Indonesia di Tangan Pemuda, Berpikir Jauh setelah 2014

Indonesia di Tangan Pemuda– Pengantar Redaksi
Hari ini, koran Jawa Pos (JPNN) menerbitkan edisi khusus setebal 116 halaman. Koran edisi cetak bisa diperoleh pembaca di kawasan Jawa-Bali. Sementara di luar itu, bisa membeli edisi digital di http://www.jawapos.com. Berikut catatan pengantar Azrul Ananda, Direktur Utama Jawa Pos Koran. –

Hampir semua media, cetak maupun elektronik, sekarang perhatian luar biasa pada 2014. Persaingan tahun itu, dalam memimpin negara ini, memang sepertinya bakal berlangsung seru luar biasa.

Yang membuat kami di Jawa Pos agak khawatir, banyak pihak saat ini berbuat seolah-olah 2014 adalah tahun terakhir dari perjalanan. Seolah-olah tidak ada tahun lagi setelah 2014.

Ya, masa depan Indonesia memang bisa ditentukan oleh siapa pun yang meraih kemenangan pada 2014. Masa depan yang baik, atau masa depan yang lebih buruk.

Kalau 2014 dapat pemimpin yang baik, siapa pun dia, mungkin lima tahun Indonesia akan lebih baik. Dan siapa tahu, pemimpin yang baik itu juga meletakkan fondasi-fondasi yang membuat Indonesia lebih baik setelah lima tahun itu berlalu.

Kalau 2014 dapat pemimpin yang kurang baik, ya nasib. Mungkin harus menunggu 2019 untuk memilih lagi pemimpin yang lebih baik. Dan kemajuan negara ini harus tertunda.

Tapi, daripada memasrahkan diri pada proses yang terjadi setiap lima tahun sekali, bukankah lebih baik memikirkan hal-hal lain yang lebih konkret? Yang dampaknya bukan hanya untuk 2014. Bukan hanya untuk lima tahun setelah 2014. Dan mungkin untuk selamanya?

***

Dengan edisi khusus hari ini, Jawa pos ingin memberikan lagi apresiasi dan perhatian kepada generasi muda, yang sekarang mulai menunjukkan taring, dan kelak akan memegang kendali negara ini. Yaitu mereka yang berusia 40 tahun atau lebih muda, yang sekarang sudah memegang tanggung jawab besar, dan kelak punya potensi untuk menjadi jauh lebih besar lagi.

Yang lain silakan pikirkan 2014, hanya berpikir satu tahun ke depan, atau maksimal lima tahun ke depan. Dengan edisi khusus ini, kami ingin mengajak semua untuk berpikir lebih jauh lagi ke depan. Sekali lagi, siapa pun yang menang 2014, dia mungkin hanya akan berperan sebagai ‘’pengantar.’’

Generasi itu sedang berada dalam zaman yang gamang. Zaman yang penuh dengan masalah, dan zaman yang lebih sibuk dengan permasalahan-permasalahan atau kepentingan-kepentingannya sendiri daripada memikirkan yang jauh ke depan.

Generasi yang diwakili oleh puluhan orang di edisi khusus ini, menurut saya berada dalam posisi yang lumayan unik. Mereka ini kami anggap sangat memikirkan masa depan, punya visi untuk masa depan, dan ‘’kalau everything goes well— akan punya peranan yang sangat besar di masa mendatang.

Mereka ini juga termasuk repot menghadapi tantangan masa kini. Berjuang atau berkarya di tengah situasi yang seringkali tidak menyenangkan, ikut memikirkan atau mengatasi masalah-masalah yang seharusnya bukan masalah di tempat/negara yang lebih maju/modern.

Bisa dibilang pula, mereka ini ikut dipusingkan oleh masalah-masalah yang disebabkan oleh generasi yang sekarang lebih pusing memikirkan 2014.

Memang, bukan hal mudah untuk menentukan siapa yang layak ditampilkan di edisi khusus ini. Ada ratusan, mungkin ribuan, orang muda yang layak ditampilkan.

Tentu, akan interesting juga kalau kita membulatkan jumlahnya dengan angka-angka yang ‘’marketable.’’ Misalnya, ‘’100 Masa Depan.’’ Atau yang sekarang ditampilkan beberapa majalah: ‘’40 under 40’’ (kebetulan saya pribadi terpilih di salah satunya).

Tapi, kami memutuskan untuk tidak terpaku dalam angka-angka bulat atau khusus. Siapa yang kami rasa perlu dan bisa ditampilkan, akan kami tampilkan.

Mereka mewakili berbagai bidang, bukan hanya politik dan pemerintahan. Ada ekonomi, entertainment, budaya, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

Dan di edisi khusus ini, mereka tidak sekadar ditampilkan atau diperkenalkan. Mereka juga memaparkan visi, gambaran masa depan menurut pandangan mereka. Siapa tahu, dalam tahun-tahun ke depan ‘’termasuk jauh setelah 2019— visi mereka itu menjadi kenyataan atau bisa dipertanggungjawabkan. Bisa dibilang, edisi khusus ini adalah kumpulan visi dan harapan masa depan orang-orang muda. Masa depan di mana mungkin pemimpin-pemimpin generasi sekarang sudah tidak ada lagi (tidak lagi merepotkan?).

***
Kami berharap, terbitan hari ini yang begitu tebal (minimal 100 halaman, tergantung di mana Anda mendapatkan Jawa Pos) bakal menjadi edisi yang bisa disimpan, at least dikenang.

Kami tidak menerbitkan edisi ini hanya sekadar untuk menembus angka 100 halaman. Percuma kalau jumlah halamannya begitu banyak, namun isinya hanya pengganjal halaman. Lebih parah lagi, hanya untuk mengakomodasikan tuntutan iklan.

Kami juga tidak ingin edisi khusus seperti ini menjadi edisi yang preachy (sok menggurui). Kami berharap pembaca tidak merasa seperti ‘’digurui’’ oleh orang-orang yang ditampilkan (yang seperti itu biasanya yang tua he he he). Tapi merasa seperti diajak sharing, diajak sama-sama memikirkan masa depan.

Sebab, sosok-sosok yang ditampilkan ini —meskipun banyak yang sudah melakukan pencapaian hebat dalam hidupnya— masihlah sibuk dan fokus memikirkan potensi-potensi masa depan. Dengan menampilkan mereka, kami ingin lebih menyemangati lagi sosok-sosok yang ditampilkan ini.

Dan itu berarti juga menyemangati pula para pembaca ‘’khususnya yang masuk kategori generasi masa depan— supaya bisa seperti sosok-sosok ini. Bahkan kalau bisa lebih hebat lagi. Terus terang, pilihan-pilihan sosok yang ditampilkan mungkin tidak bisa memuaskan semua pembaca. Tentu masih banyak orang lain yang visi dan harapannya layak ditampilkan.

Kami pun mohon maaf kepada mereka, dan kepada pembaca yang mengharapkan penampilan mereka itu.

Namun, dengan hadirnya edisi ini, semoga pembaca paham bahwa kami sangat ingin menampilkan mereka semua.

Edisi ini bukanlah yang terakhir. Kelak, tokoh-tokoh yang belum tampil itu tentu akan kami suguhkan.

Selamat menikmati edisi khusus Jawa Pos hari ini. Selamat menikmati visi dan harapan para tokoh muda yang tampil hari ini.

Biarlah generasi yang sekarang sibuk dengan masalah-masalah yang sekarang. Mari kita semua berpikir lebih jauh ke depan, bekerja untuk masa depan yang jauh lebih gemilang.

Karena hidup kita tidak berakhir pada 2014!.***

https://thedahlaniskanway.wordpress.com/category/azrul-ananda/

Liburan di Antara Kesibukan Eyang

14 Januari 2015

Tahun baru, semangat baru. Biasanya sih begitu.

Banyak orang baru kembali dari liburan, baru selesai tekan tombol reset dan memulai lagi ”mesin kehidupan”.

Terus terang, bagi saya dan keluarga besar, 2015 ini bermula dengan sesuatu yang belum pernah kami lakukan bersama: Benar-benar liburan keluarga bersama.

Terus terang, keluarga kami termasuk keluarga ”tidak normal”. Dan ini cerita tentang liburan keluarga ”tidak normal” itu…

***

Sejak saya kecil, kami nyaris tidak pernah berlibur bersama. Saya dan adik saya, Isna, kebetulan punya ayah bernama Dahlan Iskan. Seorang ”Superman” yang gila kerja dan kebetulan bekerja di dunia koran yang membuatnya bekerja nyaris 24 jam.

Ketika kecil, kami berangkat sekolah di pagi hari, abah –panggilan kami untuk beliau– masih tidur karena baru pulang dini hari. Ketika kami pulang di siang hari, beliau sudah berangkat kerja. Ketika dia sempat pulang sore hari, kami tidak di rumah karena bermain di luar atau les.

Ketika kami kembali menjelang gelap, beliau sudah berangkat lagi, kerja sampai dini hari.

Yada yada yada, waktu berlalu…

Lulus SMP, saya berangkat ke Amerika untuk mulai SMA di sana. Adik saya menyusul tiga tahun kemudian, juga setelah lulus SMP. ”Mumpung mampu,” kata abah.

Sesekali beliau atau ibu mampir ke Amerika. Dan kami pun diminta pulang ke Indonesia minimal setahun sekali (supaya terus ”menginjak bumi,” kata abah).

Yada yada yada, waktu berlalu…

Setelah lulus kuliah dan saya mulai melangkah di Jawa Pos, hubungannya tidak seperti abah-anak. Sering berantem karena pekerjaan. Saya sering ngamuk-ngamuk karena menganggap abah membuat keputusan yang salah (kadang saya benar) dan dia sering memarahi karena menganggap saya berbuat salah (kadang dia benar).

Sama-sama sibuk. Tidak ada waktu untuk liburan sendiri-sendiri. Apalagi liburan bersama.

Yada yada yada, waktu berlalu…

Pada 2007, ketika abah berkutat dengan proses ”Ganti Hati”-nya, kami sekeluarga diminta bersama di Tiongkok. Berbulan-bulan bersama di Tianjin, pada suatu hari kami benar-benar berada di ruang (rumah sakit) yang sama selama beberapa jam.

Rasanya aneh.

Saking anehnya, saya nyeletuk, ”Kayaknya ini kali pertama kita benar-benar satu ruangan selama berjam-jam…”

Abah kemudian berhasil menaklukkan cobaan hidupnya yang terberat itu…

Yada yada yada, waktu kembali berlalu…

Abah memulai hidupnya di pemerintahan, mendedikasikan hidupnya untuk memajukan bangsa ini. Pindah ke Jakarta bersama ibu, orang paling tabah sedunia.

Kalau weekend, abah dan ibu beberapa kali pulang. Tapi, bukannya bersama keluarga. Yang namanya pejabat, lebih banyak tamu yang datang. Bahkan, acara santai keluarga pun kadang ”terganggu” oleh tamu-tamu, yang kadang-kadang tidak diundang.

Jujur, saya benar-benar merasakan kalau enak jadi anak pengusaha daripada jadi anak pejabat…

Hebatnya, abah dan ibu selalu sempat menengok cucu-cucu.

Lucu juga sudut pandang kakek dan nenek.

Dulu, waktu kecil, ketika minta dibelikan mainan kereta api, saya malah diberi sapu lidi dan segenggam karet gelang. ”Bikin relnya dulu,” kata abah.

Ketika kepada ibu minta dibelikan mobil-mobilan seharga Rp 3.500, malah dibelikan sepeda motor plastik seharga Rp 1.850…

Sekarang cucu-cucu punya mainan terbanyak di dunia.

Tidak apa-apa, ha ha ha. Wong dulu, waktu saya masih kecil, kami memang tidak punya uang. Lagi pula, sekarang kami –anak-anak– sudah punya cukup uang untuk beli mainan-mainan mahal sendiri…

Yada yada yada, waktu berlalu…

Abah tidak lagi jadi pejabat. Ibu tampaknya yang paling bahagia. ”Abah sudah merdeka, Lik,” katanya dengan wajah berbinar-binar.

Ulik adalah panggilan mereka untuk saya.

Karena ibu adalah orang yang paling harus tabah, saya bisa membayangkan betapa bahagianya ibu ketika momen itu benar-benar tiba.

Tidak lagi jadi pejabat bukan berarti abah tidak lagi sibuk. Percaya deh, abah ini orang paling sibuk sedunia. Kalau tidak ada kesibukan, dia akan mencari kesibukan sendiri.

Satu yang saya ucapkan terima kasih terbesar: Dia memutuskan tidak mau kembali tinggal di Surabaya. Salah satu alasannya, dia tidak mau mengganggu saya di Jawa Pos.

Bagi seseorang yang mengorbankan begitu banyak untuk mengembangkan sesuatu, adalah sesuatu yang luar biasa bagi abah untuk bisa melakukan itu.

Pernah dia berpesan bahwa kita harus mampu untuk let go. Benar-benar melepas sesuatu ketika benar-benar harus melepasnya. Jangan menggandoli, jangan mengganggu. Malah bikin tersiksa, katanya.

Saya rasa, kita semua tahu, tidak banyak orang yang bisa seperti itu. Bisa mengantisipasi dan menaklukkan post-power syndrome sebelum menghadapinya.

Ada banyak teman saya yang second generation sampai sekarang kesulitan berkembang karena masih ”digandoli” orang tuanya. Saya bersyukur tidak seperti itu…

Yang saya dan adik saya juga merasa bersyukur, abah sekarang bisa merasakan hidup yang lebih ”normal”. Pernah sekali dia menjemput cucu dan mengantarkan mereka ke sekolah. Pernah dia ikut masuk kelas dan mengajar.

Seingat saya, dulu saya hanya sekali diantar abah ke sekolah. Waktu itu masih SD dan dia membawa sabuk. Wkwkwkwkwkwk, dia memaksa saya sekolah gara-gara saat itu saya sedang menjalani fase tidak mau sekolah…

Yada yada yada, liburan pun tiba…

Penghujung 2014 adalah kesempatan bagi keluarga kami untuk benar-benar berlibur bersama. Abah, ibu, anak, dan cucu.

Saya sendiri biasanya hanya mendengar atau melihat teman berlibur bersama keluarga di akhir tahun. Sebab, biasanya pas akhir tahun saya di kantor.

Pernah sebelumnya abah pergi bersama adik saya dan keluarga. Tapi, rasanya kok tidak seperti liburan. Karena masih dibumbui pekerjaan (dan tamu-tamu).

Dan abah ini benar-benar orang yang tidak bisa santai. Ketika di Tiongkok dan punya waktu luang, dia pernah mengajak saya pergi ke kota lain. Ke mana? Caranya gampang. Pergi ke bandara. Lihat papan jadwal penerbangan, lalu pergi ke kota yang penerbangannya paling segera berangkat.

”Ke Dalian yuk,” kata abah.

Dari Dalian begitu lagi. Ke bandara seenaknya, lihat papan jadwal, lalu memutuskan, ”Ke Qingdao yuk.”

Tapi, kali ini kami benar-benar berusaha menjadikan acara itu benar-benar liburan sekeluarga.

Tujuan? Penentuannya juga seru. Abah mengusulkan ”tempat-tempat ajaib” yang butuh ”setengah perjuangan” untuk menuju ke sana.

Untung, dia bisa ”disadarkan” bahwa cucu-cucunya beberapa masih berumur 5 tahun. Pilihan pun ke Portugal dan Spanyol. Bukan pilihan yang utama pula sebenarnya. Lha ngapain ngajak anak-anak kecil ke Eropa lihat gedung-gedung tua?

Tapi, akhirnya itu ”kompromi” terbaik.

Dasar abah, disuruh benar-benar santai memang tidak tahan.

Di Portugal, ketika bosan dengan Lisbon, menyempatkan diri naik kereta ke Porto. Bukan menginap atau jalan-jalan. Pokoknya naik kereta pagi selama tiga jam ke Porto. Lihat kotanya. Lalu, naik kereta lagi selama tiga jam, balik ke Lisbon di siang hari.

Di Cordoba, Spanyol, lagi-lagi dia bosan. Pagi-pagi dia sewa mobil dan sopir sendiri, lalu menyempatkan diri mengunjungi sebuah pembangkit listrik bertenaga matahari yang tak jauh dari sana.

Siang sudah balik. Jadi, sudah kembali makan dan jalan-jalan bersama anak dan cucu. Malam-malam atau pagi-pagi lain pun begitu. Kalau bosan, bisa jalan kaki sendiri keliling kota.

Beberapa kali pula dia berusaha mengubah jam kereta atau pesawat dari jadwal yang sudah direncanakan. Untung, dia bisa terus disadarkan bahwa ”sirkus” kami adalah bus berisi anak-anak kecil. Bukan mobil reli yang bisa ngepot pindah haluan dengan cepat.

Ha ha ha ha… Memang orang yang tidak bisa diam.

Yada yada yada, liburan berakhir…

Mendarat di Jakarta di sore hari, rombongan utama melanjutkan perjalanan kembali ke Surabaya. Abah? Langsung ada jadwal rapat malam itu juga.

Banyak orang pulang liburan yang santai sebentar, baru Senin kembali tancap gas. Kalau disuruh seperti itu, abah mungkin bisa gila, ha ha ha ha

Well, liburan sudah berakhir. Waktunya menjalani 2015. Ini bukan tahun politik. Jadi, ini tahun business as usual. Segala perencanaan, segala program, bisa lebih tenang dijalankan.

Bagi banyak orang, hidup kembali normal. Bagi keluarga kami, waktunya kembali ke jalur yang ”tidak normal”… (*)

https://thedahlaniskanway.wordpress.com/2015/01/14/liburan-di-antara-kesibukan-eyang/

 

Barcelona Punya Kandidat Toko Sepeda Terbaik di Dunia

Minggu, 11 Januari 2015 , 07:13:00

Hanya 15 Menit dari Kota, 20 Menit Menuju Pegunungan

<!– –> VISI CYCLIST SEJATI: Jawa Pos bersama Javier Maya (kiri), pemilik Pave. 

Foto: Tatang Marthadinata for Jawa Pos
VISI CYCLIST SEJATI: Jawa Pos bersama Javier Maya (kiri), pemilik Pave. Foto: Tatang Marthadinata for Jawa Pos

 

Booming-nya cycling melahirkan konsep-konsep baru toko sepeda di berbagai negara. Salah satu kandidat terbaik di dunia ada di Barcelona, Spanyol. Namanya Pave Culture Cycliste. Suasananya bisa bikin penggemar sepeda merinding…

Laporan AZRUL ANANDA, Barcelona

BEBERAPA tahun serius jadi cyclist dan mengunjungi toko-toko sepeda di berbagai negara, ada beberapa tempat yang benar-benar bikin saya kagum.

Mellow Johnny’s, toko milik Lance Armstrong di Austin, Texas, adalah salah satunya. Velo Cult, toko sepeda/bar/venue pesta/bioskop sepeda di Portland, Oregon, juga bikin geleng-geleng kepala.

Sekarang giliran Pave Culture Cycliste, alias Pave, yang membuat saya terus senyum tanpa henti. Toko sepeda di kawasan Barcelona, Spanyol, itu benar-benar dibuat berkesan dari pintu masuk sampai toiletnya!

Dahsyat bukan hanya dari ukurannya yang 700 meter persegi. Hebat bukan hanya dari kelengkapan fasilitas. Pave punya kafe yang menyuguhkan kopi terbaik, bengkel dan fasilitas cuci sepeda yang mewah, ruang fitting sepeda berteknologi termutakhir, dan beberapa ruang shower untuk cyclist yang mampir seusai latihan.

Maut bukan hanya dari pilihan barang dan servis yang ditawarkan. Hanya merek-merek terbaik yang ditawarkan di Pave. Apakah itu sepeda, komponen, maupun pakaian dan aksesorinya. Semua harus top level.

Lebih dari semua itu, Pave benar-benar punya ”nyawa”, curahan hati pendiri dan pemiliknya: Javier Maya.

Pria kelahiran 1978 tersebut dahulu bekerja di bidang logistik. ”Tapi, saya tidak happy. Saya merasa hidup saya harus berubah,” tuturnya.

Sekitar empat tahun lalu dia pun mendirikan Pave. Segala passion-nya tentang cycling dicurahkan di toko tersebut. Perasaannya itu pun tergambarkan di tas belanja Pave yang bertulisan: ”Love what you do and do what you love” (Cintailah pekerjaanmu dan lakukan apa yang kamu cintai).

Tapi, toko sepeda itu tidak boleh seperti toko sepeda kebanyakan. Yang biasanya agak sempit dan penuh dengan barang-barang. Maya –dibantu arsitek Joan Sandoval– membuat toko yang benar-benar memberikan pengalaman yang istimewa bagi pengunjung.

***

Javier (baca: Havier) Maya kini mengoperasikan Pave bersama partnernya, Gala Balsells, lalu seorang mekanik plus anjing bulldog-nya, Noab. Maya mungkin yang punya visi, tapi Balsells sambil bercanda mengatakan bahwa dialah bos Pave. ”Javier orangnya berantakan, ha ha ha…” celetuk Balsells.

”Dan, bos yang sebenarnya adalah Noab,” tambah Balsells, lantas tertawa.

Mencapai Pave sebenarnya gampang-gampang susah. Letaknya tidaklah di Kota Barcelona. Melainkan ke pinggir, di kawasan El Prat de Llobregat dekat airport. Walau tidak di kota, Pave relatif mudah dicapai. Naik mobil hanya sekitar 10–15 menit dari kota. Kalau dari bandara hanya sekitar 5–10 menit.

Mengapa namanya ”Pave”? Di pintu masuk, langsung ada jawabannya. Lantai terdepan toko terbuat dari tatanan batu ala jalan Eropa lama (pave, baca; Pa-ve). Di arena cycling, jalanan pave mewarnai salah satu lomba paling legendaris, yang juga disebut-sebut sebagai lomba terberat di dunia: Paris–Roubaix.

Walau luasnya 700 meter persegi, Pave tidaklah dipenuhi dengan barang-barang seperti kebanyakan toko sepeda. Malah berlawanan. Barang-barangnya terkesan sedikit, memberikan banyak ”ruang bernapas”.

Merek-merek paling top dunia ditata di bagian/dinding terpisah. POC asal Swedia di satu sisi, Le Coq Sportif asal Prancis di sebelahnya. Oakley punya dinding sendiri. Assos (Swiss) punya bagian sendiri. Rapha (Inggris) punya ruang sendiri pula bersebelahan dengan meja-meja kafe.

Bagian favorit Javier Maya adalah dinding yang men-display baju-baju retro berbahan wol merek De Marchi. Di depannya ada tong, dengan botol-botol wine tertata rapi di atasnya. Di depannya juga ada meja barbershop, lengkap dengan cermin yang menempel di sebuah pilar.

Buat cukur beneran? ”Tidak juga,” ujar Balsells. ”Kami hanya menggunakannya sekali, untuk sebuah event yang mewajibkan peserta harus berkumis. Setelah event berakhir, semua mencukur kumisnya di situ,” ceritanya.

Selain merek-merek top itu, tentu saja ada barang berlogo ”Pave” sendiri. Tapi, masih buatan merek papan atas, Sportful.

Di bagian utama, sepeda-sepeda balap terpajang ala galeri seni. Setiap sepeda di ”kotak” sendiri yang backlit. Merek-merek yang terpajang, antara lain, Passoni, Focus, Bianchi, Ritte, BMC, Parlee, dan Time. Semua merek papan atas.

Beberapa merek lain disebut akan ditampilkan dalam waktu dekat. ”Tommasini dan Cervelo,” sebut Maya, yang secara pribadi mengaku Time adalah merek sepeda favoritnya.

Helm-helm dipajang rapi, ditemani sederetan maneki-neko (lucky cat, kucing pembawa keberuntungan). Deretan itu berwarna ungu, warna corporate Pave.

Sepatu-sepatu sepeda juga ditata dengan cara yang sama.

Di area tengah, di sekitar kasir, ada pula kawasan ”nonton bareng”. Sebuah televisi layar lebar menempel dikelilingi tempat duduk. Di situlah penggemar bisa nobar Tour de France, Giro d’Italia, Vuelta a Espana, atau lomba-lomba kelas dunia yang lain.

Agak ke belakang, ada kawasan bengkel. Di depannya ada ruang cuci sepeda yang sangat rapi dan bersih. Di sebelahnya, toilet. Ya, di Pave, sepeda dan orang bisa bersih-bersih bersebalahan.

Ruang paling belakang adalah kawasan MTB alias sepeda gunung. Serta, rak-rak ban serta aksesori lain.

Agak tersembunyi, dan terletak di depan, adalah kawasan shower. Benar-benar bersih dan rapi. Ada kotak-kotak loker tempat menaruh barang, lalu ada beberapa ruang mandi yang mewah.

Nah, di atasnya adalah ruang bike fitting. Bagi cyclist yang ingin mendapatkan posisi duduk bersepeda paling optimal, Pave memakai teknologi motion capture asal Amerika, Retul. Ada pula sepeda simulasi ukuran buatan Calfee.

Lebih dari sekadar toko sepeda, Maya mengaku ruang-ruang terbuka yang luas itu bisa digunakan untuk fungsi lain. Misalnya, makan malam bersama klub sepedanya yang eksklusif (saat ini beranggota 47 orang).

***

Toko sepeda begini mewah tentu mendatangkan tamu atau klien yang istimewa pula. Secara lokasi, Pave termasuk menguntungkan. Menurut Gala Balsells, kalau di tengah Barcelona, tokonya justru kurang pas.

Pertama, tentu alasan ekonomi. Keunggulan pertama Pave: Bangunan luas itu adalah milik sendiri. ”Kalau di tengah Barcelona, menyewa ruang seluas ini sangatlah mahal. Bisa sampai 100 ribu euro (sekitar Rp 1,6 miliar) per bulan!” ungkapnya.

Walau di pinggir, lokasinya bisa dicapai dengan mudah dari Barcelona dan sangat dekat dengan airport. Lebih penting lagi, lokasinya dekat dengan kawasan-kawasan bersepeda utama di sekitar Barcelona. ”Dari sini, bersepeda sekitar 20 menit sudah naik pegunungan,” jelas Javier Maya.

Karena itulah, Pave punya fasilitas servis dan shower karena banyak orang bersepeda di sekitar sana. Yang juga menguntungkan, Barcelona tidak jauh dari Girona, kota tempat tinggal banyak sekali bintang-bintang balap sepeda dunia.

Hanya sekitar 100 km dari Barcelona, Girona sudah kondang sejak lama. Para pembalap kelas WorldTour (tertinggi dunia), khususnya yang asal Amerika atau negara Eropa lain lebih ke utara, memilih tinggal di Girona.

Cuacanya bagus, bisa untuk latihan sepanjang tahun. Beda dengan di Inggris atau negara lain di utara, yang menyulitkan untuk latihan ketika musim dingin.

Tak heran, banyak pembalap kelas WorldTour (level tertinggi dunia) mampir ke Pave.

Ketika penulis berkunjung ke sana, Javier Maya tampak sedang sibuk berdiskusi dengan seseorang. Ternyata, seseorang itu adalah Christian Meier, pembalap WorldTour asal Kanada, yang tergabung di tim Orica-GreenEDGE asal Australia.

Meier termasuk yang tinggal di Girona. ”Dia ke sini minta masukan soal mendirikan kafe sepeda di Girona,” kata Maya.

Barisan pembalap WorldTour lain yang pernah mampir? Maya menyebut, antara lain, Joaquim ”Purito” Rodriguez, salah seorang pembalap terbaik dunia asal Spanyol. Juga, mantan pembalap Team Sky, Juan Antonio Flecha. ”Dia (Flecha, Red) sekarang sudah tidak di WorldTour. Tapi, dia sebenarnya teman dekat saya,” ucapnya.

Tentu saja, seiring dengan semakin terkenalnya Pave, tamu-tamu tidak harus datang dari kawasan terdekat. Banyak sekali pengunjung yang datang dari penjuru lain dunia. Semua mendengar atau membaca soal Pave, penasaran, dan menyempatkan diri mampir saat berkunjung di Barcelona.

Kalau mereka benar-benar penggemar cycling, Pave tidak akan mengecewakan. Foto-foto toko ini sudah membuat kagum. Tapi, ketika mereka datang sendiri, foto-foto itu masih kalah jauh dengan kondisi aslinya.

Foto boleh berbicara seribu bahasa. Tapi, foto tidak akan bisa membuat badan merinding…. (*)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (7-Habis)

Edan, Jalan Mulus Antar-Kota Khusus untuk Sepeda

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

RUTE PENUTUP: Azrul Ananda (kanan) bersama Karen Jarchow, atlet profesional MTB papan atas Amerika, saat melewati jalur khusus sepeda menuju kota Vail, Colorado, Rabu 21/8. BRAD SAUBER-RAPHA FOR JAWA POS/JPNN

AKHIRNYA, berakhir juga program “siksaan menyenangkan” bersepeda di Colorado. Sebagai penutup, rute dari Breckenridge ke Vail ditempuh melewati jalan antar-kota khusus untuk sepeda!

AZRUL ANANDA, Colorado

Tidak terasa, berakhirlah program bersepeda bersama Rapha dan Team Sky, membarengi even USA Pro Challenge, di dataran tinggi Colorado.
Jujur, mungkin kata “tidak terasa” kurang pas. Program ini benar-benar “terasa.” Bagaimana tidak, kami bersepeda lima hari berturut-turut, di ketinggian 2.400 sampai 3.700 meter, dan mayoritas rutenya adalah menanjak berat.

Kalau ditambah dengan acara pemanasan kami mendaki Mount Tamalpais, dekat San Francisco, California, 15 Agustus lalu, maka angkanya lumayan seru.

Dalam tujuh hari, 15-21 Agustus, kami bersepeda enam hari. Total kilometer yang kami tempuh melewati angka 430 km. Rata-rata lebih dari 70 km/hari.

Ya, bagi penghobi sepeda berat, 70 km sehari bukan angka spektakuler. Tapi kami harus mengingatkan, ini semua di ketinggian ekstrem, dan kami harus berjuang melawan udara/oksigen tipis.

Bila dibandingkan dengan di dataran “normal” alias tak jauh dari permukaan laut, maka kemampuan/kekuatan kami menurun sampai 25-30 persen.

Dan sekali lagi, mayoritas rute yang harus kami tempuh adalah menanjak!

Jadi, bisa dibayangkan betapa leganya kami ketika rute terakhir berhasil kami selesaikan Rabu lalu (21/8).

Rute itu sendiri tidaklah terlalu berat. Totalnya hampir 65 km, dari Breckenridge, melintasi lagi Copper Mountain, Vail Pass, dan berakhir di kota wisata Vail.

Dan badan kami sudah lumayan beradaptasi dengan ketinggian. Kota Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga, terletak di ketinggian sekitar 3.000 meter.

Jadi, titik startnya sudah sekitar 600 meter lebih tinggi dari kota Aspen, tempat kami tinggal beberapa hari sebelumnya.

Untuk pernapasan, kami sudah tidak lagi seberat sebelumnya. Cipto S. Kurniawan misalnya, mengaku sudah hampir “normal” dalam kemampuan bersepeda. “Hari ini saya sudah bisa interval, sudah lebih mudah bernapas saat mengayuh pedal,” kata Wawan, sapaan akrab pengusaha muda Pasuruan berusia 31 tahun itu.

Sun Hin Tjendra, 41, bahkan semakin mantap “bersaing” dengan peserta program lain yang kuat-kuat.

Saya” Napas lumayan, tapi kaki sudah terasa berat sekali. Lelah setelah berhari-hari kena rute menanjak tinggi. Hari itu, target saya pokoknya menikmati menu bersepeda terakhir!

Prajna Murdaya juga masih recovery dari cedera kaki akibat terjatuh, tapi sangat bersemangat menyelesaikan hari terakhir itu.

Jalan Kecil Spektakuler

Walau sempat ngos-ngosan lagi saat menanjak (Vail Pass tingginya di atas 3.200 meter), tapi perjalanan hari itu melintasi jalanan yang sangat spesial, yang sangat langka di dunia.

Dari Breckenridge sampai Vail, hampir semua jalan yang kami lewati adalah jalan khusus sepeda. Posisinya hampir selalu paralel dengan highway (jalan bebas hambatan) untuk mobil.

Jalan khusus sepeda itu aspalnya sangat mulus. Beberapa bagian yang belum sedang dalam proses pelapisan aspal mulus. Lebarnya kira-kira satu jalur mobil, tapi dibagi dua arah dengan garis di tengah.

Kanan dan kirinya, di banyak tempat, juga seperti jalan antar-kota lain. Kalau tidak sedang bersebelahan langsung dengan highway, jalan sepeda ini juga dipagari dengan pepohonan indah.

Di beberapa tempat, ada tempat untuk beristirahat dan toilet umum. Di beberapa tikungan atau tanjakan/turunan, juga ada rambu-rambu pengingat khusus untuk pemakai sepeda.

Rasanya seperti “miniatur jalan tol” untuk sepeda!

Bukan hanya dari Breckenridge ke Vail, jalan khusus sepeda yang panjangnya ratusan (mungkin ribuan) kilometer ini bahkan menyambung sampai Denver, kota terbesar di negara bagian Colorado!

Melintasi jalur sepeda antar-kota ini, yang takjub bukan hanya kami dari Indonesia. Peserta yang datang dari negara bagian lain di Amerika pun ikut takjub, dan cemburu.

“Colorado benar-benar serius dalam (jalur sepeda) ini. Tempat asal saya di Austin (Texas, Red) harus belajar banyak dari sini,” puji Veronica Scheer, satu-satunya peserta perempuan, yang sehari-hari bekerja sebagai pelatih olahraga dayung.

Dalam perjalanan ini, seorang atlet perempuan MTB papan atas Amerika, Karen Jarchow, ikut bergabung. Dia membantu memandu menuju Vail. Kebetulan, dia dekat dengan Rapha, dan tinggal tak jauh dari Vail.

Jarchow menjelaskan, sebagian jalur khusus sepeda ini dulunya merupakan jalanan antar-kota untuk mobil. Kelihatan memang seperti jalan antar-kota yang sekarang ada di Indonesia.

Nah, begitu jalan bebas hambatan dibangun, sebagian jalan ini dialihfungsikan menjadi jalan antar-kota khusus untuk sepeda.

Sakit hati juga rasanya mengetahui dan merasakan kenyataan di Colorado ini. Di Indonesia, kita masih belum punya jalan antar-kota untuk mobil yang benar-benar mulus dan layak. Di Colorado, jalan antar-kota untuk sepedanya jauh lebih bagus dan mulus!

Dan jauh lebih indah!

Jalan khusus sepeda ini pula yang dimanfaatkan oleh USA Pro Challenge sebagai salah satu rute penting lomba. Etape kelima lomba, Jumat (23/8), adalah etape time trial (adu cepat melawan waktu) sejauh 16 km. Dari kota Vail menyusui jalan khusus sepeda menanjak ke atas.

Jalur yang sama kami lewati Rabu lalu menuju Vail (arah terbalik).

Begitu sampai Vail, kami merasa begitu lega. Berakhir sudah program bersepeda terberat yang pernah kami jalani ini. Sangat menyenangkan” Ya. Kelak ingin lagi” Ya.

Tapi sekarang istirahat dulu”

Sebagai “perpisahan,” kami makan siang bareng di kawasan wisata Vail yang indah. Ini kota wisata yang dikenal pula sebagai kotanya orang-orang kaya. Dan paling ramai saat musim dingin, untuk bermain ski. Saat musim panas begini, pengunjung juga banyak. Dan ada banyak hal menarik lain di sekitar sini, seperti wisata rafting.

Vail sendiri tidak seperti di Amerika. Kawasan tempat kami pergi memilik rumah-rumah dengan arsitektur seperti di pegunungan Eropa. Jalanannya pun dari bebatuan.

“Saya kok merasa seperti di Swiss ya,” celetuk Wawan.

Usai makan siang, kelompok terbagi dua. Satu mobil duluan berangkat kembali ke Aspen. Karena ada yang harus mengejar pesawat balik ke tempat asal masing-masing sore itu juga.

Rombongan Indonesia ikut Mercedes Sprinter van milik Rapha. Kembali ke rumah mewah tempat kami menginap sebelumnya untuk mengepaki lagi sepeda dan segala peralatan.

Seluruh kru Rapha dengan sigap membantu segala proses kemas-kemas.

Setelah semua beres, kru Rapha mengantarkan kami ke Snowmass, kota tetangga Aspen, untuk menginap lagi semalam. Kami memang tidak langsung balik ke Indonesia.

Kami akan keliling dulu ke beberapa kota lain di Colorado. “Mengejar” lagi nonton USA Pro Challenge di kota lain, dan mengunjungi beberapa seniman sepeda di negara bagian tersebut.

Baru Minggu nanti (25/8) kami terbang kembali ke Indonesia.

Kami bercanda, gara-gara setiap hari sibuk bersepeda dan setelah itu kelelahan, program ini termasuk bikin irit pengeluaran. Jangankan punya kesempatan belanja, kesempatan untuk istirahat saja harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Kami juga membayangkan, ketika balik ke Indonesia nanti, mungkin kemampuan kami akan meningkat. Seminggu ini kami sudah belajar untuk bernapas lebih efisien. Ketika di Indonesia, semoga saja kami benar-benar jadi lebih tangguh!

Dan kelak, kami sepakat ingin kembali ke Colorado. Menurut kami, tidak ada tempat bersepeda lain yang lebih asyik. Walau Pegunungan Pyrenees di Prancis (yang kami kunjungi tahun lalu) juga luar biasa, dan katanya kawasan Dolomites di Italia lebih spektakuler.

Andai kembali, mungkin juga bukan untuk bersepeda. Melainkan mengajak keluarga. Aspen, Breckenridge, dan Vail cocok sekali untuk liburan keluarga. Selain asyik untuk anak-anak, mungkin juga istimewa untuk honeymoon kedua.

Yang penting ingat untuk menjadwalkan satu atau dua hari pertama untuk istirahat total, beradaptasi penuh dengan udara dan oksigen tipis”

Terima kasih Rapha dan Team Sky, terima kasih Colorado! (habis)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (6)

Capai Puncak 3.700 Meter, Tertinggi di Ajang Balap Dunia

PALING TINGGI DI DUNIA: Cipto S. Kurniawan, Sun Hin Tjendra, dan Azrul Ananda di puncak Independence Pass, Colorado, SELASA 20/8. Ketinggiannya 3.700 meter di atas permukaan laut. Pohon sudah tidak bisa tumbuh di atas sini. (JAWA POS PHOTO)

PALING TINGGI DI DUNIA: Cipto S. Kurniawan, Sun Hin Tjendra, dan Azrul Ananda di puncak Independence Pass, Colorado, SELASA 20/8. Ketinggiannya 3.700 meter di atas permukaan laut. Pohon sudah tidak bisa tumbuh di atas sini. (JAWA POS PHOTO)

Hari terberat program sepeda di Colorado terjadi Selasa lalu (20/8, Rabu kemarin WIB). Menanjak sampai ketinggian 3.700 meter, lalu terus turun-naik di kisaran 3.000 meter.

AZRUL ANANDA, Aspen

Sekali lagi perlu ditegaskan: Bersepeda di dataran setinggi Aspen dan sekitarnya di Colorado bukanlah bersepeda biasa. Dimulai di ketinggian 2.400 meter, lalu naik hingga 3.700 meter. Udara tipis, oksigen tipis. Apalagi, udara juga sangat kering. Kekuatan kita bisa turun hingga 25″30 persen.

Bahkan, para pembalap kelas dunia pun bisa tersiksa atau berguguran. Itu terlihat jelas dalam ajang USA Pro Challenge 2013, yang berlangsung 19″25 Agustus ini di Colorado.

Joe Dombrowski, bintang muda Team Sky, harus balapan dengan hidung terus mengucurkan darah di etape pertama, Senin lalu (19/8).

Di etape kedua, Peter Kennaugh, pembalap Team Sky yang lain, harus mundur karena sakit. Mathias Frank, pembalap BMC yang memenangi etape kedua, juga menegaskan betapa sulitnya menaklukkan ketinggian ini. Menurut dia, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah kunci utama sukses di Colorado.

“Ini bukan cycling normal. Ini sesuatu yang berbeda. Segalanya bisa terjadi di lomba ini,” ucap Frank.

Kalau pembalap saja suffering (tersiksa), apalagi kita-kita yang amatir. Apalagi kita-kita yang datang dari negara tropis, yang panas, lembap, dan dari kawasan yang ketinggiannya setara dengan permukaan laut.

Setelah beberapa hari di Aspen, sebenarnya kami mulai terbiasa dengan ketinggian ini. Pada hari pertama, 16 Agustus lalu, naik tangga saja sudah ngos-ngosan. Pada hari kedua, bersepeda 50 km rasanya sangat menyiksa.

Hari ketiga, bersepeda 90 km dan mendaki dua tanjakan tinggi di kisaran 3.000 meter membuat kami makin biasa. Hari keempat, kami ambil santai, hanya sekitar 35 km mengikuti sirkuit Aspen”Snowmass yang dijadikan rute etape pertama USA Pro Challenge.

Nah, pada hari keempat, Selasa 20 Agustus, kami dijadwalkan oleh Rapha “penyelenggara tur bersama Team Sky ini” melakukan rute paling menyiksa. Mendaki Independence Pass, yang tingginya mencapai 3.700 meter, dan merupakan titik tertinggi ajang balap sepeda apa pun di dunia.

Setelah itu, kami akan terus bersepeda menuju Breckenridge, sebuah kota wisata keluarga yang sangat indah. Total jarak yang rencananya kami tempuh: 100 mil atau sekitar 160 km.

Sejak awal, mengingat jarak dan tantangan tanjakan yang harus ditempuh, saya pribadi sudah agak pesimistis. Jangan salah, tahun ini saya dan teman-teman sudah berkali-kali ikut event bersepeda yang menempuh jarak lebih dari 200 km dalam sehari. Tapi, baru kali ini harus melakukannya di ketinggian se-ekstrem ini.

Tapi, saya, Sun Hin Tjendra, Cipto S. Kurniawan, dan Prajna Murdaya akan bertekad berusaha menyelesaikannya. Selasa itu, kami harus mulai sangat pagi. Pukul 07.30 sudah harus meninggalkan rumah penginapan di Aspen. Sebab, kami sudah harus sampai puncak Independence Pass sebelum pukul 12 siang. Jam itu, jalan akan ditutup karena para pembalap USA Pro Challenge dijadwalkan melintasinya.

Suhu pagi itu dingin. Sekitar 15 derajat. Jadi, kami mengenakan jersey lengan panjang, lapis jaket angin, leg warmer (ekstensi celana), topi di bawah helm, dan kebutuhan anti-dingin lainnya. Itu juga untuk mengantisipasi suhu yang makin dingin di atas, apalagi kalau hujan sampai turun.

Dari Aspen, sedikit keluar, memang sudah mencapai jalan menuju puncak Independence Pass. Bahkan, tanjakan sudah dimulai sekitar 8 km dari batas kota. Dan tanjakan itu jaraknya lebih dari 22 km. Total dari titik start kami adalah 32 km, dan hampir semuanya menanjak.

Tanjakan bermula langsung relatif berat. Konstan memiliki gradient (kemiringan) 6 persen sampai sekitar tengah tanjakan. Sebenarnya, itu bukan kemiringan ekstrem. Tapi, karena oksigen tipis, rasanya jadi jauh lebih berat.

Untungnya, tanjakan melandai saat menuju puncak. Di kisaran 3″4 persen, sesekali 5″6 persen. Tanjakan baru “menendang” di puncak, ketika kemiringan mencapai 9 persen.

Mengingat panjangnya tanjakan ini, saya dan Wawan (sapaan Cipto S. Kurniawan) memilih untuk menghemat diri sejak awal. Apalagi, setelah Independence Pass, kami masih harus mengayuh pedal lebih dari 100 km.

Saya terus memperhatikan layar Garmin (komputer sepeda), memastikan detak jantung saya tidak melonjak di atas 150 per menit, dan putaran kaki saya di kisaran RPM yang konstan moderate (tidak terlalu cepat untuk menjaga detak jantung).

Sun Hin Tjendra, yang memang dikenal sebagai orang terkuat di komunitas saya di Surabaya, dengan mantap melaju mengikuti bule-bule Rapha mendaki dengan cepat.

Prajna Murdaya perlu diacungi dua jempol. Kaki dan pinggul cedera dan luka karena sempat terjatuh dua hari sebelumnya, dia tetap bertekad menyelesaikan etape hari itu.

Di tengah-tengah tanjakan, saya dan Wawan (kami terus berdua) sempat berhenti untuk foto-foto sekaligus mengisi “bahan bakar”. Pagi itu, kami tidak makan banyak, supaya perut tidak berat di tanjakan awal. Triknya adalah ngemil sedikit-sedikit.

Kami diberi sangu rice cake (ketan) berisi cokelat atau yang lain, yang dibungkus kecil-kecil dengan aluminium foil. Makanan itu disiapkan Skratch Labs, yang merupakan supplier makanan para pembalap.

Pemandangan memang luar biasa indah. Perlahan, semakin terlihat puncak perbukitan tinggi di sekeliling semakin gundul. Di ketinggian itu, memang muncul “tree lines”. Maksudnya, garis ketinggian di mana pohon tidak bisa lagi tumbuh.

Ada begitu banyak cyclist yang menanjak hari itu. Semua ingin mencapai puncak untuk menonton para pembalap USA Pro Challenge melintas. Suasana sangat meriah. Mereka yang sudah camping di pinggir jalan terus membunyikan lonceng sapi mini, atau meneriakkan ucapan semangat kepada kami. Rasanya seperti ketika menjajal rute Tour de France tahun lalu!

Ketika akhirnya sampai puncak, rasanya bangga luar biasa. Kami mencapai titik tertinggi ajang balapan dunia! Dan karena hemat tenaga sejak awal, kondisi saya tidak “hancur” ketika sampai di puncak itu.

Personel Rapha, yang memiliki trailer kafe di puncak, langsung membantu memarkir sepeda kami dan memberikan supply makanan Burrito vegetarian (supaya tidak berat di perut), juga buatan Skratch Labs.

Saya dan Wawan butuh sekitar 2,5 jam mencapai puncak. Sun Hin sudah jauh lebih cepat. Brad Sauber, manajer tur dari Rapha, menyarankan kami ke arah sebuah papan besar untuk mengabadikan momen itu.

Ada tulisan besar “Independence Pass” dengan ketinggian setara 3.700 meter, plus tulisan “Continental Divide”. Ya, titik tertinggi ini merupakan bagian dari garis penanda aliran air. Dari atas, di jalur itu, air akan terpisah. Satu ke arah lautan Pasifik, satu lagi ke Atlantik.

Suasana di puncak pun begitu meriah. Sudah ada banyak fans dengan dandanan seru yang “berpesta” di sana. Bermain-main, saling menggoda, dan lain sebagainya.

Begitu semua peserta program sampai di puncak, kami disarankan langsung melaju menuruni puncak tersebut. Sebab, dalam waktu dekat, para pembalap akan lewat dan jalan ditutup. Menunda perjalanan kami yang masih sangat jauh.

Descent (turunan) tidak kalah dengan menanjaknya. Beberapa switchback (lekukan-lekukan tajam) membuat turunan itu menantang. Apalagi, kecepatan sangat tinggi, dengan mudah lebih dari 60 km/jam.

Sayang, kami tak sempat menyelesaikan seluruh turunan sebelum dihentikan oleh marshall lomba dan polisi pengawal. Di belakang kami, para pembalap sudah siap lewat. Kami pun memarkir sepeda di sisi jalan, dan menunggu para pembalap lewat.

Dan seru sekali. Para pembalap itu melaju begitu cepat! Tidak heran bila mereka mencapai lebih dari 100 km/jam saat turun! Yang lebih seru lagi: Para pembalap Team Sky mengenali kami di sisi jalan (karena memang hanya kami di situ). Christopher Froome, sang juara Tour de France 2013, melambaikan tangannya ke arah kami sambil tersenyum! Kanstantsin Siutsou, rekan setimnya, menunjukkan tanda “metal” ke arah kami.

“Mereka mengenali kalian. Luar biasa,” kata Brad Sauber.

Tertolong Chinese Food

Begitu peloton dan rombongan mobil pengiring lewat, kami pun bisa melanjutkan perjalanan. Tujuannya adalah Leadville, sebuah kota kecil, untuk makan siang di sana. Dari Aspen, jaraknya hampir 100 km. Jadi, kami saat itu masih harus menempuh lagi 40-an km.

Melintasi Twin Lakes, kawasan danau indah, kami berhenti untuk foto-foto. Lalu, kami bergantian saling “menarik” di depan, menjaga kecepatan menuju tujuan.

Mercedes Sprinter (van) Rapha yang disopiri Sauber berhenti di beberapa titik, siap memberi kami supply snack dan minuman kalau dibutuhkan.

Kami juga harus beberapa kali berhenti pasang-lepas jaket, karena cahaya matahari (atau tanjakan) bikin kepanasan, sedangkan angin dan hujan (serta turunan) bikin kedinginan.

Suhu sempat di 30-an derajat Celsius, sempat drop juga ke 18-an. Selama bersepeda itu, kami terus berada di kisaran ketinggian 3.000 meter. Sempat turun ke 2.800-an, lalu naik lagi ke atas 3.100 meter. Sun Hin Tjendra mengaku merasakan sekali bedanya.

“Kalau di bawah 3.000, napas lebih enak. Begitu napas berat, saya tahu ini sudah di atas 3.000 meter lagi,” katanya.

Akhirnya, kami sampai Leadville. Garmin menunjukkan kami sudah mengayuh sepeda sejauh 94 km. Jadwalnya, kami makan sandwich di sebuah kafe di situ. Tapi, kami melihat ada sebuah Chinese restaurant di sebelahnya. Szechuan Taste namanya. Karena sudah bosan makan roti dan tidak nafsu lagi menu bule, kami memutuskan untuk makan di sana.

Lega rasanya bisa makan nasi goreng, sup wonton, dan menu-menu lain yang familier!

Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Sauber mengingatkan kami untuk kembali jalan. Saat itu, spirit kami masih tinggi. Tetap berniat mencoba menyelesaikan rute.

Prajna, yang cedera, sempat disarankan untuk loading naik mobil. Apalagi, ada peserta lain yang juga memilih naik mobil. Tapi, dia tetap bertekad melanjutkan perjalanan.

Suhu dingin kembali kami rasakan. Hujan gerimis kembali turun, bikin makin dingin. Hanya sekitar 5 kilometer dari Leadville, Sun Hin tiba-tiba bilang akan berhenti dan naik mobil. Dia bilang, kepalanya pusing-pusing (normal di ketinggian ini).

Bahwa “Komandan” kami loading, sempat membuat saya down. Tapi, saya dan Wawan memutuskan untuk terus mengayuh pedal. Sampai 5 kilometer kemudian, giliran saya yang minta berhenti. Badan sudah terasa tidak nyaman. Mungkin, kalau dipaksakan, masih bisa meneruskan. Minimal 20 km lagi. Tapi, saya juga berpikir bahwa aktivitas kami masih banyak dalam beberapa hari ke depan. Kalau dipaksakan sekarang, nanti saya bisa “hancur”.

Saya pun berhenti di kilometer 105. Wawan sebenarnya masih kuat, tapi dia ikut loading sebagai bentuk solidaritas. “Tidak akan menyesal kok,” ucapnya.

Menurut data komputer, saya sudah mengayuh pedal selama 4 jam 45 menit, kebanyakan menanjak, membakar lebih dari 3.200 kalori.

Hebatnya, Prajna terus berusaha meneruskan rute. Walau dengan kecepatan yang sudah tertatih-tatih. Makin lama, dia makin terlihat nyaman, dan Brad Sauber membiarkannya terus mengayuh sampai puncak tanjakan selanjutnya di Copper Mountain (di kisaran kilometer 120). Baru Prajna diminta naik mobil, karena kami harus segera sampai di Breckenridge sebelum terlalu malam.

Tapi, apa yang dilakukan Prajna itu layak diacungi jempol. Secara kemampuan, dia tidak sekuat yang lain, tapi mentalnya paling kuat tidak mau menyerah. “Hari ini juaranya Prajna,” puji Sun Hin.

Kami pun sampai di Breckenridge. Sebuah kota yang tampak meriah karena menyambut datangnya USA Pro Challenge. Ada pesta jalanan, konser, dan lain sebagainya.

Malamnya, kami makan malam bareng peserta lain dan kru Rapha. Karena itu dinner bareng terakhir, Rapha memberikan award untuk beberapa peserta. Prajna mendapatkan topi merah limited edition (tidak dijual) bertema Lanterne Rouge. Tanda keberanian dan kekuatan mental, yang di Tour de France biasanya diberikan kepada pembalap yang finis terakhir (tidak menyerah walau terakhir).

Sun Hin juga dapat penghargaan sebagai orang yang bikin Paul Whiting paling kagum. Whiting, seorang pro masseuse (tukang pijat atlet kelas dunia) yang setiap hari merawat kami, menyatakan kagum atas kekuatan otot Sun Hin. Dia menyebut “Komandan” kami itu dengan julukan “Popeye”!

Rabu (21/8) adalah hari terakhir kami bersepeda. Masih ada tanjakan menantang, dengan jarak lebih dari 70 km. (bersambung)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (4)

Usai Etape Pertama, Team Sky Jualan Mesin Kopi

Azrul Ananda bersama Jens Voigt, bintang RadioShack-Leopard yang sudah berusia 42 tahun. Voigt, asal Jerman, merupakan salah satu pembalap paling populer di peloton dunia

Azrul Ananda bersama Jens Voigt, bintang RadioShack-Leopard yang sudah berusia 42 tahun. Voigt, asal Jerman, merupakan salah satu pembalap paling populer di peloton dunia

Hari pertama USA Pro Challenge 2013, Senin lalu (19/8, kemarin WIB), merupakan hari minim penyiksaan bagi rombongan Indonesia. “Hanya” gowes 34 kilometer, lalu seru bertemu tim-tim dan pembalap bintang!

AZRUL ANANDA, Aspen

Setelah dua hari bersepeda 50 km dan 90 km di Aspen, Colorado, Senin lalu (19/8, Selasa kemarin WIB) merupakan hari yang lebih ringan bagi peserta program bersepeda bersama Team Sky yang dikelola Rapha.

Pagi itu, jadwalnya hanya bersepeda “ringan”, lalu memuaskan diri “main-main” di tengah Kota Aspen, menonton start dan finis etape pertama USA Pro Challenge 2013.

Yang dimaksud ringan: Menjajal rute lomba etape pertama tersebut. Yaitu, rute keliling dari Kota Aspen ke arah Snowmass, lalu balik ke Aspen lagi. Di tengah-tengahnya ada beberapa tanjakan menukik tajam. Panjang rute “hanya” sekitar 34 km, dengan total tanjakan mencapai 1.000 meter.

Beberapa tanjakan itu sudah kami rasakan pada hari pertama bersepeda di Aspen, saat mencoba menyesuaikan diri dengan udara tipis di ketinggian 2.400 meter. Beberapa di antaranya “menendang”, mencapai kemiringan 10″12 persen.

Bersepedanya pun tidak ngotot. “Gentlemen”s pace” alias santai. Berhenti beberapa kali di titik-titik penting sirkuit, seperti di garis KOM (King of Mountains). Sekaligus menunggu seluruh peserta berkumpul lagi. Bagi kami dari Indonesia, juga berhenti untuk foto-foto.

Sirkuit itu berakhir di tengah Kota Aspen. Total, kami menghabiskan waktu 1 jam 51 menit, dengan total waktu mengayuh sepeda 1 jam 30 menit (sekitar 21 menit istirahat atau berhenti).

Kami melakukannya mulai pukul 09.00. Sudah balik ke rumah penginapan pukul 11.00. Kebetulan, letak rumah mewah tempat kami tinggal di Aspen itu tidak sampai satu kilometer dari jalur start/finis.

Lomba sendiri dimulai pukul 13.00, dan para pembalap melintasi sirkuit itu sebanyak tiga kali. Asal tahu saja, mereka butuh tidak sampai satu jam untuk keliling satu lap!

Peter Sagan (Cannondale) yang menjadi juara etape pertama itu menyelesaikan lomba hanya dalam waktu 2 jam 26 menit. Balik ke rumah, kami langsung cepat-cepat mandi. Setelah itu, berjalan ke arah garis start/finis lomba. Teman-teman dari Rapha memberi tahu bahwa para pembalap akan cukup santai sebelum lomba, dan kami bisa bertemu mereka untuk foto-foto dan minta tanda tangan lagi.

Dan itu tidak hanya dengan Team Sky. Semua tim peserta dengan relatif mudah bisa ditemui. Yang paling populer, selain Team Sky, adalah RadioShack-Leopard, Garmin-Sharp, dan Cannondale.

Siang itu, kami berempat “saya, Prajna Murdaya, Sun Hin Tjendra, dan Cipto S. Kurniawan” kompak pakai batik lengan pendek. Warnanya pun biru Team Sky. Tampak manis dipadu dengan topi cycling Team Sky.

Saya belajar trik batik itu dari rekan saya penggemar Formula 1 di Surabaya, Dewo Pratomo. Dia selalu pakai batik kalau nonton/liputan F1, dan itu memudahkan proses mencari perhatian. Plus, membuat para pembalap yang diburu lebih mudah mengingat kita.

Dan kali ini, di Aspen, Colorado, trik itu berhasil lagi!

Kami benar-benar “berpesta”. Berhenti di semua kawasan kerja tim, foto-foto dengan sebanyak mungkin pembalap terkenal. Atau, memotreti sepeda-sepeda milik para pembalap, termasuk detail-detail komponennya.

Di Garmin-Sharp, kami berfoto dengan pembalap top Amerika, David Zabriskie. Kemudian, kami juga dapat foto dengan bintang Garmin-Sharp yang sangat terkenal, David Millar. Dia senior, dulu pernah terlibat doping, dan kemudian merebut hati penggemar lewat buku pengakuannya, Racing Through the Dark.

Dan tahun lalu, Millar juga berhasil memenangi satu etape Tour de France.

Di kawasan RadioShack-Leopard, kami berhasil “mengalahkan” begitu banyak orang yang menunggu satu orang: Jens Voigt. Usianya sudah 42 tahun, tapi dia luar biasa populer. Gaya membalapnya yang berani, selalu mencoba melarikan diri dari peloton, membuatnya punya jutaan penggemar. Di Amerika, dia mungkin lebih top dari pembalap-pembalap tuan rumah.

Dia juga dikenal dengan kutipan-kutipannya yang lucu. Misalnya, slogan paling topnya: “Shut up legs!” (Diamlah, kaki). Dia mengaku mengucapkannya ketika kakinya mulai “rewel” saat balapan.

Saya sendiri terus terang penggemar berat Jens Voigt! Dia dan Fabian Cancellara menjadikan RadioShack-Leopard (tahun depan jadi Trek Factory Team) sebagai salah satu tim favorit saya.

Setelah itu, ada foto-foto dengan pembalap Cannondale. Dan beberapa mengenali kami. Sebab, Prajna, Sun Hin, dan saya pada Mei lalu ikut Tour of California bersama mereka. Ted King dan Juraj Sagan (kakak Peter Sagan) dengan ramah melayani permintaan foto kami.

Juara nasional Amerika, “Fast” Freddie Rodriguez, juga foto-foto bareng kami. “Ini 15 menit paling seru,” kata Prajna.

Tidak lama, seluruh pembalap menuju garis start lomba. Ribuan penonton sudah berbaris di sisi lintasan, menyoraki nama-nama para bintang ketika nama mereka diumumkan para MC.

Lomba pun berjalan. Tak sampai tiga jam kemudian (tepatnya 2 jam 26 menit itu), Peter Sagan menang sprint dan berhak menjadi yang pertama mengenakan yellow jersey di Colorado.

Kami menonton lomba dengan berpindah-pindah. Sempat beli makanan di stan burger di tengah taman, lalu keliling stan-stan merchandise dan sponsor yang begitu banyak tersebar.

Harga lumayan mahal, tapi tidak semahal Tour of California. Replika jersey lomba dijual USD 80. Kaus sekitar USD 20 sampai USD 28. Dan lain sebagainya.

Ada panggung hiburan. Di atasnya seorang pelukis tampak sibuk menyelesaikan karyanya (gambar balap sepeda tentunya). Di sampingnya ada layar LED besar, dan kami mengikuti lomba dari situ.

Ada atraksi akrobat BMX di belakang panggung, arena permainan, dan lain sebagainya. Benar-benar meriah dan mengasyikkan suasana. Apalagi, semua terpusat di tengah Kota Aspen, di kawasan taman kota.

Begitu lomba selesai, kami pun balik ke rumah. Sebelumnya ketemu lagi dengan para pembalap yang sudah selesai berlomba. Khususnya Team Sky. Dengan sangat ramah, mereka menemui kami, melayani ajakan ngobrol, dan melayani lagi foto-foto serta tanda tangan.

Karena Froome sudah kami “dapatkan” saat gowes bareng Minggu lalu (18/8), kali ini yang paling dituju adalah Richie Porte.

Lucunya, saat itu Ian Boswell (pembalap Sky) menawari kami untuk membeli sebuah alat pembuat kopi. “Hanya 100 dolar. Dan kami satu tim sudah menandatanganinya. Kami menjualnya karena kami tidak menyukainya, dan kami ingin punya mesin pembuat espresso,” tuturnya disambut tawa semua orang di sekeliling.

Dia menunjuk jendela depan bus Team Sky. Benar saja, di situ ada sebuah kardus mesin kopi yang ditandatangani seluruh pembalap!

Karena kami tidak mau, Boswell dengan aktif menawar-nawarkannya lagi kepada orang-orang yang lewat. Lucu sekali. Batik yang kami kenakan benar-benar mencuri perhatian. Banyak orang yang menanyai, memotret, termasuk perwakilan media.

Setelah itu, kami benar-benar berjalan balik pulang. Hanya Prajna yang berlanjut mencari toko kebutuhan sehari-hari. Dan beruntung dia tidak segera pulang. Sebab, setelah itu, dia bertemu Peter Sagan (yang baru selesai dari seremoni lomba dan tes doping). Dia pun foto-foto dan dapat tanda tangan sang superstar asal Slovakia tersebut.

Sore itu, segalanya cukup santai. Malamnya, kami juga kedatangan tamu penting dari Team Sky. Setelah makan malam, kami dikunjungi Fran Millar, head of business operations tim nomor satu dunia tersebut.

Dengan blak-blakan dan seru, Millar “yang adik kandung pembalap David Millar” bercerita tentang latar belakang Sky, rencana masa depan, bahkan hal-hal di balik layar yang selama ini tidak diketahui orang.

Cipto S. Kurniawan, yang penggemar berat Sky, senang sekali. “Orang itu kalau ngomong apa adanya ya,” komentar Wawan, sapaan akrabnya.

Hari yang santai pun berakhir sekitar pukul 21.00. Setelah itu, Brad Sauber, manajer tur Rapha, kembali melaksanakan brifing untuk hari esok.

Dan ini waktu kami menyampaikan kepada pembaca, mengapa hari Senin itu begitu santai. Sebab, hari Selasa-nya adalah hari yang paling menyiksa!

Selasa pagi, pukul 07.30, kami sudah dijadwalkan berangkat. Rutenya merupakan rute termaut di rangkaian program di Colorado ini. Yaitu, menanjaki Independence Pass, jalanan yang pucuknya berada di ketinggian sekitar 3.700 meter. Saking tingginya, pohon pun sudah tidak bisa tumbuh!

Saking tingginya pula, antara November sampai Mei, jalan itu benar-benar ditutup untuk publik. Sebab, terlalu berbahaya untuk ditanjaki, khususnya bila bersalju!

Kalau segalanya lancar, tantangan hari itu bukan hanya Independence Pass. Kalau sesuai dengan rencana, hari itu kami akan bersepeda sejauh hampir 160 km menuju Breckenridge.Aduh! (bersambung)

Bersepeda Bareng Tim Juara Tour de France di Pegunungan Colorado (3)

Azrul Ananda dan Pembalap

Azrul Ananda dan Pembalap

Gowes Pertama, Jantung Berdebar seperti saat Jatuh Cinta

Akhirnya, rombongan Indonesia dapat kesempatan bersepeda di Aspen. Tapi, acara santai justru jadi penyiksaan luar biasa. Udara tipis, suhu sampai 41 derajat. Rasanya seperti belajar naik sepeda lagi.

AZRUL ANANDA, Aspen

Program bersepeda di Colorado bersama Team Sky secara resmi dimulai Sabtu siang, 17 Agustus (Minggu, 18/8 WIB). Pukul 13.00 waktu setempat, sebelas peserta telah berkumpul di Aspen.

Empat dari Indonesia, satu dari Kanada, sisanya dari berbagai penjuru Amerika. Mulai dari Seattle, Austin, serta kota-kota lain.

Siang itu, semua berkumpul di sebuah rumah mewah, yang dijadikan penginapan selama beberapa hari di Aspen. Setelah bagi kamar, tur fasilitas, tim Rapha “partner apparel Team Sky” yang mengelola program ini mengumpulkan seluruh peserta di ruang santai.

Acara kenalan resmi dimulai.

Di situ ada Brad Sauber, pengelola program-program tur Rapha yang datang dari Inggris. Ada Tim Coghlan, yang bekerja di kantor Rapha di Portland, Oregon, AS. Ada pula Ben Lieberson, legenda touring Rapha yang pekerjaannya keliling dunia bersepeda.

Tidak tertinggal Paul Whiting, pro masseuse, pakar fisio asal Inggris yang akan “merawat” badan para peserta selama program di Colorado. Selama bertahun-tahun Whiting menjadi andalan para pembalap sepeda dunia (dan atlet dunia lain) untuk masalah-masalah pada badan.

“Paul memilih menemani kita semua, menolak tawaran kerja dari tim-tim kelas dunia di event ini,” kata Sauber, yang juga menjelaskan bahwa dirinya dulu punya banyak pengalaman sebagai mekanik sepeda tim profesional. Jadi, dia akan bertindak bila peserta punya masalah sepeda.

Mereka berempat menjelaskan seperti apa kira-kira program dalam beberapa hari ke depan. Termasuk, kemungkinan-kemungkinan perubahan. Khususnya yang berkaitan dengan interaksi bersama Team Sky. Serta, tamu-tamu spesial lain yang akan menemani peserta.

Intinya, mereka berempat akan bekerja bersama untuk memastikan program ini berlangsung memuaskan, menjadi kenangan tidak terlupakan.

Sebagai contoh servis penuh yang mereka terapkan: Setiap malam sepeda akan dibersihkan dan diperiksa. Setiap pagi semua botol minum sudah disiapkan dan terisi penuh. Kalau habis, tinggal minta tolong ke mobil yang selalu mendampingi. Dan setiap malam, jersey serta bibshort yang dipakai akan dicucikan. Pagi hari, baju sudah fresh siap dipakai lagi.

Saat bersepeda pun, tiga di antara empat akan turun gowes bersama peserta. Ada yang memimpin di depan, menemani di tengah, dan mengawal di belakang.

Ingat, setiap malam Whiting juga siap memijat bagian-bagian tubuh peserta yang dirasa sakit atau kurang nyaman.

Setelah brifing, pukul 14.00, program bersepeda pertama dilakukan. “Ini sepeda santai, kecepatan biasa. Untuk membiasakan diri dengan keadaan, sekaligus ngobrol dan kenalan satu sama lain,” tegas Sauber.

Acara santai itu, bagi rombongan Indonesia, berubah jadi shock therapy. Ternyata, benar-benar tidak mudah untuk beraktivitas fisik di ketinggian 2.400 meter”

Benar-Benar Sulit Bernapas
Malam sebelumnya (Jumat, 16/8), Ben Lieberson mengingatkan kami bahwa tidak mudah untuk beradaptasi di ketinggian Colorado. Udara tipis, oksigen tipis. Jadi, jangan paksakan diri saat kali pertama bersepeda.

“Kalau kita push, detak jantung tidak bisa recovery dengan cepat. Begitu detaknya tinggi, akan terus tinggi,” ujarnya. “Karena kering, teruslah minum air,” tambahnya.

Begitu keluar dari rumah penginapan, rombongan bersepeda pelan (20″25 km) melintasi jalanan taman yang indah. Melintasi sungai kecil, jembatan kayu, dan jalanan gravel (kerikil halus). Setelah sekitar sepuluh kilometer, rasanya kami bisa beradaptasi dengan baik.

Tapi kemudian, kami diajak melewati tanjakan-tanjakan yang biasa digunakan sebagai rute latihan para pembalap. Tidaklah ekstrem. Ada beberapa bagian yang mencapai kemiringan 10 persen, tapi kebanyakan di angka 4″6 persen.

Di situlah kami mulai merasakan betapa beratnya bersepeda di ketinggian 2.400 meter.

Kami benar-benar sulit bernapas. Dan setelah tanjakan terlewati, napas juga tidak segera normal. Kami benar-benar tersengal-sengal berusaha mengikuti rombongan. Padahal, kecepatan sangat rendah. Sekitar 10″15 km/jam di tanjakan, 20″25 km/jam di jalan datar.

“Edan. Kalau latihan di Indonesia (di ketinggian “normal”, Red), kemiringan 4″6 persen itu, kita masih bisa ngobrol. Di sini saya tidak berani bicara,” kata Cipto S. Kurniawan, 31, pria asal Pasuruan yang dikenal sebagai jagoan climbing. “Sejak awal sudah tidak cukup mengandalkan bernapas pakai hidung,” tambahnya.

Sun Hin Tjendra, 41, yang dikenal sebagai “pembalap eksekutif” yang superkuat, juga merasakan sulitnya bernapas di Aspen. “Jantung berdebar-debar seperti ketika jatuh cinta dulu,” ujarnya.

Temperatur yang panas, siang itu mencapai 41 derajat Celsius, ikut menyiksa. Angin dingin tidak menolong saat kami harus menanjak. Di jalanan datar, rasanya melaju 25 km/jam itu seperti memaksakan diri melaju 40″45 km/jam.

Belum bicara soal udara kering. Karena diminta terus minum, tidak terasa saya menghabiskan hampir enam botol air. Dua botol di antaranya berisi air dengan campuran ramuan khusus dari Skratch Labs.

Padahal, total bersepeda kami hanya sekitar 50 km. Tergolong pendek, dan dengan kecepatan relatif rendah. Tapi, rasanya seperti ikut event jarak jauh Audax lebih dari 200 km!

Rasanya seperti ketika kali pertama serius menekuni road bike dulu, bukan seperti cyclist yang sudah berpengalaman.

Sejak selesai bersepeda sampai malam, kami terus membicarakan itu. Di Indonesia, beberapa pekan sebelum berangkat ke Amerika, kami sudah latihan tergolong intensif. Di Jawa Timur, kami hampir setiap hari latihan menanjak ke berbagai tempat. Misalnya, Tretes, Tosari Bromo, dan Nongkojajar Malang. Semua masuk tanjakan kategori 1 atau bahkan HC (hors categorie, kategori terberat). Minimal kategori 2.

Latihan endurance juga kami lakukan, berkali-kali bersepeda lebih dari 100 km. Dan ketika pemanasan 85 km menanjak Mount Tamalpais di kawasan San Francisco Kamis lalu (15/8), kami juga merasa nyaman.

Tapi, semua latihan itu dilakukan di ketinggian dekat dengan permukaan laut. Beda sekali dengan di ketinggian 2.400 meter! Ketika mengecek data di komputer, tanjakan-tanjakan yang kami jajal pada hari pertama ini hanya di kategori 3 atau 4. Seharusnya relatif gampang.

“Segala latihan jadi seperti tidak berguna,” cetus Wawan, sapaan akrab Cipto S. Kurniawan.

Kami berharap, pada hari pertama bersepeda itu, badan kami sudah diberi tahu harus berubah bagaimana untuk hari-hari selanjutnya. Malamnya, kami diminta untuk terus banyak minum air, dan tidur secara maksimal.

Semoga saja, besok paginya sudah membaik, dan hari-hari berikutnya terus membaik.

Menu Khusus Pakar Nutrisi
Beruntung bagi kami, soal makanan dan nutrisi, Rapha memberikan perhatian ekstraspesial. Untuk makan malam pertama, setelah acara bersepeda pertama, mereka mendatangkan tim dari Skratch Labs, yang dipimpin langsung oleh Dr Allen Lim.

Dr Allen Lim punya reputasi hebat di kalangan pembalap profesional. Dialah pembuat menu untuk tim-tim terbaik dunia. Dan untuk kami, dia sendiri yang memasakkan menu khusus malam itu.

Dibuka dengan keju-kejuan eksotis dan roti, plus salad campuran khusus berisi beetroot, akar-akaran yang disebut baik untuk stamina. Disambung dengan ayam panggang dan beberapa menu lainnya.

Sebagai penutup, ada almond pie.

Sepanjang makan malam, Dr Allen Lim rajin mengajak bicara para peserta. Menanyai mereka berasal dari mana, serta menjawab pertanyaan-pertanyaan soal nutrisi dari para peserta.

Perut kenyang, hati tenang. Banyak minum air. Tidur yang nyenyak. Usai makan malam, Brad Sauber memberi tahu rencana untuk hari selanjutnya (Minggu, 18/8, atau Senin WIB).

Dan rencananya besar! Minggu pagi itu, sehari sebelum USA Pro Challenge 2013 dimulai di Colorado, kami akan bertemu bersama Team Sky! Bukan hanya itu, kami juga akan bersepeda bersama para bintang-bintangnya!(bersambung)