Logo Nomor 1 Baru untuk 2011

 Monday, 17 January 2011 07:17 WIB

                   EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1). 

EMPAT KALI. Jorge Lorenzo, Azrul Ananda dan Ellen Tansil usai wawancara ekslusif di Hotel Marriot Surabaya, kemarin (16/1).

Jorge Lorenzo sudah empat kali ini datang di Indonesia. Namun, kali ini dia jadi ‘atraksi utama,’ sebagai seorang juara dunia. Bagaimana rasanya? Seperti apa MotoGP 2011 dan 2012 nanti?

Berikut petikan wawancara khusus Azrul Ananda dengan pembalap Spanyol tersebut di Surabaya kemarin (16/1).

Kesempatan eksklusif ini terwujud berkat Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) dan Surya Timur Sakti Jatim (STSJ), yang mendatangkan sang world champion ke Indonesia.

Selamat datang lagi di Indonesia. Sudah empat kali Anda datang ke sini, jadi Anda tentu sudah familiar dengan segalanya. Seperti apa rasanya kunjungan ini sejauh ini?
Ini memang sudah kali keempat saya ke Indonesia. Saya selalu merasa nyaman, merasa senang berada di sini. Karena ini negara yang sangat indah, banyak hijaunya, dan orang-orangnya selalu tersenyum. Memberi kita feeling yang sangat baik.
Rasanya saya seperti lebih terkenal di sini daripada di Spanyol. Itu sulit dipercaya!
Benar lebih terkenal? Apakah ada negara lain di mana Anda merasa sama terkenalnya dengan di Spanyol? Selain Indonesia?

Mungkin Spanyol tetap negara tempat saya paling terkenal. Di sini (Indonesia) yang kedua. Lalu negara seperti Italia dan Inggris setelah itu. Yang jelas, sulit dipercaya betapa besar passion orang di sini untuk MotoGP.

Anda sudah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia, tapi ini kali pertama di Surabaya. Apa pendapat Anda sejauh ini?

Well, saya mendarat langsung datang ke hotel ini (tempat wawancara kemarin, red), jadi saya belum sempat lihat-lihat kota. Tapi saya sudah diberi informasi, dan saya belajar sedikit tentang kota ini. Saya diberi tahu ini kota terbesar kedua. Enam juta penduduknya?
Surabaya dan sekitarnya hampir sembilan juta.
Sembilan juta? Jadi ini hampir empat kali lipat Barcelona (Spanyol, red) tempat saya tinggal.
Kalau begitu Anda bisa lebih punya banyak penggemar di sini daripada di Barcelona.
Ya, saya rasa begitu!

Ini kali pertama Anda datang ke sini sebagai juara dunia. Sebelumnya, Valentino Rossi biasanya juga ke sini. Jadi, baru tahun ini Anda datang sebagai atraksi utama. Bagaimana rasanya datang sebagai atraksi utama?

Well, selalu senangnya datang sebagai bintang untuk merek legendaris seperti Yamaha. Valentino (Rossi) bagi saya selalu seperti cerita besar. Karena ketika masuk MotoGP, saya hampir tidak tahu apa-apa. Jadi bersaing dengan dia, dan ketika sebelum masuk MotoGP banyak menonton balapannya, saya banyak belajar dari dia. Dan saya terus belajar, karena dia tahu begitu banyak hal.
Saya selalu ingin belajar dari pembalap lain, karena pembalap lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.

You know, datang ke sini sebagai atraksi utama untuk number one brand seperti Yamaha memberi kepuasan tersendiri. Saya bangga bisa merasakannya.
Sekarang mari bicara MotoGP. Tahun lalu Anda juara dunia, meraup begitu banyak poin (387 poin, red). Tapi, sejumlah orang bilang Anda mendapat sedikit bantuan, karena Valentino cedera, lalu Dani Pedrosa cedera, dan Casey Stoner tidak maksimal. Bagaimana pendapat Anda tentang itu, dan apa menurut Anda yang akan berubah di 2011?

Normal kalau ada orang yang masih bicara seperti itu. Normalnya, orang-orang yang bicara seperti itu adalah penggemar Valentino atau penggemar Pedrosa. Normal bila orang-orang itu selalu mencari-cari alasan supaya bisa bilang kalau saya tidak layak mendapatkan gelar.

Tapi ingat, 2009 adalah tahun kedua saya di MotoGP, tahun pertama memakai ban Bridgestone, dan saya mampu bersaing dengan Valentino untuk memperebutkan gelar.
Pada 2010 saya pikir kami lebih siap. Kami lebih punya keunggulan. Jadi ketika Valentino mengalami kecelakaannya, kami sudah memimpin cukup jauh di klasemen. Dan ketika Dani (Pedrosa) mengalami kecelakaan karena masalah motor, saya sudah memimpin klasemen sebanyak 50 poin.

Jadi, kecelakaan-kecelakaan (pesaing) itu mungkin membantu kami merebut gelar juara dunia. Tapi tanpa kecelakaan-kecelakaan itu pun saya yakin masih akan menjadi juara dunia.

Anda sangat percaya diri?
Bukan, ini bukan sekadar percaya diri. Saya pikir memang begitu. Mungkin saja berbeda, karena kita tidak akan bisa memprediksi masa depan. Tapi saya rasa begitu.
Bagaimana menurut Anda tentang 2011. Siapa yang menurut Anda bakal menjadi ancaman utama. Casey Stoner dengan motor barunya (Honda, red) atau Valentino Rossi dengan motor barunya (Ducati, red)?

Saya pikir kami layak menjadi juara dunia 2010. Tapi 2011 adalah dunia yang berbeda. Akan ada kejuaraan baru dan semua orang akan mengawalinya dengan poin nol. Jadi tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Karena masa depan adalah masa depan. Tidak ada yang tahu akan seperti apa.
Kita akan mencoba memberikan yang terbaik. Yamaha akan mencoba untuk membuat motor lebih baik, saya akan mencoba untuk meng-improve cara membalap saya, bersama kami akan mencoba memberikan yang maksimal.

Brand dan pembalap lain akan melakukan hal yang sama, jadi (2011) akan menyuguhkan persaingan yang sangat kompetitif. Banyak pembalap bisa bersaing berebut kemenangan.
Mari melihat lebih jauh lagi ke depan, ke 2012. Karena MotoGP akan menggunakan motor 1.000 cc. Anda belum pernah merasakan 1.000 cc, karena ketika Anda masuk MotoGP (pada 2008) regulasinya sudah 800 cc.

Apakah Anda akan mendapatkan disadvantage pada 2012? Karena pada 2012 Anda masih akan membalap untuk Yamaha.
Ya, beberapa orang bilang bahwa pembalap yang datang dari kelas 250 cc ke MotoGP 800 cc mendapat sedikit keuntungan. Karena motor 800 cc butuh dikendarai dengan gaya seperti 250 cc.

Tapi saya pikir, pembalap yang bisa cepat naik 125 cc dan 250 cc juga bisa cepat naik MotoGP. Memang ada bedanya. Motor 125 cc punya tenaga kurang, 250 cc sedikit lebih bertenaga, dan MotoGP jauh lebih bertenaga. Tapi semuanya tetap memakai dua roda dan satu mesin!

Jadi kalau kita bisa cepat naik satu motor, kita bisa cepat naik semua motor.
Apa yang Anda butuhkan lebih baik dari motor Yamaha (YZR M1) untuk bisa kembali menjadi juara pada 2011 dan 2012?

Well, I love my bike. Dan Yamaha adalah motor yang lebih kompetitif dalam tiga tahun terakhir, dan kami mampu merebut triple crown. Bukan hanya gelar juara pembalap, tapi juga konstruktor dan tim.

Tapi brand yang lain bekerja sangat keras, mereka mampu mendekat di setiap lomba, di setiap tahun. Jadi untuk terus mempertahankan posisi sebagai nomor satu kita harus terus bekerja. Lebih keras dan lebih keras.
Saya pikir, satu hal yang harus kami perbaiki adalah power yang dihasilkan mesin. Kami butuh sedikit lebih banyak lagi tenaga.

Sekarang mari bicara soal kelakuan-kelakuan antik Anda di setiap akhir lomba. Anda punya begitu banyak show untuk penggemar. Siapa yang muncul dengan ide-ide itu. Apakah Anda, atau Anda punya tim yang bertemu untuk melakukan sesuatu bila menang?
Ha ha ha. Bagi saya, sangatlah penting untuk melakukan sesuatu yang berbeda setelah setiap kemenangan atau setelah setiap lomba. Kalau kita memenangi sebuah lomba, kita harus merayakannya seperti telah meraih sesuatu yang sangat penting.

Sangatlah sulit untuk memenangi sebuah lomba. Jadi kita harus melakukan sesuatu untuk mengenang lomba tersebut dan mencoba menikmatinya bersama penonton.
Saya mulai melakukan selebrasi (unik) mulai 2007. Berlanjut sampai sekarang. Bagi saya, yang paling saya nikmati adalah balapan di Jerez (Spanyol) pada 2010, saat saya melompat ke dalam danau.

Kadang, idenya muncul begitu saja di kepala saya. Saya harus punya selebrasi, jadi saya harus terus memikirkannya. Kadang orang-orang di sekeliling saya, teman-teman saya, turut bekerja untuk mengembangkan lagi ide-ide itu. Yang paling sulit adalah untuk benar-benar mewujudkannya.

Anda punya ciri khas bendera Lorenzo’s Land (ditancapkan setelah meraih kemenangan di satu tempat, menandai penaklukkan suatu wilayah, red). Apa yang terjadi kalau Anda sudah meraih kemenangan di semua sirkuit yang ada di dunia. Setelah itu apa? Apakah Anda akan punya filosofi baru atau ide baru? Bendera yang berbeda?
Anda tahu kan, ketika kita berhasil menaklukkan sebuah negara (dalam sebuah lomba), kita hanya menikmatinya untuk dua pekan. Setelah itu kita tidak memilikinya lagi, dan harus menaklukkannya lagi di tahun berikutnya.

Baik, ini pertanyaan terakhir saya, setelah itu ada dua lagi pertanyaan dari penggemar (yang menitipkan pertanyaan via JTV, red). Pertanyaan terakhir saya: Apakah Anda akan membalap di tahun 2011 memakai nomor 1 (tanda juara dunia, red), atau tetap memakai nomor 99?
Seratus persen akan membalap pakai nomor 1.
(Lanjutan). Seperti apa nomor satunya? Desainnya? Karena nomor 99 Anda didesain merah dan putih (satu setan, satu malaikat).

Saya tidak bisa menjelaskannya. Karena dalam satu pekan atau lebih sedikit, kami akan meluncurkan (desain) nomor 1 itu. Dalam satu pekan atau lebih itu kita akan melihatnya.
(Desain) itu sangat spesial, sangat beda. Ada kaitannya dengan nama saya. Dengan “Jorge Lorenzo.” Jadi Anda akan lihat nanti.

OK, sekarang dua titipan pertanyaan dari pemirsa JTV. Yang pertama dari Sigit di Madiun. Pertanyaannya, kalau Anda menghadapi lomba di lintasan basah (hujan). Apa tantangan utama yang harus Anda atasi sebelum start?

Yang paling utama adalah rasa takut. Karena kita tahu kondisi permukaan sangatlah berbahaya. Kita harus sangat smooth. Karena kalau kita agresif maka motor akan banyak bergerak dan kita akan celaka dengan mudah.

Jadi, pertama-tama kita harus melepaskan rasa takut. Hanya berpikir untuk menikmati mengendarai motor. Harus sangat hati-hati, harus sangat konsentrasi. Lalu mencoba mengambil line (jalur, red) yang sama di setiap tikungan. Karena kalau kita membuat kesalahan di satu jalur atau satu tikungan, kita akan celaka dengan mudah.
Balapan di sirkuit basah itu seperti art (seni, red).

Pertanyaan terakhir ini dari Hadi di Kediri. Kalau Anda di Indonesia untuk balapan. Kalau Anda ikut road race di Indonesia menggunakan motor-motor jalanan yang ada di Indonesia. Apakah Anda merasa bisa akan menang seperti di MotoGP?
Saya yakin pasti akan finis paling belakang! Karena mereka di sini crazy!

(Kalau balapan) mereka pasti punya lebih banyak pengalaman dari saya. Kalau saya hanya punya dua atau tiga hari persiapan, saya pasti tidak kompetitif.
Mereka pasti akan crazy dan selalu membalap seratus persen! Mungkin mereka semua akan mengalahkan saya, atau mereka semua kecelakaan dan memberi saya kemenangan! (*)

sumber : http://radarcirebon.com

Advertisements

Ketika Valentino Rossi Terus Belepotan Bersama Ducati

Senin, 05 September 2011 , 06:40:00

Tahun Depan Juga Belum Jelas

UNTUK kali pertama dalam karirnya di grand prix motor, Valentino Rossi terancam gagal memenangi lomba dalam semusim. Apa yang harus dia dan Ducati lakukan”

Ketika Valentino Rossi memutuskan untuk bergabung ke Ducati, orang menyebut ini sebagai marketing marriage of the decade. Dua legenda Italia bergabung bersama untuk menaklukkan dunia. Hasilnya” Setelah 12 lomba, termasuk Grand Prix San Marino kemarin (4/9), kedua pihak terancam menjalani malu terbesar.

Reputasi Ducati terancam tercoreng karena tak mampu meraih sukses walau mengontrak orang yang disebut-sebut sebagai pembalap motor terbaik dalam sejarah. Ingat, Ducati sama sekali tidak bisa menyalahkan Rossi. Kalau sampai menyalahkannya, berarti Ducati mengundang amarah jutaan penggemar “The Doctor” di berbagai penjuru dunia. Itu marketing suicide.

Di sisi lain, rekor Rossi juga terancam ternoda. Seperti disebut di awal, dia terancam gagal meraih kemenangan untuk kali pertama di arena grand prix motor. Jangankan menang, musim ini dia baru naik podium sekali. Dia pun baru total lima kali finis di urutan lima besar dari 12 lomba.

Kemarin di Sirkuit Misano, Rossi hanya mampu finis di urutan ketujuh.

Ingat, Rossi adalah juara dunia sembilan kali. Tujuh kali di kelas tertinggi, bersama dua pabrikan berbeda (Honda dan Yamaha) di tiga zaman regulasi yang berbeda (2-Tak 500 cc, MotoGP 990 cc, dan MotoGP 800 cc).

Apa yang harus dilakukan kedua pihak sekarang? Kalau diperhatikan, pada dasarnya ada dua problem yang dihadapi Rossi bersama Ducati saat ini. Yang belakangan terus mengganggu: Girboks yang ngadat. Problem ini mengganggu Rossi di GP Indianapolis dan kembali mengganggunya saat kualifikasi di Misano. Gara-gara gir tak mau pindah, Rossi beberapa kali harus keluar lintasan.

Lalu, ada satu lagi masalah yang lebih kronis: Feeling yang buruk dengan bagian depan Ducati Desmosedici GP11 maupun GP11.1 (versi 2012 bermesin 800 cc). Khususnya saat mengerem. Ini sangat mengganggu dalam memburu catatan waktu yang baik, plus merepotkan saat harus bertarung di tengah lomba.

Pembalap 32 tahun itu mengklaim dirinya kehilangan 0,2 hingga 0,3 detik di setiap tikungan gara-gara masalah ini. Rossi sudah mengomel soal ini sejak awal musim. Jadi, kalau terus ditanya soal penyebab lambannya performa bersama Ducati, Rossi sampai kehabisan jawaban. “Saya selalu mengomeli hal yang sama. Jadi, Anda silakan pakai hasil wawancara saya yang dulu-dulu,” ucapnya kepada media.

Sempat muncul celetukan via media di Italia, kalau bos teknis Ducati Filippo Preziosi “rindu” melihat Casey Stoner mengendarai motor Italia tersebut. Bagaimana tidak. Hingga saat ini praktis hanya Stoner yang mampu meraih sukses bersama Ducati, menang 23 kali (dan merebut satu gelar juara dunia) bersama pabrikan itu pada 2007-2010.

Rossi membalasnya dengan sindiran: “Saya tentu senang kalau Stoner mau (menjajal motor saya). Tapi, di sisi lain saya juga ingin menjajal Honda.”

Rossi pernah bilang, dia bukanlah Stoner. Bukan hanya gaya membalap yang berbeda, postur badan juga berbeda. Rossi jauh lebih tinggi (180 cm) dari pembalap Australia itu.

“Gaya Casey tidak terlalu membebani bagian depan (motor). Ukuran badannya juga menjadikan posisi duduk berbeda. Adalah sebuah kesalahan kalau saya mencoba mengendarai motor seperti dia. Tapi, akan berguna bila saya bisa mencoba mengurangi beban bagian depan motor,” papar Rossi.

Di MotoGP, pengembangan motor tidaklah secepat (dengan kucuran dana) Formula 1. Jadi, segala yang diinginkan Rossi mungkin baru terwujud tahun depan. Andai dia harus mengubah gaya membalap pun, hasilnya belum tentu maksimal.

Jadi, mungkin Rossi dan Ducati harus rela “melepas” 2011, rela malu mengakhiri musim ini tanpa satu pun kemenangan. Dengan catatan, semua sumber daya harus dikerahkan untuk 2012. Antara terus mensimulasi perubahan pada sasis GP11.1, yang seharusnya masih dipakai tahun depan, atau mencoret total sasis itu dan menggambar lagi dari nol sasis untuk 2012.

Berbicara soal ini, ada satu lagi kendala dari kubu Ducati: belum ada keputusan harus berbuat apa untuk motor 2012. Rupanya, ada beberapa pendapat dan teori berbeda, dan sampai sekarang belum ada yang berani memastikan langkah mana yang terbaik!

Rossi mengaku masih punya waktu. “Musim 2012 dimulai sehari setelah lomba terakhir 2011. Ketika momen itu tiba, kami sudah harus punya ide dan langkah yang jelas untuk diambil,” ucapnya. “Kami belum butuh membuat keputusan sekarang. Kami harus bekerja keras di akhir tahun ini. Bersama, kami akan mencoba menemukan keseimbangan teknis pada motor. Itu pekerjaan sulit, tapi kami akan mencoba,” tandasnya.

Bagi penggemar Rossi di mana pun Anda berada: Sabar ya! (azrul ananda)

Kembalinya Valentino Rossi ke Yamaha

Kembalinya Valentino Rossi ke Yamaha membuat penggemar MotoGP bergairah menantikan 2013. Namun, untuk jangka panjang, seri balap itu masih seperti dalam kegelapan.

rossi-46Catatan AZRUL ANANDA

Wajar bila Yamaha dan penggemarnya, berbinar-binar memikirkan prospek 2013 dan 2014. Untuk dua tahun itu, bila lancar, mereka akan menurunkan pasangan super, Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi. Prospek mereka untuk dua tahun itu benar-benar maksimal.

‘’Kami sudah menurunkan superteam ini pada 2008, 2009 dan 2010. Saat itu, kami mampu menyapu gelar juara dunia untuk pembalap, pabrikan dan tim selama tiga tahun berturut-turut,’’ kata Lin Jarvis, managing director balap Yamaha, mengingatkan.

Pada 2013 dan 2014, minimal ada dua jalan cerita seru yang bisa diikuti. Pertama, seperti biasa, persaingan ‘abadi’ Yamaha versus Honda. Kedua, kini ada persaingan internal Yamaha, Lorenzo versus Rossi. Dan persaingan itu jauh lebih ‘panas’ daripada duel internal Honda saat ini, antara Casey Stoner versus Dani Pedrosa.

Seru bukan?

Sayangnya, untuk MotoGP secara keseluruhan, kembalinya Rossi ke Yamaha ini mungkin hanya obat sementara. Rasa manis yang bisa cepat hilang, berlanjut dengan rasa pahit yang sangat panjang. Secara keseluruhan, seri balap ini masih punya krisis jangka panjang. Ada dua problem masa depan MotoGP, yaitu yang berat dan yang sangat berat.

Yang berat, krisis bintang. Ya, masih ada Rossi, Lorenzo dan Dani Pedrosa. Tapi Casey Stoner bilang akan pensiun di penghujung 2012. Belum ada tanda-tanda dia membatalkan rencana itu. Jadi, tahun depan, praktis hanya ada tiga ‘alien’. Marc Marquez, yang ditarik Honda sebagai pengganti Stoner, masih belum tentu akan jadi superstar.

Dalam beberapa tahun terakhir, MotoGP sudah kehilangan terlalu banyak bintang yang bisa ‘dijual’. Dulu Marco Melandri dan Max Biaggi hengkang ke Superbike. Marco Simoncelli tewas. Kini, Ben Spies (walau bisa dibilang semi-bintang) tampaknya juga akan pindah ke Superbike. Nicky Hayden tak lagi ‘menjual’. Cal Crutchlow, yang tanda-tandanya ke Ducati, juga belum menunjukkan keajaiban. Andrea Dovizioso? Masih sangat tanggung. Lihat saja daftar pembalap tahun ini. Hitung berapa nama yang layak disebut ‘’terkenal’’. Nah, kalau yang ngetop-ngetop terus berkurang, MotoGP bisa tak lagi ngetop.

Dengan kembalinya Rossi ke Yamaha, Dorna bisa sedikit bernapas lebih lega. Bisa dibilang, Rossi memberi mereka waktu dua tahun untuk menata masa depan. Setelah dua tahun, Rossi bisa pensiun, atau minimal terlalu tua. Lorenzo juga mulai menua. Begitu pula Pedrosa. Stoner belum tentu comeback dan juga menua. Marquez belum tentu jago. Bintang lain belum tentu muncul. Kalau setelah dua tahun Dorna belum siap. Berarti umur MotoGP mungkin hanya dua tahun lagi? ***