak keluar sedikit dari Pau menuju salah satu rute tanjakan paling terkenal dalam sejarah Tour de France.

Kami diajak menuju Col de Marie-Blanque, salah satu jalur menuju salah satu puncak di pegunungan Pyrenees. Sebelum berangkat, ketika memilih program tur yang ditawarkan Discover France dan Amaury Sport Organisation (ASO) sebagai organizer Tour de France, kami memilih yang ‘moderate’. Seharusnya tidak terlalu berat, hanya kira-kira 60 km sehari.

Hari itu kami langsung menyadari apa itu moderate. Bagi penggemar sepeda amatir yang non pembalap, walaupun sudah punya pengalaman tahunan, ‘moderate’-nya Prancis itu sama dengan “Aduh, ternyata berat!”

Col de Marie-Blanque memang tidak dilintasi Tour de France 2012. Rute lomba setiap tahun memang berubah supaya setiap tahun tantangan-tantangannya berbeda. Tapi, Col de Marie-Blanque ini salah satu yang paling kondang. Sejak 1978, sudah 14 kali dijadikan salah satu menu tanjakan Tour de France. Kali terakhir pada 2010, ketika Juan Antonio Flecha (Team Sky) menjadi yang pertama mencapai puncaknya.

Dari hotel kami di Pau, jarak menuju ke sana sekitar 60 kilometer. Berdasar brifing yang kami terima dari pemandu kami, Francois Bernard dan Martin Caujolle, kami dijadwalkan berangkat pukul 08.30 pagi.

Lalu, ketika berhasil menaklukkan Col de Marie-Blanque, kami bisa balik hotel, mandi, dan ganti baju. Lalu, sebagai ‘hadiah’, sorenya langsung menuju tengah kota menyaksikan finis Etape 15 Tour de France 2012.

***
Karena baru tiba Minggu sore (15/7), rombongan masih melawan jet lag pada Senin pagi. Tidak perlu makan pagi hingga pukul 07.30-an, beberapa anggota rombongan sudah bangun beberapa jam sebelum itu. Beberapa orang bahkan sudah menaiki sepedanya putar-putar kawasan hotel.

Jadi sebenarnya bukan sekadar jet lag, tapi juga masih sangat excited, bersemangat tak sabar segera bersepeda. Ketika keluar itu, kami sadar bahwa ada tantangan lain yang harus kami lawan: hawa dingin pagi di kawasan Pyrenees. Meski musim panas dan sorenya akan panas, suhu di pagi hari hanya di kisaran 15 derajat Celsius.

Pagi itu kami akhirnya berangkat terlambat sekitar 30 menit. Bukan disebabkan terlambat siap, tapi karena ada banyak masalah sepeda kecil-kecil yang harus diatasi. Karena malam sebelumnya buru-buru merakit sepeda, ada saja yang terlupakan atau belum pas.

Para peserta pun saling membantu. Bernard dan Caujolle juga dengan cekatan membantu.
Ketika akhirnya berangkat, Caujolle memandu dengan mengendari van di depan. Bernard berpisah dulu, belanja menyiapkan makan siang kami sebelum bergabung di jalur menanjak.

Saat itu kami belajar mengikuti aturan Prancis (tertib satu-satu, tertib dua-dua). Lalu, kami diminta untuk menjaga jarak sekitar 15 meter di belakang van.

Jalanan kota berpenduduk 84 ribu orang itu kami lalui. Jalanan ‘kampung’-nya pun kami lalui. Lalu, naik perbukitan yang cukup menantang, beberapa kali berhenti untuk menunggu yang ketinggalan dan berfoto. Atau berhenti ketika ada sepeda yang masih butuh disetel lebih baik.

Saat melintasi perbukitan itu kami sadar, wah, kok tanjakannya berat-berat ya? “Itu masih pemanasannya. Habis ini kita bergabung dulu di jalan utama, lalu baru masuk rute tanjakan Col de Marie-Blanque,” jelas Caujolle.
Meski berat, peserta masih senyum-senyum. Apalagi, pemandangannya begitu indah dan udaranya begitu bersih.

Ketika mulai naik Col de Marie-Blanque, baru senyum-senyum itu berubah menjadi wajah penuh konsentrasi menaklukkan siksaan. Ungkapan-ungkapan kekaguman berubah jadi “aduh, aduh, aduh”.

***
Di Indonesia, kami semua sering mengikuti rute tanjakan. Yang di Jawa Timur, ada rute Pacet, Pandaan, Sarangan, dan Gunung Kelud. Masalahnya, kami tak pernah bisa mengukur secara kuantitatif, itu beratnya seberapa.

Di Prancis, dan di Tour de France, semua tanjakan diukur. Ada kategori 4, 3, 2, 1. Semakin kecil angka, semakin berat tantangannya. Tapi, masih ada yang paling berat, namanya Hors Categorie (HC). Nah, Col de Marie-Blanque masuk kateri 1!

Panjang total tanjakan ini adalah 15 km. Ketinggian di puncak mencapai 1.035 meter. Rata-rata persentase (%) tanjakannya memang tidak terlihat ajaib, ‘hanya’ di kisaran 5%. Tapi, di kaki sampai tengahnya benar-benar ‘membunuh’. Kira-kira 5 km punya kemiringan 7,5% sampai 8,5%.
Seberapa membunuh? Kecepatan rata-rata hanya sekitar 7-10 km/jam, dan itu rasanya berat sekali. Di beberapa bagian yang benar-benar curam, naik sepeda dan jalan kaki bisa sama kecepatannya!

“Kalau seperti ini, Sarangan ke Camar Sewu (di dekat Madiun, Red) tidak ada apa-apanya,” celetuk Sony Hendarto, peserta dari Madiun, yang menunggangi sepeda karbon custom, Independent Fabrication.

Tantangan itu terasa lebih berat karena peserta tidak dalam kondisi seratus persen fit. Ya gara-gara jet lag. “Kekuatan kita ini masih sekitar 80 persen,” komentar Sun Hin Tjendra, 40, jagoan lomba dan tanjakan Surabaya Road Bike Community (SRBC).

Beberapa peserta memang rontok. Karena kram, terpaksa diangkut naik van menuju puncak.
Saya sendiri harus berhenti beberapa kali. Bukan karena kram, tapi untuk menenangkan diri. Detak jantung saya terus menembus 170 bps (detak per detik) karena nafsu ingin mencapai puncak secepat mungkin.

Beberapa teman terus mengingatkan untuk tenang. Untuk lebih cepat sampai ke puncak, kadang harus dilakukan dengan kecepatan lebih rendah, tapi konstan dan sabar.

Apalagi, kita sudah jauh-jauh ke Prancis. Rugi kalau tidak bisa finis di tantangan pertama. Untuk menenangkan diri, saya ya nyanyi-nyanyi saja: “Aduh, aduh, ke puncak gunung. Sudah telanjur bayar”. (bersambung)
sumber: http://www.jpnn.com