Tahun Depan Ingin Bersepeda di Eropa Lagi

Rabu, 22 Mei 2013 , 06:12:00
BERAKHIR sudah program Tour of California 2013 yang dijalani rombongan cyclist Indonesia. Senin lalu (20/5), ada bersepeda lagi 50 km, lalu foto bareng Peter Sagan dan para teammate-nya di Cannondale Pro Cycling.

 ————-
Catatan AZRUL ANANDA bersama, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU dari San Francisco
————-
PROGRAM Tour of California (ToC) 2013 berakhir Senin, 20 Mei. Kumpul pagi-pagi pukul 06.30, 17 cyclist asal Surabaya, Jakarta, Madiun, dan Makassar sudah siap dandan dengan jersey kebesaran komunitas atau klub masing-masing.Kebanyakan yang dari Surabaya mengenakan seragam kuning-hitam Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling. Ada pula yang mengenakan jersey merah-hitam komunitas Free. Sedangkan Liem Tjong San dari Makassar dengan komplet mengenakan jersey, bibshort, kaus kaki, dan sleeve hijau-kuning-putih kebesaran Makassar Cycling Club (MCC).Pagi itu, start pukul 07.15, trio guide Lyne Bessette, Ryan Fowler, dan Jen Slowey dari Cannondale Tours (Duvine Adventures) sudah menyiapkan rute yang cukup menantang. Total jarak tempuh sekitar 50 km, tapi dibumbui tanjakan sangat menantang sepanjang hampir 3 km. Tingkat kemiringannya mencapai 13 persen.Rutenya: Dari hotel di downtown Healdsburg menuju Sonoma Lake (danau). Tipe jalannya rolling, naik turun menantang ketahanan serta kekuatan kaki dan paha.

Ryan Fowler, yang hari itu bersepeda memandu, membuat para peserta happy sekaligus ngos-ngosan. Sadar rombongan suka ngebut, dia membiarkan rombongan melaju konstan di atas 40 km/jam. Berhenti ketika mendekati kilometer 20 untuk ambil napas dan mengisi botol minum. Temperatur pagi itu termasuk dingin dan berangin, 18 derajat Celsius.

“Rombongan tur lain yang biasa kami antar tidaklah secepat rombongan Indonesia ini. Kalian termasuk cepat dan kuat,” puji Fowler.

Kami mulai memasuki tanjakan di kilometer 21. Setelah melewati pemandangan spektakuler, yaitu bendungan yang menutup salah satu sisi danau. Tanjakan yang kami lalui menuju ke arah puncak bukit, yang menjadi titik wisata untuk melihat seluruh keindahan Sonoma Lake.

Sadar ini tanjakan terakhir selama di California, para peserta pun habis-habisan. Khususnya Sony Hendarto asal Madiun, yang dalam beberapa hari ini termasuk paling apes di rombongan (kabel sepeda tergunting, sempat tersasar). Ketika finis pertama di puncak, dia sangat puas meski sempat hampir muntah-muntah.

“Puas, sekarang puas. Bisa pulang ke Indonesia dengan tenang,” ucapnya.

Dari atas, rombongan kembali turun menuju hotel di Healdsburg. Setelah itu cepat-cepat mandi dan mengemasi koper karena harus segera naik mobil kembali ke San Francisco. Perjalanannya sekitar 1,5 jam dan kami sudah harus di Sports Basement, di kawasan Presidio, dekat Golden Gate, pukul 12.00.

Dan kami semua sangat ingin berada di sana pukul 12.00. Mengapa” Karena di sanalah Cannondale menyiapkan pertemuan kami dengan para pembalap tim. Termasuk dengan Peter Sagan, pemenang dua etape di ToC 2013, peraih green jersey (best sprinter).

Kebetulan, pagi itu seluruh tim ada di sana untuk acara gowes bareng dengan para diler Cannondale. Lalu ikut acara jumpa fans dan berbagi tanda tangan.

“Kami akan mencoba mengatur supaya rombongan Indonesia dapat sesi sendiri, termasuk berfoto bersama seluruh tim,” ucap Sam Hughes dari Cycling Sports Group, induk perusahaan Cannondale.

Begitu tiba, kami diminta menunggu hingga 12.30, setelah rangkaian acara untuk umum selesai. Lalu kami diminta menuju tenda tempat para pembalap duduk, setelah sebelumnya melayani permintaan tanda tangan pengunjung lain.

Tampak delapan pembalap Cannondale duduk di sana. Ada Peter Sagan di tengah, bersebelahan dengan Juraj (baca: Yuray) Sagan, kakaknya yang Sabtu sebelumnya (18/5) memandu rombongan Indonesia naik Mount Diablo. Ada pula Stefano Agostini, yang juga memandu rombongan Jawa Pos Cycling.

Selain itu, ada bintang lain seperti Ted King, Lucas Sebastian Haedo, Maciej Bodnar, Brian Vanborg, dan Kristijan Koren.

Dengan penuh antusias, rombongan Indonesia memburu tanda tangan mereka. Ada yang minta di jersey, buku foto, print foto, botol minum, dan pernak-pernik lain.

Yang paling heboh: Hampir semua meminta para pembalap menandatangani sepeda Cannondale SuperSix Evo yang selama ini ditunggangi di ToC 2013!

“Sampai di Indonesia nanti bisa di-clear coat, supaya tanda tangannya abadi,” celetuk Sun Hin Tjendra dari Surabaya.

Seusai sesi tanda tangan, para personel Cannondale meminta rombongan Indonesia menunggu di sudut parkiran dengan latar belakang jembatan Golden Gate.

Tidak lama, para pembalap Cannondale pun bergabung. Termasuk Peter Sagan, yang kami daulat untuk berpose di tengah. Bambang Poerniawan, 57, anggota tertua (sekaligus termungil), langsung dengan semangat menempatkan diri di sebelah kiri pembalap Slovakia tersebut.

Satu, dua, tiga! Kami pun berfoto dengan pasukan Cannondale Procycling! Dengan latar belakang Golden Gate. Apalagi, cahaya matahari sedang sangat pas dan tidak ada sedikit pun kabut menyelimuti jembatan legendaris tersebut.

Selain itu, seragam kaus putih Indonesia kami begitu pantas dan kontras bersanding dengan seragam hijau menyala pasukan Cannondale!

Betapa pasnya awal dan ending program ini. Pada Jumat, 17/5, ketika akan bersepeda untuk kali pertama, kami berpose di sudut parkir yang sama. Ending-nya foto serupa, tapi bersama pasukan Cannondale! Benar-benar momen yang mungkin hanya sekali seumur hidup.
***
Begitu program selesai, kami pun berpisah dengan para guide dan pasukan Cannondale. Sepeda-sepeda akan di-packing para guide dan mekanik. Dan diantar ke bandara ketika kami akan pulang ke Indonesia.

Dan memang, Senin malam itu kami langsung pulang. Pesawat tengah malam transit di Hongkong menuju Surabaya.

Mumpung masih ada setengah hari, kami mampir dulu ke satu lagi toko sepeda, ke sekali lagi toko eksklusif Rapha, sebelum berwisata dulu ke Pier 39 di kawasan Fisherman”s Wharf, San Francisco.

Bagi rombongan yang datang ke Amerika bersama keluarga, seharusnya di kawasan inilah semua bertemu di sore hari. Tapi, karena jadwal keluarga masih mengunjungi penjara pulau Alcatraz, pertemuan diundur hingga pukul 18.30, di Restoran Yuet Lee (masakan Tionghoa) di kawasan China Town. Di sana mencicipi cumi goreng yang sangat populer di kalangan pelajar Indonesia di San Francisco.

Pukul 20.00, kami pun menuju San Francisco International Airport (SFO). Bertemu lagi dengan sepeda yang sudah dikemas, check in, dan terbang kembali ke tanah air.

Cerita perjalanan di California ini mungkin akan butuh waktu berminggu-minggu sebelum bosan dibicarakan. Bahkan mungkin sampai tahun depan, ketika perjalanan selanjutnya diselenggarakan.

Sebab, memang ada impian untuk bersepeda di semua benua. Atau merasakan rute dan atmosfer sebanyak mungkin lomba kelas dunia.

Mau ke mana tahun 2014 nanti? Dari pembicaraan, ada beberapa alternatif. Kebetulan keduanya di Eropa. Satu, mengulangi lagi rute Tour de France seperti 2012 lalu, tapi menjajal gunung-gunung yang berbeda. Dua, kembali ke Prancis, tapi merasakan rute jalan bebatuan lomba Paris-Roubaix yang terkenal keras.

Tiga, menuju Italia, mengikuti Grand Tour legendaris lain: Giro d”Italia. Menjajal gunung-gunung gilanya, seperti Passo dello Stelvio.

Masih belum diputuskan mau ke mana, tapi beberapa peserta California (yang tahun lalu juga ikut ke Tour de France) sudah dengan tegas bilang akan ikut lagi! (habis)

Advertisements

Nonton Peter Sagan Menang, Naik Turun Perkebunan Anggur

Bersepeda Ikuti Tour of California, Event Balap Terbesar di Amerika (5)

TOUR of California 2013 berakhir di Santa Rosa, Minggu lalu (19/5). Rombongan Jawa Pos Cycling ikut menyaksikan ending-nya di tengah-tengah festival kota yang meriah.

Catatan AZRUL ANANDA bersama YUDY HANANTA dan DIPTA WAHYU dari Santa Rosa
————————————————————————————————————————–Hari Minggu lalu (19/5) mungkin adalah hari terpadat rombongan cyclist Indonesia selama mengikuti Tour of California (ToC) bersama Cannondale Tours (dioperasikan oleh Duvine Adventures).

Pagi bersepeda sedikit, lalu menonton finis etape terakhir lomba, lantas bersepeda lagi sejauh 48 kilometer di Sonoma Valley, kawasan penghasil anggur dan wine kondang Amerika Serikat.

Bangun pagi-pagi di Cavallo Point, hotel indah di kaki jembatan Golden Gate, rombongan sebenarnya dijadwalkan makan pagi pukul 07.00. Tapi, karena menunya dihidangkan secara khusus, para guide memutuskan untuk menunda dulu breakfast hingga pukul 09.00.

Setelah makan roti-rotian, rombongan langsung mengambil sepeda masing-masing (bangun pagi sudah dandan siap bersepeda). Pagi itu, semua memang harus agak tergesa. Kami harus segera bersepeda sedikit, naik ke Headlands Lookout, puncak sebuah bukit yang menghadap jembatan Golden Gate (sekaligus kota San Francisco sebagai latar belakang).

Posisi di atas itu penting. Sebab, kami semua ingin melihat kilometer-kilometer awal Etape 8 sekaligus penutup ToC 2013, yang berlangsung dari San Francisco menuju Santa Rosa. Kami harus cepat-cepat naik supaya tidak kehilangan momen spektakuler, melihat peloton pembalap kelas dunia melintasi jembatan Golden Gate.

Pagi itu, lomba start pukul 08.15. Hanya dalam hitungan menit, peloton sudah akan melintasi Golden Gate. Jarak dari hotel ke tempat menonton itu hanya 2,5 km. Tapi, semuanya menanjak, dengan kemiringan mencapai 12 persen. Bisa dibilang, kami harus interval (out of saddle alias berdiri) di hampir sepanjang perjalanan ke atas. Butuh sekitar 15 menit untuk mencapai lokasi.

Kompak mengenakan jersey merah bertulisan “Indonesia”, kami melihat jembatan itu kosong karena ditutup untuk publik. Kami melihat sedikitnya empat helikopter berseliweran. Berharap disyuting kamera dari atas, kami semua melambaikan tangan dengan penuh antusias.

Tidak lama kemudian, peloton pun lewat. Masih tampak santai, lebih mirip parade daripada balapan. Walau sudah start, “lomba” memang belum dimulai saat melintasi Golden Gate. Baru tidak lama setelah melewatinya, para pembalap tancap gas.

Begitu peloton lewat, kami pun turun kembali ke hotel. Makan pagi sesuai rencana, lalu memastikan semua koper dan barang sudah di-loading ke dua van plus satu trailer yang selama ini jadi kendaraan sehari-hari.

Saat kami makan, Ryan Fowler, Jen Slowey, dan Lyne Bessette menata sepeda-sepeda kami dengan rapi di atas kedua van. Setelah makan, langsung naik kendaraan dan menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke downtown Santa Rosa.

Di kota itulah ToC 2013 berakhir. Di kota itulah para juaranya dinobatkan. Di kota itu pula diselenggarakan festival merayakan ending ajang balap sepeda terbesar di Amerika tersebut.

Begitu tiba, suasananya memang balap sepeda banget. Jalan-jalan mulai ditutup karena para pembalap dijadwalkan sampai sekitar pukul 11.30. Etape hari itu memang relatif pendek, “hanya” 130,4 km. Ending-nya melakukan dua lap di tengah kota Santa Rosa, sebelum adu sprint menuju garis finis.

Kabarnya, sekitar 30 ribu orang memadati downtown Santa Rosa pagi itu. Berjam-jam mereka menunggu finis sambil menikmati berbagai hiburan dan stan sponsor atau merchandise.

Banyak barang kecil dibagi-bagikan kepada penonton. Yang paling populer: lonceng sapi mini. Para penonton dengan heboh membunyikannya setiap kali para pembalap lewat.

Banyak tokoh sepeda berkumpul di Santa Rosa hari itu. Secara tidak sengaja, kami bertemu Nick Frey, pembalap sekaligus pemilik merek sepeda custom Boo Bicycles. Lulusan Princeton berusia 25 tahun itu memproduksi sepeda unik, paduan bambu dengan karbon.

Walau seorang entrepreneur, Frey juga anggota tim Jamis-Hagens Berman, tim Amerika. Dia datang mendukung rekan-rekannya, khususnya pembalap bernama Tyler Wren.

Frey-lah yang memandu kami tentang kecepatan lomba. Di putaran pertama di Santa Rosa, Frey menjelaskan bahwa kecepatan peloton mencapai 55 km/jam. Menjelang finis, kecepatan naik di atas 60 km/jam.

“Peter Sagan (pembalap Cannondale, Red) akan memenangi lomba ini,” prediksinya mantap.

Kami bilang, Tyler Farrar (Garmin-Sharp) bakal menjadi penantang. “Garmin tidak punya lead train (pasukan tukang tarik, Red) sekuat Cannondale. Farrar akan finis ketiga,” balas Frey.

Omongan Frey itu menjadi kenyataan! Sagan menang, meraih kemenangan keduanya tahun ini, kesepuluh total selama empat tahun ikut ToC. Itu rekor terbanyak. Plus, Sagan berhasil mengamankan Green Jersey, sebagai pemenang point classification (sprinter terbaik). Farrar Finis ketiga! Di belakang Daniel Schorn (NetApp-Endura).

Begitu lomba berakhir dan seremoni podium berakhir Tejay van Garderen dari BMC berhasil jadi juara keseluruhan alias yellow jersey” kami pun makan siang dan berlanjut menikmati stan-stan yang ada.

Hebat, dalam hitungan dua jam, hampir semua sudah dibongkar. Mulai podium, pintu finis, sampai sejumlah stan merchandise. Sore itu, kami yakin downtown Santa Rosa sudah kembali “normal”.

***
Dari downtown, kami berangkat ke Shiloh Ranch Regional Park. Di sana, sepeda kembali diturunkan, dan kami kembali bersiap bersepeda. Rutenya bukan tergolong berat. Dirancang 30 mil (48 km) menyusuri Sonoma Valley, kawasan penghasil wine superkondang di Amerika. Finisnya di Healdsburg, sebuah kota kecil yang indah.

Jalannya memang naik turun, dengan beberapa tanjakan pendek yang cukup bikin ngos-ngosan. Tapi, pemandangannya sangat spektakuler. Di kanan kiri perkebunan anggur serta beberapa rumah indah dan tempat-tempat untuk wine tasting.

“Ini sempurna. Tempat ini sempurna untuk bersepeda,” komentar Rudi “Oyee” Sudarso dari komunitas Free Surabaya.

Rute menuju Healdsburg ini memang rute bersepeda yang populer. Sejumlah cyclist kami jumpai selama perjalanan. Walau relatif mudah, cuaca hari itu cukup unik. Sebelum bersepeda, beberapa peserta merasakan panasnya sengatan matahari. Suhu berkisar 33 derajat Celsius, tapi terasa sangat kering dan menyengat.

Ketika bersepeda, baru rasanya lebih nyaman. Sebab, anginnya terasa dingin. Meski demikian, keringnya udara membuat kami terus merasa haus. Lyne Bessette, yang memandu, menghentikan peloton di kilometer 30. Alasannya untuk kembali mengisi botol minum dengan air yang disiapkan di van yang dikendarai Jen Slowey.

“Bibir ini rasanya kering terus minta dibasahi,” aku Khoiri Soetomo, salah satu founder Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling.

Setelah itu, kami kembali melaju menuju Healdsburg. Kecepatan rata-rata kami mendekati 30 km/jam. Tidak terlalu cepat, tapi cukup berat bagi sebagian peserta. Apalagi dengan udara yang begitu kering.

Rombongan tiba di Hotel Healdsburg yang terletak di downtown kota berpenduduk 11 ribu jiwa tersebut sekitar pukul 16.30. Setelah itu, semua beristirahat sebelum melanjutkan briefing dan makan malam pukul 19.00.

Makan malam itu disiapkan para guide sebagai farewell dinner. Sebab, Seninnya (20/5), rombongan akan bersepeda sekali lagi sebelum berpisah saat makan siang.

Saat makan malam, Lyne Bessette memberikan suvenir menarik kepada para peserta. Berupa foto yang sudah dia tanda tangani. Fotonya adalah aksi dirinya ketika mengikuti Paralimpik 2012 di London, Inggris.

Ketika itu, Bessette menjadi pilot untuk atlet sepeda buta Robbi Weldon dalam ajang road race tandem. Ketika itu, mereka meraih medali emas!

Prestasi itu merupakan lanjutan rangkaian pencapaian hebat dalam karir Bessette. Perempuan 38 tahun tersebut dulu juga pernah menjadi juara nasional Kanada (road race dan time trial) serta memenangi banyak lomba internasional.

Sebagai balasan, rombongan memberikan suvenir jersey INDONESIA dan jersey bercorak koran Jawa Pos kepada Bessette, Fowler, dan Slowey. “Jersey Indonesia ini begitu mencolok. Bagus sekali ketika kalian kenakan saat melintasi perkebunan anggur,” puji Slowey.

Setelah beberapa hari bersama, malam itu rombongan sudah makin cair dan akrab dengan para guide. Sayangnya, itu adalah dinner terakhir bersama dalam program ini. Tapi, para guide menjanjikan hari penutupan yang sangat seru.

“Kita akan berangkat pagi pukul 07.15. Bersepeda sekitar 30 sampai 40 mil di kawasan Sonoma Lake (danau, Red). Setelah itu balik hotel, mandi, dan berkemas. Dan paling lambat pukul 10.30 sudah berangkat menuju San Francisco,” terang Ryan Fowler.

Ada apa di San Francisco? “Di sana, kita akan bertemu dengan pembalap Tim Cannondale. Jadi, bisa foto-foto serta minta tanda tangan,” ungkapnya.(bersambung)

Surprise! Juraj Sagan Jadi Guide Naik Gunung Setan

GUIDE KEJUTAN: Yudy Hananta berfoto bersama Juraj Sagan (Cannondale Procycling) di Livermore, sebelum berangkat menuju Mount Diablo, Sabtu (18/05). Juraj Sagan adalah kakak kandung Peter Sagan, salah satu bintang utama cycling dunia. FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos
GUIDE KEJUTAN: Yudy Hananta berfoto bersama Juraj Sagan (Cannondale Procycling) di Livermore, sebelum berangkat menuju Mount Diablo, Sabtu (18/05). Juraj Sagan adalah kakak kandung Peter Sagan, salah satu bintang utama cycling dunia. FOTO:Dipta Wahyu/Jawa Pos
Kado kejutan didapatkan rombongan Jawa Pos Cycling di Tour of California Sabtu lalu (18/5). Menanjak Mount Diablo, Cannondale menyediakan dua pembalapnya untuk jadi guide. Salah satunya kakak Peter Sagan.

===========================================================
Catatan  AZRUL ANANDA, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU dari Mount Diablo
===========================================================HARI yang paling dinantikan itu akhirnya tiba. Sabtu, 18 Mei, adalah hari yang paling diimpi-impikan (atau paling bikin deg-degan) bagi rombongan Jawa Pos Cycling di event Tour of California 2013.

Mungkin bukan hanya kami yang berdebar-debar. Para pembalap kelas dunia yang mengikuti lomba mungkin juga dag-dig-dug menantikan etape ketujuh hari itu.

Bagaimana tidak. Etape ketujuh itu dijuluki “Queen Stage” alias paling menentukan. Finisnya di tanjakan paling maut lomba: Menanjak Mount Diablo, tak jauh dari Kota Livermore, di California Utara.

Kata “diablo” itu bahasa Spanyol, artinya setan. Secara keseluruhan, ini memang tanjakan seru. Masuk kategori 1, tapi ending-nya bisa tergolong HC (hors categorie) alias kategori yang melebihi segala kategori alias terberat.

Memiliki panjang sekitar 18 km, penanjakan ini memiliki rata-rata kemiringan 5,8 persen. Maksudnya, setiap 1 km jalan, menanjak sampai 58 meter.

Semakin ke puncak, semakin curam. Pada 150 meter terakhir, ada bagian yang mencapai kemiringan 16 persen.

Nah, sebelum para pembalap mendaki Mount Diablo di sore hari, paginya rombongan Jawa Pos Cycling diberi jadwal untuk mendakinya.

Seluruh latihan, seluruh persiapan selama di Indonesia, ditujukan untuk bisa menyelesaikan tantangan Gunung Setan ini…

Dan untuk hari istimewa ini, Cannondale Tours (dioperasikan Duvine Adventure) memberikan kejutan istimewa”

***

Dari Hotel Valencia yang mewah di kawasan Santana Row, San Jose, rombongan bangun pagi pukul 06.00. Pukul 07.30 sudah harus loading semua koper dan berangkat naik dua van ke lokasi start rute di Livermore.

Sabtu itu Cannondale Tours meminta kami mengenakan jersey dan bibshort yang mereka sediakan. Yaitu setelan seragam buatan merek papan atas Sugoi, replika seragam yang dipakai tim balap Cannondale. Warnanya hijau terang menyala, dengan paduan corak hitam, putih, dan biru.

Kami pun bercanda. Kalau tim resminya bernama Cannondale Procycling, kami adalah Cannondale NOT Procycling, impor dari Indonesia.

Tiba di sebuah taman kota di Livermore, kami menyiapkan sepeda dan perlengkapan lain. Suhu udara hari itu diperkirakan cukup hangat, tapi angin dingin bakal menerpa kencang. Jadi, kami pun mengenakan arm warmer, leg warmer.

Lama tidak segera berangkat, ternyata ada alasannya.

Sekitar pukul 09.00, datang sebuah mobil berstiker Cannondale Procycling, dengan dua sepeda SuperSix Evo corak tim terpasang di atas atapnya.

Keluarlah tiga orang. Yang berbaju kasual adalah Rory Mason, salah seorang manajer Cannondale selama di Tour of California. Dua lainnya berbadan kecil dan ramping, dandan lengkap tim balap Cannondale.

Ryan Fowler, salah seorang guide kami, menjelaskan bahwa para pembalap kelas dunia itu adalah guide kejutan bagi rombongan Indonesia. Mereka adalah pembalap Cannondale yang kebetulan tidak diturunkan di Tour of California. Didatangkan untuk menemani kami mendaki Mount Diablo!

Yang pertama adalah pembalap muda tim asal Italia Stefano Agostini, 24. Dia salah satu calon andalan masa depan, mantan juara nasional U-23 di Italia.

Yang kedua punya nama sangat familier bagi penggemar balap sepeda: Juraj Sagan asal Slovakia. Ya, pembalap 24 tahun itu adalah keluarga Sagan. Tepatnya, dia adalah kakak Peter Sagan, salah seorang superstar cycling dunia saat ini.

Wow! Tentu saja para cyclist Indonesia merasa senang bukan kepalang. Kapan lagi bersepeda bareng pembalap kelas dunia, apalagi dipandu untuk menaklukkan salah satu tanjakan paling kondang di California!

Kontan, keberangkatan ke puncak Gunung Setan tertunda lagi. Semua ingin foto-foto dulu dengan para pembalap itu. Khususnya dengan Juraj (baca: Yuray) Sagan.

Pukul 09.30, barulah rombongan berangkat bersama. Hari itu, termasuk menanjak dari sisi selatan dan descent (turun) di sisi utara, kami diperkirakan bakal menempuh jarak sekitar 70 km.

Sebelum berangkat, kami punya pesan sangat penting bagi para guide itu (termasuk lagi Lyne Bessette, mantan juara nasional Kanada): “Tolong selalu ingat bahwa kami bukan pembalap profesional. Yang sabar kalau menanjak bersama, jangan terlalu cepat.

***
Dari Livermore, kami harus menempuh dulu rute rolling di kawasan perbukitan sejauh sekitar 37 km. Juraj Sagan dan Bessette hampir selalu berada di depan, memimpin rombongan beriringan dua-dua. Sesekali Bessette mengizinkan kami memimpin di depan, bersebelahan dengan Juraj Sagan.

Sagan sendiri cenderung pendiam. Bukannya sombong, karena dia selalu ramah. Kata Bessette, mungkin karena kemampuan bahasa Inggris Sagan masih terbatas. Agostini justru lebih proaktif dan sering berbincang dengan rombongan kami.

Tentu saja, ini dijadikan kesempatan untuk tanya-tanya ke mereka. Aris Utama sempat bertanya bagaimana posisi sprint yang paling baik, dan Agostini menunjukkan posisi yang paling ekstrem. Tangan di bagian drop bawah, kepala di depan serendah mungkin, hampir sejajar dengan setir. Dengan bagian pantat menungging tinggi di atas sadel.

Begitu memasuki kaki tanjakan, “perang” pun dimulai. Walau ini bukan balapan, ketika sudah di atas sadel, para cyclist biasanya punya target sendiri-sendiri. Misalnya harus finis duluan. Atau mengalahkan salah satu rekan. Atau tidak ingin jadi juru kunci!

Dengan santai, Juraj Sagan dan Agostini menanjak cepat. Anggota rombongan yang tergolong paling kuat langsung melaju mencoba mengikuti. Sony Hendarto, asal Madiun, ingin melejit duluan “menabung” keunggulan sebelum finis. Khoiri Soetomo dan Liem Tjong San memilih cara “sabar”, menyimpan tenaga dengan harapan menyalipi pesaing yang rontok satu per satu.

“Kunci menaklukkan tanjakan seperti ini memang hanya satu: Sabar,” ucap San, 56, asal Makassar.

Seperti ketika latihan atau touring di Indonesia, Sun Hin Tjendra jadi jagoan. Menjadi anggota rombongan pertama yang mencapai garis akhir. Dia “mengalahkan” Rudi “Oyee” Sudarso selama tiga menit.

Menurut Sun Hin, dirinya mencoba sebisa mungkin membuntuti Sagan dan Agostini. Dia mampu membuntuti hingga 6 km menjelang finis. Setelah itu rontok.

“Mereka kuat sekali. Mereka santai ngobrol berdua. Saya habis-habisan mencoba membuntuti,” aku Sun Hin.

Yang paling apes adalah Slamet dari Madiun. Berada di barisan depan, dia terpaksa DNF (did not finish) karena mechanical (masalah teknis). Sekitar 3 km dari titik ending, pedalnya terlepas dari crank.

Ketika diperbaiki, rombongan sudah selesai dan diajak para guide kembali turun.

Di satu sisi, Slamet merasa penasaran. “Suatu saat harus diulangi lagi,” ucapnya. Di sisi lain, dia tetap puas dengan rute tersebut. “Mount Diablo memang keren. Pemandangannya sangat indah. Selain itu, banyak cyclist bule yang ramah menyapa kita di sepanjang jalan. Tapi, panjangnya memang amit-amit. Bikin capek,” ujar Slamet.

Memang, ribuan orang pagi-siang itu mendaki Mount Diablo. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda. Banyak penggemar balap yang sudah stand by di kanan kiri jalan. Tidak sedikit yang membawa lonceng sapi (cow bell), membunyikannya setiap ada cyclist yang lewat.

Banyak yang berdandan aneh-aneh, seperti dandan ala superhero Captain America. Ada yang menanjak naik sepeda tandem, sepeda fixie, sambil menarik trailer kecil berisi anak balitanya, dan lain-lain.

Sayangnya, yang kami maksud dengan titik akhir bukanlah puncak Gunung Setan. Karena persiapan lomba, jalan ditutup sekitar 2 km sebelum puncak. Hanya kalangan tertentu yang berkaitan dengan lomba yang boleh naik ke puncak.

Di garis akhir itu (total bersepeda 71 km), panitia Tour of California menyediakan kawasan parkir sepeda bagi mereka yang ingin terus menunggu untuk menonton lomba.

Kami sendiri diajak turun. Terus turun melewati sisi utara Mount Diablo. Finis di sebuah kawasan parkir luas di sebuah gereja di Walnut Creek. Kenapa di sana?

Pertama, Cannondale Tours menyiapkan tenda piknik untuk makan siang. Ini sangat penting, karena kami semua sangat lapar.

Kedua, karena di kawasan parkir itulah truk-truk, bus-bus, dan trailer tim peserta Tour of California diparkir. Dan kami diberi tur khusus oleh Rory Mason untuk masuk ke dalam trailer Cannondale Procycling.

Trailer besar ini dibeli Cannondale untuk melayani tim selama mengikuti lomba-lomba di Amerika dan Kanada. Ketika di Tour of California, misalnya, tim ini membawa 8 pembalap serta 12 ofisial dan mekanik. Semua dilayani di dalam trailer ini. Ada kamar mandi, dapur, tempat duduk, plus kompartemen untuk menyimpan sepeda dan perlengkapan lain.

Di sana Mason menunjukkan kepada kami trofi berbentuk beruang, simbol Negara Bagian California. Trofi itu diraih Peter Sagan saat memenangi etape ketiga lomba.

Di sekeliling tampak ada bus besar milik RadioShack-Leopard. Trailer milik Omega Pharma-QuickStep parkir di sebelahnya. Siswo Wardojo termasuk beruntung. Ketika foto-foto di depan bus Garmin-Sharp, seorang staf tim itu keluar dan memberinya hadiah topi!

Sebelum berpisah dengan Juraj Sagan dan Stefano Agostini, para rombongan ramai-ramai minta tanda tangan mereka. Ada yang di jersey, ada yang di sepeda!

Hari itu, tampaknya, bakal menjadi hari yang tidak akan pernah terlupakan”

***

Salah satu keasyikan mengikuti program Tour of California ini adalah hotel-hotel yang menarik. Setelah menginap di Santana Row, San Jose, dari Mount Diablo rombongan diajak kembali ke kawasan di sekitar San Francisco.

Sabtu malam itu rombongan menginap di Cavallo Point, Marine Headlands, di kawasan kaki jembatan Golden Gate, seberang San Francisco.

Hotel ini dulunya markas militer, Fort Baker. Tapi disulap jadi hotel mewah yang trendi plus ramah lingkungan.

Semua perabotnya dari bahan yang ramah lingkungan. Khususnya bambu. Bagian-bagian lain dari bahan yang alami atau hasil daur ulang.

Saat makan malam bersama, Lyne Bessette kembali memberikan brifing tentang jadwal dua hari berikutnya.

Minggu siang (19/5, Senin dini hari tadi WIB), kami dijadwalkan menonton etape terakhir Tour of California 2013, menyaksikan penobatan juara di Santa Rosa. Lalu makan siang dan bersepeda di kawasan indah sekaligus kondang, di Sonoma County.

Kawasan itu adalah kawasan produksi wine yang superkondang. Jadi, kami akan bersepeda menyusuri perkebunan anggur dan sebagainya.(bersambung)

Pemanasan lewat Golden Gate lalu Nonton Etape Time Trial

Dari kiri, Tonny Budianto, Aris Utama, dan Bob Denhert bersepeda di kawasan pantai sekitar Los Angeles. Foto: SRBC for JAWA POS
Dari kiri, Tonny Budianto, Aris Utama, dan Bob Denhert bersepeda di kawasan pantai sekitar Los Angeles. Foto: SRBC for JAWA POS
SETELAH segala persiapan, Jumat lalu (17/5) rombongan Jawa Pos Cycling mulai bersepeda di California, plus merasakan atmosfer lombanya. Rute pemanasannya melintasi jalur turis, melintasi jembatan Golden Gate, dari San Francisco ke Tiburon.
—————
Catatan AZRUL ANANDA, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU, dari San Francisco
—————
Akhirnya! Bersepeda di Amerika Serikat dan merasakan atmosfer Tour of California di kawasan utara negara bagian tersebut.Setelah beberapa hari jalan-jalan, setelah setengah hari menyetel dan menyiapkan sepeda, akhirnya 17 cyclist Indonesia bisa melakukan apa yang selama ini jadi keinginan: Bersepeda.

Jumat pagi lalu (17/5) rombongan dijemput oleh tim Cannondale Tours (Duvine) di Hotel Hilton Union Square, San Francisco. Seluruh bagasi diangkut, dan tim diboyong dengan dua van menuju Sports Basement di kawasan Presidio. Ke tempat di mana sepeda-sepeda Cannondale SuperSix Evo telah siap untuk dikendarai.

Instruksi penjemputan jelas: Ketika dijemput, semua sudah harus siap, dan sudah harus mengenakan jersey dan bibshort serta membawa seluruh perlengkapan bersepeda. Pagi itu, semua berseragam sama, mengenakan jersey bercorak koran Jawa Pos.

Begitu tiba sekitar pukul 08.15 semua langsung menuju ke bagian komunitas Sports Basement untuk mengecek sepeda masing-masing. Benar saja, semua sudah berjajar rapi, siap ditunggangi.

Lyne Bessette, mantan juara nasional Kanada yang menjadi guide, meminta kita semua segera keluar dari ruangan dan menjajal sepeda di area parkir yang begitu luas.

Satu per satu keluar dengan sepeda masing-masing. Melakukan setelan-setelan akhir, menyinkronisasikan komputer GPS, dan sebagainya.

Tidak lama, sekitar 30 menit kemudian, semua sudah siap berangkat. Sebelum berangkat, rombongan menjalani briefing, lalu berpose dulu bersama para guide. Selain Bessette, ada pula Ryan Fowler yang ikut bersepeda, serta Jen Slowey yang mengendarai mobil support.

Dipta Wahyu, fotografer Jawa Pos, ikut mobil bersama Slowey, “mencegat” para cyclist di tempat-tempat tertentu.

Posenya penting (dan historis bagi para peserta). Sebab, Sports Basement berada di kawasan kaki jembatan Golden Gate. Jadi, ketika foto, latar belakangnya adalah jembatan legendaris, yang dibangun pada 1937 tersebut.

Setelah berdoa bersama dipimpin Khoiri Soetomo, rombongan pun beriringan keluar dari kawasan parkir. Dan rute “pemanasan” ini sederhana, tapi diwarnai pemandangan-pemandangan kondang.

“Tidak sampai sepuluh menit kita sudah akan mencapai jembatan Golden Gate, lalu melintasinya. Kita kemudian terus bersepeda ke arah (kota) Tiburon. Kita akan makan siang di sana, lalu naik mobil ke San Jose untuk menyaksikan bagian akhir etape Time Trial (Tour of California),” jelas Bessette saat briefing sebelum berangkat.

Bessette juga mengingatkan, biasanya rombongan bersepeda rapi berjajar dua-dua. Tapi di jalur-jalur khusus harus tertib berurutan satu-satu.
***
Rute hari itu tidaklah panjang. Total hanya 32 kilometer. Hanya ada beberapa tanjakan pendek, khususnya saat naik ke jembatan Golden Gate. Kecepatan pun relatif pelan-pelan.

Sekali lagi, ini rute pemanasan. Semua masih membiasakan diri dengan sepeda masing-masing, serta membiasakan diri dengan cuaca. Pagi itu suhu udara memang relatif dingin, sekitar 18 derajat Celcius. Cahaya matahari mampu memberi kehangatan tapi angin kencang membuat badan gemetaran.

Hampir semua peserta membawa wind breaker (jaket tipis penahan angin) di kantong belakang. Tapi setelah hanya beberapa kilometer, tidak sedikit yang langsung memutuskan untuk memakainya.

Angin paling terasa saat melintasi Golden Gate di jalur sisi barat, di jalur khusus sepeda dan pedestrian.

Rombongan sendiri sempat terpecah-pecah. Bukan karena tidak kuat. Tapi karena banyak yang suka berhenti, foto-foto di sepanjang rute. Maklum, di background ada Golden Gate, ada juga pulau tempat berdirinya penjara Alcatraz.

Rudi “Oye” Sudarso dan Edwin Djunaedhy Rachman, misalnya, sempat berhenti di jalanan turun setelah melintasi Golden Gate.

“Kita di kaki jembatan. Kapan lagi kita di kaki Golden Gate,” ucap Edwin.  “Dulu saya pernah ke sini, tapi hanya mengikuti rute turis. Menyeberang dan foto-foto di tempat turis,” akunya.

Setelah menyeberangi jembatan, rombongan memasuki Marin County, menuju kota kecil yang indah bernama Sausalito. Lalu terus bersepeda, menanjaki bukit menuju kota Tiburon. Diambil dari kata bahasa Spanyol,  “Tiburon” artinya ikan hiu.

Ketika di tanjakan ringan menuju Tiburon, sepanjang sekitar 15 kilometer, Bessette “melepas” para peserta. Bagi yang mau melaju kencang diberi kebebasan. Nanti ada mobil van yang sudah menunggu di downtown Tiburon.

Kontan saja para peserta mengayuh sepeda sekuat mungkin. Setengah balapan. Tanjakan yang tidak terlalu curam (hanya 2-3 persen) membuat semua masih mampu melaju mendekati 30 km/jam. Ketika menurun 50 km/jam pun tercapai. Hanya belok-beloknya harus hati-hati karena cukup tajam dan jalan cenderung berpasir.

Kadang, para peserta lupa kalau di Amerika mobil itu setir kiri, dan semua berada di lajur kanan. Beberapa peserta sempat mengamil lajur kiri dan baru sadar ketika ada mobil melaju dari arah berlawanan.

Sebelum “dilepas” itu, Bessette juga beberapa kali mengingatkan untuk tertib berlalu lintas, berhenti ketika lampu merah.

Tidak terasa, 32 kilometer ditempuh. Sekitar pukul 11.30 rombongan sudah sampai downtown Tiburon. Semua berkumpul di Sam”Anchor Bar. Di restoran yang menghadap ke laut tersebut semua menikmati hidangan makan siang.
***
Selesai makan siang, sekitar pukul 13.00, rombongan langsung naik van lagi. Semua sepeda sudah rapi tertata di atas kedua mobil van. Tujuan: San Jose (perjalanan sekitar dua jam). Di sana rombongan diajak menyaksikan jam terakhir etape keenam Tour of California. Yaitu etape individual time trial (ITT) dengan panjang 31,6 kilometer.

Etape ITT ini unik. Karena selama hampir 30 km jalannya “standar”. Pembalap melaju secepat mungkin satu per satu mencoba mencapai finis tercepat menggunakan sepeda-sepeda khusus TT yang aerodinamis.

Nah, hampir 3 km terakhir adalah tanjakan yang tergolong curam, dengan kemiringan 10 persen atau lebih.

Rombongan diantar ke kawasan penonton yang letaknya di kaki tanjakan. Kedatangan pun pas, sekitar pukul 2.45, ketika para jagoan mulai melintas. Etape ITT memang diatur sedemikian rupa sehingga para pembalap yang berada di puncak klasemen general classification (GC) turun paling akhir. Jadi, siapa pun pemakai yellow jersey, dialah yang terakhir turun ke lintasan.

Di kaki tanjakan itu cukup banyak orang dengan sabar menunggu para pembalap lewat, lalu menyoraki semuanya untuk terus melaju secepat mungkin. Di situ ada sebuah karavan resmi Tour of California yang berjualan merchandise resmi.

Ternyata harga merchandise-nya lumayan mahal. Selembar jersey resmi lomba harganya USD 95 atau hampir Rp 1 juta! Pilihannya replika yellow jersey, green sprinter jersey, atau putih-biru limited edition mengenang lomba edisi 2013.

Tahun lalu, saat mengikuti rute Tour de France kami memborong replika yellow jersey untuk teman-teman di Indonesia. Kali ini kami memilih berpikir dulu. He he he..Mahal oy!

Bersama Lyne, rombongan lantas berjalan naik ke atas. Tanjakan itu benar-benar curam. Pada bagian tempat kami berhenti mungkin kemiringannya lebih dari 10 persen.

Pas di tempat kami berhenti, para unggulan mulai bermunculan. Sejumlah bintang besar tampak santai menuruni tanjakan setelah menyelesaikan etape tersebut. Terlihat di antaranya Jens Voigt dan Andy Schleck, bintang RadioShack-Leopard.

Tidak lama kemudian, pembalap-pembalap pemimpin lomba muncul. Ada Michael Rogers (Saxo-Tinkoff) yang di kaki tanjakan memutuskan ganti sepeda dari TT ke road bike biasa supaya menanjak bisa lebih cepat.

Terakhir, mengenakan yellow jersey, muncul Tejay van Garderen (BMC). Van Garderen, bintang muda Amerika, tampak sangat percaya diri dengan kemampuan sendiri, memilih tidak ganti sepeda.

Benar saja, tidak lama kemudian, Van Garderen diumumkan sebagai pemenang etape TT tersebut. Mengukuhkan posisi sebagai kandidat utama juara Tour of California 2013.

Saat menonton itu Khoiri Soetomo mendapatkan “suvenir” idaman penonton balap sepeda. Mendapatkan bidon (botol minum) kosong yang dilemparkan oleh para pembalap ke sisi jalan.

Begitu etape ini berakhir rombongan langsung berjalan turun kembali ke mobil van. Perjalanan berlanjut ke penginapan di San Jose.
***
Sebagai tur VIP, hotel-hotel yang diinapi rombongan bakal istimewa. Di San Jose, rombongan menginap di Hotel Valencia yang terletak di kawasan perbelanjaan supermewah, Santana Row.

Di restoran hotel mewah itu pula Cannondale Tours menjamu makan malam resmi bersama semua peserta. Para guide juga kembali melakukan briefing, menjelaskan program hari-hari selanjutnya. Sebagai balasan, rombongan –yang mengenakan batik– balik memberi kenang-kenangan kepada para guide berupa kain batik atau suvenir tradisional Indonesia yang lain.

Pukul 21.30 semua peserta kembali ke kamar masing-masing untuk memaksimalkan istirahat. Pasalnya, hari kedua bersepeda, Sabtu (18/5) adalah hari terberat.

Berangkat pagi-pagi pukul 07.30, rombongan check out dari hotel dan menuju kota lain bernama Livermore. Di sana para cyclist akan ditantang untuk mendaki medan terberat Tour of  California 2013: Mount Diablo. Kata “Diablo” itu bahasa Spanyol, artinya “Setan”. Jadi, kita akan diajak mendaki Gunung Setan di pagi hari sebelum para pembalap profesional melintas.

Begitu sampai di puncak, para cyclist nantinya akan berbalik arah dan menuruni rute. Lalu berhenti di titik yang sudah disiapkan untuk piknik makan siang serta menikmati kawasan tempat tim-tim peserta memarkir bus dan kendaraannya.

Menurut penjelasan Fowler dan Bessette, tanjakannya bakal sangat berat. Ada bagian yang kesannya datar, padahal itu “false flat” alias datar yang menipu alias tetap menanjak!

Semula rombongan akan berangkat pukul 08.00. Tapi akhirnya minta dipercepat supaya bisa lebih “menikmati” siksaan Mount Diablo. Sebagai bonus, suhu udara diprediksi lebih “hangat”. Tapi anginnya bakal “menyenangkan”.

“Tampaknya kita bakal beruntung karena kita akan terus melawan angin saat menuju Mount Diablo. Kadang angin kencang juga akan menerjang dari samping,” ungkap Fowler. (bersambung)

Kabel Elektrik Sepeda Tergunting, Terpaksa Menyewa

JALAN-JALAN DULU: Dari kiri, Siswo Wardojo, Teddy Moelijono, Bambang Poerniawan, dan Sun Hin Tjendra di Las Vegas sebelum memulai program bersepeda. FOTO: DIPTA WAHYU/JAWA POS/JPNN
JALAN-JALAN DULU: Dari kiri, Siswo Wardojo, Teddy Moelijono, Bambang Poerniawan, dan Sun Hin Tjendra di Las Vegas sebelum memulai program bersepeda. FOTO: DIPTA WAHYU/JAWA POS/JPNN
PROGRAM cycling rombongan Indonesia secara resmi dimulai Kamis lalu (16/5). Semangat, kehebohan, dan “cobaan” sudah dialami saat belanja, merakit, dan fitting sepeda.LAPORAN: AZRUL ANANDA, YUDY HANANTA, DIPTA WAHYU, San Francisco, California
=========================================================================

Selesai jalan-jalan dan berwisata, rombongan cyclist Indonesia mulai menjalani program Tour of California (ToC) 2013 pada Kamis lalu (16/5). Begitu mendarat di San Francisco International Airport (SFO) sebelum tengah hari, rombongan sepeda langsung berpisah dengan rombongan keluarga.

Bila rombongan keluarga melanjutkan wisata di kota di bagian utara negara bagian California tersebut, rombongan sepeda langsung ke tempat yang sudah diburu dan ditentukan.

Kamis sore itu, rombongan dijadwalkan melakukan bike fitting di Sports Basement, sebuah toko sepeda (dan perlengkapan olahraga) superluas di kawasan Presidio, dekat Golden Gate. Tempat itulah yang ditunjuk oleh Cannondale Tours, pengelola program VIP sepeda Tour of California, untuk melayani kebutuhan-kebutuhan perakitan dan servis rombongan dari Indonesia.

Tapi sebelum ke sana, rombongan yang beranggota 17 cyclist (plus satu fotografer) itu mampir dulu ke Rapha Cycle Club di Filbert Street. Bagi penggemar cycling, nama “Rapha” sama menggetarkannya dengan nama “Louis Vuitton” bagi perempuan penggemar tas. Dengan kata lain, Rapha adalah “Louis Vuitton”-nya pakaian dan aksesori sepeda.

Toko di San Francisco ini sangatlah spesial. Sebab, di seluruh dunia, hanya ada tiga butik Rapha. Selain di SF, dua lainnya di Osaka, Jepang, dan London, Inggris. Brand Rapha sendiri berasal dari Inggris.

Dan kunjungan itu menunjukkan bahwa para cyclist Indonesia ini benar-benar hardcore cyclist. Ketika jalan-jalan sebelumnya di Los Angeles dan Las Vegas, mereka tidak terlalu excited dengan tempat-tempat wisata kondang. Kalau waktu kunjungan shopping di outlet, yang diburu justru gerai Oakley untuk beli kacamata sepeda. Ketika di Las Vegas, tidak ada satu pun yang berminat bermain di berbagai fasilitas perjudian.

Kalau dipikir-pikir, bersepeda ini hobi yang sangat positif!

Ketika masuk toko-toko sepeda, apalagi yang seperti Rapha, baru “setannya” keluar.

Rapha Cycle Club di SF dari luar tampak sangat sederhana, seperti “toko” biasa. Ukuran tokonya tidak terlalu luas, mungkin kalau di Indonesia seluas ruko standar. Tapi, nuansanya cycling banget.

Interior putih minimalis. Memorabilia sepeda (jersey, poster, foto, dan lainnya) terpajang di berbagai sudut ruangan. Kutipan-kutipan kondang cycling tersebar di mana-mana. Termasuk di dalam toilet!

Di dalamnya ada kafe dan dua meja untuk nongkrong. Buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi (sampai 19.00), Rapha Cycle Club memang dirancang sebagai tempat bagi para cyclist untuk bertemu dan ngopi.

Di salah satu dinding terpasang layar LCD besar. Siang itu ditayangkan siaran ulang etape-etape awal Tour of California 2013. Sorenya, mulai pukul 14.00, banyak orang datang “nonton bareng” tayangan live etape hari yang sama.

Kebetulan, etape penutup ToC 2013, dari San Francisco menuju Santa Rosa, akan dimulai dekat toko Rapha ini pada Minggu (19/5).

Kopinya pun spektakuler! Biji kopinya merek Four Barrel, merek lokal San Francisco.

Suguhan yang paling ditonjolkan adalah minuman panas kopi, cokelat, dan susu bernama “Merckx”, mengambil nama dari “Eddy Merckx”, yang banyak dianggap orang sebagai pembalap terbaik dalam sejarah. Secangkir Merckx dihargai sekitar Rp 35 ribu.

Barang-barang yang dijual” Semua mengandalkan desain minimalis dengan kualitas bahan dan jahitan terbaik. Tentu saja harganya mahal. Harga selembar jersey sepeda bisa mencapai Rp 3 juta. Jaket sepeda bisa Rp 4 juta. Jins bersepeda di atas Rp 2 juta. Kaus kaki Rp 250 ribu. Kaus Rp 350 ribu. Sarung tangan bersepeda pun di atas Rp 1,5 juta sepasang.

Item paling diburu: jersey dan merchandise resmi Team Sky, salah satu tim paling populer di ajang balap sepeda dunia. Rapha merupakan sponsor apparel tim pemenang Tour de France 2012 tersebut.

Para anggota rombongan pun memborong gila-gilaan. Untuk diri sendiri maupun titipan dan oleh-oleh. “Manajer Rapha San Francisco mungkin bakal shock. Kok hari ini tiba-tiba penjualan meroket tinggi,” kelakar Teddy Moelijono, ketua Surabaya Road Bike Community (SRBC), yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling.

Dari Rapha, barulah rombongan menuju Sports Basement di Presidio. Di sana, rombongan disambut Sam Hughes dari Cycling Sports Group (induk perusahaan Cannondale), yang paginya terbang khusus dari kantor pusatnya di negara bagian Connecticut, di pantai timur Amerika.

Rombongan disambut pula oleh Lyne Bessette, 38, eks pembalap profesional kelas dunia, yang pernah menjadi juara nasional time trial dan road race di negara asalnya, Kanada. Bessette akan bertindak sebagai guide utama rombongan Indonesia didampingi Ryan Fowler dan Jen Slowey.

Di salah satu sudut luas Sports Basement yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya komunitas sepeda, tertata rapi 14 sepeda termutakhir Cannondale (jenis SuperSix Evo) yang akan jadi tunggangan mayoritas rombongan selama di California.

Hanya tiga anggota yang membawa sepeda sendiri, yaitu Bambang Poerniawan membawa Colnago Extreme-C, Sony Hendarto membawa sepeda custom eksotis, Parlee Z1. Satu lagi Prajna Murdaya, juga bawa sepeda sendiri, tapi merek dan tipenya juga Cannondale SuperSix Evo.

Tertata pula berbagai aksesori yang didapatkan para peserta sebagai fasilitas ekstra dari tur ini. Setiap peserta mendapatkan sebuah helm Cannondale Teramo warna matching biru-putih. Semua juga mendapatkan bottle cage karbon serta bidon Cannondale. Tidak ketinggalan sejumlah stiker nama untuk ditempel di helm dan sepeda.

Yang paling bikin senang: setiap peserta mendapatkan satu setel jersey dan bibshort Cannondale Procycling Team. Sama seperti yang dipakai tim yang berlomba!

Rencana awal, sore itu rombongan melakukan fitting “mengepaskan sepeda dengan badan, memasang komponen-komponen sesuai selera masing-masing” lalu bersepeda 10″20 km untuk memastikan sepeda-sepeda itu berfungsi baik dan nyaman. Segera saja, Bessette dan sejumlah mekanik bekerja bersama para peserta untuk “menyelesaikan” sepeda masing-masing.

Bagi penggemar road bike, banyak yang sudah tahu bahwa fitting bukanlah hal mudah. “Kami akan memaksimalkan semua sepeda agar semaksimal mungkin sesuai dengan keinginan dan harapan pengendaranya. Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam satu dua menit,” kata Bessette.

Sayang, pekerjaan itu tidak bisa dilakukan secepat yang diharapkan. Lebih dari dua jam, tidak semua pekerjaan bisa diselesaikan. Maklum, ada banyak komponen tambahan yang dibawa peserta, yang harus dipasangkan pada sepeda. Mulai wheelset, handlebar, sadel, pedal, sprocket (gir belakang), dan sebagainya.

Sadar pekerjaan tidak akan selesai, sementara tim harus segera melakukan briefing program, Bessette pun menghentikan dulu semua pekerjaan. “Mari kita tulis semua pekerjaan yang ingin dilakukan di kertas, lalu kertas itu ditempel di sepeda masing-masing. Para mekanik akan memastikan semua pekerjaan beres malam ini sehingga besok pagi (Jumat pagi, Red) semua sepeda siap dikendarai,” ujarnya.

Dengan kata lain, rencana bersepeda singkat dibatalkan. Tapi, karena pada dasarnya sepeda-sepeda yang akan dipakai 90 persen sudah siap, rombongan tidak terlalu mengeluhkan. Kebanyakan mungkin justru merasa lega. Sebab, semua memang sudah lelah mengingat semua praktis belum istirahat sejak harus bangun dini hari di Las Vegas, bersiap terbang ke San Francisco.

Setelah sempat belanja lagi di Sports Basement (borong lagi!), semua siap kembali ke hotel untuk makan dan istirahat. Sebab, Jumat pagi besoknya (17/5), kegiatan bersepeda sudah menanti. Semua akan mengikuti rute ToC sekaligus menyaksikan aksi para pembalap kelas dunia.

Kecuali untuk satu orang yang mungkin mengakhiri hari persiapan ini dengan perasaan sedih dan galau. Dia adalah Sony Hendarto.

Mungkin karena terlalu bersemangat, Sony justru terancam tidak bisa menggunakan sepeda kesayangannya di ToC 2013. Ketika membongkar koper sepeda dan melepas plastik-plastik pelindung, Sony melakukan sesuatu yang sangat, sangat, sangat, disesali sendiri.

Ketika menggunting plastik pembungkus rear derailleur (mekanisme pemindah gigi belakang), secara tidak sengaja dia ikut menggunting kabel elektriknya! Sepeda Parlee Z1 yang dia bawa memang dilengkapi perangkat pemindah gigi elektrik, tipe Shimano Dura Ace Di2.

Bessette, ketika melihat masalah tersebut, ikut berteriak keras karena shock. Kontan seluruh peserta program terkejut dan menoleh.

Apes buat Sony, toko tersebut tidak memiliki stok komponen kabel yang dibutuhkan. Ketika ditelepon, toko-toko utama lain di berbagai penjuru San Francisco juga tidak punya barang yang ready stock.

Prajna Murdaya, yang pernah tinggal 20 tahun di San Francisco dan memiliki kerabat di sana, mencoba menelepon semua relasinya. Beruntung, ada komponen bekas yang bisa dipakai. Tapi, Sony tetap tidak bisa menggunakan Parlee-nya di hari pertama program karena akan butuh waktu untuk menata ulang sistem elektriknya.

“Aduh-aduh Mas, saya tidak tahu harus bicara apa. Tidak tahu besok ini gowes (bersepeda, Red) atau tidak”,” rintihnya kepada Dipta Wahyu, fotografer harian ini.

Untuk sementara, Sony pun harus rela menyewa dulu sepeda dari Sports Basement. Padahal, sudah jauh-jauh dan repot-repot menenteng sepeda dari Indonesia” (bersambung)

Bersepeda Ikuti Tour of California, Lomba Terbesar di Amerika (1)

Kalau Pembalap Saja Teler Kepanasan, apalagi Kita…

101846_288595_Boks_california_dalem

LATIHAN DULU: Dari kiri, Tonny Budianto, Aris Utama, dan Bob Denhert bersepeda di kawasan pantai sekitar Los Angeles. Foto: SRBC for JAWA POS

Sebanyak 17 cyclist Indonesia pekan ini berada di Amerika Serikat, bersepeda mengikuti rute Tour of California, ajang balap terbesar di negeri Paman Sam. Berikut catatan AZRUL ANANDA, direktur utama koran Jawa Pos, dibantu YUDY HANANTA dan DIPTA WAHYU.

= = = = = = = = = 

BERSEPEDA di berbagai negara atau benua, mengikuti ajang-ajang balap terbesar di dunia. Ucapan (atau keinginan) itu tercetus di komunitas bersepeda saya di Surabaya sejak tahun lalu.

 Apalagi setelah 16 orang dari kami mendapatkan pengalaman tak terlupakan pada Juli 2012. Mengikuti rute dan kehebohan Tour de France, ajang balap sepeda paling kondang di dunia.

”Kalau bisa, harus bersepeda di semua benua. Eropa, Amerika, Australia, negara-negara Asia, dan Afrika. Tapi, pastikan Afrika yang terakhir. Kita harus memastikan kemampuan kita sudah sangat teruji supaya bisa mengayuh cepat seandainya dikejar-kejar singa,” celetuk Khoiri Soetomo, salah satu founder Surabaya Road Bike Community (SRBC), komunitas yang memprakarsai program ini bersama Jawa Pos Cycling.

Tahun lalu Khoiri -dan putranya Satrio Wicaksono- ikut bersama rombongan menikmati rute Tour de France. Waktu itu pengalaman benar-benar tak akan pernah terlupakan. Kami tinggal di kawasan Pegunungan Pyrenees, di selatan Prancis. Setiap hari melakoni tanjakan-tanjakan maut Tour de France.

Kami juga merasakan hebohnya bersepeda di Champs-Elysees, jalan paling kondang di Paris yang setiap tahun menjadi arena finis lomba terheboh itu. Kami mengelilingi Champs-Elysees saat jalan ditutup, pagi sebelum etape penutup. Ribuan orang sudah mengelilingi pinggir jalan, menyoraki kami saat berkeliling. Rasanya seperti menjadi pembalap beneran!

Sejak saat itu pula muncul niat untuk melakoni program serupa pada 2013, di tempat yang berbeda.

Walau masih banyak yang ingin ke Eropa lagi, program tahun ini akhirnya menuju Amerika. Pilihannya mengikuti Tour of California, yang kini memasuki tahun kedelapan penyelenggaraan, dan sudah mengukuhkan diri sebagai ajang balap sepeda terbesar di negeri Paman Sam.

Dalam hitungan jam, belasan teman bersepeda menyatakan ikut. Banyak peserta program tahun lalu kembali mengulang. Khoiri Soetomo kembali ikut. Begitu pula Bambang Poerniawan, ”Tonny” Budianto Tanadi, dan Sun Hin Tjendra dari Surabaya. Menyusul Liem Tjong San dari Makassar dan Sony Hendarto dari Madiun.
Ikut kembali pula Prajna Murdaya, pengusaha terkenal dari Jakarta, yang pernah tinggal sampai 20 tahun di Amerika. Tepatnya di kawasan San Francisco, kota yang menjadi basis bersepeda kami nanti.

Semua seperti reuni Tour de France. Bagi Prajna yang lulusan Stanford University, ini reuni plus pulang kampung.

Setelah itu, beberapa yang lain bergabung. Para founder SRBC yang bergabung adalah Teddy Moelijono (ketua), Siswo Wardojo, Arie Sutandio, dan Aris Utama. Menyusul Tatang Martadinata dan Yudy Hananta, bos tabloid Ototrend (Jawa Pos Group). Sony mengajak temannya di Madiun, Slamet Santoso.

Aris semula bingung antara ikut atau tidak. Tapi, rekannya di Amerika mendorongnya untuk ikut. ”Teman saya bilang, ikut program seperti ini bisa jadi hanya sekali seumur hidup. Jadi saya harus ikut,” ucapnya.

Semula, 15 orang sudah dianggap cukup. Total 16 bersama fotografer (Dipta Wahyu dari Jawa Pos).

Pada last minute, bergabunglah dua maniak bersepeda dari komunitas Free Surabaya: Edwin Djunaidi Rachman dan Rudi ”Oye” Sudarso.

 

***

Mengapa Tour of California? Secara status, ini bukan lomba kategori WorldTour di kalender UCI (badan balap sepeda dunia). Statusnya 2.HC.

Tapi, inilah lomba terbesar di Amerika. Dan, karena ini di pasar Amerika yang raksasa, lomba ini pun diikuti tim-tim terbesar, yang disokong sponsor-sponsor terbesar.
Jadi, walau bukan WorldTour, nama-nama terbesar balap terjun di sini. Sebut saja Peter Sagan (Cannondale), Philippe Gilbert (BMC), Andy Schleck (RadioShack-Leopard), dan Tyler Farrar (Garmin-Sharp). Jadi, ”rasa” masih sangat WorldTour.

Alasan lain: Ini California! Buat jalan-jalan dan liburan ini adalah tempat yang superseru. Khususnya bagi yang belum pernah ke Amerika.

Dengan ke California, banyak peserta program bisa mengajak serta keluarga. Merangkap program ini sebagai liburan keluarga. Termasuk saya.

Kami pun berangkat lebih dulu beberapa hari, libur dulu bersama. Mengunjungi tempat-tempat wisata kondang, seperti Disneyland, Universal Studios, serta Hollywood Boulevard. Sebelum menuju San Francisco untuk memulai program sepeda, rombongan sempat mampir ke Las Vegas.

Baru ketika program bersepeda dimulai, yang cycling menikmati siksaan rute, yang keluarga menikmati tempat-tempat wisata lain di kawasan California Utara.
Sambil jalan-jalan ”pra-penyiksaan”, belanja tentu dilakukan.

Khusus bagi yang tidak bersama keluarga, inilah kesempatan membeli oleh-oleh terbaik. Para cyclist yang sering keluyuran bersepeda tahu betul pentingnya oleh-oleh ini.
 ”Titipan keluarga wajib dibelikan daripada ‘visa’ bersepeda tidak keluar lagi,” ujar Edwin.

***

Tour of California sendiri berlangsung delapan etape, 12-19 Mei 2013. Rombongan datang berpisah-pisah. Ada yang berangkat tanggal 9, ada yang berangkat tanggal 12.

Walau lomba dimulai pada 12 Mei, rombongan baru ”memulai” program sepeda pada 16 Mei. Yaitu, program bike fitting (penyesuaian sepeda), perkenalan dengan pengelola tur dan guide, serta technical meeting.

Bersepedanya sendiri dilakukan pada 17-20 Mei. Rencananya, hari pertama bersepeda relatif ”santai” di kawasan sekililing San Francisco yang indah, lalu menonton ending etape hari tersebut di Kota San Jose. 
Pada 18 Mei, rencananya kami disuguhi menu ”penyiksaan” utama. Kami diajak mendaki Mount Diablo, dengan ketinggian lebih dari 1.100 meter di atas permukaan laut. Kami mendakinya pada pagi sebelum para profesional lewat, kemungkinan sudah di hadapan para penonton lomba. Di puncak, kami lantas menonton finis etape itu juga.

Lalu, 19 Mei, kami menonton etape terakhir lomba yang finis di Santa Rosa, lalu bersepeda lagi puluhan kilometer menyusuri kawasan tersebut sekaligus kota-kota sekitarnya.
 Walau lomba sudah berakhir, kami mendapat tambahan porsi bersepeda pada 20 Mei. Malam itu juga, tepatnya tengah malam, kami langsung pulang kembali ke Indonesia dari San Francisco.

Untuk seluruh program ini, kami sempat menimang-nimang beberapa pilihan pengelola. Bila perjalanan wisata kami dikelola secara maksimal oleh Genta Tours, program bersepedanya mengikuti Cannondale Tours.

Pilihan itu dijatuhkan karena beberapa faktor: Cannondale punya program rutin Tour of California, punya akses ekstra ke lomba. Selain itu, Cannondale menurunkan tim elitenya di California, dan kami bisa mendapat akses untuk bertemu dengan tim!

”Kami telah menyiapkan program yang akan memukau rombongan Anda dari Indonesia,” bunyi pesan Justin Wuycheck, pro series manager, senior guide Cannondale Tour.

Berbeda dengan ketika di Prancis, saat kami membawa sendiri sepeda dari Indonesia, kali ini kami bisa santai. Sepeda-sepeda karbon termutakhir disiapkan Cannondale. Khususnya tipe Super Six Evo, tipe top end.

Meski demikian, peserta boleh membawa sepeda sendiri. Seperti yang dilakukan Sony, penggemar berat sepeda custom. Sony ke California membawa sepeda custom merek Parlee, salah satu merek terbaik asal Amerika.

Ada tiga guide yang khusus disiapkan untuk menemani kami. Salah satunya Lyne Besette, 38, mantan pembalap perempuan juara nasional Kanada dengan pengalaman dan prestasi tingkat dunia.

Kami bercanda, anggota kami yang kemampuannya paling hebat, seperti Sun Hin, Budianto, Bambang Poerniawan, dan Rudi, boleh menantang Besette mendaki Mount Diablo. Yang lain santai menikmati suasana di belakang.

”Nggak, saya nggak mau cepat-cepat. Nanti malah tidak bisa menikmati suasana dan pemandangan,” kata Rudi, yang akrab dipanggil ”Oye” di Surabaya.

 

***

Selama masa ”jalan-jalan”, rombongan juga bisa beradaptasi dengan jam California, yang berselisih 12 jam dengan Indonesia. Belajar dari pengalaman di Prancis, masa adaptasi ini penting kalau ingin bersepedanya segar dan menyenangkan.
”Dulu, kami mendarat di Prancis sudah malam, lalu langsung merakit sepeda dan dinner. Besok pagi-pagi langsung menempuh tanjakan 1.300-an meter di atas permukaan laut. Tubuh ini rasanya belum menyesuaikan diri sudah dihajar tanjakan,” kenang San, pentolan Makassar Cycling Club (MCC).

Kali ini, ketika program bersepeda dimulai, badan sudah menyesuaikan diri. Beberapa peserta, seperti Aris Utama dan Budianto Tanadi, bahkan sudah ”curi start” bersepeda.

Mereka menyewa sepeda dulu, lalu ”berlatih” di Pacific Coast Highway, di sekitar Los Angeles, bersama Bob Denhert, rekan Aris di California. Tidak tanggung-tanggung, Selasa lalu (14/5) mereka bersepeda sejauh 95 kilometer.

Aris menjelaskan, Denhert bakal ke Surabaya pada akhir Juni nanti. Dia sudah mendaftarkan diri ikut event Audax East Java 2013, yang diselenggarakan Jawa Pos Cycling pada 30 Juni, bersepeda 232 kilometer dalam sehari. ”Ini sekaligus berlatih ikut Audax East Java,” kelakar Aris.

Selama masa ”jalan-jalan,” rombongan juga membiasakan diri dengan cuaca. Walau secara resmi masih musim semi, temperatur di California, khususnya wilayah selatan, melonjak tinggi sekali.

Senin (13/5) lalu suhu konstan di atas 40 derajat Celsius. Udara kering dan nyaris tak ada angin membuat kami serasa dipanggang di oven. Saat mengikuti perkembangan lomba Tour of California, beberapa dari kami langsung berpikir ekstra.

Pada etape-etape awal lomba, karena panas luar biasa, sejumlah pembalap butuh pertolongan dan masuk rumah sakit. Bayangkan, suhu dilaporkan sempat menyentuh 50 derajat Celsius!

”Kalau pembalap saja teler, apalagi kita …,” ucap Rudi. (bersambung)