Tentang Blog ini

BLOG INI BUKAN MERUPAKAN MILIK AZRUL ANANDA. Blog ini hanya sebuah KliBlog (Kliping Blog) dari Catatan AZRUL ANANDA yang diterbitkan di surat kabar Jawa Pos Group,www.jpnn.com, DBL Indonesia, NBL Indonesia, jadi ini hanya sebuah KlipBlog. Sebuah blog yang saya dedikasikan kepada Azrul Ananda.

awal kenapa saya membuat blog ini disebabkan saya ingin mempunyai kumpulan tulisan Azrul Ananda yang saat ini menjabat CEO Jawa Pos, Commisioner JRBL Indonesia, DBL Indonesia, NBL Indonesia, dan WNBL Indonesia.

alasan saya kenapa mau mengumpulkan tulisan Azrul Ananda. karena Azrul Ananda lah yang mendirikan Liga Basket pelajar terbesar se Indonesia yang diberi nama DBL (Deteksi Basket Lintas) Indonesia pada tahun 2004 di Surabaya. pada waktu itu DBL Indonesia hanya diikuti oleh 95 tim SMA-SMA se Jawa Timur dengan 17.000 penonton dan sekarang 2012 diikuti oleh 1.200 tim di 22 provinsi di Indonesia. Dari Aceh sampai Papua.

ini saya sertakan Catatan Azrul Ananda tentang Asal mula Deteksi Basket Lintas (DBL)

Azrul Ananda: Bukan Halaman, Bukan Brand, tapi DetEksi Way

Selasa 07 Februari 2012

imgpress

DETEKSI sudah sepuluh tahun mewarnai Jawa PosIt’s been a long journey! Saya sering ditanya, seperti apa masa depan halaman anak muda ini nanti. Jawaban saya konsisten: Entahlah!

Dulu, saya bangga karena DetEksi bisa merasakan dan mengeluarkan apa yang diinginkan anak muda. Karena anak muda selalu melihat ke depan, bilang, “Ayo bikin ini! Ayo ke sana! Ayo berbuat ini!”. Sementara yang tua selalu bilang, “Jangan ke situ! Hati-hati! Jangan aneh-aneh!”

Saya bangga karena bertahun-tahun bisa menangkap apa yang kira-kira disukai anak muda, lalu menerjemahkannya ke halaman atau kegiatan-kegiatan yang “mengena.”

Siapa sangka, lewat “cara DetEksi“, di Jawa Timur (Surabaya) sekarang ada kompetisi mading (yang bukan sekadar majalah dinding) yang begitu heboh, disaksikan hampir seratus ribu orang dalam sepuluh hari! Dan, di akhir tahun ini, even bernama DetEksi Convention itu memasuki tahun kesembilan!

Siapa sangka, lewat “cara DetEksi“, sekarang Indonesia punya liga basket pelajar yang sudah punya reputasi internasional. Pada 2004, muncul DetEksi Basketball League (DBL). Even ini tumbuh begitu dahsyat di Jawa Timur.

Mulai 2008, DBL pun berkembang ke provinsi-provinsi lain. Dan, tahun ini DBL mengunjungi 21 kota di 18 provinsi, dari Aceh sampai Papua. Tahun ini, bakal diikuti lebih dari 1.000 tim, dengan total sekitar 25 ribu peserta.

Bukan hanya itu, DBL menjadi liga pertama di Indonesia yang bekerja sama dengan NBA. Mungkin, DBL adalah liga pelajar pertama di dunia yang mengambil alih liga profesional! Sebab, mulai 2010 ini, DBL memang mengelola Indonesian Basketball League (IBL), liga tertinggi Indonesia yang belakangan terus mengalami kemerosotan.

Pengembangan itu bisa terwujud berkat didirikannya perusahaan spin-off dari halaman DetEksi: PT DBL Indonesia. Sebuah perusahaan yang memang fokus mengelola liga basket dan manajemen olahraga secara full time.

Baru-baru ini, DBL mendapat e-mail yang “menyentuh.” Ada penggemar DetEksi yang mengeluh dan mengkritik, mengapa DBL harus berganti nama menjadi “Development Basketball League” (nama DBL sekarang memang itu). Dia sedih karena kami dianggap mengabaikan nama DetEksi, yang rupanya begitu dia cintai.

Untuk dia dan DetEksiholic yang lain, jangan khawatir! Nama Development Basketball League harus kami gunakan untuk memudahkan pengembangan liga itu (khususnya secara internasional) di masa mendatang. Namun, nama “DetEksi” akan selalu ada di hati, bahkan di akta perusahaan!

PT DBL Indonesia merupakan kependekan dari PT DetEksi Basket Lintas Indonesia. Seluruh manajemennya adalah (dulu) anak-anak DetEksi yang ikut membesarkan halaman dan even-even DetEksi. Jadi, tetap DetEksi bukan?

DBL mungkin adalah proyek basket terbesar dalam sejarah Indonesia. DBL juga sebenarnya sudah menjadi liga olahraga terbesar di Indonesia, dalam cabang apa pun, pada level apa pun, setelah liga sepak bola nasional.

Itu dicapai secara profesional, memberikan kontribusi langsung kepada anak muda di berbagai penjuru Indonesia tanpa meminta-minta sumbangan pemerintah. Dan, itu semua bermula dari sebuah halaman koran!

DetEksi memang bukan lagi nama halaman koran. DetEksi juga bukan sekadar sebuah brandDetEksi sudah menjadi way of thinkingway of doing thingsway of life!

Kalau Toyota punya Toyota Way, kita punya DetEksi Way. Yaitu, mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati, menjadikan kritik sebagai pembakar semangat, mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin! Hahahaha….

***

Setiap tahun, sebenarnya saya juga semakin khawatir. Makin lama saya pasti makin tidak bisa “nyambung” dengan generasi DetEksi, yang setiap tahun berganti.

Beberapa tahun lalu dengan mudah saya bisa bermain-main dengan anak-anak SMA dan SMP, dan dengan penuh senyum menjawab panggilan mereka. Maklum, waktu itu mereka masih memanggil saya dengan sebutan “Mas” atau “Kak” atau “Ko.”

Belakangan, saya lebih sering menjawab panggilan sambil nyengir. Bagaimana tidak. Lha wong sekarang mulai dipanggil “Pak.” Dan, yang parah, ada anak-anak SMP yang mulai memanggil “Oom!”.

Glodak!

Secara definisi, saya memang sudah bukan anak muda lagi. Menurut definisi Kementerian Pemuda dan Olahraga, anak muda itu berusia 16 sampai 30. Saya lewat sedikit!

Masa melewati usia 30 itu juga sulit saya nikmati. Tahun saya melewati usia 30, banyak teman saya juga mencapai usia yang sama. Ada yang mengaku menangis, ada yang bengong. Ada teman saya yang bilang, “Selamat, kita sekarang lebih dekat ke akhir hidup daripada ke hari lahir.”

Dan saya sadar, saya akan semakin mirip dengan “tipologi orang tua” yang dulu saya lawan. Ketika menghadiri even-even DetEksi, saya semakin sering bilang, “Hati-hati Dik!” atau “Awas Dik!” atau “Jangan aneh-aneh ya, Dik!”

Saya juga lebih sering bicara soal masa lalu. “Dulu saya begini.” Atau “Dulu kita mengerjakannya begini.” Atau yang lain-lain yang bercerita tentang dulu. Termasuk di antaranya tulisan ini, yang lebih banyak bicara tentang dulu daripada masa depan.

Dengan kenyataan ini, saya pun menjadi sadar pula bahwa sayalah ancaman utama masa depan halaman DetEksi.

Tapi, dalam hati, saya bersyukur masih sadar akan kenyataan ini. Sebab, saya masih melihat banyak orang tua yang tidak sadar kalau dirinya sudah ketinggalan zaman!

Amit-amit jabang bayi, semoga saya kelak tidak seperti itu!

***

Mau ke mana DetEksi ke depan? Entahlah.

Sepuluh tahun sudah berlalu, sepuluh tahun (dan moga-moga lebih) masih dituju. Saya tidak akan mencoba terlalu memikirkannya.

Pada perayaan satu dekade DetEksi ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua yang pernah menjadi bagian dari DetEksi. Khususnya kru DetEksi, yang selama ini melawan kritik, terus menatap ke depan dan mengembangkan serta menularkan DetEksi Way.

Saya yakin, DetEksi akan terus berevolusi dalam tahun-tahun ke depan. Tantangan kru DetEksi sekarang (yang masih dikoordinasi “anak-anak” umur 20-an awal) berbeda dengan yang dulu.

Kalau dulu, tantangannya adalah membuktikan diri dan mementahkan kritik. Kalau nanti, tantangannya adalah menjaga tradisi dan melangkah ke jalan-jalan yang belum pernah dijalani, membuka pintu-pintu yang sebelumnya belum pernah ditemui.

Kadang mungkin akan salah jalan. Tapi, asal ngotot dan berlari, dari jalan yang salah itu akan bertemu cabang jalan yang lain. Kadang mungkin akan salah buka pintu. Tapi, asal serius dan konsekuen, pintu-pintu lain tetap tersedia.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Ayo terus melangkah menuju masa depan yang tidak pasti, dan semoga sepuluh tahun lagi ada cerita lebih hebat yang bisa diceritakan lagi.

Dan kelak, entah kapan, saya ingin bertemu dengan orang hebat kelas dunia, dalam hal apa pun, dan orang itu bilang ke saya, “Pak, waktu SMA dulu saya pembaca DetEksi, peserta even DetEksi.”

Kalau itu terwujud, itulah kontribusi DetEksi untuk dunia. Memberi inspirasi kepada anak-anak muda untuk mencapai hal-hal yang semula tidak pernah dibayangkan bisa dilakukan. Kalau ada satu saja tokoh dunia nanti yang muncul karena ini, hasil itu akan lebih hebat dari segala hal yang sudah dikerjakan DetEksi selama ini.

Ada ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan, anak muda yang secara langsung (atau tidak langsung) merasakan DetEksi Way setiap tahun. Saya yakin, pasti ada minimal satu berlian di antara mereka, yang kelak bisa mengubah dunia menjadi lebih baik lewat DetEksi Way(habis)

PS: Setelah membaca ulang tulisan ini, bagian terakhirnya terasa seperti nasihat orang tua! Buat anak muda yang membaca, maaf ya. Buat orang tua yang membaca, bersiaplah. Karena sebentar lagi saya akan bergabung dengan klub Anda! Hahahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s