Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (7-Habis)

Edan, Jalan Mulus Antar-Kota Khusus untuk Sepeda

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

AKHIRNYA, berakhir juga program “siksaan menyenangkan” bersepeda di Colorado. Sebagai penutup, rute dari Breckenridge ke Vail ditempuh melewati jalan antar-kota khusus untuk sepeda!

AZRUL ANANDA, Colorado

Tidak terasa, berakhirlah program bersepeda bersama Rapha dan Team Sky, membarengi even USA Pro Challenge, di dataran tinggi Colorado.
Jujur, mungkin kata “tidak terasa” kurang pas. Program ini benar-benar “terasa.” Bagaimana tidak, kami bersepeda lima hari berturut-turut, di ketinggian 2.400 sampai 3.700 meter, dan mayoritas rutenya adalah menanjak berat.

Kalau ditambah dengan acara pemanasan kami mendaki Mount Tamalpais, dekat San Francisco, California, 15 Agustus lalu, maka angkanya lumayan seru.

Dalam tujuh hari, 15-21 Agustus, kami bersepeda enam hari. Total kilometer yang kami tempuh melewati angka 430 km. Rata-rata lebih dari 70 km/hari.

Ya, bagi penghobi sepeda berat, 70 km sehari bukan angka spektakuler. Tapi kami harus mengingatkan, ini semua di ketinggian ekstrem, dan kami harus berjuang melawan udara/oksigen tipis.

Bila dibandingkan dengan di dataran “normal” alias tak jauh dari permukaan laut, maka kemampuan/kekuatan kami menurun sampai 25-30 persen.

Dan sekali lagi, mayoritas rute yang harus kami tempuh adalah menanjak!

Jadi, bisa dibayangkan betapa leganya kami ketika rute terakhir berhasil kami selesaikan Rabu lalu (21/8).

Rute itu sendiri tidaklah terlalu berat. Totalnya hampir 65 km, dari Breckenridge, melintasi lagi Copper Mountain, Vail Pass, dan berakhir di kota wisata Vail.

Dan badan kami sudah lumayan beradaptasi dengan ketinggian. Kota Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga, terletak di ketinggian sekitar 3.000 meter.

Jadi, titik startnya sudah sekitar 600 meter lebih tinggi dari kota Aspen, tempat kami tinggal beberapa hari sebelumnya.

Untuk pernapasan, kami sudah tidak lagi seberat sebelumnya. Cipto S. Kurniawan misalnya, mengaku sudah hampir “normal” dalam kemampuan bersepeda. “Hari ini saya sudah bisa interval, sudah lebih mudah bernapas saat mengayuh pedal,” kata Wawan, sapaan akrab pengusaha muda Pasuruan berusia 31 tahun itu.

Sun Hin Tjendra, 41, bahkan semakin mantap “bersaing” dengan peserta program lain yang kuat-kuat.

Saya” Napas lumayan, tapi kaki sudah terasa berat sekali. Lelah setelah berhari-hari kena rute menanjak tinggi. Hari itu, target saya pokoknya menikmati menu bersepeda terakhir!

Prajna Murdaya juga masih recovery dari cedera kaki akibat terjatuh, tapi sangat bersemangat menyelesaikan hari terakhir itu.

Jalan Kecil Spektakuler

Walau sempat ngos-ngosan lagi saat menanjak (Vail Pass tingginya di atas 3.200 meter), tapi perjalanan hari itu melintasi jalanan yang sangat spesial, yang sangat langka di dunia.

Dari Breckenridge sampai Vail, hampir semua jalan yang kami lewati adalah jalan khusus sepeda. Posisinya hampir selalu paralel dengan highway (jalan bebas hambatan) untuk mobil.

Jalan khusus sepeda itu aspalnya sangat mulus. Beberapa bagian yang belum sedang dalam proses pelapisan aspal mulus. Lebarnya kira-kira satu jalur mobil, tapi dibagi dua arah dengan garis di tengah.

Kanan dan kirinya, di banyak tempat, juga seperti jalan antar-kota lain. Kalau tidak sedang bersebelahan langsung dengan highway, jalan sepeda ini juga dipagari dengan pepohonan indah.

Di beberapa tempat, ada tempat untuk beristirahat dan toilet umum. Di beberapa tikungan atau tanjakan/turunan, juga ada rambu-rambu pengingat khusus untuk pemakai sepeda.

Rasanya seperti “miniatur jalan tol” untuk sepeda!

Bukan hanya dari Breckenridge ke Vail, jalan khusus sepeda yang panjangnya ratusan (mungkin ribuan) kilometer ini bahkan menyambung sampai Denver, kota terbesar di negara bagian Colorado!

Melintasi jalur sepeda antar-kota ini, yang takjub bukan hanya kami dari Indonesia. Peserta yang datang dari negara bagian lain di Amerika pun ikut takjub, dan cemburu.

“Colorado benar-benar serius dalam (jalur sepeda) ini. Tempat asal saya di Austin (Texas, Red) harus belajar banyak dari sini,” puji Veronica Scheer, satu-satunya peserta perempuan, yang sehari-hari bekerja sebagai pelatih olahraga dayung.

Dalam perjalanan ini, seorang atlet perempuan MTB papan atas Amerika, Karen Jarchow, ikut bergabung. Dia membantu memandu menuju Vail. Kebetulan, dia dekat dengan Rapha, dan tinggal tak jauh dari Vail.

Jarchow menjelaskan, sebagian jalur khusus sepeda ini dulunya merupakan jalanan antar-kota untuk mobil. Kelihatan memang seperti jalan antar-kota yang sekarang ada di Indonesia.

Nah, begitu jalan bebas hambatan dibangun, sebagian jalan ini dialihfungsikan menjadi jalan antar-kota khusus untuk sepeda.

Sakit hati juga rasanya mengetahui dan merasakan kenyataan di Colorado ini. Di Indonesia, kita masih belum punya jalan antar-kota untuk mobil yang benar-benar mulus dan layak. Di Colorado, jalan antar-kota untuk sepedanya jauh lebih bagus dan mulus!

Dan jauh lebih indah!

Jalan khusus sepeda ini pula yang dimanfaatkan oleh USA Pro Challenge sebagai salah satu rute penting lomba. Etape kelima lomba, Jumat (23/8), adalah etape time trial (adu cepat melawan waktu) sejauh 16 km. Dari kota Vail menyusui jalan khusus sepeda menanjak ke atas.

Jalur yang sama kami lewati Rabu lalu menuju Vail (arah terbalik).

Begitu sampai Vail, kami merasa begitu lega. Berakhir sudah program bersepeda terberat yang pernah kami jalani ini. Sangat menyenangkan” Ya. Kelak ingin lagi” Ya.

Tapi sekarang istirahat dulu”

Sebagai “perpisahan,” kami makan siang bareng di kawasan wisata Vail yang indah. Ini kota wisata yang dikenal pula sebagai kotanya orang-orang kaya. Dan paling ramai saat musim dingin, untuk bermain ski. Saat musim panas begini, pengunjung juga banyak. Dan ada banyak hal menarik lain di sekitar sini, seperti wisata rafting.

Vail sendiri tidak seperti di Amerika. Kawasan tempat kami pergi memilik rumah-rumah dengan arsitektur seperti di pegunungan Eropa. Jalanannya pun dari bebatuan.

“Saya kok merasa seperti di Swiss ya,” celetuk Wawan.

Usai makan siang, kelompok terbagi dua. Satu mobil duluan berangkat kembali ke Aspen. Karena ada yang harus mengejar pesawat balik ke tempat asal masing-masing sore itu juga.

Rombongan Indonesia ikut Mercedes Sprinter van milik Rapha. Kembali ke rumah mewah tempat kami menginap sebelumnya untuk mengepaki lagi sepeda dan segala peralatan.

Seluruh kru Rapha dengan sigap membantu segala proses kemas-kemas.

Setelah semua beres, kru Rapha mengantarkan kami ke Snowmass, kota tetangga Aspen, untuk menginap lagi semalam. Kami memang tidak langsung balik ke Indonesia.

Kami akan keliling dulu ke beberapa kota lain di Colorado. “Mengejar” lagi nonton USA Pro Challenge di kota lain, dan mengunjungi beberapa seniman sepeda di negara bagian tersebut.

Baru Minggu nanti (25/8) kami terbang kembali ke Indonesia.

Kami bercanda, gara-gara setiap hari sibuk bersepeda dan setelah itu kelelahan, program ini termasuk bikin irit pengeluaran. Jangankan punya kesempatan belanja, kesempatan untuk istirahat saja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kami juga membayangkan, ketika balik ke Indonesia nanti, mungkin kemampuan kami akan meningkat. Seminggu ini kami sudah belajar untuk bernapas lebih efisien. Ketika di Indonesia, semoga saja kami benar-benar jadi lebih tangguh!

Dan kelak, kami sepakat ingin kembali ke Colorado. Menurut kami, tidak ada tempat bersepeda lain yang lebih asyik. Walau Pegunungan Pyrenees di Prancis (yang kami kunjungi tahun lalu) juga luar biasa, dan katanya kawasan Dolomites di Italia lebih spektakuler.

Andai kembali, mungkin juga bukan untuk bersepeda. Melainkan mengajak keluarga. Aspen, Breckenridge, dan Vail cocok sekali untuk liburan keluarga. Selain asyik untuk anak-anak, mungkin juga istimewa untuk honeymoon kedua.

Yang penting ingat untuk menjadwalkan satu atau dua hari pertama untuk istirahat total, beradaptasi penuh dengan udara dan oksigen tipis”

Terima kasih Rapha dan Team Sky, terima kasih Colorado! (habis)

Advertisements

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (6)

Capai Puncak 3.700 Meter, Tertinggi di Ajang Balap Dunia

PALING TINGGI DI DUNIA: Cipto S. Kurniawan, Sun Hin Tjendra, dan Azrul Ananda di puncak Independence Pass, Colorado, SELASA 20/8. Ketinggiannya 3.700 meter di atas permukaan laut. Pohon sudah tidak bisa tumbuh di atas sini. (JAWA POS PHOTO)

PALING TINGGI DI DUNIA: Cipto S. Kurniawan, Sun Hin Tjendra, dan Azrul Ananda di puncak Independence Pass, Colorado, SELASA 20/8. Ketinggiannya 3.700 meter di atas permukaan laut. Pohon sudah tidak bisa tumbuh di atas sini. (JAWA POS PHOTO)

Hari terberat program sepeda di Colorado terjadi Selasa lalu (20/8, Rabu kemarin WIB). Menanjak sampai ketinggian 3.700 meter, lalu terus turun-naik di kisaran 3.000 meter.

AZRUL ANANDA, Aspen

Sekali lagi perlu ditegaskan: Bersepeda di dataran setinggi Aspen dan sekitarnya di Colorado bukanlah bersepeda biasa. Dimulai di ketinggian 2.400 meter, lalu naik hingga 3.700 meter. Udara tipis, oksigen tipis. Apalagi, udara juga sangat kering. Kekuatan kita bisa turun hingga 25″30 persen.

Bahkan, para pembalap kelas dunia pun bisa tersiksa atau berguguran. Itu terlihat jelas dalam ajang USA Pro Challenge 2013, yang berlangsung 19″25 Agustus ini di Colorado.

Joe Dombrowski, bintang muda Team Sky, harus balapan dengan hidung terus mengucurkan darah di etape pertama, Senin lalu (19/8).

Di etape kedua, Peter Kennaugh, pembalap Team Sky yang lain, harus mundur karena sakit. Mathias Frank, pembalap BMC yang memenangi etape kedua, juga menegaskan betapa sulitnya menaklukkan ketinggian ini. Menurut dia, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah kunci utama sukses di Colorado.

“Ini bukan cycling normal. Ini sesuatu yang berbeda. Segalanya bisa terjadi di lomba ini,” ucap Frank.

Kalau pembalap saja suffering (tersiksa), apalagi kita-kita yang amatir. Apalagi kita-kita yang datang dari negara tropis, yang panas, lembap, dan dari kawasan yang ketinggiannya setara dengan permukaan laut.

Setelah beberapa hari di Aspen, sebenarnya kami mulai terbiasa dengan ketinggian ini. Pada hari pertama, 16 Agustus lalu, naik tangga saja sudah ngos-ngosan. Pada hari kedua, bersepeda 50 km rasanya sangat menyiksa.

Hari ketiga, bersepeda 90 km dan mendaki dua tanjakan tinggi di kisaran 3.000 meter membuat kami makin biasa. Hari keempat, kami ambil santai, hanya sekitar 35 km mengikuti sirkuit Aspen”Snowmass yang dijadikan rute etape pertama USA Pro Challenge.

Nah, pada hari keempat, Selasa 20 Agustus, kami dijadwalkan oleh Rapha “penyelenggara tur bersama Team Sky ini” melakukan rute paling menyiksa. Mendaki Independence Pass, yang tingginya mencapai 3.700 meter, dan merupakan titik tertinggi ajang balap sepeda apa pun di dunia.

Setelah itu, kami akan terus bersepeda menuju Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga yang sangat indah. Total jarak yang rencananya kami tempuh: 100 mil atau sekitar 160 km.

Sejak awal, mengingat jarak dan tantangan tanjakan yang harus ditempuh, saya pribadi sudah agak pesimistis. Jangan salah, tahun ini saya dan teman-teman sudah berkali-kali ikut event bersepeda yang menempuh jarak lebih dari 200 km dalam sehari. Tapi, baru kali ini harus melakukannya di ketinggian se-ekstrem ini.

Tapi, saya, Sun Hin Tjendra, Cipto S. Kurniawan, dan Prajna Murdaya akan bertekad berusaha menyelesaikannya. Selasa itu, kami harus mulai sangat pagi. Pukul 07.30 sudah harus meninggalkan rumah penginapan di Aspen. Sebab, kami sudah harus sampai puncak Independence Pass sebelum pukul 12 siang. Jam itu, jalan akan ditutup karena para pembalap USA Pro Challenge dijadwalkan melintasinya.

Suhu pagi itu dingin. Sekitar 15 derajat. Jadi, kami mengenakan jersey lengan panjang, lapis jaket angin, leg warmer (ekstensi celana), topi di bawah helm, dan kebutuhan anti-dingin lainnya. Itu juga untuk mengantisipasi suhu yang makin dingin di atas, apalagi kalau hujan sampai turun.

Dari Aspen, sedikit keluar, memang sudah mencapai jalan menuju puncak Independence Pass. Bahkan, tanjakan sudah dimulai sekitar 8 km dari batas kota. Dan tanjakan itu jaraknya lebih dari 22 km. Total dari titik start kami adalah 32 km, dan hampir semuanya menanjak.

Tanjakan bermula langsung relatif berat. Konstan memiliki gradient (kemiringan) 6 persen sampai sekitar tengah tanjakan. Sebenarnya, itu bukan kemiringan ekstrem. Tapi, karena oksigen tipis, rasanya jadi jauh lebih berat.

Untungnya, tanjakan melandai saat menuju puncak. Di kisaran 3″4 persen, sesekali 5″6 persen. Tanjakan baru “menendang” di puncak, ketika kemiringan mencapai 9 persen.

Mengingat panjangnya tanjakan ini, saya dan Wawan (sapaan Cipto S. Kurniawan) memilih untuk menghemat diri sejak awal. Apalagi, setelah Independence Pass, kami masih harus mengayuh pedal lebih dari 100 km.

Saya terus memperhatikan layar Garmin (komputer sepeda), memastikan detak jantung saya tidak melonjak di atas 150 per menit, dan putaran kaki saya di kisaran RPM yang konstan moderate (tidak terlalu cepat untuk menjaga detak jantung).

Sun Hin Tjendra, yang memang dikenal sebagai orang terkuat di komunitas saya di Surabaya, dengan mantap melaju mengikuti bule-bule Rapha mendaki dengan cepat.

Prajna Murdaya perlu diacungi dua jempol. Kaki dan pinggul cedera dan luka karena sempat terjatuh dua hari sebelumnya, dia tetap bertekad menyelesaikan etape hari itu.

Di tengah-tengah tanjakan, saya dan Wawan (kami terus berdua) sempat berhenti untuk foto-foto sekaligus mengisi “bahan bakar”. Pagi itu, kami tidak makan banyak, supaya perut tidak berat di tanjakan awal. Triknya adalah ngemil sedikit-sedikit.

Kami diberi sangu rice cake (ketan) berisi cokelat atau yang lain, yang dibungkus kecil-kecil dengan aluminium foil. Makanan itu disiapkan Skratch Labs, yang merupakan supplier makanan para pembalap.

Pemandangan memang luar biasa indah. Perlahan, semakin terlihat puncak perbukitan tinggi di sekeliling semakin gundul. Di ketinggian itu, memang muncul “tree lines”. Maksudnya, garis ketinggian di mana pohon tidak bisa lagi tumbuh.

Ada begitu banyak cyclist yang menanjak hari itu. Semua ingin mencapai puncak untuk menonton para pembalap USA Pro Challenge melintas. Suasana sangat meriah. Mereka yang sudah camping di pinggir jalan terus membunyikan lonceng sapi mini, atau meneriakkan ucapan semangat kepada kami. Rasanya seperti ketika menjajal rute Tour de France tahun lalu!

Ketika akhirnya sampai puncak, rasanya bangga luar biasa. Kami mencapai titik tertinggi ajang balapan dunia! Dan karena hemat tenaga sejak awal, kondisi saya tidak “hancur” ketika sampai di puncak itu.

Personel Rapha, yang memiliki trailer kafe di puncak, langsung membantu memarkir sepeda kami dan memberikan supply makanan Burrito vegetarian (supaya tidak berat di perut), juga buatan Skratch Labs.

Saya dan Wawan butuh sekitar 2,5 jam mencapai puncak. Sun Hin sudah jauh lebih cepat. Brad Sauber, manajer tur dari Rapha, menyarankan kami ke arah sebuah papan besar untuk mengabadikan momen itu.

Ada tulisan besar “Independence Pass” dengan ketinggian setara 3.700 meter, plus tulisan “Continental Divide”. Ya, titik tertinggi ini merupakan bagian dari garis penanda aliran air. Dari atas, di jalur itu, air akan terpisah. Satu ke arah lautan Pasifik, satu lagi ke Atlantik.

Suasana di puncak pun begitu meriah. Sudah ada banyak fans dengan dandanan seru yang “berpesta” di sana. Bermain-main, saling menggoda, dan lain sebagainya.

Begitu semua peserta program sampai di puncak, kami disarankan langsung melaju menuruni puncak tersebut. Sebab, dalam waktu dekat, para pembalap akan lewat dan jalan ditutup. Menunda perjalanan kami yang masih sangat jauh.

Descent (turunan) tidak kalah dengan menanjaknya. Beberapa switchback (lekukan-lekukan tajam) membuat turunan itu menantang. Apalagi, kecepatan sangat tinggi, dengan mudah lebih dari 60 km/jam.

Sayang, kami tak sempat menyelesaikan seluruh turunan sebelum dihentikan oleh marshall lomba dan polisi pengawal. Di belakang kami, para pembalap sudah siap lewat. Kami pun memarkir sepeda di sisi jalan, dan menunggu para pembalap lewat.

Dan seru sekali. Para pembalap itu melaju begitu cepat! Tidak heran bila mereka mencapai lebih dari 100 km/jam saat turun! Yang lebih seru lagi: Para pembalap Team Sky mengenali kami di sisi jalan (karena memang hanya kami di situ). Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013, melambaikan tangannya ke arah kami sambil tersenyum! Kanstantsin Siutsou, rekan setimnya, menunjukkan tanda “metal” ke arah kami.

“Mereka mengenali kalian. Luar biasa,” kata Brad Sauber.

Tertolong Chinese Food

Begitu peloton dan rombongan mobil pengiring lewat, kami pun bisa melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah Leadville, sebuah kota kecil, untuk makan siang di sana. Dari Aspen, jaraknya hampir 100 km. Jadi, kami saat itu masih harus menempuh lagi 40-an km.

Melintasi Twin Lakes, kawasan danau indah, kami berhenti untuk foto-foto. Lalu, kami bergantian saling “menarik” di depan, menjaga kecepatan menuju tujuan.

Mercedes Sprinter (van) Rapha yang disopiri Sauber berhenti di beberapa titik, siap memberi kami supply snack dan minuman kalau dibutuhkan.

Kami juga harus beberapa kali berhenti pasang-lepas jaket, karena cahaya matahari (atau tanjakan) bikin kepanasan, sedangkan angin dan hujan (serta turunan) bikin kedinginan.

Suhu sempat di 30-an derajat Celsius, sempat drop juga ke 18-an. Selama bersepeda itu, kami terus berada di kisaran ketinggian 3.000 meter. Sempat turun ke 2.800-an, lalu naik lagi ke atas 3.100 meter. Sun Hin Tjendra mengaku merasakan sekali bedanya.

“Kalau di bawah 3.000, napas lebih enak. Begitu napas berat, saya tahu ini sudah di atas 3.000 meter lagi,” katanya.

Akhirnya, kami sampai Leadville. Garmin menunjukkan kami sudah mengayuh sepeda sejauh 94 km. Jadwalnya, kami makan sandwich di sebuah kafe di situ. Tapi, kami melihat ada sebuah Chinese restaurant di sebelahnya. Szechuan Taste namanya. Karena sudah bosan makan roti dan tidak nafsu lagi menu bule, kami memutuskan untuk makan di sana.

Lega rasanya bisa makan nasi goreng, sup wonton, dan menu-menu lain yang familier!

Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Sauber mengingatkan kami untuk kembali jalan. Saat itu, spirit kami masih tinggi. Tetap berniat mencoba menyelesaikan rute.

Prajna, yang cedera, sempat disarankan untuk loading naik mobil. Apalagi, ada peserta lain yang juga memilih naik mobil. Tapi, dia tetap bertekad melanjutkan perjalanan.

Suhu dingin kembali kami rasakan. Hujan gerimis kembali turun, bikin makin dingin. Hanya sekitar 5 kilometer dari Leadville, Sun Hin tiba-tiba bilang akan berhenti dan naik mobil. Dia bilang, kepalanya pusing-pusing (normal di ketinggian ini).

Bahwa “Komandan” kami loading, sempat membuat saya down. Tapi, saya dan Wawan memutuskan untuk terus mengayuh pedal. Sampai 5 kilometer kemudian, giliran saya yang minta berhenti. Badan sudah terasa tidak nyaman. Mungkin, kalau dipaksakan, masih bisa meneruskan. Minimal 20 km lagi. Tapi, saya juga berpikir bahwa aktivitas kami masih banyak dalam beberapa hari ke depan. Kalau dipaksakan sekarang, nanti saya bisa “hancur”.

Saya pun berhenti di kilometer 105. Wawan sebenarnya masih kuat, tapi dia ikut loading sebagai bentuk solidaritas. “Tidak akan menyesal kok,” ucapnya.

Menurut data komputer, saya sudah mengayuh pedal selama 4 jam 45 menit, kebanyakan menanjak, membakar lebih dari 3.200 kalori.

Hebatnya, Prajna terus berusaha meneruskan rute. Walau dengan kecepatan yang sudah tertatih-tatih. Makin lama, dia makin terlihat nyaman, dan Brad Sauber membiarkannya terus mengayuh sampai puncak tanjakan selanjutnya di Copper Mountain (di kisaran kilometer 120). Baru Prajna diminta naik mobil, karena kami harus segera sampai di Breckenridge sebelum terlalu malam.

Tapi, apa yang dilakukan Prajna itu layak diacungi jempol. Secara kemampuan, dia tidak sekuat yang lain, tapi mentalnya paling kuat tidak mau menyerah. “Hari ini juaranya Prajna,” puji Sun Hin.

Kami pun sampai di Breckenridge. Sebuah kota yang tampak meriah karena menyambut datangnya USA Pro Challenge. Ada pesta jalanan, konser, dan lain sebagainya.

Malamnya, kami makan malam bareng peserta lain dan kru Rapha. Karena itu dinner bareng terakhir, Rapha memberikan award untuk beberapa peserta. Prajna mendapatkan topi merah limited edition (tidak dijual) bertema Lanterne Rouge. Tanda keberanian dan kekuatan mental, yang di Tour de France biasanya diberikan kepada pembalap yang finis terakhir (tidak menyerah walau terakhir).

Sun Hin juga dapat penghargaan sebagai orang yang bikin Paul Whiting paling kagum. Whiting, seorang pro masseuse (tukang pijat atlet kelas dunia) yang setiap hari merawat kami, menyatakan kagum atas kekuatan otot Sun Hin. Dia menyebut “Komandan” kami itu dengan julukan “Popeye”!

Rabu (21/8) adalah hari terakhir kami bersepeda. Masih ada tanjakan menantang, dengan jarak lebih dari 70 km. (bersambung)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (4)

Usai Etape Pertama, Team Sky Jualan Mesin Kopi

Azrul Ananda bersama Jens Voigt, bintang RadioShack-Leopard yang sudah berusia 42 tahun. Voigt, asal Jerman, merupakan salah satu pembalap paling populer di peloton dunia

Azrul Ananda bersama Jens Voigt, bintang RadioShack-Leopard yang sudah berusia 42 tahun. Voigt, asal Jerman, merupakan salah satu pembalap paling populer di peloton dunia

Hari pertama USA Pro Challenge 2013, Senin lalu (19/8, kemarin WIB), merupakan hari minim penyiksaan bagi rombongan Indonesia. “Hanya” gowes 34 kilometer, lalu seru bertemu tim-tim dan pembalap bintang!

AZRUL ANANDA, Aspen

Setelah dua hari bersepeda 50 km dan 90 km di Aspen, Colorado, Senin lalu (19/8, Selasa kemarin WIB) merupakan hari yang lebih ringan bagi peserta program bersepeda bersama Team Sky yang dikelola Rapha.

Pagi itu, jadwalnya hanya bersepeda “ringan”, lalu memuaskan diri “main-main” di tengah Kota Aspen, menonton start dan finis etape pertama USA Pro Challenge 2013.

Yang dimaksud ringan: Menjajal rute lomba etape pertama tersebut. Yaitu, rute keliling dari Kota Aspen ke arah Snowmass, lalu balik ke Aspen lagi. Di tengah-tengahnya ada beberapa tanjakan menukik tajam. Panjang rute “hanya” sekitar 34 km, dengan total tanjakan mencapai 1.000 meter.

Beberapa tanjakan itu sudah kami rasakan pada hari pertama bersepeda di Aspen, saat mencoba menyesuaikan diri dengan udara tipis di ketinggian 2.400 meter. Beberapa di antaranya “menendang”, mencapai kemiringan 10″12 persen.

Bersepedanya pun tidak ngotot. “Gentlemen”s pace” alias santai. Berhenti beberapa kali di titik-titik penting sirkuit, seperti di garis KOM (King of Mountains). Sekaligus menunggu seluruh peserta berkumpul lagi. Bagi kami dari Indonesia, juga berhenti untuk foto-foto.

Sirkuit itu berakhir di tengah Kota Aspen. Total, kami menghabiskan waktu 1 jam 51 menit, dengan total waktu mengayuh sepeda 1 jam 30 menit (sekitar 21 menit istirahat atau berhenti).

Kami melakukannya mulai pukul 09.00. Sudah balik ke rumah penginapan pukul 11.00. Kebetulan, letak rumah mewah tempat kami tinggal di Aspen itu tidak sampai satu kilometer dari jalur start/finis.

Lomba sendiri dimulai pukul 13.00, dan para pembalap melintasi sirkuit itu sebanyak tiga kali. Asal tahu saja, mereka butuh tidak sampai satu jam untuk keliling satu lap!

Peter Sagan (Cannondale) yang menjadi juara etape pertama itu menyelesaikan lomba hanya dalam waktu 2 jam 26 menit. Balik ke rumah, kami langsung cepat-cepat mandi. Setelah itu, berjalan ke arah garis start/finis lomba. Teman-teman dari Rapha memberi tahu bahwa para pembalap akan cukup santai sebelum lomba, dan kami bisa bertemu mereka untuk foto-foto dan minta tanda tangan lagi.

Dan itu tidak hanya dengan Team Sky. Semua tim peserta dengan relatif mudah bisa ditemui. Yang paling populer, selain Team Sky, adalah RadioShack-Leopard, Garmin-Sharp, dan Cannondale.

Siang itu, kami berempat “saya, Prajna Murdaya, Sun Hin Tjendra, dan Cipto S. Kurniawan” kompak pakai batik lengan pendek. Warnanya pun biru Team Sky. Tampak manis dipadu dengan topi cycling Team Sky.

Saya belajar trik batik itu dari rekan saya penggemar Formula 1 di Surabaya, Dewo Pratomo. Dia selalu pakai batik kalau nonton/liputan F1, dan itu memudahkan proses mencari perhatian. Plus, membuat para pembalap yang diburu lebih mudah mengingat kita.

Dan kali ini, di Aspen, Colorado, trik itu berhasil lagi!

Kami benar-benar “berpesta”. Berhenti di semua kawasan kerja tim, foto-foto dengan sebanyak mungkin pembalap terkenal. Atau, memotreti sepeda-sepeda milik para pembalap, termasuk detail-detail komponennya.

Di Garmin-Sharp, kami berfoto dengan pembalap top Amerika, David Zabriskie. Kemudian, kami juga dapat foto dengan bintang Garmin-Sharp yang sangat terkenal, David Millar. Dia senior, dulu pernah terlibat doping, dan kemudian merebut hati penggemar lewat buku pengakuannya, Racing Through the Dark.

Dan tahun lalu, Millar juga berhasil memenangi satu etape Tour de France.

Di kawasan RadioShack-Leopard, kami berhasil “mengalahkan” begitu banyak orang yang menunggu satu orang: Jens Voigt. Usianya sudah 42 tahun, tapi dia luar biasa populer. Gaya membalapnya yang berani, selalu mencoba melarikan diri dari peloton, membuatnya punya jutaan penggemar. Di Amerika, dia mungkin lebih top dari pembalap-pembalap tuan rumah.

Dia juga dikenal dengan kutipan-kutipannya yang lucu. Misalnya, slogan paling topnya: “Shut up legs!” (Diamlah, kaki). Dia mengaku mengucapkannya ketika kakinya mulai “rewel” saat balapan.

Saya sendiri terus terang penggemar berat Jens Voigt! Dia dan Fabian Cancellara menjadikan RadioShack-Leopard (tahun depan jadi Trek Factory Team) sebagai salah satu tim favorit saya.

Setelah itu, ada foto-foto dengan pembalap Cannondale. Dan beberapa mengenali kami. Sebab, Prajna, Sun Hin, dan saya pada Mei lalu ikut Tour of California bersama mereka. Ted King dan Juraj Sagan (kakak Peter Sagan) dengan ramah melayani permintaan foto kami.

Juara nasional Amerika, “Fast” Freddie Rodriguez, juga foto-foto bareng kami. “Ini 15 menit paling seru,” kata Prajna.

Tidak lama, seluruh pembalap menuju garis start lomba. Ribuan penonton sudah berbaris di sisi lintasan, menyoraki nama-nama para bintang ketika nama mereka diumumkan para MC.

Lomba pun berjalan. Tak sampai tiga jam kemudian (tepatnya 2 jam 26 menit itu), Peter Sagan menang sprint dan berhak menjadi yang pertama mengenakan yellow jersey di Colorado.

Kami menonton lomba dengan berpindah-pindah. Sempat beli makanan di stan burger di tengah taman, lalu keliling stan-stan merchandise dan sponsor yang begitu banyak tersebar.

Harga lumayan mahal, tapi tidak semahal Tour of California. Replika jersey lomba dijual USD 80. Kaus sekitar USD 20 sampai USD 28. Dan lain sebagainya.

Ada panggung hiburan. Di atasnya seorang pelukis tampak sibuk menyelesaikan karyanya (gambar balap sepeda tentunya). Di sampingnya ada layar LED besar, dan kami mengikuti lomba dari situ.

Ada atraksi akrobat BMX di belakang panggung, arena permainan, dan lain sebagainya. Benar-benar meriah dan mengasyikkan suasana. Apalagi, semua terpusat di tengah Kota Aspen, di kawasan taman kota.

Begitu lomba selesai, kami pun balik ke rumah. Sebelumnya ketemu lagi dengan para pembalap yang sudah selesai berlomba. Khususnya Team Sky. Dengan sangat ramah, mereka menemui kami, melayani ajakan ngobrol, dan melayani lagi foto-foto serta tanda tangan.

Karena Froome sudah kami “dapatkan” saat gowes bareng Minggu lalu (18/8), kali ini yang paling dituju adalah Richie Porte.

Lucunya, saat itu Ian Boswell (pembalap Sky) menawari kami untuk membeli sebuah alat pembuat kopi. “Hanya 100 dolar. Dan kami satu tim sudah menandatanganinya. Kami menjualnya karena kami tidak menyukainya, dan kami ingin punya mesin pembuat espresso,” tuturnya disambut tawa semua orang di sekeliling.

Dia menunjuk jendela depan bus Team Sky. Benar saja, di situ ada sebuah kardus mesin kopi yang ditandatangani seluruh pembalap!

Karena kami tidak mau, Boswell dengan aktif menawar-nawarkannya lagi kepada orang-orang yang lewat. Lucu sekali. Batik yang kami kenakan benar-benar mencuri perhatian. Banyak orang yang menanyai, memotret, termasuk perwakilan media.

Setelah itu, kami benar-benar berjalan balik pulang. Hanya Prajna yang berlanjut mencari toko kebutuhan sehari-hari. Dan beruntung dia tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, dia bertemu Peter Sagan (yang baru selesai dari seremoni lomba dan tes doping). Dia pun foto-foto dan dapat tanda tangan sang superstar asal Slovakia tersebut.

Sore itu, segalanya cukup santai. Malamnya, kami juga kedatangan tamu penting dari Team Sky. Setelah makan malam, kami dikunjungi Fran Millar, head of business operations tim nomor satu dunia tersebut.

Dengan blak-blakan dan seru, Millar “yang adik kandung pembalap David Millar” bercerita tentang latar belakang Sky, rencana masa depan, bahkan hal-hal di balik layar yang selama ini tidak diketahui orang.

Cipto S. Kurniawan, yang penggemar berat Sky, senang sekali. “Orang itu kalau ngomong apa adanya ya,” komentar Wawan, sapaan akrabnya.

Hari yang santai pun berakhir sekitar pukul 21.00. Setelah itu, Brad Sauber, manajer tur Rapha, kembali melaksanakan brifing untuk hari esok.

Dan ini waktu kami menyampaikan kepada pembaca, mengapa hari Senin itu begitu santai. Sebab, hari Selasa-nya adalah hari yang paling menyiksa!

Selasa pagi, pukul 07.30, kami sudah dijadwalkan berangkat. Rutenya merupakan rute termaut di rangkaian program di Colorado ini. Yaitu, menanjaki Independence Pass, jalanan yang pucuknya berada di ketinggian sekitar 3.700 meter. Saking tingginya, pohon pun sudah tidak bisa tumbuh!

Saking tingginya pula, antara November sampai Mei, jalan itu benar-benar ditutup untuk publik. Sebab, terlalu berbahaya untuk ditanjaki, khususnya bila bersalju!

Kalau segalanya lancar, tantangan hari itu bukan hanya Independence Pass. Kalau sesuai dengan rencana, hari itu kami akan bersepeda sejauh hampir 160 km menuju Breckenridge.Aduh! (bersambung)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (3)

Azrul Ananda dan Pembalap

Azrul Ananda dan Pembalap

Gowes Pertama, Jantung Berdebar seperti saat Jatuh Cinta

Akhirnya, rombongan Indonesia dapat kesempatan bersepeda di Aspen. Tapi, acara santai justru jadi penyiksaan luar biasa. Udara tipis, suhu sampai 41 derajat. Rasanya seperti belajar naik sepeda lagi.

AZRUL ANANDA, Aspen

Program bersepeda di Colorado bersama Team Sky secara resmi dimulai Sabtu siang, 17 Agustus (Minggu, 18/8 WIB). Pukul 13.00 waktu setempat, sebelas peserta telah berkumpul di Aspen.

Empat dari Indonesia, satu dari Kanada, sisanya dari berbagai penjuru Amerika. Mulai dari Seattle, Austin, serta kota-kota lain.

Siang itu, semua berkumpul di sebuah rumah mewah, yang dijadikan penginapan selama beberapa hari di Aspen. Setelah bagi kamar, tur fasilitas, tim Rapha “partner apparel Team Sky” yang mengelola program ini mengumpulkan seluruh peserta di ruang santai.

Acara kenalan resmi dimulai.

Di situ ada Brad Sauber, pengelola program-program tur Rapha yang datang dari Inggris. Ada Tim Coghlan, yang bekerja di kantor Rapha di Portland, Oregon, AS. Ada pula Ben Lieberson, legenda touring Rapha yang pekerjaannya keliling dunia bersepeda.

Tidak tertinggal Paul Whiting, pro masseuse, pakar fisio asal Inggris yang akan “merawat” badan para peserta selama program di Colorado. Selama bertahun-tahun Whiting menjadi andalan para pembalap sepeda dunia (dan atlet dunia lain) untuk masalah-masalah pada badan.

“Paul memilih menemani kita semua, menolak tawaran kerja dari tim-tim kelas dunia di event ini,” kata Sauber, yang juga menjelaskan bahwa dirinya dulu punya banyak pengalaman sebagai mekanik sepeda tim profesional. Jadi, dia akan bertindak bila peserta punya masalah sepeda.

Mereka berempat menjelaskan seperti apa kira-kira program dalam beberapa hari ke depan. Termasuk, kemungkinan-kemungkinan perubahan. Khususnya yang berkaitan dengan interaksi bersama Team Sky. Serta, tamu-tamu spesial lain yang akan menemani peserta.

Intinya, mereka berempat akan bekerja bersama untuk memastikan program ini berlangsung memuaskan, menjadi kenangan tidak terlupakan.

Sebagai contoh servis penuh yang mereka terapkan: Setiap malam sepeda akan dibersihkan dan diperiksa. Setiap pagi semua botol minum sudah disiapkan dan terisi penuh. Kalau habis, tinggal minta tolong ke mobil yang selalu mendampingi. Dan setiap malam, jersey serta bibshort yang dipakai akan dicucikan. Pagi hari, baju sudah fresh siap dipakai lagi.

Saat bersepeda pun, tiga di antara empat akan turun gowes bersama peserta. Ada yang memimpin di depan, menemani di tengah, dan mengawal di belakang.

Ingat, setiap malam Whiting juga siap memijat bagian-bagian tubuh peserta yang dirasa sakit atau kurang nyaman.

Setelah brifing, pukul 14.00, program bersepeda pertama dilakukan. “Ini sepeda santai, kecepatan biasa. Untuk membiasakan diri dengan keadaan, sekaligus ngobrol dan kenalan satu sama lain,” tegas Sauber.

Acara santai itu, bagi rombongan Indonesia, berubah jadi shock therapy. Ternyata, benar-benar tidak mudah untuk beraktivitas fisik di ketinggian 2.400 meter”

Benar-Benar Sulit Bernapas
Malam sebelumnya (Jumat, 16/8), Ben Lieberson mengingatkan kami bahwa tidak mudah untuk beradaptasi di ketinggian Colorado. Udara tipis, oksigen tipis. Jadi, jangan paksakan diri saat kali pertama bersepeda.

“Kalau kita push, detak jantung tidak bisa recovery dengan cepat. Begitu detaknya tinggi, akan terus tinggi,” ujarnya. “Karena kering, teruslah minum air,” tambahnya.

Begitu keluar dari rumah penginapan, rombongan bersepeda pelan (20″25 km) melintasi jalanan taman yang indah. Melintasi sungai kecil, jembatan kayu, dan jalanan gravel (kerikil halus). Setelah sekitar sepuluh kilometer, rasanya kami bisa beradaptasi dengan baik.

Tapi kemudian, kami diajak melewati tanjakan-tanjakan yang biasa digunakan sebagai rute latihan para pembalap. Tidaklah ekstrem. Ada beberapa bagian yang mencapai kemiringan 10 persen, tapi kebanyakan di angka 4″6 persen.

Di situlah kami mulai merasakan betapa beratnya bersepeda di ketinggian 2.400 meter.

Kami benar-benar sulit bernapas. Dan setelah tanjakan terlewati, napas juga tidak segera normal. Kami benar-benar tersengal-sengal berusaha mengikuti rombongan. Padahal, kecepatan sangat rendah. Sekitar 10″15 km/jam di tanjakan, 20″25 km/jam di jalan datar.

“Edan. Kalau latihan di Indonesia (di ketinggian “normal”, Red), kemiringan 4″6 persen itu, kita masih bisa ngobrol. Di sini saya tidak berani bicara,” kata Cipto S. Kurniawan, 31, pria asal Pasuruan yang dikenal sebagai jagoan climbing. “Sejak awal sudah tidak cukup mengandalkan bernapas pakai hidung,” tambahnya.

Sun Hin Tjendra, 41, yang dikenal sebagai “pembalap eksekutif” yang superkuat, juga merasakan sulitnya bernapas di Aspen. “Jantung berdebar-debar seperti ketika jatuh cinta dulu,” ujarnya.

Temperatur yang panas, siang itu mencapai 41 derajat Celsius, ikut menyiksa. Angin dingin tidak menolong saat kami harus menanjak. Di jalanan datar, rasanya melaju 25 km/jam itu seperti memaksakan diri melaju 40″45 km/jam.

Belum bicara soal udara kering. Karena diminta terus minum, tidak terasa saya menghabiskan hampir enam botol air. Dua botol di antaranya berisi air dengan campuran ramuan khusus dari Skratch Labs.

Padahal, total bersepeda kami hanya sekitar 50 km. Tergolong pendek, dan dengan kecepatan relatif rendah. Tapi, rasanya seperti ikut event jarak jauh Audax lebih dari 200 km!

Rasanya seperti ketika kali pertama serius menekuni road bike dulu, bukan seperti cyclist yang sudah berpengalaman.

Sejak selesai bersepeda sampai malam, kami terus membicarakan itu. Di Indonesia, beberapa pekan sebelum berangkat ke Amerika, kami sudah latihan tergolong intensif. Di Jawa Timur, kami hampir setiap hari latihan menanjak ke berbagai tempat. Misalnya, Tretes, Tosari Bromo, dan Nongkojajar Malang. Semua masuk tanjakan kategori 1 atau bahkan HC (hors categorie, kategori terberat). Minimal kategori 2.

Latihan endurance juga kami lakukan, berkali-kali bersepeda lebih dari 100 km. Dan ketika pemanasan 85 km menanjak Mount Tamalpais di kawasan San Francisco Kamis lalu (15/8), kami juga merasa nyaman.

Tapi, semua latihan itu dilakukan di ketinggian dekat dengan permukaan laut. Beda sekali dengan di ketinggian 2.400 meter! Ketika mengecek data di komputer, tanjakan-tanjakan yang kami jajal pada hari pertama ini hanya di kategori 3 atau 4. Seharusnya relatif gampang.

“Segala latihan jadi seperti tidak berguna,” cetus Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan.

Kami berharap, pada hari pertama bersepeda itu, badan kami sudah diberi tahu harus berubah bagaimana untuk hari-hari selanjutnya. Malamnya, kami diminta untuk terus banyak minum air, dan tidur secara maksimal.

Semoga saja, besok paginya sudah membaik, dan hari-hari berikutnya terus membaik.

Menu Khusus Pakar Nutrisi
Beruntung bagi kami, soal makanan dan nutrisi, Rapha memberikan perhatian ekstraspesial. Untuk makan malam pertama, setelah acara bersepeda pertama, mereka mendatangkan tim dari Skratch Labs, yang dipimpin langsung oleh Dr Allen Lim.

Dr Allen Lim punya reputasi hebat di kalangan pembalap profesional. Dialah pembuat menu untuk tim-tim terbaik dunia. Dan untuk kami, dia sendiri yang memasakkan menu khusus malam itu.

Dibuka dengan keju-kejuan eksotis dan roti, plus salad campuran khusus berisi beetroot, akar-akaran yang disebut baik untuk stamina. Disambung dengan ayam panggang dan beberapa menu lainnya.

Sebagai penutup, ada almond pie.

Sepanjang makan malam, Dr Allen Lim rajin mengajak bicara para peserta. Menanyai mereka berasal dari mana, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan soal nutrisi dari para peserta.

Perut kenyang, hati tenang. Banyak minum air. Tidur yang nyenyak. Usai makan malam, Brad Sauber memberi tahu rencana untuk hari selanjutnya (Minggu, 18/8, atau Senin WIB).

Dan rencananya besar! Minggu pagi itu, sehari sebelum USA Pro Challenge 2013 dimulai di Colorado, kami akan bertemu bersama Team Sky! Bukan hanya itu, kami juga akan bersepeda bersama para bintang-bintangnya!(bersambung)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (2)

Azrul Ananda Dorong Math Frank

Azrul Ananda Dorong Math Frank

19 August 2013

Oksigen Tipis, Jalan Naik Sedikit Langsung Ngos-ngosan

Wow, Aspen indah luar biasa. Sayang, badan kita butuh sedikit waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian dan udara tipis. Apalagi, kalau untuk beraktivitas cukup berat, seperti bersepeda ratusan kilometer dalam beberapa hari ke depan.

AZRUL ANANDA, Aspen

Tak sabar. Semangat. Merasa sulit memercayai mata. Mungkin begitu perasaan kami ketika akan mendarat di Aspen-Pitkin County Airport, di Rocky Mountains, Colorado, Jumat sore lalu (16/8, Sabtu WIB).
Terbang dari San Francisco, California, kami harus lebih dulu ke Denver, kota utama di Colorado. Baru kemudian naik pesawat lebih kecil, Bombardier (seperti yang dipakai Garuda Indonesia untuk rute pendek), menuju Aspen.
Sebelum mendarat, sudah terlihat betapa menakjubkannya Aspen. Tak heran kota yang berpenduduk hanya 6.000-an orang itu begitu kondang, menjadi tempat istirahat orang-orang superkaya, menjadi tujuan liburan yang luar biasa.
Dari hasil baca-baca, saking populernya, harga rumah rata-rata di Aspen ini mencapai lebih dari USD 4 juta (lebih dari Rp 40 miliar) per buah! Disebut sebagai salah satu tempat termahal, mungkin termahal, di dataran Amerika.
Hampir tidak ada lahan datar di sekeliling Aspen. Bukit naik-turun ke arah mana pun mata memandang. Dan begitu hijaunya, mengingat kita datang di tengah musim panas.
Aspen-Pitkin County Airport sendiri merupakan bandara kecil, namun sangat sibuk. Sehari bisa terjadi 103 pesawat beroperasi di sana. Kebanyakan adalah pesawat pribadi atau carteran khusus. Hanya 26 persen yang pesawat komersial.
Katanya, kami agak beruntung sore itu. Sebab, pada pagi hari cuaca kurang baik sehingga penerbangan dialihkan kota lain, kemudian penumpangnya harus naik bus beberapa jam menuju Aspen.
Begitu mendarat dan turun pesawat, pemandangan indah sudah mengelilingi kawasan runway. Tapi, di situ juga kami langsung menghadapi realita, bahwa untuk menikmati keindahannya kita harus bersabar.
Aspen terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Udara dan oksigen begitu tipis. Udara juga sangat kering, benar-benar kebalikan dengan Indonesia yang begitu lembab (humid).
Badan saya sempat mengeluarkan keringat dingin, kepala terasa ringan. Seharusnya, itu memang normal ketika beradaptasi dengan altitude (ketinggian).
Ketika masuk ke toilet bandara, ada fitur unik pula di dalamnya. Tersedia lotion (pelembab) untuk yang membutuhkan. Saking keringnya udara di Aspen! Baru kali ini saya ke toilet bandara yang menyediakan pelembab.
Di dalam bandara, kami dijemput oleh Tim Coghlan, wakil dari Rapha “partner seragam Team Sky– yang akan menemani kami selama di Colorado. Dia segera mengingatkan kami untuk banyak minum air, mengatasi keringnya udara dan mempercepat proses adaptasi dengan ketinggian.
Coghlan, yang tinggal di Portland, Oregon (kantor Rapha di Amerika), sendiri mengaku sempat struggling (kerepotan) ketika kali pertama tiba di Aspen, beberapa hari sebelumnya.
Naik sebuah Mercedes Sprinter van yang dibranding Rapha (dikendarai dari Oregon), kami diantar menuju Hotel Wildwood di Snowmass, tempat penginapan kami pada hari pertama itu. Rapha sebenarnya sudah menyiapkan sebuah rumah besar untuk 11 peserta program gowes bareng Team Sky ini. Tapi baru akan ditempati mulai Sabtu, 17 Agustus.
Meski demikian, kami tidak komplain. Hotel tempat kami menginap adalah tempat di mana hampir seluruh tim peserta USA Pro Challenge menginap. Dan salah satu kawasan parkirnya sudah disulap menjadi kawasan kerja tim. Jadi, kalau beruntung, kami bisa bertemu dengan para pembalap!

Satu Hotel dengan Tim Peserta
Begitu sampai, kami bertemu lagi dengan orang-orang Rapha yang akan terus menenami. Ada Brad Sauber, yang menjadi manager tur. Ada Ben Lieberson, pria asal Inggris yang akan menjadi pemandu saat bersepeda.
Lieberson ini cukup populer bagi penggemar Rapha. Dia merupakan salah satu tokoh penting di program Rapha Continental, program bersepeda di tempat-tempat unik dan langka di seluruh dunia. Video-videonya sangat populer di You Tube.
Berusia 40 tahun, Lieberson ini terus keliling dunia bersepeda. Sebelum ke Aspen, dia baru datang dari Eropa. Dan dia pun mengaku butuh waktu untuk beradaptasi dengan ketinggian Colorado.
“Saya tiba cukup dehidrasi. Jadi butuh sampai 36 jam untuk benar-benar terbiasa dengan ketinggian di sini,” ungkapnya.
Usai makan siang di salah satu restoran di kawasan hotel (ada kawasan makan dan belanja di depan hotel), kami langsung menuju kawasan parkir tempat tim-tim bekerja.
Jalan dari bagian utama hotel ke sana menanjak sangat curam (sepertinya lebih dari 12 persen), dan kami langsung merasakan tantangan yang akan kami hadapi dalam seminggu ke depan. Rasanya mungkin seperti langsung ditempeleng”
Jalan naik ke atas, kami langsung ngos-ngosan. Terasa kalau udara sangatlah tipis.
Termasuk Sun Hin Tjendra, yang mungkin paling fit dan paling kuat di komunitas balap sepeda yang saya kenal (mungkin eksekutif paling fit se-Indonesia).
Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan, merupakan salah satu jagoan climbing. Menu latihan sehari-harinya naik turun dari Pasuruan ke Puspo atau Tosari Bromo. Dia pun ngos-ngosan. “Mati sudah. Mati sudah. Seminggu ke depan bakal mati kita,” katanya lantas tertawa.
Sekali lagi, saya bersyukur kami memutuskan untuk datang sehari lebih cepat”
Rasa semangat kembali muncul melihat kawasan kerja para tim. Tentu saja, yang pertama kami hampiri adalah trailer dan truk milik Team Sky. Karena ini di Amerika, bukan di markas tim di Eropa, maka tim-tim WorldTour kebanyakan menyewa trailer dan truk, serta mobil-mobil operasional lain. Lalu menempelinya dengan stiker identitas tim.
Tampak seorang mekanik sibuk menservis sejumlah sepeda Pinarello milik Team Sky. Yang membuat mata kami langsung terbuka lebar: Sebuah Pinarello Dogma 65.1 Think 2 hitam milik Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013!
Dan itu bukan sepeda latihannya. Itu sepeda utamanya yang akan dipakai balapan!
Froome tidak terlihat sore itu, tapi fotonya sudah cukup untuk jadi obyek foto bareng! Prajna Murdaya juga sempat berpose seolah dia akan mencuri sepeda tersebut”
Tidak lama, datang Joe Dombrowski, 22, pembalap muda Team Sky asal Amerika Serikat. Tinggi dan kurus, 186 cm tapi hanya 61 kilogram, Dombrowski ini disebut-sebut sebagai superstar masa depan cycling dunia. Tentu saja, kami foto-foto lagi.
Di sekeliling, tampak trailer milik Cannondale, Garmin-Sharp, BMC, dan beberapa tim lain.
Tidak lama, sejumlah pembalap BMC berdatangan, mengakhiri sesi latihan hari itu. Tanjakan menuju kawasan parkir begitu curam, mereka harus berdiri mengayuh dari dasar sampai atas.
Tampak sang juara nasional Swiss, Michael Schar. Di belakang, ada pula salah satu bintang tim, Mathias Frank. Ketika akan saya foto, Frank langsung minta tolong: “Please, push” (tolong bantu dorong).
Ya saya langsung dorong dia naik ke atas. Lumayan, setelah itu dia memberikan botol minumnya, yang tidak lama kemudian dia tanda tangani pula. Biasanya, botol minum pembalap merupakan salah satu “suvenir” paling diburu oleh penonton saat menyaksikan lomba di pinggir jalan.
Personel BMC sendiri kemudian memberi kami lebih banyak lagi botol minum. Kami masing-masing dapat dua bidon (botol minum sepeda) bekas pembalap.
Merasa lelah, dan kepala kembali pusing, kami kembali untuk istirahat dulu sebelum makan malam. Tidak terasa, saya tertidur dua jam.
Bangun, kami pun makan malam. Bagi para personel Rapha, hari itu hari supersibuk. Mereka terus menyiapkan segala kebutuhan program untuk seminggu ke depan.
Malam itu, sepeda-sepeda kami pun dirakit. Tim Coghlan, Brad Sauber, dan yang lain memilih kawasan dekat pepohonan yang berhiaskan lilitan lampu-lampu kecil untuk merakit sepeda kami. Coghlan mengenakan lampu sorot kecil di kepala.
Hanya sekitar satu jam, empat sepeda kami beres. Kami disarankan segera kembali ke kamar, tidur sebanyak mungkin dan terus minum air. Besok pagi (Sabtu, Red) tidak perlu bangun pagi, tidak perlu banyak beraktivitas. Sore hari baru akan bersepeda untuk menyesuaikan diri.
Lieberson menyarankan, kalau mampu, untuk jalan kaki keliling hotel untuk membiasakan diri lagi dengan udara tipis. Kalau tidak, tidur sebanyak mungkin.
Kami menuruti saran tersebut. Sebelum tidur, saya mempelajari lagi buku program dan rute yang mereka siapkan. Pada dasarnya, mereka telah menyiapkan program bersepeda total sejuah 398 km dalam lima hari ke depan. Termasuk mendaki tanjakan-tanjakan paling kondang, seperti Independence Pass, yang tingginya lebih dari 3.650 meter!
Sebelum tidur, saya mengulangi lagi ucapan Wawan sebelumnya: “Mati sudah” (bersambung)

Bersepeda Bareng Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (1)

Minggu, 18 Agustus 2013

Pemanasan di California, Menuju Aspen Sehari Lebih Dini

Dari seluruh dunia, hanya sebelas orang yang dapat kesempatan bersepeda bersama Team Sky, di USA Pro Challenge di Colorado. Empat di antaranya dari Indonesia. Termasuk AZRUL ANANDA dari Jawa Pos.

Penggemar sepeda, khususnya ajang balap sepeda, mungkin sudah sangat familier dengan nama Sky Pro Cycling alias Team Sky. Tim asal Inggris itu kini berada di urutan pertama dunia, dan telah dua tahun berturut-turut menjadi jawara Tour de France.

Termasuk Juli lalu, saat Christopher Froome merebut yellow jersey di edisi ke-100 ajang paling bergengsi di dunia tersebut.

Hebatnya lagi, walau baru eksis sejak 2010, tim ini telah mengubah standar bagaimana sebuah tim profesional dikelola dan di-marketing-kan. Tim ini dikenal selalu memakai peralatan termewah atau yang dianggap sangat mewah.

Misalnya, bus pendamping tim paling megah. Mobil pendukung merek Jaguar (yang juga asal Inggris). Sepeda yang dipakai merek Pinarello asal Italia, yang terkenal masuk barisan paling mewah. Pilihan kerja sama jersey dan seragam lain pun merek Rapha. Juga asal inggris, Rapha dianggap sebagai “Louis Vuitton”-nya baju sepeda.

Saat ini, untuk bisa mendekat saja dengan Team Sky merupakan sebuah tantangan. Baik mendekat di arena balap maupun di luar arena.

Karena itu, ketika ada kesempatan untuk bersepeda bareng mereka, harus diambil dengan sangat segera. “Kereta” yang sama belum tentu lewat lagi walau kita tunggu seumur hidup di stasiun.

Kesempatan tersebut datang dari Rapha. Kesempatan itu diberikan di ajang USA Pro Challenge, ajang lomba sepekan yang sejak 2011 diselenggarakan di pegunungan Colorado, Amerika Serikat.

Hanya ada jatah yang sangat terbatas untuk mengikuti kiprah Team Sky saat berlaga di Colorado. Tinggal di satu kawasan, makan bareng, bahkan bersepeda bareng saat sesi latihan. Lomba berlangsung pada 19–25 Agustus, sedangkan kesempatan “mendampingi” tim diberikan pada 17–21 Agustus.

Ketika e-mail “peluang” itu sampai kepada kami (customer Rapha) beberapa bulan lalu, seperti biasa e-mail dari Eropa sampai pada dini hari WIB. Prajna Murdaya, rekan bersepeda saya saat mengikuti Tour de France 2012 dan Tour of California 2013 lalu, merupakan yang pertama yang membukanya. Secara instan, dia langsung mendaftar detik itu juga.

Pagi itu, dia berusaha menelepon saya. Tapi, kala itu saya sedang latihan sepeda, baru membukanya saat makan pagi. Saat saya angkat, dia langsung bilang: “Kamu punya sepuluh menit untuk membuat keputusan, ikut atau tidak.”

Walau belum buka e-mail, saya tahu kesempatan seperti ini sangat langka. Tentu saya bilang iya. Dalam hitungan jam, saya juga mengajak dua rekan lain. Sun Hin Tjendra, rekan lain sesama founder di Surabaya Road Bike Community (SRBC), menyatakan ikut. Cipto S. Kurniawan alias Wawan, rekan bersepeda dari Pasuruan, juga bilang iya. Padahal, ketika saya hubungi pagi itu, Wawan sedang dalam perjalanan bisnis di Tiongkok.

Empat orang pun terdaftar hari itu juga. Semula, Rapha menyebut peserta bakal 14 orang. Angka tersebut kemudian dikecilkan lagi menjadi hanya 11 orang, untuk memudahkan servis dan pelayanan selama program. Hebat, dari total 11 jatah sedunia, empat peserta dari Indonesia!

Prajna mengaku ditelepon Rapha, yang tampaknya sempat ragu dan bingung melihat ada empat orang Indonesia mengikuti program unik mereka!

Saat kami mendaftar itu, Tour de France 2013 belum berlangsung. Dan belum dipastikan siapa saja pembalap Team Sky yang turun di Colorado.

Alangkah senangnya kami ketika menonton Team Sky (Christopher Froome) menang di Tour de France. Senang itu jadi bahagia bukan kepalang ketika tahu Christopher Froome, beserta rekan setim terbaiknya, Richie Porte, bakal turun di Colorado!

Oh ya, ketika mendaftar, tidak semua di antara kami langsung memberi tahu keluarga (istri) masing-masing. Tapi, kami sepakat dengan prinsip: “Meminta maaf lebih mudah daripada meminta izin…”

Tantangan Udara Tipis
Rocky Mountains, alias pegunungan Colorado, merupakan dataran yang sangat tinggi. Denver, kota terbesar di negara bagian tersebut, punya julukan “Mile High”, terletak satu mil (1,6 km) di atas permukaan laut.

USA Pro Challenge akan finis di Denver, tapi bakal dimulai di Aspen. Nah, di Aspen ini pula kami akan “bergabung” dengan Team Sky. Ketinggiannya” 2.400 meter…
Sebagai perbandingan, titik tertinggi Tour de France 2013 adalah Col de Pailheres, “hanya” 2.001 meter. Jadi, titik start USA Pro Challenge sudah lebih tinggi daripada titik tertinggi Tour de France!

Dalam lomba, para pembalap akan menghadapi tanjakan-tanjakan yang lebih tinggi. Puncaknya adalah Independence Pass, yang mencapai lebih dari 3.650 meter. Itu merupakan titik tertinggi ajang balap sepeda di seluruh dunia.

Dan kami, sebagai peserta program, juga akan diajak mendakinya…

Untuk bisa menjalani program, kami harus berlatih ekstra. Walau semua sibuk, kami berusaha meluangkan waktu semaksimal mungkin untuk berlatih. Khususnya untuk menanjak.

Tapi, itu saja pasti tidak cukup. Karena ketinggian Colorado juga akan dibarengi udara tipis, kami jadi semakin kerepotan.

Bahkan, para pembalap akan merasa tersiksa dengan tipisnya udara. Christopher Froome, begitu tiba dan berlatih di Aspen, langsung berkomentar via Twitter: “Bersepeda keliling Aspen bikin shock badan. Indah, tapi tak banyak oksigen! Balapan seminggu ke depan bakal kejam.”

Dalam program yang disiapkan, tanggal 17 Agustus adalah hari santai untuk membiasakan diri dengan udara di ketinggian Aspen. Tapi, kami memutuskan untuk terbang lebih dini, tiba lebih cepat.

Tanggal 14 Agustus meninggalkan Indonesia, menyempatkan bersepeda sehari di kawasan berbukit di sekitar San Francisco, lalu tiba di Aspen pada 16 Agustus.

Menanjak Mount Tamalpais
Tiba di San Francisco, California, Rabu, 14 Agustus malam, kami langsung cari makan malam di Yuet Lee di China Town, salah satu restoran favorit orang Indonesia yang kondang lewat cumi goreng keringnya.

Kemudian, langsung membongkar koper dan merakit sepeda yang kami bawa (semua Pinarello). Kami merakit sepeda sampai Kamis dini hari pukul 01.00.
Kamis pagi, kami sudah ingin bersepeda dulu. Selain “pemanasan” menanjak di udara kering (walau tidak tipis), juga mengecek untuk memastikan tidak ada masalah pada komponen-komponen sepeda yang kami bawa.

Pagi itu, pukul 07.00, kami mampir dulu ke Rapha Cycle Club, butik/kafe untuk ngopi. Baru kemudian menuju kawasan jembatan Golden Gate, menunggu Franklyn Wu, teman Prajna asal Taiwan yang akan menjadi pemandu.

Dari sana, kami menyeberangi Golden Gate, memasuki Marin County, dan menuju Mount Tamalpais.

Bagi Wawan, ini kesempatan yang sudah lama diimpikan. Ketika liburan keluarga ke San Francisco empat tahun lalu, dia sangat ingin menyewa sepeda dan menyeberangi Golden Gate. Tapi, tidak ada waktu. Sekarang dia benar-benar puas, walau kabut tebal menyelimuti jembatan tersebut.

Mount Tamalpais sendiri merupakan salah satu tujuan bersepeda favorit warga San Francisco dan sekitar. Tidak hanya untuk bersepeda, tapi juga untuk running (lari). Di situ juga ada jalur mountain bike yang sangat populer, tempat nama-nama besar sepeda, seperti Gary Fisher dan Tom Ritchey, “bermain”.

Puncak Mount Tamalpais tidaklah terlalu tinggi, 785 meter. Tapi, tanjakannya lumayan menantang, dan punya bagian seru berupa tujuh bukit berseri. Orang-orang di sana menyebutnya “seven sisters” (tujuh cewek bersaudara).

Di atas, kita seharusnya bisa melihat seluruh kawasan Bay Area. Sayang, kabut tebal membuat pemandangan hari itu sangat terbatas.

Tidak terasa, hari itu kami bersepeda sekitar 85 kilometer. Lebih dari sekadar “pemanasan”. Setelah makan siang, kami mengunjungi beberapa toko sepeda, sebelum kembali untuk membongkar dan mengepak lagi sepeda. Sebab, Jumat pagi (16/8) kami sudah harus terbang ke Colorado.

California terletak di pantai barat, sedangkan Colorado ada di kawasan tengah Amerika. Menuju Aspen, kami harus transit dulu di Denver. Baru Jumat menjelang sore kami mendarat di Aspen, menghadapi langsung sulitnya beradaptasi di dataran tinggi. (bersambung)